Beranda Facebook Post Perjuangan Meraih Beasiswa Kuliah (4)

Perjuangan Meraih Beasiswa Kuliah (4)

318
0

Hanya orang-orang kuper yang otaknya sebesar “upil kere” atau “kutil onta” saja yang menganggap beasiswa di kampus-kampus Barat itu hanya disediakan untuk “orang-orang Muslim liberal guna menggembosi Islam”.

Anggapan ini salah besar dan salah alamat karena: (1) banyak orang Barat yang anti-liberalisme, (2) tidak semua orang Barat itu anti-Islam dan kaum Muslim, dan (3) para lembaga pemberi beasiswa tidak mengenal identitas dan orientasi keagamaan masing-masing aplikan.

Bagi para pemburu beasiswa kuliah di kampus-kampus top di negara-negara Barat, mereka akan tahu betapa berat dan susahnya untuk “bertempur” guna mendapatkan beasiswa penuh untuk kuliah doktoral.

Kalau hanya “sekedar diterima” di sebuah universitas di Barat, tidak perlu beasiswa dari kampus karena sudah mendapat beasiswa dari lembaga-lembaga di Indonesia, baik pemerintah maupun bukan, itu gampang sekali coy segampang mendapatkan rombongan Mamat-Mimin di Indonesia, khususnya Jabodetabek. Sori ye he he.

Yang super berat itu adalah kalau Anda berjuang memperebutkan beasiswa penuh untuk membiayai sekolah sekaligus hidup Anda di Barat. Berat karena stok beasiswa sangat terbatas, sementara para pelamar bejibun kayak alumni 212 he he. Dari berbagai negara lagi.

Disinilah, Anda perlu mempersiapkan “alat tempur” yang memadai sekaligus strategi yang jitu supaya bisa berkompetisi dengan para pelamar lain dan meyakinkan komite pemberi beasiswa. Biasanya yang mereka lihat adalah, antara lain, (1) kualitas kampus tempat kita kuliah sebelum pra-doktoral, termasuk transkrip nilai (2) “statement of purpose” atau 1-2 lembar surat lamaran yang berisi latar belakang pelamar, minat studi dan proposal rencana riset disertasi, (3) score tes Bahasa Inggris kalau yang bukan dari negara-negara yang berbahasa Inggris, (4) surat referensi.

Jadi sama sekali tidak ada hubungannya dengan “identitas pelamar” dan latar belakang sang pelamar: liberal atau bukan, Muslim atau bukan, ateis atau bukan, berjubah atau bukan, berjenggot atau bukan, jembuten atau bukan he he, dlsb.
Anda mau liberal atau konservatif, kalau berkas-berkas lamaran Anda dianggap tidak meyakinkan komite pemberi beasiswa, ya tetap saja nggak bakalan dapat. Banyak sekali teman-temanku yang susah mendapatkan beasiswa, bukan karena mereka tidak berkualitas, tetapi mungkin karena berkas-berkas lamaran tadi kurang meyakinkan komite / tim penyeleksi beasiswa. Atau bisa jadi kurang beruntung.

Jika Anda beranggapan bahwa yang mendapat beasiswa di Barat hanya kalangan liberal saja, Anda salah besar bok. Ada cukup banyak dari mereka yang kuliah di Barat dengan beasiswa dari lembaga-lembaga Barat tetapi setelah diterima dan kuliah di Barat, mentalitas dan jalan pemikirannya persis seperti Mamat-Mimin yang hobi mengafirkan dan menerakakan orang lain. Mereka membentuk “klub” sendiri, bikin jamaah pengajian sendiri, bikin mailing list sendiri. Disitu mereka ngerumpi kesana-kemari. Biasanya mereka “dikelola” dan “diopeni” oleh Pilkaes he he.

Sama seperti para pemburu beasiswa lain, saya juga mengalami perjalanan dan perjuangan yang mahaberat untuk berkompetisi dan meyakinkan anggota komite beasiswa yang sama sekali tidak ada yang saya kenal, dan mereka pun sama sekali tidak ada yang mengenal diriku. Jadi, seperti melamar di hutan belantara yang tak tau rimbanya.

Setelah komite beasiswa mempelajari berkas-berkas lamaranku, mereka awalnya sempat keberatan dan bahkan menolak lamaranku karena dianggap “kurang meyakinkan.”

Pak Bob Hefner menulis di email kira-kira begini:
“Mas Manto, sepertinya anggota komite beasiswa yang diketuai oleh Professor Herbert Mason tidak yakin dengan berkas-berkas lamaranmu. Mereka tidak yakin kalau Mas Manto bisa menyelesaikan studi PhD di BU. Bagi saya, penilaian mereka itu wajar karena mereka belum tahu betul kemampuan akademik Mas Manto.

Kebanyakan para professor di Barat itu “mengidap penyakit bias academic” yang memandang “rendah” terhadap para pelamar dari negara-negara berkembang.

Bukan karena faktor rasisme tapi lebih pada kualitas akademik dan mutu pendidikan di negara-negera berkembang yang tidak memadai dan kurang meyakinkan di mata orang-orang Barat.”

Membaca email Pak Bob ini, kembali untuk kesekian kalinya saya lemas dan lunglai tak berdaya. Tapi saya belum putus asa. Dunia belum kiamat. Dalam hati saya bertekad, akan saya buktikan kepada anggota komite beasiswa kalau saya bisa kuliah doktoral di BU. Lalu, bagaimana cara saya membuktikan dan meyakinkan komite beasiswa di Boston University? Bersambung lagiiiii he he