Beranda Opinion Bahasa Gereja dan Kristen di Arab Saudi

Gereja dan Kristen di Arab Saudi

3590
0

Di antara negara-negara di Timur Tengah, termasuk kawasan Arab Teluk, hanya Arab Saudi yang hingga kini belum memiliki gereja (juga tempat ibadah non-Muslim lainnya). Sudah lama beredar kabar kalau Saudi akan membangun gereja tetapi hingga kini belum terlaksana. Negara-negara tetangganya seperti Bahrain, Qatar, Kuwait, Uni Emirat Arab (UEA), Yaman, dan Oman sudah memiliki gereja. Bahrain bahkan memiliki gereja terbesar di kawasan Teluk Arab atau Semenanjung Arabia (Gereja Cathedral of Our Lady of Arabia) yang diresmikan oleh Raja Hamad Al Khalifa tahun 2021. Berbagai upaya pendekatan dan lobi ke para elite Kerajaan Saudi telah dilakukan oleh sejumlah tokoh Kristen dunia tetapi hasilnya tetap nihil.

Misalnya, tahun 2007, Paus Benedictus XVI bertemu Raja Abdullah di Vatikan. Ini sebuah pertemuan bersejarah karena tidak pernah terjadi sebelumnya antara Vatikan dan Saudi. Salah satu masalah penting yang dibicarakan dalam pertemuan tersebut adalah proposal pembangunan gereja (khususnya Katolik Roma) di Saudi seraya merujuk “Perjanjian Najran” antara Nabi Muhammad dan umat Kristen Najran di Jazirah Arab di abad ketujuh Masehi. Pertimbangan lain karena banyaknya umat Katolik di Saudi, terutama ekspat dari Filipina yang jumlahnya lebih dari satu juta jiwa. Bisa dipastikan mayoritas dari mereka adalah Katolik.  

Pertemuan petinggi Vatikan dan Saudi terus berlanjut. Tahun 2018, delegasi Vatikan yang dipimpin oleh Kardinal Jean-Louis Pierre Tauran, ketua Vatican’s Pontifical Council for Interreligious Dialogue yang dikenal sebagai pionir dialog Islam-Katolik, juga bertemu dengan Raja Salman di Riyad. Informasi yang beredar bahkan di antara hasil pertemuan itu, Saudi-Vatikan telah menandatangani kerjasama pembangunan gereja di Saudi.

Para pemimpin Kristen di luar Katolik Roma juga melakukan lobi dan pendekatan dengan para elite Kerajaan Saudi. Misalnya, seperti dilansir Alarabiya, pemimpin gereja Maronite Lebanon, Bechara Boutros Al-Rahi pernah bertemu Raja Salman dan Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MbS) di Saudi tahun 2017. Tahun berikutnya, 2018, MbS bertemu Paus Tawadros II, pemimpin Gereja Ortodoks Koptik di Gereja Katedral Santo Markus, Mesir. Delegasi Kristen Amerika dari kalangan Gereja Evangelis seperti Joel Richardson, Johnnie Moore, Joel Rosenberg, dll juga bertemu dengan MbS dan elite Saudi lainnya.

Pertemuan para pemimpin agama Kristen dengan para elite Saudi terus berlanjut hingga tahun-tahun terakhir ini, dan di antara topik penting yang mereka bicarakan (selain persoalan pentingnya toleransi beragama, memerangi ekstrimisme dan terorisme, dll) adalah soal kemungkinan pendirian gereja tersebut untuk jutaan umat Kristen di negara-kerajaan ini.

Populasi dan Sejarah Umat Kristen

Meskipun tidak ada data resmi, populasi umat Kristen cukup signifikan di Arab Saudi. Data yang dilansir oleh U.S. Department of State tahun 2023 menunjukkan ada sekitar 2,1 juta umat Kristen di Saudi. Mereka adalah para ekspat yang bekerja di Saudi dari berbagai negara seperti Filipina, negara-negara di Afrika, Asia Selatan, Eropa, Amerika Utara, dll, termasuk sejumlah negara di Timur Tengah seperti Lebanon, Yordania, dan Mesir yang memiliki populasi umat Kristen lumayan banyak. Umat Kristen Indonesia yang bekerja di Saudi juga ada.   

Tidak jelas apakah ada warga Saudi yang tinggal di Arab Saudi yang beragama Kristen karena tidak ada kolom agama di “KTP” mereka, kontras dengan para ekspat yang ada kolom agamanya sehingga bisa didata. Hal ini karena, by default, warga Saudi dianggap Muslim, dan pindah agama bisa dikenai hukuman mati karena dianggap murtad. Dugaan saya, meskipun ada, mereka tidak berani mengekspresikan keimanan mereka secara terbuka.

Meskipun data tentang warga Saudi yang beragama Kristen sulit diperoleh saat ini, sejarah Jazirah Arab bukan berarti sepi dari kekristenan. Jauh sebelum Nabi Muhammad “mendeklarasikan” Islam di abad ketujuh Masehi, Kristen sudah terlebih dulu eksis dan berkembang di Semenanjung Arabia. Dulu, di era pra-Islam, para pedagang dari berbagai suku Arab di semenanjung ini sudah biasa melakukan perjalanan dan berdagang ke Palestina dan daerah Syam (Levant) lainnya seperti Suriah, Yordania, dan Lebanon. Selain atau sambil berdagang, banyak dari mereka yang juga mendengarkan ceramah keagamaan dari generasi awal Kristen seperti Santo Petrus. Fenomena ini juga direkam di Kitab Para Rasul dan Galatia. Rasul Paulus, Santo Thomas, dan Matius sendiri diberitakan pernah tinggal beberapa tahun dan mengajarkan kekristenan di Jazirah Arab.  

Salah satu bukti tak terelakkan dari eksistensi Kristen di Jazirah Arab masa lampau adalah dengan ditemukannya “Gereja Jubail” (kanisat al-jubail) di Saudi timur. Situs ini diekskavasi tahun 1987. Para sejarawan dan arkeolog menduga gereja ini dibangun sekitar abad keempat Masehi oleh Kristen Nestorian yang memang dominan kala itu. Bukan hanya Gereja Jubail, para arkeolog juga menemukan situs-situs klasik peninggalan umat Kristen pra-Islam lainnya (gereja, kuburan massal, seminari, dll) di sejumlah kawasan Jazirah Arab (Saudi, Qatar, Kuwait, UEA, dan lainnya), seperti ditulis oleh John Langfeldt (“Recently Discovered early Christian Monuments in Northeastern Arabia”) di jurnal Arabian Archeology and Epigraphy atau G.R.D. King dan Peter Hellyer di tulisan mereka, “The Nestorians in the Gulf.”

Para sejarawan Muslim seperti Tabari, Ibnu Hisyam, Al-Mas’udi, dan Ibnu Khaldun juga mencatat kalau umat Kristen pernah berkembang di Najran, Saudi selatan, sebelum mereka ditangkap atau dibunuh (termasuk pemimpin mereka, al-Harits atau Aretas) dan gereja-gereja mereka dibakar di abad keenam oleh Dhu Nuwas (berkuasa 522-530), penguasa Yahudi dari Kerajaan Himyar. Sejak tragedi itu, banyak masyarakat Arab Kristen yang memilih menjadi “crypto-Christian” dengan menyembunyikan keimanannya. Suku-suku Arab yang memeluk Kristen kala itu, antara lain, Bani Tamim, Bani Taghlib, Kalb, Tanukh, dll. Kelak, persekusi terhadap umat Kristen terjadi lagi di Arabia, tepatnya di Jeddah, di abad ke-19 M. Tapi kali ini pelakunya adalah orang-orang Arab Hadramaut (lihat laporan Taranaki Herald, “Details of the Jeddah Massacre,” 1858).

Perkembangan Mutakhir

Di luar persoalan pendirian gereja yang masih belum ada tanda-tanda kejelasan sehingga umat kristiani harus pergi ke negara-negara tetangga (khususnya Bahrain) untuk merayakan hari-hari ibadah penting atau penyelenggaraan ibadah/ritual agama di publik yang masih belum bebas (kecuali di kompleks perumahan/kawasan eksklusif tertentu seperti Aramco atau area kedutaan), jutaan umat Kristen memang menikmati berbagai fasilitas pekerjaan di Saudi.

Misalnya, banyak umat Kristen yang bekerja sebagai perawat/dokter di klinik atau rumah sakit; staf, penelit, atau dosen di perguruan tinggi; guru di sekolah; karyawan atau konsultan di berbagai perusahaan, dll. Universitas tempat saya mengajar dulu, King Fahd University of Petroleum & Minerals, juga banyak sekali umat kristiani dan non-muslim lainnya yang bekerja sebagai staf, periset, atau dosen.  Selain itu, umat Kristen juga sudah bisa menjumpai pernak-pernik Natal di toko dan mall yang dulu susah didapat.

Meski demikian, terasa ada yang kurang jika pemerintah tidak serius dalam urusan keagamaan bagi non-Muslim. Reformasi sosial-budaya serta proses sekularisasi dan liberalisasi yang diusung melalui Visi Saudi 2030 dianggap tidak sepenuhnya serius. Oleh umat Kristen dan masyarakat internasional, pemerintah juga dianggap ambigu atau tidak sepenuhnya komitmen dan konsisten dengan narasi-narasi besar yang dibangun tentang toleransi, moderasi beragama, dan pluralisme agama. Buktinya, Gereja Jubail (dan sejumlah cagar budaya warisan Kristen/Yahudi lainnya) yang rusak dibiarkan terbengkelai. Padahal pemerintah sedang gencar merenovasi berbagai warisan sejarah-arkeologis masa lampau baik pasca atau pra-Islam.   

Publik internasional juga sudah lama bertanya-tanya: jika Saudi bisa membangun banyak masjid di kawasan Kristen di negara-negara Barat (Eropa atau Amerika), mengapa umat Kristen tidak bisa membangun gereja di Saudi? Jika warga Saudi diaspora bisa leluasa beribadah di Eropa, Amerika, dan kawasan Kristen lainnya, mengapa umat Kristen tidak bisa mengekspresikan ibadah ritual secara leluasa di Saudi?

Saya yakin Raja Salman dan MbS sadar dan tahu betul persoalan pelik ini. Tetapi memang tidak mudah untuk “mengeksekusi” masalah ini. Bagi MbS pribadi, masalah ini tentu tidak masalah. Tetapi bagi banyak warga Saudi, masalah ini dianggap sangat bermasalah sehingga membuat MbS seperti dilema untuk “mengeksekusi” masalah rumit ini. Ia kemungkinan besar setuju dengan ide pendirian gereja (minimal di kompleks kedutaan, NEOM, atau di luar Makah dan Madinah) tetapi lingkaran dekatnya mungkin keberatan dengan pertimbangan implikasi negatif yang mungkin terjadi jika gagasan pendirian gereja diimplementasikan.

Karena sependek pengamatan saya, banyak warga Saudi yang bisa toleran dalam banyak hal (film, musik, turisme, dll) serta bisa bergaul dengan umat Kristen dan lainnya tetapi sulit sekali untuk urusan pendirian tempat ibadah bagi non-Muslim. Saya pernah melakukan riset dan ngobrol dengan banyak warga Saudi tentang hal ini. “Doktrin” Jazirah Arab sebagai “Tanah Suci” atau Hadis Nabi tentang tidak dibolehkannya ada dua agama di Jazirah Arab begitu kuat melekat di pikiran dan hati-sanubari mereka. Banyak dari mereka yang menganggap “Tanah Suci” itu artinya Saudi harus bebas dan bersih dari tempat ibadah non-Muslim. Pula, meskipun ada sejumlah pendapat atau tafsir tentang Hadis tersebut, banyak warga Saudi yang menganggap maksud Hadis tersebut adalah hanya Islam yang harus ada dan memiliki tempat ibadah di Jazirah Arab.

Apakah MbS berani mencetak sejarah baru di Saudi dan berani mengikuti langkah dan kebijakan negara-negara tetangganya di Jazirah Arab? Hanya waktu yang akan menjawabnya.    

Sumber: https://www.kompas.id/baca/opini/2024/11/20/gereja-dan-kristen-di-arab-saudi

Artikulli paraprakA Review of Contesting Indonesia: Islamist, Separatist, and Communal Violence since 1945
Artikulli tjetërWhat Indonesians Need to Learn from Japan?
Antropolog Budaya di King Fahd University, Direktur Nusantara Institute, Kontributor The Middle East Institute, Kolumnis Deutsche Welle, dan Senior Fellow di National University of Singapore.