Beranda Facebook Post Mari Bin Amude Alkatiri

Mari Bin Amude Alkatiri

959
0

Belum lama ini, Mari Alkatiri atau Mari Bin Amude Alkatiri atau Mar’i bin Amudah al-Kathiri kembali diambil sumpah sebagai Perdana Menteri Timor-Leste setelah partainya, Fretilin, menang tipis dalam pemilu Juli lalu. Fretilin mendapat sekitar 30 kursi dari 65 kursi. Dengan begitu, ia butuh menjalin koalisi dengan partai lain untuk membuat pemerintahannya lebih stabil.

Ini untuk kedua kalinya Mari Alkatiri menjabat sebagi PM negeri yang dulu bernama Timor Timur dan menjadi bagian dari wilayah Indonesia itu. Sebelumnya, 2002-2006, ia juga menjabat PM Timor-Leste sebelum kerusuhan sipil.

Fenomena ini cukup menarik mengingat Timor-Leste adalah negara dengan 97% penduduknya memeluk Kristen (Katolik). Sedangkan Mari Alkatiri sendiri adalah seorang politisi Muslim berdarah Arab-Hadramaut.

Mari Alkatiri adalah generasi ketiga dari imigran keluarga “Alkatiri” dari Hadramaut, Yaman Selatan, yang migrasi ke Asia Tenggara sejak abad ke-19. Alkatiri adalah “suku/klan bangsawan” di Hadramaut. Sejak abad ke-14 sampai abad ke-19, ada sebuah kerajaan di Sai’un, Hadramaut, bernama “Kesultanan al-Katiri” (al-Salthanah al-Kathiriyyah) yang didirika oleh Badral-Sahab.

Kesultanan ini berantakan pada abad ke-19 diganyang oleh rivalnya, Dinasti / Kesultanan Qu’aiti (al-Daulah al-Qu’athiyyah al-Hadaramiyyah) yang kemudian menyebabkan migrasi keluarga besar Alkatiri ke berbagai negara, termasuk Asia Tenggara. Mari Alkatiri dan juga almarhum Munir Said Thalib (aktivis HAM di Indonesia) adalah keturunan dari kaum migran Alkatiri ini.

Ada banyak kelompok migran dari Arab-Hadramaut ke Asia Tenggara, termasuk Malaysia, Singapura, Indonesia, dan Timor-Leste. Mereka berasal dari berbagai kelas sosial. Ada yang dari keluarga “keturunan” Nabi Muhammad dari jalur Ahmad bin Isa al-Muhajir, yang kemudian disebut “sadah” (golongan para sayyid” atau “asharaf” (para syarif). Ada pula yang dari keluarga bangsawan seperti Alkatiri tadi.

Ada yang dari golongan “kelas menengah” (golongan elit bukan, rakyat jembel juga bukan). Yang ini sering disebut “Irshadi”. Keluarga “Baswedan” termasuk golongan ini. Ada pula dari kalangan bawah (sering disebut “Qaba’il”) yang migrasi ke Asia Tenggara untuk mencari makan dan penghidupan karena kelaparan dan kemiskinan yang meraja lela di Yaman.

Mereka bermigrasi ke Indonesia dan kawasan lain umumnya dilakukan sejak zaman kolonial Eropa, khususnya Belanda, dan khususnya lagi sejak abad ke-18/19. Sebagian dari mereka kawin-mawin dengan penduduk lokal. Sebagian lagi tidak mau kawin-mawin dengan warga setempat. Sebagian membaur dengan kebudayaan setempat. Sementara yang lain tetap memelihara identitas mereka. Sebagian menjadi tokoh-tokoh besar yang dihormati masyarakat. Sementara yang lain menjadi pecundang dan sampah masyarakat.

Jabal Dhahran, Arabia