Beranda Interview Jalan Terjal “Sang Profesor” dari Batang

Jalan Terjal “Sang Profesor” dari Batang

318
0

Oleh Harjanto Halim (filantropis, pebisnis Tionghoa, CEO PT Marimas Putera Kencana, dan pengurus Perkumpulan Boen Hian Tong)

Tamu Diskusi Tipis-Tipis yang kami (Perkumpulan Boen Hian Tong) adakan kali ini (via Zoom) sungguh sosok fenomenal. Namanya Sumanto Al Qurtuby. Ia seorang anak pelosok desa di sebuah lereng gunung di Kabupaten Batang (Jawa Tengah), penggembala kambing dan kerbau, pencari kayu bakar, anak modin dan petani miskin yang nekad merantau ke kota-kota di Indonesia dan juga Luar Negeri untuk sekolah hingga doktor dan kemudian mengajar di universitas Amerika Serikat dan Arab Saudi, selain peneliti tamu di sebuah kampus di Singapura.  

Kuliah S1-nya di IAIN (Institute Agama Islam Negeri, kini UIN, Semarang) bermodal kambing dan kerbau hasil gembalaannya saat kecil yang terpaksa dijual (dilego), sambil nunut urip di pondok pesantren biar irit (selain kos-kosan murah). Lalu, setelah selesai S1 di bidang Hukum Islam, ia nekad mengambil S2 di UKSW (Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga) karena ingin mempelajari disiplin dan tema-tema baru tidak melulu masalah keislaman seperti di IAIN, pesantren, atau madrasah.

Kemudian, setelah merampungkan studi S2 Sosiologi Agama, ia kembali nekad ke Amerika Serikat (Virginia) untuk mengambil S2 lagi (di bidang Conflict and Peace Studies) dengan bermodal Bahasa Inggris pas-pasan hasil kursus tujuh bulan di Desa Pare (Kediri, Jawa Timur). Kenekadannya terus berlanjut. Sehabis menyelesaikan S2 di Virginia, ia nekad melamar program doktor di Boston University. Setelah selesai S3, ia kemudian menjadi dosen dan visiting scholar di universitas bergengsi di Amerika, dan kini menjadi profesor di King Fahd University di Arab Saudi, selain visiting senior scholar di National University of Singapore.

***

Hampir setengah jam sang profesor menceritakan kisah masa kecilnya, tentang bapak (kini sudah almarhum) dan simboknya, kambing dan kerbaunya, celengannya, warung simboknya, ketegaran “simbahnya”–demikian ia memanggil bapaknya–yang setiap pagi selalu mengantarnya ke sekolah di kecamatan lain yang dilaluinya jalan kaki setiap hari menyusuri perbukitan, persawahan, dan hutan selama 5 tahun. Ditambah menghadapi nyinyiran dan cemo’ohan para “penggede” dan tetangga kampung: “Ngapain sekolah? Mau jadi apa? Sia-sia…”

Simbah hanya diam dan tak mempedulikan sama sekali suara-suara sumbang dari (sebagian) warga kampung. Ia tetap mengantar anaknya sekolah setiap pagi selepas subuh. Setelah mentari menyembul di ufuk timur, simbah kembali pulang ke rumah sementara sang anak melanjutkan perjalanan ke sekolah seorang diri. SD di kampungnya hanya sampai kelas 4. Maka ia harus melanjutkan sekolah di SD lain di kecamatan lain sampai kelas 6. Setelah itu, ia lanjutkan sekolah di sebuah MTs (Madrasah Tsanawiyah) di tetangga kecamatan.

“Simbah tidak punya apa-apa untuk diwariskan, Le. Wong sawah juga cuman sawah garapan. Simbah cuman bisa mewariskan ilmu.” Si profesor cilik bertubuh ceking, berkulit dekil itu hanya diam saja.

Mengikuti pesan simbahnya, ia pun tekun belajar di MTs (Madrasah Tsanawiyah) di Kecamatan Tulis, pindah ke MAN (Madrasah Aliyah Negeri) di Pekalongan, meneruskan S1 di Semarang, S2 di Salatiga, dan seterusnya.

Ia terus menempa diri dalam kesibukan akademis, mengasah kemampuan menulis, menceburkan diri dalam lautan buku, aktif di organisasi gerakan mahasiswa, mencetak majalah kampus, menerbitkan jurnal non-kampus, menggawangi kegiatan keagamaan, serta menimba ilmu dengan para pakar ulama dan pemikir Islam moderat, termasuk Gus Dur, Kiai Sahal, Cak Nur, dan Kang Jalal (semua sudah almarhum).  

Dan ia pun mulai berpikir dan berkontemplasi: hidup yang keras dan eksklusif tidak akan menyelesaikan masalah kemajemukan. Konservatisme yang terbentuk, khususnya sejak ia sekolah di Madrasah Aliyah dan tinggal di sebuah pesantren di Pekalongan mulai terkikis dan terbuka.

“Dulu aku itu anti film, anti musik, anti non-Muslim, anti perempuan tanpa jilbab dlsb,” aku sang profesor yang laman medsos nya sering dipenuhi tulisan ringannya nan jenaka namun membumi dan mak-jleb tentang keberagaman, toleransi dan pluralisme.

***

Ia menyelesaikan studi S1-nya hampir 7 tahun. Setelah itu, ia pindah ke UKSW. “Aku bosen belajar tentang Islam dari perspektif ilmu-ilmu keislaman,” ujarnya sambil kemudian menyapa seorang pria yang ikut hadir di acara diskusi, yang ternyata mantan rektor UKSW.

Ia menuntaskan studi S2-nya dengan berdarah-darah. Bahkan ia harus menemui seorang kyai untuk minta petunjuk cara melunasi tunggakan uang kuliah 3 semester. “Coba kamu telpon dua nomer ini,” ujar Mbah Kyai sambil menyodorkan secarik kertas. “Insya Allah, cukup untuk mbayar kuliahmu…”

Ternyata itu nomer telpon dua dermawan yang benar langsung bersedia membantu kuliahnya termasuk memberesi tunggakan uang kuliah.

Sang profesor juga tak lupa berterima kasih kepada pak rektor yang ia panggil ‘Om’ (sebutan “Pak” di Indonesia Timur karena sang rektor berdarah Ambon), yang telah membantunya habis-habisan, moril dan terutama materiil. Bahkan saat hendak mengurus visa ke Amerika, pak rektor ikut menemaninya ke Konsulat Amerika di Surabaya. Nada-nadanya pak rektor was-was, wajah sang profesor nan rak cetha bakal menimbulkan syak wasangka petugas konsulat hehehe.

Setelah melalui proses rumit dan berliku, akhirnya dengan modal doa, tekad bonek, dan urunan teman untuk beli tiket, sang profesor mendarat di bumi Paman Sam. Dan penderitaan belum berakhir. Dari awalnya cuman mengikuti workshop ‘Peacebuilding’ selama 2 minggu, menjadi kursus Bahasa Inggris selama 3 bulan, akhirnya menjadi mahasiswa S2 di Center for Justice and Peacebuilding, Eastern Mennonite University, melalui beasiswa dari Mennonite Central Committee (Amerika Serikat), yang diperjuangkan oleh beberapa senior dan dosennya.

***

Di tengah menyelesaikan program master, sang profesor mulai galau mencari beasiswa untuk kelanjutan studi doktoralnya. Tanpa beasiswa, tak mungkin ia meneruskan kuliah. Ia pun nekad menghubungi beberapa profesor di beberapa kampus di Amerika.

Sampai akhirnya ia berhasil memancing perhatian seorang profesor di Boston yang kelak mati-matian berusaha membantunya. “Padahal kami belum pernah bertemu dengannya,” ujar sang profesor seraya nyengir.

Jam sudah menunjukkan pukul 21:00 WIB. “Di sana belum buka, Prof?,” tanya saya. Sang profesor kembali nyengir. “Aman, di sini masih jam 5 kok…” Profesor tinggal di Dhahran, Arab Saudi.

“Untuk meyakinkan ketua komite penerima beasiswa doktoral yang merupakan seorang cendekiawan terkenal di Amerika, saya diminta menulis esai tentang sufisme filosofi dalam sejarah Islam dan pengaruhnya di Indonesia,” sang profesor melanjutkan. “Sekitar delapan hingga sepuluh ribu kata dalam waktu tiga hari.” Ia pun siang-malam nglembur menulis.

Tak diduga, ternyata tulisannya gol! “Akhirnya, saya diterima program doktoral di Boston University lewat beasiswa Muslim Studies Fellowship,” ujar sang profesor. Beasiswa ini hanya diberikan pada dua pelamar program doktor setiap tahunnya.

Tapi masalah belum selesai. “Saya diminta memberi Bank Statement, bahwa punya simpanan cukup di bank untuk menjamin kebutuhan anak istri sebab beasiswa hanya untuk saya…”. Lalu sang profesor berterima kasih kepada saya yang sudah lupa pernah membantu membuatkan ‘Bank Statement’ buatnya.

Selama studi program doktoral, sang profesor harus salto dengan gaya irit, medhit, cethil, tingkat dewa. Beasiswa sebesar USD 2.200 per bulan harus dipecah: $1.500 untuk apartemen, sisanya untuk bayar transport, internet, TV cable, buku, dan untuk biaya makan anak-istri. Itupun kudu ditomboki pengumpulan kupon makanan dari pemerintah atau guntingan diskon untuk membeli roti, susu, telor, dan sereal.

***

Tapi semua jerih-payahnya itu berakhir manis. Semua perjuangan, keringat, darah, air mata, kecapekan mbaca, kurang tidur, ngetik hingga larut malam dan subuh, berbuah manis. Gelar doktor diraih, tawaran mengajar tersaji.

“Ada yang tanya Prof, mengapa dulu pak rektor UKSW mau membantu njenengan?,” saya membacakan pertanyaan peserta. “Apakah karena melihat wajah njenengan yang mesakke?”

Sang profesor ngakak. “Bukan begitu,” Pak rektor menjawab. “Saya melihat seorang Muslim mau belajar di UKSW pasti punya kelebihan dan keberanian…”

Hmm. “Dan saya juga melihat kami memiliki minat yang sama,” imbuh pak rektor. Apa itu? “Studi dekonstruksi teks.” Dan sang profesor hingga kini masih setia mengimani keyakinannya soal keberagaman dan kebebasan menafsir teks.

Lalu kok pindah ke Arab Saudi? Sang profesor dan pak rektor terkekeh, lalu mempersilahkan seorang pendeta dari Ambon menjawab.

“Kita butuh orang yang bisa menarasikan Islam Nusantara, konteks keislaman di Indonesia yang seperti apa, dari Arab Saudi…” Maksudnya? “Lha kalau Profesor Manto tinggal di Amerika dan nulis dari sana, pasti dicap antek Barat. Kalau di Arab lebih gamblang…”

Hmm, bener juga.

***

Dan saat seorang pengajar dari Belanda mengungkapkan kegalauannnya ketika ia harus ‘membela’ Islam di Indonesia yang kini dianggap sering menyalahgunakan isu penistaan agama, ia mengusulkan apa tidak sebaiknya ulama, ustad, ustadzah, menjalani pendidikan teologi secara formal sehingga pikiran mereka lebih toleran dan terbuka.

“Tidak mudah,” jawab sang profesor. “Karena kelompok non-formal itu yang menguasai wacana dan kehidupan beragama di tanah air.

Bener. “Wong mau didata saja sudah geger,” celetuk sang profesor yang ternyata hobi nonton film kartun atau stand-up komedi dan ndengerin musik Jawa campur sari.

Banyak salah kaprah keberagamaan di Indonesia. Di Arab Timur Tengah, ulama adalah sebutan untuk ilmuwan dan ustad adalah dosen, dari pengikut agama manapun. Di Indonesia, ulama dan ustad dianggap pemuka agama Islam. Lalu, pluralisme acap dicurigai dan dikritisi. Pluralisme dianggap sinkretisme. Padahal pluralisme beda. Pluralisme bukan sinkretisme, bukan pula toleransi.

Pluralisme mengandaikan setiap individu atau umat untuk saling memahami melalui dialog intensif dan kontinu serta keterlibatan secara dekat dan mendalam (engagement) dengan individu atau umat lain. “Jadi misalnya, bukan sekedar mengucapkan ‘Selamat Hari Natal’ atau “Selamat Idul Fitri akan tetapi mampu memahami makna terdalam dari Natal dan Idul Fitri itu.”

Itulah pluralisme. Jelasnya, pluralisme harus ‘engaged’, srawung, dan diajarkan semenjak kecil. Dan pluralisme Islam inilah mungkin model keislaman yang paling cocok buat masyarakat dan bangsa Indonesia yang plural. Mungkin.

Dan sang profesor yang tulisan-tulisannya telah melanglang dunia, yang mahasiswanya tidak hanya orang Arab, tapi juga orang Barat, yang telah berjumpa dengan segala jenis manusia, bertemu orang Yahudi, Nasrani, atheis dlsb, seorang anak desa dari pelosok desa yang nyimpen uang hasil menggembala kambing dalam kaleng yang ia pendam di bawah ranjang (“Kan rumahku masih berlantai tanah,” kilahnya tanpa sendu), anak simbah modin yang meyakini warisan terbaik adalah ilmu, yang nekad merantau ke kota, kuliah, dan akhirnya ia sukses menjadi seorang profesor kelas dunia dan masih menjadi seorang Muslim yang taat berpuasa.

***

Ia menunjuk dua foto rumah yang terlihat asri. “Ini rumah yang saya buat untuk simbok dan kakak saya. Yang satu sudah meninggal. Rumah yang satu lagi untuk kakak tidak ada di foto ini.”

Ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan, “Itu amanah simbah: kalo ada rejeki, tolong rumah ini (rumah simbah dan simbok) dan kedua kakakmu dipugar biar kuat tidak terbuat dari papan kayu dan bambu…” Suaranya tersengguk dalam parau, tersedak dalam haru.

Sang profesor melepas kacamata dan mengusap matanya, sekilas. Tak ada yang melebihi cinta seorang anak kepada orang tuanya yang dulu telah berpeluh-keringat mengantar sekolah setiap hari tanpa kenal lelah dan yang berderit dalam keyakinan untuk memberi warisan yang terbaik.

Wahai profesor, adakah pelukan di punggung bapakmu yang basah kuyup telah memicu dan memacu semangatmu hingga engkau pun menjalani kehidupanmu kuat-kuat?

Artikel sebelumyaHermanto Tanoko, Berbisnis untuk Kemanusiaan
Artikel berikutnyaNgobrol Bersama “Romo Vatikan”
Antropolog Budaya di King Fahd University, Direktur Nusantara Institute, Kontributor The Middle East Institute, Kolumnis Deutsche Welle, dan Senior Fellow di National University of Singapore.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.