Beranda Facebook Post Profesor Itu Apa Sih?

Profesor Itu Apa Sih?

531
2

Saya perhatikan banyak yang bingung dan belum paham tentang apa itu yang disebut “professor”. Kelompok yang bingung dan belum paham itu khususnya mereka yang tidak mengerti dan familiar dengan “sistem professorship” di Luar Negeri, khususnya di negara-negara Barat. Bagi yang alumni perguruan tinggi di negara-negara Barat, pasti sudah maklum.

Begini, tidak seperti di Indonesia dimana “professor” itu adalah sebuah “gelar resmi” yang diberikan oleh negara/pemerintah pusat, di kampus-kampus di Luar Negeri, “professor” itu memiliki makna beragam. Dan sebutan “professor” itu biasa saja. Bukan sesuatu yang “wow” gitu seperti umumnya di Indonesia yang orang-orangnya “kamigelaren” alias suka banget dengan gelar sampai haji dan gelar S1/S2 saja dicantumin di nama.

Di Amerika Utara (Amerika Serikat & Kanada), “professor” itu sebutan untuk mereka yang mengajar di universitas. Seperti sebutan “dosen” di Indonesia (kata “dosen” ini sepertinya dari Belanda: docent). Biasanya, meski tidak selalu, “si professor” itu sudah mendapatkan gelar doktor. Kalau tidak bergelar doktor, meski tidak selalu, mereka disebut “lecturer”. Sebutan lain untuk pengajar di kampus adalah “instructor”.

Kalau tidak mengajar di universitas, ya Anda tidak disebut “professor”. Meskipun bergelar doktor tetapi kerjaan utama Anda hanya meneliti saja di lembaga-lembaga riset di kampus, maka Anda disebut “peneliti” (researcher) bukan “professor”. Meskipun kerjaan Anda mengajar tetapi tidak di perguruan tinggi, Anda juga tidak disebut profesor.

Selain sebutan untuk “pengajar di kampus”, kata “professor” juga merupakan “kepangkatan akademik”. Yang memberi gelar atau sebutan kepangkatan ini bukan negara tetapi kampus. Di setiap kampus ada “komite akademik” (academic council) khusus yang bertugas untuk ini. Saya kira ini perlu dicontoh di Indonesia. Masak negara kok ngurusi “gelar profesor” di kampus? Kayak kurang kerjaan saja he he.

Di negara-negara Barat, di Amerika Utara khususnya, nama “professorship” ini bermacam-macam: visiting professor, adjunct professor, Assistant Professor, Associate Professor, Full Professor, Distinguished Professor, Emeritus Professor, dlsb. Semua adalah “professor”. Yang membedakan cuma status mengajar (langgeng atau tidak), distribusi dan beban tugas, serta besaran gaji saja.

Perlu dicatat tidak semua negara menggunakan sebutan / kepangkatan “professor” ini. Di Australia, misalnya, sebutan dosen ini bermacam-macam: Associate Lecturer, Lecturer, Senior Lecturer, Associate Professor, Professor. Di Inggris lebih rumit lagi: lecturer, senior lecturer, principal lecturer, reader, associate professor, professor, chair professor, distinguished professor, dlsb. Semua tergantung dari karya akademik, tingkat pengalaman dan senioritas.

Di negara-negara lain sebutan dosen itu tergantung mereka mengikuti “sistem Amerika” atau “sistem Eropa/Australia” atau gabungan Amerika/Eropa/Australia.

Di kawasan Arab Teluk, misalnya, sebutan “professor” itu bagi dosen yang sudah doktor. Tentu saja mereka tidak bilang “professor” tetapi “burufissor”. Tetapi sebutan yang paling umum untuk dosen ini adalah “duktur” karena susah menyebut nama “burufissor”. Kalau dosen-dosen bergelar master, mereka biasanya disebut “lecturer”. Baik “professor” maupun “lecturer” itu ada tingkatan, hierarki atau kastanya, tergantung dari tingkat senioritas dan karya akademik.

Bagiku, saya sama sekali tidak perduli dan menghiraukan, Anda mau memanggilku dengan sebutan apa: professor kek, duktur kek, processor kek, kompresor kek, tekek kek. Saya bukan tipe orang yang gila gelar dan sebutan. Apapun sebutan atau panggilan yang Anda berikan, saya akan tetap menulis sampai tidak mampu menulis lagi.