Beranda Opinion Bahasa Mengungkap Misteri Arabia Kuno

Mengungkap Misteri Arabia Kuno

494
0

Menarik diperhatikan meskipun jutaan umat Islam di seluruh dunia mengunjungi Arab Saudi untuk menunaikan ibadah haji atau umrah setiap tahunnya tetapi sesungguhnya tidak banyak dari mereka yang mengetahui kesejarahan Arabia Kuno selain info sekilas mengenai kisah lika-liku Nabi Ibrahim dan keluarganya termasuk cerita tentang Ka’bah, air zamzam dlsb. Selebihnya mereka tidak tahu. Hal itu bisa dimaklumi karena Al-Qur’an sendiri juga lebih banyak atau hanya merekam seputar cerita perjalanan para nabi Israel Kuno seperti dinarasikan dalam kitab-kitab Yahudi.

Menariknya lagi bukan hanya umat Islam yang minim wawasan Arabia Kuno, para sejarawan pun seperti mengabaikan atau kurang tertarik membahas kesejarahan masa lampau Arabia Kuno. Akibatnya, Arabia tidak masuk dalam peta sejarah peradaban kuno umat manusia yang diperhitungkan. Setiap membahas peradaban kuno Timur Tengah (Timteng), para sejarawan selalu merujuk Mesir, Iran (Persia), atau Mesopotamia (sebuah “kawasan historis” di Asia Barat yang terletak di antara sungai Tigris dan Eufrat yang kini menjadi bagian dari Irak). Arabia luput dari pengamatan mereka.

Padahal, seperti Mesir, Persia, dan Mesopotamia, di Arabia juga banyak peninggalan kesejarahan dan arkeologis masa lampau yang menarik untuk dijadikan sebagai bahan kajian asal-usul peradaban dan kebudayaan kuno umat manusia di Timteng. Bahkan menurut sejumlah arkeolog, jejak sejarah dan kebudayaan Arabia Kuno bisa dikatakan lebih tua ketimbang Mesir, Persia, maupun Mesopotamia. Kemudian, meskipun Arabia bukan sebagai tempat sejumlah kerajaan legendaris masa lampau seperti Mesir, Assyria, Babilonia, Persia, Romawi, Byzantium, Persia, dlsb. Tetapi bukan berarti Arabia minus kerajaan-kerajaan kuno di era pra-Islam. 

Yang dimaksud dengan Arabia Kuno disini adalah kawasan Jazirah Arab (Arabia) ratusan atau ribuan tahun Sebelum Masehi yang teritorinya membentang dari utara yang kini sebagian masuk wilayah Yordania hingga ujung selatan yang kini sebagian masuk wilayah Yaman. Bagian tengah jazirah ini kini masuk teritori Arab Saudi. Penyebutan Arabia ini untuk membedakan area ini dengan “kawasan Arab” lain di Timteng.   

Sejumlah Temuan Arkeologi yang Menarik

Beberapa bulan belakangan ini saya mengamati berbagai temuan menarik hasil penggalian para arkeolog dan antropolog ragawi, baik dari Saudi maupun mancanegara, yang bisa menambah atau bahkan mengubah kesejarahan peradaban manusia Timteng. Pengamatan ini adalah bagian dari proyek riset turisme arkeologi di Arab Saudi yang saya pimpin bersama Profesor Simeon Magliveras dari Amerika.

Misalnya, sekelompok arkeolog dari Saudi Heritage Authority, King Saud University, dan Max Planck Institute menemukan batu-batu kuno (termasuk Archeulean axes) di Gurun Nafud dan Tabuk (Khal Amishan) yang dibentuk sedemikian rupa untuk dijadikan sebagai alat/senjata “manusia purba”. Bisa dikatakan alat-alat yang terbuat dari batu-batu kuno ini (dalam arkeologi disebut eco-facts) merupakan bagian dari karya seni pahat mula-mula yang diciptakan atau dikembangkan oleh leluhur manusia. Para arkeolog memperkirakan usia batu-batu kuno ini sekitar 400,000 tahun, dan sejauh ini dianggap sebagai penemuan arkeologis tertua di kawasan Arabia.

Para arkeolog juga menemukan alat dari batu-batu kuno lainnya yang usianya relatif lebih muda (antara 50,000 dan 300,000 tahun). Dengan kata lain, para arkeolog bukan hanya menemukan sisa-sisa peninggalan arkeologis di zaman peradaban kuno Archeulea tetapi juga era Paleolitikum Tengah (Middle Paleolithic) yang lebih muda. Selain itu, tim arkeolog juga menemukan fosil sejumlah hewan yang berusia ribuan tahun yang menunjukkan kesuburan kawasan Arabia Kuno. Hasil penemuan ini secara detail diterbitkan di majalah Nature yang sangat masyhur.

Kemudian, tim ilmuwan terdiri atas Iyad Zalmout dari Saudi Geological Survey, Huw Groucutt dari University of Oxford, dan Michael Petraglia dari Max Planck Institute for the Science and Human History menemukan tulang jari tengah manusia dewasa (dari Homo Sapiens) yang diperkirakan sekitar 85,000–90,000 tahun lalu. Ini merupakan fosil pertama hominin (sekelompok manusia purba dan leluhur langsung “manusia modern”) tertua yang ditemukan di Arab Saudi serta fosil manusia tertua yang pernah ditemukan diluar Afrika dan Levant. Hasil temuan mereka diterbitkan di jurnal Nature Ecology & Evolution.   

Tak kalah menarik adalah hasil temuan tim peneliti arkeologi University of Western Australia yang menemukan kompleks pemakaman kuno berusia sekitar 4,500–5,000 SM di kawasan AlUla dan Khaibar (hasil temuan mereka diterbitkan di jurnal Holocene). Temuan ini lagi-lagi menunjukkan Arabia sebagai salah satu tempat hunian manusia purba. Penting untuk dicatat bahwa manusia purba yang menghuni area Arabia Kuno itu tidak serta merta beretnis/bersuku Arab tetapi juga leluhur manusia dari etnis/suku lainnya, misalnya Nabatea yang dulu membangun Petra di Yordania dan Hegra di Arabia. Bahkan etnis/suku Arab bisa dikatakan “pendatang baru” di Arabia.

Kerajaan-Kerajaan Kuno di Arabia

Pula, para ilmuwan (sejarawan dan arkeolog) juga menemukan sisa-sisa kerajaan kuno di Arabia selatan, utara, maupun timur. Salma Hawsawi, ahli sejarah Arabia Kuno dari King Saud University, mengatakan bahwa Arabia selatan pernah menjadi pusat sejumlah kerajaan klasik seperti Ma’in, Awsan, Qataban, Sheba, Himyar, dlsb. Sedangkan Arabia utara menjadi markas sejumlah kerajaan kuno yang sangat penting di masanya seperti Dadan, Lihyan, Nabatea, Palmyrene, Tayma, Qidar, dlsb. Bukan hanya Arabia selatan dan utara saja, Arabia timur juga dalam sejarahnya pernah menjadi rumah sejumlah kerajaan kuno seperti Dilmun, Magan, Gerrha, dan Thaj.

Tentu saja, pendirian sebuah kerajaan dimanapun selalu diiringi dengan lahirnya sebuah peradaban. Bahkan pendirian sebuah kerajaan itu sendiri merupakan cermin atau manifestasi dari majunya peradaban itu, walaupun tidak semua peradaban manusia, baik kuno maupun kontemporer, memilik sebuah kerajaan.

Sependek pengetahuan saya, hanya Arabia bagian tengah saja (Najd, Qassim, Buraidah, dlsb) yang dalam sejarahnya sangat “kering” dari kerajaan dan peradaban besar karena nihilnya perjumpaan dengan berbagai kelompok etnis dan suku-bangsa lain lantaran kondisi geografinya yang sangat ekstrim dipenuhi dengan gunungan padang pasir ganas yang kering-kerontang. Meski begitu, di kawasan ini pun pernah lahir peradaban kuno al-Magar dan Quryat al-Faw, meskipun belum ada bukti-bukti pendirian kerajaan di zaman Arabia Kuno.

Di kawasan Arabia tengah inilah kelak menjadi cikal-bakal munculnya kelompok Wahabi dan dinasti awal Saudi sehingga tidak heran jika mereka pada awalnya merupakan golongan yang sangat keras dan berpola nomadik. Sementara itu, kawasan Arabia lain–barat, utara, timur, dan selatan–merupakan area yang subur atau setidaknya tidak sekering dan setandus Arabia tengah sehingga banyak dihuni oleh umat manusia dari berbagai suku-bangsa dan agama. Di Arabia selatan bahkan ada kawasan pertanian dan perkebunan dimana penduduk setempat dapat menanam padi, kopi, sayur-mayur, dlsb.

Arabia Barat–Jedah dan Makkah

Di Arabia barat–termasuk Jedah dan Makah–memang tidak (atau belum) ditemukan jejak peninggalan arkeologis kerajaan kuno sebagaimana Arabia selatan, utara, dan timur. Tetapi Arabia barat juga menjadi kawasan penting dan strategis karena lokasinya berada di tepi Laut Merah sehingga banyak dihuni oleh umat manusia sejak zaman dulu kala. 

Jedah misalnya sudah sangat lama menjadi pusat perdagangan pesisir dan tempat transit para pedagang dan pelancong dari berbagai belahan dunia, termasuk Afrika, Asia Selatan, dan Asia Tenggara jauh sebelum Islam lahir di abad ketujuh Masehi. Makah pun begitu. Seperti ditulis oleh sejarawan James Wynbrandt dalam bukunya, A Brief History of Saudi Arabia, kelak Makah (berasal dari bahasa Sabaea yang berarti “tempat perlindungan” atau “cagar alam”), terutama sejak pertengahan abad pertama milenia (1 M), juga menjadi pusat niaga dan “melting pot” jalur perdagangan karavan dari selatan (Yaman, Najran) dan utara (Suriah, Yordania, Palestina) serta menjadi titik tolak perjalanan niaga ke arah timur seperti Irak dan sekitarnya.

Perang berkepanjangan antara Kerajaan Byzantium dan Kerajaan Sasani menyebabkan rusaknya jalur utama perdagangan dari Laut Mediterania ke Teluk Persia (atau Teluk Arab) di Arabia timur. Akibatnya, jalur perdagangan alternatif pun dibentuk dengan melewati jalur pantai barat Arabia yang menjadikan Jedah dan Makah menjadi daerah strategis. Oleh karena itu tidak berlebihan jika Makah/Jedah kelak disebut sebagai kota karavan yang kaya (wealthy caravan city).

Sejumlah sejarawan mencatat aktivitas perdagangan di Arabia barat ini sudah berlangsung sangat lama, terutama sejak 3,000 SM. Para pedagang Arabia juga bagian dari jaringan perdagangan internasional yang membentang hingga Afrika, Asia Selatan, dan Mediterania. Mereka turut memainkan peran penting yang menjembatani antara India dan Timur Jauh di satu sisi serta Byzantium dan Mediterania di pihak lain.

Kenapa Arabia Kuno Jadi Kawasan Peradaban Manusia?

Seperti dijelaskan sebelumnya, sejak zaman dahulu kala, Arabia merupakan kawasan yang sangat strategis sehingga tak heran jika daerah ini menjadi pusat perjumpaan beragam umat manusia dari berbagai kelompok etnis, suku, dan agama untuk melakukan transaksi niaga, bertempat tinggal, atau sekedar tempat singgah sementara.

Salah satu faktor yang mendorong manusia purba tinggal di Arabia karena wilayah ini dikelilingi oleh laut/sungai seperti Laut Merah (Sungai Nil), Teluk Persia, Laut Arab, atau Teluk Aden. Dimana ada air disitu ada harapan kehidupan, dan karena itulah ada populasi manusia. Ini sudah menjadi naluri umat manusia sejak zaman dahulu kala, bukan hanya di Temteng saja tetapi juga di Asia Tenggara dan kawasan lainnya. Itulah sebabnya kenapa Mesir, Persia, dan Mesopotamia menjadi salah satu tempat lahirnya peradaban manusia karena disana ada Laut Merah/Sungai Nil (untuk Mesir), Teluk Persi dan Teluk Oman (untuk Persia), dan Sungai Eufrat dan Tigris (untuk Mesopotamia).

Menyadari penting dan strategisnya Arabia sebagai pusat peradaban “manusia purba” sekaligus pusat peninggalan arkeologis kuno yang sangat kaya, pemerintah Saudi sekarang menginvestasikan milayaran dolar guna membangun, mempromosikan, dan “menyulap” Arab Saudi sebagai salah satu pusat arkeologi dunia dan tujuan utama “turisme arkeologis” yang selama ini nyaris tak tersentuh oleh pemerintah sebelumnya.

Keterangan: artikel ini semula diterbitkan di Kompas pada 16 Juli 2022.

Artikulli paraprakHumanisme Islam Buya Syafii
Artikulli tjetërBudaya di Timteng, Agama di Indonesia
Antropolog Budaya di King Fahd University, Direktur Nusantara Institute, Kontributor The Middle East Institute, Kolumnis Deutsche Welle, dan Senior Fellow di National University of Singapore.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini