Beranda Facebook Post Islam: Rahmatan Lil Alamin?

Islam: Rahmatan Lil Alamin?

269
0

Salah satu prinsip mendasar Islam yang kemudian dijadikan semacam “jargon” oleh kaum Muslim adalah Islam sebagai “rahmat bagi seluruh alam” (rahmatan lil alamin). Tetapi dalam praktiknya atau realitasnya, visi, watak dan prinsip mendasar Islam ini sering kali tidak bunyi di alam nyata, dan hanya sebatas “jargon kosong” saja.

Orang yang waras dan berakal sehat tentu bisa memahami dengan mudah kalimat “rahmat bagi seluruh alam semesta” ini. Yakni, kalimat ini menunjukkan atau menegaskan bahwa rahmat Islam itu bukan hanya untuk “kalangan internal” umat Islam saja tetapi juga untuk umat non-Islam atau umat manusia dan bahkan untuk semua makhluk hidup yang tinggal di alam semesta dan jagat raya ini (termasuk flora dan fauna).

Karena itulah kenapa Islam melarang umat manusia berbuat kerusakan terhadap alam-lingkungan dan berbuat semena-mena terhadap makhluk / penduduk penghuni di bumi ciptaan-Nya ini.

Tetapi sayangnya, sebagian kaum Muslim dan sejumlah kelompok Islam memahami, menafsiri, dan mempraktikkan visi Islam universal ini menjadi “jargon tertutup-eksklusif” yang hanya berlaku untuk kaum Muslim saja. Bahkan ironisnya, bukan hanya untuk kaum Muslim secara umum tetapi untuk kaum Muslim / umat Islam anggota dan simpatsan ormas, partai, jamaah, dan kelompoknya saja.

Karena berangkat dari pemahaman yang keliru ini, sebagian kaum Muslim dan kelompok keislaman memandang wajar dan “halal” jika menyakiti, menghina, dan bahkan melakukan tindakan kekerasan terhadap non-Muslim, non-manusia, dan bahkan Muslim non-anggota/simpatisan ormas, partai, jamaah, dan kelompoknya.

Itulah sebabnya kenapa “mereka” tidak merasa berdosa secuilpun melakukan aksi-aksi diskriminasi, intoleransi dan kekerasan terhadap komunitas Syiah, Ahmadiyah, Gafatar, Salamullah, dan berbagai kelompok / sekte / kepercayaan / agama lokal di Indonesia.

Itu pula kenapa mereka tidak merasa bersalah sedikitpun ketika menyakiti dan menyiksa hewan-hewan seperti anjing misalnya. Itu pula sebabnya kenapa mereka cengengas-cengenges ketika melakukan aksi-aksi terorisme terhadap non-Muslim.

Itulah sebabnya kenapa mereka begitu heroik melihat umat Islam tertentu yang menjadi korban perang, keganasan, dan kekerasan tetapi pada saat yang sama, sama sekali tidak tergerak hatinya untuk menolong apalagi menggalang solidaritas kemanusiaan tatkala melihat para korban non-Muslim dan non-kelompok mereka, meskipun sesama Muslim.

Jika memang Anda, umat Islam, percaya dengan visi, misi, dan “platform” Islam sebagai agama rahmat bagi alam semesta, maka tunjukkanlah kepada dunia dengan tindakan nyata bahwa Anda adalah “duta perdamaian alam semesta”, tak perlu pletar-pletor kayak petasan khotbah, ceramah, dan pidato “Islam rahmatan lil alamin” tetapi tindakan kalian justru menunjukkan sebaliknya: “bencana bagi alam semesta”.

Jabal Dhahran, Arabia