“Dokter Gelandangan” Michael Leksodimulyo
Bagi warga dan arek-arek Surabaya dan sekitarnya mungkin tidak asing lagi dengan nama Michael Leksodimulyo yang populer dengan sebutan “Dokter Spesialis Gelandangan”. Julukan ini disematkan kepadanya lantaran Dokter Michael, melalui “klinik keliling”, menyediakan pelayanan dan pengobatan gratis pada kaum dhuafa atau fakir-miskin yang tinggal di kompleks-kompleks kumuh, kolong jembatan, area pemakaman dlsb. Karena aktivitas sosial dan dedikasi kemanusiaan yang ia lakukan bersama Yayasan Pondok Kasih, dokter Katolik-Tionghoa ini berhasil meraih sejumlah penghargaan dari Kementerian Kesehatan RI hingga WHO (World Health Organization).
Tadi malam, Dokter Michael diundang sebagai narasumber (narsum) diskusi (via Zoom) oleh Perkumpulan Boen Hian Tong, Semarang, yang dikelola oleh sahabatku Pak Harjanto Halim. Karena tertarik, saya sempatkan untuk mengikuti diskusi bertema “Tionghoa Mengabdi” ini. Dari awal hingga akhir saya mendengarkan dengan seksama kisah-kisah heroiknya selama 13 tahun belakangan ini dalam mengabdi pada kemanusiaan, khususnya para manusia yang hidup mereka tidak beruntung secara finansial-ekonomi, yaitu kaum fakir-miskin, khususnya kaum fakir-miskin kota, baik yang balita maupun lansia, dari berbagai latar belakang etnis dan agama.
“Saya melayani siapa saja yang membutuhkan pengobatan dan pertolongan dari etnis dan agama mana saja: Katolik, Protestan, Muslim, Buddha dan bahkan mereka yang tak beragama atau tidak mengakui Tuhan sekalipun,” paparnya. Dokter Michael yang bernama Tionghoa Tan Kian Gwan ini (mohon maaf kalau saya salah menulisnya) juga melayani kaum fakir-miskin di wilayah atau “kantong-kantong” konservatif-agama. Awalnya, tak jarang dia dimaki-maki oleh sejumlah orang dituduh melakukan “Kristenisasi” atau dituduh “Cino medit metitit” (pelit) karena hanya memberi sembako, mi instan, atau makanan. Bukan hanya itu saja. Ia juga pernah diusir, dilempar dengan makanan yang ia berikan, atau bahkan diludahi.
Tapi Dokter Michael bergeming. Ia tak memperdulikan semua itu. Ia tetap tersenyum, sabar, tabah, dan terus datang & melayani mereka yang membutuhkan hingga akhirnya mereka menyadari kalau apa yang Dokter Michael lakukan adalah murni pelayanan dan pengabdian kemanusiaan yang didasari pada spirit cinta-kasih tanpa embel-embel ormas, parpol, dan agama tertentu. “Mereka yang dulu sempat mencurigai, membenci, dan memusuhiku, kini jadi mendukungku,” katanya.
Bahkan di era awal Covid (sekitar Maret – Juni, 2020) di saat banyak dokter dan suster tiarap tak mau memberi pelayanan karena takut, ia rela “blusukan” ditemani istri tercintanya yang selalu mendukungnya. “Ditemani istriku, saya keliling membagikan sembako maupun memberi pengobatan gratis pada warga miskin di masa-masa awal Covid,” ungkapnya. “Sekarang ada lebih dari 360an yang menjadi relavan,” tuturnya.
Dokter Michael dan Yayasan Pondok Kasih bahkan tidak hanya bergumul di bidang pengobatan gratis saja tetapi juga bergerak di kebutuhan-kebutuhan dasar lainnya yang dihadapi warga fakir-miskin kota. Misalnya, membantu usaha mandiri kecil-kecilan, berternak atau bercocok tanam sistem hidroponik dlsb. Ia juga memprakarsai pendirian mushala, sekolah dan “tempat ngaji” untuk anak-anak Muslim yang tinggal di kompleks kumuh. “Saya sering memberi ‘sekolah Minggu’ disini tapi bukan untuk mengkristenkan mereka melainkan untuk berbagi tentang pentingnya cinta-kasih pada sesama umat manusia dan makhluk Tuhan,” terangnya.
*
Apa yang menyebabkan dokter Michael memilih jalan menjadi “dokter gelandangan”? Momen apa yang membuatnya pindah haluan menjadi “dokter keliling” melayani warga miskin kota? Peristiwa apa yang membuat dokter Michael memilih mundur dari jabatannya sebagai Staf Direksi Komite Mutu RS Adi Husada, Surabaya, dan memilih sebagai “dokter blusukan”?
“Suatu saat,” dokter Michael mengisahkan, “Saya diajak jalan-jalan oleh Ibu Hana Amalia Vandayani, Ketua Yayasan Pondok Kasih, untuk mendatangi warga miskin yang tinggal di tempat-tempat kumuh, kolong jembatan, atau kompleks pemakaman yang sulit mendapatkan akses kesehatan. Di tengah jalan kami memergoki orang tua berpenampilan lusuh dan berjalan “ngesot” terseok-seok mencoba menyeberang jalan raya. Seketika Ibu Hana minta turun dari mobil. Ia kemudian berlari menuju orang tua itu kemudian memeluknya erat dengan penuh kasih. Ibu Hana kemudian mengatakan padaku, orang tua ini dan fakir-miskin lain adalah mutiara Tuhan. Jika kamu merasa mencintai Tuhan, maka cintailah mereka dengan segenap hati dan pikiran.”
Momen itu telah meruntuhkan hati dokter Michael. Sesampai di rumah dia menangis sesenggukan hingga sang istri bertanya-tanya. Ada apa? Dipecat dari Rumah Sakit? Dokter Michael kemudian mengisahkan pengalamannya pada istri tercinta. Tak lupa ia mengutarakan maksudnya untuk mengajukan pengunduran diri sebagai Staf Direksi Komite Mutu RS Adi Husada supaya lebih fokus melayani masyarakat miskin kota yang membutuhkan pertolongan kesehatan dan pengobatan. Maka begitulah ia kemudian bergabung dengan Yayasan Pondok Kasih.
Selama ini, sebelum bergabung dengan Yayasan Pondok Kasih, dokter Michael merasa bersalah karena belum memenuhi “janji seorang dokter” dan belum mengabdi secara maksimal pada warga fakir-miskin. Padahal, ia sendiri berasal dari keluarga miskin. Orang tuanya adalah penjual sepatu di Pasar Turi, Surabaya. Karena itu mereka hanya bisa menangis saat Micahel remaja mengutarakan niatnya ingin kuliah di Fakultas Kedokteran yang tentunya sangat mahal. Meski orang tua membujuknya untuk mengurungkan niatnya karena tak mampu membiayainya, Michael bergeming. Ia bersikeras ingin menjadi dokter.
Tuhan pun akhirnya mendengar – dan mengabulkan – niat dan keinginannya. Maka, alhamdulilah, Puji Tuhan, ia pun mendapat beasiswa untuk kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi, Manado (kelak S2 ia tempuh di Universitas Airlangga). Tetapi karena tidak punya uang cukup untuk biaya perjalanan ke Manado, akhirnya ia pun nekad naik kapal barang dan bersembuny di kamar mesir. Ia keluar ruangan saat mau makan saja. Di Manado pun ia sempat bekerja sebagai pembantu rumah tangga supaya dapat tempat untuk tinggal dan makan.
Kini dokter Michael sudah memenuhi janjinya. Ia pun merasa lebih bahagia dengan jalan barunya yang ia tempuh itu. Tak lupa ia berterima kasih pada warga fakir-miskin yang telah membukakan mata-hatinya dan menunjukkan jalan baginya untuk mendapatkan “mutiara-mutiara” Tuhan yang terpendam di tempat-tempat kumuh, panas, dan pengap, bukan di tempat-tempat ibadah yang indah, ber AC, dan megah. (SQ)
Buddhism and worldliness in modern Taiwan
Buddhism has long been typified as an ascetic religion that puts emphasis on spirituality and otherworldliness. This article, examining the linkage between Buddhism and worldliness in contemporary Taiwan, challenges this conventional dominant view. Contrary to popular opinion, Taiwan has witnessed the emergence of the ‘earthly Buddha’, characterized by the desire to engage with worldly matters such as altruistic, capitalist, and economic activities.
Challenging Weber’s classical and controversial thesis and argument, this article shows that the Buddhist religious tradition, as practiced by such Buddhist groups as Fo Guang Shan, Tzu Chi Foundation, and Dharma Drum Mountain, has fostered the same Geist (spirit) as Protestantism and thereby contributed to the rise of bourgeois rational capitalism and anything related to worldly affairs, including the economy, charity, and humanity in contemporary Taiwan. (SQ)
Terrorism and Counterterrorism in Saudi Arabia
Since 2001, the Kingdom of Saudi Arabia has been fighting domestic terrorism and adopting policies and strategies in countering radicalism and terrorism. How effective are these policies, strategies, and tactics in combating terrorist ideology, reducing the number of terrorist activists and sympathizers, as well as preventing terrorist acts in the Kingdom? Although the government’s roles and efforts in counterterrorism programs are fruitful and advantageous, further strategic actions are necessary.
Berebut Umat Islam di Perang Dunia II
Sepanjang Perang Dunia II (PD II), di antara umat agama yang diperebutkan oleh negara-negara kolonial adalah umat Islam. Pada waktu itu, negara-negara raksasa yang terlibat dalam PD II yang memperebutkan populasi umat Islam adalah Amerika Serikat, Uni Soviet, Inggris, Jerman, Itali, Prancis, dan Jepang, sekadar menyebut sejumlah nama.
Sebagian kawasan Muslim, pada waktu PD II berlangsung, memang dikuasai oleh negara-negara tersebut sehingga wajar jika umat Islam kemudian diperebutkan bak gadis molek yang lugu. Negara-negara yang terlibat dalam PD II saat itu sama-sama melihat Islam dan kaum Muslim sebagai entitas dan kekuatan yang sangat penting dan strategis untuk dijadikan kawan atau partner guna menggempur rival-rival politik mereka.
Kala itu, otoritas politik umat Islam tidak ada lagi yang dominan. Emperium Turki Usmani (Ottoman) yang selama berabad-abad menjadi pemain politik utama sudah tumbang pada 1918–20 dikeroyok oleh berbagai kekuatan: Eropa, Arab, Kurdi, dan lainnya (silakan baca buku Eugene Rogan, The Fall of the Ottomans). Jadi, nyaris umat Islam menjadi “obyek bancaan” negara-negara non-Muslim.
Sejarawan David Motadel dari London School of Economics and Political Science mencatat sekitar 150 juta umat Islam yang tinggal di antara kawasan Afrika Utara dan Asia Tenggara berada di bawah kekuasaan Inggris dan Prancis, dan lebih dari 20 juta jiwa kaum Muslim berada di bawah Uni Soviet. Jerman dan Jepang belakangan menyusul.
Jepang menguasai Asia Tenggara, khususnya Indonesia, sementara Jerman memperluas pengaruh politiknya ke teritori yang banyak dihuni oleh umat Islam: Balkans, Afrika Utara, Crimea, Caucasus, Timur Tengah, dan kemudian Asia Tengah.
Masing-masing negara adidaya itu berlomba-lomba “mengambil hati” umat Islam dengan berbagai cara: dari membuat lembaga-lembaga agama dan mendirikan masjid dan madrasah hingga mengklaim sebagai “pelindung sejati” agama Islam dan kaum Muslim dari ancaman dan gempuran negara-negara lain. Bukan hanya itu, mereka juga memperkerjakan kaum Muslim di berbagai sektor.
Otoritas Jerman, misalnya, pada 1942, mendirikan sejumlah institusi untuk Muslim seperti Berlin Islamic Central Institute dan memperkerjakan para tokoh dan sarjana Muslim dari berbagai kawasan. Pada 1937, Benito Mussolini (1883-1945), pemimpin fasis Itali, mendeklarasikan diri sebagai “Pedang [pelindung] Islam” dan “Penjaga Syariat”.
Bersama para propagandisnya, ia keliling Timur Tengah dan Afrika untuk menggaet simpati umat Islam dan mengajak kaum Muslim bekerja sama dengan rezim Fasisme memerangi musuh-musuh Itali.
Para negara sekutu anti-Jerman dan Itali juga melakukan hal yang sama. Pemerintah Inggris pada tahun 1941 mendirikan East London Mosque dan juga London Central Mosque (didirikan oleh Churchill War Cabinet). Sir Winston Churchill (1874-1965), Perdana Menteri Inggris pada periode 1940–45 dan 1950–55, memandang Islam sebagai “ancaman potensial” sekaligus instrumen kuat untuk peperangan politik.
Churchill sendiri pernah bertugas menjadi tentara di Afrika dimana ia menyaksikan “Pemberontakan Mahdi Sudan” sehingga ia mengerti potensi bahaya antiimperialisme Islam bagi kolonialisme. Kepada jajaran pemerintahannya, Churchill menyerukan dan menginstruksikan untuk tidak memutus hubungan dengan kaum Muslim karena mereka menjadi komponen utama di negara-negara jajahan Inggris, dan bahkan menjadi bagian dari sistem ketentaraan Great Britain, khususnya di British Indian Army.
Setali tiga uang, Amerika Serikat juga melakukan hal yang sama. Sejak 1940-an, Departemen Perang Amerika melatih para tentaranya bagaimana bersikap baik dan berinteraksi dengan benar terhadap kaum Muslim. Para tentara juga dibekali dengan “buku panduan” tentang pengetahuan dasar Islam. Kapan pun tentara Amerika tiba di kawasan Muslim, maka berbagai kebijakan politik dan propaganda perang selalu menjadikan Islam sebagai pertimbangan utama.
Di Timur Tengah dan Afrika Utara selebaran-selebaran propaganda itu ditulis dalam Bahasa Arab dengan mengutip ayat al-Qur’an, Hadits, atau idiom-idiom keislaman tentang kewajiban jihad bagi Muslim untuk membela “negeri” dan memerangi “musuh-musuh Islam”.
Di Maroko, misalnya, pamflet-pamflet propaganda Amerika (yang konon ditulis oleh Gordon Brown dan Carleton Coon) tertulis: “Para pahlawan suci Amerika telah tiba untuk berperang dan berjihad bersama Muslim demi kebebasan”. Demikian tulis Steve Cool, Dekan Columbia University Graduate School of Journalism.
Yang menarik adalah Uni Soviet. Meskipun negara komunis ini pernah memiliki sejarah buruk dengan umat Islam, pada saat PD II, Kremlin juga mengubah strategi, taktik, dan kebijakan yang pro-Islam. Pada tahun 1942, rezim Kremlin membentuk empat Dewan Muslim Soviet atau “direktorat spiritual”.
Soviet juga mendirikan masjid-masjid baru, mengorganisir kongres atau konferensi Muslim, membolehkan Muslim melakukan ibadah secara terbuka, serta mengizinkan umat Islam melakukan ibadah haji yang sebelumnya dilarang. Mungkin karena didorong oleh sejumlah kebaikan rezim Soviet ini, mufti Soviet, Abdurrahman Rasulaev, melakukan kampanye penggalangan umat Islam di Soviet agar mereka mendukung “tentara merah” dalam melakukan perlawanan terhadap Nazi Jerman.
Sebagaimana kawasan-kawasan berpenduduk mayoritas Muslim, Indonesia juga mengalami hal yang sama. Kali ini aktornya adalah Jepang. Sama seperti negara-negara kolonial lain, pada tahun 1940-an Jepang juga melakukan pendekatan intensif terhadap umat Islam. Pada waktu itu, tentara Jepang membentuk kelompok-kelompok milisi jihad, membentuk sejumlah lembaga dan organisasi keislaman serta mendekati dan mengkooptasi para ulama, klerik, dan pemimpin Muslim yang kecewa dengan Belanda.
Jepang juga menginstruksikan para imam, ulama, dan khatib agar berdoa untuk pemimpin Jepang dan kemenangan tentara Jepang dalam perang melawan Belanda dan sekutu. Sama seperti negara-negara kolonial lain yang diuraikan diatas, Jepang juga mengklaim sebagai pelindung sejati Islam dan kaum Muslim.
Paparan singkat di atas bukan hanya cerita tentang upaya sejumlah rezim non-Muslim untuk menjadikan Islam dan kaum Muslim sebagai instrumen kepolitikan dan kemiliteran saja, tetapi juga kisah tentang dinamika sejarah politik umat Islam saja.
Sejarah mencatat, banyak umat Islam yang terperdaya dan termakan kampanye dan propaganda negara-negara kolonial selama PD II itu. Kala itu, banyak kaum Muslim yang dimobilisir untuk bergabung dengan “negara-negara perayu” tersebut menjadi milisi atau “foot soldiers” melawan negara-negara lawan. Banyak para ulama dan tokoh Muslim berpengaruh waktu itu yang menjadi “anjing poodle” atau “burung beo” yang membebek pada negara-negara tertentu.
Jika Mufti Kremlin Abdurrahman Rasulaev menyerukan umat Islam Soviet untuk berperang melawan Nazi Jerman, Mufti Yerusalem Amin Al-Hussaini menginstruksikan kaum Muslim untuk berjuang bersama Hitler dan tentara Nazi melawan Soviet, Inggris, dan Yahudi. Sementara para ulama dan tokoh Muslim lain terang-terangan membela Amerika, Inggris, atau Itali.
Kisah tentang mudahnya umat Islam dimobilisir oleh propaganda-propaganda asing tersebut bukan berakhir seiring dengan berakhirnya PD II. Memang, PD II telah berhenti tetapi kampanye dan propaganda atas umat Islam yang dilakukan oleh “kekuatan-kekuatan asing” itu tak pernah berhenti. Sejarah memilukan PD II masa lalu yang bahkan perang antarumat Islam terus terulang kembali hingga dewasa ini.
Dari dulu hingga kini, umat Islam, baik elite maupun massa, memang sangat fragile atau ringkih sehingga gampang diperdaya oleh siapa saja yang mempunyai kepentingan politik, ideologi, maupun ekonomi. Jika para elite Muslim gampang disogok untuk mendukung kepentingan-kepentingan politik-ekonomi-ideologi orang dan kelompok tertentu, rakyat bawah mudah dikibuli dan disulut dengan kampanye atau propaganda yang memakai idiom-idiom Islam.
Mereka mudah sekali tersulut hanya dengan sejumlah kata: jihad, kafir, zalim, dajjal, dan semacamnya tanpa mempelajari terlebih dahulu sejarah, makna, dan konteks kata-kata tersebut.
Itulah yang terjadi di Afganistan, Irak, Libia, Suriah, Tunisia, Yaman, Mesir, Sudan, dan masih banyak lagi. Umat Islam gampang sekali diperdaya untuk berkoalisi dengan rezim-rezim non-Muslim (apa pun ideologi mereka: kapitalisme, komunisme, fasisme, naziisme dan seterusnya) dan bertempur melawan sesama Muslim.
Tetapi, ironisnya, ada sejumlah kelompok umat Islam yang terus-menerus lebih suka menyalahkan “asing” sebagai biang kerok kehancuran umat Islam tanpa melakukan instrospeksi diri. Padahal, yang terjadi, umat Islam sendiri juga turut berkontribusi menghancurkan diri mereka sendiri lantaran dengan mudahnya dipecah-belah, diadu domba, diprovokasi, dan dipropagandai oleh berbagai kekuatan, baik yang datang dari luar maupun dari dalam tubuh umat Islam itu sendiri.
Selama umat Islam masih lugu, maka selama itu pula mereka tak akan mampu bangkit dari keterpurukan. (SQ)
Kaum Muslim di Amerika
Pada akhir abad ke-19, Robert Bayles, Presiden Market and Fulton National Bank di kota New York, Amerika Serikat, menelusuri catatan-catatan serta peninggalan-peninggalan sejarah leluhurnya. Ia mengaku terkejut ketika menemukan sejumlah “pusaka keluarga” (heirloom) yang diduga milik Anthony Jansen van Salee yang juga populer dengan panggilan Anthony Jansen van Vaes atau Anthony “the Turk.” Pusaka keluarga milik Robert Bayles tersebut termasuk sebuah panci perunggu, teko teh, dan sebuah Alqur’an. Bayles tahu bahwa istilah “Turk” (“orang/bangsa Turki”) pada waktu itu merupakan panggilan miring (pejoratif) untuk semua kaum Muslim darimana pun mereka berasal, apapun bangsa dan etniknya, tidak sebatas orang Turki.
Sebutan “Turk” kurang lebih sama dengan “Moor” atau “Moro” dalam bahasa Spanyol yang juga merupakan panggilan pelecehan orang-orang Kristen Eropa abad pertengahan yang ditujukan untuk seluruh kaum Muslim tidak melulu warga Muslim Moor di Maroko. Panggilan miring non-Muslim terhadap kedua suku bangsa Muslim ini bisa dimaklumi mengingat baik bangsa Moor maupun Turki pada zamannya merupakan orang-orang Muslim gagah perkasa yang tak tertandingi sehingga membuat bangsa dan pengikut agama lain miris.
Suku Moor-lah yang menaklukkan dan menguasai sejumlah wilayah kerajaan-kerajaan Kristen di Eropa yang kemudian sukses mendirikan Dinasti Andalusia (kini masuk wilayah Spanyol, Portugal, Gibraltar, Andorra dan Perancis) selama beberapa abad (dari abad ke-8 sampai 15). Bangsa Turki juga, melalui kendaraan “Kerajaan Ottoman,” selama lebih dari enam abad sejak didirikan oleh Osman Bey tahun 1299 telah melanglangbuana di berbagai penjuru dunia menaklukkan berbagai negeri dan kerajaan sebelum akhirnya tumbang pada tahun 1922.
Jadi meskipun disebut Anthony “the Turk”, bukan berarti bahwa ia berasal dari Turki tapi sekedar untuk menandai bahwa ia adalah “Muslim.” Yang menarik adalah sebutan Anthony “van Salee” atau “van Vaes” yang bisa jadi menunjukkan bahwa Anthony ini, leluhur Robert Bayles tadi, berasal dari daerah Sale atau Fez di Maroko. Menurut sejarawan Kambiz GhaneaBassiri dari Reed College, Oregon, AS, dalam bukunya The History of Islam in America, Anthony bermigrasi—dan kemudian menetap sebagai petani dan buruh—ke New Amsterdam (kini New York) sekitar tahun 1630.
New York ini dulu menjadi bagian dari jajahan atau koloni Belanda (Dutch West India Company) karena itu kota di daerah Pulau Menhattan ini dulu bernama “New Amsterdam”. Melalui sebuah perjanjian antara Belanda dan Inggris, wilayah New Amsterdam kemudian diserahkan ke Inggris sekitar tahun 1665. Sejak itu berganti nama menjadi New York yang merupakan penghargaan terhadap bangsawan Inggris “Duke of York” (James II of England). Sebagai gantinya, Belanda mendapatkan Pulau Banda di Maluku. Jelasnya, New York ditukar dengan Banda. Belanda rela menyerahkan New York ke Inggris karena mereka tahu Banda merupakan daerah subur pusat rempah-rempah dunia, khususnya pala dan cengkih, yang bernilai jual tinggi di pasaran Eropa kala itu.
Anthony “van Vaes” ini diduga sebagai penghuni Muslim pertama yang menetap di Amerika, meskipun ia bukan orang pertama yang melintas atau singgah di kawasan ini. Sejak penemuan Benua Amerika pada akhir abad ke-15 oleh Christopher Columbus (1451-1506), seorang admiral dan penjelajah ulung berkebangsaan Itali yang bekerja sebagai petinggi di Kerajaan Spanyol, yang kemudian diikuti oleh kolonisasi Spanyol atas Amerika Latin, orang-orang Eropa berbondong-bondong pindah ke daerah baru ini termasuk orang-orang Afrika Utara dan Afrika Barat yang didominasi Muslim yang didatangkan ke Amerika oleh otoritas Kerajaan Spanyol dan Inggris sebagai budak dan buruh kasar.
Salah satu yang terkenal di antara mereka adalah Estevanico de Dorantes yang digambarkan dalam sejarah awal Amerika sebagai “seorang Arab berkulit hitam berasal dari Azamor, Maroko.” Estevanico ini ditengarai sebagai orang Afrika dan Muslim pertama yang mendarat di Amerika khususnya di kawasan New Mexico dan Arizona. Perlu diketahui bahwa penggunaan “nama-nama Eropa” seperti “Anthony” dan “Estevanico” dan bukan “nama-nama Islam” atau nama-nama Arab hanyalah “strategi budaya” semata-mata demi alasan keamanan saja guna menghindari stigma negatif sebagai Muslim di tengah masyarakat non-Muslim.
Meski ada banyak praduga mengenai orang-orang Islam pertama yang singgah di Amerika, data dan teori yang absah mengenai generasi Muslim awal Amerika ini masih simpang siur. Berikut ini penuturan mendiang Caesar E. Farah, mantan sejarawan Islam dari Universitas Minnesota,
“Cerita tentang asal-usul Islam di Amerika terjadi jauh sebelum kolonisasi Eropa di benua ini. Sebagian mengatakan bahwa orang-orang Muslim Andalusia telah menjelajah ke Amerika jauh sebelum Christopher Columbus seperti dilaporkan oleh ahli geografi Muslim, Al Idrisi (1099-1165). Sumber lain mengklaim bahwa orang-orang Muslim dari Afrika Barat telah mendarat di kawasan Karebian. Sumber lain lagi menyebutkan bahwa expedisi laut ke Amerika yang dilakukan oleh Kerajaan Spanyol dan Portugis sebetulnya dipimpin oleh para perwira dan ahli navigasi Muslim yang sudah lama menguasai dunia laut dan sistem navigasi. Sejumlah penjelajah ini dikenal dengan sebutan Moriscos, orang-orang Muslim dari Andalusia yang berpura-pura menjadi Kristen. Para imigran Muslim dari Maroko juga pernah dikabarkan memimpin penyerangan melawan tentara laut Portugis dan Spanyol di pulau Karibean, Amerika.”
***
Meski dipastikan kaum Muslim sudah mendarat di Amerika jauh sebelum Columbus melalui jaringan kekuasaan kerajaan-kerajaan Islam Mamluk, Andalusia, atau Ottoman, arus migrasi kaum Muslim ke AS dalam jumlah signifikan baru terasa sejak akhir abad ke-18 terutama setelah pendirian negara AS pada tahun 1776. Sebagai penguasa baru menggantikan Inggris, Amerika membutuhkan banyak budak untuk dipekerjakan di berbagai sektor pembangunan serta pembukaan lahan baru (babat alas) di berbagai wilayah di AS yang masih belantara. Para budak itu kebanyakan didatangkan dari Afrika. Tercatat pada tahun 1800, ada sekitar 500 ribu budak dari Afrika di AS. Para sejarawan, misalnya Michael Gomez, menaksir sekitar 30% dari para budak laki-laki dan 15% budak perempuan beragama Islam. Hal ini bisa dimaklumi mengingat para budak itu didatangkan dari berbagai kawasan Afrika yang diantaranya sudah lama diislamkan oleh para penguasa Muslim, misalnya Afrika Utara dan Afrika Barat.
Migrasi kaum Muslim dari Turki dan Yaman, meski dalam jumlah terbatas, baru terjadi pada 1840 sampai berakhirnya Perang Dunia I. Tidak seperti para budak tadi, kaum “migran sukarela” Muslim ini datang ke AS semula hanya untuk mencari pekerjaan sementara dan pulang setelah mendapat uang. Tetapi karena ekonomi AS memburuk pada abad ke-19, akhirnya memaksa mereka menetap disana. Para migran Muslim ini tinggal dan menetap di berbagai daerah seperti Dearborn (Michigan), Quincy (Massachusetts), Biddeford (Maine), Ross (North Dakota), dlsb. Di daerah Ross ini terdapat situs masjid dan kuburan Muslim.
Tidak seperti kaum migran China yang umumnya membentuk koloni di sebuah daerah yang kemudian populer dengan sebutan “China Town” atau “pecinan”, kaum Muslim di AS cenderung menyebar, bergabung, dan membaur dengan masyarakat yang sudah ada. Karena itu di AS hampir-hampir susah menemukan secara khusus “kampung Muslim” misalnya. Hal ini tentu berbeda dengan pecinan yang mudah dijumpai dimana-mana terutama di kota-kota besar seperti New York, Boston, Los Angeles, San Francisco, Philadelphia dan lain-lain. Komunitas Muslim dari China yang bermigrasi ke AS juga bergabung dengan sesama warga China, bukan sesama Muslim. Beberapa tokoh Cina Muslim yang terkenal di AS antara lain Jenderal Ma Hongkui, Ma Dunjing, Pai Shien-yung, dlsb.
Satu-satunya “daerah Muslim” yang terkenal di AS adalah Dearborn, sebuah kota di kawasan metropolitan Detroit di Negara Bagian Michigan yang berpenduduk kurang lebih 100 ribu jiwa. 40% dari jumlah penduduk ini, sekitar 40 ribu, beretnik Arab-Amerika. Belakangan orang-orang Lebanon juga bermigrasi ke Dearborn sehingga membentuk “koloni Lebanon” terbesar di AS. Juga ikut bergabung ke kota ini orang-orang pengungsi Palestina dan Irak akibat dilanda perang di negara mereka. Meski mereka beretnik Arab, bukan berarti secara otomatis mereka beragama Islam. Banyak dari mereka yang beragama Kristen seperti pengikut Moronite, Ortodhox Syria, Koptik dan sebagainya.
Orang-orang Arab ini sudah datang ke AS sejak awal abad ke-20 untuk bekerja di industri otomotif. Detroit memang dikenal sebagai “kota otomotif” di AS. Di kota Dearborn inilah Henry Ford, pendiri perusahaan “Motor Ford” dilahirkan, dan markas besar Ford Motor Company yang megah dibangun. Selain bekerja di pabrik-pabrik otomotif, orang-orang Arab juga mengelola toko dan berbagai bisnis lain. Sangking banyaknya orang-orang Arab di kota ini, pelayanan publik dilakukan dalam dua bahasa: Inggris dan Arab.
Karena didukung oleh ekonomi yang baik, komunitas Muslim Arab di Dearborn ini mendirikan sejumlah bangunan megah seperti Arab American National Museum. Pengikut Shiah dari Iraq dan Lebanon juga mendirikan masjid bernama Islamic Center of America. Masjid ini merupakan masjid terbesar sekaligus masjid Shiah tertua di Amerika. Selain dikenal sebagai “kota Muslim”, Dearborn juga populer dengan sebutan “jantung Shiah” di Amerika mengingat banyaknya komunitas agama ini yang tinggal disana. Mesjid yang diarsiteki oleh David Donnellon ini dibangun tahun 1963 oleh Muhammad Jawad Chirri yang kemudian menjadi direktur dan imam masjid sampai ia wafat tahun 1994. Setelah ia meninggal, masjid megah ini kemudian dipimpin oleh imam Shiah dari Iraq bernama Sayed Hassan al-Qazwini. Perlu diketahui, banyak masjid di AS menggunakan nama “Islamic Center” bukan “masjid” (mosque) meskipun ada juga yang menggunakan nama “mosque” atau “masjid.”
Bagi kebanyakan kaum Muslim di AS, nama “Islamic Center” dipandang lebih aman untuk digunakan ketimbang nama “masjid” yang bisa mengundang kontroversi terutama bagi non-Muslim yang anti-Islam. Pada tahun 2011, masjid Shiah ini pernah menjadi target kekerasan seorang warga Kalifornia, Roger Stockham, yang akhirnya ditangkap polisi karena hendak meledakkan bangunan ini. Ciri lain dari masjid-masjid di AS adalah “bernuansa etnis.” Kebanyakan yang mendirikan masjid di AS adalah komunitas etnis tertentu yang sudah lama menetap di AS. Karena itu masjid-masjid di AS dikenal dengan sebutan-sebutan “masjid Arab,” “masjid Pakistan”, “masjid Turki”, “masjid Kurdi” (didirikan oleh warga suku Kurdi yang tersebar di Iraq, Yordania atau Turki) dan seterusnya. Komunitas Muslim Indonesia juga mendirikan masjid di Philadelphia (populer dengan sebutan Masjid Al-Falah). Kini warga Muslim Indonesia sedang menggalang dana untuk mendirikan masjid baru di Pittsburg, Pennsylvania.
Selain masjid Shiah diatas, juga terdapat masjid Sunni di Dearborn bernama “Dearborn Masjid”, yang merupakan salah satu masjid tertua di AS. Masjid ini dibangun tahun 1937 oleh para pengikut Sunni Arab. Masjid yang kini dipimpin oleh Sheikh Hamood Affif yang bermazhab Syafii ini mencatat sejarah unik di AS. Pada tahun 1980-an, pengadilan setempat memperbolehkan pihak masjid untuk menggunakan pengeras suara (loudspeaker) pada waktu azan, membatalkan gugatan sejumlah warga yang keberatan. Pengadilan berpendapat bahwa penggunaan pengeras suara ini seperti penggunaan bel di gereja karena itu diperbolehkan. Sejak itu masjid ini mencatat rekor sebagai masjid pertama—dan mungkin satu-satunya masjid di AS—yang menggunakan pengeras suara hingga suara azan terdengar keluar masjid seperti umumnya di Indonesia dan negara-negara mayoritas Muslim lain. Kebanyakan masjid di AS, seperti gereja dan bangunan ibadah lain, tidak menggunakan pengeras suara yang bisa terdengar sampai keluar masjid. Semua bangunan ibadah di AS didesain kedap suara sehinggap hanya terdengar dari dalam ruangan saja.
Menurut data yang dirilis oleh U.S. Mosque Study Project, pada tahun 2011 ada sekitar 2,106 masjid di seluruh AS yang disponsori oleh berbagai kelompok etnik, ormas Islam, dan lembaga riset. Negara Bagian di AS dengan bangunan masjid terbanyak adalah New York, California, Texas, Florida, dan New Jersey. Tidak selamanya pendirian masjid di AS berjalan mulus. Berdasarkan studi yang dilakukan Pew Research Center, setidaknya ada sekitar 53 masjid yang proses pendiriannya mengalami kesulitan akibat protes dari warga sekitar lokasi masjid yang akan didirikan. Kebanyakan protes itu berkaitan dengan masalah parkir, nilai properti, trafik, kebisingan dan lain-lain meski ada di beberapa daerah yang protes pendirian masjid karena alasan kekhawatiran tentang pengaruh Islam dan terorisme. Protes sebagian warga juga dilakukan terhadap proses pendirian gereja, sinagog, dan tempat-tempat ibadah lain dengan alasan mengganggu kenyamanan dan ketertiban. Tidak seperti di Indonesia dimana sejumlah kelompok “Muslim pentungan” sering ngamuk terhadap pendirian sejumlah gereja tertentu, protes warga di AS dilakukan lewat pengadilan. Jika pengadilan memenangkan gugatan warga yang protes, maka pendirian masjid dibatalkan. Tetapi jika gugatan warga di pengadilan kalah, maka pendirian masjid terus berlanjut.
Pada umumnya masjid-masjid di AS dibangun sejak 1960-an. Sebelum itu, hanya segelintir masjid saja yang berhasil dibangun. Tercatat masjid tertua di AS dibangun pada tahun 1915 di daerah Biddeford, Maine, oleh komunitas Muslim dari Albania. Kemudian diikuti oleh Masjid Al-Sadiq yang didirikan oleh komunitas Ahmadiyah tahun 1921, lalu “Masjid Dearborn” milik Sunni seperti dituturkan di atas. Meski bangunan fisik masjid baru ada sejak 1915, sejumlah masyarakat Islam sudah mendirikan ormas dan sekolah sebelum itu. Tercatat pada tahun 1906, kaum Muslim Bosnia di Chicago, Illinois, misalnya, sudah mendirikan sebuah perkumpulan bernama “Jama’ah al-Khairiyah”. Di bawah bimbingan Sheikh Kamil Avdich, mereka menggelar “Sekolah Minggu” (sekolah yang dilakukan setiap hari Minggu) untuk mengajarkan pelajaran keislaman dan Al-Qur’an.
Tidak seperti di Indonesia pada umumnya, masjid-masjid di AS tidak hanya berfungsi untuk salat saja tetapi juga untuk sekolah, rapat, makan-makan dan berbagai aktivitas lain. Karena itu masjid-masjid di AS dilengkapi dengan berbagai ruangan, sarana, dan fasilitas publik. Ini membuat masjid-masjid di AS sangat dinamis karena padat dengan aktivitas. Para pengurus masjid kebanyakan berpendidikan tinggi bergelar doktor dan banyak yang menjadi profesor di kampus. Menghadapi jamaah yang kebanyakan dari kelas terdidik mengharuskan para takmir dan pengelola masjid juga harus berasal dari orang-orang yang berpendidikan, tidak melulu sekolah agama.
Sering setiap salat Jum’at ada sejumlah orang non-Muslim AS yang mengikuti prosesi Jum’atan sejak khotbah sampai salat. Biasanya mereka yang ikut berpartisipai dalam Jum’atan itu sedang melakukan penelitian tentang kaum Muslim, tugas dari lembaga-lembaga interfaith kampus untuk menjalin hubungan dengan warga Muslim, atau bahkan ingin “mengalami keberislaman” atau melihat dari dekat aktivitas kaum Muslim. Para pengurus masjid selalu terbuka dengan “para pengamat” dan peneliti non-Muslim ini. Seorang takmir masjid keturunan India di South Bend, Indiana, menuturkan kepada saya bahwa tidak sedikit warga AS yang semula jadi “pengamat salat Jum’at” ini kemudian menjadi mualaf. “Alhamdulillah,” katanya penuh bangga. Saya hanya manggut-manggut saja mendengarkan penuturannya.
***
Salah satu gerakan yang membuat Islam populer dan mencuri perhatian luas publik AS adalah gerakan nasionalis-keagamaan yang diprakarsai oleh kaum Muslim keturunan Afrika-Amerika (dikenal dengan sebutan Black Muslim). Kelompok Black Muslim ini merupakan mayoritas dari total warga Muslim di AS, kemudian disusul oleh warga keturunan Arab dan Asia Selatan (Pakistan, India, Bangladesh, Afghanistan). Sejak awal abad ke-20 kelompok Black Muslim ini sudah sangat aktif melakukan berbagai “perlawanan budaya” terhadap supremasi kulit putih. Pada tahun 1913 misalnya, Noble Drew Ali mendirikan sebuah grup atau ormas bernama Moorish Science Temple of America yang berbasis pada ajaran-ajaran Islam dan “tradisi Afrika.” Drew Ali mengatakan bahwa orang-orang Afrika di AS pada mulanya adalah keturunan Bangsa Moor yang beragama Islam. Tetapi identitas keislaman mereka “dibajak” oleh orang-orang kulit putih melalui sistem perbudakan dan segregasi ras. Oleh karena itu, melalui ormas ini, ia mengajak orang-orang Afrika di Amerika untuk “kembali ke jalan yang benar” dengan kembali menjadi Islam yang beridentitas Moor.
Ormas Islam paling besar, paling populer sekaligus paling kontroversial di AS yang diprakarsai warga Muslim Afrika-Amerika adalah Nation of Islam (NOI). Ormas ini dibentuk tahun 1930 oleh Wallace Fard Muhammad (lahir 1893) yang oleh sejumlah pengikut fanatiknya dianggap sebagai “nabi.” Diinspirasi oleh ajaran-ajaran Noble Drew Ali, Fard Muhammad kemudian mengajarkan tentang “suprimasi kulit hitam” (warga keturunan Afrika). Ia juga memberi label warga kulit putih (warga Amerika keturunan Eropa) sebagai “si jahat” yang tidak manusiawi karena telah memperbudak dan tidak memanusiakan warga kulit hitam. Selanjutnya Wallace Fard merumuskan tiga prinsip utama yang menjadi fondasi NOI yaitu (1) Allah sebagai Tuhan, (2) kulit putih sebagai sumber kejahatan, dan 3) orang-orang Negro adalah ras paling unggul di planet bumi.
Popularitas NOI mulai melambung sejak ormas ini dipimpin oleh Elijah Muhammad (1897-1975) tahun 1934. Elijah Muhammad yang merupakan mentor dari sejumlah tokoh Muslim penting di AS, antara lain Malcolm X, Louis Farrakhan, Muhammad Ali, Warith Deen Mohamed dll, telah berhasil menata NOI menjadi ormas modern dan berpengaruh di AS. Elijah jugalah yang mula-mula menganggap Wallace Fard sebagai inkarnasi Tuhan, Mesiah, Imam Mahdi serta dan rasul yang dibimbing langsung oleh Allah untuk bangsa Amerika. Elijah juga berhasil memprakarsai sejumlah masjid yang diberi nama “temple”, universitas (Muhammad University of Islam), sejumlah perusahaan di bidang pertanian dan real estate dlsb.
Meski mendapat sorotan dan kritik tajam dari warga kulit putih—bahkan hingga sekarang radikalisme Islam di AS selalu dikaitkan dengan NOI— ajaran-ajaran NOI berhasil merebut hati banyak warga Afrika non-Muslim dari berbagai kalangan—buruh, mahasiswa, kaum profesional, dll—untuk melakukan konversi memeluk agama Islam. Pada waktu itu NOI dianggap sebagai gerakan nasionalis-keagamaan berbasis Islam-Afrika, representasi warga kulit hitam sekaligus “simbol perlawanan” terhadap kulit putih. Perlu diketahui bahwa selama bertahun-tahun praktek politik Amerika sangat diskriminatif. Meski dalam Konsitusi Amerika tidak diakui adanya sistem perbudakan dan praktek diskriminasi, realitas politik berbicara lain. Sampai pada 1960-an ketika terjadi gerakan nasional penghapusan sistem diskriminasi yang populer dengan sebutan “Civil Rights Movement” yang dipimpin Martin Luther King, Jr., politik segregasi ras-etnik, khususnya kulit putih vs. kulit hitam, sangat terasa di AS. Dimana-dimana di area, fasilitas, dan bangunan publik selalu ditandai dengan tulisan-tulisan “khusus warga kulit putih” atau “untuk kulit hitam” (“Colored”) bahkan sampai toilet sekalipun dibedakan antara “toilet kulit putih” dan “toilet kulit hitam.” Intinya warga kulit hitam Afrika tidak boleh campur dan membaur dengan warga kulit putih.
Karena dianggap sebagai keturunan budak, warga kulit hitam Afrika ini selalu dinomorsekiankan dalam kepolitikan AS selama berpuluh-puluh tahun. Karena itu tidak mengherankan jika NOI kemudian sukses menggiring warga Afrika, baik Muslim maupun non-Muslim, untuk bergabung dengan ormas ini. Selain Elijah Muhammad, tokoh yang dipandang sukses mempengaruhi ratusan ribu warga Afrika-Amerika untuk berbagung dengan NOI adalah Malcolm Little atau populer dengan sebutan Malcolm X, seorang aktivis dan orator ulung yang sering disejajarkan dengan tokoh legendaris Martin Luther King, Jr. Pidato Malcolm X yang bergemuruh dan menganggap Kristen sebagai “agama orang kulit putih” mampu menyihir ribuan warga Kristen Afrika untuk pindah menjadi Muslim. Mungkin warga Kristen Afrika di AS kala itu berpikir, apalah artinya menjadi Kristen, jika sesama warga Kristen sendiri tidak menghargainya hanya karena perbedaan warna kulit. Di kalangan Kristen sendiri, politik segregasi ras ini juga mendorong lahirnya “black liberation theology” yakni teologi pembebasan untuk orang-orang tertindas (warga kulit hitam baik di Amerika maupun Afrika Selatan di masa rezim Aparthied) yang berakar pada tradisi Biblikal. Salah satu tokoh gerakan “black theology” ini adalah James Hal Cone.
Dalam perkembangannya NOI ini mengalami berbagai perubahan gerakan. Ketika Elijah Muhammad wafat dan roda organisasi dikendalikan oleh putranya, Warith Deen Mohamed, telah terjadi perubahan mendasar menyangkut platform NOI. Ia misalnya menolak sejumlah “ajaran” ayahnya seperti tentang status kenabian dan mesiah pendiri NOI (Wallace Fard Muhammad). Warith Deen juga mengganti nama “temple” menjadi “masjid” untuk pusat-pusat ibadah pengikut NOI. Lebih lanjut, tidak seperti ayahnya yang mengafirkan Kristen dan Yahudi, Warith Deen menganggap mereka sebagai bagian dari tradisi Semit sebagaimana Islam. Mungkin karena reputasi NOI yang kurang baik sebagai “ormas Islam garis keras” di mata publik AS, ia kemudian berkali-kali mengganti nama ormas ini. Terakhir ormas ini diberi nama “American Society of Muslims”. Warith Deen juga mengtransformasi ormas ini menjadi ortodoks Sunni yang ketat dalam menjalankan salat, puasa, dan haji ke Mekah. Merasa tidak puas dengan kepemimpinan Warith Deen yang mungkin dianggap terlalu moderat, Louis Farrakhan atau Louis X pada tahun 1977 mendirikan kembali NOI yang dibangun berdasarkan pada “ajaran-ajaran radikal” Wallace Fard dan Elijah Muhammad. Hingga kini Farrakhan merupakan tokoh paling berpengaruh di NOI dan sering dicurigai sebagai otak gerakan radikalisme Islam di Amerika.
***
Kini negeri Paman Sam menjadi rumah bagi kaum Muslim dari berbagai ragam suku-bangsa. Tidak ada data pasti tentang berapa jumlah umat Islam di AS karena sensus penduduk tidak menanyakan agama. KTP di AS juga tidak mencantumkan kolom agama. Dari berbagai riset diperkirakan jumlah umat Islam di AS berkisar antara 4-7 juta jiwa atau kurang lebih 1,5% dari total penduduk AS. Pengamat sejarah perkembangan Islam di Barat Jane I. Smith menganggap AS sebagai daerah berpenduduk Muslim paling heterogen. Dibanding dengan negara-negara lain, AS sekarang memang dihuni kaum Muslim dari berbagai negara dan kelompok etnik. Dalam Islam in America, Jane Smith menulis, “America today is home to the most heterogenous Muslim community at any time or place in the history of the world. Muslims represent many races and ethnic / cultural groups, speak a range of languages, espouse many different understandings of the religion of Islam and often choose to present themselves in very different ways.” Akibat dari beragamnya umat Islam di AS, negeri ini terdapat berbagai macam ormas, kelompok ras-etnik, gerakan sektarian, organisasi politik, lembaga profesional dan lain-lain yang berafiliasi Islam.
Meski arus migrasi kaum Muslim ke AS—baik yang melalui sistem perbudakan maupun migrasi sukarela—sudah berlangsung sejak beberapa abad lalu, akan tetapi gelombang migrasi kaum Muslim ke AS dalam skala besar baru terjadi sejak peristiwa Perang Dunia (I dan II) khususnya sejak dihapusnya UU Imigrasi yang membatasi perpindahan penduduk ke AS tahun 1975. Dua peristiwa sejarah ini berdampak sangat signifikan bagi gelombang migrasi Muslim ke AS. Sejak itu, AS tidak hanya dihuni warga Muslim kulit hitam keturunan Afrika saja yang telah lebih dulu mendarat di AS melalui jalur perbudakan, tetapi juga warga Arab dari berbagai negara di Timur Tengah dan berbagai belahan dunia lain. Perang dan kekerasan antar-kelompok agama di berbagai negara di Asia Selatan, Turki, negara-negara bekas berpenduduk Muslim bekas jajahan Uni Soviet, serta konflik berkepanjangan di Timur Tengah dan Afrika Utara, juga mendorong warganya untuk pindah ke AS guna mencari suaka baru yang aman.
Sistem demokrasi sekuler yang dianut AS memungkinkan orang dari berbagai kelompok agama untuk tinggal secara nyaman disini. Semua orang dipersilakan untuk merayakan kebebasan beragama. Jika ada kelompok-kelompok tertentu yang melakukan kekerasan atas nama agama dan mengganggu hamonisasi hubungan antar-agama segera ditindak tegas. Pengalaman masa lalu AS yang begitu kelam membuat negara ini introspeksi diri untuk tidak melakukan kesalahan serupa. Karena itu tidak heran jika di AS sekarang dihuni oleh ribuan kelompok agama dan sekte yang menikmati iklim kebebasan beragama. Protestan, Katolik, Yahudi, Islam, Budha, Hindu, Taoisme, Sikh, Bahai, Zoroaster, Konghucu, Sinto, Ahmadiyah, Mormon, Shaker, Evangelis, Teosopis, Transendentalis, Advantis, Freemason, Millianaris, dan masih banyak lagi semua tinggal adem-ayem di AS. Hampir semua suku-bangsa Muslim di dunia juga ada di AS sehingga banyak yang menyebut AS sebagai “mikrokosmos” dunia Islam. Orang-orang kulit putih Amerika sendiri, termasuk para intelektual beken seperti Huston Smith, William C. Chittick, Martin Lings, dll, banyak yang tertarik dan menjadi Muslim setelah mempelajari ajaran-ajaran Sufi yang menekankan pada aspek moralitas, perdamaian, spiritualisme, dan harmoni antar-agama.
Sejak peristiwa serangan terorisme yang meledakkan gedung Pentagon dan WTC pada 11 September, 2001, gerakan anti-Islam yang dipelopori oleh sejumlah kelompok konservtaif Yahudi dan Kristen memang semakin intensif. Berbagai provokasi anti-Islam dilancarkan dengan deras melalui berbagai media (radio, koran, buku, pamflet, gereja, dll) dan ceramah-ceramah di kampus. Tetapi publik Amerika tidak gampang terprovokasi karena sudah lama hidup dalam kultur demokrasi yang penuh dengan perbedaan pendapat. Berbagai pernyataan miring itu hanya dianggap angin lalu saja. Selain itu pemerintah AS akan menindak tegas kelompok-kelompok tertentu yang melakukan tindakan kekerasan atas nama agama. Karena itu meskipun kelompok yang dikenal “Islamophobis” ini berbusa-busa melontarkan berbagai pernyataan yang mengecam Islam, Al-Qur’an, Nabi Muhammad dan lain-lain, mereka tidak berani melakukan tindakan kekerasan fisik dengan merusak masjid, sekolahan, atau mengusir kaum Muslim. Semua keberatan disalurkan lewat jalur hukum melalui cara-cara legal-formal atau melalui perdebatan dan diskusi yang lebih beradab.
Warga Amerika kini lebih suka membaca peristiwa dengan “perspektif ganda” sehingga tidak mudah digiring oleh opini-opini politis dan bualan omong-kosong sejumlah kelompok agam konservatif. Banyak yang berspekulasi, tragedi pengeboman di Boston belum lama ini yang ternyata dilakukan oleh pasangan Muslim bersodara betetnis Chehnya dan berkebangsaan Kyrgystan (Tamerlan Tsarnaev dan Dzhokhar Tsarnaev), akan berdampak pada sikap sinisme terhadap kaum Muslim secara umum. Ternyata juga tidak. Warga Muslim di AS adem ayem. Mayoritas warga AS juga tidak main tuduh sembarangan. Kedewasaan berdemokrasi tampaknya menjadi kunci stabilitas AS. Inilah yang menjadi alasan kenapa berbagai kelompok agama dan sekuler dari ekstrim kanan sampai ekstrim kiri, termasuk sekte-sekte minoritas, dari berbagai belahan dunia betah tinggal di AS. Disaat mereka digebuki di negara mereka sendiri, mereka justru menemukan Amerika sebagai suaka aman-nyaman untuk merayakan kebebasan beragama. Saya tidak bisa membayang apa jadinya AS yang sangat warna-warni ini jika semua perbedaan dan keaneragaman diselesaikan dengan kekerasan dan ditumpas dengan senjata seperti negeriku Indonesia yang kucintai ini.
Sayang, kebaikan “demokrasi sekuler” ala Amerika ini kadang-kadang “dinodai” oleh sejumlah kelompok fanatik-radikal agama, termasuk kelompok Muslim, yang masih saja kusak-kusuk menggalang solidaritas keagamaan guna membangun sistem politik utopis bernama teokrasi atau khilafah. Meski mereka menikmati kebebasan hidup sambil mengais rizki di alam “demokrasi sekuler”, kelompok-kelompok konservatif-ekstrim ini terus-menerus mencaci-maki demokrasi. Kalau bukan munafik alias tak tahu diri, lalu istilah apa yang tepat untuk menyebut makhluk sejenis ini? (SQ)
Islam, Travel, and Learning: A Case Study on Indonesian Muslim Student Diasporas in Saudi Arabia
This article focuses on the study of the relationship between Islam, travel, and learning by conducting a case study on Indonesian Muslim students who studied (or are studying) in Saudi Arabia. Specifically, it examines the changing dynamics of these students who traveled, immigrated to, and studied in Saudi Arabia in search of knowledge from previous centuries to the contemporary era.
This article shows that Indonesian students in this peninsula are deeply plural and complex, far from being a monolithic group in terms of social background, religious affiliation, political orientation, major field of study, and motive of their study, among other factors. Thus, the present article aims at demystifying and challenging the common beliefs and narratives which hold that Saudi Arabia–trained Indonesian students have been exporters of Islamist intolerance, radicalism, or even terrorism. (SQ)
Kalau Takut Pilih Ahok, Ya Pilih Djarot Aja
Postingan ini khusus untuk umat Islam warga Jakarta yang “ngefans” dengan Koh Ahok tapi bingung menyikapi simpang-siur pendapat para ulama dan tokoh Muslim mengenai boleh-tidaknya memilih pemimpin non-Muslim.
Ulama dan fuqaha (ahli fiqih atau Hukum Islam) berbeda pendapat mengenai masalah keumatan itu sudah biasa terjadi sejak zaman baheula. Jadi tidak usah bingung. Kalau terjadi perbedaan pendapat tentang suatu masalah, maka Anda tinggal pilih saja mana pendapat yang menurut Anda “lebih mantab”, “paling wokeh” dan paling membawa “manpaat” bagi kepentingan masyarakat banyak.
Jadi umat Islam tidak usah bingungan. Yang penting madep mantep ikuti hati-nurani dan akal-sehatmu. Santai aja. Gitu aja kok bingung. Tapi kalau masih bingung dan ragu juga, maka saya sarankan jangan pilih Pak Ahok tapi pilih Pak Djarot saja. Beliau kan Muslim, jadi gak masalah milih dia. Dengan pilihan ini, maka Anda akan terhindar dari segala “jebakan teologis” dan perasaan berdosa.
Sekali lagi, ini hanya “berlaku” untuk kaum Muslim pendukung Ahok-Djarot saja lo. Kalau Anda mantepnya dengan Pak Anis juga silakan saja. Beliau orangnya juga baik, lemah-gemulai, tutur-katanya sopan, kata-katanya terstruktur rapi, persis seperti akademisi atau “wong kampusan” lah. Beliau ini khas seperti “dosen idaman”, he.he. Mau milih Mas Agus juga silakan. Dia juga orangnya (sepertinya) baik, sopan, gagah-perkasa, masih muda lagi. Kira-kira khas “perwira idaman” lah. Kalau Koh Ahok kan ya Anda tahu sendirilah, “khas gubernur idaman” gitu he he.
Anda boleh menjagokan siapa saja. Bebas mengidolakan siapa saja. Merdeka menjadi “cheerleader” kandidat siapa saja. Boleh memilih siapa saja. Yang penting rukun, jangan saling menghina, menjegal, dan mengolok-olok. Gak enak kan kalau didengar “tetangga sebelah” kalau kerjaanya berisik melulu kayak sopir bajaj. Menurut Cak Lontong: “Anda boleh setengah mati memuji istri/suami/pacarmu sendiri tapi jangan menjelek-jelekkan istri/suami/pacar orang lain.” [SQ]
Kafirku, Kafirmu, Kafir Kita
Dalam postinganku sebelumnya (silakan baca dulu “Pluralisme Kafir” supaya nyambung dengan postingan ini), saya sudah menjelaskan tentang arti dan makna kata “k-f-r” itu sangat beragam dan kompleks. Kata “k-f-r” ini bukan hanya terdapat dalam Bahasa Arab saja tetapi juga di berbagai bahasa: Hebrew, Aram, Persi, Turki, Albanian, Nuristan, dan bahkan Sanskrit. Implementasi kata ini juga beraneka ragam, tidak pernah merujuk pada satu subyek saja. Semua tergantung pada konteks sosial-politik-budaya masing-masing masyarakat.
Dalam bahasa Arab juga sama. Kata kerja “k-f-r” (kufr) yang diderivasi dari Bahasa Hebrew, Aram, dan Persi, mempunyai arti dasar yang beragam, antara lain “menutupi, menyembunyikan, menolak, mengelabui, memindahkan, melenyapkan”, dlsb. Karena itu kata kerja “k-f-r” dalam Bahasa Arab (baik sebelum maupun sesudah era keislaman pada abad ke-7 M) juga digunaan untuk berbagai akivitas yang mengandung makna menutupi, menyembunyikan, menolak, mengelabui, memindahkan, melenyapkan”, dlsb itu.
Karena kata kerja (fi’il) “k-f-r” itu beragam, maka arti kata “kafir” atau pelaku (fa’il) tindakan “kufr” itu juga bermacam-macam. Saya sudah katakan dalam postingan sebelumnya, misalnya, kata “kafir” (jamak: “kuffar”) dalam Bahasa Arab juga merujuk pada “petani” (lihat misalnya dalam Al-Qur’an, Surat Al-Hadid ayat 20). Kenapa petani disebut “kafir”? Karena aktivitas petani adalah “menutupi benih di dalam tanah”. Semua pelaku aksi atau aktivitas yang bernuansa “menutupi” atau “menyembunyikan” bisa disebut “kafir”..
Dari kata “k-f-r” inilah kemudian menjadi kata “coverir” atau “covrir” (Anglo-Perancis), “cooperire” (Latin), “koffer” (Belanda), dan “cover” (Inggris), antara lain. Kata “koper” dalam Bahasa Indonesia juga memiliki akar yang sama dengan “k-f-r” ini karena “koper” dipakai untuk “menutupi barang”. Lalu, bagaimana dengan kata “kuper”? Ya Anda cari sendirilah, masak saya terus? He he
Dalam Al-Qur’an pun, kata yang mengandung unsur “k-f-r” ini beraneka ragam. Ada sekitar 421 kata “k-f-r” yang disebut dalam Al-Qur’an dan penggunaanya bermacam-macam, maknanya bermacam-macam, konteksnya juga bermacam-macam, latar belakang sejarahnya juga bermacam-macam.
Kata “kafir” misalnya, ada yang bermakna petani, ada pula yang merujuk pada kelompok suku-suku Mekah, kaum politeis, kelompok “non-teis” atau “kaum tak bertuhan”, kelompok penentang misi dakwah Nabi Muhammad, kelompok penyekutu Tuhan (musyrikun), kaum yang tidak percaya kepada Allah SWT sebagai “Tuhan”, umat yang tidak percaya pada Hari Pembalasan atau Hari Kiamat, umat yang tidak percaya terhadap kehidupan paska-kematian dan dan hal-ikhwal yang berkaitan dengan alam ahirat termasuk surga & neraka, orang-orang korup, tiran, penganiaya dan anti-kemanusiaan (dzalim), dlsb.
Ayat-ayat Al-Qur’an yang menyebut Yahudi maupun Kristen sebagai “kafir” merujuk pada kelompok suku-suku Arab Yahudi dan Kristen tertentu di Jazirah Arab (misalnya di Yasrib atau Najran) yang mengingkari terhadap “misi kenabian” atau melanggar terhadap “kontrak sosial” antara mereka dan Nabi Muhammad atau yang mempraktekkan konsep-konsep teologi “secara ekstrim”. Bukan ditujukan untuk kaum Yahudi atau Kristen secara umum.
Singkatnya, kata “kafir” itu tidak melulu berkonotasi teologi-keagamaan tetapi juga sosial-politik-ekonomi-kebudayaan. Semua “kata” dalam bahasa apapun (termasuk kata “kafir” dalam Bahasa Arab) awalnya adalah “netral” atau “bebas nilai” tetapi kemudian dipakai dengan “makna tertentu” oleh kelompok-kelompok tertentu yang memiliki kepentingan tertentu.
Misalnya, sejumlah kelompok “Salafi-Wahabi ekstrim” menyebut Syiah, Ahmadiyah, dan sekte-sekte tertentu sebagai “kafir” meskipun mereka mengimani eksistensi Allah SWT. Padahal, orang-orang yang hobi teriak “kafir” pada orang lain itu bisa jadi seorang “kafir” itu sendiri. Ini yang namanya “kafir teriak kafir” he he. Bersambung aja ah capek nulisnya. (SQ)
Kafir Teriak Kafir
Ini sambungan kuliah virtual-ku tentang “Bab Perkafiran”. Kalau tidak salah ingat, sudah tiga kali saya memosting masalah perkafiran ini. Dalam perspektif antropologi, kata “kafir” memang sangat majemuk dan kompleks alias njlimet. Ia tidak merujuk pada satu arti saja seperti yang banyak disalahpahami oleh kaum Muslim.
Kata “kafir” yang ditafsiri sebagai “non-Muslim” yang dianggap tidak mengimani kebenaran teologi Islam, hanyalah satu dari sekian banyak tafsir atau interpretasi tentang si “kafir” ini. Saya sudah sebutkan sebelumnya, dalam Al-Qur’an sendiri ada sekitar 421 kata yang menggunakan kata “k-f-r” yang memiliki makna dan konteks beragam, jauh dari kesan tunggal dan monolitik. Al-Qur’an juga banyak menyebutkan kelompok non-Muslim khususnya dalam rumpun Agama Semit seperti Yahudi dan Nasrani sebagai kelompok monoteistik yang berkitab suci dan “lurus” sebagaimana Islam.
Dalam konteks sejarah klasik dan kontemporer, penggunaan kata “kafir” juga sangat variatif tergantung pada situasi dan kondisi sosial-politik-budaya masyarakat itu serta kepentingan kelompok-kelompok tertentu. Kafir menurut orang dan kelompok tertentu, belum tentu kafir menurut orang dan kelompok lain. Tidak kafir menurut orang dan kelompok tertentu, tidak menjamin tidak kafir juga menurut orang dan kelompok lain.
Dari aspek kajian sejarah kebahasaan, kata “kafir” awalnya sangat “netral” seperti laiknya kata-kata lain, tidak mengandung konotasi peyoratif yang merendahkan orang atau umat lain. Kata ini pada mulanya juga tidak ada sangkut pautnya dengan masalah keimanan seseorang. Semua orang yang melakukan aktivitas “menutupi atau menyembunyikan” sesuatu disebut sebagai “kafir”. Ia bisa saja berdimensi teologi-keagamaan, moralitas-kemanusiaan, politik-pemerintahan, ataupun tradisi-kebudayaan.
Dalam konteks inilah maka kata “kafir” ini bisa sangat elastis dan fleksibel dan bisa dikenakan kepada siapa saja (yang melakukan aktivitas “menutupi” dan “menyembunyikan” tadi) tidak peduli Muslim atau bukan. Petani bisa disebut “kafir” karena telah menutupi benih dengan tanah. Koruptor juga bisa disebut sebagai “kafir” karena telah menutupi dan menyembunyikan uang-uang haram baik dengan menyimpan di bank-bank di luar negeri maupun dengan praktek money laundry.
Hakim, jaksa, polisi, atau pengacara bisa juga disebut “kafir” kalau mereka menutupi dan menyembunyikan kebenaran perkara dan keadilan. Kalau Anda mempunyai “istri-istri simpanan” juga bisa disebut “kafir” he he. Kalau Anda menutupi atau menyembunyikan prestasi gemilang seseorang hanya untuk mengusung orang lain yang Anda favoritkan, pada hakekatnya Anda juga “kafir”. Demikian seterusnya. Jadi, jelasnya, kata “kafir” ini tidak melulu berdimensi teologi-keagamaan (misalnya “orang yang telah menutupi kebenaran keimanan”) seperti yang banyak disalahpahami oleh (sebagian besar) umat Islam. Selamat berhari Minggu, eh salah, “Ahad” maksudku. Minggu kan “hari kafir” he he (bersambung). [SQ]
Jubah itu Budaya Timur Tengah
Boleh-boleh saja mengklaim atau bahkan meyakini setengah mati bahwa mengenakan pakaian jubah putih itu adalah dalam rangka meniru Nabi Muhammad. Meskipun itu sebetulnya hanyalah “fantasi” atau “imajinasi” yang berlebihan saja karena Nabi Muhammad jelas tidak pernah memakai jenis, desain, dan corak pakaian jubah seperti yang dipakai sebagian kaum Muslim di Indonesia dewasa ini, khususnya para “Arab KW”.
Coba saja Anda iseng cek di Google busana jubah seperti apakah yang ada pada abad keenam dan ketujuh Masehi pada waktu Nabi Muhammad hidup? Atau jalan-jalan ke museum di Istanbul dimana Anda akan melihat contoh jubah masyarakat Arab sekitar 15 abad yang lalu. Atau silakan baca-baca buku sejarah masyarakat Timur Tengah, maka Anda akan tahu jubah seperti apa yang dikenakan masyarakat Arab dan Timur Tengah pada umumnya pada awal-awal abad Masehi.
Tidak ada mirip-miripnya sama sekali dengan jubah-jubah yang dikenakan sebagian kaum Muslim di Indonesia. Jubah atau gamis yang dikenakan (sebagian) kaum Muslim di Indonesia dewasa ini itu adalah “jubah tradisional” masyarakat Arab modern perkotaan, bukan masyarakat Arab klasik.
Oleh karena itu, anggapan bahwa dengan berbusana jubah putih adalah dalam rangka “nyunah rasul” itu sebetulnya hanya soal “perasaan”, “imajinasi”, atau “fantasi” saja, atau katakanlah, “imagined sunah rasul” he he.
Dengan kata lain, “berjubah putih” seperti tampak dewasa ini itu bukan mengikuti “sunah rasul” melainkan mengikuti “sunah” orang-orang Arab modern, baik Muslim maupun bukan. Berpakaian modern tapi bercita rasa klasik. Mengenakan jubah “made in” Cina (atau Tanah Abang) tapi bercita rasa “Arab” he he.
Uniknya, kontras dengan klaim sebagaian Muslim di Indonesia, khususnya para “Arab KW”, masyarakat “Arab Ori” sendiri yang mengenakan jubah tidak pernah menganggapnya sebagai bentuk dari “sunah rasul”.
Sering saya bertanya kepada mereka, termasuk murid-murid Arabku: “Apakah kalian yang memakai jubah itu dalam rangka meniru Nabi Muhammad atau mengikuti sunah rasul?”
Bukannya mengiyakan, mereka malah tertawa dan serentak bilang “Tidak”. Lo, kok bisa begitu? Ya itu tadi. Karena, menurut mereka, pakaian jubah yang mereka kenakan itu busana Arab modern, bukan “pakaian Nabi Muhammad” berabad-abad yang lalu.
Dalam konteks masyarakat Arab mdoern, desain jubah ini bermacam-macam: ada jubah Omani, jubah Qatari, jubah Emirati, jubah Kuwaiti, dlsb. Bahkan di Saudi sendiri, ada banyak bentuk, desain, dan corak jubah: ada jubah Hijazi, jubah Najdi, jubah Ahsawi, jubah Qatifi, jubah Najrani, dan seterusnya.
Berdasarkan studiku tentang “perjubahan” ini, jubah yang dikenakan suku al-Faifi yang paling “tradisional” dan unik. Suku Al-Faifi adalah suku-suku Arab di Saudi yang tinggal di dataran tinggi dan pegunungan yang tandus dan gersang sehingga nyaris tak terjamah modernisasi, industrialisasi, dan teknologi. Mungkin seperti “Suku Tengger” di Jawa Timur. Karena itu “Arab maklum” jika busana, tradisi, budaya, dan bahkan bahasa mereka sangat khas dan unik. Masyarakat Arab non-Faifi mengaku tidak paham dengan bahasa mereka, meskipun katanya mereka “berbahasa Arab”.
Warna jubah masyarakat Arab modern juga warna-warni, tidak melulu putih, tergantung cuaca dan situasi, kecuali jubah yang dikenakan masyarakat Arab Badui nomadik hampir sama bentuk dan waranya. Penggunaannya juga tergantung situasi dan kondisi.
Beda dengan suku-suku Arab Badui, masyarakat Arab modern-kota, khususnya kalangan muda, sangat fleksibel dalam mengenakan jubah. Mereka mengenakan jubah biasanya pada waktu acara-acara spesial seperti wisuda, pernikahan, atau pada waktu ngantor.
Yang selalu berjubah dalam segala siuasi itu biasanya orang-orang tua, sedangan generasi mudanya lebih memilih pakaian kasual. Berdasarkan pengamatanku, hanya masyarakat Arab Qatar saja yang masih menjaga tradisi berjubah, selebihnya sudah sangat kasual dalam hal bertata busana ini. [SQ]
Jogja: “Kota Baliho” dan “Kota Hijab”?
Ini adalah semacam “surat terbuka” untuk “Wong Jogja”. Salah satu yang mengganggu pemandangan Yogyakarta atau Jogja dewasa ini adalah baliho atau billboard yang besarnya melebihi gajah hamil yang bertebaran di ruas-ruas jalan utama kota.
Ada apa dengan Jogja? Ada apa dengan pemerintah dan pihak pengambil kebijakan? Wahai “wong Ngayogyokarto”, ada apa dengan kalian? Apa Anda betah melihat kota kalian yang eksotik dan aduhai itu tercemari dengan baliho-baliho yang awut-awutan?
Citra Jogja sebagai “kota budaya” dan “pusat seni” yang agung luntur seketika begitu melihat baliho-baliho raksasa ini. Image Jogja sebagai “kota pelajar” juga lumer gara-gara aneka ragam billboard yang amburadul ini.
Dengan aneka baliho yang semrawut ini menunjukkan Jogja kini telah berubah menjadi “yang lain” bukan lagi sebagai pusat “cultural heritage” dan “traditional arts” yang selama ini diagungkan dan dibanggakan oleh banyak pihak, baik orang dalam maupun luar negeri. Sungguh sangat disayangkan jika Jogja yang luar biasa elok nan indah itu kini menjadi “kota baliho” yang bikin mules perut dan pening kepala.
Bukan hanya baliho, Jogja modern juga dijejali dengan aneka “gedung kapitalis”: hotel, mall dan super dan minimarket. Empat puluh delapan museum seni-budaya terbengkelai tak terawat sementara mall-mall dan “pasar modern” berhamburan dimana-mana. Bukannya merawat pusat-pusat seni-budaya tradisional yang adiluhung itu malah sibuk mengembangbiakkan bisnis-bisnis kapitalisme.
Pemandangan mencolok lain tentang “Jogja modern” adalah maraknya hijab. Dimana-mana di pusat-pusat kota akan dengan mudah ditemui tulisan-tulisan “I Love Hijab”, bukan “I Love Kebaya”, misalnya. Dimana-mana penuh sesak dengan toko-toko yang memajang pernak-pernik hijab dan aneka “baju Muslim”. Kebaya, batik, dan blankon yang “khas Jogja” dimana?
Sebagian masyarakat kota Jogja rupaya sudah “kecanduan Islam Arab”. Padahal, apa bedanya antara “abaya Arab” dengan “kebaya Jawa”, antara gamis dengan batik, antara “topi kaji” dengan blankon misalnya? Tidak ada sama sekali. Anda tidak akan “lebih Islami” hanya dengan memakai gamis atau abaya/jilbab atau “kupluk kaji” misalnya karena kualitas keagamaan dan keislaman seseorang bukan diukur dari sehelai pakaian profan-sekuler itu.
Wahai “Wong Jogja’ segeralah sadar dan rawat tradisi dan kebudayaan tradisional Anda sebelum Nyai Roro Kidul murka karena melihat Jogja kini sudah “dikerudungi” dengan gedung, baliho, dan hijab. [SQ]
Jilbab Kristen Arab Lebanon
Saya sering mengelus dada atau geleng-geleng kepala memperhatikan tingkah-polah lucu-lucu sejumlah kaum Muslim dan Muslimah di Indonesia, khususnya mereka yang semangat keislamannya terlalu tinggi tetapi tidak diiringi dengan wawasan sejarah-sosial-kultural-keagamaan yang memadai.
Karena “besar pasak daripada tiang”, akibatnya sering kali “menggelikan” alias “unyu-unyu” kalau berkomentar. Misalnya, mereka bilang kalau hijab itu hanyalah “properti Islam” saja karena itu jika ada non-Muslimah yang berhijab dianggap sebagai pelecehan terhadap Islam, penghinaan terhadap ajaran Al-Qur’an, atau penghinaan terhadap kaum Muslim. Wong pakai hijab kok dianggap menghina itu rumusnya apa?
Bukan hanya itu, berhijab juga dipandang sebagai simbol “hijrah keimanan” dari non-Muslimah menjadi Muslimah, dari “kebengkokan” menuju “kelurusan”. Mereka juga bialng kaum perempuan, khususnya Muslimah, kalau sudah berhijab berarti sudah mendapatkan hidayah atau petunjuk dari Tuhan. Perempuan berhijab pulalah, kata mereka, kelak yang akan merasakan aroma surga yang aduhai rasanya.
Begini ya, soal hidayah, keimanan, keislaman, apalagi surga itu tidak ada urusannya dengan selembar kain bernama hijab atau apapun namanya. Hijab, seperti yang sudah sering saya sampaikan, juga bukan melulu milik Islam.
Jauh sebelum Islam lahir di Jazirah Arab, umat Yahudi dan Kristen sudah mempraktekkan hijab, sebuah tradisi yang masih dipraktekkan hingga kini oleh sebagian saudara-saudara seiman kita dari Kristen dan Yahudi. Jadi tidak perlu “main klaim” kalau hijab itu milik Islam, nanti malah malu-maluin kelihatan kalau otaknya masih orisinal.
Di bawah ini hanyalah contoh kecil sekelompok perempuan Kristen Maronite di Lebanon, yang seperti kaum Muslimah, juga berhijab. Seperti di Indonesia, tidak semua perempuan Kristen di Lebanon berhijab. Tetapi tidak seperti Muslimah Indonesia yang minim Bahasa Arab, para perempuan Kristen Lebanon berbahasa Arab karena memang itu bahasa nenek-moyang mereka. Bahasa Arab mereka tentu saja jauh lebih fasih ketimbang kaum Muslimah Indonesia yang suka berabi-umi atau berakhi-ukhti itu.
Di Temur Tengah, selain Mesir dan Suriah, Lebanon adalah kawasan yang cukup padat penduduk Kristennya. Sekitar 40% penduduk Lebanon adalah Kristen (mayoritas pengikut Kristen Maronite, kemudian Katolik Roma, terus Kristen Ortodoks Timur, dlsb). Karena itu di Lebanon, banyak tokoh Kristen menempati posisi penting dan strategis di struktur pemerintah, parlemen, maupun jabatan publik lain, berdampingan dengan Syiah dan Sunni.
Sejarah Kristen di Lebanon sudah sangat tua, setua lahirnya agama Kristen sendiri. Konon Yesus pernah singgah di kota Tyre (Sur atau Sour) di bagian selatan Lebanon, dimana Dia menyembuhkan sejumlah anak-anak Canaan. Kemudian, Santo Peter juga konon pernah berdakwah di kawasan ini.
Pendakwah paling melegenda tentu saja adalah Santo Maron di abad ke-4 M, seorang pendeta Kristen Suriah, yang menyebarkan iman Kristen di Lebanon. Nama Kristen Maronite yang menjadi mayoritas umat Kristen di Lebanon saat ini adalah diambil dari namanya.
Jadi, sudah paham belum bapak-ibu, saudara-saudara. [SQ]
Jika di Arab Teluk, FPI sudah Dibubarkan
Banyak yang mengira kalau negara-negara Arab di Timur Tengah akan menerima dengan hangat “ormas-ormas tengil” seperti FPI, FUI, dlsb yang hobi melakukan kekerasan komunal dan tindakan intoleransi di masyarakat. Ini adalah dugaan yang keliru.
Keliru besar. Besar sekali. Justru sebaliknya, jika di Arab Teluk khususnya, ormas-ormas semacam ini sudah dibubarkan, dibekukan. Sementara para pelaku dan “cheerleader”-nya “direhabilitasi”. HTI juga, sudah pasti ditumpas kalau disini, dan memang negara-negara Arab Teluk melarang HT (maksudku, Hizbut Tahrir bukan Harry Tanoe hehe).
Arab Teluk (atau biasa disebut “the Gulf) adalah sebuah “geografi politik-kultural” di Timur Tengah yang mencakup sejumlah negara: Arab Saudi, Qatar, Oman, Kuwait, Uni Emirat Arab, dan Bahrain. Inilah kawasan terkaya, termaju, dan termodern di antara 22 negara Arab di Timur Tengah (dan Afrika Utara).
Di kawasan inilah, ekonomi, industri, modernisasi, teknologi, internet, berkembang pesat. Di kawasan ini pula, kaum migran non-Arab tumbuh berkembang dengan suburnya. Disini pula, Bahasa Inggris telah menjadi “bahasa kedua” dan menjelma menjadi “lingua franca”.
Dari aspek sistem politik-pemerintahan, negara-negara di Arab Teluk mengikuti berbagai macam model. Ada yang monarkhi konstitusional seperti Kuwait (resminya “Negara Kuwait”, ada yang monarkhi absolut berbentuk kerajaan seperti Saudi dan Bahrain, monarkhi absolut berbentuk kesultanan seperti Oman, ada yang “abu-abu”, antara monarkhi absolut dan monarkhi konstitusional seperti Qatar, ada pula yang berbentuk “monarkhi federal” seperti Uni Emirat Arab.
Meskipun menganut sistem politik-pemerintahan yang “agak berlainan” tetapi mereka memiliki kesamaan, yakni mengutamakan pembangunan ekonomi, kemajuan negara, supremasi teknologi, keamanan nasional, dan ketertiban rakyat. Keamanan nasional (national security) dan ketertiban rakyat dipandang sebagai “kunci” dan “jalan utama” menuju pembangunan ekonomi dan kemajuan bangsa tadi.
Untuk mewujudkan visi-misi dan cita-cita ini, maka negara-negara ini tidak mengtolerir sejengkalpun adanya gerakan pembentukan ormas-ormas atau kelompok-kelompok sosial serta aksi-aksi publik-komunal dalam bentuk “demonstrasi massa”, apalagi aksi-aksi kolektif-kekerasan seperti umumnya di Indonesia.
Karena semua itu dipandang dapat mengganggu keamanan nasional dan berpotensi mengakibatkan “kekacauan sosial” yang pada tahap berikutnya dipandang bisa menghambat pembangunan ekonomi dan kemajuan negara. Intinya: “rakyat tidak boleh berisik.” Kalau “berisik” ya langsung “dievakuasi”. Karena itu di kawasan Arab Teluk tidak ada “ormas-ormas rewel”. Semua baik-baik dan “duduk manis” sejahtera.
Fenomena ini sebetulnya bukan “unik” Arab Teluk saja tetapi sudah menjadi “praktek umum” di negara-negara yang tidak menganut sistem “demokrasi liberal”, termasuk beberapa negara tetangga Indonesia.
Jadi, sekali lagi, sungguh aneh bin ajaib, melihat tingkah-polah para “ormas genit” dan “unyu-unyu” di Indonesia yang tidak mengsyukuri nikmat berbangsa dan bernegara di dalam wadah NKRI dan Pancasila yang aduhai nikmatnya. [SQ]
Jihad Orang Sakit Jiwa
Pelaku bom bunuh diri atas masyarakat tak berdosa adalah orang yang menderita sakit jiwa. Hanya orang yang jiwanya sakit yang bangga dan tertawa cengengesan melihat para korban bergelimpangan. Hanya penderita sakit jiwa yang mau mati dengan mematikan orang lain yang tidak ada sangkut pautnya dengannya.
Bukan hanya pelaku bom bunuh diri saja yang mengidap sakit jiwa. Orang-orang yang tidak memiliki empati atas kejadian teror kemanusiaan ini juga sejatinya menderita sakit jiwa.
Para tokoh politik dan agama yang diam seribu bahasa menyaksikan aksi terorisme dan bahkan dengan entengnya menyebut “tragedi Samarinda” sebagai “pengalihan isu” juga pada hakikatnya menderita sakit jiwa. Karena hanya orang sakit jiwa yang tidak tersentuh melihat korban kekerasan dan terorisme.
Para tokoh masyarakat yang membisu dan mengabaikan kasus terorisme di Gereja Oikumene Samarinda yang menelan korban anak-anak dan orang-orang tak berdosa, sementara di pihak lain begitu sibuk ngurusi kasus politisasi “Ahokgate” adalah orang yang sakit jiwa.
Sakit jiwa ini bisa karena jiwa-raganya dipenuhi dengan “nafsu keduniaan” atau bisa jadi lantaran hati dan pikirannya telah penuh-sesak dengan “sampah-sampah” ajaran dan pemahaman ideologi-keagamaan tertentu.
Orang yang jiwanya waras serta hati dan pikirannya sehat, mereka akan mendidih melihat kasus-kasus kekerasan terorisme dan melakukan berbagai upaya untuk mencegah pengulangan tindakan biadab ini di masa mendatang. Orang yang hati-nuraninya masih berfungsi normal, mereka akan melihat kasus terorisme sebagai kriminalitas kemanusiaan: siapapun pelakunya, siapapun korbannya.
Jihad seharusnya dikibarkan untuk melawan para penjahat kemanusiaan, para garong dan koruptor, para kriminal agama, dan kaum teroris yang bodong wudelnya.
Jihad seharusnya dikibarkan untuk menangkal para begundal politik dan agama yang mengacaukan tatanan kenegaraan, kebangsaan, dan keagamaan. Jihad seharusnya dilakukan untuk memerangi pribadi-pribadi yang rakus bin serakah yang hidupnya penuh sesak dengan nafsu politik-kekuasaan duniawi.
Jihad seharunya dilakukan untuk menata dan memperbaiki dunia beserta isinya agar damai, tenteram, dan sejahtera. Dengan kata lain, jihad seharusnya sebagai “way of life” (untuk menata kehidupan agar lebih baik) bukan “way of death” (untuk persiapan kematian di alam akhirat). Pelaku pengeboman bunuh diri yang mengenakan kaos bertuliskan “Jihad Way of Life” sebetulnya sudah benar tapi sayang caranya keliru. Mungkin dia tidak paham apa itu makna “JIhad Way of Life”.
Jihad yang dilakukan dengan cara bunuh diri hanya akan membuahkan penyesalan para pelaku di alam baka karena bukan 72 bidadari yang cantik-jelita yang kelak akan mereka temui melainkan 72 “Mak Lampir” yang akan menemani mereka.
Apapun alasannya, terorisme dan bom bunuh diri adalah tindakan haram dan biadab. Ulama terkemuka Shaikhul Islam Muhammad Tahir-ul-Qadri dalam 600 halaman bukunya berjudul “Fatwa on Terrorism and Suicide Bombing” sudah menjelaskan panjang-lebar tentang “jalan sesat” terorisme dan bom bunuh diri ini sehingga tidak perlu saya ulangi disini. Mari kita sama-sama berdoa untuk para korban kejahatan kemanusiaan ini.[SQ}

