Beranda Facebook Post Perjuangan Meraih Beasiswa Kuliah (14)

Perjuangan Meraih Beasiswa Kuliah (14)

655
0
sumanto al qurtuby

Salah satu yang saya syukuri dalam hidup ini adalah selalu ada “tangan-tangan Malaikat” yang baik hati yang datang menolong saat saya sedang kelimpungan sekolah/kuliah karena problem kemiskinan yang akut.

Sebagai anak petani miskin dan penjual gorengan di kampung, sulit membayangkan bisa kuliah hingga meraih gelar doktor dari Boston University. Dulu di zaman mahasiswa di Semarang dan Salatiga, saya beberapa kali sempat kepikiran mau berhenti sekolah karena tak sanggup membiayai hidup dan kuliah. Tetapi, di saat saya sedang krisis dan putus asa, selalu datang orang-orang baik yang mengulurkan bantuan untuk menyelamatkanku.

Begitu pula di Amerika, khususnya Boston dulu. Karena nggak punya uang untuk beli tiket dan biaya hidup (termasuk sewa apartemen) di detik-detik menjelang akhir kuliah doktoralku, ada orang-orang yang baik hati dan menolongku membelikan tiket pesawat (Semarang-Jakarta-Amsterdam-Boston PP), memberi uang saku, bahkan menawarkan tumpangan penginapan gratis.

Seperti saya tulis sebelumnya, untuk keperluan bimbingan disertasi dan pengaturan jadwal ujian disertasi, saya harus terbang kembali ke Boston dan tinggal kembali selama beberapa bulan di kota yang populer dengan sebutan “Athena”-nya Amerika ini karena banyak kampus-kampus besar di kota pelajar-metropolitan ini.

Karena tinggal beberapa bulan saja, maka susah mencari apartemen di Amerika. Kebanyakan para empunya apartemen bersedia menyewakan apartemennya jika durasi sewanya minimal satu tahun. Karena bingung cari apartemen, saya mengirim email ke departemenku (Departemen Antropologi, Boston University) menanyakan kalau misalnya ada teman atau dosen atau tetangga dan kenalan yang bersedia menyewakan kamar selama 3-4 bulan.

Tiba-tiba saya mendapat balasan email dari teman bule Amerika yang menawarkan tinggal bersamanya karena kebetulan ia tinggal sendirian di rumah sementara istri dan keluarganya sedang berada di sebuah negara di Asia.

Ia memberi catatan: kalau bersedia silakan tinggal di rumahnya tetapi cukup jauh dari kota Boston dan perlu naik KA selama sekitar 1 jam. Tanpa pikir panjang saya langsung mengiyakan. Ia jugalah yang menjemputku di kampus dan mengantar ke rumahnya.

Setiba di rumahnya yang memang sangat jauh dari Boston, saya langsung bertanya ke dia mengenai uang sewa kamar. Bukannya menyebut nominal, ia malah terkekeh: “Silakan tinggal disini untuk merevisi disertasi sampai ujian nanti. Tidak perlu membayar uang sewa.”

Karena heran, saya pun bertanya: “Kenapa nggak mau dibayar?” Ia menjawab: dulu waktu melakukan penelitian disertasi di sebuah negara di kawasan Asia timur, ia juga ditolong oleh penduduk setempat untuk tinggal di rumahnya dan gratis. Jadi pemberian tumpangan gratis ke saya itu semacam “balas budi”.

Maka begitulah, selama sekitar 3-4 bulan saya tinggal di rumahnya untuk merevisi disertasi sampai waktu ujian disertasi tiba. Saat ujian disertasi, dia juga dengan setia menungguiku. Begitu dinyatakan lulus ujian, dia pun ikut senang dan sumringah. Saya juga sama senang dan sumringah karena bebas dari berbagai tugas kuliah dan penulisan disertasi yang sangat melelahkan. Foto ini diambil di area kampus sekitar sehari setelah ujian disertasi, tampak “seger” dan ceria karena habis mandi dan tidak mikirin disertasi lagi he he (bersambung).