Beranda blog Halaman 7

Kenapa Hanya “Ngeden” dengan Israel?

0

Kenapa umat Islam di Indonesia hanya “ngeden” dengan Israel? Kenapa setiap kekerasan Israel-Palestina meletus (entah sudah berapa kali kekerasan terjadi antar keduanya sejak perang tahun 1948), umat Islam Indonesia selalu hiruk-pikuk membela Palestina (yang mereka imajinasikan sebagai kaum Muslim), ngumpulin sumbangan (entah siapa yang mengawasinya), dan mengutuk Israel (yang mereka imajinasikan sebagai kaum Yahudi) hingga melupakan berbagai masalah fundamental di negaranya sendiri?

Kenapa pula mereka tidak bersuara kalau ada kasus perang dan kekerasan atas umat yang yang dilakukan oleh umat Islam itu sendiri?

Jadi, betulkah mereka itu betul-betul “membela umat Islam” seperti yang selama ini mereka kampanyekan dan dengungkan saat membela Palestina?

Alasan yang sering dikemukakan saat mereka membela Palestina dan mengutuk Israel adalah, antara lain, Israel telah melakukan tindakan terorisme, kejahatan, dan kebiadaban dengan membunuh, mengebom, dan menembaki warga sipil tak berdosa dan tak bersenjata, termasuk anak-anak, orang tua, dan umat Islam yang sedang beribadah di masjid.

Pertanyaan sederhana: memang hanya Israel yang melakukan pembunuhan atas warga sipil dan pengeboman kompleks warga? Bukankah Hamas juga melakukan hal yang sama? Sudah berapa kali Hamas meluncurkan roket ke wilayah Israel yang juga memakan korban – kematian warga maupun kerusakan lingkungan? Lalu, kenapa Hamas tidak ikut-ikutan dikutuk dan dikritik?

Kalau Israel dikutuk karena telah melakukan kebiadaban terhadap anak-anak, orang tua, atau umat Islam yang sedang beribadah di masjid, bukankah para gerobolan bigot teroris-islamis di berbagai negara juga melakukan hal yang sama? Coba anda lihat, misalnya, apa yang telah dilakukan oleh kelompok Al-Qaedah dan Taliban di Afganistan?

Sudah tak terhitung berapa jumlah umat Islam – termasuk anak-anak dan orang tua – yang menjadi korban kebiadaban mereka. Mereka bahkan tak segan-segan meledakkan bom di masjid-masjid (baik masjid-masjid warga Syiah di Hazara maupun masjid Sunni di kawasan lain) dan sekolah-sekolah atau madrasah. Belum lama ini mereka mengebom sebuah madrasah khusus perempuan, Sayid al-Syuhada, di Kabul yang menewaskan dan melukai ratusan siswi. Mereka juga rutin mengebom jamaah yang sedang salat di masjid. Terakhir, saat Idul Fitri belum lama ini, mereka juga ngebom jamaah yang sedang salat Id.

Adakah umat Islam di Indonesia yang bersuara? Apakah mereka yang selama ini hobi mengklaim “membela umat Islam” juga bersuara lantang mengutuk Al-Qaeda dan Taliban? Apa yang terjadi jika pelaku pengeboman dan terorisme di Afganistan itu adalah Yahudi atau Israel?

Kelompok penjahat kemanusiaan seperti Al-Qaedah dan Taliban itu tidak sendirian. Ada berpuluh-puluh dan bahkan ratusan kelompok sejenis yang tersebar di berbagai negara, termasuk Indonesia. Saya mendokumentasikan tentang mereka di sebuah manuskrip bukuku (dalam Bahasa Inggris) yang mudah-mudahan bisa segera terbit.

Anda tentu saja sudah tahu apa yang dilakukan oleh gerombolan ISIS dan komplotannya sejak 2014: mengebom dan membunuh dan memperkosa warga sipil dengan sadisnya. Tak peduli umat Islam atau bukan, baik di Irak maupun kawasan lain. Di Arab Saudi, jaringan kelompok teroris ini telah mengebom beberapa masjid di Ahsa, Qatif, Dammam, Saihat, Najran dlsb yang melukai dan melenyapkan ratusan nyawa umat Islam yang sedang salat. Adakah umat Islam di Indonesia yang bersuara dan mengutuk mereka?

Di Yaman, kelompok milisi Ansar Allah (Houthis) sejak beberapa tahun terakhir telah memporakporandakan (dengan bom, roket, senapan) berbagai kota dan pemukiman warga di Marib dan daerah lain di Yaman utara serta membunuh ribuan warga sipil, termasuk perempuan, orang tua dan anak-anak. Juga tak terhitung berapa jumlah warga yang terkena dampak perang sipil di Yaman ini. Akibat perang sipil ini, PBB menyatakan Yaman sebagai salah satu negara terburuk dan terparah di dunia dalam hal tingkat kemiskinan, pengangguran, pendidikan, dlsb.

Adakah umat Islam di Indonesia yang membantu warga Yaman? Adakah dari mereka yang mengutuk Houthis? Adakah dari mereka yang mengumpulkan sumbangan untuk Yaman? Adakah orang-orang keturunan Yaman di Indonesia yang memperdulikan moyang dan tanah leluhur mereka?

Hal yang sama dilakukan oleh milisi Janjawid di Sudan yang selama bertahun-tahun dengan brutalnya melakukan kekerasan terhadap umat Islam di Darfur dan kawasan Sudan barat: membunuh dan menembaki warga, membakar area perkampungan, memperkosa kaum perempuan, menyandra anak-anak, dlsb. Adakah umat Islam di Indonesia yang mengutuk Janjawid? Adakah umat Islam Indonesia yang membela dan menolong mereka?

Anda bisa menambahkan sendiri daftar nama kelompok pejahat teroris di berbagai negara dengan pola kejahatan kemanusiaan yang kurang lebih sama: al-Shabab di Afrika Timur, Boko Haram di Afrika Barat, Tahrik Taliban di Pakistan, Jabhat Nusra di Suriah, dlsb.

Tentu saja, kejahatan kemanusiaan dimanapun harus dikutuk dan dikritik. Siapapun pelakunya. Apapun etnis dan agama mereka. Bahkan tak beragama sekalipun. Tak peduli itu terjadi di negara-negara Barat, Timur, Utara, atau Selatan. Demikian pula, korban kejahatan kemanusiaan itu harus dibela dan dibantu semampu kita. Siapapun korbannya. Apapun etnis dan agama mereka. Bahkan tak beragama sekalipun.

Tetapi jika anda hanya sibuk mengutuk Israel sementara tutup mata dengan para teroris dan penjahat kemanusiaan lain di muka bumi ini, maka anda sesungguhnya tak ada bedanya dengan sekawanan bangkong mendem.

Ngobrol Bersama “Romo Vatikan”

0


Beberapa hari lalu saya mendapat email dari seorang pastor Indonesia yang sudah 14 tahun bertugas di Dewan Kepausan Vatikan untuk bidang dialog antar-umat beragama atau Pontifical Council for Interreligious Dialogue. Pastor Katolik itu bernama Romo Markus Solo (biasa disapa Padre Marco SVD) yang berasal dari Flores, NTT. Konon, dalam sejarahnya, Romo Markus merupakan satu-satunya pastor dari Indonesia yang menjadi pejabat di Vatikan. Dalam email itu, ia minta kesediaan saya untuk “ngobrol” via Zoom Ajakannya saya iyakan. Maka, ia pun mengirim link Zoom dengan judul, “Vatican and Saudi Arabia in Dialogue through Indonesia.”  

Kami bicara panjang-lebar selama sekitar 1,5 jam tentang banyak hal: tentang sejarah dan geo-kultural Arab Saudi & Arab Teluk (Gulf), situasi keagamaan dan relasi antaragama di Indonesia dan Arab Saudi, hingga program-program yang diadakan oleh lembaganya di Vatikan. Di antara program itu adalah berbagai aktivitas yang berkaitan dengan dialog antaragama maupun pembangunan perdamaian seperti konferensi, seminar, workshop, dlsb.

Salah satu program yang menarik adalah semacam workshop atau “short course” selama kurang lebih 6 bulan di Kota Vatikan yang melibatkan peserta dari berbagai agama di berbagai penjuru dunia. Workshop ini dimaksudkan selain memperkenalkan seluk-beluk agama Katolik juga dalam rangka untuk mempererat jalinan silaturahmi antarumat agama serta meminimalisir kesalahpahaman dan memperkuat kesalingpemahaman antarkelompok agama. Tujuan akhirnya tentu saja terciptanya iklim perdamaian dan harmoni di masyarakat yang dilandasi oleh semangat respek dan toleransi. 

Dalam kesempatan itu, Romo Markus juga meminta kesediaan saya kalau suatu saat diminta menjadi narasumber konferensi, seminar, workshop atau diundang ke Vatikan. Kalau aktvitas yang berkaitan dengan dialog agama-agama atau “peacebuilding” saya oke-oke saja dilibatkan. Belum lama ini saya juga diminta menjadi salah satu “penasehat” sebuah film dokumenter tentang perdamaian Muslim-Kristen yang diprakarsai oleh sekelompok aktivis perdamaian dan sutradara dari Amerika, Kanada, Palestina dan lainnya.

Perjumpaan saya dengan umat Katolik khususnya bukan hal baru. Dulu, saya bersama almarhum Romo Pujo (Pujasumarta), mantan Vikjen & Uskup Semarang, banyak melakukan kegiatan kemanusiaan, diskusi, dan dialog antaragama, baik di keuskupan, seminari, gereja, maupun institusi-institusi publik milik umat Islam: kantor ormas, kampus, masjid, pesantren, dlsb.

Oleh karena itu ketika Romo Pujo wafat saya sangat kehilangan sekali karena sudah seperti “auliya” atau “teman plek” (sohib dekat). Itulah sebabnya dulu saya sempatkan berziarah ke makamnya di Kentungan, Yogyakarta, yang makamnya bersebelahan dengan makam Romo Mangun, seorang romo, aktivis, sarjana, dan penulis cemerlang di zaman Orde Baru, yang juga sahabat karib Gus Dur.

Dalam obrolan dengan Romo Markus itu, saya memperkenalkan temanku dulu saat kuliah di Virginia yang bernama Romo Paul (Paulus) Rahmat yang ternyata Romo Markus juga mengenalnya. Dengan Pak Paul dulu saya juga banyak diskusi. Pak Paul juga sering mengundang saya untuk acara-acara ngobrol dan makan-makan dengan teman-teman Katolik di Virginia.

Tak lupa, Romo Markus juga menanyakan tentang prospek hubungan antaragama di Arab Saudi. Dalam hal relasi antaragama ini ada beberapa perkembangan menarik dan signifikan di Arab Saudi. Tahun 2007, mendiang Raja Abdullah (kakak Raja Salman) melakukan pertemuan bersejarah dengan Paus Benedict XVI. Tahun berikutnya, beliau mengundang berbagai sarjana dan tokoh agama dari berbagai negara untuk melakukan pertemuan antaragama di Makah.

Raja Abdullah, bersama pemimpin dari Austria dan Spanyol, kemudian kelak (pada 2012) turut memprakarsai pendirian King Abdullah International Center for Interreligious and Intercultural Dialogue, sebuah organisasi antarpemerintah yang bermarkas di Vienna, Austria, yang bergerak di bidang dialog dan perdamaian antaragama.

Pada tahun 2017, Raja Salman (dan Putra Mahkota MBS) juga mengadakan pertemuan khusus di Riyadh dengan pemimpin tertinggi Gereja Maronite Lebanon, Patriarch Bechara Boutros Al-Rahi. Dan pada tahun 2018, Raja Salman juga mengadakan pertemuan di Riyadh dengan Kardinal Jean-Louis Tauran (bersama delegasi), ketua Pontifical Council for Interfaith Dialogue, Vatikan, tempat dimana Romo Markus bekerja. MBS juga banyak melakukan pertemuan dengan para tokoh agama di Inggris, Amerika dan lainnya.

Berbagai pertemuan para elit Saudi dengan tokoh-tokoh agama (khususnya Kristen) tersebut tentu saja akan berdampak cukup penting nantinya dalam hal relasi antarumat agama di Arab Saudi. Pelan tapi pasti, saya memprediksi agama-agama diluar Islam akan mendapat tempat yang layak di Arab Saudi seperti tetangganya di kawasan Teluk: Bahrain, Oman, Kuwait, dan Uni Emirat Arab. Syaratnya cuma satu: kelompok bigot fanatikus agama harus “diruwat” dan “disebul” dulu pakai “kemenyan Semar Bodronoyo” karena merekalah, antara lain, yang menjadi sumber dan biang kerok kebencian dan permusuhan dengan umat agama lain. Kita lihat saja seperti apa dinamika dan perkembanganya nanti.

Jalan Terjal “Sang Profesor” dari Batang

0

Oleh Harjanto Halim (filantropis, pebisnis Tionghoa, CEO PT Marimas Putera Kencana, dan pengurus Perkumpulan Boen Hian Tong)

Tamu Diskusi Tipis-Tipis yang kami (Perkumpulan Boen Hian Tong) adakan kali ini (via Zoom) sungguh sosok fenomenal. Namanya Sumanto Al Qurtuby. Ia seorang anak pelosok desa di sebuah lereng gunung di Kabupaten Batang (Jawa Tengah), penggembala kambing dan kerbau, pencari kayu bakar, anak modin dan petani miskin yang nekad merantau ke kota-kota di Indonesia dan juga Luar Negeri untuk sekolah hingga doktor dan kemudian mengajar di universitas Amerika Serikat dan Arab Saudi, selain peneliti tamu di sebuah kampus di Singapura.  

Kuliah S1-nya di IAIN (Institute Agama Islam Negeri, kini UIN, Semarang) bermodal kambing dan kerbau hasil gembalaannya saat kecil yang terpaksa dijual (dilego), sambil nunut urip di pondok pesantren biar irit (selain kos-kosan murah). Lalu, setelah selesai S1 di bidang Hukum Islam, ia nekad mengambil S2 di UKSW (Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga) karena ingin mempelajari disiplin dan tema-tema baru tidak melulu masalah keislaman seperti di IAIN, pesantren, atau madrasah.

Kemudian, setelah merampungkan studi S2 Sosiologi Agama, ia kembali nekad ke Amerika Serikat (Virginia) untuk mengambil S2 lagi (di bidang Conflict and Peace Studies) dengan bermodal Bahasa Inggris pas-pasan hasil kursus tujuh bulan di Desa Pare (Kediri, Jawa Timur). Kenekadannya terus berlanjut. Sehabis menyelesaikan S2 di Virginia, ia nekad melamar program doktor di Boston University. Setelah selesai S3, ia kemudian menjadi dosen dan visiting scholar di universitas bergengsi di Amerika, dan kini menjadi profesor di King Fahd University di Arab Saudi, selain visiting senior scholar di National University of Singapore.

***

Hampir setengah jam sang profesor menceritakan kisah masa kecilnya, tentang bapak (kini sudah almarhum) dan simboknya, kambing dan kerbaunya, celengannya, warung simboknya, ketegaran “simbahnya”–demikian ia memanggil bapaknya–yang setiap pagi selalu mengantarnya ke sekolah di kecamatan lain yang dilaluinya jalan kaki setiap hari menyusuri perbukitan, persawahan, dan hutan selama 5 tahun. Ditambah menghadapi nyinyiran dan cemo’ohan para “penggede” dan tetangga kampung: “Ngapain sekolah? Mau jadi apa? Sia-sia…”

Simbah hanya diam dan tak mempedulikan sama sekali suara-suara sumbang dari (sebagian) warga kampung. Ia tetap mengantar anaknya sekolah setiap pagi selepas subuh. Setelah mentari menyembul di ufuk timur, simbah kembali pulang ke rumah sementara sang anak melanjutkan perjalanan ke sekolah seorang diri. SD di kampungnya hanya sampai kelas 4. Maka ia harus melanjutkan sekolah di SD lain di kecamatan lain sampai kelas 6. Setelah itu, ia lanjutkan sekolah di sebuah MTs (Madrasah Tsanawiyah) di tetangga kecamatan.

“Simbah tidak punya apa-apa untuk diwariskan, Le. Wong sawah juga cuman sawah garapan. Simbah cuman bisa mewariskan ilmu.” Si profesor cilik bertubuh ceking, berkulit dekil itu hanya diam saja.

Mengikuti pesan simbahnya, ia pun tekun belajar di MTs (Madrasah Tsanawiyah) di Kecamatan Tulis, pindah ke MAN (Madrasah Aliyah Negeri) di Pekalongan, meneruskan S1 di Semarang, S2 di Salatiga, dan seterusnya.

Ia terus menempa diri dalam kesibukan akademis, mengasah kemampuan menulis, menceburkan diri dalam lautan buku, aktif di organisasi gerakan mahasiswa, mencetak majalah kampus, menerbitkan jurnal non-kampus, menggawangi kegiatan keagamaan, serta menimba ilmu dengan para pakar ulama dan pemikir Islam moderat, termasuk Gus Dur, Kiai Sahal, Cak Nur, dan Kang Jalal (semua sudah almarhum).  

Dan ia pun mulai berpikir dan berkontemplasi: hidup yang keras dan eksklusif tidak akan menyelesaikan masalah kemajemukan. Konservatisme yang terbentuk, khususnya sejak ia sekolah di Madrasah Aliyah dan tinggal di sebuah pesantren di Pekalongan mulai terkikis dan terbuka.

“Dulu aku itu anti film, anti musik, anti non-Muslim, anti perempuan tanpa jilbab dlsb,” aku sang profesor yang laman medsos nya sering dipenuhi tulisan ringannya nan jenaka namun membumi dan mak-jleb tentang keberagaman, toleransi dan pluralisme.

***

Ia menyelesaikan studi S1-nya hampir 7 tahun. Setelah itu, ia pindah ke UKSW. “Aku bosen belajar tentang Islam dari perspektif ilmu-ilmu keislaman,” ujarnya sambil kemudian menyapa seorang pria yang ikut hadir di acara diskusi, yang ternyata mantan rektor UKSW.

Ia menuntaskan studi S2-nya dengan berdarah-darah. Bahkan ia harus menemui seorang kyai untuk minta petunjuk cara melunasi tunggakan uang kuliah 3 semester. “Coba kamu telpon dua nomer ini,” ujar Mbah Kyai sambil menyodorkan secarik kertas. “Insya Allah, cukup untuk mbayar kuliahmu…”

Ternyata itu nomer telpon dua dermawan yang benar langsung bersedia membantu kuliahnya termasuk memberesi tunggakan uang kuliah.

Sang profesor juga tak lupa berterima kasih kepada pak rektor yang ia panggil ‘Om’ (sebutan “Pak” di Indonesia Timur karena sang rektor berdarah Ambon), yang telah membantunya habis-habisan, moril dan terutama materiil. Bahkan saat hendak mengurus visa ke Amerika, pak rektor ikut menemaninya ke Konsulat Amerika di Surabaya. Nada-nadanya pak rektor was-was, wajah sang profesor nan rak cetha bakal menimbulkan syak wasangka petugas konsulat hehehe.

Setelah melalui proses rumit dan berliku, akhirnya dengan modal doa, tekad bonek, dan urunan teman untuk beli tiket, sang profesor mendarat di bumi Paman Sam. Dan penderitaan belum berakhir. Dari awalnya cuman mengikuti workshop ‘Peacebuilding’ selama 2 minggu, menjadi kursus Bahasa Inggris selama 3 bulan, akhirnya menjadi mahasiswa S2 di Center for Justice and Peacebuilding, Eastern Mennonite University, melalui beasiswa dari Mennonite Central Committee (Amerika Serikat), yang diperjuangkan oleh beberapa senior dan dosennya.

***

Di tengah menyelesaikan program master, sang profesor mulai galau mencari beasiswa untuk kelanjutan studi doktoralnya. Tanpa beasiswa, tak mungkin ia meneruskan kuliah. Ia pun nekad menghubungi beberapa profesor di beberapa kampus di Amerika.

Sampai akhirnya ia berhasil memancing perhatian seorang profesor di Boston yang kelak mati-matian berusaha membantunya. “Padahal kami belum pernah bertemu dengannya,” ujar sang profesor seraya nyengir.

Jam sudah menunjukkan pukul 21:00 WIB. “Di sana belum buka, Prof?,” tanya saya. Sang profesor kembali nyengir. “Aman, di sini masih jam 5 kok…” Profesor tinggal di Dhahran, Arab Saudi.

“Untuk meyakinkan ketua komite penerima beasiswa doktoral yang merupakan seorang cendekiawan terkenal di Amerika, saya diminta menulis esai tentang sufisme filosofi dalam sejarah Islam dan pengaruhnya di Indonesia,” sang profesor melanjutkan. “Sekitar delapan hingga sepuluh ribu kata dalam waktu tiga hari.” Ia pun siang-malam nglembur menulis.

Tak diduga, ternyata tulisannya gol! “Akhirnya, saya diterima program doktoral di Boston University lewat beasiswa Muslim Studies Fellowship,” ujar sang profesor. Beasiswa ini hanya diberikan pada dua pelamar program doktor setiap tahunnya.

Tapi masalah belum selesai. “Saya diminta memberi Bank Statement, bahwa punya simpanan cukup di bank untuk menjamin kebutuhan anak istri sebab beasiswa hanya untuk saya…”. Lalu sang profesor berterima kasih kepada saya yang sudah lupa pernah membantu membuatkan ‘Bank Statement’ buatnya.

Selama studi program doktoral, sang profesor harus salto dengan gaya irit, medhit, cethil, tingkat dewa. Beasiswa sebesar USD 2.200 per bulan harus dipecah: $1.500 untuk apartemen, sisanya untuk bayar transport, internet, TV cable, buku, dan untuk biaya makan anak-istri. Itupun kudu ditomboki pengumpulan kupon makanan dari pemerintah atau guntingan diskon untuk membeli roti, susu, telor, dan sereal.

***

Tapi semua jerih-payahnya itu berakhir manis. Semua perjuangan, keringat, darah, air mata, kecapekan mbaca, kurang tidur, ngetik hingga larut malam dan subuh, berbuah manis. Gelar doktor diraih, tawaran mengajar tersaji.

“Ada yang tanya Prof, mengapa dulu pak rektor UKSW mau membantu njenengan?,” saya membacakan pertanyaan peserta. “Apakah karena melihat wajah njenengan yang mesakke?”

Sang profesor ngakak. “Bukan begitu,” Pak rektor menjawab. “Saya melihat seorang Muslim mau belajar di UKSW pasti punya kelebihan dan keberanian…”

Hmm. “Dan saya juga melihat kami memiliki minat yang sama,” imbuh pak rektor. Apa itu? “Studi dekonstruksi teks.” Dan sang profesor hingga kini masih setia mengimani keyakinannya soal keberagaman dan kebebasan menafsir teks.

Lalu kok pindah ke Arab Saudi? Sang profesor dan pak rektor terkekeh, lalu mempersilahkan seorang pendeta dari Ambon menjawab.

“Kita butuh orang yang bisa menarasikan Islam Nusantara, konteks keislaman di Indonesia yang seperti apa, dari Arab Saudi…” Maksudnya? “Lha kalau Profesor Manto tinggal di Amerika dan nulis dari sana, pasti dicap antek Barat. Kalau di Arab lebih gamblang…”

Hmm, bener juga.

***

Dan saat seorang pengajar dari Belanda mengungkapkan kegalauannnya ketika ia harus ‘membela’ Islam di Indonesia yang kini dianggap sering menyalahgunakan isu penistaan agama, ia mengusulkan apa tidak sebaiknya ulama, ustad, ustadzah, menjalani pendidikan teologi secara formal sehingga pikiran mereka lebih toleran dan terbuka.

“Tidak mudah,” jawab sang profesor. “Karena kelompok non-formal itu yang menguasai wacana dan kehidupan beragama di tanah air.

Bener. “Wong mau didata saja sudah geger,” celetuk sang profesor yang ternyata hobi nonton film kartun atau stand-up komedi dan ndengerin musik Jawa campur sari.

Banyak salah kaprah keberagamaan di Indonesia. Di Arab Timur Tengah, ulama adalah sebutan untuk ilmuwan dan ustad adalah dosen, dari pengikut agama manapun. Di Indonesia, ulama dan ustad dianggap pemuka agama Islam. Lalu, pluralisme acap dicurigai dan dikritisi. Pluralisme dianggap sinkretisme. Padahal pluralisme beda. Pluralisme bukan sinkretisme, bukan pula toleransi.

Pluralisme mengandaikan setiap individu atau umat untuk saling memahami melalui dialog intensif dan kontinu serta keterlibatan secara dekat dan mendalam (engagement) dengan individu atau umat lain. “Jadi misalnya, bukan sekedar mengucapkan ‘Selamat Hari Natal’ atau “Selamat Idul Fitri akan tetapi mampu memahami makna terdalam dari Natal dan Idul Fitri itu.”

Itulah pluralisme. Jelasnya, pluralisme harus ‘engaged’, srawung, dan diajarkan semenjak kecil. Dan pluralisme Islam inilah mungkin model keislaman yang paling cocok buat masyarakat dan bangsa Indonesia yang plural. Mungkin.

Dan sang profesor yang tulisan-tulisannya telah melanglang dunia, yang mahasiswanya tidak hanya orang Arab, tapi juga orang Barat, yang telah berjumpa dengan segala jenis manusia, bertemu orang Yahudi, Nasrani, atheis dlsb, seorang anak desa dari pelosok desa yang nyimpen uang hasil menggembala kambing dalam kaleng yang ia pendam di bawah ranjang (“Kan rumahku masih berlantai tanah,” kilahnya tanpa sendu), anak simbah modin yang meyakini warisan terbaik adalah ilmu, yang nekad merantau ke kota, kuliah, dan akhirnya ia sukses menjadi seorang profesor kelas dunia dan masih menjadi seorang Muslim yang taat berpuasa.

***

Ia menunjuk dua foto rumah yang terlihat asri. “Ini rumah yang saya buat untuk simbok dan kakak saya. Yang satu sudah meninggal. Rumah yang satu lagi untuk kakak tidak ada di foto ini.”

Ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan, “Itu amanah simbah: kalo ada rejeki, tolong rumah ini (rumah simbah dan simbok) dan kedua kakakmu dipugar biar kuat tidak terbuat dari papan kayu dan bambu…” Suaranya tersengguk dalam parau, tersedak dalam haru.

Sang profesor melepas kacamata dan mengusap matanya, sekilas. Tak ada yang melebihi cinta seorang anak kepada orang tuanya yang dulu telah berpeluh-keringat mengantar sekolah setiap hari tanpa kenal lelah dan yang berderit dalam keyakinan untuk memberi warisan yang terbaik.

Wahai profesor, adakah pelukan di punggung bapakmu yang basah kuyup telah memicu dan memacu semangatmu hingga engkau pun menjalani kehidupanmu kuat-kuat?

Hermanto Tanoko, Berbisnis untuk Kemanusiaan

1

Siapa yang tidak kenal dengan sosok Hermanto Tanoko? Seandainya Anda belum mengenalnya, silakan tanyakan ke “Kang Google” saja. Beres. Seabrek data mengenai dirinya ada disana. Hermanto Tanoko adalah bos Cat Avian yang dirintis oleh almarhum ayahnya, Soetikno Tanoko, serta lebih dari 70 perusahaan lainnya dengan lebih dari 300 brand di berbagai bidang dan produk.

Satu hal yang mungkin perlu Anda ketahui: ia bukan hanya seorang konglomerat dan pebisnis sukses yang namanya masuk Forbes sebagai salah satu orang terkaya Indonesia dari Jawa Timur tetapi juga dikenal luas sebagai orang yang sangat berbakti pada kedua orang tuanya.

Sangking cintanya pada papa-mamanya, ia sempatkan hampir setiap hari, di tengah kesibukannya yang luar biasa, untuk menjenguk mereka guna menyuapi, memeluk, mencium, atau menemani bermain mahyong. Karena itu tak heran jika foto-fotonya bersama orang tuanya lebih sering dijumpai ketimbang dengan rekan bisnis, sohib konglomerat, atau pejabat publik.

“Saya sering berdoa agar Tuhan menambah umur papa-mama dengan cara mengurangi umurku,” paparnya dalam sebuah diskusi semalam yang diadakan Perkumpulan Boen Hian Tong, Semarang. Doa ini merupakan ekspresi kecintaan yang mendalam seorang anak terhadap orang tua.

“Jika orang tua sukses, anak-anak mereka menjadi raja diraja. Tetapi jika anak-anak yang sukses, banyak orang tua mereka menjadi hamba sahaja, tinggal di panti jompo atau hidup tak terurus terlunta-lunta,” katanya.

Ia tak ingin menjadi anak durhaka. Baginya, makan kacang bersama-sama orang tua jauh lebih bermakna ketimbang makan makanan mewah tanpa mereka.
Kenapa Hermanto Tanoko begitu taat, berbakti dan cinta pada orangnya?
Hal itu lantara ia merasa kesuksesan yang ia dapatkan sekarang ini tidak lepas dari kerja keras, didikan dan teladan orang tuanya. Orang tuanya memang sosok yang luar biasa tangguh dalam menghadapi pahit-getirnya kehidupan (sang ayah sudah wafat tahun 2020 lalu di usia 95 tahun).

Karena tak punya rumah, pada awal 1960an, mereka pernah “keleleran” tinggal di emperen keleteng di lereng Gunung Kawi selama berbulan-bulan. Saat memulai usaha kecil-kecilan, mereka juga pernah tinggal di sebuah gubuk kandang ayam, tempat bayi Hermanto dilahirkan (yang ini agak mirip denganku. Bedanya kalau saya lahir di sebuah gubuk kandang kambing, agak mirip dengan Yesus).

“Orang tuaku mengajarkan hidup kerja keras, bersahaja, disiplin, tekun, ulet, irit, dan penuh perhitungan,” paparnya. “Papa adalah orang yang bertangan dingin. Kerja kerja kerja. Tanpa banyak bicara,” tandasnya. Awal usaha orang tua dimulai dari toko kelontong palawija, kemudian cat. Awalnya ia cuma menjualkan cat milik teman, sebelum ia kembangkan sendiri secara otodidak.

“Papa kemana-mana selalu naik bus. Meski belakangan punya mobil pun, ia tetap naik bus. Sering diusir dan dibentak oleh para preman. Tapi ia tak kapok” paparnya. “Kan tidak tiap hari ketemu preman. Lagi pula naik bus itu irit,” jelas ayahnya. Bukan hanya baik bus, papanya juga selalu membawa bekal makanan dari rumah kalau ke kantor. Jadi irit.

Tetapi konsep irit bagi papanya itu bersifat “ke dalam” (untuk diri sendiri) bukan “ke luar” (untuk orang lain). Papanya memang dikenal sangat dermawan yang membantu banyak orang, sebuah “spirit” dan “etos” yang kemudian kelak diwariskan, dilanjutkan, dan dipraktikkan oleh Hermanto. Karena itu jangan heran, kalau kini Hermanto Tanoko merintis pendidikan gratis untuk anak-anak yatim piatu di seantero Indonesia.

“Kami akan ajarkan mereka dunia wirausaha supaya kelak mereka bisa hidup bahagia, sukses, dan berdikari di satu sisi tetapi juga memiliki kepedualian dan kepekaan sosial-kemanusiaan di pihak lain,” paparnya.

Baginya, bisnis harus dilakukan dengan hati dan tujuan yang baik untuk membantu kemanusiaan, bukan untuk memupuk pundi-pundi kekayaan diri dan keluarga. Bisnis juga harus di bidang-bidang yang baik dan bermafaat untuk masyarakat banyak, bukan di hal-hal yang bisa merusak moralitas dan kesehatan jasmani-rohani masyarakat.

Akhirul kalam, mengutip ucapan yang sering dilontarkan oleh arek Tionghoa Jawa Timur ini, “Semangat pagi dan salam bahagia.” Semoga Anda bisa mencontoh sosok Hermanto Tanoko: menjadi orang yang sukses dalam bisnis tetapi tetap mencintai orang tua, keluarga, dan umat manusia

Jabal Dhahran, Jazirah Arabia

The Rise of Islamism and The Future of Indonesian Islam

1

Since the downfall of Suharto’s dictatorial regime in 1998, Indonesia has witnessed a surge of various Islamist groups that hav potentially threatened the country’s religious tolerance, civil Islam, and civic pluralism. Moreover, it is suggested that the rise of Islamist groups could likely transform Indonesia into an intolerant Islamist country. However, this article asserts that the Islamist groups are unlikely to reform Indonesia into an Islamic State or Sharia–based government and society, and are unable to  receive the support and approval of the Indonesian Muslim majority due to the following fundamental reasons: the groups’ internal and inherent weaknesses, ruptured alliance among the groups, lack of Islamist political parties, limited intellectual grounds of the movement, the accommodation of some influential Muslim clerics and figures into the central government body, and public opposition toward the Islamist groups.

Click this link for download

#QUOTE 19

0

#QUOTE 18

0

#QUOTE 17

0

#QUOTE 16

0

Fatwa Natal

0

Setiap menjelang Natal kok mesti ribut dan sibuk soal “fatwa Natal” sampai bosan aku mengomentari. Begini, terhadap fatwa sejumlah ulama dan institusi Islam seperti MUI yang mengharamkan mengucapkan selamat Natal itu harus disikapi dengan santai dan biasa-biasa saja. Tidak perlu overdosis dalam bersikap. Tidak perlu reaksioner, dan tidak perlu “lebay-njeblay”.

Kelompok yang reaksioner biasanya mengaggap ulama / lembaga ulama yang mengfatwakan haram bagi umat Islam untuk mengucapkan “Selamat Natal” kepada umat Kristen sebagai kaum intoleran, anti-pluralisme, tidak berwawasan kebangsaan, dlsb. Sementara kelompok “lebay-njeblay” menggalang massa untuk mengawal fatwa sambil sweeping atribut-atribut Natal dimana-mana. Atribut-antribut Natal itu seperti ketupat atau opor ayam saat Idul Fitri gak ada urusannya dengan Natal apalagi “iman Kristen”, jadi buang-buang energi saja antum ini he he.

Begini, tentunya para ulama yang mengfatwa haram bagi kaum Muslim untuk mengucapkan “Selamat Natal” kepada umat Kristen itu juga didukung oleh dalil yang valid, tidak sembarangan. Jadi harus dihormati pendapat mereka. Biasanya dasar atau sebab pengharaman itu lantaran dengan mengucapkan Natal berarti umat Islam secara diam-diam telah mengakui kebenaran akidah Kristen.

Jadi, mengucapkan Natal itu semacam “tacit endorsement” atau “dukungan terselubung / diam-diam” atas keimanan dan sistem teologi umat Kristen, dan karena itu haram bagi kaum Muslim untuk mengucapkannya. Inilah yang diungkapkan oleh Ibnu Taimiyah, ulama abad ke-14 yang sangat berpengaruh di kalangan kelompok Salafi, dalam kitabnya Iqtidlaus Shirathil Mustaqim, yang banyak dikutip oleh para ulama hingga kini sebagai dasar pendukung pengaharaman tadi.

Apapun dasar atau dalilnya, yang namanya “fatwa” itu tetap saja sebuah pendapat hukum yang tidak mengikat. Setiap ulama atau lembaga keulamaan bisa mengeluarkan fatwa sesuai dengan dalil, dasar, dan argumen masing-masing. Karena hanya sebuah pendapat, untuk apa dikawal? Kalau setiap fatwa MUI harus dikawal, apa tidak pening kepala dan gempor tuh badan karena ada ribuan fatwa yang dikeluarkan MUI. Coba, silakan dikawal fatwa MUI yang mengharamkan rokok? Ya gak mungkin mau mengawal wong mereka pada merokok semua he he.

Nah, sekarang bagaimana kalau mengucapkan “Selamat Natal” sebagai “simbol pertemanan” saja, tidak ada urusannya dengan kekhawatiran menjadi “kafir” atau “musyrik”? Ya, silakan dimaknai sendiri, boleh atau tidak. Wong cuma mengucapkan “Selamat Natal” doang kok serius amat sampai urusan teologi.

Di kawasan Arab, ungkapan selamat Natal biasanya diterjemahkan sebagai “Id al-milad milad sa’id”. Di Iran atau Afganistan, dengan ungkapan “Christmas Mubarak”. Para tokoh dan kaum Muslim, khususnya di Palestina, Lebanon, Irak, dan kawasan yang banyak populasi umat Kristennya biasanya di Hari Natal begini mengucapkan: “led Mîlâd Sa’îdah, wa Sanah Jadîdah. Kullu ‘Âm wa Antum bi-Khayr. Âmîn (Selamat Natal dan tahun baru. Semoga sepanjang tahun Anda selalu dikaruniai atau berada dalam kebaikan. Amin).

Kalau menurutku sih gampang saja, kalau hanya dengan mengucapkan “Selamat Natal” kepada teman-teman Kristen kok dianggap telah keluar dari Islam, ya nanti tinggal masuk lagi. Gitu aja kok repot. [SQ]

Ulama yang Menghalalkan Ucapan “Selamat Natal”

0

Apakah semua ulama mengharamkan bagi umat Islam untuk mengucapkan “Selamat Natal” kepada umat Kristen, seperti yang difatwakan oleh sekelompok pengurus MUI ? Tidak. Ada banyak ulama yang membolehkan atau menghalalkan mengucapkan “Selamat Natal” dengan berbagai dalil, alasan, argumen, dan pertimbangan.

Sebetulnya, salah satu sumber utama pengharaman mengucapkan selamat Natal berasal dari pendapat sejumlah “ulama puritan” seperti Ibnu Taimiyah (w. 1328) atau Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (w. 1350). Menurut mereka, pengucapan “Selamat Natal” dianggap sebagai bentuk persetujuan atau mengamini secara diam-diam terhadap keimanan umat Kristen. Pendapat mereka ini kemudian direproduksi berulang-ulang dan dijadikan sebagai rujukan oleh sebagian ulama kontemporer, khususnya yang mengikuti aliran atau tradisi “Salafisme”.

Perlu dicatat, ada banyak ulama dan sarjana Muslim modern yang tidak setuju dengan pendapat Ibnu Taimiyah maupun Ibnu Qayyim yang dipandang tidak lagi akurat dan relevan.

Di antara ulama kontemporer yang membolehkan mengucapkan “Selamat Natal” kepada para keluarga, teman, kolega, dlsb yang beragama Kristen adalah Syeikh Ali Jumuah (Ali Gomaa). Dia adalah mantan Grand Mufti Mesir (2003-2013), profesor Hukum Islam di Universitas al-Azhar, Mesir, serta anggota Dewan Fatwa Mesir dan International Islamic Fiqh Academy.

Syaikh Ali Jumuah berargumen, pengharaman mengucapkan “Selamat Natal” sebagai pelanggaran serius terhadap substansi Islam sebagai agama rahmat yang memberikan kedamaian kepada semua umat manusia maupun esensi Islam dan Al-Qur’an yang sangat menghormati Yesus.

Para Grand Mufti Mesir dan Ulama / Syaikh Al-Azhar pada umumnya memang sangat toleran, moderat, dan fleksibel seperti Syaikh Mahmoud Syaltout, Syaikh Muhammad Sayyid Tantawi, Syaikh Ahmad Muhammad al-Tayyib, dan lain sebagainya.

Syaikh Ahmad al-Tayyip mengatakan mengucapkan “Selamat Natal” adalah boleh dengan alasan bahwa pengucapan itu sebagai bentuk dari kebaikan, cinta, dan kasih sayang yang menjadi ruh agama Islam terhadap umat non-Muslim, apalagi umat Kristen yang merupakan sesama rumpun agama Semit.

Ulama lain yang membolehkan mengucapkan “Selamat Natal” adalah Syaikh Dr. Muhammad Tahir-ul-Qadri, pendiri Minhaj al-Qur’an International, ahli tafsir terkemuka, dan seorang yang sangat alim dan dihormati bukan hanya di tanah kelahirannya di Pakistan tetapi juga di negara-negara Barat. Ia juga seorang ulama yang sangat anti terhadap kekerasan dan terorisme berbau agama.

Setiap tahun ia selalu mengucapkan “Selamat Natal” (dalam bahasa Inggris, Urdu, dan Arab) kepada umat Kristen karena mengaggapnya sebagai bagian dari respek terhadap Yesus, Kristen, dan Injil yang juga diakui dalam Al-Qur’an, serta komitmen terhadap pesan universal kemanusiaan Islam terhadap semua makhluk.

Suatu saat Syaikh Tahir-ul-Qadri menulis, “The [Xmas] day highlights the teachings and message of Jesus Christ. Belief in the Prophethood of Jesus Christ and Bible being the Divine Book is part of Muslims faith. Allah Almighty sent him to the world at a time when the world needed love, compassion for humanity and peace.”

Imam Salim Chishti, seorang ulama-sufi yang cukup berpengaruh di Barat, adalah ulama kontemporer lain yang menghalalkan mengucapkan “Selamat Natal” bagi umat Islam kepada umat Kristen atas dasar spirit persaudaraan iman.

Demikian “kuliah virtual” singkat kali ini semoga ada manfaatnya. Akhirul kalam, yang saya herankan dan renungkan dan membuatku “gundah gulana” sampai sekarang: kenapa fatwa sejumlah pengurus MUI itu hanya mengharamkan pengucapan “Selamat Natal” saja? Kenapa mereka tidak mengharamkan “Libur Natal”, “Kue Natal” atau “Diskon Natal”, misalnya?

Jika mengucapkan “Selamat Natal” saja dianggap “mengakui” kepercayaan umat Kristen sehingga diharamkan apalagi ikut menikmati libur, kue, dan diskon Natal, kan harusnya lebih diharamkan, Jon. Orang yang mengatakan ucapan selamat Natal itu haram sambil menikmati liburan, kue, dan diskon Natal itu sama dengan mengucapkan daging babi itu haram sambil menikmati sate atau gulai babi. Ya kan bib, beib, baby?

Perayaan Natal di Timur Tengah

0

Dari Jazirah Arabia, saya mengucapkan selamat merayakan Natal dengan penuh suka-cita kepada teman-teman Kristen dimanapun Anda berada. Tentu saja bagi yang merayakan 25 Desember ini. Bagi yang merayakan di bulan Januari nanti, ucapan Natal nanti menyusul. Semoga spirit cinta-kasih Yesus Kristus mewabah kemana-mana di dunia yang penuh sesak dengan kebencian dan permusuhan ini.

Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, pemandangan tahun ini cukup beda di Arab Saudi. Pohon Natal dan pernak-pernik Natal kini dipajang di mall-mall di berbagai kawasan di Arab Saudi seperti foto di bawah ini (courtesy: AFP). Tahun-tahun sebelumnya, masyarakat Kristen merayakan Natal secara terbatas dan nyaris susah menjumpai pernak-pernik Natal di mall dan ruang publik lain.

Bagi sebagian umat Islam di Indonesia, mungkin menganggap tidak ada Natalan di Timur Tengah. Anggapan itu keliru. Seperti umat Kristen di kawasan lain, umat Kristen di Timur Tengah juga merayakan Natal. Agama Kristen kan asalnya dari Timur Tengah, bukan dari Eropa, Amerika, Medan, Manado, Flores, Ambon, atau Papua. Yesus sendiri lahir di Bethlehem (“bait al-lahm”), Palestina. Jadi ya wajar kalau Natal juga dirayakan dengan meriah disini, apalagi di Palestina. Selain Bethlehem, Nazareth, dan Yerusalem juga ramai setiap Natal. Hanya saja tahun ini lain karena pademi Covid.

Ucapan populer Natal di kawasan Arab Timur Tengah adalah “Id al-Milad” yang kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi “Holiday of the Birth”. Kata “Al-Milad” disitu menunjukkan khusus kelahiran Yesus. Kalau kelahiran orang lain, mereka menyebutnya “Id Milad” tanpa “al” atau “the” dalam Bahasa Inggris.Dewasa ini diperkirakan ada lebih dari 20 juta populasi umat Kristen lokal (“pribumi”) di Timur Tengah dan Afrika Utara yang tersebar di berbagai negara. Populasi ini belum termasuk umat Kristen migran yang seabrek jumlahnya tersebar di berbagai kawasan, khususnya Arab Teluk (Saudi, Oman, Bahrain, UEA, Kuwait dan Qatar).

Perayaan Natal di Timur Tengah khususnya sangat terasa di negara-negara yang populasi umat Kristen lokalnya cukup besar seperti Palestina, Libanon, Yordania, Suriah, Irak atau Mesir. Bahkan di sejumlah negara (seperti Yordania, Libanon, dan Irak), untuk menghargai umat Kristen, Natal dijadikan sebagai hari libur nasional. Khusus di Irak, penetapan hari libur Natal sejak 2008, sementara di Libanon tanggal 6 Januari juga dinyatakan sebagai hari libur Natal untuk menghormati Gereja Armenia.Karena ada sejumlah denominasi dan kongregasi Kristen, perayaan Natal di Timur Tengah bukan hanya dirayakan pada 24/25 Desember saja tetapi juga pada tanggal 6 dan 17 Januari, tergantung pada keyakinan masing-masing atas kelahiran Sang Juru Selamat Yesus Kristus.

Setiap negara memiliki tradisi perayaan Natal yang khas dan unik. Di Palestina misalnya, pusat perayaan Natal terkonsentrasi di kota suci Bethlehem. Disini, ritual Natal digelar selama 3 kali dengan 3 bahasa dan di 3 waktu yang berbeda. Umat Kristen Protestan dan Katolik pada 24 Desember, umat Gereja Ortodoks Yunani pada 6 Januari, sedangkan umat Gereja Armenia pada 17 Januari. Pusat ritual Natal bukan di Church of the Nativity tetapi di Church of St Catherine of Alexandria.Momen Natalan yang meriah ini juga dimanfaatkan oleh warga non-Kristen, termasuk ribuan umat Islam, untuk menikmati liburan dan turisme.

Ahmad Najib misalnya, seperti ditulis Arab News, mengatakan, “The atmosphere of Xmas is beautiful, and in Bethlehem it is the most beautiful, especially on Xmas Eve. I am here with my family to enjoy taking pictures, and share with Christians their holidays just as they share ours.”Biasanya dalam setiap Natal, para tokoh agama Kristen (Katolik maupun Protestan) memiliki tradisi “mencium kening orang tua” dari agama apapun sebagai simbol kasih-sayang antar sesama umat manusia. Bukan hanya di Palestina saja, di Irak, perayaan Natal juga berlangsung sangat khidmat. Mereka biasanya memulai perayaan Natal dengan pembacaan “Manaqib Yesus” atau cerita sejarah tentang Yesus yang dibacakan oleh anak-anak.

Setelah selesai pembacaan kisah Yesus, mereka kemudian membakar api unggun dari dahan, ranting dan duri-duri kering. Menurut kepercayaan umat Kristen Irak, kalau semua dahan api unggun tersebut menjadi abu, maka itu pertanda kebaikan dan keberuntungan akan datang di kemudian hari.Di Mesir, Natal dirayakan pada 7 Januari, sesuai dengan kalender umat Kristen Koptik. Tradisi Natal umat Koptik di Mesir seperti tradisi Lebaran di Indonesia. Setelah menunaikan ibadah Natal, masing-masing keluarga Kristen menyantap “makanan tradisional Natal” bernama “fata” (campuran roti, daging, nasi) atau kalau di Indonesia semacam opor kupat / lontong lah kira-kira.

Mereka kemudian mengunjungi tetangga, sanak-saudara dan menawarkan “fata” untuk disantap bersama.Tradisi Natal di Suriah lain lagi. Anak-anak harus sabar menanti kedatangan onta muda yang akan membawa tiga orang bijak yang akan mengunjungi tempat Yesus dilahirkan. Tiga orang bijak itu, dalam perjalanan ke Bethlehem, akan membagi-bagikan hadiah kepada anak-anak (seperti Sinterklas).Perayaan Natal paling meriah di Libanon. Maklum, populasi umat Kristen sangat besar disini. Bukan hanya Kristen Maronite saja tetapi juga dari gereja-gereja lain. Seperti di Barat, rumah-rumah, gedung-gedung, kantor dan mall penuh dengan dekorasi pohon Natal dan pernik-pernik lain guna menyambut kelahiran Yesus Kristus. Bahkan bukan hanya umat Kristen saja yang merayakan, kaum Muslim juga ikut-ikutan bersuka-cita menyambut dan memeriahkan Natal. (SQ)

Merayakan Natal di Saudi

0

Orang-rang di negara-negara lain pada “geger” liburan Natal dan Tahun baru, saya malah sibuk “wawancara virtual” non-stop dengan para kandidat profesor baru yang sudah kami seleksi berkas-berkas mereka. Saya bekerja di sebuah universitas riset milik kerajaan dan karena itu status saya adalah PNS (“Pegawai Negeri Saudi”). Jadi, ya gak liburlah kalau pas Natal begini.

Emang Amrik bok? Tapi ada juga sih yang sekolahnya libur saat Natal begini: yaitu sekolahan milik Amerika dan Inggris. Tahu kan kalian alasannya, kenapa mereka bisa libur?

Meskipun kampusku tidak libur, bukan berarti kolega-kolega kami yang Kristen tidak bisa liburan dan merayakan Natal. Mereka tetap dengan leluasa merayakan Natal di rumah-rumah, di kafe-kafe, di restoran-restoran, di mall-mall atau di negara-negara tetangga seperti Bahrain atau Uni Emirat Arab yang dekat sekali.

Kami juga mengucapkan selamat Natal kepada teman-teman kami yang Kristen. Memang ada juga sih kolega yang tidak mau mengucapkan Natal karena “haram” katanya, tapi ya gak apa-apa mereka tidak melarang kami yang mengucapkan apalagi sampai ngotot dan ngamuk-ngamuk seperti “banteng mabok”.

Maaf bergurau, ya. Jangan marah, entar ada yang tersinggung dan salah paham: “Ini profesor Saudi kok menyamakan umat Islam dengan banteng mabok sih?” Salah lagi, salah lagi deh…

Sebagian juga melarang memajang “aksesoris-aksesoris” Natal seperti Sinterklaas atau Santa Clause atau barang-barang yang, kata mereka, “beraroma Natal”. Biar saja mereka melarang wong tidak ada hubungannya antara “Sinterklaas” dan aneka “barang Natal” itu dengan khidmat perayaan Natal. Iya kan? [e]

Kado Natal Presiden Mesir untuk Umat Kristen Koptik

0

Presiden Mesir, Abdul Fattah al-Sissi, belum lama ini meresmikan sebuah gereja katedral yang konon disebut-sebut sebagai gereja terbesar di Timur Tengah untuk umat Kristen Ortodoks Koptik yang juga disebut-sebut sebagai umat Kristen terbesar di Timur Tengah.

Di Mesir sendiri, ada sekitar 10-15 persen jamaah Kristen Ortodoks Koptik (sekitar 15-17 juta) dari total penduduk di “negeri piramida” ini. Selain Gereja Kristen Ortodoks Koptik, di Mesir juga cukup banyak populasi umat Katolik Koptik, Gereja Ortodoks Yunani, Gereja Evangelis, dlsb.

Peresmian itu dilakukan di hari Minggu, 6 Januari, 2019, tepat sehari sebelum umat Koptik merayakan Natal yang jatuh pada 7 Januari. Gereja Ortodoks Koptik, sebagaimana umat Kristen Ortodoks di Etiopia, Russia, dan Serbia, memang merayakan Natal pada 7 Januari, bukan 25 Desember. Sehingga bisa dikatakan peresmian gereja katedral ini sebagai sebuah “kado Natal” untuk umat Kristen Koptik khususnya.

Peresmian gereja katedral ini disambut gembira oleh banyak pihak, bukan hanya oleh para pendeta dan pastor di Timur Tengah atau Paus Fransiskus saja tetapi juga oleh Grand Syaikh Al-Azhar, Syaikh Ahmed el-Tayeb, yang menganggap pembangunan itu sebagai lambang harmoni Muslim-Kristen.

Sejak ditahbiskan menjadi Presiden Mesir, al-Sissi memang terus menggalang hubungan harmoni dengan umat non-Muslim, khususnya umat Koptik. Bukan hanya mendirikan gereja saja, Presiden Sissi juga merekrut sejumlah tokoh dan intelektual Koptik sebagai menteri di pemerintahannya.

Umat Kristen di Mesir, khususnya Koptik, sering menjadi target pengeboman dan sasaran kekerasan oleh sekelompok tengil radikal Islamis. Banyak gereja Koptik yang dibom dan dihancurkan oleh faksi radikal ini.

Dalam upaya menciptakan harmoni sosial di Mesir itu, Presiden Sissi yang mantan seorang jenderal tentara itu, terus memburu kelompok teroris dan militan Islamis yang sering menjadi biang kerok kekacauan di negerinya. Sikap Presiden Sissi ini cukup kontras dengan sejumlah bekas jenderal di Indonesia yang justru “main mata” dengan kalangan Islamis militan-konservatif.

Dimana-mana, termasuk di Indonesia, kelompok radikal Islamis memang selalu membuat onar, kekerasan, intoleransi, dan kekacauan serta memusuhi siapa saja, baik non-Muslim maupun umat Islam diluar kubu mereka. Jika non-Muslim dimusuhi karena dianggap “si tapir musuh Islam”, maka umat Islam diluar mereka pun dimusuhi karena dituduh “sesat” atau “murtad”.

Semoga mereka mendapat hidayah dan hidayat supaya kembali dan hijrah ke jalan yang benar, tidak lagi terjerembab dan tersesat di alam kegelapan milik para demit dan kentiwul.

Jabal Dhahran, Jazirah Arabia

Baca Juga:

 

#QUOTE 15

0