Beranda blog Halaman 10

Hizbut Tahrir dan Doktrin Nazi Hitler (2)

0

Ini sambungan “kuliah virtual” saya yang tertunda. Seperti saya katakan dalam postingan saya sebelumnya bahwa sahabat, mentor, dan inspirator dari pendiri Hizbut Tahrir (HT atau “Partai Pembebasan”), Taqiyuddin al-Nabhani, adalah seorang yang dikenal dengan sebutan “Hitler Arab” karena kedekatannya dengan Adolf Hitler dan Nazi Jerman (Third Reich). Asal-usul, sejarah, motivasi, tujuan, strategi, dan taktik pendirian HT ala Taqiyuddin kurang lebih sama dengan gagasan Emperium Islam atau Pan-Islamisme-nya Amin al-Husseini. Dan baik HT maupun Pan-Islam ala Amin ini sama persis dengan “doktrin Nazi” yang anti-Yahudi.

Mari kita simak sejarahnya. Sebagai bekas tentara Turki Usmani yang terlibat dalam genoside atau pembantaian terhadap ratusan ribu warga Kristen Armenia, Amin geram melihat “Khilafah” Turki Usmani (Ottoman Empire) tumbang di tangan Muslim sekuler Mustafa Kamal Attaturk pada tahun 1923/4. Ia kemudian bersumpah untuk “menghidupkan kembali” Turki Usmani dalam bentuk Emperium Islam (atau Khilafah ala HT) serta melawan siapa saja, termasuk kaum Muslim, yang melawan ide-ide dan ambisinya. Di kemudian hari nanti, ia juga mengobarkan perlawanan terhadap sejumlah rezim Muslim di kawasan Arab yang ia anggap “tidak Islami”.

Untuk memuluskan jalan ini, ia melakukan sejumlah strategi dan taktik: dari menjalin patronase dengan Inggris, memprakarsai kongres Islam dunia, sampai bersekongkol dengan Nazi. Karena berpatron dengan pemerintah kolonial Inggris, ia diangkat sebagai “Mufti Besar Yarusalem” dan juga “Kepala Pengadilan Islam”. Padahal masyarakat Islam setempat menolaknya dan tidak mendapat suara memadai dalam pemilihan karena mereka menganggap Amin tidak punya kualitas dan kredibilitas sebagai “mufti” (pemberi fatwa) maupun “hakim”. Oleh kaum Muslim setempat, Amin dianggap bukan seorang “shaikh” (pemimpin agama kredibel) maupun alim (sarjana Islam) yang memiliki wawasan keislaman mumpuni. Amin memang bekas tentara, bukan ulama, jadi pantas kalau kaum Muslim menolaknya.

Tapi asssudahlah. Singkat cerita, supaya bisa mendapat “simpati” publik Muslim, ia menciptakan “kambing hitam” sebagai musuh bersama dan “tumbal kekuasaan”, dan “kambing hitam”-nya itu adalah Yahudi. Ini seperti strategi Pak Harto dulu yang menjadikan komunis sebagai kambing hitam dan target kekerasan untuk memuluskan jalan kekuasaan sekaligus guna menebar ketakutan dan teror di masyarakat. Teror adalah sarana paling ampuh untuk mengontrol dan mengendalkan publik.

Maka sejak 1920-an, Amin menebarkan teror, rumor dan informasi palsu tentang–sekaligus memprakarsai kekerasan terhadap–Yahudi. Maka pecahlah kerusuhan dan kekerasan terhadap Yahudi di Hebron dan kawasan lain yang sebelumnya belum pernah terjadi dalam sejarah Palestina. Puncaknya pada 1936, ketika terjadi kekerasan dan kekejaman hebat terhadap Yahudi. Celaknya, bukan hanya Yahudi yang menjadi korban, para tokoh Muslim dan Kristen Palestina yang melawan kekejaman dan kebengisan Amin pun ikut dimusnahkan. Tercatat sejumlah tokoh Islam yang ikut menjadi korban kebrutalan Amin adalah: Shaikh Daoud Anshari (Imam Masjid Al-Aqsa), Shaikh Ali Nur al-Khattib, Shaikh Nusbi Abdulrahim, Nasruddin al-Nasser, dan masih banyak lagi termasuk tokoh-tokoh adat dan komunitas lokal.

Lalu, bagaimana kaitan Amin dengan Partai Nazi Jerman? Jangan kemana-mana, ikuti terus sambungannya. [SQ]

Hizbut Tahrir dan Doktrin Nazi Hitler

0

Untuk megenal lebih dalam dan kaffah (komprehensif) tentang Hizbut Tahrir (HT atau “Partai Pembebasan”) tidaklah lengkap jika kita tidak mempelajari sejarah pendirinya, Taqiyuddin al-Nabhani (1909-1977), dan untuk mengenal lebih dalam dan kaffah tentang Taqiyuddin, maka tidaklah lengkap jika kita tidak mempelajari dan mengenal teman, mentor, dan inspirator-nya yang bernama Amin al-Husseini (1895-1974), seorang Mufti Besar Jerusalem dan bekas tentara Emperium Turki Usmani (Ottoman Empire).

HT yang berdiri tahun 1952, di Jerusalem, Palestina, sebetulnya hanyalah penjabaran dan aktualisasi dari gagasan, konsep, strategi, dan taktik gerakan yang diprakrsasi oleh Amin al-Husseini ini yang populer dengan sebutan “Hitler Arab” karena keterlibatannya dalam berbagai aksi-aksi sadis dan serangkaian perang brutal melawan siapa saja yang ia anggap sebagai musuh sejak zaman Turki Usmani sampai post-kolonial Arab.

Lalu, siapakah sebetulnya Amin al-Husseini ini? Lahir di Jerusalem (seperti pendiri HT, Taqiyudin) yang waktu itu di bawah kekuasaan Turki usmani, Amin adalah seorang tentara Turki Usmani yang bertugas di Smyrna yang bersama sang rezim melakukan pembantaian terhadap setengah juta umat Kristen Armenia di Turki dan sekitarnya pada 1914-1917. Setelah “Khilafah” Turki Usmani tumbang di tangan Mustafa Kamal Atturk pada 1923/4, ia kemudian bukan hanya menjadi sosok pemimpin politik yang anti-Kristen tetapi juga anti-Muslim yang melawan ide-idenya dan juga anti-Yahudi.

Amin-lah yang membawa pengalaman “genoside Armenia” ke dalam konteks politik lokal Arab, baik di daerahnya Palestina maupun di kawasan Arab lain. Paska “genoside Armenia”, Amin memproklamirkan gerakan politik “Pan-Islamisme” yang kelak menginspirasi pendirian “kelompok jihad” Ikhwanul Muslim (IM) di Mesir yang didirikan oleh Hasan al-Banna, dan HT di Palestina yang didirikan oleh Taqiyuddin. Taqiyudin sendiri adalah bekas anggota IM yang membelot karena menganggap IM terlalu lunak dalam perjuangannya.

Atas nama Pan-Islamisme inilah, Amin untuk pertama kali membangkitkan ideologi anti-Semitisme dan kampanye kebencian terhadap Yahudi di Palestina yang kemudian meledak kekerasan anti-Yahudi sejak 1920-an, tragedi pertama kali dalam sejarah di negeri itu. Umat Yahudi di Hebron dibantai, padahal mereka sudah tinggal lebih dari 2 ribu tahun di kawasan itu, dan selama berabad-abad umat Yahudi hidup berdampingan dengan Muslim sebelum sang “Hitler Arab” lahir.

Karena kebencian terhadap Yahudi (juga Kristen) inilah, kelak mendorong Amin berkoalisi dengan Adolf Hitler dan Benito Mussolini (fasis Italia) untuk mewujudkan impiannya membangun “Empirium Islam” dan menumbangkan rezim-rezim pemerintahan lokal Arab (apapun namanya) yang ia anggap “sekuler” dan “anti-Islam”, sebuah impian yang kelak dilanjutkan oleh Taqiyuddin melalui HT dan juga para pengasongnya di Indonesia (HTI). Maka tidaklah mengherankan jika HTI itu gembar-gembor anti-Pancasila, anti-Yahudi, anti-demokrasi, anti-NKRI dan seterusnya. [SQ]

Hindari Jebakan “Politik Rasisme”

0

Perkembangan sosial-politik dewasa ini di Indonesia sepertinya sudah mulai mengarah pada “politik rasisme”: “anti Cina” atau “anti Arab”. Masyarakat harus hati-hati dan tetap waspada, jangan mau diadu-domba dan digiring oleh para “pecundang kesiangan” dan tokoh-tokoh “bermental Hitler” karena merekalah biasanya yang hobi bermain dengan isu-isu rasisme.

Kaum rasis ada dimana-mana, di suku-bangsa manapun: Arab, Cina, Jawa, dlsb. Oleh kelompok rasis ini, rakyat hanyalah dijadikan sebagai “kayu bakar” belaka yang tidak akan mendapatkan apa-apa di kemudian hari. Di mana-mana, rakyat hanyalah dijadikan sebagai “tumbal” oleh sejumlah “kelompok tengil” yang rakus bin serakah dengan kekuasaan dan keduniaan.

Masyarakat hendaknya melihat orang dari “tindakan” bukan dari “etnik”. Memang ada tokoh-tokoh China yang “bermental Eddy Tansil” alias Tan Tjoe Hong yang mengemplang trilyunan uang rakyat yang entah dimana rimbanya dia sekarang kok lenyap seperti Bang Tayyip gak pulang-pulang. Tetapi ada pula tokoh Tionghoa seperti Pak Kwik Kian Gie yang kita tahu tidak diragukan lagi jiwa nasionalisme, keindonesiaan, dan kerakyatannya.

Dulu pada masa penjajahan Belanda, ada seorang tokoh Tionghoa bernama Liem Koen Hian yang sangat nasionalis dan anti-kolonialime. Ia mendirikan Partai Tionghoa Indonesia untuk membantu proses kemerdekaan RI. Ia juga memimpin surat kabar Sin Tit Po sebagai “corong gerakan nasionalisme”. Tetapi ada pula kelompok Tionghoa yang bergabung di Chung Hwa Hui yang pro-Tionghoa dan Belanda.

Kubu Arab juga sama. Dulu ada tokoh bernama Syaikh Salim bin Abdullah bin Sumair, kakeknya Habib Muhammad bin Idrus al-Habsyi di Surabaya yang sangat masyhur itu, yang sangat anti-penjajah kolonial Belanda. Tetapi juga ada tokoh bernama Sayyid Usman bin Abdullah al-Hussaini yang pro-Belanda. Atas usulan Christian Snouck Hurgronje, Sayyid Usman diangkat sebagai penasehat Belanda untuk mengurusi masyarakat Arab di Hindia Belanda yang sekarang bernama Indonesia.

Dewasa ini juga banyak para habib seperti Habib Luthfi bin Yahya, Habib Syech Abdul Qadir Assegaf, Habib Acin Muhdlar, dlsb yang sangat toleran, humanis, nasionalis, dan masya Allah lembutnya. Tetapi ada juga sejumlah habib yang tergabung di “Kelompok Petamburan” yang assudahlah…

Jadi, sekali lagi, lihatlah atau fokuslah pada “tindakan” mereka bukan “etnis” mereka. Politik rasisme hanya akan merugikan kita dan anak-cucu kita semua. [SQ]

Hijab Yahudi

0

Hijab itu bukan hanya “sangat Islami” tetapi juga “sangat Yahudi”. Bukan hanya Al-Qur’an yang berisi anjuran berhijab, Kitab Talmud Yahudi yang sudah ada berabad-abad sebelum Al-Qur’an juga memuat pesan tentang hijab. Karena itu bukanlah sebuah keanehan jika ada sejumlah umat Yahudi yang bersikukuh untuk berhijab.

Foto di bawah ini hanyalah sekelumit contoh kecil dimana sekelompok perempuan Yahudi Sekte Lev Tahor di Kanada (di Ontario dan Quebec) lengkap dengan “busana Muslimah”, eh salah maap, “busana Yahudi” maksud ane. Coba perhatikan dengan seksama, mirip kan para saudari-saudari Yahudi ini dengan “ukhti-ukhti” Muslimah? Lev Tahor yang dalam Bahasa Hebrew berarti “hati yang suci” merupakan salah satu sekte ultra ortodoks Yahudi pimpinan Rabbi Shlomo Helbrans yang gencar menentang Zionisme dan aneksasi Israel atas Palestina.

Dalam kehidupan sehari-hari, pengikut sekte Lev Tahor ini juga sangat sederhana dan “apa adanya” dalam menjalani hidup serta jauh dari hiruk-pikuk kemewahan duniawi, sebuah praktek keagamaan yang mengingatkan saya pada komunitas Kristen Amish dan Old Order Mennonites di Amerika.

Beberapa kelompok Yahudi ortodoks memandang berhijab merupakan “panggilan ilahi” yang harus ditaati oleh semua umat Yahudi. Bruria Keren, seorang tokoh dan pemimpin agama Yahudi ortodoks di Israel bahkan mengklaim asal-usul “tradisi hijab” berasal dari Yahudi dan karena itu bagi siapa saja yang mengenakan hijab berarti telah meniru-niru Yahudi. Ia menyerukan semua umat perempuan Yahudi untuk berhijab bukan hanya demi memenuhi “panggilan ilahi” tetapi juga sebagai lambang kesederhanaan serta proteksi dari kemungkinan kejahatan atas kaum perempuan.

Di Israel juga terdapat sekelompok Yahudi yang bernama Sekte Burqa Heredi yang bahkan lebih ketat dalam berhijab. Jika kaum perempuan Yahudi Lev Tahor masih membuka wajah mereka, maka kaum perempuan Yahudi Heredi Burqa menutup rapat wajah mereka dengan “frumka” persis seperti perempuan Saudi yang mengenakan burqa atau niqab. Karena mengenakan busana yang ekstrim ini, maka sejumlah media menyebut mereka “Yahudi Taliban”.

Sejumlah tokoh Yahudi dari sekte Heredi ini seperti Rabbi Yitzchok Tuvia Weiss menyatakan bahwa penggunaan tata busana ini dalam rangka untuk menegakkan “syariat Yahudi” sekaligus kembali ke ajaran orisinal Talmud tentang wasiat berhijab sebagai simbol kesahajaan bagi perempuan. Menarik untuk diperhatikan, sebagaimana Sekte Lev Tahor, sekte Heredi Burqa ini juga menentang keras gerakan Zionisme dan upaya kekerasan Israel atas Palestina.

Jika diperhatikan dengan seksama, ada perbedaan mendasar antara “hijab Yahudi” dengan tren “hijab Muslimah”. Jika gerakan “hijab Yahudi” itu sangat sederhana dan jauh dari kesan kemewahan, maka kaum “hijabers” Muslimah di kota-kota besar khususnya terkesan sangat modis dan mewah. Jika perintah hijab itu (baik dalam Yahudi maupun Islam) ide dasarnya adalah untuk kesahajaan, bukankah sebuah “penyimpangan ajaran” namanya jika berhijab hanya untuk pamer model mode, desain, dan busana teranyar? Alih-alih ingin mengikuti ajaran Islam, malah justru terjerembab ke dalam praktek-praktek yang jauh dari norma-norma keislaman dan “pesan moral” Al-Qur’an itu sendiri. [SQ]

Hewan-Hewan yang Selalu Dikambinghitamkan

0

Menarik untuk disimak, selain setan, hampir setiap masyarakat atau negara menggunakan nama-nama hewan untuk mengekspresikan kemarahan, kedongolan, atau untuk memaki, menghina, merendahkan, dan mengolok-olok orang lain, umat agama lain, penduduk negara lain dan seterusnya. Kenapa hewan yang “dikambinghitamkan”? Kasihan kambing kan: sudah hitam, dikambinghitamkan pula. Saya juga kasihan sama setan yang sering “disetanhitamkan” terus oleh manusia. Padahal kita sama-sama tidak tahu dan tidak pernah melihat wujud “si dia”. Di Jakarta mungkin sekarang karena lagi panas musim pilkada-pilkadaan, setan (dan teman-temannya termasuk demit, dajjal, tuyul, dll) dan hewan-hewan tertentu sedang menjadi “buah bibir” dan “ngetop” karena sering dilotarkan oleh para fans dan “cheerleaders” kandidat gubernur.

Mungkin Anda juga pernah mengalami, saya pun sama: sering dibilang anjing, babi, ulat blatung, dlsb. Kalau di kampungku dulu, ada dua hewan favorit untuk mengumpat: anjing (Jawa: asu) dan babi hutan (Jawa: celeng). Di Jawa Timur mungkin “jangrik” (contoh: “jangkrik kon” he he). Di Saudi atau kawasan Arab pada umumnya, hewan favorit untuk mengumpat bukan onta (“jamal”) tetapi keledai (“khimar”), ranking kedua adalah anjing (“kalb”). Kalau orang Arab bilang, misalnya, “Anta kal khimar” (Kamu seperti keledai) berarti sedang marah besar. Oleh masyarakat Arab, keledai dianggap sebagai “simbol binatang dungu”.

Sementara onta adalah hewan yang sangat berharga disini dan bisa menjadi simbol kelas sosial. Di sejumlah daerah non-urban, kekayaan dan status sosial diukur dari seberapa banyak orang mempunyai onta. Tidak seperti keledai, hewan berpunuk ini memang multi-fungsi dan menghasilkan banyak manfaat: bisa dimakan dagingnya, diminum susunya, dipakai kulitnya. Onta juga bisa menjadi kendaraan transportasi yang handal di padang pasir karena ia tahan panas dan hemat air, bukan hanya untuk tunggangan tapi juga untuk mengangut barang. Onta juga bisa digunakan untuk berlindung dari teriknya matahari atau dari serangan angin gurun. Di era modern, onta juga digunakan untuk “lomba adu tangkas” semacam “karapan onta” dan di sejumah kawasan Arab Teluk, “lomba balap onta” ini bisa menjadi ladang bisnis yang lumayan.

Menariknya, kalau di Indonesia, masyarakat lokal yang “kontra Arab” justru menyebut orang-orang Arab tertentu atau orang-orang yang berdandan ala Arab (khususnya “pasukan berjubah” yang hobi melakukan tindakan intoleran dan kekerasan) dengan sebutan “onta” bukan “keledai”. Dan menariknya lagi, para “Arab KW” terpancing dan tersinggung dengan sebutan “onta” ini. Padahal para “Arab Ori” biasa-biasa saja. Saya pernah cerita di kelas tentang fenomena ini, murid-murid Arabku malah ketawa-ketawa dan heran: “Kok, bisa marah dengan sebutan onta?” Jika para “Arab haters” menyebut “lawan-lawan” mereka dengan sebutan “onta”, maka para “Arab lovers” menyebut “lawan-lawannya” dengan nama-nama hewan favorit mereka: “babi” atau “anjing”.

Lain ladang, lain belalang; lain masyarakat, lain pula budaya dan ekspresi bahasa mereka. Kalau di Barat, menyebut “orang-orang bule” dengan anjing, mereka mungkin malah berterima kasih: “I am like a dog, oh so cute, thank you so much” (he he). Sebagian orang-orang Belanda atau Belgia (berbahasa Flemish), konon babi (“varken”) adalah simbol “orang-orang yang semrawut tak beraturan”, sedangkan “lambang kedunguan” adalah ana sapi (“kalf” atau “calf”). Di Russia, konon kambing adalah padanan kata untuk “asshole” atau mungin “dancuk” di Jawa Timur he he. Sementara dalam Bahasa Flemish, kata kambing sering dikombinasikan dengan kata perempuan seperti “stomme geit” alias “perempuan bego bin o-on”.

Jadi, kalau mau bepergian ke daerah lain apalagi ke negara lain harus hati-hati ya? Lebih baik dipelajari dulu dikit-dikit supaya tidak menimbulkan salah paham dan ketegangan. Selamat berakhir pekan. [SQ]

Hayo, Siapa yang “Paling Kafir” di antara Kita?

0

Coba perhatikan baik-baik ilustrasi atau “gambar kartun” di bawah ini. Kemudian bernafaslah secara pelan-pelan, kosongkan pikiran dan segala perasaan yang aneh-aneh. Kita coba meditasi, bertafakur, atau mengheningkan cipta sejenak. Setelah itu mari kita pikirkan dan renungkan dalam-dalam gambar ini dengan akal sehat dan nurani yang paling dalam.

Untuk sementara hilangkan sebentar rasa amarah, emosi, dan egoisme kita. Untuk sementara hilangkan asumsi-asumsi primordial bahwa “sayalah yang paling benar, agamakulah yang paling otentik, Tuhankulah yang paling Tuhan.” Untuk sementara, coba bayangkan jika “kamu” adalah “mereka”. Coba bayangkan, jika “mereka” kamu tertawakan dan olok-olok. Juga coba Anda bayangkan, jika mereka menertawakan dan mengolok-olok kamu.

Jika Anda merasa sakit ketika diolok-olok dan ditertawakan, mereka juga sama. Jika Anda merasa dan bersikukuh bukan “menyembah benda mati” (apapun bentuknya: patung, batu, pohon, dlsb), mereka juga sama. Jika Anda mengklaim dan meyakini apa yang Anda sembah itu adalah “zat” yang bernama Tuhan, bukan patung, batu, pohon dan lainnya, mereka juga sama. Karena itu janganlah suka menertawakan dan mengolok-olok agama dan sistem kepercayaan orang lain.

Karena Tuhan adalah “Zat” yang “Maha Gaib”, yang “Supra-natural” (Supernatural Being) sehingga “wujud”-Nya tidak bisa ditangkap oleh manusia yang merupakan “mahluk biasa” yang kotor-njetor ini, maka yang bisa mereka lakukan adalah menciptakan “simbol-simbol sakral” tertentu yang dianggap sebagai manifestasi “kekuatan supernatural-keilahian” sebagai medium untuk mengekspresikan kedekatan dan kebaktian terhadap “Tuhan” mereka.

Apakah umat Kristen, Konghucu, atau Hindu, misalnya, menyembah patung? Tentu saja tidak. Kalau mereka umat “penyembah patung”, tentu semua patung mereka sembah. Tapi kenyatanya tidak. Apakah suku-suku tertentu penyembah pohon? Tentu saja tidak. Buktinya tidak semua pohon mereka sembah. Lalu, apakah kaum Muslim adalah penyembah batu hanya karena mereka sujud di depan Ka’bah? Tentu saja tidak karena memang tidak semua batu mereka “sembah.”

Kenapa hanya “patung itu”, “pohon itu”, dan “batu itu” saja yang mereka sucikan? Kenapa? Karena pada hakikatnya bukan patung, pohon, dan batu itu yang mereka “sembah”, melainkan “zat sakral” (apapun namanya) di balik patung, pohon, dan batu itu. Jadi, jangan menuduh umat lain “kafir”, kalau Anda juga sebetulnya melakukan “kekafiran” yang sama. Sebaliknya, jika Anda merasa “tidak kafir” dan merasa sebagai “penyembah Tuhan”, mereka juga demikian.

Karena itu marilah kita saling bersikap toleran, menghargai dan menghormati agama, kepercayaan keyakinan sesama umat manusia, bukan malah saling mencaci-maki dan menertawakan antar sesama mahluk Tuhan Yang Maha Kuasa.

Haruskah Manusia Beragama?

0

Haruskah umat manusia itu bergama atau memiliki “agama”? Jawabnya singkat: “tidak”. Perlukah manusia beragama? Jawabnya gampang: “perlu tidak perlu”. Artinya, perlu bagi yang memerlukan (agama) dan tidak perlu bagi yang tidak memerlukan (agama).

Apakah untuk menjadi baik dan “saleh”, orang memerlukan agama? Jawabnya juga mudah: “tidak perlu”. “Onderdil” manusia ini sudah sangat lengap dengan aneka ragam pancaindra dan peralatan yang mampu menuntun manusia menjadi ini dan itu. Jadi, untuk mengetahui baik-buruk terhadap sesuatu, seseorang tidak perlu agama.

Di dunia ini ada ratusan juta dan bahan milyaran manusia yang tidak mengenal “agama formal”. Di jagat raya ini ada ratusan juta pengikut ateisme, agnotisisme atau “sekularisme”. Tetapi mereka baik-baik saja, “sehat walafiat”. Banya sekali orang-orang mulia di bumi pertiwi ini yang hidupnya didarmakan untuk umat manusia dan kemanusiaan tanpa harus ada embel-embel agama ini dan itu.

Apakah amal baik mereka selama di dunia menjadi sia-sia hanya karena tidak “secara formal” beragama? Wah itu urusan Zat “sang pengecat lombok”. Apakah mereka kelak masuk surga atau neraka juga bukan urusan manusia. Bukankah masalah “dunia akhirat” itu juga produk dari “tafsir” agama-agama tertentu?

Soal “alam akhirat” itu “urusan nanti” dan menjadi hak prerogatif Tuhan yang maha bijak dan adil. Jangan sekali-sekali ke-ge-er-an masuk surga kelak hanya karena menganut agama ini-itu. Tugas manusia di dunia ini adalah merawat dan menjaga harmoni alam semesta beserta isinya, termasuk umat manusia.

Apalah artinya beragama dan mengaku-aku sebagai “manusia agamis”, kalau ternyata perilaku individual dan sosialnya amburadul serta jauh dari norma-norma dan nilai-nilai kemanusiaan. Saya melihat banyak orang tidak beragama yang hidupnya “sangat humanis” dan “agamis” sementara banyak manusia yang mengaku beragama tetapi hidupnya bengis, “tidak agamis” dan tidak manusiawi. Karena itu saya pikir dewasa ini, banyak orang beragama yang justru membutuhkan agama itu sendiri. Mikir. [SQ]

Haji Di Mata Warga Saudi: Catatan “Antropologi Haji” (6)

0

Sudah lama saya penasaran tentang apakah warga Saudi semua berhaji? Tentu saja yang sudah “akil-baligh” atau yang dewasa, bukan yang anak-anak, dan yang mampu karena haji itu hanya wajib bagi yang mampu saja (baik mampu secara fisik maupun finansial). Ternyata jawabannya sangat mengejutkan: tidak semua warga Saudi (apapun afiliasi keislaman mereka: Sunni, Syiah, Wahabi, dst) yang dewasa dan mampu itu pernah menjalankan ibadah haji. Lo, kok bisa?

Kesimpulan ini saya dapat dari survei dan obrolan yang saya lakukan dengan para teman, murid maupun kolega Saudiku. Meskipun sebagian murid-muridku ada yang menjadi voluntir saat musim haji untuk membantu lancarnya prosesi haji, tidak secara otomatis mereka menunaikan ibadah haji. Teman-teman sekantorku yang warga Saudi juga saya tanya belum berhaji, termasuk mereka yang ber-KTP Makah. Unik kan? Alasannya macam-macam: mulai dari kewajiban haji yang hanya sekali seumur hidup jadi mereka santai menunggu masa tua, rangkaian ritual haji yang cukup berat dan melelahan berhari-hari di medan yang berat pula sehingga membuat mereka malas atau aras-arasen menjalaninya, sampai biaya haji yang lumayan. Pemerintah Saudi menerapkan besarnya biaya haji yang sama bagi semua warga Muslim yang tinggal disini: baik penduduk “asli” Saudi maupun kaum migran. Aturannya juga sama: kalau sudah berhaji tidak boleh berhaji lagi sampa 5 tahun ke depan (kecuali penduduk Makah yang boleh bolak-balik berhaji kalau mau).  

Musim haji adalah musim liburan panjang dan besar bagi warga Saudi seperti libur Idul Fitri di Indonesia. Pada waktu jutaan kaum Muslim dari berbagai negara tumplek-blek di Makah untuk berhaji, warga Saudi sendiri justru memanfaatkan liburan panjang musim haji itu untuk berlibur: baik berlibur di manca negara (di negara-negara Barat, khususnya Eropa dan Amerika, maupun di kawasan Arab Teluk, khususnya Uni Emirat Arab, tempat favorit liburan penduduk Saudi) maupun liburan di rumah santai-santai dan ngumpul-ngumpul bersama keluarga, kerabat, dan teman. Warga Saudi yang di luar negeri juga “mudik” ke kampung halaman untuk merayakan “lebaran haji”. Mereka jadikan liburan “musim haji” sebagai momentum untuk berkumpul dan bersilaturahmi dengan berbagai keluarga dekat maupun jauh persis seperti musim Lebaran di Indonesia.

Jika ada banyak jamaah haji dari Saudi (“haji lokal”), itu tidak otomatis warga Saudi tetapi kaum migran (ekspat) yang bekerja dan tinggal di Saudi. Mereka ini yang “hobi” umroh (dan haji) sehingga menyemarakan berbagai industri transportasi, juga hotel, motel, restoran, warung, toko, dlsb di Saudi. Lebih dari 30% penduduk Saudi adalah kaum migran dari berbagai negara, khususnya India, Pakistan, Bangladesh, Mesir, Yaman, Sudan, Aljazair, Filipina, Sri Lanka, Indonesia, dlsb. 30% itu data resmi, yang “migran bonek” juga banyak sekali. Mereka biasanya datang ke Saudi dengan visa umroh/haji, habis selesai umrah/haji mereka gak mau pulang, “menggelandang” atau ikut keluarga, sanak-famili, dan teman yang sudah terlebih dahulu tinggal disini. Dari rombongan hajiku kemarin yang juga dari “kloter Saudi” (via biro travel “Al-Kaaff”, khususnya yang dari Dammam) juga hanya satu orang yang warga Saudi, itupun dari daerah Jizyan yang sukunya agak dekat dengan suku-suku di Yaman. Mayoritas yang berhaji dari rombongan kami berasal dari Pakistan, India, Mesir, Tanzania, Maroko, Lebanon, dan Bangladesh.

Coba perhatikan dengan seksama “wajah-wajah” mereka yang berhaji atau berumrah (misalnya saat tawaf atau salat di area Masjid Haram), jika Anda jeli dan paham tentang dunia ilmu keetnisan dan kesukuan, Anda akan tahu kalau mereka kebanyakan bukan warga “Arab Saudi” kecuali tentu saja yang menjadi petugas keamanan (baik tentara, polisi negara, maupun “polisi syariat”). Warga Makah sendiri pada waktu musim haji, lebih suka memilih tinggal berlibur di daerah lain, baik diluar Makah (Jeddah, Taif, Abha, dlsb), maupun diuar Saudi. Lonjakan peminat haji yang mencapai lebih dari 3,000% itu: dari sekitar 50-an ribu pada 1920-an hingga lebih dari 2 juta pada 2015, bukan berasal dari warga Saudi tetapi dari non-Saudi, khususnya non-Arab, khususnya lagi Indonesia yang warganya demen banget “koja-kaji” ke Makah kayak setrikaan he he. [SQ]

Jabal Dhahran, Arabia

Gus Mus Kok Dikatain “Ndasmu”

0

Coba kalian perhatikan “akhlak” anak-anak ingusan jaman sekarang? Kok bisa dia (“Pandu W”) mengatain Kiai Mustafa Bisri atau Gus Mus dengan sebutan “Ndasmu” (seperti di foto di bawah ini). Berbeda pendapat itu hal yang biasa tetapi harus disampaikan dengan tetap menjunjung tinggi etika dan tata krama apalagi berpendapat dengan seorang kiai dan ulama.

Gus Mus itu seorang ulama besar dan kiai yang sangat dihormati, bukan hanya di lingkungan Nahdhatul Ulama saja tetapi juga di Indonesia pada umumnya. Beliau adalah putra seorang ulama yang sangat hebat ilmu Islamnya (KH Bisri Mustafa) yang juga penulis kitab Tafsir Al-Ibriz yang sangat langka. Gus Mus adalah seorang ulama-penyair yang sangat rendah hati dan dalam wawasan dan pengetahuan keislamannya yang beliau peroleh bukan hanya di pesantren-pesantren di Jawa tetapi juga di Timur Tengah.

Kira-kira setan dan iblis dari mana yang merasuki si Pandu ini? Aliran sesat mana yang meracuni otak anak ini? Guru siapa (kalau memang ia punya guru) yang mengajarinya? Ormas apa yang membuat dia tak beretika?

Jika umat Islam diam saja melihat para ulama dihina, maka gantilah pakaian kalian dengan kain kafan! [SQ]

Gus Dur sebagai Teladan Bangsa

0

Jasad Gus Dur atau KH Abdurrahman Wahid boleh terkubur, tetapi spiritnya tidak pernah terkubur. Gus Dur tak pernah mati. Ia selalu “hidup” dan terus memberi penghidupan banyak orang meskipun raganya sudah dikebumikan. Tengoklah ke Jombang. Makamnya tak pernah sepi. Bahkan menjelma menjadi tempat wisata reliji yang selalu ramai dikunjungi banyak orang, baik Muslim maupun bukan. Gus Dur selalu memberi berkah baik saat ada maupun tiada.

Dulu, ketika belum menjadi almarhum, Gus Dur selalu menjadi kontroversi: dibenci sekaligus dicinta. Bagi yang membenci, Gus Dur dianggap sebagai kiai dan tokoh Muslim yang pro-Kristen, pro-Konghucu, pro-Syiah, pro-Ahmadiyah, pro-minoritas, dan seterusnya. Ia dianggap lebih membela non-Muslim ketimbang Muslim. Anggapan itu keliru besar.

Bagiku, Gus Dur bukan membela Kristen, Konghucu, Syiah, Ahmadiyah, dan minoritas agama atau etnik lain, tetapi membela orang-orang tertindas. Siapapun yang tertindas, tidak peduli mayoritas atau minoritas, Muslim atau bukan, pasti akan beliau bela. Beliau ingin memanusiakan manusia dan tidak rela jika ada manusia tapi tidak dianggap sebagai manusia oleh sebagian kelompok manusia. Proses dan praktek dehumanisasi itulah yang terus dilawan oleh Gus Dur sejak zaman Orde Baru dulu. Dalam konteks ini, maka Gus Dur adalah seorang humanis sejati yang menghargai manusia dan kemanusiaan.

Gus Dur juga seorang pluralis sejati karena membiarkan “taman” Indonesia dipenuhi oleh aneka ragam “tanaman dan bunga agama dan kepercayaan” yang warna-warni sehingga indah dipandang mata. Gus Dur juga seorang nasionalis sejati karena mengabdikan hidupnya untuk kepentingan bangsa dan negara Indonesia sebagai “rumah bersama” berbagai etnis, suku, dan agama. Pula, Gus Dur adalah seorang pacifis sejati karena terus-menerus membangun spirit perdamaian dan dialog konstruktif dengan berbagai kalangan demi mewujudkan Indonesia damai.

Demi mewujudkan spirit humanisme, pluralisme, nasionalisme, dan pacifisme itulah, Gus Dur selama hidupnya, baik melalui tulisan maupun tindakan nyata, selalu melawan berbagai kelompok (baik kelompok politik maupun agama) yang arogan dan intoleran yang ingin “mengebumikan” humanisme, pluralisme, nasionalisme, dan pacifisme atas nama ideologi tertentu, partai tertentu, agama tertentu, mazhab tertentu, dlsb.

Karena spirit humanisme, pluralisme, nasionalisme, dan pacifisme yang begitu kuat itu pulalah, Gus Dur dituduh tidak Islami dan anti-Islam. Padahal, justru karena Gus Dur sangat Islami dan mencintai Islam itulah, beliau menjadi sosok humanis, pluralis, nasionalis, dan pacifis sekaligus.

Kualitas keislaman seseorang bukan diukur dari fasihnya berbahasa Arab, mahirnya membaca kitab, banyaknya salat dan haji, putihnya gamis, panjangnya jenggot, hitamnya jidat, dlsb. Tetapi dari sejauh mana ia memperlakukan umat lain, sejauh mana ia memanusiakan orang lain, sejauh mana ia menghargai dan menghormati komunitas lain. Inilah makna dari Islam sebagai “rahmat bagi seluruh alam”, dan saya melihat dan membaca sosok Gus Dur bak “rahmat untuk alam semesta” yang melampaui batas-batas primordial etnis dan agama. Disinilah Gus Dur merupakan teladan hidup yang luar biasa bagi kita semua. Semoga beliau damai di alam baka. [SQ]

Garga’an: Halloween ala Arab

0

Adakah tradisi semacam “Halloween” di kawasan Arab? Ada. Namanya macam-macam. Di Saudi, khususnya Saudi bagian Timur, tradisi ini namanya garga’an (tulisannya “qarqi’an” tapi dibaca “garga’an” dalam dialek Arab Saudi). Di Uni Emirat Arab namanya “Haqq al-Lailah”. Di Oman namanya “al-Thalabah”. Di Qatar, ia bernama “karunka’uh”. Di masyarakat Arab lain, punya nama lain lagi. Tapi intinya sama.

Tradisi ini dilakukan pada pertengahan bulan Ramadan, dimana anak-anak biasanya dalam rombongan datang ke rumah-rumah (biasanya setelah Maghrib) menyanyikan lagu-lagu tertentu atau “trick or treat” dengan kostum tertentu pula. Penghuni rumah kemudian memberi permen atau uang recehan ke anak-anak.

Inilah bagian dari “keunikan” manusia yang sebetulnya kalau diteliti itu tidak sepenuhnya “unik” karena banyak tradisi atau budaya tertentu tidak bersifat “eksklusif” melainkan banyak disaksikan di berbagai masyarakat di belahan dunia. Tergantung apakah “teori evolusionisme” atau “diffusionisme” yang Anda pilih, yang jelas tradisi dan kebudayaan manusia itu sangat kaya dan menyebar yang menunjukkan bahwa manusia memiliki kemampuan untuk bermigrasi dan beradaptasi dengan lingkungan.

Lihat saja misalnya, konsep “surga-neraka” (meskipun dengan nama berlainan, meskipun ada juga yang mirip-mirip) hampir selalu ada di berbagai kebudayaan masyarakat: dari Mesir Kuno, India Kuno, sampai Melanesia Kuno. Begitu pula konsep tentang agama dan ketuhanan: ada dimana-mana. Hal lain adalah praktek-praktek ritual-kepercayaan masyarakat Jawa abangan juga bisa dijumpai di Mesir seperti pernah ditulis oleh Edward William Lane dalam “An Account of the Manners and Customs of the Modern Egyptians” yang ditulis pada abad ke-19.

Ah kok kayak nulis artikel sih. Intinya begini: jadi orang itu jangan gumunan, jangan kemaki, jangan sok-sokan merasa sebagai pemilik tunggal yang sah ini-itu, merasa paling unik, paling istimewa, paling sempurna, paling oke-oce, paling waouww, paling-paling pada akhirnya cuma klaim doang.

Perbanyaklah membaca, supaya wawasannya semakin luas, cakrawala semakin lebar, pikiran semakin matang, tindakan semakin bijak, mata semakin tajam laksana rajawali, bukan seperti kodok masuk angin yang ngumpet di dalam tempurung terus kentat-kentut sendirian he he. Ayo Mat mentil lagi biar cepet gede [SQ]

FPI Membohongi Umat Islam (Lagi)?

0

Jika memang foto di bawah ini benar dari ormas yang bernama FPI (maksudku dengan FPI ini Front Pembelaan Islam, bukan Front Pelelangan Ikan he he), maka sudah jelas “ormas unyu-unyu” yang berisik kayak bajaj ini telah melakukan kebohongan publik, khususnya publik Muslim, sekaligus penistaan agama Islam dan Hadis Nabi Muhammad SAW.

Seperti Anda lihat dalam akun yang mengatasnamakan Front Pembela Islam ini, “mereka” memelintir Hadis Nabi Muhammad yang menyatakan bahwa “Allah itu ganjil (witir) dan mencintai yang ganjil” untuk menolak pasangan Ahok-Djarot yang kebetulan No. 2 (genap) dan mendukung “pasangan ganjil” (No. 1 dan No. 3).

Apakah ini bukan “kebohongan publik”? Apakah ini bukan “membohongi umat pakai dalil”? Pula, apakah ini bukan sebuah “penistaan agama” namanya serta penghinaan terhadap Nabi Muhammad karena telah mencatut perkataan beliau 15 abad lalu yang tidak ada sangkut-pautnya dengan dunia Pilkada Jakarta, untuk kepentingan politik praktis-kekuasaan?

Karena itu sudah berapa kali saya bilang kalau klaim kelompok ini dan “auliya”-nya demi membela Islam itu “NOL jumbo”. Umat agama, termasuk umat Islam, memang sering “dibohongi” para elit mereka dengan menggunakan dalil agama ini-itu, ayat ini-itu. Dalil dan ayatnya mungkin sudah benar sesuai dengan konteks sosio-historis ayat masing-masing. Tapi orang-orang yang menafsiri dan memahaminya yang harus “diwaspadai” karena ada banyak kepentingan bersarang di tubuh penafsir atau “pembaca teks.”

Ayat atau teks apapun itu kan “tidak bertulang” sehingga mudah untuk “dibelak-belokkan” oleh pembacanya. Bagi “penggemar poligami”, misalnya, akan terus-menerus mereproduksi dalil-dalil poligami tanpa memperhatikan keragaman tafsir dan pendapat para ulama dan fuqaha mengenai boleh-tidaknya poligami, tanpa mempedulikan latar-belakang sejarah dan konteks sosiologis dimana ayat tersebut turun, dan seterusnya. Pokoknya poligami itu “Sunah Rasul”. Titik. Kalau gak mau dipologami terus dibohongi lagi dan ditakut-takuti dengan api neraka dsb.

Ini bukan hanya eksklusif umat Islam saja. Umat agama lain juga sama. Dulu umat Yahudi dan juga (sebagian) umat Kristen juga dibohongi pakai ayat-ayat guna mendukung gerakan Zionisme. “Siapa mencintai Israel, akan dicintai Tuhan. Siapa yang membenci Israel akan dikutuk Tuhan”. Teks agama yang berkaitan dengan suku-suku Israel zaman bahula (disebut Israelite) ini dipakai oleh sejumlah tokoh agama dan politik untuk menggriring massa Yahudi dan Kristen guna mendukung kaum “Israel kontemporer” dan pendirian negara Israel modern yang tidak ada sangkut-pautnya dengan teks tadi. Ya kan? Kaaannnn. [SQ]

Mikiirrr

Fatwa Itu Tak Perlu Dikawal

0

Sebetulnya untuk apa sih “gerakan pengawal fatwa” itu? Fatwa itu tidak perlu dikawal dan tidak memerlukan pengawalan. Kalau anak-anak itu baru perlu dikawal kalau sedang main di tempat umum supaya aman dan tidak dicuri orang yang suka “menjualbelikan” anak. Orang tua yang sudah tua juga perlu dikawal kalau naik haji atau umrah supaya tidak nyasar di Makah. Pacar mungkin juga perlu supaya tidak “nyelonong” di pengkolan. Tapi kalau fatwa, buat apa dikawal? Kecuali kalau “Mbah Fatwa” itu mungkin baru bisa dikawal.

Fatwa itu hanya sebuah “pendapat”, tepatnya pendapat tentang masalah sosial-politik-keagamaan yang didasarkan pada sejumlah penafsiran dan pemahaman atas teks-teks keislaman tertentu. Biasanya ulama, fuqaha, hakim, atau “mufti” yang mengeluarkan “fatwa” ini. Fatwa ini bisa dikeluarkan oleh individu yang memiliki kualifiaksi sebagai “mufti” (atau pemberi fatwa), kelompok ulama, atau lembaga dan ormas keislaman.

Karena sebuah pendapat, maka fatwa itu beraneka ragam. Sejak zaman bahula sudah begitu. Masalah atau isu yang sama bisa menghasilkan keputusan hukum dan fatwa yang berbeda. Itu biasa saja. Semua tergantung pada sejauh mana penafsiran dan pemahaman atas teks-teks dan diskursus keislaman, kitab-kitab apa yang dipakai sebagai pedoman atau landasan berfatwa, metodologi apa yang digunakan untuk menggali hukum Islam, jenis ormas atau aliran apa yang mengeluarkan fatwa, termasuk kepentingan-kepentingan non-agama apa yang ada pada pembuat fatwa, dlsb. Itu belum termasuk pendapat ulama klasik mana yang dijadikan sebagai rujukan, pedoman dan pendukung fatwa. Setiap ulama masa kini punya ulama pavorit di masa lalu yang warna-warni.

Semua latar belakang itu akan mempengaruhi produk fatwa. Dulu, pada masa Pak Harto, juga ada bermacam-macam fatwa, baik yang dikeluarkan oleh MUI, NU, Muhammadiyah, dan ormas-ormas Islam lain. Misalnya, fatwa tentang status ber-KB (Keluarga Berencana) yang dulu sempat jadi heboh bertahun-tahun dan sempat jadi bahan kampanye politik menjelang pemilu: ada yang mengharamkan, ada yang menghalalkan, ada yang membolehkan dengan syarat. Kemudian tentang “fatwa rokok”: ada yang mengharamkan, ada yang menghalalkan. Tergantung “fatwa pesanan” siapa he he. Sangking fleksibelnya masalah “dunia fatwa” ini sampai-sampai ada kelakar: mau minta “fatwa halal” atau “fatwa haram”? Karena memang semua bisa dicarikan dalil, dasar, dan argumentasinya.  

Tapi yang namanya “fatwa” itu tidak mengikat. Dengan kata lain, umat Islam bebas-merdeka mau mengikuti fatwa itu atau tidak. Keliru besar, besar sekali, jika ada yang menganggap fatwa itu wajib ditaati dan diikuti. Anda mau ikut si fatwa itu juga silakan, nggak juga silakan. Silakan Anda cerna sendiri secara baik-baik dan mendalam, mana kira-kira fatwa yang lebih bermanfaat untuk Anda dan masyarakat banyak. Mau dipraktekkan secara pribadi juga silakan saja.

Nah, kalau ada yang ngotot menggerakkan dan memobilisasi massa untuk mengawal dan mendukung fatwa ini atau itu, itu namanya “dagelan politik” yang dibungkus dengan “baju agama” atau “sinetron politik beraura agama” he he. Hanya orang-orang yang “lebay-njeblay” yang ngotot mau mengawal sebuah fatwa, apalagi mengawal pendapat yang bukan fatwa, lebih “njeblay” lagi. [SQ]

Jabal Dhahran, Arabia 

Evolusi Ulama

0

Saya sudah cukup sering memosting tentang ulama di akun “Pesbuk”-ku (silakan diubek-ubek sendiri jika berminat). Postingan ini hanya menambahi saja. Makna dan peran ulama (jamak dari kata “alim”: “orang yang berilmu”) ini mengalami “proses evolusi”, pergeseran dan perubahan dari waktu ke waktu.

Sudah saya katakan sebelumnya, sebelum era Turki Usmani (sejak 13/14 M), sebutan ulama ini dalam sejarah Islam bersifat umum (yaitu “orang-orang yang meguasai ilmu pengetahuan”–pengetahuan apa saja, disiplin ilmu apa saja), tidak merujuk spesifik sebagai “ahli agama Islam / ahli ilmu-ilmu keislaman” seperti kelak dilakukan oleh para penguasa rezim Turki Usmani.

Bahkan kata atau sebutan “ulama” ini dulu juga dipakai bukan hanya para sarjana Muslim saja tetapi juga para ilmuwan non-Muslim sejak zaman Dinasti Ummayah dan puncaknya pada masa Dinasti Abbasiyah yang banyak berperan penting dalam pengembangan berbagai disiplin keilmuan yang turut mengantarkan era “kejayaan Islam” pada abad pertengahan.

Ada banyak sekali para ilmuwan non-Muslim dulu (Yahudi, Kristen, Sebian, Assyria, Persi, China, India, Yunani, dlsb) yang direkrut para elit politik-pemerintah Muslim untuk turut membantu mengembangkan berbagai disiplin keilmuan: asrtronomi, geografi, matematika, kimia, fisika, kedokteran, filsafat, zoologi, teologi, ilmu pemerintahan, sejarah, sastra, dan masih banyak lagi.

Beberapa nama ilmuwan beken non-Muslim kala itu antara lain Hunain ibnu Ishaq, Tsabit bin Qurra, Qusta ibnu Luqa, Masawaiys, Patriakh Eutychius, Jibril ibn Bukhtishu, Bar-Hebraeus, dlsb (kapan-kapan akan saya uraikan peran dan kontribusi mereka bagi kaum Muslim dalam sejarah Islam). Sejarawan Bar-Hebraeus bahkan diminta oleh petinggi Muslim untuk menerjemahkan Injil dari Bahasa Aram ke Bahasa Arab.

Para sarjana Kristen Nestorian dulu yang banyak berperan, meskipun juga ada para ilmuwan Kristen non-Nestorian yang memberi kontribusi positif bagi perkembangan peradaban Islam. Ilmuwan Kristen Nestorian Hunain bin Ishaq bahkan dulu mendapat julukan “Syaikh al-‘Ulama” (baca, “syaikh-nya para ilmuwan”) karena menguasai berbagai disiplin keilmuan dan telah banyak menerjemahkan ratusan karya-karya asing (khususnya dari Yunani dan India) ke dalam Bahasa Arab.

Baitul Hikmah (yang didirikan oleh Khalifah Harun al-Rasyid) dulu menjadi tempat ngumpulnya para ilmuwan ini, selain Universitas Nidhamiyyah di Baghdad. Sekolahan dan perpustakaan ini diinspirasi oleh Sekolah Nissibi dan Edessa yang sudah lama menjadi “markas ilmu pengetahuan” masyarakat Kristen, Persi, dan non-Muslim lain.

Dulu, iklim belajar-mengajar sangat terbuka. Banyak ulama/ilmuwan Muslim yang belajar pada guru-guru syaikh non-Muslim. Juga sebalinya, banyak sekali para ilmuwan Kristen dan non-Muslim lain yang berguru kepada ulama Muslim ternama, bukan hanya di zaman Ummayah dan Abbasiyah saja tetapi juga di zaman Dinasti Andalusiyah di Spanyol.

Sebutan atau pemakaian kata “ulama” yang sangat umum ini bisa jadi karena Al-Qur’an sendiri menyebut kata “alim” di beberapa ayat yang merujuk pada kata “ilmuwan” atau scientist (hard sciences bukan “ilmu-ilmu keislaman”) dan rujukannya pada para ilmuwan Yahudi.

Apapun implementasi sebutan “ulama” itu, yang jelas kata ini merujuk pada “ilmuwan” yang memiliki banyak karya, berwawasan luas, dan mumpuni di berbagai disiplin keilmuan, bukan merujuk pada para penceramah atau dai seperti dipahami oleh sejumlah kelompok Islam di Indonesia dewasa ini. [SQ]

“Email Kaleng”

0

Tentang sambungan postingan “Hizbut Tahrir dan Doktrin Nazi Hitler” lain kali saja. Saya ingin melanjutkan “cerita lucu” tentang “email kaleng” dulu. Belum lama ini saya mengadakan pertemuan terbatas-tertutup dengan petinggi kampus untuk membahas tentang beberapa “email kaleng” tentang saya. Intinya, menurut mereka, email-email itu membicarakan tentang “sepak terjang” saya sebagai “gembong Islam liberal”, “agen Kristen-Yahudi,” “anak didik Amerika” dlsb yang sangat berbahaya untuk mahasiswa, kampus, dan kerajaan Saudi. Oleh karena itu, mereka minta universitas untuk memecat dan mendeportasi saya.

Bukannya menjawab, saya malah menanyakan tentang pendapat mereka tentang email-email tadi, dan spontan mereka jawab yang membuat saya tertawa ngakak: “Ini pasti email-email dari kelompok konservatif radikal-teroris. Mereka kira semua orang Saudi itu konservatif, anti-non-Muslim, kontra Amerika, dan pro-terorisme. Orang-orang seperti pengirim email ini yang membuat citra Saudi buruk di dunia luar. Kami disini butuh kamu dan sangat berterima kasih dengan kamu, dan tidak ada yang bisa mengintervensi kami.”

Sudah sering saya katakan kalau kampusku ini adalah kampus “elit-modern” berbahasa Inggris yang menurut Q.S World University Rankings merupakan kampus terbaik di kawasan Arab dan Timur Tengah yang dijuluki sebagai “The Oxford of Arabia”. Para pengajar dan pimpinan di kampus ini bisa dipastikan mendapat doktor dari kampus-kampus terbaik di Amerika, Kanada, dan Eropa. Saya juga terlibat dalam komite penyeleksi para profesor baru yang melamar di kampus ini dan yang selalu dicek pertama kali adalah perguruan tinggi tempat pelamar memperoleh gelar doktor. Kalau pelamar mendapatkan doktor bukan dari kampus-kampus top dunia, sudah pasti masuk kotak. Saya juga membimbing sejumlah mahasiswa khususnya di bidang ilmu-ilmu sosial yang akan diberangkatkan untuk studi lanjut di Amerika.

Kampusku ini memang sangat terbuka dengan aneka ragam agama, sekte, dan pemikiran. Ada banyak para pengajar dan peneliti non-Muslim di kampus ini. Ada banyak sekali komunitas Syiah disini, baik sebagai mahasiswa, staf administrasi maupun dosen, dan bahkan petinggi kampus. Dulu, salah satu yang mendorong saya mau “menerima pinangan” dari kampus ini juga lantaran mendapat saran dari mentorku di Boston University yang ahli tentang kajian Arab & Timur Tengah tentang kualitas dan iklim keterbukaan kampus ini. Dulu saya sempat ragu tapi kemudian menjadi mantap apalagi setelah ditelpon langsung oleh pimpinan kampus disini yang meminta saya ikut membantu mengembangkan program-program akademik ilmu-ilmu sosial dan humanities. Maklum kampusku ini adalah kampus “sciences and engineering” seperti ITB di Indonesia sehingga kurang berkembang di bidang “social sciences and humanities”. Kampus ini berobsesi seperti MIT yang tidak hanya maju di bidang “sciences and engineering” tetapi juga “social sciences and humanities”.

Mereka menilai kehadiranku disini membawa perubahan cukup signifikan baik dalam riset maupun ngajar. Sejak saya datang, pendaftar mata kuliahku membeludak, antropologi dan sosiologi diterima dengan laris-manis oleh mahasiswa dan pimpinan. Itulah sebabnya rating mengajarku nyaris sempurna dan komentar para mahasiswa sangat positif. Sekarang saya diminta untuk membuka mata kuliah-mata kuliah baru untuk memperluas cakrawala mahasiswa tentang ilmu-ilmu sosial. Publikasi akademik dan riset juga lancar-car bahkan saya ditunjuk sebagai Kepala Scientific Research di bidang ilmu-ilmu sosial yang sekarang sedang mengorganisir kerja-sama riset dengan berbagai kampus di kawasan Arab. Belum lama, oleh kampus, saya (satu-satunya di departemenku) juga dianugerahi status “Distinguished” (Outstanding Performance).

Jadi, tidak perlu repot-repot mengirim “email kaleng” untuk meminta kampus memecat dan mendeportasi saya, jika waktunya sudah tiba, cepat atau lambat, saya akan pergi dengan sendirinya. [SQ]