Beranda Opinion Bahasa Gagal Paham Tentang Firaun

Gagal Paham Tentang Firaun

824
0

Menarik memperhatikan sebagian besar umat Islam Indonesia, termasuk para tokoh dan elit  masyarakat, bisa dikatakan tidak paham, salah paham, atau gagal paham mengenai firaun (fir’aun). Pada umumnya mereka menganggap, memahami, dan membayangkan si firaun ini sebagai orang atau sosok individu yang berperilaku culas, korup, jahat, serakah, dan tak bertuhan.

Padahal “fir’aun” (atau di Barat disebut “pharaoh”) itu bukan nama orang tetapi nama gelar atau sebutan untuk penguasa atau pemimpin politik-pemerintahan tertinggi di era Mesir Kuno. Nama atau gelar “fir’aun” itu sama dengan sebutan raja, king, kaisar, khalifah, sultan, malik, amir, presiden, emperor, dan sejenisnya.

Jika kita membaca kajian-kajian tentang sejarah Mesir Kuno yang kemudian disebut Egyptology atau “Ilm al-Misriyyat”, maka kita akan tahu kalau sosok/orang yang menjadi fir’aun ini jumlahnya banyak sekali dari Narmer atau Menes sekitar 3,000 SM sampai Cleopatra di zaman Ptolemaic Dynasty, sekitar 30 SM, sebelum Mesir jatuh ke tangan penguasa Romawi: Kaisar Agustinus.

Seperti umumnya sejarah raja-raja dan para penguasa di muka bumi ini, para fir’aun juga bermacam-macam: ada yang laki ada yang perempuan; ada yang jahat dan kejam tapi ada juga yang lembut dan baik hati; ada firaun culun dan ngeles tapi ada pula yang cerdas dan suka bekerja sehingga mampu membawa Mesir Kuno ke dalam kemajuan yang luar biasa di berbagai bidang: teknologi, seni-sastra, ilmu pengetahuan, sistem irigasi, metode pengobatan, konstruksi bangunan, dlsb.

Kemudian, ada firaun yang tak bertuhan tapi juga ada yang bertuhan; ada firaun yang mengaku dan mendeklarasikan diri sebagai Tuhan atau “setengah Tuhan” seperti Ramses II tapi ada pula firaun yang tidak mengaku sebagai Tuhan tetapi dipuja dan disembah layaknya Tuhan, contohnya Fir’aun Amanhotep I. Terus, ada pula fir’aun yang menyembah Tuhan seperti Amanhotep II yang membangun tempat ibadah khusus untuk beribadah menyebah Tuhan Horemakhet.

***

Untuk memahami dengan baik konsep firaun ini, kita perlu mendalami ilmu Egyptology, yaitu disiplin khusus yang fokus pada kajian-kajian kesejarahan peradadaban Mesir Kuno, yang merupakan salah satu peradaban tertua di dunia dalam sejarah umat manusia. Jika kita melihat sejarah Mesir Kuno, konsep firaun muncul sekitar 3000an SM ketika Fir’aun Narmer berhasil menyatukan masyarakat Mesir Atas dan Mesir Bawah yang kemudian menandai babak baru sejarah Mesir dan mengakhiri zaman pra-sejarah Mesir. Zaman kefir’aunan ini membentang selama ribuan tahun sampai kelak hancur di zaman Fir’aun Cleopatra VII sekitar tahun 30 SM dimana Mesir kemudian ditaklukkan oleh Kerajaan Romawi dan menjadi bagian dari kekuasaan Romawi.

Periode Mesir Kuno dibagi menjadi tiga bagian: Kerajaan Lama, Kerajaan Tengah, dan Kerajaan Baru. Pada zaman Kerajaan Baru inilah muncul “tokoh legendaris” Israelite Musa (atau Moses) yang bermusuhan dengan “fir’aun” yang kisah-kisahnya tidak hanya diceritakan dalam Kitab Keluaran saja tetapi juga dalam Al-Qur’an. Pertanyaannya adalah: fir’aun siapakah gerangan yang hidup pada zaman Musa itu? Nah ini yang menjadi perbedaan pendapat di antara para ahli (sejarawan, arkeolog, egyptolog, dan pakar Bibel).

Bukan hanya mengenai sosok fir’aun, para ahli juga berbeda pendapat mengenai sejarah Musa dan kaum Israelites (suku Israel Kuno) beserta tokoh-tokoh Israelite lain seperti Yakub, Yusuf, Bunyamin, dan lain-lain yang membangun kisah, cerita, narasi, atau diskursus ketertindasan suku-suku Israel Kuno dari para fir’aun Mesir.

Sejumlah pakar berpendapat tentang siapa sosok fir’aun yang berkuasa di zaman Mesir Kuno yang menyebabkan Musa hijrah, siapa nama fir’aun-fir’aun yang hidup di zaman Musa, serta siapa anak perempuan fir’aun yang merawat Musa. Ada yang menyebut Fir’aun Thutmose II (di era Dinasti ke-18) di zaman Kerajaan Baru yang menyebakan Musa dan sejumlah orang eksodus dari Mesir. Pendapat ini dikemukakan oleh ahli Bible Alfred Adersheim dalam Bible’s History serta didukung oleh arkeolog Joel Klenck. Ada pula pakar (misalnya Henry H. Halley dalam Bible Handbook) yang menyebut Amenhotep II, Rameses II, atau Merneptah (putra Rameses II) sebagai “fir’aun bengis” yang berkuasa di Mesir yang menyebabkan Musa hijrah.

***

Siapapun nama fir’aun yang berkuasa di zaman Musa, yang jelas narasi tentang Musa versus Fir’aun ini ada atau baru muncul pada era Kerajaan Baru. Perlu diketahui, sejarah Mesir Kuno dibagi menjadi sejumlah periode atau era yang cukup pelik mengkategorikannya. Sebelum era fir’aun atau zaman dinasti awal (sektar 3,000 SM), peradaban Mesir sudah cukup berkembang, dan termasuk salah satu peradaban tertua di dunia. Para ahli Egyptology dan sejarawan mengkategorikan era ini sebagai “Periode Pra-Dinasti, antara 5,300 – 3,000 SM.

Di zama Pra-Dinasti ini, ada sejumlah peradaban dan kebudayaan yang sangat penting, yaitu peradaban/kebudayaan Neolitik, Badaria, dan Naqada. Menarik untuk dicatat, pada zaman ini masyarakat Mesir Kuno sudah mengenal sistem agrikultura, berternak, berburu, memancing, seni kerajinan (meskipun tentu saja masih sederhana), dlsb sebagai bagian dari sistem penghidupan dan ekonomi mereka. Mereka juga sudah mengenal sistem penguburan mayat dan ritual keagamaan.

Bukan hanya itu, “sistem perjenggotan” juga sudah dikenal oleh masyarakat Naqada di zaman Mesir Kuno. Dulu, jenggot merupakan “tanda keperkasaan” dan “simbol kekuasaan.” Oleh karena itu tidak heran jika para pemburu binatang (hunters) dan “tukang perang” (warriors) di masyarakat Naqada berjenggot panjang dan lebat.

Sistem kefir’aunan (dinasti atau kerajaan) di Mesir baru dimulai sejak 3,000-an SM ketika Narmer sukses menyatukan masyarakat Mesir Atas dan Mesir Bawah. Era Kefiraunan atau Periode Dinasti ini dibagi menjadi beberapa fase: Kerajaan Awal, Kerajaan Tengah, dan Kerajaan Baru. Cerita atau narasi tentang Musa vs Firuan ini baru muncul di zaman / era “Kerajaan Baru” ini (khususnya antara 1,500 – 1,000 SM). Selama ribuan tahun ini, Mesir silih berganti dikuasai oleh sejumlah suku dan kelompok masyarakat, bukan hanya dari Mesir tetapi juga dari bangsa-bangsa lain seperti Persia dan Romawi. Kelak, Arab, juga ikut menaklukkan dan menguasai Mesir.

Sejak Fir’aun I, Narmer, ada banyak sekali fir’aun di Mesir. Tidak semua fir’aun di Mesir Kuno itu laki-laki, ada beberapa yang perempuan seperti Nitocris, Hatshepsut (yang dikenal dengan sebutan “Ratu Mesir”; ada yang mengatakan dialah sosok yang merawat Musa), Neferneferuaten, dan tentu saja Cleopatra. Di antara sekian banyak fir’aun di Mesir, ada sekitar 25 nama fir’aun legendaris di zaman Dinasti Mesir Kuno ini, antara lain, Narmer, Menes, Djoser, Snefru, Khufu, Khafre, Neferefre, Pepi I, Senusret, Ahmose, Amenhotep, Thutmose, Akhenaten, Tutankhamun, Rases, Seti, dlsb.

***

Kenapa banyak umat Islam yang salah paham, gagal paham, dan tidak memahami firaun? Karena narasi Islam dalam Al-Qur’an tentang fir’aun lebih banyak dipengaruhi dan diadopsi dari kisah-kisah tentang Bangsa Mesir Kuno yang ditulis oleh para “pujangga” atau penulis Yahudi Alkitab (Israelites) yang memang benci dengan Mesir lantaran telah membuat hidup suku-suku Israel menderita dan sengsara (silakan baca sejarah mereka dalam buku-buku yang ditulis oleh para pakar studi Bible dan sejarah Israel Kuno seperti Norman Gottwald dan Robert Coote).

Inilah pentingnya bagi umat beragama untuk mengetahui wawasan dan sejarah, bukan hanya bolak-balik membaca teks-teks suci keagamaan saja. Membaca teks agama tanpa diiringi dengan membaca tentang teks dan dokumen historis-arkeologis umat dan masyarakat di masa lampau, cenderung menghasilkan wacana yang tidak akurat dan bahkan menyesatkan.

Karena itulah saya menganjurkan umat agama, khususnya umat Islam, untuk rajin membaca. Tapi jujur saja saya pesimis karena budaya masyarakat Indonesia itu bukan budaya membaca tetapi budaya mendengar. Orang Indonesia lebih suka nguping dan mendengar ceramah, pidato, khotbah, kampanye, dan lain-lain ketimbang membaca, tentu saja membaca bacaan yang berkualitas, bermutu, dan informatif, bukan membaca berita hoaks dan meme. Kalau membaca berita hoaks dan meme, mereka cepat sekali secepat kilat melebihi kecepatan cahaya dan pesawat supersonik.

Artikulli paraprakSeluk-Beluk Qatar
Antropolog Budaya di King Fahd University, Direktur Nusantara Institute, Kontributor The Middle East Institute, Kolumnis Deutsche Welle, dan Senior Fellow di National University of Singapore.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini