Beranda Facebook Post Kelompok IPB di Arab Teluk

Kelompok IPB di Arab Teluk

372
2
Ilustrasi. Vimocafe

Di antara sekian banyak kaum migran di kawasan Arab Teluk, saya perhatikan hanya kelompok IPB yang sangat fanatik dengan kostum atau pakaian tradisional / nasional mereka, tidak larut “menjadi Arab”.

Yang saya maksud dengan kelompok IPB disini adalah India, Pakistan dan Bangladesh yang merupakan kelompok migran terbesar di kawasan Arab Teluk seperti Saudi, Qatar, Bahran, Emirate, Kuwait, dan Oman.

Ada beberapa jenis pakaian tradisional/nasional mereka seperti “salwar kameez” (untuk lelaki), yaitu perpaduan “celana dan baju komprang”. Pakaian ini semacam batik di Indonesia yang menjadi simbol, identitas, dan lambang budaya Nusantara. Tingkat fanatisme berbusana orang IPB ini memang berbeda dengan kelompok migran lain.

Selain kelompok IPB, kaum migran Filipin yang juga cukup besar di Arab Teluk, juga tidak tertarik dengan busana Arab. Mereka, baik yang Muslim maupun bukan, lebih suka memakai pakaian kasual.

Pemandangan ini cukup berbeda dengan sebagian kaum migran Indonesia di kawasan ini yang suka bergamis ria, meskipun kadang-kadang kurang pas dan tidak matching dengan “potongan bodi” mereka yang minimalis sehingga tampak kedodoran.

Kelompok IPB sangat dominan di Arab Teluk. Sangking besarnya kelompok ini, sampai-sampai mereka mempunyai sekolah sendiri, mall sendiri, barbershop sendiri, toko sendiri, dan seterusnya. Mudah sekali menjumpai individu dan komunitas IPB di kawasan ini.

Sangking besarnya komunias IPB ini sehingga bahasa nasional mereka (seperti Hindi dan Urdu) sangat populer, bersanding manis dengan Bahasa Arab dan Bahasa Inggris. Fenomena ini sangat kontras dengan abad-abad silam dimana Bahasa Melayu pernah menjadi “bahasa kedua” di kawasan ini, khususnya Jazirah Arabia, setelah Bahasa Arab” akibat popularitas kaum migran dari Kepulauan Melayu-Indonesia.

Sejarah IPB di Timur Tengah cukup panjang bermula dari kolonial Inggris yang mengangkut mereka sebagai pekerja di sejumlah kawasan Timur Tengah/Arab Teluk yang dulu juga menjadi bagian dari jajahan mereka. Puncaknya, kelak tahun 1970an ketika Arab Teluk booming minyak, semakin banyak orang-orang IPB yang didatangkan sebagai pekerja bangunan karena maraknya pembangunan di berbagai sektor.

Di kampusku ini hampir semua pekerja yang merawat dan mengurusi tetek-bengek kampus dari soal pelistrikan, perairan, bangunan, kebersihan, dlsb, adalah dari kelompok IPB ini. Tidak bisa dibayangkan apa jadinya kampus ini seandainya tidak ada mereka.

Apakah ada perbedaan antara IPB di Arab Teluk dengan IPB di Indonesia? he he