Beranda Facebook Post Kenapa Saya Berkarir di Luar Negeri?

Kenapa Saya Berkarir di Luar Negeri?

285
0

Banyak yang bertanya-tanya mengapa saya memilih berkarir di Luar Negeri ketimbang di Indonesia. Ada pula yang lebih jauh menghakimi kalau saya “tidak cinta Indonesia” lantaran mengajar di Luar Negeri.

Sebetulnya dulu sesaat setelah ujian disertasi doktoral di Boston University, sambil menunggu wisuda, saya sempat melamar ke sejumlah “kampus besar” di Indonesia. Tapi sayangnya tidak ada satu pun yang serius menindaklanjuti dan merespons dengan positif lamaranku. Bahkan ada yang tidak menggubris sama sekali berkas-berkas lamaranku. Ada pula yang menolak karena khawatir “kerasukan virus liberal”. Ada yang menolak karena saya “orang NU”. Yang lain menolak dengan alasan yang sama sekali “tidak akademis”.

Sependek pengetahuanku, kampus-kampus di Indonesia itu memang “sangat politis”. Aura kepolitikan kampus-kampus di Indonesia itu kental sekali, jauh lebih kental dari sperma onta gurun atau “kadal Mesir” he he.

Dalam banyak hal, proses perekrutan dosen di kampus-kampus Indonesia itu bukan dilihat dari kemampuan akademik dan kualitas individual para pelamar tetapi dilihat dari latar belakang kampus (alumni atau bukan), ormas (NU, Muhamadiyah, atau “Muhammad NU”, HMI, PMII, dlsb), parpol (aktivis Golkar atau “Pilkaes”), pemikiran, pandangan dan praktik keagamaan (liberal atau setengah liberal, konservatif atau moderat, dlsb). Begitu seterusnya.

Maka, jika Anda bukan alumni dari kampus yang Anda lamar, maka sedikit sekali peluang Anda untuk diterima. Ironisnya, kampus-kampus besar di Indonesia masih menerapkan sistem atau model seperti ini. Padahal, kampus-kampus maju di negara-negara Barat, justru berlomba-lomba merekrut para pelamar dosen dari kampus-kampus lain yang berkualitas dan kredibel.

Sebaliknya, alumni justru sangat diharapkan untuk mencari atau berkarir di kampus-kampus lain. Dengan demikian akan terjadi “jaringan akademik” yang masif karena alumni menyebar di berbagai kampus. Kampus akan sangat bangga kalau alumninya bekerja di berbagai universitas dan college di berbagai negara. Di Indonesia sebaliknya, para alumni ngumpul sekampus jadi bolak-balik ketemuanya orang itu lagi, orang itu lagi he he.

Selain faktor alumni, latar belakang ormas juga sering dijadikan sebagai “faktor penentu” perekrutan dosen sehingga, misalnya, kalau “rezim” di kampus itu dikuasai oleh Muhammadiyah atau HMI, maka akan sulit menerima para pelamar yang berlatar belakang NU atau PMII. Begitu pula sebaliknya. Betapa pun hebatnya si pelamar itu.

Karena lamaran dosenku tidak diterima di sejumlah kampus di Indonesia, akhirnya saya waktu itu memilih pergi ke University of Notre Dame di Indiana. Kebetulan waktu itu saya diterima sebagai “Visiting Research Fellow” dan “professor tamu” di kampus tempat Amin Rais dulu kuliah master ini. Setelah beberapa tahun tinggal di University of Notre Dame, saya kemudian melamar di sejumlah kampus di Luar Negeri, dan mendapat tawaran professorship di beberapa tempat, antara lain, Groningen (Belanda), Aberdeen (Inggris / Scotland), Waterloo (Kanada).

Tetapi karena satu dan lain hal saya memilih Saudi. Alasan yang paling utama adalah, saya ingin mencari pengalaman mengajar dan riset di lingkungan baru dengan komunitas baru. Sebagai antropolog yang menekuni kajian masyarakat Islam, maka Arab Saudi adalah sangat menarik dan menantang apalagi di kampusku ini saya bukan hanya mengajar mahasiwa Saudi saja tetapi juga mahasiswa Muslim dari negara-negara Arab lain seperti Yaman, Mesir, Bahrain, Suriah, Palestina, Sudan, dlsb. Dengan demikian, saya bukan hanya mengajar masyarakat Arab Saudi saja tetapi juga belajar tentang pandangan keagamaan dan keanekaragaman budaya masyarakat Arab lainnya langsung dari “Arab Ori” sehingga memperkaya wawasan dan perspektif tentang dunia Arab.

Waktu itu saya ditelpon langsung oleh “petinggi kampus” yang minta saya ikut mengembangkan jurusan ilmu-ilmu sosial dan humaniora yang memang kurang berkembang dengan baik karena kampus ini menekankan di bidang kajian hard sciences, komputer, bisnis dan engineering. Maka, sejak itu, jadilah saya tinggal di Arab Saudi dan mengepalai riset-riset di bidang ilmu-ilmu sosial dan humaniora. Kampus ini ingin meniru MIT yang bukan hanya bagus di bidang hard sciences and engineering saja tetapi juga social sciences and humanities.

Saya belum tahu mau “hijrah” kemana lagi setelah ini. Bisa di Eropa atau Asia Timur. Cepat atau lambat, saya pasti pindah mencari suasana baru lagi. Saya suka dan menikmati hidup sebagai “petualang” atau “akademik nomad” yang berpindah-pindah dari satu kampus ke kampus lain. Setiap liburan musim panas, saya juga melakukan penelitian di Singapura. Hanya Tuhan yang tahu, kemana kakiku melangkah di kemudian hari. Cieee cieee