Beranda Facebook Post Belajar Mengelola Sekolah dari Malaysia

Belajar Mengelola Sekolah dari Malaysia

127
0

Anda mungkin sedang “mangkel” dengan Malaysia. Saya juga sering jengkel dengan “negeri Upin-Ipin” ini karena sering bertingkah dan membuat banyak ulah yang menjengkelkan warga Indonesia: dari soal klaim-klaiman kepulauan dan warisan seni-budaya sampai tragedi bendera terbalik.

Tetapi, satu hal yang membuat saya terpikat dengan Malaysia adalah soal pengelolaan dunia pendidikan yang cukup sukses menciptakan image positif negeri jiran ini. Malaysia berhasil menjembatani gap di dunia pendidikan antara negara-negara maju di Barat dan negara-negara belum maju atau “negara berkembang” (mau bilang “negara miskin” nggak enak”) di dunia non-Barat.

Dengan kata lain, Malaysia cukup sukses menjadi “alternatif” di dunia pendidikan, khususnya dunia pendidikan perguruan tinggi sehingga mampu menyedot minat banyak mahasiswa dari berbagai manca negara, termasuk negara-negara di Asia Tenggara dan Timur Tengah.

Banyak orang masih bermimpi ingin belajar di kampus-kampus di negara-negara Barat yang mentereng dan berkualitas yahud (tanpa “i”). Tetapi masalahnya, biayanya mahal, selangit bok, baik biaya sekolah (SPP atau tuition fee) maupun biaya akomodasi (apartemen / housing) dan biaya hidup (makan, dll). SPP di almamaterku, Boston University, sekarang konon mencapai lebih dari $60,000 per tahun! Harus menjual berapa kambing dan sawah untuk bisa sekolah disini!
Banyak orang ingin belajar dan kuliah di Barat tapi apa daya isi kantong cekak.

Nah, Malaysia mampu menangkap sekaligus memanfaatkan “kegelisahan” warga dunia ini dengan jalan menciptakan pendidikan yang relatif terjangkau (baik SPP maupun biaya hidup) oleh masyarakat banyak tetapi dengan mutu dan kualitas akademik yang baik dan terawat, tidak jauh-jauh amat dengan kampus-kampus di negara-negara Barat.

Salah satunya menjadikan Bahasa Inggris sebagai “bahasa pengantar” kuliah (atau Bahasa Arab untuk kajian-kajian keislaman bagi para mahasiswa dari kawasan Arab). Kampus-kampus juga menjaga tradisi penulisan akademik, baik dalam bentuk buku maupun artikel-artikel di jurnal-jurnal ilmiah terkemuka berbahasa Inggris sehingga semakin menambah reputasi intelektual dunia perguruan tinggi.

Karena itu tidak heran jika Malaysia banyak menarik perhatian masyarakat di berbagai negara, termasuk masyarakat Arab. Populasi mahasiswa/i Arab di Malaysia cukup besar. Mereka rata-rata kuliah di Malaysia karena alasan itu tadi: mutu dan kualitas pendidikan yang oke dengan biaya sekolah dan ongkos hidup yang lumayan murah.

Di bawah bendera King Abdullah Scholarship, Pemerintah Saudi mempunyai program pengiriman mahasiswa/i ke kampus-kampus berkualitas di dunia untuk belajar berbagai bidang keilmuan diluar kajian keislaman. Program ini sudah mengirim ratusan ribu mahasiswa/i. Mayoritas mereka dikirim ke kampus-kampus di Barat. Untuk kawasan Asia, hanya beberapa negara yang dipilih, yaitu China (termasuk Hong Kong dan Taiwan), Jepang, Korsel, Singapura, dan Malaysia. Tidak ada segelintir pun yang dikirim ke Indonesia!

Suatu hari, teman Saudiku, Abdul Latif al-Muqrin, tergopoh-gopoh menemuiku di kantor. Rupanya ia ingin mendaftar program doktor di bidang psikologi di sebuah kampus di Malaysia, dan dia membutuhkan “bimbinganku” untuk memilih topik sekaligus cara penulisan proposal disertasi supaya bisa diterima kuliahnya. Kami pun berhari-hari bertemu untuk diskusi dan tukar pikiran.
Karena penasaran, saya bertanya: “Kenapa Anda minta tolong saya dalam urusan ini, padahal saya bukan psikolog?”

Dengan polos, ia menjawab: “Karena duktur orang Malaysia”. Disini kadang saya merasa sedih dan kecewa. Meskipun sedih dan kecewa, saya bahagia karena ia ternyata diterima kuliah di Malaysia. Alf mabruk ya shadiqi…
Jabal Dhahran, Arabia