Beranda Facebook Post Perjuangan Meraih Beasiswa Kuliah (11)

Perjuangan Meraih Beasiswa Kuliah (11)

236
0

Kisah perjalanan sekolah doktoralku di Boston University tidak semanis seperti yang mungkin banyak orang bayangkan.

Setelah sekitar seminggu tinggal di kampung halaman di Batang, Jawa Tengah, sepulang dari Amerika, saya pamitan kepada kedua orang tua untuk penelitian disertasi di Ambon selama satu tahun.

detik-detik meninggalkan Boston University

Di departemenku, dan juga jurusan antropologi lain di kampus-kampus di Amerika, seorang calon doktor wajib riset disertasi (fieldwork) minimal satu tahun sebagai bahan penulisan disertasi.

 

Karena satu dan lain hal, saya memilih Ambon/Maluku sebagai lokasi riset untuk mempelajari proses-proses perdamaian Kristen-Muslim setelah kerusuhan komunal yang cukup lama sejak 1999.

Selama penelitian di Ambon, saya dibantu oleh teman kuliah di UKSW dulu bernama Pdt. Elifas Tomix Maspaitella (kini Sekum Sinode GPM). Elifas (biasa saya sapa Bung Eli) bukan hanya teman yang baik hati tapi juga “papa piara”, guru, partner diskusi sekaligus “asisten riset” dan “tukang antar”. Bagiku, ia pribadi yang sangat luar biasa.

Selama setahun tinggal di rumahnya, saya banyak belajar tentang banyak hal: sejarah Maluku/Ambon, hubungan Kristen-Muslim, proses rekonsiliasi konflik, dlsb.

Bung Eli adalah sosok yang sangat cerdas, pekerja keras, dermawan, dan sederhana. Ia juga mempunyai jaringan yang sangat luas, mempunyai banyak teman, baik Muslim apalagi Kristen.

Selama riset, dialah yang menjadi penghubung saya dengan banyak tokoh dan nara sumber di Ambon/Maluku untuk keperluan wawancara penelitian: gubernur, wagub, walikota, bupati, politisi, akademisi, pendeta, ulama, tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh pemuda, eks-milisi, aktivis perempuan, praktisi rekonsiliasi konflik, dan masih banyak lagi.

Di tengah-tengah kesibukannya melayani umat dan jemaat, ia sempatkan untuk “melayaniku”. Dengan sepeda motor bututnya yang sering mogok, ia sering mengantarku kesana-kemari ke tempat-tempat penelitian, memperkenalkanku dengan banyak orang, baik komunitas Kristen maupun Muslim. Sering juga kalau sepeda motornya sedang ngadat, kami naik “perahu gethek” menuju kota Ambon. Dengan Bung Eli pula, kami keluyuran ke berbagai pulau di Maluku, menyusuri luasnya laut yang mengelilingi pulau rempah-rempah ini.

Bung Eli jugalah yang menjemputku di Bandara Pattimura, saat pertama kali saya menginjakkan kaki di Ambon Manise. Begitu sampai di rumahnya (pastori) yang berada di samping gereja, ia langsung menunjukkan kamarku. Saya lihat ada sajadah dan peralatan salat lain di kamar itu. “Ini sengaja saya sediakan untuk menyambut saudara Muslim-ku dari Jawa”, kata Bung Eli sambil tersenyum.

“Bung Eli, berapa uang sewa yang harus saya bayar selama saya riset disini?”, tanyaku penasaran.

Bukannya menjawab nominal atau besaran uang sewa, ia malah terkekeh. “Bung, Anda tidak perlu membayar apa-apa. Silakan tidur dan makan seadanya bareng-bareng dengan keluarga kami selama riset disini. Tidak perlu membayar karena Anda sudah saya anggap sebagai saudarku, keluargaku, dan ‘anak piaraku'”, terang Bung Eli.

Menurut Bung Eli, kalau saya membayar “uang sewa”, berarti saya dianggap “orang lain”.

Perjumpaan dan pergumulanku dengan Bung Eli selama riset di Ambon/Maluku sungguh sangat membekas dan berharga. Saya banyak belajar dengannya. Karena itu kelak, di dalam disertasiku saya sebutkan penghargaan khusus spesial untuknya dan istrinya yang baik (Pdt. Desembrina Aipassa-Maspaitella), selain untuk komunitas Kristen dan Muslim Ambon / Maluku tentunya (bersambung).