Beranda Opinion Bahasa Studi Agama di Perguruan Tinggi

Studi Agama di Perguruan Tinggi

215
0

Menarik untuk dipertanyakan dan direnungkan: mengapa ada banyak perguruan tinggi (PT) non-Islam, khususnya yang berafiliasi Kristen dan Yahudi, yang memiliki program studi (progdi), jurusan, departemen, atau lembaga riset tentang Islam dan masyarakat muslim?

Sebaliknya, kenapa nyaris susah didapatkan PT Islam (atau yang dikelola oleh umat Islam) yang memiliki progdi, jurusan, departemen, atau lembaga riset tentang agama non-Islam dan masyarakat non-muslim (misalnya, studi kekristenan, keyahudian, Buddhisme, Hinduisme, agama lokal, dlsb)?

Berbagai PT di Barat seperti Amerika Serikat, Kanada, Australia, atau negara-negara Eropa–baik yang negeri maupun swasta, baik kampus besar maupun kecil, baik kampus riset maupun teaching college, baik yang denominasional (berafiliasi ke agama/kelompok agama tertentu) maupun yang non-denominasional–mempunyai progdi untuk mempelajari fenomena berbagai agama di dunia, baik agama lokal maupun transnasional, tak terkecuali Islam.

Bukan hanya di negara-negara Barat, sejak beberapa tahun terakhir, kampus-kampus di Asia Timur (China, Jepang, Korsel, atau Taiwan) juga mulai membuka progdi Islam. PT di Singapura, khususnya National University of Singapore, juga sudah lama memiliki progdi Islam. 

Progdi Islam ini menyebar di berbagai departemen dan jurusan, khususnya bidang ilmu sosial dan humaniora (sejarah, antropologi, sosiologi, ilmu politik, arkeologi, dlsb), bukan hanya di departemen atau jurusan agama. Bahkan di Fakultas Hukum (seperti di Harvard) memiliki divisi Hukum Islam yang kuat.

Kampus-kampus denominasional di Amerika, misalnya yang berafiliasi ke Katolik (seperti University of Notre Dame, Georgetown University, Boston College, dlsb), Yahudi (seperti Brandeis University), Mormon (seperti Brigham Young University), atau berbagai “kampus Protestan” (misalnya Emory University, Graduate Theological Union, Union Theological Seminary, dlsb) mempunyai progdi Islam yang baik. Almamater saya, Boston University, yang berafiliasi ke Kristen Methodis juga mempunyai banyak sekali progdi Islam yang tersebar di berbagai fakultas dan departemen.

Untuk memenuhi keperluan progdi Islam ini, kampus-kampus tersebut merekrut para ahli dan spesialis (dosen, periset, atau fellow), baik “sarjana sekuler” (ateis atau agnostik) maupun sarjana dari agama tertentu (termasuk sarjana muslim), yang fokus di bidang studi agama Islam atau masyarakat muslim. Dengan kata lain, bukan hanya sarjana non-muslim, para sarjana muslim dari berbagai negara (termasuk dari Indonesia) juga sudah banyak menjadi tenaga pengajar dan peneliti tentang Islam dan masyarakat muslim di kampus-kampus Barat.

Tradisi Studi Islam di Barat

Tradisi studi Islam di Barat dimulai dari kelompok Orientalis, yakni sekelompok sarjana dan sejarawan yang mempelajari berbagai aspek tradisi dan “budaya Oriental” (maksudnya, Asia dan Timur Tengah) termasuk agama, bahasa, sastra, filosofi, hukum, dan sejarah, di abad ke-18/19 M.

Perlu diingat, tidak semua Orientalis mempelajari Islam dan masyarakat muslim. Adapun Orientalis yang ahli di bidang studi/kajian Islam, masyarakat muslim, atau Arab/Timteng yang masyhur kala itu termasuk Ignaz Goldziher dari Hungaria, Theodor Noldeke dari Jerman, dan Christiaan Snouck Hurgronje dari Belanda.

Oleh banyak sarjana, trio Orientalis ini dianggap sebagai pionir studi Islam di Barat. Dari ketiga Orientalis ini, Snouck Hurgronje yang paling populer di Indonesia. Oleh umat Islam, Snouck Hurgronje dianggap sebagai “antek intelektual” Belanda, meskipun ia telah berkontribusi di bidang kajian keislaman dan kemusliman.

Para Orienstalis lain yang masyhur di bidang kajian Islam, masyarakat muslim, atau sejarah dan geokultural Timteng, adalah Joseph Schacht, Hamilton H.R. Gibb, Wilfred Cantwell Smith, Philip K. Hitti, atau Montgomery Watt. Mereka telah menulis banyak karya akademik tentang Islam, muslim, dan/atau Timteng.       

Para ilmuwan sosial–khususnya sosiolog dan antropolog–pada mulanya tidak tertarik dengan studi Islam, meskipun Max Weber yang dianggap sebagai salah satu trio pendiri sosiologi (bersama Emile Durkheim dan Karl Marx) pernah menyinggung tentang Islam dalam karya-karyanya. Adapun para pendiri antropologi seperti Franz Boas atau Bronislaw Malinowski sama sekali tidak menyinggung Islam/muslim dalam karya-karya mereka.

Dalam antropologi, sependek pengetahuan saya, antropolog Inggris Sir Edward Evans-Pritchard yang memulai mempelajari Islam dan masyarakat muslim lewat karyanya, The Sanusi of Cyrenaica (terbit tahun 1949), yang membahas kelompok Sufi atau tarekat Sanusiyah di Libia. Mengikuti tradisi Evans-Pritchard, antropolog Amerika mendiang Clifford Geertz kemudian meneliti masyarakat Islam di Indonesia (Kediri, Jatim) dan Maroko pada tahun 1950an/1960an.

Selain Geertz, ada mendiang Fredrik Barth dari Norwegia yang juga menjadi pionir studi antropologi masyarakat Islam. Barth banyak meneliti masyarakat muslim di Oman, Iran, Pakistan, dan juga Bali. Studi Islam di Barat mengalami “booming” sejak tragedi terorisme 9/11 di Amerika. Sejak itu, banyak PT di Barat yang membuka progdi Islam atau lembaga riset guna meneliti “dunia Islam.”

Studi Agama di PT Timteng dan Dunia Islam

Jika di Barat banyak PT yang membuka studi Islam, di dunia Islam justru sebaliknya. Nyaris susah mendapatkan PT Islam atau “PT umum” yang dikelola oleh umat Islam yang mempunyai progdi atau lembaga penelitian yang fokus di bidang kajian non-Islam dan masyarakat non-muslim. Pada umumnya PT milik umat Islam fokus di bidang studi ilmu-ilmu keislaman (misalnya hukum Islam, ilmu tafsir, ilmu hadis, dlsb) atau ilmu-ilmu sekuler (ilmu eksakta, teknik, teknologi informatika, ekonomi, bisnis, komputer, AI, dlsb). Tren ini bukan hanya di Timteng saja tetapi juga di kawasan Islam lain seperti Afrika Utara, Asia Tengah, Asia Selatan, dan Asia Tenggara.

Yang menarik, khususnya dalam konteks Timteng, PT yang berafiliasi Yahudi di Israel (misalnya The Hebrew University of Jerusalem, Tel Aviv University, the University of Haifa, dlsb) atau Kristen di Palestina (misalnya Jerusalem University College) atau Libanon (misalnya, Saint Joseph University of Beirut) juga membuka progdi Islam (selain bahasa, sastra, dan budaya  Arab/Timteng). Akan tetapi tidak ada satupun PT yang berafiliasi Islam yang membuka progdi agama Yahudi, Kristen, atau bahasa Ibrani (Hebrew).  

PT di Indonesia, khususnya yang berafiliasi Islam atau yang dikelola umat Islam, juga tidak ada yang membuka progdi agama non-Islam dan masyarakat non-muslim. Ada beberapa universitas yang membuka progdi atau pusat penelitian Timteng tetapi isinya juga “Timteng yang Islam.” Padahal Timteng bukan hanya menjadi rumah umat Islam tetapi juga Kristen, Yahudi, Yazidi, Druze, Khaldean, Baha’i, Hindu, dlsb.

Sejumlah Faktor Mendasar

Selain didorong oleh motivasi politik (misalnya kolonialisme atau untuk mempelajari politik dan radikalisme Islam/muslim), studi Islam di kampus-kampus Barat juga dilandasi oleh spirit ilmiah, etos akademik, dan keingintauan yang kuat untuk mengetahui seluk-beluk agama Islam dan dunia muslim. Karena itu tradisi studi Islam di Barat, meminjam istilah Mahmood Mamdani, mantan profesor di Columbia University, dapat menghasilkan “unfriendly Orientalists” (yang bias dan kurang bersahabat dengan Islam/muslim) dan “friendly Orientalists” (yang fair dan bersahabat dengan Islam/muslim).

Terlepas dari motif dan tujuan yang beragam, tradisi studi Islam di Barat telah melahirkan banyak sarjana non-muslim (khususnya Kristen, Yahudi, atau sekuler) yang ahli di bidang studi agama Islam dan masyarakat muslim. 

Sementara itu, minimnya PT Islam yang mempunyai progdi agama non-Islam/masyarakat muslim menyebabkan minimnya para sarjana Islam yang ahli di bidang kajian agama-agama lain dan masyarakat non-muslim. Ada sejumlah faktor mendasar yang menyebabkan minimnya atau bahkan tidak adanya PT Islam (atau yang dikelola umat Islam) yang membuka progdi studi agama non-Islam atau masyarakat non-muslim. Misalnya, rendahnya atau tidak adanya ketertarikan serta minat akademik dan riset di kalangan umat Islam untuk meneliti dan mempelajari agama dan umat agama lain.

Padahal dengan meneliti dan mempelajari agama dan umat agama lain dapat meningkatkan pengetahuan tentang agama-agama, memperkaya wawasan keagamaan, meminimalisir kesalahpahaman terhadap agama lain, dan memperkuat relasi antaragama.

Bisakah PT Islam di Indonesia menjadi pionir studi agama non-Islam dan masyarakat non-muslim? Mampukah PT Islam Indonesia mencontoh etos intelektual dan spirit akademik Abu Raihan al-Biruni (973-1048), seorang ulama muslim Persia di abad ke-10/11 M yang dijuluki Bapak Perbandingan Agama karena menekuni agama-agama non-Islam (termasuk Hinduisme) serta mempelajari bahasa mereka (termasuk Sansekerta)?

Keterangan: artikel ini semula diterbitkan di Kompas (27 Oktober 2023)

Artikulli paraprakToleransi Agama di Uni Emirat Arab
Artikulli tjetërMiddle East, Religion and Religiosity
Antropolog Budaya di King Fahd University, Direktur Nusantara Institute, Kontributor The Middle East Institute, Kolumnis Deutsche Welle, dan Senior Fellow di National University of Singapore.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini