Beranda Opinion Bahasa “The Rising Star” Barack Obama

“The Rising Star” Barack Obama

31
0
“The Rising Star” Barack Obama

Tubuh senator Barack Obama seperti menyimpan energi magnetik yang luar biasa. Kehadirannya di bursa pencalonan presiden AS tahun 2008 mampu menyedot perhatian banyak pihak mulai kalangan mahasiswa, kaum muda, African-American, aktivis anti perang dan pro perdamaian, pengusaha, sampai selebritis Hollywood. Belum lama ini mahasiswa di George Mason University, Fairfax, Virginia menggelar acara “Barack Obama for President” dan hasilnya puluhan ribu mahasiswa secara antusias menghadiri acara untuk mendengarkan pidato Obama.

Kelompok pemuda dan mahasiswa ini menggalang massa untuk sang calon president melalui website Facebook.com dan hasilnya kurang dari tiga minggu mampu merekrut ratusan ribu pendukung! Tidak hanya mahasiswa, para selebritis Hollywood juga ramai-ramai mendukung pencalonan Obama. George Clooney dan Oprah Winfrey adalah dua di antara selebritis papan atas Hollywood yang terang-terangan mendukung pencalonan  Obama. Milyarder George Soros yang dikenal anti-Bush dan anti-perang juga mendukung Obama.

Sejak Obama menerbitkan buku biografi best seller-nya, The Audacity of Hope, namanya meroket bak meteor. Layaknya sang bintang, Obama juga selalu menjadi pusat perhatian media massa di manapun ia berada. Spekulasi pun bermunculan yang mengatakan bahwa ketokohan Obama menyamai para tokoh kulit hitam sebelumnya seperti Martin Luther King, Jr, Malcolm X, Cassius Clay (Muhammad Ali), dll dalam hal perjuangan hak asasi manusia. Obama dianggap sebagai “the rising star” yang mampu memberikan “harapan” baru buat publik Amerika yang reputasinya hancur-lebur akibat ulah Bush. Apa sesungguhnya kekuatan seorang Obama sehingga mampu menyedot perhatian publik Amerika? Bagaimana peluang senator yang pernah sekolah di Menteng, Jakarta ini dalam bursa pencalonan presiden pasca-Bush mendatang?

Kemuakan Rakyat AS

Sejauh yang saya amati ada beberapa faktor yang menyebabkan seorang Obama mampu menyita perhatian publik Amerika dewasa ini. Pertama, rakyat AS sejauh ini sudah muak dengan gaya kepemimpinan George Bush dari Partai Republik yang gemar menghambur-hamburkan uang negara untuk perang dan mengabaikan persoalan domestik Amerika sendiri. Indikasi kemuakan warga AS terhadap kepemimpinan Bush ini misalnya ditunjukkan oleh berbagai survey di mana lebih dari 65% publik Amerika tidak menyetujui kebijakan politik luar negeri (foreign policies) rezim Bush. Itu belum termasuk demo rutin hampir setiap sabtu di Gedung Putih yang melibatkan ratusan ribu orang.

Kemenangan telak Partai Demokrat dalam pemilu sela tahun lalu juga menunjukkan kemuakan mayoritas warga AS atas gaya kepemimpinan Bush dan Republican yang gemar perang. Kemuakan mereka terhadap Bush semakin memuncak sejak dia mengabaikan tekanan publik termasuk Kongres yang kini didominasi kaum Democrats yang menghendaki perubahan kebijakan politik luar negeri AS terutama menyangkut program bombastis “War on Terror,” perang Iraq, dll.

Menghadapi realitas penolakan publik ini, Bush bukan malah mengevaluasi kebijakan politiknya yang ngawur. Bahkan dengan angkuhnya dia mengatakan “sayalah pembuat keputusan”—sebuah pernyataan yang kemudian menuai protes keras termasuk dari pendukung Partai Republik sendiri. Dia pun memaksakan program pengiriman serentak (surge) 21 ribu tentara tambahan ke Iraq meskipun para petinggi militer sendiri banyak yang menentang. Dengan entengnya, Bush juga kembali mengajukan anggaran tambahan ke Kongres sekitar 2.100 trilyun yang menurutnya untuk program “rekonstruksi Iraq.” 

Rakyat AS pantas kesal terhadap kepemimpinan Bush. Sebab presiden “ndableg” ini telah menghabiskan uang negara sekitar $502 Milyar (Time, January 1, ’07) hanya untuk mendanai perang! Menurut catatan Friends Committee on National Legislation (FCNL), sebuah lembaga independen berbasis di Washington, DC yang dibentuk kelompok Kristen Quakers yang dikenal anti perang dan pro perdamaian, pemerintahan Bush telah menggunakan $0.42 per dollar dari setiap uang pajak untuk program perang! Sementara di sisi lain, masalah domestik AS sendiri masih butuh banyak perhatian. Misalnya berdasarkan data US Census Bureau, dari sekitar 300 juta penduduk AS, 36 juta hidup dalam kemiskinan yang 15,3 juta di antaranya dalam kondisi “sangat miskin” (catatan: standar kemiskinan di AS tentu jauh berbeda dengan Indonesia).

Lebih dari 44 juta rakyat AS juga tidak mempunyai asuransi kesehatan, satu dari lima anak-anak AS juga tinggal dalam keluarga miskin. Masalah domestik lain di AS adalah meningkatnya tingkat kriminalitas terutama di kota-kota besar (pembunuhan, perampokan, dll), drugs, alkohol, problem membludaknya imigran, homeless, pengangguran, dll. Melihat realitas ini maka wajar jika rakyat AS geram dengan Bush dan menghendaki perubahan formasi kepemimpinan di Gedung Putih.

Realitas sosial-politik di atas menjadi peluang emas buat kubu Demokrat untuk kembali menguasai Kongres dan Gedung Putih. Maka munculnya tokoh-tokoh Demokrat seperti Barack Obama (Illinois), John Edward (North Carolina), atau Hillary Clinton (New York) yang membawa bendera anti perang pun mendapat sambutan antusias publik AS.

Obama adalah salah satu kandidat yang gencar menyuarakan anti perang dan menyerukan perbaikan domestik AS. Dalam setiap kampanye, Obama juga sering menyerukan jargon “Satu Amerika” sebagai reaksi atas “kultur rasisme” yang belum sepenuhnya hilang dari bumi AS. Jargon inilah yang kemudian dianggap banyak pihak sosok Obama sebagai “pemersatu” bangsa AS yang multi ras. Inilah faktor lain yang membuat nama Obama melambung. Latar belakang Obama yang “multi ras dan multi kultural” juga menjadi poin tersendiri. Sosok Obama dianggap “representasi” warga AS yang beragam: kulit putih, Afrika-Amerika, Hispanics, Asia, serta Arab dan Timur Tengah.

Peluang Ke AS 1

Apakah dengan berbekal “potensi diri” yang kuat didukung dengan faktor sosial-politik yang memberi angin segar pada Demokrat ini dengan sendirinya jalan Obama ke kursi Gedung Putih sebagai AS 1 akan mulus? Belum tentu. Jika melihat komposisi penduduk AS saat ini, sekitar 52% kulit putih, 24% Afrika-Amerika, 14% Hispanics (keturunan Mexico dan Amerika Latin), 7% Asia (terutama Asia Tengah, Timur, dan Selatan), sisanya adalah Arab, Timur Tengah, dll. Pertanyaannya? Maukah kulit putih dipimpin seorang Obama yang keturunan Kenya (Afrika)?

Dalam sejarah politik AS belum pernah ada seorang presiden yang tidak berkulit putih. Hal lain, fanatisme kelompok berbasis agama dan ras juga masih sangat kuat di AS. Secara formal-struktural rasisme memang sudah dihapus akan tetapi secara “kultural” semangat anti ras ini belum hilang di AS! Dalam pekerjaan misalnya, orang kulit hitam masih dibayar dengan upah jauh di bawah standar kulit putih (demikian juga keturunan Hispanics, dll). Celakanya lagi darah campuran Obama (ibu AS ayah Kenya)—disamping  sebagai kekuatan—juga merupakan titik lemahnya. Alih-alih ingin menggaet pendukung kulit hitam, warga Afrika-Amerika sendiri banyak yang menganggap sosok Obama “kurang hitam” (less black) sementara bagi warga kulit putih menganggap Obama “berbau hitam” alias “tidak 100% putih”. Pandangan warga AS ini tampak ketika NBC TV mengadakan laporan khusus tentang Obama Minggu lalu (10/2).

Hal lain yang menjadi ganjalan Obama adalah tentu saja tampilnya Hillary Clinton yang juga akan maju ke kursi AS 1. Sosok Hillary hampir punya segalanya: uang, popularitas, karisma, ketokohan, networks, intelektualitas, pengalaman politik, 100% putih, dll. Sebagai istri mantan seorang presiden yang populis dan memiliki pengaruh kuat di Demokrat, Bill Clinton, Hillary tentu lebih “mengakar, matang dan berpengalaman” dari sisi politik. Dengan melihat kekuatan yang nyaris sempurna seorang Hillary ini peluangnya tentu lebih besar ketimbang kandidat lain termasuk Obama sendiri.

Tugas besarnya tinggal meyakinkan publik AS tentang kemampuan seorang perempuan memimpin negeri adi daya AS (catatan: negeri ini juga belum pernah mempunyai seorang presiden perempuan). Tapi pekerjaan Hillary untuk meyakinkan publik AS tentang “kemampuan perempuan” ini tidak seberat tugas Obama dalam meyakinkan kulit putih dan hitam. Dalam berbagai survey, meskipun Obama mendapat suara signifikan, prosentase Hillary tetap yang tertinggi. Mungkin akan menjadi lebih menarik dan strategis jika Demokrat memasang Hillary sebagai kandidat presiden dan Obama “magang” sementara sebagai wakilnya. Duet Hillary-Obama ini jika mampu melenggang ke Gedung Putih, rakyat AS benar-benar membuat sejarah baru!