Beranda blog Halaman 41

Buruk Muka, Salon Dirusak

0

Sudah pernah dengar belum pepatah “Buruk muka, salon dirusak”? Kalau belum, ini saya perkenalkan ke Anda sekalian. “Pepatah” ini saya tujukan untuk sejumlah tokoh Islam di Indonesia, khususnya Jakarta dan sekitarnya, dan para “cheerleader” mereka, yang begitu bernafsu menyingkirkan Ahok dari bursa pencalonan gubernur.

Orang kalau kalah, tapi tidak berjiwa besar mengakui kekalahannya, maka akan cenderung berbuat kalap. Makanya, kata “kalah” dan “kalap” itu bedanya tipis sekali, 11-12 lah kira-kira. Sama seperti “pahlawan” dan “pecundang” itu juga bedanya dikit.

Jika orang kalah cenderung kalap, maka orang kalap biasanya cenderung gelap mata, dan orang yang “gelap mata” cenderung melakukan perbuatan apa saja demi menebus kekalahannya tadi. Tidak peduli jalan yang mereka tempuh itu lurus atau belok. Tidak peduli cara-cara yang mereka lakukan itu halal atau haram. Bahkan bila perlu, Tuhan dan Setan pun kadang–bahkan sering–“dirayu” agar ikut menggebuki sang lawan.

Coba Anda telusuri lagi dan simak baik-baik rekam-jejak sejarah kepolitikan di Jakarta akhir-akhir ini. Sudah berapa kali coba “mereka” mencoba “mengganjal” Ahok? Dulu, bahkan sejak kandidat gubernur Jokowi-Ahok, mereka sudah menghimpun massa dan ayat untuk menjegal atau mengalahkan pasangan “Jokowi-Ahok”. Cuma sayang belum beruntung.

Kemudian setelah Jokowi terpilih sebagai Presiden RI dan Ahok melenggang jadi Gubernur DKI, mereka “berisik” lagi. Berbagai dalil pun kembali disusun. Massa juga kembali dihimpun. Tujuannya satu: menjegal dan “mendelegetimasi” Ahok. Tidak hanya itu, Panglima Besar FPI, Paduka Yang Mulia Tuan Rizieq Shihab, juga melantik “gubernur tandingan” yang bernama Ustad Haji Fahrurozi alias “Bang Oji” yang sekarang nggak tahu bagaimana kabarnya beliau.

Apakah teman-teman ada yang tahu, bagaimana kabar Bang Oji kok seperti menghilang nggak pulang-pulang? Kadang saya heran, bukahkah Pak Rizieq sudah punya gubernur sendiri? Kalau sudah punya gubernur sendiri, ngapain sih ngurusin Gubernur Ahok? Apakah karena “rumput tetangga lebih hijau dari rumput sendiri”? Kasihan kan Bang Oji, sudah dilantik capek-capek kok malah dicuekin ditinggal pergi ngurusin “si aseng”. Entar kalau Bang Oji mewek-mewek nangis, gimana Bib? Lu, eh ente, kudu tanggung jawab.

Setelah Bang Oji sepi peminat, “mereka” kembali kusak-kusuk mencari tokoh Muslim yang dipandang sebagai “calon ideal” untuk menyaingi Koh Ahok. Mereka pun sempat runtang-runtung dengan Yu Seril atau Adhyaksa Dault. Sayang parpol-parpol Islam tidak tertarik untuk “melamar” beliau-beliau yang terhormat. Sayang juga mereka tidak ngumpulin “sejuta KTP” umat Islam DKI seperti yang dilakukan para Ahokers. Khawatir cuma dikit yang setor KTP ya? Hayo ngaku?

Mungkin karena nyari-nyari “figur ideal” tokoh Islam yang bisa “dijual” untuk menyaingi Koh Ahok tidak ketemu, akhirnya terpaksalah mereka ikut-ikutan mengusung Mas Anis yang dulu mereka kafir-sesat-liberal-syingahkan itu.

Karena usaha ini-itu untuk menyaingi Ahok gagal maning-gagal maning alias “mampet” di selokan, akhirnya yang “mereka” bisa lakukan adalah bagaimana caranya Koh Ahok didiskualifikasi agar gagal maju sebagai kandidat gubernur pada Pilkada mendatang. Gampang banget kok nebak “sinetron politik” mereka itu.
Bukankah ini seperti “buruk muka, salon dirusak”? Padahal Koh Ahok, saya dengar sudah batal nyalon lo, maksudku batal pergi ke salon he he.

 

Buya Syafii Ulama Sejati

0

Buya Syafii Maarif adalah seorang “buya sejati” dan ulama teladan bagi putra-putri Bangsa Indonesia. Saya tidak kenal dekat dengan Buya Syafii. Tapi sudah sejak lama saya mengamati dan memperhatikan “sepak-terjang” beliau di dunia kepolikan nasional. Saya juga sudah lama membaca, mempelajari, dan menelaah tulisan-tulisan beliau yang sangat banyak bertebaran, baik dalam bentuk buku maupun artikel-artikel di berbagai jurnal dan media.

Ketika beberapa tahun lalu, Buya Syafii mendapatkan penghargaan sebagai “Guru Bangsa” oleh sebuah lembaga di Jakarta, sayalah yang diminta oleh panitia dan pendiri lembaga itu untuk menulis biografi singkat beliau. Kesanku, Buya Syafii bukan hanya seorang sejarawan Islam handal dan cendekiawan Islam mumpuni tetapi juga seorang tokoh agama yang cinta mati dengan Indonesia, kebangsaan, dan kemanusiaan.

Buya Syafii juga seorang tokoh Muslim yang cinta mati dengan Islam. Keliru besar tuduhan dan fitnahan yang menganggap beliau “tidak Islami” atau “kurang kualitas Islam”-nya hanya karena beliau berbeda pendapat dengan “mainstream” publik Islam tentang “kasus Ahok”. Buya Syafii adalah seorang ulama sejati yang mengerti tentang hakekat Islam, memahami tentang “spirit kenabian”, dan mengetahui tentang bagaimana Islam seharusnya dan idealnya berkiprah di masyarakat yang majemuk.

Cukup panjang pergumulan intelektual dan proses belajar Islam Buya dari Indonesia sampai Ohio dan akhirnya mendarat di Chicago ketika ia belajar doktor di bawah bimbingan ahli Islam ternama kelahiran Pakistan: mendiang Professor Fazlur Rahman. Maka, sangat naif dan ironis, jika seorang ilmuwan besar yang sudah malang-melintang di dunia pendidikan dan kenyang dengan “asam-garam” pengkajian Islam, kemudian dilecehkan oleh anak-anak ingusan yang baru sunat kemarin sore atau oleh “ustad unyu-unyu” yang tidak memiliki kualifikasi akademik tapi hobi ceramah dan nampang di tivi.

Bukan hanya itu, Buya Syafii juga teladan bagi bangsa karena sikapnya dan gaya hidupnya yang sangat sederhana. Sejak dulu, Buya Syafii hidup sangat sederhana. Meskipun ada banyak pengusaha dermawan atau pejabat / politisi kaya yang ingin “menyejahterakan” hidupnya, beliau selalu menlak dengan halus. Dulu Pak Taufik Kiemas juga pernah menawari beliau untuk menjadi Komisari Utama sebuah perusahaan BUMN, tetapi Buya Syafii menolaknya karena merasa tidak layak menduduki jabatan itu. Konon mobil beliau juga cukup Xenia. Rumah beliau juga amat sangat sederhana.

Coba Anda bandingkan kesederhanaan atau kesahajaan hidup beliau dengan para “ustad seleb” atau pemimpin ormas Islam yang hobi mengoleksi mobil-mobil mewah keluaran “negara-negara kapir” yang selalu mereka caci-maki itu? Coba Anda bandingkan kesederhanaan beliau dengan para “penceramah genit” sok alim-saleh bin Islami tapi doyan pamer kemewahan dunia? Coba Anda renungkan: mana sebetulnya yang lebih Islami? Mana sebetulnya yang lebih “Qur’ani”? Mana sebetulnya yang lebih “nyunah rasul”? Mana yang lebih meneladani Nabi Muhammad?

Jika Anda mengaku beragama Islam atau setidaknya ber-KTP Islam tetapi tidak mengindahkan Buya Syafii, maka perlu diragukan keislaman Anda. Jika kalian mengaku Islam tetapi tidak menghormati Buya Syafii, maka gantilah pakaian kalian dengan kain kafan. Jika kalian mengaku Islam tetapi lebih menghormati para ustad yang suka memaki dan berkata kotor seperti got comberan itu, maka Islam mana sebetulnya yang kalian anut? Ajaran Islam mana yang mengajarkan umatnya untuk berkata kotor dan kurang ajar terhadap orang lain, apalagi orang lain itu adalah seorang ulama besar seperti Buya Syafii?

Kita boleh berbeda pendapat dan pemikiran tetapi hendaknya tetap berpegang pada etika dan moral, jangan seenak perutnya sendiri. Jika Anda mengaku sebagai “penyembah Tuhan” tetapi kelakuan kalian seperti “preman jalanan”, saya khawatir, kalian ini sebetulnya adalah “pemuja setan”.
Jabal Dhahran, Arabia

China: Partner Strategis Negara-Negara Arab Teluk

0

Banyak orang di Indonesia saya perhatikan salah paham dan gagal paham memahami hubungan China dengan negara-negara Arab Teluk seperti Saudi, Qatar, Bahrain, UEA, Kuwait, dan Oman. Mereka menganggap China hanya menjalin partnership dengan Iran, bukan negara-negara Arab. Ada juga yang berapologi kalau negara-negara Arab tidak mungkin menjalin relasi dengan China yang “komunis”. Sejumlah asumsi itu sama sekali tidak benar. Haqqul yaqin keliru dan hoax.

Dulu, sejak 1949, saat Mao Tse Tung dan Partai Komunis menguasai Tiongkok, kedua negara memang tidak memiliki hubungan bilateral, baik hubungan diplomatik maupun relasi bisnis karena China berada di “gerbong Soviet” yang komunis sementara negara-negara Arab Teluk, terutama Saudi sebagai komanandannya, berada di “blok Amerika” yang kapitalis.

Tetapi sejak Uni Soviet rontok pada 1989 dan wilayah kekuasaanya “mbrodoli” sejak awal 1990-an, ditambah dengan China yang melakukan reformasi kebijakan politik-ekonomi yang setengah komunis dan setengah kapitalis, Arab Teluk mulai menjalin hubungan mesra dengan China. Kini, seiring dengan ledakan ekonomi yang luar biasa di China, “Negara Panda” ini menjadi partner strategis dan “auliya” (teman setia) negara-negara Arab Teluk, dan tentu saja termasuk Saudi.

Meskipun pada 1985 terjadi pertemuan resmi tertutup antara Saudi dan China di Oman, hubungan diplomatik secara resmi antara kedua negara baru dilakukan pada tahun 1990. Meski hubungan diplomatik sudah terjadi sejak 1990 tapi baru 1999 Presiden PRC Jiang Zemin mengunjungi Riyadh yang disambut sangat hangat oleh kerajaan. Kunjungan itu menghasilkan berbagai keputusan penting kerja sama ekonomi tertutama di bidang energi dan perminyakan. Saudi membalas kunjungan kenegaraan ketika pada tahun 2006, mendiang Raja Abdullah mengadakan kunjungan bersejarah ke Beijing. Empat bulan berikutnya, Presiden Hu Jintao juga mengunjungi Saudi.

Tahun lalu, Putra Mahkota Muhammad bin Salman kembali mengunjungi PRC (China) yang disambut hangat oleh Presiden Xi Jinping. Selain China, Purtra Mahkota Muhammad bin Salman juga mengunjungi Jepang. China dan Jepang memang dua negara terbesar negara-negara tujuan ekspor bagi Saudi, selain Korea Selatan, India, dan Amerika.

Berbagai kunjungan resmi para pemimpin di kedua negara itu menghasilkan berbagai keputusan penting menyangkut kerjasama kedua negara, bukan hanya kerja sama di dunia ekonomi dan bisnis saja tetapi juga di bidang politik, kemiliteran, dan kebudayaan. Di bidang ekonomi dan perdagangan, total investasi kedua negara mencapai lebih dari $75 Milyar, melebihi hubungan dagang Saudi-USA.

Penting untuk dicatat, China adalah importir terbesar minyak dari Saudi yang mengsuplai lebih dari 20% kebutuhan energi di Negara Panda itu, dan Saudi adalah penyetok minyak terbesar bagi China. Berbagai industri papan atas Saudi termasuk Aramco (industri minyak terbesar di dunia) dan SABIC yang bergerak di Petrochemicals sudah lama beroperasi di China. Begitu pula perusahan top Tiongkok seperti Sinopec dan PetroChina Co juga beroperasi di Saudi.

Bukan hanya di bidang energi, pertambangan, dan perminyakan saja, kerja sama kedua negara terjadi hampir di semua sektor: telekomonukasi, transportasi, industri tekstil, dlsb. Hasilnya sungguh luar biasa: produk-produk China membanjiri bahkan “mengtsunami” pasar Saudi: ponsel, TV, bus, pakaian, makanan, dan pernik-pernik lain (seperti jubah, abaya, sajadah, tasbih, “boneka onta”, dan aneka “oleh-oleh kaji” semua “made in” China! Subhannallah eh salah, astagfirullah. Bahkan China kini juga berpartisipasi membangun konstruksi rel kereta api yang menghubungkan Makah dan Madinah lewat Jeddah sehingga memudahkan perjalanan haji dan umrah.

Demikian kuliah virtual short time hari ini. Ayo nyusu lagi…

 

Debat Sengit tentang Ulama

0

Suatu saat saya (S) “berdebat sengit” dengan Mamat (M), aktivis fanatik sebuah ormas Islam ngetop di Indonesia, tentang Ulama. Berikut cuplikan debat tersebut.
S: Mat, kamu kenapa kok sepertinya marah-marah dan kesal denganku sampai mengata-ngataiku dengan ucapan yang tidak pantas, tidak sopan, dan tidak senonoh. Emang apa salahku?
M: Salahmu menghina ulama goblok. Kamu selalu nyinyir dengan ulama. Apa kamu tidak tahu kalau ulama itu pewaris para nabi?

S: Sabar Mat, perasaan saya tidak pernah menghina ulama deh. Emang kapan saya menghina ulama?
M: Hampir tiap hari kamu menista ulama di Facebook. Jangan berlagak bego lu Ahoker.

S: Maaf Mat, menurut Anda ulama itu apa ya?
M: Dasar goblok, masak ulama saja tidak tahu. Katanya kamu dosen tapi kok gak tahu ulama sih. Dasar dosen abal-abal. Makanya jangan sok menghina ulama kalau ulama saja tidak tahu. Ulama itu seperti yang di tipi-tipi tukang ceramah itu goblok.

S: Oh, jadi ulama itu yang tukang ceramah di tipi-tipi. Itu kan contoh ulama menurut Mamat, bukan pengertian ulama. Yang saya tanyakan itu pengertian ulama, menurut Mamat apa pengertian ulama itu?
M: Yang namanya ulama ya pasti pengertian lah. Kalau gak pengertian namanya bukan ulama. Kamu ini memang betul-betul guoblok ya. Percuma kamu sekolah tinggi-tinggi kalau ulama saja tidak tahu. Sudah tidak tahu ulama tapi tiap hari menista ulama.

S: Mat, bagaimana bisa kamu menuduh saya telah menista ulama, wong menurutmu saya tidak tahu ulama? Jadi tolong jelasin ulama itu apa Mat?
M: Kan tadi sudah saya jelasin kalau ulama itu yang suka ceramah di tipi-tipi itu. Kok tanya lagi sih. Kamu punya otak gak sih?

S: Kalau tentang penceramah di tipi-tipi itu kan contoh ulama menurut Anda. Yang saya tanyakan kan definisi ulama, Mat. Anda tahu gak, ulama itu apa?
M: Ya ampun, nanya lagi nanya lagi. Kan sudah saya jelasin tadi kalau ulama itu adalah para penceramah yang di tipi-tipi itu. Kamu pernah dengerin ceramah-ceramah di tipi gak sih kok sampai gak tahu ulama? Jangan-jangan kamu ini bukan Muslim tapi kapir yang sedang menyamar untuk merusak Islam dari dalam. Percuma lu sekolah tinggi-tinggi kalau ulama saja tidak ngerti.

S: Jadi, Anda tahu ulama itu apa?
M: Ya tahu lah, masak ulama saja tidak tahu. Emang kamu goblok yang gak tahu ulama.

S: Jadi apa dong, ulama itu Mat?
M: Masya Allah, saya sudah bolak-balik jelasin kok masih kagak ngerti juga sih. Kamu ini memang bego banget ya tapi gue heran kok banyak banget pengikutnya di Facebook. Jangan-jangan mereka itu bego semua. Orang bego kan ngumpulnya sama orang bego. Kecebong ngumpulnya sama kecebong. Lebih baik kamu tobat deh mumpung belum terlambat.

S: Kok malah mbahas tobat Mat? Saya kan nanya tentang pengertian atau definisi ulama.
M: Kan sudah saya jawab dari tadi goblok. Kalau ulama itu pasti pengertian, dan yang namanya ulama itu adalah orang-orang yang sering ceramah di tipi-tipi itu. Masih gak paham juga? Kalau masih gak ngerti juga memang kamu gak “lepel” ngomong soal ini. Otaknya dikit sih lu. Sudah dikit tapi belagu menistakan ulama.
S: Memang saya belum paham Mat karena dari tadi saya perhatikan kamu tidak menjelaskan definisi ulama. Jadi, ulama itu apa Mat?

M: Dasaaaarrrrrrrrr guuooobloookkkkk!!!
S: Kok jadi tambah marah Mat? Emang salah saya apa? Saya kan cuma nanya doang ulama itu apa. Tolong dong jelasin ulama itu apa biar saya ngerti?

M: Sudah-sudah minggat sana, dasar kecebong goblok.
S: Jadi, Anda itu sebenarnya tahu gak sih Mat ulama itu apa?
M: Ya ampuunn, ya ya saya tidak tauuuuuu ulama itu apa, sudah sana minggattt!!!!

S: Dari tadi kek bilang kalau Anda itu gak tahu ulama supaya gak buang-buang waktu begini…

 

Ditelpon Jokowi

0

Tiba-tiba tadi malam ponselku berdering “krik krik krik”. Nada dering ponselku memang “nada jangkrik”. Saya pun angkat itu barang ajaib, maka terdengarlah suara di ujung sana seseorang berbicara dengan bahasa campuran: Indonesia dan Jawa yang sangat “mendok”:

“Mas, piye kabare suwe ora jamu, lama gak ketemu, sampean kerasan kewarasan yo di luar negeri tidak mudik-mudik…”.
Saya masih menerka-nerka siapa yang punya suara ini kok “sok akrab” banget tapi kok nomer HP-nya tidak saya kenal. Meski begitu saya mengenali suaranya seperti Pak Jokowi.

Maka saya pun mencoba untuk mengonfirmasi:
“Kabar baik, Pak. Maaf njih, apa ini Pak Jokowi?”
“La siapa lagi. Ya saya Jokowi. Yang punya suara antik begini kan cuma saya to di dunia ini he he,” jawabnya setengah “cengengesan.”

Saya pun segera menjawab: “Wah tumben, tidak ada hujan, tiada angin, kok sampean menelpon diriku. Ada apa to Pak? Jadi deg-degan aku.”
“Begini mas. Saya butuh bantuan sampean. Kira-kira bisa nggak menolongku?”
“Ya tergantung, Pak. Kalau saya sanggup ya saya bantu tapi kalau tidak mampu, ya saya bantu juga sebisaku he he,” jawabku cengengesan juga karena begitulah aku sejak dulu.

Tiba-tiba Pak Jokowi mulai agak serius ngomongnya: “Indonesia yang majemuk ini butuh orang-orang seperti sampean Mas: ndableg seperti Wiro Sableng tapi toleran dan nasionalis. Maka saya minta sampean mudik Mas, turun gunung, untuk ikut membenahi kondisi negara yang mulai penuh-sesak dengan ‘umat unyu-unyu’ dan ‘kaum pentungan’ itu.”

“Lo, sampean kok tahu istilah ‘unyu-unyu’ dan ‘kaum pentungan’ segala to, Pak?” Tanyaku penuh selidik.
“Ya tahu wong saya itu ‘follower’ Facebook-mu kok mas,” jawabnya singkat.

“Ah masak sih Pak Jokowi jadi ‘follower’ Facebook-ku. Jadi ge-er aku, ada seorang Presiden RI jadi follower Facebook wong kecil seperti diriku?” timpalku sekenanya.

“Mas, saya bukan Presiden Jokowi, tapi tetangga kampungmu. Masak lupa to sampean?,” tanyanya
“Ooo Mas Jokowi, gimana kabarnya??”

 

Duh Gusti, Lucunya Negeriku

0

Ibarat sebuah drama, Jakarta adalah “panggung sosial” dimana banyak orang dari politisi sampai tokoh agama, dari “wong gede” sampai “wong kere”, berperan aktif sebagai aktor atau aktris “panggung sandiwara” itu.

Demo akbar kemarin juga bagian dari “pentas drama” ini. Coba Anda perhatikan dengan seksama, ada sejumlah “tokoh nasional” pada unjug gigi teriak-teriak kesana-kemari, menghujat sana-sini, merasa dirinya sebagai orang paling bersih dan agamis tak berdosa secuilpun laksana Malaikat yang suci murni tak bernoda.

Sementara itu para cheerleaders dan penggembira bertingkah polah yang tidak kalah lucunya dengan para “penggede” mereka: teriak-teriak, marah-marah, foto-foto, merusak tanaman hijau, membuang sampah makanan-minuman sembarangan, mengotori pemandangan kota mereka sendiri yang sudah susah-payah ditata-rapi dan dibersihkan.

Ada pula yang membawa poster-poster dengan tulisan menggelikan, misalnya, “Yang memilih Ahok berarti takut kepada Ahok, padahal hanya Tuhan yang wajib ditakuti.” Orang milih Ahok (dengan suka rela) kok dikira takut kepada Ahok itu dari mana nalarnya coba? Pantesan saja, onta-ontaku pada tertawa cekikikan membaca poster-poster yang unyu-unyu ini.

Pula, dengan angkuhnya mereka mengepung jalan raya. Mungkin mereka pikir jalan raya Jakarta adalah milik engkong mereka. Tak kalah heroiknya, mereka ramai-ramai menghujat sistem demokrasi tanpa menyadari bahwa mereka bisa protes dan berdemo itu karena demokrasi.

Mereka bisa bebas berakting mengekspresikan diri menghujat kesana-kemari seenak wudelnya sendiri itu juga lantaran jasa demokrasi. Coba saja mereka berdemo besar-besaran di jalan raya di negara-negara yang sistem politik-pemerintahannya tidak menganut sistem demokrasi liberal seperti di Arab Saudi, China, atau Indonesia di zaman Pak Harto. Mereka sudah pasti “didor” atau dibui. Mikir…

Ada pula yang rajin istiqamah teriak-teriak anti-Cina padahal memakai aneka produk buatan Cina. Ada lagi para tokoh Muslim yang gemar menghujat Kristen-Yahudi-Amerika tetapi hobi koleksi mobil-mobil mewah buatan Amerika, gemar makan-minum di restauran-restauran cepat saji “made in” Amerika, serta menggunakan berbagai teknologi modern dan media sosial Internet yang diciptakan oleh Yahudi dan kaum ateis. Betul-betul sampah masyarakat.

Mereka berdemo konon karena marah kepada Ahok yang telah menghina Islam dan Al-Qur’an. Padahal masalahnya sudah jelas: bukan Ahok yang salah tetapi “oknum” pengedit video itu yang salah yang sengaja menyebar-luaskan video editannya itu di medsos guna menjatuhkan reputasi Ahok (konon si “oknum” ini sudah mengaui kesalahannya).

Lagi pula Ahok sudah minta maaf secara publik, kenapa masih marah-marah dendam dan mengsumpah-serapahi Ahok? Katanya kalian mau “nyunah rasul” dan mencontoh akhlak Nabi Muhammad, tetapi kenapa tidak kalian praktekkan? Bukankah dulu pada waktu Fathu Makkah, Nabi Muhammad memaafkan semua musuh-musuh yang membenci dan menganiayanya? Jika bukan ahklak Nabi Muhammad yang kalian contoh, lalu akhlak siapakah gerangan yang kalian tiru? Hayo?

Kalian begitu heroik memburu orang-orang yang menistakan agama Islam. Padahal justru kalian sendirilah sebetulnya yang telah merendahkan dan menghinakan agama Islam dengan perkataan, sikap, dan tindakanmu yang udik, norak, konyol, dan memalukan.

Jabal Dhahran, Arabia

 

“Hijab Itu Syari’at Yahudi”

Saya sudah sering sekali menulis tentang sejarah, tradisi, dan budaya hijab, berseri-seri, sampai bosan (jika berminat, silakan dicari sendiri, jangan suruh saya yang nyari. Emang gue cowok apaan?). Salah satu fakta menarik tentang sejarah, tradisi, dan budaya hijab ini adalah bahwa tradisi tentang hijab (kain penutup kepala), abaya (kain penutup tubuh seperti “jilbab”), dan bahkan burqa, niqab, atau khimar (kain penutup wajah) bukan hanya dipraktekkan oleh perempuan Muslim Arab saja, khususnya perempuan Arab Badui yang memiliki pola hidup nomadik, tetapi juga oleh perempuan non-Muslimah dan non-Arab, termasuk komunitas Yahudi.

Ajaran tentang hijab memang disyariatkan dalam teks-teks dan Kitab Suci umat Yahudi (seperti Talmud). Jauh berabad-abad sebelum Al-Qur’an hadir, Kitab Suci Yahudi sudah mengsyari’atkan tentang hijab ini. Karena itu tradisi hijab ini bukan hanya “sangat Islami” tetapi juga “sangat Yahudi”. Bukan hanya “sangat Qur’ani” tetapi juga “sangat Talmudi”.

Oleh karena itu tidaklah mengherankan jika ada sejumlah tokoh, rabbi, ulama, kelompok, dan sekte Yahudi dewasa ini yang mengklaim bahwa hijab itu adalah “Syari’at Yahudi”. Beberapa kelompok Yahudi ortodoks memandang berhijab merupakan “panggilan ilahi” yang harus ditaati oleh semua umat Yahudi.

Salah satu tokoh Yahudi yang getol menyuarakan gerakan “hijab Syar’i” adalah Bruria Keren, seorang pemimpin Yahudi ortodoks di Israel. Ia bahkan mengklaim bahwa asal-usul “tradisi hijab” itu berasal dari Yahudi dan karena itu siapa saja, perempuan mana saja, yang mengenakan hijab berarti telah meniru-niru ajaran, budaya, dan tradisi Yahudi. Menurutnya, kitab-kitab suci agama di Timur Tengah, termasuk Al-Qur’an, yang mengajarkan tentang hijab berarti telah mengjiplak Kitab Talmud. Klaim ini sebetulnya sangat berlebihan dan hiperbolik mengingat jauh sebelum masa Israelite (Yahudi Kuno), tradisi hijab ini sudah dipraktekkan oleh berbagai suku dan kelompok masyarakat di Timur Tengah (Mesopotamia, Assyria, dlsb).

Selanjutnya, Bruria Keren menyerukan agar semua kaum Hawa Yahudi untuk berhijab bukan hanya semata-mata demi memenuhi “panggilan ilahi” tetapi juga sebagai lambang kesederhanaan sekaligus perlindungan dari kemungkinan kejahatan atas kaum perempuan yang dilakukan oleh para pria hidung belang-belang.

Di Israel ada sekelompok Yahudi yang menamakan diri “Sekte Burqa Heredi” yang bahkan lebih ketat dalam menerapkan “Syari’at hijab” ini. Kaum perempuan Yahudi Heredi Burqa, bukan hanya membalut tubuh dan kepala mereka dengan baik tetapi bahkan menutup rapat wajah mereka dengan sehelai kain yang disebut “frumka” (semacam niqab atau burqa, persis seperti perempuan Saudi, Arab Badui, atau perempuan Afganistan di zaman rezim Taliban). Karena mengenakan busana yang ekstrim ini, maka sejumlah media menyebut mereka sebagai “Yahudi Taliban”. Seperti klaim dan penegasan dari Bruria Keren, sejumlah tokoh Yahudi dari sekte Heredi ini seperti Rabbi Yitzchok Tuvia Weiss juga menyatakan bahwa penggunaan tata busana super ketat ini dalam rangka untuk menegakkan “syariat Yahudi” sekaligus untuk kembali ke ajaran orisinal Talmud tentang wasiat berhijab sebagai simbol kesahajaan bagi perempuan.

Jika perempuan dari Sekte Burqa Heredi menutup rapat seluruh tubuh mereka, maka perempuan sekte Yahudi Ortodoks lain seperti Lev Tahor di Kanada (hususnya Ontario dan Quebec) mengenakan hijab dan jilbab minus kain penutup muka seperti tampak dalam foto ini (courtasy: CanadianContent) yang mirip sekali dengan ukhti-ukhti Muslimah atau kaum “hijaber” di Indonesia dan lainnya. Dalam Bahasa Ibrani, Lev Tahor berarti “hati yang suci”. Sekte ini merupakan salah satu kelompok ultra-ortodoks Yahudi yang dipimpin oleh Rabbi Shlomo Helbrans yang gencar menentang Zionisme dan aneksasi Israel atas Palestina. Kelompok Yahudi ulraortodoks juga bertebaran di Amerika. Dalam kehidupan sehari-hari, pengikut sekte Lev Tahor ini sangat sederhana dan “apa adanya” dalam menjalani hidup serta jauh dari hiruk-pikuk kemewahan duniawi.

Beberapa ajaran fundamental atau karaktristik mendasar Sekte Lev Tahor ini antara lain penolakan terhadap Negara Israel modern sampai datangnya sang “Juru Selamat”, menolak semua bentuk kehidupan modern karena dianggap bid’ah, kewajiban memakai baju / jubah traditional berwarna hitam, mengikuti “diet Yahudi” dalam pola-makan (termasuk tidak makan daging babi karena dianggap haram), kawin muda, berbicara dengan Bahasa Yiddish, rumah sangat sederhana tanpa dekorasi modern, dlsb.

Nah, sekarang bagi umat Islam jangan suka mengkapir-kapirkan Yahudi ya karena banyak sekali ajaran, tradisi, dan budaya Islam yang diserap dari Yahudi. Lagi pula gak baik lo mengkapirkan umat Yahudi atau Kristen karena mereka kan “kakak pertama” dan “kakak kedua” kaum Muslim. Jadi “si ragil” jangan nakal ya? He he. Selamat Hari Minggu…

 

Ilusi dan Ambisi Politik Hizbut Tahrir

0

Secara etimologi, HT berarti “Partai Pembebasan”. Berdiri tahun 1953 di Jerusalem, HT adalah sebuah organisasi atau partai politik internasional pan-Islam yang bertujuan untuk atau ingin menciptakan (menegakkan) kembali sistem politik-pemerintahan Khilafah Islam (Islamic Caliphate) yang tumbang pada tahun 1924 yang ditandai dengan berdirinya negara sekuler Turki dan rontoknya Daulah Ustmaniyah (Ottoman). Meskipun namanya atau bajunya bernama “Khilafah” tetapi isinya atau dalemannya sebetulnya sistem kerajaan atau dinasti.

Dalam konsep sistem Khilafah yang baru ini, HT berambisi atau berilusi untuk menyatukan seluruh umat Islam dalam satu wadah politik negara (eh salah kerajaan, eh salah lagi Khilafah maksudku) kesatuan dari Maroko sampai Mindanao. Catat baik-baik: HT itu sebetulnya “pro negara kesatuan” atau “unitary state” (seperti NKRI) bukan sistem federalisme (federal state), meskipun para pengecer dan cheerleaders-nya di Indonesia mati-matian anti-NKRI. “Negara khilafah” ala HT ini bisa disebut sebagai “superstate” yang menghimpun semua komunitas Muslim di dunia ini dalam satu bendera Islam. HT mengimajinasikan terbentuknya atau adanya “Tanah Islam” seperti kaum Zionis dengan slogan “Tanah Yahudi”-nya.

Sejarah munculnya atau berdirinya HT memang sebagai reaksi atas Perang Arab-Israel yang berbuntut pada pecahnya Palestina dan berdirinya Negara Israel. Karena itu salah satu “ajaran wajib” dan doktrin fundamental HT adalah anti-Zionisme dan anti-Negara Israel yang dianggap ilegal dan wajib dimusnahkan. Faktor lain adalah karena frustasi terhadap “negara-negara sekuler” baik Barat maupun Arab yang gagal mempertahankan kesatuan Palestina. Tapi uniknya, HT sepi peminat di negara asalnya bahkan dilarang di negara-negara Arab, meskipun lumayan laku di negara-negara lain.

Salah satu alasan pelarangan di sejumlah negara-negara Arab adalah karena pendiri HT, Taqiyuddin al-Nabhani (1909-1977), dicurigai menyimpan agenda terselubung untuk membangkitkan kembali kekuasaan suku Bani Nabhan yang pernah menjadi penguasa politik di Oman tahun 1154-1624 setelah berhasil mengkudeta kekuasaan Bani Saljuk. Dinasti Nabhani (atau juga disebut Daulah Nabahina) ini juga hancur diserbu Dinasti Yaruba.

Pendiri HT adalah dari keluarga suku Bani Nabhan ini.
HT hanyalah “alat” untuk mengegolkan ambisinya itu. “Khilafah” hanyalah nama saja untuk mewujudkan impiannya itu. Dan memang “draf konstitusi” Khilafah yang disusun Taqiyudin itu seperti zaman Dinasti Islam dulu: mata uangnya pakai logam (emas atau perak, bukan kertas), pemimpinnya bernama Khalifah, Muslim wajib militer untuk membela kerajaan / khilafah, para istri harus taat pada suami dlsb. Ingat ya: draf konstitusi ini yang bikin namnya Taqiyudin al-Nabhani, bukan Allah SWT seperti klaim mereka. Karena itu saya bilang sistem Khilafah itu produk manusia, bukan ciptaan Tuhan. Kalian kok mau sih dibodohi oleh para pedagang HT? [Bersambung]

Jabal Dhahran, Arab Saudi.

 

“Islam Garis Keras” Tidak Marketable

0

Sebagian orang di Indonesia “khawatir” kalau kelompok “Islam garis keras” atau kelompok “Islam ekstrim” akan berkembang biak karena “laku di pasaran”. Tetapi menurutku kelompok ini tidak akan laku di “pasar global” masyarakat Indonesia. Saya mengkaji berbagai perkembangan kelompok ini di berbagai negara sejak negara-negara pecahan Uni Soviet di Asia Tengah sampai negara-negara di kawasan Asia Seatan, Afrika, Arab, dan Timur Tengah, mereka gagal “memasarkan” ide-ide keagamaan mereka kepada masyarakat.

Ciri-ciri kelompok “Islam Sontoloyo” (istilah ini dari Bung Karno) ini hobi menebarkan pandangan dan tindakan intoleransi, anti-pluralitas, “takfiri” (gemar mengafir-sesatkan orang atau kelompok lain), tidak ramah alias “mbesengut” dengan kelompok luar, tertutup dalam pergaulan alias tidak mau membuka diri dengan dunia luar, arogan alias seenak perutnya sendiri, dan juga gampang ngamuk. Dikit-dikit marah, tersinggung, main pentungan. Silakan kenali ciri-ciri mereka di lingkungan Anda masing-masing. Juga jangan lupa pesan “Bang Napi”.

Di berbagai negara, pemerintah menumpas habis kelompok-kelompok “tengil” pengganggu stabilitas politik, harmoni sosial, dan perdamaian antar-umat manusia ini, sementara di negara-negara lain, pemerintah melarang ormas “Islam garis keras” dan terus diawasi aktivitas dan gerak-gerik kelompok ini.

Karena tidak laku memasarkan ide-ide dan praktek keislaman yang mereka anut dan percayai, maka mereka menggunakan cara-cara kekerasan: pemaksaan, menakut-nakuti, sampai pada kekerasan fisik. Kalau laku kan gak perlu pakai cara-cara kekerasan karena orang akan dengan suka rela memeluk versi atau jenis keislaman yang mereka “pasarkan”. Dengan kata lain, kekerasan bagi kelompok ini adalah akibat sekaligus strategi untuk memasarkan “dagangan Islam” yang mereka tawarkan. Maka Anda jangan heran kalau sejarah eksistensi kelompok “Islam garis keras” ini selalu diiringi dengan kekerasan.

Kultur masyarakat Islam Indonesia itu pada umumnya adalah “kultur Islam nominal” yang sangat fleksibel dalam beragama dan berislam serta kurang begitu menyukai “ekstrimitas” keagamaan. “Geografi kutural” Indonesia yang warna-warni, yang kontras dengan kawasan Arab dan Timur Tengah, sangat mempengaruhi corak keislaman dan keberislaman kaum Muslim disini. Budaya keislaman Indonesia itu tidak dibentuk secara tiba-tiba tetapi melalui proses sejarah yang begitu panjang. Karena itu sejak abad-abad silam, munculnya aneka kelompok keislaman yang kaku-regeng kayak tiang listrik ini selalu mendapatkan penolakan dan reaksi negatif masyarakat setempat.

Jangan melihat atau mengukur Islam di Indonesia dari yang tampak hingar-bingar di tv-tv atau di titik-titik tertentu di sejumlah kota besar. Tetapi tengoklah ke kota-kota kecil di berbagai daerah, ke pinggiran-pinggiran kota, ke kampung-kampung, maka kita akan merasakan Islam seperti apa yang didambakan oleh kaum Muslim di Indonesia.

Tidak seperti kelompok “Islam eskrim” eh “ekstrim” maksudku, yang hobi berkoar-koar seperti ayam mau bertelur, kaum Muslim kebanyakan di Indonesia itu lebih memilih diam dan fokus dengan aktivitas sehari-hari ketimbang grudak-gruduk kesana-kemari. Meski begitu, mereka tahu mana yang baik, mana yang buruk. Pada waktunya nanti mereka akan bersikap. Terbukti setiap Pemilu, kaum Muslim kebanyakan tidak menggubris ajakan, seruan, dan propaganda para elit “Islam garis keras” ini. Ya kan? Kannn…

 

Islam, Anjing, dan Saluki

0

Jika sebagian kelompok Islam di Indonesia membenci anjing karena dianggap sebagai hewan kotor dan najis bahkan ada yang memakai hewan ini sebagai umpatan dan makian kepada orang dan kelompok lain yang tidak mereka sukai, maka tidak bagi umat Islam lain di jagat raya ini. Banyak masyarakat Islam di dunia ini, termasuk kaum Muslim Arab sendiri di Timur Tengah, yang sangat bersahabat dengan anjing.

Jalan-jalanlah kalian ke Turki maka Anda akan menyaksikan banyak anjing berkeliaran di jalan-jalan dan ruang publik lain, bahkan di rumah-rumah dan tempat ibadah. Anjing-anjing di Turki sangat “friendly” kepada orang-orang. Oleh masyarakat Muslim Turki, anjing dipakai untuk menjaga rumah dan bahkan masjid. Ada masjid-masjid yang “menyewa” jasa anjing untuk menjaga dari orang-orang jahat atau “teroris gemblung” yang ingin meledakan masjid. Anjing adalah salah satu makhluk yang cerdas dan loyal kepada majikan karena itu tidak heran kalau banyak yang suka dan dipakai untuk “teman” dan “bodyguard”.

Bukan hanya di Turki, di Tanah Arab (seperti Uni Emirat Arab, Kuwait, Yaman, Libanon, Yordania, Oman, Palestina, Irak, dlsb) juga banyak sekali kaum Muslim yang sangat bersahabat dengan anjing. Ada jenis ras anjing di Timur Tengah yang bernama Saluki yang juga populer dengan julukan / sebutan “anjing Arab” (Arabian dog–al-Kalb al-Arabi) tapi ada juga yang menamakan “Persian greyhound”.

Saluki memiliki ciri-ciri khusus seperti kaki panjang, kurus-tinggi, dan ketajaman pandangan. Seperti elang, Saluki menggunakan mata (bukan hidung) sebagai medium utama untuk memburu mangsa. Saluki juga dikenal sebagai pelari ulung yang tahan banting dan tahan panas karena itu tidak heran jika di beberapa daerah di Arab digunakan untuk lomba lari atau “karapan anjing” (lihat foto).

Ada beragam pendapat tentang asal-usul nama Saluki ini. Tradisi Arab menyebut Saluki berasal dari daerah kuno yang bernama Saluki di Yaman (tidak jauh dari kota Ta’izz). Sampai sekarang, masyarakat di Yaman juga menggunakan anjing untuk berbagai keperluan: berburu, menjaga rumah, sampai perlombaan.

Islam adalah agama yang sangat ramah terhadap semua makhluk hidup di dunia ini termasuk binatang. (Sebagian) Muslim-nya saja yang kadang norak dan urakan. Beberapa ayat dalam Al-Qur’an jelas menginstruksikan untuk berbuat baik dan menyayangi terhadap alam semesta dan seisinya. Al-Qur’an juga secara tegas melarang berbuat kerusakan dan kejahatan terhadap alam dan makhluk-Nya.

Al-Qur’an hanya secara eksplisit mengharamkan memakan daging babi (bukan memelihara hewan babi). Meskipun daging babi haram untuk dikonsumsi bukan berarti halal untuk disakiti. Pula, jika air liur anjing dianggap kotor dan najis kan gampang tinggal dicuci saja kalau mengenai pakaian dan objek lain, bukan malah dijadikan sebagai alasan dan pembenar untuk memburu dan menyakiti anjing.

Dari dulu, banyak para ulama klasik (trmasuk Fakhruddin al-Razi, Abu Hanifah, Ibnu Muqaffa, Shihabuddin Suhrawardi, Faridudin Attar, al-Jahiz, dlsb) yang memerintahkan untuk menyayangi binatang apa saja dan mengharamkan atau melarang menyakiti dan menyiksa mereka. Maka, jika anda mengaku mencintai Allah, maka cintailah makhluk-Nya.

 

“JIL Gundulmu”

0

Sudah sejak “dahulu kala”, oleh sejumlah sekte “Islam Pentungan” dan kaum Muslim unyu-unyu, saya selalu dianggap atau dituduh sebagai aktivis, pegiat, atau bahkan “dedengkot” lembaga JIL (Jaringan Islam Liberal) di Jakarta. Saya hanya mesam-mesem saja mendengar atau membaca komentar mereka dan belum pernah menanggapi secara publik.

Nah, sekarang saya jelaskan dan tegaskan bahwa saya bukan aktivis, pegiat, apalagi dedengkot JIL. Bahwa saya berteman dengan sejumlah aktivis, pegiat, dan dedengkot JIL memang ya tapi saya tidak memiliki afiliasi kelembagaan dengan JIL. Mas Ulil Abshar Abdalla misalnya adalah teman baikku dan pernah sama-sama tinggal di Boston dulu. Tapi ya sebatas teman saja, sebagaimana saya berteman dengan para aktivis, pegiat, dan “pentolan” lembaga-lembaga lain diluar JIL.

Bagaimana mungkin saya jadi pengurus JIL wong saya tinggal di Semarang, bukan Jakarta. JIL kan “markasnya” di Jakarta. Sejak 2005 di Amerika terus pindah ke Saudi. Bahkan saya juga terhitung jarang sekali ke Jakarta karena sumpek lihat ibukota Indonesia ini yang macet, tidak ramah, semrawut alias “amburadul”. Kalau diminta datang ke kantor JIL, sudah pasti saya nyasar karena tidak tahu tempatnya dimana. Apalagi orang Jakarta kalau ditanya, jawabnya “Tau” (“tau atau gak tau”??) atau kalau tidak, mereka bilangnya: “Disono kali”. Karena itu kalau ke Jakarta paling hanya beberapa hari doang, kalau ada perlu. Itupun jarang sekali. Pusing dengerin orang-orang Jakarta ngomong lu-lu gue-gue…

Bahwa JIL, sesuai namanya, menganut “paham Islam liberal” memang ya tapi penganut “paham Islam liberal” bukan hanya JIL cing. Ada banyak kaum Muslim di Indonesia–di desa maupun di kota, Jawa maupun non-Jawa–yang mempunyai pandangan, pemikiran, gagasan, praktek, dan tindakan “liberal”.
Jika kata “liberal” yang dimaksud adalah sebuah ide dan tindakan yang bertumpu pada kebebasan individu, egalitarianisme, anti-kekerasan, kesamaan, menghormati sesama, toleransi, tepo seliro (menenggang perasaan orang lain), dlsb, maka orang-orang Muslim di kampung-kampung itu liberal banget.

Falsafah hidup orang-orang Jawa dan berbagai etnis di Indonesia itu kan juga sangat liberal. Para kiai di pesantren-psentren juga banyak yang liberal banget. Para ulama dan tokoh Muslim awal juga banyak sekali yang liberal. Nabi Muhammad dan para nabi terdahulu juga seorang yang sangat liberal, Al-Qur’an juga sangat liberal, dan bahkan Tuhan sendiri kan sangat liberal. Tapi mereka bukan JIL. Paham?

 

Kata “Auliya” Menurut Warga Saudi

0

Karena didorong oleh rasa penasaran dengan heboh Surat Al-Maidah 51, khususnya tentang makna dari kata “auliya”, maka saya pun bertanya kepada para murid dan teman-teman Saudi-ku. Kalau mau sebetulnya gampang mencari makna atau arti kata ini, tinggal buka kamus Bahasa Arab yang kredibel, kita akan tahu sederet arti kata “auliya” ini. Tapi sebagai antropolog, saya harus menggali data dan informasi dengan bertanya kepada orang bukan pada buku/kamus.

Para teman dan muridku itu agak kaget saya bertanya arti kata atau penggunaan kata “auliya” oleh masyarakat Arab/Saudi kontemporer. Menurut mereka, kata ini adalah Bahasa Arab klasik (fushah) yang sudah jarang digunakan dalam komunikasi sehari-hari.

Kalaupun kata ini digunakan, penggunaanya dalam konteks yang sangat spesifik dan mengandung arti/makna spesifik seperti:
Pertama, ayah, ibu, paman atau siapa saja yang menjaga, mengasuh, melindungi, dan mengurus anak. Atau jika anak itu tidak punya ayah-ibu (yatim-piatu) sehingga diurus oleh negara atau pemerintah, maka pemerintah itulah sebagai “auliya” (legal guardian) karena telah mengurus anak tadi. Orang Saudi kalau melihat ada anak kecil sendirian di jalan tanpa orang dewasa, maka mereka akan tanya: “Aina wali amrik” (“Mana walimu”?).

Kedua, kata “auliya” juga berarti “wali murid”. Dalam surat-surat formal dari sekolahan misalnya tertulis: “Ila auliya al-umur” (“Kepada para wali murid”).
Ketiga, orang-orang saleh dan alim yang dekat dengan Allah. Di Indonesia misalnya ya Walisongo atau siapa saja yang dianggap saleh dan alim oleh kaum Muslim.
Keempat, teman atau sekutu.

Saya pun bertanya lagi: “Kalau untuk pemimpin pemerintahan seperti presiden, gubernur, walikota, dlsb, kata apa yang digunakan?” Mereka serentak menjawab: “wulah” (jamak dari “waa-lii” kalau “auliya” jamak dari “wa-lii”). Contoh dari kata “wulah” ini adalah sultan (seperti di Oman), raja atau malik (seperti di Saudi), amir (seperti di Qatar), hakim, gubernur, walikota atau umdah, dlsb.

Jadi tahu kan sekarang penggunaan kata “auliya” bagi warga Saudi. Nah sekarang apa arti kata “Auliya Pohan” hayo?
Demikian sekilas info. Semoga ada manfaatnya.

 

Komunisme Itu Beda Dengan Ateisme Bro

0

Ini lanjutan kuliah virtualku kemarin yang berjudul “Komunisme di Timur Tengah”. Mumpung masih ingat, saya tulis saja sekarang. Bagi yang belum sempat baca postinganku kemarin, silakan dibaca dulu supaya kalau mau komen disini agak nyambung dan “ilmiah” dikit, tidak asal njeplak kayak preman Terminal Pulo Gadung he he.

Seperti saya jelaskan sebelumnya, sebagai sebuah konsep, filosofi, dan sistem, komunisme itu jauh berbeda dengan ateisme. Tidak seperti ateisme yang “ngurusi” masalah agama-kepercayaan orang (kapan-kapan saya bahas tentang teisme dan ateisme ini), komunisme lebih pada urusan sosial-politik dan ekonomi. Jadi menganggap komunisme = ateisme itu tidak nyambung alias “Joko Sembung naik ojek” he he.

Bahwa pada perkembangnnya kelak, ada orang-orang ateis yang bergabung di gerbong komunisme memang iyyess. Orang ateis mah ada dimana-mana atuh mang dan mpok, bukan monopoli komunisme aja. Kaum ateis ini ada yang menjadi pendukung sosialisme, kapitalisme, nasionalisme, dan isme-isme yang lain. Kaum ateis, baik yang ateis konservatif maupun ateis libertarian, juga banyak yang anti ideologi komunis (silakan baca buku-buku yang ditulis oleh Gary Marks, Seymour Lipset, Paul Buhle, Jeff Woods, dlsb).

Bahwa ada komunis yang ateis bukan berarti komunis itu ateis, kan? (Hayooo paham gak dengan pernyataan ini? he he). Bahwa ada para simpatisan komunisme yang terlibat kekerasan dan kejahatan memang iyyess tetapi jangan, meminjam gaya omongan Pak Harto, “menyalahken atau mengkambinghitamken daripada komunisme”-nya sebagai sebuah filosofi, ideologi, gerakan, dan sistem sosial-politik-ekonomi. Soal kekerasan dan kejahatan mah dilakukan oleh pendukung ideologi apa saja atuh: kapitalisme, liberalisme, sekularisme, Islamisme, sosialisme, nasionalisme, pan-Arabisme, dlsb.

Pada awal perkembangan ideologi “komunisme modern” di Eropa (saya sebut “komunisme modern” karena “ajaran” komunisme yang bertumpu pada doktrin egalitarianisme dan anti-hierarkhisme sudah dipraktekkan sejak zaman klasik oleh masyarakat “pre-modern”) memang sejumlah tokoh sekularis dan ateis ikut berkontribusi dan kebetulan menjadi pioneer komunisme. Tetapi mereka sebetulnya bukan anti-teisme atau anti-agama melainkan anti terhadap perilaku sejumlah tokoh atau elit agama dan pemimpin politik di Eropa kala itu yang menjadikan agama semata-mata sebagai “topeng monyet” untuk mengelabui, membodohi, menipu, dan menindas masyarakat. Agama yang dijadikan sebagai instrumen pembodohan, ketidakadilan, dan penindasan inilah yang menjadi target kritisisme mereka.

Dalam konteks inilah, Karl Marx bilang “agama adalah candu” karena agama, bagi Marx, bisa membuat pengikutnya menjadi “teler” alias “mabok” sehingga tidak bisa membedakan mana keadilan dan ketidakadilan, mana kebenaran hakiki dan mana kesalahan permanen, mana dosa dan mana pahala, dan seterusnya. Sudah tahu kalau korupsi adalah merusak moral tapi malah dihalalkan, sudah tahu kalau kekerasan adalah kejahatan atau tindakan kriminal tetapi malah diberi “justifikasi teologis”, sudah paham kalau pengrusakan dan terorisme itu haram tapi malah “dilegalkan”, sudah paham kalau intoleransi itu tindakan buruk tapi malah dibiarkan, sudah paham kalau banjir dan malapetaka alam lain itu produk dari keteledoran manusia tetapi malah berdoa minta Tuhan menyelesaikan banjir, dlsb.

Kembali ke laptop (maap Mas Thukul). Karena memang tidak ada hubungannya antara komunisme dan ateisme itulah maka kenapa banyak para pengikut agama dulu (Muslim, Kristen, Yahudi, dlsb) ikut menjadi pendukung komunisme. Di kawasan Arab dan Timur Tengah dulu, para pentolan Partai Komunis di Palestina, Mesir, Irak, Libanon, Iran, Yordania, Maroko, Aljazair, dlsb adalah para tokoh agama, baik Muslim, Kristen, maupun Yahudi. Beberapa di antara mereka seperti Mahmud Husni al-Urabi (pendiri partai komunis di Mesir) bahkan belajar komunisme langsung ke Moscow.

 

Menjaga Indonesia sebagai “Rumah Bersama”

0

Di awal tahun baru ini, ijinkan saya menulis sebuah refleksi singkat mengenai “rumah” yang bernama “Indonesia”. Saya tegaskan sekali lagi, Indonesia itu adalah “rumah bersama”. Sejak awal, penghuni rumah ini sudah warna-warni, baik dari sisi etnis maupun agama. Sejak awal pula, bukan hanya kaum Muslim saja yang berkeringat memperjuangkan dan mempertaruhkan harta-jiwa-raga demi rumah Indonesia ini. Berbagai macam agama, ras, dan etnis turut memberi kontribusi pagi pendirian rumah ini.

Penegasan ini penting saya lakukan untuk mengingatkan kita semua karena belakangan ini, lantaran didorong oleh kepentingan dan motivasi politik-ekonomi-ideologi tertentu, sejumlah tokoh, ormas/lembaga, dan kelompok agama, khususnya Islam, berusaha mengklaim dan membajak “rumah” ini dengan mengatakan bahwa kaum Muslim-lah yang memperjuangkan dan membangun Indonesia ini dan karena itu wajib atau harus “dinomorsatukan”. Tanpa deklarasi kewajiban menomorsatukan umat Islam-pun sebetulnya kaum Muslim sudah dinomorsatukan selama ini.

Bacalah (kembali) secara pelan-pelan sejarah rumah Indonesia tercinta ini. Para tokoh bangsa yang terlibat persiapan kemerdekaan negara ini bukan hanya tokoh-tokoh Muslim seperti Bung Karno, Hatta, Natsir, Sjajrir, Yamin, Agus Salim, Kiai Wahid Hasyim, Kiai Abdul Wahab Chasbulah, dlsb. Tetapi juga para tokoh non-Muslim seperti Johannes Leimena, A.A. Maramis, Johannes Latuharhary, I Gusti Ketut Puja, dlsb. Pula, bukan hanya tokoh berdarah Arab seperti Abdurrahman Baswedan atau Hamid Algadri saja yang memperjuangkan kemerdekaan tetapi juga para tokoh Tionghoa seperti Oey Tiang Tjoe, Oey Tjong Hauw, atau Laksamana John Lie Tjeng Tjoan.

Ingat juga bahwa para pahlawan bangsa yang mengobarkan semangat perang, perjuangan, dan perlawanan terhadap Belanda bukan hanya para tokoh Muslim saja tetapi juga non-Muslim. Bukan hanya tokoh-tokoh Muslim saja yang ditangkap, disel, atau dibuang oleh Belanda tetapi juga non-Muslim. Simaklah sejarah heroik Ignatius Joseph Kasimo, I Gusti Ketut Jelantik, Martha Christina Tiahahu, I Gusti Ngurah Rai, Agustinus Adisucipto, Arie Frederik Lasut, Bernard Lapian, Herman Johannes, dan masih banyak lagi.

Para tokoh Muslim dan non-Muslim dari berbagai suku dan daerah bahu-membahu memperjuangkan negara kita tercinta, baik dengan cara perlawanan bersenjata maupun politik diplomasi. Tanpa mereka semua, Indonesia tak pernah ada. Oleh karena itu sungguh tidak pantas dan menyakitkan jika ada sebagian dari para tokoh agama dewasa ini yang mengklaim Indonesia adalah “produk umat Islam” saja.

Karena rumah Indonesia ini dibangun oleh dan hasil jerih payah dari berbagai tokoh agama dan etnis, maka sudah seharusnyalah jika mereka semua mendapatkan hak-hak politik-ekonomi-budaya dan kewajiban yang sama sebagai sesama keluarga dan penghuni rumah Indonesia ini. Mari kita jaga dan rawat Indonesia sebagai “rumah bersama”. Jangan sampai rumah indah ini “dibajak” oleh orang-orang dan kelompok arogan, intoleran, dan tidak bertanggung jawab. Kasihan anak-cucu kita kelak di kemudian hari…

 

Bisnis Agama untuk Kekuasaan

0

Bagi sebagian orang, agama adalah “barang bisnis” yang sangat menggiurkan. Seperti komputer, ponsel, atau mobil, agama juga “properti” yang sangat menjanjikan untuk dibisniskan. Dalam konteks “bisnis agama” ini, umat beragama adalah “pangsa pasar” yang sangat menggairahkan dan karena itu bisa dimanfaatkan (atau dimanipulasi) dengan baik oleh kaum “kapitalis agama”. Kaum kapitalis atau pedagang agama ini bisa saja seorang klerik, pendakwah, politisi, birokrat, akademisi, artis, jurnalis, pebisnis, penulis, dan masih banyak lagi.

Siapapun mereka, apapun profesinya, yang jelas intinya adalah mereka menjadikan atau memanfaatkan agama sebagai atau layaknya “barang dagangan” untuk meraup keuntungan ekonomi-politik dan material-duniawi. Sebagian umat beragama memang seperti konsumen loyal dan faithful yang bisa dengan gampang membeli produk-produk keagamaan sehingga menguntungkan bagi para pedagang dan “tengkulak” agama ini.

Tentu saja tidak semua orang, termasuk umat beragama itu sendiri, mau atau bersedia “membeli” produk-produk keagamaan yang ditawarkan oleh kelompok kapitalis agama tadi. Di sejumlah negara di Eropa atau Australia, misalnya, seperti yang ditulis oleh Steve Bruce dalam God is Dead: Secularization in the West, agama sepi peminat. Jualan agama tidak laku. Di dunia akademik Barat, agama memang telah menarik perhatian banyak pihak tetapi sebatas untuk dikaji teks-teks, tradisi, dan sejarahnya bukan dipraktekkan ajaran, norma, dan nilai-nilainya.

Fenomena di Eropa dan Australia diatas cukup kontras dengan Amerika dan Indonesia (juga di sejumlah negara lain seperti di Arab dan Timur Tengah) misalnya dimana telah terbukti bisnis agama ini memiliki banyak peminat dan pembeli. Baik Islam (dari berbagai aliran dan organisasi) maupun Kristen (dari berbagai denominasi dan konggregasi) yang merupakan dua “agama misionaris” Semit yang sangat kuat telah mendulang banyak kesuksesan dan keuntungan di kedua negara ini.

Di kedua negara ini pula, baik Kristen (di Amerika) maupun Islam (di Indonesia) telah menjadi, meminjam istilah sosiolog Jose Casanova, “agama publik” (public religion) yang tidak lagi “bersembunyi” di ruang-ruang privat melainkan telah menjelma menjadi fenomena publik di panggung-panggung politik, ekonomi, sosial, dan budaya.

Dalam konteks Indonesia, salah satu contoh menarik dari fenomena “agama publik” ini adalah munculnya “Islam politik”yang marak paska lengsernya Presiden Suharto tahun 1998 yang ditandai dengan merebaknya berbagai parpol berlabel Islam serta aneka kelompok Islam sektarian yang mengusung beragam ideologi, mazhab, pemikiran, dan wacana keislaman. Penting untuk dicatat bahwa kata “politik” dalam “Islam politik” ini tidak hanya merujuk pada “politik elit” tetapi juga “politik massa”, bukan hanya “politik pemerintahan” tetapi juga “politik kemasyarakatan”.

Karena sebagian kaum Muslim di Indonesia, terlebih masyarakat Islam kota, sedang “gandrung” atau “puber agama”, maka bisnis atau jualan Islam politik yang dijajakan, dikampanyekan, dan dipropagandakan oleh sejumlah elit Muslim (baik elit politik maupun agama) dan ormas keislaman ini juga lumayan laku laris-manis tanjung-kimpul. Banyak kaum Muslim dengan antusias, ketulusan, keikhlasan, dan keluguan berbondong-bondong membeli aneka produk “Islam politik” ini dengan harapan tentu saja untuk mendapatkan ridla Allah dan sebanyak mungkin pahala supaya kelak bisa masuk surga.

Para aktor atau penjual Islam politik ini tidak perlu bermodal besar untuk mengeruk keuntungan ini. Mereka cukup bermodalkan sejumlah ayat Al-Qur’an ditambah sejumlah Hadis dan perkataan (aqwal) para ulama tertentu yang tentu saja semuanya—baik ayat, hadis, maupun aqwal tadi—sudah dipilah-pilah atau disortir sedemikian rupa dan disesuaikan dengan narasi, selera, agenda, dan kepentingan mereka. Meskipun ada segunung teks, wacana, sejarah, dan tradisi keislaman yang kontra “Islam politik”, mereka abaikan karena tidak mendukung proyek ekonomi-politik-kekuasaan yang mereka desain dan agendakan.

Dengan membubuhkan teks-teks sakral-agamis, maka gagasan dan wacana profan-sekuler seperti konsep “Islam politik” tadi kemudian menjadi ikut-ikutan tampak suci-Islami karena mendapat legitimasi teologis atau “stempel ketuhanan”. Meskipun sebetulnya “Islam politik” sebagai sebuah konsep maupun aksi dan gerakan politik tetap saja profan dan sekuler karena merupakan produk dari pemikiran dan kebudayaan manusia. Tetapi sebagian segmen publik massa Islam tidak memperdulikannya. Yang penting buat mereka, produk-produk itu ada dalil-dalil keislamannya.

Jika sudah kelihatan Islami dan seolah-olah mendapat restu dari Allah, maka produk “Islam politik” pun siap untuk di-launching. Diluar sana, sudah mengantri sekian banyak konsumen setia menunggunya. Itulah yang terjadi saat ini dan juga masa-masa yang lalu di mana sebagian kaum Muslim rela berbondong-bondong menjadi pengikut setia para “kapitalis” Muslim yang menjual agama untuk kepentingan material-ekonomi dan politik-kekuasaan.

Atas nama menghormati dan memulyakan Islam serta menjunjung tinggi martabat kaum Muslim, mereka pun rela merendahkan, melecehkan, dan mengabaikan hak-hak politik dan kewargaan non-Muslim seperti yang menimpa pada Ahok saat ini. Disinilah sesunggunya saya melihat apa yang mereka klaim sebagai aksi atau gerakan “politik Islami” itu sangat tidak Islami karena berlawanan dengan kaedah-kaedah, moralitas, tata-krama, etika profetis, dan norma-norma kepolitikan yang digariskan dalam Al-Qur’an dan praktek-praktek kenabian. []