Beranda blog Halaman 9

Jihad Membela Nafsu

1

Kalian mengklaim “jihad konstitusional” membela negara tetapi kau injak-injak dan lecehkan fondasi kenegaraan dan konstitusi negara. Kalian abaikan prosedur hukum, tata-cara berhukum, dan proses menjalankan hukum.

Maka sesungguhnya “jihad konstitusional” yang kalian propagandakan itu adalah “inkonsitusional” dan pelanggaran terhadap aturan-aturan konstitusi kenegaraan. “Jihad konstitusional” yang kalian kampanyekan itu tidak lebih sebagai slogan kosong-mlompong yang tidak berdasar dan mengindahkan konstitusi.

Kalian mengklaim jihad membela Islam tetapi kau injak-injak norma-norma dan etika keislaman. Kau abaikan ahlak dan moralitas keislaman. Perilakumu yang beringas seperti orang kesurupan, tindakanmu yang ngawur seperti orang kesetanan, dan perkataanmu yang kotor-njetor seperti got empang adalah sudah lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa kalian ini tidak membela Islam.

Ajaran Islam yang mana yang membolehkan umat Islam untuk berperilaku beringas dan ngawur dan berkata kotor? Ayat Al-Qur’an yang mana yang membolehkan umat Islam untuk bertindak biadab, melakukan tindakan kekerasan, menghujat dan menistakan sesama kaum Muslim dan umat manusia?

Perilaku Nabi Muhammad yang mana yang kalian contoh dan teladani? Saya khawatir bukan perilaku Nabi Muhammad yang kalian jadikan sebagai contoh melainkan para “begundal tengik” musuh-musuh beliau yang kalian jadikan sebagai “suri tauladan”.

Bukalah “topeng-topeng” kalian! Lucutilah baju-baju dan seragam putih yang kalian kenakan karena putih adalah “simbol kesucian” bukan “simbol kekotoran”. Baju putih yang kalian kenakan itu kontras dengan perkataan dan perilakumu yang menyedihkan.

Apa yang kalian lakukan sesungguhnya bukan jihad membela Islam, Al-Qur’an, apalagi membela Tuhan. Apa yang kalian lakukan sebenarnya adalah jihad membela egomu, membela kepentingan kelompokmu, membela parpolmu, membela tokoh dan idolamu, membela ormas Islammu, membela nafsu-serakah kekuasaanmu.[SQ]

Jenderal Tito

0

Pada musim panas tahun ini, waktu saya menjadi Senior Scholar di National University of Singapore, saya diajak makan malam oleh seorang profesor senior dari Nanyang Technological University, Singapore. Yang menarik adalah profesor ini adalah profesornya Kapolri Jenderal Muhammad Tito Karnavian, dan profesor tadi adalah “satu perguruan” denganku dan kami berdua pernah dididik dan “dimentori” oleh profesor yang sama di Amerika. Intinya makan malam itu adalah “reuni” satu perguruan.

Jenderal Tito memang menyelesaikan doktoralnya di Nanyang Technological University, tepatnya di Rajaratnam School of International Studies. Selama studi, ia mempelajari terorisme, conterterrorism, strategic studies, Islamist insurgency, dlsb.

Jenderal Tito kemudian menulis disertasi yang diterbitkan menjadi buku tentang kelompok teroris Jama’ah Islamiyah dan proses radikalisasi kekerasan di Poso. Judul bukunya adalah “Explaining Islamist Insurgencies: the Case of al-Jama’ah al-Islamiyah and the Radicalization of the Poso Conflict, 2000-2007” (silakan cari di Amazon buku beliau jika berminat).

Topik disertasi yang diambil Jenderal Tito kurang lebih sama denganku. Hanya saja fokus kajianku adalah Maluku (Ambon). Minat studi, riset dan keahlian Jenderal Tito juga kurang lebih sama denganku: tentang kajian-kajian terrorisme dan konterterorisme, proses radikalisasi kelompok teroris, ideologi-idologi kaum islamis, dlsb. Seperti Jenderal Tito, saya juga sedang menulis buku tentang terorisme dan konterterorisme di Saudi dan negara-negara Arab Teluk.

Cuma bedanya kalau Jenderal Tito punya segudang pengalaman di lapangan sebagai panglima kepolisian, komandan polisi anti teror (Densus 88), badan konterterorisme, dlsb, sementara sama sekali tidak punya semua itu karena gak pernah jadi polisi, baik “polisi beneran” maupun “polisi tidur”.

Mungkin akan seru seandainya saya bisa “temu darat” dan ngopi bareng dengan Jenderal Tito, ditemani oleh profesor-nya Pak Tito tadi. Daripada diskusi dengan “Ibu Senator” itu (lagi pula apa yang mau didiskusikan dengannya), tentu akan lebih seru berdiskusi dan bertukar pengalaman dengan Jenderal Tito, kan? Kaaannn. [SQ]

Jatuh Bangun Relasi Ulama dengan Pemerintah

0

Dalam sejarah Islam, hubungan antara ulama dan pemerintah itu naik-turun. Kadang ulama berada diluar pemerintah, kadang di dalamnya. Lain waktu sebagai pengkritik pemerintah, lain waktu lagi sebagai penyokong pemerintah. Kadang ulama dikotrol pemerintah, kadang malah pemerintah yang dikontrol oleh ulama. Kadang mereka rukun bekerja sama, kadang mereka saling bermusuhan.

Para ulama pernah menggalang perlawanan melawan “rezim pemerintah” seperti terjadi di Libya, Iran, Lebanon, Afganistan, atau Indonesia di masa Hindia Belanda. Sebaliknya, rezim politik-pemerintah juga pernah menumpas atau mengebiri para ulama sejak zaman kekhalifahan dulu sampai di era paska-kolonial. Fenomena “jatuh-bangunnya” ulama ini bukan hanya terjadi di Sunni saja tapi juga di komunitas Syiah, Ibadiyah, Mu’tazilah, dlsb.

Jika dulu pada era pra-Turki Usmani (Ottoman), para ulama masih sebagai “sarjana individu” diluar gerbong pemerintah (kecuali para ulama-hakim atau qadi yang memang ditutunjuk oleh negara untuk menangani hal-ikhwal yang berkaitan dengan hukum Islam), maka sejak masa Turki Usmani, khususnya pada abad ke-14, ulama mulai “dilembagakan”.

Turki Usmani-lah yang menggagas pembentukan Shaikul Islam atau “Mufti Besar” yang bertugas mengeluarkan atau memproduksi fatwa. Shaikul Islam ini merupakan jabatan bergengsi karena bisa memberi legitimasi keagamaan kepada khalifah/sultan meskipun ia yang menunjuk sang Shaikhul Islam itu. Karena itu ulama yang duduk sebagai “Shaikhul Islam” ini bukan “orang sembarangan”, bukan seperti “ustad unyu-unyu” di negeriku tercinta. Ia betul-betul harus menguasai berbagai ilmu pengetahuan dan ilmu-ilmu keislaman. Karena dulu masih sedikit sekali lembaga-lembaga pendidikan, maka kader-kader ulama dan “calon” Shaikhul Islam ini ditraining di Iran, Mesir, atau Irak, yang dulu menjadi pusat pengetahuan Islam.

Abad ke-19 dan 20 adalah masa-masa buram bagi ulama. Sejak negara-negara Arab dan mayoritas Muslim lain seperti Turki, Mesir, Irak, Iran, Aljazair, dlsb, dipimpin oleh para politisi nasionalis dan birokrat sekuler, para ulama dilucuti perannya sehingga tidak memiliki otoritas dan pengaruh ke masyarakat. Para mahasiswa yang belajar ilmu-ilmu keislaman melorot tajam. Lembaga-lembaga keagamaan “dinasionaisasi” sementara sistem wakaf yang dulu dipakai untuk menggaji ulama dihapus.

Di Mesir, Presiden Gamal Abdel Nasser menggembosi dan mengontrol peran “ulama Azharis”. Rezim Baath di Irak mengobrak-abrik para ulama dan sekolah-sekolah calon ulama. Presiden Ahmed bin Bella di Aljazair juga melakukan hal serupa: membonsai peran ulama. Rezim Turki lebih ganas lagi: mereka munutup sekolah-sekolah Islam, madrasah, dan “tekke dervish” (semacam “pesantren sufi”) dan memberangus peran ulama. Iran, pada masa rezim Shah Pahlevi juga menguliti peran ulama. Pak Harto dulu juga membonsai peran para ulama, kecuali mereka yang mau mendukung Golkar.

Kebangkitan ulama di jagat Islam Timur Tengah baru terjadi sejak Imam Khomeini dan para ulama Syiah berhasil menumbangkan “rezim sekuler” Pahlevi pada 1979. Sejak itu, para ulama, Sunni maupun Shiah, mulai menggeliat dan berani berpolitik seperti yang dilakukan oleh Mullah Mohammed Omar, pendiri Taliban di Afganistan, yang sudah mati terkapar pada 2013.

Sejarah pasti akan terulang lagi: jika para ulama berisik, tentara nanti yang akan membungkam mereka. Lihat saja.[SQ]

Jangan Hanya Salahkan Pemerintah dan Elite Politik

0

Sebagian orang tanpa sadar begitu mudahnya mengarahkan jari telunjuknya ke para elit politik atau pemerintah setiap ada kasus ketidakberesan sosial. Padahal, di alam demokrasi seperti ini, masyarakat–semuanya tanpa kecuali–juga turut bertanggung jawab jika terjadi ketidakberesan itu. Bukankah kita yang memilih mereka? Tetapi sayangnya, sebagian masyarakat lebih suka “berlagak oon” dan hobi “tunjuk hidung” kepada pemerintah dan elit politik itu ketimbang kepada dirinya sendiri.

Sejak Pak Harto “melengserkan diri” tahun 1998, masyarakat Indonesia sebetulnya mempunyai peluang sangat besar untuk turut berpartisipasi sebagai “pemain” guna memajukan bangsa dan negara. Dulu, zaman Pak Harto, masyarakat hanya sebagai “penonton” saja. Era Orde Baru memang ada Pemilu, tetapi hasilnya sudah diketahui sebelum Pemilu dilaksanakan.

Ketika “kran” demokrasi dibuka lebar-lebar dimana masyarakat diberi keleluasaan untuk memilih secara langsung (bukan diwakili lagi seperti dulu) para pemimpin dan elit politik yang jujur, bersih, kredibel, dan berkualitas, sebagian masyarakat, sayangnya, tidak memanfaatkan momentum emas ini dengan sebaik-baiknya. Sebagian bahkan mabuk pesta demokrasi dan euforia politik tanpa arah dan tujuan dan tanpa komitmen positif membangun masyarakat, bangsa dan negara.

Sebagian dari mereka “terperosok” ke dalam “politik identitas” berbasis agama, suku, etnis, kedaerahan, ideologi, kelompok, dlsb. Tak peduli, seburuk dan sebobrok apapun calon pemimpin dan elit politik itu, mereka akan pilih hanya karena “sesama iman,” sesama agama, sesama ormas agama, sesama kongregasi, sesama sekte, sesama etnik, sesama suku, sesama daerah, sesama organisasi, sesama berjubah dan berjenggot, dan seterusnya.

Sebagian lagi tersungkur kedalam “politik uang”. Kalau sudah ditutup duit, matanya tiba-tiba jadi rabun, lidahnya mendadak pilu, suaranya meredup, ingatannya hilang, kesadarannya lenyap. Persis seperti kerbau yang dicocok hidungnya: jadi “bodo ela-elo” alias bloon tidak ketulungan. Coba Anda perhatikan, hanya karena “uang recehan” saja, mereka rela diangkut truk berdesak-desakan untuk menghadiri kampanye calon ini dan itu sehingga sampai susah dibedakan mana “sapi” dan “Sapii”.

Sebagian lagi terperangkap kedalam “politik kharisma”. Hanya karena dia dari keturunan “darah biru” misalnya, baik itu kaum “nengrat agama”, “nengrat kerajaan,” “nengrat politik” dan seterusnya, masyarakat akan tetap memilihnya dan sanak-kerabatanya sebagai kepala daerah, birokrat pemerintahan, pemimpin politik, anggota dewan. Meskipun mereka ini sudah jelas-jelas seorang “kriminal kemanusiaan” dan koruptor kelas ikan paus. Tapi lagi-lagi, sebagian masyarakat seperti orang mabuk ekstasi karena kebanyakan mengonsumsi “pil koplo” sehingga tidak mampu membedakan mana berlian dan kotoran kambing. Miris saya melihat di sejumlah daerah dimana masyarakatnya tetap setia memilih para “badit politik” dan perampok uang rakyat hanya karena ia dari keturunan “darah biru” atau setengah biru.

Berpolitiklah secara rasional dengan menggunakan akal-pikiran waras, bukan dengan sentimen-sentimen primordial yang tiada gunanya dan merugikan kita semua. [SQ]

Sejarah Islam di Tiongkok

0

Seperti saya jelaskan sebelumnya, Islam pertama kali menjamah dataran Tiongkok sejak era Dinasti Tang (618–907) yang kemudian mengalami perkembangan signifikan pada masa Dinasti Song (960–1279). Kelak kaum Muslim mengalami “masa kejayaan” pada era Dinasti Yuan (1271 – 1368) yang dikontrol oleh Mongol dan puncaknya pada masa Dinasti Ming (1368–1644). Pada masa Dinasti Ming inilah hidup seorang legenda bernama Laksamana Cheng Ho atau Zeng He yang dipercayai sebagai seorang Muslim dan dikenal sebagai salah satu petualangan besar dunia.

Menurut catatan (annals) dari Dinasti Tang, orang-orang Arab dan juga Persia di Tiongkok dulu dikenal dengan sebutan Dashi (Tashi). Pada era Tang ini banyak kerja sama politik, ekonomi, dan budaya digelar dengan “rezim Islam” (baik Daulah Muawiyah maupun kelak Abbasiyah). Para tentara Muslim dulu juga dikerahkan untuk membantu Kaisar Su-Tsung untuk melawan kaum pemberontak yang ingin mengkudeta kerajaan di bawah pimpinan Genderal An Lushan.

Kelak, Daulah Abbasiyah juga membantu Tang mengusir para pemberontak dari Tibet di Asia Tengah. Khalifah Harus Al-Rashid dari Abbasiyah, seperti dicatat oleh Annals dari Dinasti Tang, juga tercatat berali-kali mengirim utusan dan menjalin hubungan diplomatik dan niaga dengan Tang, terutama melalui jalur maritim. Karena intensitas perdagangan maritim yang tinggi antara Arab–Tiongok inilah, maka kelak Canton (atau “Khanfu” dalam Bahasa Arab), “kota pelabuhan” di China Selatan dulu banyak dihuni kaum Muslim. Para sejarawan mencatat ada sekitar 200,000 Muslim dari Arab maupun Persia di Canton kala itu.

Ketika Dinasti Song berdiri di awal abad ke-10, hubungan dengan Islam Arab, Persia, dan Afrika Utara terus berlanjut bahkan semakin intensif. Kaum Muslim di Tiongkok tinggal di kawasan khusus (settlement) yang disediakan oleh pemerintah sejak Dinasti Tang, yang disebut Fan Fang. Para sejarawan juga mencatat kaum Muslim memainan peran sentral di bidang industri ekspor-impor pada zaman Dinasti Song. Sejarawan Dawood Ting bahkan menulis kalau Direktur Jenderal urusan impor-ekspor ini bahkan seorang Muslim. Kelak, Kaisar Shenzong dari Song juga mendatangkan ribuan Muslim dari Bukhara (Russia) ke Tiongkok untuk ikut membentengi China dari Kekaisaran Liao di Tiongko utara. Kaum Muslim ini kemudian tinggal di kawasan Kaifeng (ibukota Song) dan Yenching (kini: Beijing).

Kaum Muslim mendapat momentum ketika Dinasti Yuan berkuasa di Tiongkok. Dinasti Yuan yang didominasi oleh kaum Mongol ini tidak percaya kepada etnis Han (etnis mayoritas di Tiongkok), dan sebagai gantinya mempromosikan orang Muslim (juga Yahudi) dari Arab dan Timur Tengah di posisi-posisi tinggi, baik di pemerintahan maupun militer, guna mengontrol dan menjaga kaum Han. Orang-orang Muslim ini kemudian kawin-mawin dengan gadis-gadis lokal China sehingga semakin banyak jumlah mereka pada masa Yuan ini. Karena itu ada pepatah di Tiongkok: “In the Yuan Dynasty, Muslims were all over the universe” (i.e. China). Pada masa Yuan ini juga Daulah Abasiyah yang berpusat di Baghdad ditaklukkan oleh tentara Hulagu Khan. Orang-orang yang Muslim Semit yang ditaklukkan itu kemudian dibawa ke Tiongkok untuk dipekerjakan di pemerintahan, perkapalan, kesenian, dan kemiliteran (bersambung). [SQ]

Ini Bukan Soal Ahok Semata

0

Saya perhatikan banyak orang salah-paham dan gagal-njegal memahami berbagai tulisan dan postinganku selama ini, khususnya yang berkaitan dengan Ahok, sampai-sampai ada yang menuduh saya “buzzer” Ahok, timses Ahok, sekutu aseng-kapir, dlsb. Bahkan tidak sedikit yang bicara ngawur seenak jenggotnya sendiri kalau saya dibayari Ahok dan timnya. Kalau Anda menuduhku seperti itu, berarti Anda tidak kenal saya.

Saya jelaskan sekali lagi, saya melakukan dukungan dan pembelaan terhadap Ahok itu adalah sukarela dan “dorongan akademis” bukan karena dibayari atau diiming-imingi sesuatu. Lagi pula, saya tidak kenal Ahok apalagi bertemu dan “selpi” dengannya. Saya tidak butuh semua itu karena hidupku sudah cukup bahagia apalagi saya bukan tipe orang “glamour” dan serakah yang hobi memupuk kekayaan dan berfoya-foya. “Harta karunku” cuma buku. Saya sudah bahagia kalau sudah makan pakai tempe, ikan, kerupuk, semur jengkol he he. Murah-meriah.

Sampai sekarang saya tidak punya mobil (meskipun kalau mau saya bisa membelinya, tentu saja bukan yang mobil mewah ala “ustad seleb” itu) dan memang tidak bisa nyetir mobil. Saya juga tidak bermimpi ingin punya “villa mewah” dan tetek-bengek lainnya karena sama sekali tidak berminat (meskipun kalau saya mau, saya tidak bisa membelinya he he).

Uang gajiku selama ini, baik waktu kerja di Amerika, Singapore, dan Saudi, tidak saya nikmati sendiri atau “inpestasi” atau apalah istilahnya, tetapi selalu saya bagi-bagi dan berikan untuk biaya hidup dan kebutuhan orang tua dan saudara-saudara, biaya sekolah dan kuliah keponakan-keponakan, beasiswa ke sejumah siswa, serta untuk membangun rumah orang tua dan saudara dan tempat ibadah di kampung. Untuk apa memupuk uang dan kekayaan karena kita semua akan meninggal?

Jelasnya, saya membela Ahok bukan karena persoalan material sama sekali bukan. Tetapi lebih pada persoalan intelektual-spiritual.

Saya membela Ahok bukan karena ia seorang “aseng-kapir” atau China-Kristen tetapi karena integritasnya. Saya sudah bilang, jika saya semata-mata membela “aseng-kapir”, coba Eddy Tansil alias Tan Tjoe Hong suruh nyalon, nanti saya siapkan “bom panci” untuknya. Ngumpet dimana dia sekarang? Jangan-jangan lagi umroh? he he

Saya bahkan “tidak membela Ahok” tetapi membela hak-hak politik Ahok sebagai warga negara yang memiliki hak yang sama dengan etnis dan agama apapun di Negara Indonesia.

Saya membela Ahok karena ia menjadi korban sindikat politik-agama yang keji, jorok, biadab, dan kotor-njetor penuh rasisme dan etnosentrisme yang jika dibiarkan akan membahayakan tatanan dan fondasi kebangsaan dan kenegaraan.

Saya membela Ahok bukan karena membela “minoritas” tetapi membela rasa keadilan dan kemanusiaan yang sudah digadaikan dan dilacurkan oleh sejumlah politisi, agamawan, dan tukang dagang gemblung yang masya Allah serakahnya.

Siapapun Anda, apapun etnis dan agama Anda, jika mengalami nasib seperti Ahok, akan saya bela. Siapapun Anda, apapun etnis dan agama Anda, jika bersikap intoleran, tukang bikin onar dan kekerasan serta anti-pluralisme, kebhinekaan, dan kebangsaan, pasti akan saya lawan! [SQ]

Islam dan Masalah Kebersihan Lingkungan: Catatan “Antropologi Haji” (5)

0

Salah satu yang saya perhatikan dengan seksama pada waktu menjalani ritual haji di Makah adalah kebiasaan (sebagaian) warga Muslim yang membuang sampah sembarangan sehingga area-area utama ibadah haji (seperti Mina, Arafah, Muzdalifah, dlsb) pada saat musim haji menjelma menjadi semacam lautan atau gunungan sampah yang berserakan dimana-mana. Sungguh disayangkan.

Pemerintah Saudi sebetulnya sudah berusaha cukup maksimal dengan mengerahkan ribuan “pasukan hijau-kuning” dan ratusan truk untuk mengangkut sampah. Pemerintah juga menyediakan ribuan tong-tong sampah di setiap lorong. Tetapi, tidak tahu kenapa, tetap saja ada banyak warga Muslim yang ceroboh dan membuang sampah sembarangan seenak perutnya sendiri. Ribuan botol air mineral, kaleng minuman, plastik, sisa-sisa makanan, dlsb mengotori “tempat-tempat suci” di Makah.

Katanya, “kebersihan adalah bagian dari iman”? Mana? Umat Islam sibuk “membersihkan dosa” tetapi tidak peduli dengan kebersihan lingkungan dan alam sekitar. Padahal, menjaga kebersihan, kelestarian, dan kesehatan lingkungan juga diamanatkan dalam Islam, Al-Qur’an, Hadis dan teks-teks klasik keislaman. Tetapi sepertinya (sebagian) kaum Muslim belum mengapresiasi masalah-masalah fundamental yang tidak ada sangkut-pautnya dengan dunia akhirat, dengan urusan surga-neraka.

Bagi sebagaian besar umat beragama, ibadah itu ya melakukan ritual-ritual tertentu seperti salat atau sembahyang, doa, puasa, dlsb, atau membangun gereja atau masjid atau tempat-tempat ibadah lain. Singkatnya, segala hal-ihkwal untuk “membahagiakan Tuhan” itu ibadah. Sementara hal-ihwal untuk “membahagiakan manusia” bukan dinilai sebagai ibadah meskipun sebetulnya masalah alam-kemanusiaan itu juga menjadi bagian penting dalam agama dan kitab-kitab keagamaan.

Mayoritas ayat-ayat dalam Al-Qur’an misalnya berisi pesan-pesan moral kemanusiaan dan mandat untuk menjaga dan merawat alam semesta beserta isinya, buka tentang surga-neraka, alam kubur, bidadari-malaikat, dlsb. Karena itu saya sering menyebut Al-Qur’an itu sangat “antroposentris” atau “sangat humanis”. Manusia (umat Islam) saja yang membuatnya menjadi “teosentris” dan seolah-seolah “tidak humanis” atau jauh dari nilai-nilai kemanusiaan.

Tapi ya itu, umat beragama belum menganggap masalah kemanusiaan, kebersihan lingkungan, dan pelestarian alam-semesta sebagai sesuatu yang penting dan bagian integral dari keimanan, akibatnya “budaya jorok” sudah biasa dipraktekkan oleh umat beragama. Idealnya, bukan hanya hati dan pikiran yang “dibersihkan”, tetapi juga lingkungan supaya bumi yang kita pijak ini menjadi sehat sepanjang-masa (bersambung).

Indonesia Milik Bersama: Renungan Agustusan

0

Alkisah, beberapa bulan sebelum tanggal 17 Agustus 1945 yang keramat itu, Bung Karno menemui empat ulama, “wong pinter”, dan ahli tasawuf yang sangat disegani karena kedalaman ilmu, moralitas dan perilakunya untuk meminta nasehat tentang kapan sebaiknya Bangsa Indonesia memproklamirkan diri kemerdekaanya.

Keempat ulama dimaksud adalah KH Hasyim Asy’ari dari Jombang, pendiri NU dan juga kakeknya almarhum Gus Dur, Kiai Musa Sukanegara dari Ciamis, KH Abdul Mu’thi dari Madiun, dan Raden Sosrokartono. Konon, berdasarkan masukan dari keempat “orang sakti” inilah, “Dwi Tunggal” Soekarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan RI pada tanggal 17 Agustus 1945.

Bung Karno memang bukan hanya seorang orator ulung yang setiap pidatonya yang menggelegar bak petir yang menyambar-nyambar itu mampu menghipnotis ribuan jamaah. Ia juga bukan hanya seorang penulis hebat yang goresan tintanya mampu menginspirasi banyak orang. Bung Karno juga seorang yang sangat hormat dengan para kiai sepuh, “wong alim” dan kharismatik.

Lagi, Bung Karno juga seorang mistikus dan percaya dengan kekuatan gaib. Suatu saat Bung Karno berucap: “Saya percaya pada dunia mistik. Akal tidak bisa menjelaskan kenapa 17 Agustus. Tapi bagiku, tanggal ini memberi harapan yang sangat besar. Saya bisa merasakan di dalam lubuk hatiku yang paling dalam bahwa 17 Agustus adalah saat yang tepat dan baik untuk bangsa ini.”

Bukan hanya kepada para ulama Muslim saja Bung Karno “berguru” dan meminta nasehat. Tetapi juga kepada para ulama non-Muslim yang ia pandang memiliki “kharisma”, ilmu tinggi dan “daya linuwih”. Bung Karno sadar betul bahwa Indonesia ada karena perjuangan bersama. Kemerdekaan adalah buah dari kerja keras berbagai agama dan etnis di Indonesia. Negara Indonesia adalah hasil dari keringat dan pengorbanan tenaga, harta dan nyawa para putra-putri bangsa dari berbagai latar belakang suku, bahasa, dan agama.

Tanpa mereka semua, Indonesia yang kita cintai ini tidak akan pernah ada di bumi pertiwi. Karena itu tidak pada tempatnya jika ada sekelompok kaum Muslim yang mengklaim sebagai “mayoritas yang paling berjasa” sehingga bisa berbuat seenak-wudelnya sendiri. Indonesia lahir bukan untuk “melayani” mayoritas. Indonesia hadir juga bukan untuk “menyenangkan” minoritas. Indonesia itu milik bersama–Muslim, non-Muslim–maka menjadi tanggung jawab bersama pula untuk merawatnya.

Jika kita sekarang bisa menghirup udara dengan bebas, bisa bebas berkelana, berwisata, berkuliner, berceramah, berkhotbah, berekspresi, berpolitik, berorganisasi serta bisa dengan leluasa berjoget egal-egol dan kentat-kentut, semua itu karena jasa mulia para pahlawan dan leluhur bangsa. Oleh karena itu, sungguh tidak beretika jika kita, bukannya berterima kasih, menghormati dan mendoakan, malah menyumpah-serapahi para pahlawan dan leluhur karena dianggap mati sia-sia lantaran tidak memperjuangkan “negara Islam”. Mahluk macam apa kalian ini?

Tentu saja para pahlawan dan leluhur itu tidak minta dan mengharap untuk dihormati, dipuja-puji, dan diberi gelar mentereng ini-itu karena memang bagi mereka semua itu sudah menjadi tanggung jawabnya sebagai putra-putri bangsa untuk membela dan memperjuangkan negara. Maka sudah menjadi tanggung jawab kita pulalah untuk menjaga, merawat dan meneruskan cita-cita kemerdekaan dan kebangsaan yang mulia ini dengan berbagai macam cara sesuai dengan kemampuan kita masing-masing.

Jika kita tidak sudi untuk melakukannya atau bahkan enggan untuk mendoakan mereka, maka cukuplah kita berdiam diri, tidak perlu memaki, menghujat, dan mengafir-sesatkan para pahlawan dan leluhur bangsa karena bisa jadi justru kalian sendiri yang tersesat dan terperosok ke dalam “lubang kekafiran”. [SQ]

Imajinasi Jihad di Jalan Allah

0

Kalau dilihat dari foto ini (itupun kalau bukan hoax alias “foto editan” he he), sepertinya Pak Ustad Arifin Ilham sedang semangat latihan perang-perangan menggunakan parang. Ciaattt ciaaatttt. Mungkin ia sedang kangen dan merindukan suasana masa lampau Islam. Pak ustad yang hobi mewek dan nangis-nangis kalau ceramah ini juga beberapa kali menyerukan “jihad” (maksudnya “perang”) dengan heroiknya dan “gagah perkasa”.

Jihad melawan siapa? Mau jihad dimana? Jihad melawan Pak Jokowi dan pemerintah? Itu mah bukan jihad namanya bro. Kalian baru “valid” melakukan jihad di Indonesia, kalau hak-hak seorang Muslim untuk beribadah dan berekspresi dibatasi dan diberangus seperti dulu zaman pemerintah kolonial. Lah sekarang, kalian bebas-merdeka mau melakukan apa saja gak ada masalah. Mau haji atau umrah puluhan kali silakan. Mau bikin masjid / musalla di tiap gang silakan. Mau bengak-bengok ceramah silakan. Bahkan sangking bebasnya, kalian bisa salat seenaknya di jalan raya, kan? Yang itu susah terjadi kalau bukan di Indonesia mas bro. Jihad itu kalau melihat pemerintah telah berbuat jahat dan kekerasan serta korup dan menindas rakyat. Itupun tidak perlu pakai pedang kaleee. Jadul amat.

Atau jangan-jangan mau ikut perang di Irak dan Suriah bergabung dengan gerombolan preman ISIS dan komplotannya? Hanya orang pikun dan rabun atau mereka yang “mabuk agama” saja yang menganggap perang di Irak atau Suriah itu sebagai “jihad di jalan Allah”. Anggapan berperang di Irak atau Suriah sebagai “jihad di jalan Allah” itu hanyalah imajinasi belaka yang mungkin lantaran kebanyakan baca komik dan main game.

Buka mata Anda lebar-lebar, jembreng telinga kalian lebar-lebar, baca tulisan-tulisan akademik sebanyak-banyaknya, perang di Irak, Suriah dan dimanapun itu bukanlah masalah agama atau akidah tapi soal perseteruan geo-politik, perkelahian rebutan sumber-sumber ekonomi, gegeran soal batas-batas teritori, perebutan otoritas suku dan klan, perebutan supremasi etnik, dlsb. Tidak ada perang antara masyarakat Sunni dan Syiah.

Yang ada dan terjadi saat ini adalah perang oleh sejumlah kelompok kepentingan (dari mana saja dan ideologi apa saja) yang “ereksi” alias “ngaceng” ingin menguasai aset-aset politik, ekonomi, teritori / geografi, dlsb. Karena sudah “ereksi”, mereka pun membabi buta memerangi dan membunuh siapa saja yang dianggap sebagai penghalang niat busuk mereka, sebuah tragedi yang hanya mengakibatkan penderitaan bagi rakyat biasa–apakah itu Sunni, Syiah, Arab, Kurdi, dlsb, yang kini terlunta-lunta hidup dalam kelaparan dan keterbatasan di berbagai tempat pengungsian.

Jadi kalau niatnya berangkat ke kawasan ini itu untuk ikut berperang, maka itu sama sekali bukan “jihad di jalan Allah” tapi “jihad di jalan setan teroris-ektrimis”, dan kalau mati jelas bukan mati syahid tapi “mati sangit” alias “abu gosong”. Itulah sebabnya kenapa sebagian pemuda Saudi yang dulu ikut berperang di Irak dan Suriah dengan niat awal “jihad di jalan Allah” banyak yang mudik dan kapok karena mereka menyaksikan berbagai kejahatan kemanusiaan di lapangan yang dilakukan oleh kelompok yang mengaku “berjihad” tadi, jauh dari nilai-nilai dan norma-norma keislaman.

Kalau mau “berjihad di jalan Allah”, maka bantulah para pengungsi itu, tolonglah rakyat (orang tua, anak-anak, perempuan, dlsb) yang tidak tahu menahu tentang konflik dan kekerasan itu tapi kemudian ikut menjadi korban ganasnya perang.

Bahkan kalau mau berjihad di jalan Allah tidak perlu capek-capek dan jauh-jauh ke Timur Tengah tapi cukup dilakukan di Indonesia dengan membantu pengentasan kemiskinan, memerangi kebodohan, menolong orang-orang yang membutuhkan pertolongan, membantu meningkatkan kualitas pendidikan, membantu memberantas praktek korupsi, membantu mengatasi kejahatan kemanusiaan, dlsb.

Jadi, saudaraku, insaflah, bertaubatlah, kembailah ke jalan yang benar, yaitu jalan yang diridlai Allah, bukan yang diridlai setan teroris-ekstrimis. Pintu taubat selalu terbuka buat siapa saja yang ingin memperbaiki kualitas hidupnya dan pemahaman agamanya. [SQ]

Ibadiyah: Bukan Sunni, Bukan Syiah (4)

0

Mumpung masih ingat sebelum acara BBQ di pantai bersama para kolega, saya tulis saja lanjutan “Kuliah Virtual” tentang aliran Ibadiyah yang sempat tertunda. Seperti saya jelaskan, nama aliran Ibadiyah (atau Ibadi saja) itu diambil dari tokoh Abdullah bin Ibadh al-Murri al-Tamimi, seorang tokoh politik, teolog, dan sarjana Islam yang hidup di paruh kedua abad pertama Hijriyah. Dengan begitu, ia termasuk generasi tabiin, bukan sahabat.

Menurut Dr. Amr Khalifa Ennami, seorang sarjana Muslim Ibadi dalam kiabnya “Al-Ibadhiyah”, ada beberapa alasan kenapa nama Ibadiyah diambil dari Abdullah bin Ibadh. Pertama, Abdullah bin Ibadh adalah tokoh ternama yang secara terang-terangan mendeklarasikan ketidaksetujuannya terhadap pandangan ekstrim aliran Khawarij yang mengafirsesatkan semua Muslim diluar kelompoknya hanya karena berbeda pandangan tentang status legalitas/iligalitas kepemimpinan Usman/Ali sepeninggal Nabi Muhamamd.

Seperti saya jelaskan sebelumnya, embrio komunitas Ibadiyah ini adalah kelompok yang bernama “al-Muhakkimah” dimana didalamanya termasuk sekte Khawarij. Oleh karena itu, sejumlah pihak menyebut Ibadiyah ini adalah “faksi moderat Khawarij” atau “faksi Khawarij minus kekerasan dan intoleransi.” Ibadiyah memang aliran atau azhab Islam yang anti-kekerasan dan kontra-intoleransi. Sangat kontras dengan alangan Khawarij yang gemar melakukan kekerasan dan menyebarkan intoleransi. Nah, kalau Anda melihat di Indonesia dan negara-negara lain ada kelompok-kelompok umat Islam yang hobi melakukan kekerasan dan menyebarkan intoleransi, mereka ini adalah “anak-cucu” atau “reinkarnasi” atau “jelmaan” dari Khawarij ini he he.     

Kedua, Abdullah bin Ibadh juga menginstruksikan kepada para simpatisan al-Muhakkimah (dalam literatur Ibadiyah disebut “Jama’ah al-Muslimun”) untuk menyembunyikan identitas mereka serta melakukan aktivitas ibadah secara diam-diam untuk menghindari pengejaran dan kekerasan yang dilakukan para pemimpin Daulah (Dinasti) Umayah yang waktu itu sedang gencar memburu para oposan Muslim yang melawan kekuasaaan mereka. Menariknya, demi menyelamatkan dan memproteksi pengikutnya, Abdullah bin Ibadh berteman dengan Khalifah Abdul Malik bin Marwan.

Mungkin karena Abdullah bin Ibadh yang dianggap paling getol melawan “doktrin pengafiran” sesama Muslim yang dikumandangkan oleh kaum Khawarij, oleh masyarakat Islam waktu itu, namanya kemudian dijadikan sebagai nama gerakan kelompok keislaman ini. Jadi, Ibadiyah artinya “pengikut Abdullah bin Ibadh”. 

Meskipun dianggap sebagai “mentor politik” awal, Abdullah bin Ibadh bukanlah tokoh sentral yang merumuskan dasar-dasar teologi-keagamaan Ibadiyah. Bagi kalangan Ibadiyah, yang dianggap sebagai tokoh ulama dan teolog penting perumus awal fondasi teologi-keagamaan Ibadiyah sekaligus “imam pertama” (serta dianggap sebagai pendiri) kelompok ini adalah Jabir bin Zaid al-Azdi (w. 711).

Otoritas keilmuan dan kealiman Jabir dalam Ibadiyah mirip Imam Hasan al-Basri dalam tradisi Sunni (kebetulan keduanya sama-sama tinggal di Basrah, Irak, meskipun Jabir lahir di Oman). Kelak, banyak hadis-hadis yang diriwayatkan dan dinarasikan oleh Imam Jabir bin Zaid ini yang dikoleksi dan didokumenasikan dalam “Kitab Hadis” milik Ibadiyah.

Jabir juga dikenal sebagai ilmuwan Hadis (muhaddist) terkemuka. Ia dulu menginstruksikan kepada pengikutnya untuk mengembangkan dan mempraktekkan “Islam budaya” dan menghindari “Islam politik” agar tetap selamat dari kejaran penguasa Umayah. Ia juga dulu menginstruksikan untuk kawin-mawin dengan non-Ibadiyah.

Setelah Imam Jabir wafat, tampuk kepemimpinan Ibadiyah kemudian dipegang oleh Abu Ubaidah Muslim bin Abi Karimah. Dialah tokoh kunci di balik pengembangan doktrin Ibadiyah yang dasar-dasarnya sudah disematkan oleh Imam Jabir. Dia jugalah yang mengembangkan organisasi aliran Ibadiyah serta menyebarkan aliran ini ke Oman, Yaman, Khurasan, dan Afrika Utara. 

Sepeninggal Abu Ubaidah Muslim, tampuk kepemimpinan dan keimaman Ibadiyah jatuh ke tangan muridnya yang bernama Al-Rabi’ ibn Habib. Nah, Al-Rabi bin Habib inilah yang kemudian mengoleksi, menulis, dan membukukan Kitab Hadis “Al-Jami’ al-Shahih” yang dijadikan pegangan oleh pengikut Ibadiyah. Kitab ini awalnya juga dikenal dengan nama “Musnad al-Rabi’ ibn Habib”. Kelak, Kitab Hadis ini diolah, disistemasisasi, direstrukturisasi, disyarahi, dan ditambahi dan diberi nama baru oleh Abu Ya’kub Yusuf bin Ibrahim al-Warijlani dengan nama Kitab Tartib al-Musnad (bersambung). [SQ]  

Humor dan “Islam Garis Lurus”

0

Salah satu problem mendasar dari kelompok “Islam garis lurus” adalah hilangnya rasa atau selera humor. Karena tidak lagi mempunyai selera humor, maka pengikut “sekte Islam garis lurus” ini sepertinya susah sekali tersenyum atau tertawa. Padahal, menurut teori-teori psikologi humor itu sangat sehat dan menyehatkan. Sementara itu menurut teori-teori spiritual-keagamaan, humor itu adalah pemberian, hadiah, atau berkat dari Tuhan.

Islam sendiri mengajarkan bahwa “senyum itu ibadah”. Jadi, bagi umat Islam, tidak ada alasan untuk tidak beribadah karena ibadah itu gampang sekali, tidak melulu “menghitamkan jidat” atau menjual kerbau untuk naik haji. Mesam-mesem atau tersenyum saja dinilai ibadah. Ayo, silakan dipraktekkan di jalan-jalan he he.

Sejarah humor sudah sangat tua, setua sejarah manusia itu sendiri. Teori-teori tentang humor juga sudah ada sejak masa peradaban Yunani Kuno di zaman Plato atau Sokrates. Sastrawan India Kuno, Bharata Muni, mendefinisikan humor sebagai salah satu dari sembilan respons emosi atau rasa.

Dalam konteks Islam Arab, teori-teori tentang humor ini diperkenalkan oleh seorang filsuf Arab Kristen bernama Abu Bishr Matta bin Yunus al-Qunnai di abad ke-9 M. Ia adalah pendiri “Akademi Aristoteles” di Baghdad yang kelak melahirkan banyak ilmuwan Muslim ternama termasuk Abu Nasr Muhammad al-Farabi, Ibnu Sina, dan Ibnu Rusyd. Bukan hanya ilmuwan Muslim saja, kampus ini juga melahirkan sejumlah ilmuwan Kristen beken seperti Yahya Ibnu Adi dari Suriah.

Pada masa Dinasti Islam Abbasiyah, memang banyak ilmuwan Kristen yang sangat berjasa dalam memajukan keilmuwan Islam. Dulu, Khalifah Harun al-Rasyid, juga Khalifah Al-Makmun, menunjuk seorang sarjana Kristen keren bernama Hunayn bin Ishaq untuk menrjemahkan karya-karya para filsuf Yunani ke dalam Bahasa Arab. Kontras dengan sikap dan gaya “Islam garis lurus” di Indonesia yang mengidap semacam penyakit “Christianophobia”, para tokoh dan sarjana Muslim di zaman Abbasiyah sangat akrab dengan umat Kristen. Banyak umat Islam yang berguru dengan para sarjana dan ilmuwan Kristen, sebagaimana banyak pula para “santri Kristen” yang berguru dengan para sarjana dan ilmuwan Muslim.

Kembali pada masalah humor di atas, karena “sekte Islam garis lurus” kehilangan selera humor, akibatnya mereka ini sering panas, cemberut dan monyong-monyong kalau menyikapi persoalan sosial-politik-kegamaan. Dikit-dikit ngamuk. Dikit-dikit marah. Ciri-ciri kelompok “Islam garis lurus” ini adalah tidak bisa menyikapi perbedaan dengan tenang dan “guyonan”. Beda Tuhan ngamuk, beda nabi protes, beda agama berantem, beda sekte jengkel, beda pemikiran ngambek, beda ormas ribut, beda parpol mencak-mencak, beda mazhab demo, beda kelamin tegang he he.

Padahal dengan humor, Islam akan kelihatan indah dan mengasyikkan. Bukan suram dan menakutkan. [SQ]

Hujan dan Banjir di Tanah Arab

0

Mungkin agak “aneh” mendengar kabar banjir di Saudi atau kawasan Arab Teluk lain mengingat persepsi banyak orang kalau kawasan ini adalah “daerah panas ekstrim” yang jarang hujan. Di banyak daerah, curah hujan memang jarang dan tidak stablil tetapi di beberapa wilayah, khususnya dataran tinggi (seperti Asir, Baha, Qatif, dlsb) curah hujan cukup lumayan dan stabil (bahkan kadang ada salju juga).

Selain itu, Saudi/Arab Teluk bukan hanya mengenal “cuaca panas” tetapi juga “cuaca dingin”. Kalau bulan-bulan April-Oktober adalah “musim panas” (Juli-September adalah puncak panas yang bisa menembus 50-an derajat Celcius). Sedangkan kalau bulan November sampai Februari adalah “musim dingin”. Meskipun tidak sedingin di Eropa/Amerika/Kanada tetapi “lumayan dingin” kadang-kadang bahkan sampai 5 C.

Karena saya pernah lama tinggal di Amerika Utara jadi biasa saja kalau musim dingin di Saudi yang tidak seberapa jika dibandingkan dengan di Boston misalnya ya aduhai dinginnya apalagi ditambah salju yang membukit jadi bertambah dingin sampai-sampai seluruh onderdil dan perabotan tubuh “mengkeret” semua he he. Tapi buat warga setempat di Saudi, itu sudah sangat dingin sekali.

Karena mayoritas kawasan di Saudi atau Jazirah Arab sangat jarang turun hujan (hanya beberapa kali saja dalam setahun), hal ini berdampak pada aspek-aspek kehidupan lain seperti sistem ekonomi, bercocok-tanam, suplai air sampai manajemen pembangunan, desain / konstruksi gedung, dlsb, bahkan sampai masalah ritual-keagamaan. Yang dikhawatirkan disini bukan “hujan badai” tetapi “badai pasir” yang bisa sangat berbahaya dan “mendebupasirkan” seantero negeri.

Dari segi sistem bercocok-tanam, misalnya, yang ditanam bukan tanaman-tanaman yang “tahan air” tentunya tetapi yang “tahan panas” (seperti korma). Air minum dan kebutuhan untuk mandi, masak, menyiram tanaman, dll, dibuat dari hasil penyaringan air laut (dari Teluk Arab / Teluk Persi), atau diproduksi dari kawasan yang subur seperti di daerah Ahsa di Saudi timur, atau diimpor dari negara-negara lain. Karena mahalnya produksi air, maka air dipandang jauh “lebih berharga” ketimbang bengsin misalnya yang sangat mudah dan murah.

Karena hujan itu “makhluk langka”, maka begitu hujan turun, sebagian orang (tua-muda-anak-anak, laki-laki-perempuan) memanfaatkannya untuk “berekreasi” riang-gembira menikmati sang hujan. Karena hujan yang langka ini pulalah kenapa dalam Islam ada “salat istisqa” atau salat minta hujan kepada Allah, dan sering diprakekkan oleh warga disini khususnya kalau musim panas. Inil adalah contoh dimana alam-lingkungan telah mempengaruhi ajaran agama. Buat orang Eskimo atau orang Bogor mah gak butuh salat istisqa he he.

Curah hujan yang langka juga berdampak pada tata-bangunan. Misalnya, mayoritas pembangunan gedung-gedung tidak menggunakan sistem drainase, saluran air, atau gorong-gorong untuk mengantisipasi hujan. Asumsinya ya untuk apa membangun gorong-gorong yang memakan uang banyak wong jarang hujan saja kok. Lebih baik menyediakan alat penyedot air saja lebih murah dan efisien, kalau sewaktu-waktu ada genangan air di jalan dan tempat-tempat publik lain.

Kalau hujannya cuma rintik-rintik sih gak masalah. Masalahnya kalau hujannya deras dan berjam-jam, tak pelak banjir pun membahana. Seperti dua-tiga hari ini, hujan cukup deras dan cukup lama yang mengakibakan banjir sangat serius di beberapa kota (termasuk di kota tempat saya tinggal) seperti tampak di foto ini. Akibatnya, semua aktivitas mandek total. Air tidak hanya menumpuk di jalan-jalan tetapi juga di rumah-rumah dan mall-mall. Peristiwa banjir besar bukan kali ini saja sebetulnya. Tahun 2009 pernah terjadi banjir bandang di Jedah, Saudi, yang menyebabkan ratusan orang meninggal. Daftar banjir di Saudi dari tahun ke tahun bisa dilihat disini:http://floodlist.com/tag/saudi-arabia.

Untuk mengantisipasi banjir ini, pemerintah Saudi bukan meminta warga untuk “berdoa, ikhlas, dan tabah menerima cobaan” he he seperti nasehat seorang gubernur di Jawa bagian barat itu tetapi mengembangkan berbagai cara dan teknik untuk mencegah dan mengantisipasi banjir termasuk pembuatan proyek-proyek dam raksasa untuk penampungan air berjuta-juta kubik, drainase, dan yang terakhir teknologi drones untuk mendeteksi awal kemungkinan banjir supaya kerugian bisa diminimalisir.

Ini bukan siksaan atau cobaan dari Allah tetapi bencana alam yang bisa menimpa masyarakat mana saja kalau tidak diantisipasi dan ditangani dengan baik dan cermat. [SQ]


Hubungan Baik Saudi dengan China (02)

0

Di saat sejumlah pihak dan kelompok Islam di Indonesia sedang kenceng-kencengnya teriak anti “China aseng-kapir”, Arab Saudi justru sedang “mesra-mesraan” atau ber-“honeymoon” ria dengan “si aseng-kapir” China itu.

Beberapa bulan lalu, Putra Mahkota Mohammed bin Salman mengadakan kunjungan diplomatik dan bisnis ke PRC (China) seperti foto di bawah ini (courtesy: Arab News). Dalam lawatannya itu, kedua negara sepakat menggalang kerja sama di berbagai bidang ekonomi dan kebudayaan. Keduanya berhasil menandatangani puluhan Memorandum of Understandings (MoU) di berbagai sektor: petrochemicals, energi perminyakan dan gas, desalinasi air, transportasi, telekomunikasi, elektroni, pengetahuan & teknologi sampai masalah pendidikan dan kebudayaan.

Kunjungan Putra Mahkota Mohammed bin Salman ke China ini bukanlah kunjungan kenegaraan pertama bagi Saudi. Sebelumnya, pada 2006, mendiang Raja Abdullah juga mengadakan kunjungan ke PRC yang kemudian dibalas dengan lawatan Presiden Hu Jintao ke Saudi yang disambut hangat oleh pihak kerajaan.

Relasi Sino-Saudi ini sangat menarik. Saudi adalah negara anti-komunis dan selalu medukung langkah-langkah Amerika Serikat (AS) dalam memerangi “bahaya laten komunis” di tingkat global dan international. Pada waktu Perang Dingin antara AS dan Soviet berkobar, Saudi salah satu negara yang berada di barisan paling depan mem-back up AS. Saudi juga mendukung Amerika dalam upaya mengusir “Tentara Merah” Soviet yang menginvasi Afganistan sejak awal 1980-an.

Oleh karena itu tidak heran, kalau dulu hubungan Saudi dan China sangat buruk, terutama sejak rezim komunis Mao Tse Tung berhasil menaklukkan Tiongkok pada tahun 1949. Saudi tidak membuka hubungan diplomatik dengan PRC. Setelah Soviet tumbang pada 1989, dan China mulai melakukan “liberalisasi ekonomi” (yaitu setengah komunis, setengah kapitalis), Saudi kemudian mulai menjalin hubungan diplomatik dengan PRC pada tahun 1990.

Sejak itu, kedua negara mulai menjalin kerja sama bisnis. Para taipan China berbisnis di Saudi, para pengusaha Saudi berdagang di China. Puncaknya sejak 2000an, dimana kedua negara sangat intensif menggalang relasi bisnis yang nilai total investasinya bermilyar-milyar dollar. China tercatat sebagai negera pengekspor minyak terbesar dari Saudi. Demikian pula Saudi, tercatat sebagai partner bisnis terbesar China di kawasan Asia Barat. Saudi juga menjadi sponsor utama “Gulf and the Middle East for China”, sebuah perkumpulan bisnis di kawasan Arab Teluk dan Timur Tengah dengan PRC.

Karena hubungan baik antara kedua negara ini, maka tidak heran jika di Saudi ada buannyakkk sekaleee produk-produk “made in China” ini dari mobil, ponsel, komputer, TV dan barang-barang elektronik lain sampai aneka ragam pakaian: jubah, abaya, surban, “kupluk kaji”, dlsb. Produk-produk ini tidak hanya dijumpai di Riyad, Dhahran, atau Jeddah saja, tetapi juga di kota suci Makah dan Madinah.

Nah, lucunya, para jamaah haji & umrah dari Indonesia (juga dari negara-negara lain) berbondong-bondong memborong aneka ragam pakaian “made in China” tadi sebagai “oleh-oleh dari Tanah Suci” he he. Indahnya dunia. Takbirrr. [SQ]

Hubungan Baik China dengan Arab Teluk (01)

0

Selamat pagi (waktu Saudi) “murid-murid”. Hari ini “cikgu” mau melanjutkan “Kuliah Virtual” sebelumnya yang berjudul “China: Partner Strategis Negara-Negara Arab Teluk” (bagi yang “mbolos sekolah” dan belum sempat baca postingan ini, silakan dibaca dulu).

Seperti saya jelaskan, dulu, pada zaman “Perang Dingin” antara “Blok Kapitalis” Amerika melawan “Blok Komunis” Uni Soviet memang hubungan antara negara-negara Arab Teluk (Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain, dan Oman) dengan PRC (Republik Rakyat China) juga ikut “dingin” dan membeku karena PRC ngeblok Soviet, sedangkan negara-negara Arab Teluk ngeblok Ngamirika.

Tapi itu dulu mas bro dan mbak sis. Sekarang zaman sudah berubah: Soviet sudah jadi almarhum, PRC (China) sudah menjadi “negara gado-gado” setengah komunis dan setengah kapitalis. Bahkan sejak beberapa dekade silam, China atau Tiongkok lebih mengutamakan ekonomi dan kemajuan negara/rakyat ketimbang masalah ideologi.

Pelan tapi pasti, sikap negara-negara Arab Teluk atau biasa disebut GCC (Gulf Cooperation Council) juga berubah. Jika sebelumnya, mereka emoh membangun hubungan diplomatik dengan PRC, maka sejak pertengahan 1980-an, mereka mulai membuka diri dengan “Negeri Panda”. Pada tahun 1984, Uni Emirat Arab membuka hubungan diplomatik dengan China, Qatar menyusul pada tahun 1988, Bahrain pada 1989, lalu Saudi pada 1990.

Meskipun awalnya hubungan bilateral kedua negara (baik hubungan diplomatik “G to G” maupun relasi dagang “D to D”) masih “malu-malu kucing”, kini hubungan antara kedua kawasan ini (lagi, baik di jalur diplomatik mapun bisnis) sudah sangat terbuka dan terang-terangan berdasarkan azas simbiosis mutualisme. Sekarang “onta” dan “panda” saling berpelukan mesra.

Para petinggi dari kedua kawasan saling berkunjung dan menyambangi dengan hangat (silakan baca postinganku sebelumnya). Hasilnya luar biasa: hubungan ekonomi GCC-China saat ini jauh melebihi relasi antara RRI (Republik Rakyat Iran) dan RRC (Republik Rakyat China) yang sudah sejak lama menjalin hubungan mesra.

Pada tahun 2012 saja, perdagangan GCC-China mencapai $155 Milyar (bandingkan dengan Iran-China yang cuma $37 Milyar). Dalam satu dekade ke depan, GCC-China menargetkan $350 Milyar dalam investasi dagang. China sendiri, dalam satu dekade terakhir ini, merupakan eksportir terbesar (mengalahkan AS) untuk GCC dengan total ekspor senilai $60 Milyar per tahun. Sementara itu, China mengimpor minyak mentah dari GCC lebih dari 25% kebutuhan di negaranya (sedangkan impor minyak dari Iran hanya 9% saja).

Kerja sama bisnis saling menguntungkan itu dilakukan di hampir semua sektor: energi, pertambangan (perminyakan), infrastruktur, konstruksi, telekomunikasi, tekstil, transportasi, aerospace, keuangan, dlsb. Perusahan-perusahan raksasa di kedua kawasan saling berinvestasi dan membuka cabang di GCC dan PRC.

Awal tahun lalu, Presiden Xi Jinping kembali mengadakan lawatan ke Saudi (sebagai “bos” GCC) seperti foto di bawah ini (courtesy: Middle East Institute, Washington, DC) dan mengadakan pertemuan dengan Sekjen GCC, Abdul Latif bin Rasyid al-Zayani, untuk kembali memantapkan hubungan bisnis dan partnership PRC-GCC. Tahun sebelumnya, Presiden GCC Hamad bin Isa al-Khalifa yang juga Raja Bahrain, juga mengadakan lawatan ke China untuk memantapkan hubungan bilateral PRC-GCC. Dalam kunjungannya ke Saudi ini, Presiden Xi ditemani oleh sejumlah elit pejabat PRC seperti Yang Jiechi, Wang Huning, Li Zhanshu, dlsb.

Kerjasama positif-konstruktif PRC dengan GCC (dan juga Timur Tengah secara umum) ini dilakukan di bawah platform dan strategi “One Belt, One Road” yang diinspirasi oleh filosofi kuno Tiongkok Tai Chi yang menekankan pada keseimbangan Yin dan Yang sebagai pembentuk Tao. Bagimana kisah selanjutnya hubungan mesra mereka? Faktor-faktor mendasar apakah yang mendasari hubungan mesra mereka yang dulu begitu “dingin” kini menjadi “hangat”?

Bersambung lagi ya? Ayo nyusu lagi biar tambah gede dan tambah pinter, tidak “osang-aseng”, “komunas-komunis” melulu. Basi tahu. [SQ]

Hubungan Baik Arab Teluk dengan China (3)

0

Theodore Karasik, pengamat geopolitik Arab Teluk dan mantan direktur di Institute for Near East and Gulf Military Anaysis di Uni Emirat Arab dan Libanon, dengan cermat menulis: “the Gulf states approach to China has gradually shifted from alarm to embrace over the past three decades.”

Memang, seperti saya jelaskan dalam kuliah virtual sebelumnya sejak 2-3 dasawarsa lalu hubungan bilateral antara GCC (Gulf Cooperation Council atau negara-negara di kawasan Teluk Arab: Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain, dan Oman, yang sering disingkat “Arab Teluk” atau bahkan cuma disebut Teluk / Gulf saja) dengan PRC atau China telah berubah drastis: dari negatif ke positif, dari benci ke cinta, dari musuh ke teman.

Musuhan GCC-PRC adalah kisah masa lalu, ketika “perang ideologi” begitu dominan dan bergemuruh seantero jagat (dari Timur Tengah sampai Asia Tenggara) yang dikompori oleh Amerika Serikat dan Uni Soviet. Kini segalanya sudah berubah drastis tis. Perang ideologi adalah kisah masa silam. Kini relasi GCC-PRC sudah berubah total, seiring dengan rontoknya Soviet dan berubahnya kebijakan politik-ekonomi PRC.

Apa yang menjadi tema utama sekarang, baik untuk GCC maupun PRC, adalah bagaimana memerangi kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, dan seterusnya, di wilayah mereka masing-masing, agar masyarakat menjadi maju, pintar, dan modern. Karena itu, sejak dua dekade silam, GCC dan PRC fokus membangun kerja sama intensif-konstruktif di bidang ekonomi, pembangunan, teknologi, industri, pendidikan, dlsb.

Masalah ideologi sudah dikubur dalam-dalam. Saat ini tidak ada isu tentang ideologi komunisme meskipun produk-produk China (dari ponsel, tv, bus sampai jubah, abaya, dan celana dalam he he) “mengsunami” GCC, meskipun PRC menginvestasi ratusan milyar dollar di GCC, meskipun perusahan-perusahan raksasa PRC beroperasi di GCC. Masyarakat GCC juga sama sekali tidak membicarakan atau mengaitkan antara banjirnya produk-produk China itu dengan “ekspansi komunisme” misalnya seperti yang saat ini terjadi di Indonesia tercinta.

Bahkan sebaliknya, masyarakat setempat, khususnya kalangan menengah-bawah (termasuk kaum migran yang populasinya sangat besar di seantero GCC) bergembira ria alias “heppiii” menyambut produk-produk China yang murah-meriah sesuai dengan kantong mereka. Produk-produk China ini berkompetisi dengan produk-produk dari India yang juga relatif murah.

Sementara itu, untuk kalangan menengah-atas (baik dari segi finansial maupun pendidikan), termasuk kelompok elit, mereka cenderung memilih produk-produk Barat (khususnya Amerika dan Eropa Barat) karena persoalan “branding”, “image”, dan “gengsi”. Buat mereka, produk-produk China itu dianggap “imitasi” atau “KW” sehingga tidak bergengsi dan bisa “menurunkan wibawa” dan “status sosial” mereka di masyarakat dan komunitas tertentu. Meskipun banyak juga produk-produk Barat yang sebetulnya dibuat di China karena biaya operasional yang lebih murah.

Tapi bagi konsumen kelas menengah-atas, mereka tidak melihat murahnya harga. Bahkan semakin mahal barang tuh dianggap semakin asli, berkualitas, dan bergengsi tentunya bro. Kadang ada juga produk-produk (khususnya pakaian, supaya dianggap “berkualitas” harganya dinaikin atau lebel China-nya diganti). Jadi, bukan soal “komunis” atau “kapir” seperti yang dengan “lebay-njeblay” dipropagandakan oleh kaum unyu-unyu di Indonesia.

Bagi pemerintah GCC, membangun hubungan bilateral dengan China dipandang lebih aman dan nyaman karena PRC itu “tidak neko-neko”: bisnis ya bisnis. Pokoknya urusannya dagang, duit, fulus. Titik. Masing-masing heppiii. Itu beda dengan negara-negara Barat yang “berisik” sok campur tangan urusan dalam negeri GCC: soal demokrasi, HAM, feminisme, dlsb. PRC tidak mau mengurusi masalah “dalam negeri” GCC. Demikian juga sebaliknya GCC juga tidak tertarik mengurusi “daleman” PRC. Masing-masing saling menghormati urusan rumah tangga masing-masing. Beres kan?

Tapi ini bukan satu-satunya alasan, masih ada sejumlah alasan mendasar lain yang menjadi fondasi hubungan baik GCC-PRC. Tapi bersambung lagi aja ya. Mari nyusu lagi biar tambah gede dan pinter supaya besuk besar bisa jadi dokter bukan provokator. [SQ]