Beranda Facebook Post Perjuangan Meraih Beasiswa Kuliah (13)

Perjuangan Meraih Beasiswa Kuliah (13)

601
0
Tim penguji doktor sumanto al qurtuby

Meskipun diserbu berbagai rintangan pahit seperti tiadanya beasiswa, wafatnya ayah dan juga perjuangan membantu penyembuhan penyakit kanker kakak (yang akhirnya gagal disembuhkan), saya tidak patah semangat.

Di sela-sela pikiran kacau dan kondisi finansial yang terbatas, saya tetap kumpulkan tenaga dan terus sempatkan untuk menulis disertasi, sedikit demi sedikit. Waktu itu saya menyewa sebuah rumah sederhana di Blora, Jawa Tengah, untuk “menyepi” guna memulai menulis disertasi setelah merampungkan riset di Maluku.

Selama berbulan-bulan saya menulis disertasi nyaris tanpa henti siang dan malam, di sela-sela mengurus perawatan penyakit kakak sekaligus pengurusan ritual-ritual pasca kematian ayah. Setelah berbulan-bulan menulis, akhirnya selesai juga draf disertasi yang langsung saya kirim via email ke dosen pembimbing Pak Bob Hefner (Professor Robert W. Hefner).

Oleh Pak Bob, draf disertasi tidak langsung diterima tapi bahkan “diacak-acak” (direvisi, dikomeni, dikritik). Saya kembali berminggu-minggu jungkir-balik merevisi disertasi seperti yang disarankan oleh Pak Bob. Hasil revisian draf disertasi, saya kirim lagi, terus direvisi lagi, saya kirim lagi, direvisi lagi. Begitu seterusnya sampai beliau oke.

Akhirnya, setelah sekian lama susah-payah merevisi, beliau pun oke dan menyatakan disertasi siap diujikan. Saya pun diminta terbang ke Boston, selain untuk mengurus jadwal ujian disertasi juga supaya lebih mudah proses bimbingan dengan beliau maupun Pak Richard Norton (Professor Augustus Richard Norton), dosen pembimbing disertasiku yang lain.

Alhamdulilah ada beberapa orang baik yang bersedia membelikan tiket pesawat dan “mengurus” kehidupanku selama beberapa bulan di Boston di saat “kombak-kambek” bimbingan dan persiapan ujian disertasi. Kedutaan Amerika di Jakarta juga membantu melancarkan proses keberangkatanku kembali ke Boston. Inikah namanya “rejeki anak soleh”? he he

Maka terbanglah saya ke Boston via Amsterdam sendirian tanpa ditemani anak-istri lagi. Setelah bolak-bolak bimbingan dan ketemu fisik dengan dosen pembimbing (Pak Bob dan Pak Richard), akhirnya beliau-beliau pun setuju untuk mengujikan disertasiku. Maka, dibentuklah “komite penguji disertasi” yang waktu itu terdiri atas lima orang professor (termasuk Pak Bob dan Pak Richard sendiri) seperti tampak di foto ini (yang mengapit saya adalah Pak Bob dan Pak Richard).

Seperti umumnya tradisi akademik di Amerika, seremoni ujian disertasi dilakukan dengan sangat sederhana. Setelah berjam-jam “disidang”, akhirnya saya pun dinyatakan lulus dan berhak menyandang gelar PhD. Alhamdulilah ya boss.

Setelah ujian selesai, Pak Bob kemudian mengtraktir saya makan di kafe sambil ngobrol ngalor-ngidul. Ini juga bagian dari tradisi di kampus-kampus di Amerika dimana setelah muridnya dinyatakan lulus doktor, dosennya kemudian mengtraktir. Bukan hanya Pak Bob saja, Pak Houchang yang ahli Iran dan Timur Tengah dan juga anggota penguji disertasi juga mengundangku makan malam sambil ngobrol ngalor-ngidul.

Kelulusanku tidak dirayakan dengan pesta oleh karib-kerabat karena memang saya sendirian di Boston waktu itu. Meskipun saya bahagia karena lulus ujian disertasi, hatiku tetap gundah gulana karena memikirkan kakak yang sakit dan sedih karena ayah tak sempat menyaksikan anaknya menjadi “tukang doktor” (bersambung).