Beranda Opinion Bahasa Konflik dan Kekerasan di Afganistan

Konflik dan Kekerasan di Afganistan

806
0
Konflik dan Kekerasan di Afganistan

Afganistan terus bergolak. Taliban masih saja menggerogoti kekuasaan Hamid Karzai dengan sejumlah teror busuk. Naifnya, setiap aksi kekerasan meletus di Afganistan, sejumlah ormas Islam dan kelompok Muslim tertentu di Indonesia—bahkan di berbagai belahan Dunia Islam—selalu tunjuk hidung ke Amerika Serikat, Kristen, dan Yahudi yang berada di balik perang antar-kelompok Muslim di negara itu. Mereka selalu menuding persekongkolan “Salibis-Zionis” (Kristen-Yahudi) yang dimotori oleh Amerika Serikat sebagai otak kekacauan di negara yang mendapat julukan “the highway of conquest” itu. Bahkan banyak tokoh Muslim yang berkomentar bahwa Amerika-lah yang menjadi “biang kerok” perang, malapetaka, dan kehancuran di Afganistan. Mereka berargumen bahwa sebelum intervensi pemerintah AS di negara itu, Afganistan merupakan kawasan yang damai dan harmoni jauh dari konflik dan kekerasan antar faksi agama dan etnis.

Saya tidak memungkiri peranan AS di balik aksi perang dan kekerasan di Afganistan. Amerikalah yang dulu saat berkobar perang Afganistan-Soviet (1979-1989) melatih pejuang Mujahidin untuk berperang melawan “tentara merah” Soviet. Amerika pula—di bawah “Bush junior”—yang kembali membombardir sarang-sarang Osama dan Taliban di Afganistan sehingga membuat negara itu porak-poranda. Akan tetapi tindakan menyalahkan melulu kepada AS, menuding Kristen-Yahudi sebagai mastermind kekacauan, dan menganggap Afganistan sebagai “daerah sepi konflik” sebelum intervensi AS adalah pandangan dan analisis yang keliru, apologis, tidak fair dan tidak ilmiah serta mengabaikan sejarah konflik dan kekerasan antar-etnis dan antar-mazhab keislaman di negeri tempat lahirnya penyair-sufi legendaris Maulana Jalaludin Rumi itu.

***

Siapapun yang mempelajari sejarah Afganistan akan segera tahu bahwa konflik, kekerasan, perseteruan, dan perebutan kekuasaan antar kelompok Muslim itu telah terjadi bahkan sejak awal berdirinya Afganistan. Dalam buku Afghanistan: A Short History of its People and Politics, sejarawan Martin Ewans telah menggambarkan dan mengulas dengan sangat baik konflik dan kompetisi kekuasaan antar-suku dan kelompok Muslim di Afganistan yang berujung pada perang (dan pembunuhan). Sejak pendirian Afganistan, negara ini memang sering dilumuri pertikaian antar-etnis sesama Muslim (misalnya perang antara etnis Tajik dan Uzbek di Afganistan Utara dengan etnis Pasthun yang mayoritas mendiami kawasan Afganistan Selatan atau konflik antara etnis Nuristan dan Pasthun), kerusuhan antar-mazhab Islam (misalnya antara Syi’ah Hazara dengan Sunni Pasthun), dan perseteruan antar-klan dalam satu etnis yang sama (contohnya konflik antara klan Durani, Ghilzai, dan Muhammadzai) (Ewans 2002).

Dalam sejarah kepolitikan Afganistan, kelompok-kelompok etnis dan klan yang sama-sama Muslim ini sering terlibat baku-hantam satu sama lain, saling menjegal dan saling mengkudeta famili dan teman sendiri demi kekuasaan. Untuk memuluskan jalan kekuasaan itu, tidak jarang mereka berkolaborasi dengan “pihak asing” untuk menggempur lawan politik mereka. Demikianlah dalam sejarah sosial-politik Afganistan, kelompok-kelompok Muslim tertentu rela kongkalikong dengan, misalnya, pemerintah Inggris, Uni Soviet, Amerika Serikat, dan Arab Saudi untuk menghancurkan musuh-musuh politik mereka yang sering kali saudara mereka sesama etnis atau klan tetapi kebetulan dari partai politik atau kelompok Islam yang berbeda.

Ini misalnya terjadi dalam kasus pembunuhan dan kudeta berdarah atas Mohammed Daud pada tahun 1978 oleh faksi radikal Khalqis yang menyebabkan invasi “Tentara Merah” Uni Soviet di Afganistan sejak 1979 sampai 1989. Khalqis adalah sayap militan yang mendominasi PDPA (the Peoples Democratic Party of Afghanistan)—sebuah partai politik berhaluan komunis di Afganistan yang berkuasa di negara itu pasca tumbangnya Mohammed Daud. Daud sendiri berhasil naik tahta setelah mengkudeta kekuasaan Zahir Shah pada tahun 1973. Mantan Presiden American Study of Afghanistan yang juga professor saya di Boston University, Thomas Barfield, menjelaskan bahwa ambisi faksi radikal Khalqis mengontrol PDPA itu tidak hanya didorong oleh nafsu untuk memerintah Afganistan saja tetapi guna mengtransformasi negara itu melalui kebijakan-kebijakan revolusioner di bidang land reform, pendidikan, dan hukum keluarga.

Dalam rangka untuk menerapkan dan memaksakan kebijakan-kebijakan radikal itu, kelompok Khalqis rela menyerang, membunuh, dan menyingkirkan siapa saja yang mereka pandang berpotensi menghalangi misi mereka termasuk kelompok Parchami (faksi lain di PDPA), para pemilik/tuan tanah di daerah-daerah pedesaan, rezim tua militer, serta para ulama dan tokoh agama. Lebih parah lagi, kelompok Muslim berpaham komunisme ini menolak simbol-simbol Islam tradisional, menyerang berbagai tradisi Islam dan adat-istiadat lokal, tidak menghargai kultur setempat, serta mengganti bendera Afganistan dengan warna merah. Oleh karena itu ketika sang rezim mencoba mengimplementasikan kebijakan-kebijakan yang radikal itu mereka mendapat perlawanan sengit dari masyarakat Afganistan yang kemudian mengantarkan pada kekerasan komunal yang mengerikan sesama warga dan umat Islam.

Dalam situasi kacau dan out of control itulah, Uni Soviet intervensi dan mengontrol Afganistan. Rezim Soviet segera menyingkirkan faksi radikal Khalqis (di bawah Hafizullah Amin) dan menggantinya dengan kelompok Parchami di bawah kepemimpinan Babrak Karmal. Proses penggantian rezim itu tidak mampu menyelesaikan masalah, sebaliknya kehadiran tentara Soviet itu justru menimbulkan konflik baru. Kedatangan “Tentara Merah” Soviet yang berkolaborasi dengan rezim penguasa Babrak Karmal (juga Najibullah, pengganti Karmal) itu disambut dengan perang masal yang dikomandoi para pejuang Afganistan. Perang yang berkobar selama 10 tahun sejak 1979 itu berakhir dengan kemenangan di pihak pejuang Afganistan setelah Uni Soviet bersedia menarik pasukannya berdasarkan perjanjian damai yang diteken oleh AS, Uni Soviet, Pakistan dan Afganistan tahun 1988.

Mengapa “pejuang tradisional” Afganistan mampu mengalahkan “tentara modern” Uni Soviet? Jawabannya mudah: karena tentara Soviet dikeroyok oleh berbagai kekuatan: Amerika Serikat, Arab Saudi, Pakistan dan tentu saja Afganistan sendiri. Pada waktu itu, Amerika Serikat—sebagai penganut ideologi Kapitalisme yang memang bermusuhan dengan Uni Soviet yang mengusung Komunisme—memasok tentara, senjata/alat tempur, dan dollar serta menyediakan fasilitas training perang bagi pejuang Afganistan termasuk milisi Arab yang didatangkan ke sana oleh rezim Arab Saudi untuk “berjihad” melawan tentara komunis Soviet. Sementara itu, Arab Saudi—yang memang sudah lama menjadi patron dan “boneka” AS—bertugas menggelontor real dan milisi Arab. Tugas Pakistan waktu itu adalah menyediakan (menyewakan) wilayahnya di kawasan utara yang berbatasan dengan Afganistan sebagai “pangkalan militer/milisi” maupun “training camp”. Jenderal Ziaul Haq mendapat banyak uang dengan menyewakan wilayahnya untuk “pangkalan militer” dan “training perang” para milisi Arab dan pejuang mujahidin ini.

***

Pada saat berkobar perang Afganistan-Soviet inilah, para milisi Arab dari negara-negara Timur Tengah dan Afrika Utara (bahkan banyak juga yang berasal dari Asia Tenggara khususnya Filipina dan Indonesia yang bergabung dengan laskar mujahidin melawan tentara Soviet) yang berjumlah puluhan ribu orang berbondong-bondong memasuki wilayah Afganistan atas sponsor pemerintah Arab Saudi. Pemimpin milisi Arab penting di Afgansitan kala itu adalah Abdullah Azam (1941-1989), anggota Ikhwanul Muslimin Palestina yang disebut-sebut sebagai pendiri Hamas. Azam inilah yang kelak (sekitar tahun 1988 sesaat sebelum tentara Soviet mundur) mendirikan Al-Qaida (asalnya Al-Qaeda al-Sulbah) yang didesain sebagai wadah kaum mujahidin untuk membela kaum Muslim yang tertindas dan dijajah serta mengganti rezim-rezim Arab yang tidak “islami” dengan sistem pemerintahan Islam. Tetapi malang, lantaran Azam tidak setuju dengan cara, strategi, dan taktik terorisme yang diusulkan Osama Bin Laden, ia pun dibunuh oleh faksi garis keras mujahidin yang tentu saja atas “restu” Osama, bekas murid Azam saat sekolah di Universitas King Abdulazis. Pada waktu perang melawan Soviet ini, Osama ditugaskan oleh Azam (mentor Osama waktu itu) untuk merekrut milisi Arab.

Para milisi Arab ini kemudian bergabung dengan pejuang lokal Afganistan yang dikomandoi oleh, antara lain, Ahmad Shah Massoud (komandan perang beretnis Tajik dari Afganistan Utara), Gulbuddin Hekmatyar (pendiri Ikhwanul Muslimin Afganistan tetapi lebih banyak bertikai dengan tentara mujahidin ketimbang berperang melawan tentara Soviet), Burhanuddin Rabbani (pendiri Jamiat-e-Islami Afganistan) dan Abdul Rasul Sayyaf (warlord beretnis Pasthun dan pemimpin Islamic Union for the Liberation of Afghanistan). Abdul Rasul Sayyaf ini kelak menjadi inspirator pendirian kelompok teroris militan Filipina, Abu Sayyaf Group, yang didirikan oleh Abdurrajak Janjalani. Akibat pertikaian politik internal (misalnya Utara versus Selatan, Pasthun vs non-Pasthun, Sunni vs non-Sunni dst) tentang siapa dan kelompok mana yang berhak memimpin Afganistan pasca mundurnya tentara Soviet, para komandan perang ini pun saling serang. Perang sipil pun kembali meletus sehingga membuat negara ini seperti “hutan belantara” yang diatur oleh hukum rimba.

Pada saat negara ini dalam kondisi kacau-balau dan “out of order”, datanglah Taliban di bawah kepemimpinan Mullah Omar, bekas santri di madrasah “Salafi-Wahabi” Deobandi di Pakistan Utara, yang berjanji mengembalikan Afganistan ke “jalan yang benar”. Masalahnya adalah gelar “mullah” adalah jabatan keagamaan terendah di Afghanistan seperti “modin” di Jawa (ini berbeda dengan status “mullah” di Iran yang sangat prestisius). Oleh karena itu, orang-orang Afganistan tidak mau tunduk kepada Mullah Omar dan Taliban-nya. Faktor lain kenapa rakyat Afganistan tidak mau diatur oleh pemerintah Talibah adalah karena mereka dikontrol oleh para bekas milisi Arab saat perang melawan Soviet yang masih “ngendon” di Afganistan. Kaum Muslim Afganistan ini sangat membenci milisi “Arab-Wahabi” karena mereka anti-tradisi dan kultur lokal. Ekspresi kebencian rakyat Afganistan terhadap mereka ini diungkapkan dengan “humor sarkastik” yang sangat populer bahwa milisi Arab itu hanya memikirkan dua hal: “perut” dan “bawah perut”.

Karena rakyat Afganistan tidak mau diatur, maka satu-satunya jalan untuk memerintah adalah dengan cara-cara teror dan kekerasan melalui pemaksaan penerapan Syari’at Islam secara kaku dan ketat. Semua itu dilakukan oleh Mullah Omar atas saran “penasehat politik” serta donor Taliban: Osama Bin Laden. Selama kurang lebih lima tahun kekuasaan Taliban, Afganistan tidak henti-hentinya dideru dengan perang antar-etnis, kerusuhan sosial antar-warga, konflik Arab vs Afgan, persetruan Utara-Selatan, pembantaian komunitas Syi’ah, kekerasan terhadap kaum perempuan, pembersihan kaum minoritas agama, dlsb. Karena itu kehadiran tentara AS untuk menumpas Osama dan Taliban, kala itu, disambut sorak-sorai oleh penduduk setempat. Kini Osama dan Taliban tidak lagi berkuasa tetapi nafsu untuk berkuasa dan mengontrol Afganistan terus menggelora karena itu mereka dengan berbagai upaya selalu melancarkan aksi-aksi teror untuk men-destabilisasi pemerintah dan menciptakan global insecurity. Jika negara sudah kacau-balau, mereka akan kembali mengambil alih kekuasaan persis seperti yang mereka lakukan puluhan tahun silam.