Theodore Karasik, pengamat geopolitik Arab Teluk dan mantan direktur di Institute for Near East and Gulf Military Anaysis di Uni Emirat Arab dan Libanon, dengan cermat menulis: “the Gulf states approach to China has gradually shifted from alarm to embrace over the past three decades.”

Memang, seperti saya jelaskan dalam kuliah virtual sebelumnya sejak 2-3 dasawarsa lalu hubungan bilateral antara GCC (Gulf Cooperation Council atau negara-negara di kawasan Teluk Arab: Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain, dan Oman, yang sering disingkat “Arab Teluk” atau bahkan cuma disebut Teluk / Gulf saja) dengan PRC atau China telah berubah drastis: dari negatif ke positif, dari benci ke cinta, dari musuh ke teman.

Musuhan GCC-PRC adalah kisah masa lalu, ketika “perang ideologi” begitu dominan dan bergemuruh seantero jagat (dari Timur Tengah sampai Asia Tenggara) yang dikompori oleh Amerika Serikat dan Uni Soviet. Kini segalanya sudah berubah drastis tis. Perang ideologi adalah kisah masa silam. Kini relasi GCC-PRC sudah berubah total, seiring dengan rontoknya Soviet dan berubahnya kebijakan politik-ekonomi PRC.

Apa yang menjadi tema utama sekarang, baik untuk GCC maupun PRC, adalah bagaimana memerangi kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, dan seterusnya, di wilayah mereka masing-masing, agar masyarakat menjadi maju, pintar, dan modern. Karena itu, sejak dua dekade silam, GCC dan PRC fokus membangun kerja sama intensif-konstruktif di bidang ekonomi, pembangunan, teknologi, industri, pendidikan, dlsb.

Masalah ideologi sudah dikubur dalam-dalam. Saat ini tidak ada isu tentang ideologi komunisme meskipun produk-produk China (dari ponsel, tv, bus sampai jubah, abaya, dan celana dalam he he) “mengsunami” GCC, meskipun PRC menginvestasi ratusan milyar dollar di GCC, meskipun perusahan-perusahan raksasa PRC beroperasi di GCC. Masyarakat GCC juga sama sekali tidak membicarakan atau mengaitkan antara banjirnya produk-produk China itu dengan “ekspansi komunisme” misalnya seperti yang saat ini terjadi di Indonesia tercinta.

Bahkan sebaliknya, masyarakat setempat, khususnya kalangan menengah-bawah (termasuk kaum migran yang populasinya sangat besar di seantero GCC) bergembira ria alias “heppiii” menyambut produk-produk China yang murah-meriah sesuai dengan kantong mereka. Produk-produk China ini berkompetisi dengan produk-produk dari India yang juga relatif murah.

Sementara itu, untuk kalangan menengah-atas (baik dari segi finansial maupun pendidikan), termasuk kelompok elit, mereka cenderung memilih produk-produk Barat (khususnya Amerika dan Eropa Barat) karena persoalan “branding”, “image”, dan “gengsi”. Buat mereka, produk-produk China itu dianggap “imitasi” atau “KW” sehingga tidak bergengsi dan bisa “menurunkan wibawa” dan “status sosial” mereka di masyarakat dan komunitas tertentu. Meskipun banyak juga produk-produk Barat yang sebetulnya dibuat di China karena biaya operasional yang lebih murah.

Tapi bagi konsumen kelas menengah-atas, mereka tidak melihat murahnya harga. Bahkan semakin mahal barang tuh dianggap semakin asli, berkualitas, dan bergengsi tentunya bro. Kadang ada juga produk-produk (khususnya pakaian, supaya dianggap “berkualitas” harganya dinaikin atau lebel China-nya diganti). Jadi, bukan soal “komunis” atau “kapir” seperti yang dengan “lebay-njeblay” dipropagandakan oleh kaum unyu-unyu di Indonesia.

Bagi pemerintah GCC, membangun hubungan bilateral dengan China dipandang lebih aman dan nyaman karena PRC itu “tidak neko-neko”: bisnis ya bisnis. Pokoknya urusannya dagang, duit, fulus. Titik. Masing-masing heppiii. Itu beda dengan negara-negara Barat yang “berisik” sok campur tangan urusan dalam negeri GCC: soal demokrasi, HAM, feminisme, dlsb. PRC tidak mau mengurusi masalah “dalam negeri” GCC. Demikian juga sebaliknya GCC juga tidak tertarik mengurusi “daleman” PRC. Masing-masing saling menghormati urusan rumah tangga masing-masing. Beres kan?

Tapi ini bukan satu-satunya alasan, masih ada sejumlah alasan mendasar lain yang menjadi fondasi hubungan baik GCC-PRC. Tapi bersambung lagi aja ya. Mari nyusu lagi biar tambah gede dan pinter supaya besuk besar bisa jadi dokter bukan provokator. [SQ]

Artikulli paraprakHizbut Tahrir dan Doktrin Nazi Hitler (2)
Artikulli tjetërHubungan Baik China dengan Arab Teluk (01)
Antropolog Budaya di King Fahd University, Direktur Nusantara Institute, Kontributor The Middle East Institute, Kolumnis Deutsche Welle, dan Senior Fellow di National University of Singapore.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini