Tiba-tiba tadi malam ponselku berdering “krik krik krik”. Nada dering ponselku memang “nada jangkrik”. Saya pun angkat itu barang ajaib, maka terdengarlah suara di ujung sana seseorang berbicara dengan bahasa campuran: Indonesia dan Jawa yang sangat “mendok”:

“Mas, piye kabare suwe ora jamu, lama gak ketemu, sampean kerasan kewarasan yo di luar negeri tidak mudik-mudik…”.
Saya masih menerka-nerka siapa yang punya suara ini kok “sok akrab” banget tapi kok nomer HP-nya tidak saya kenal. Meski begitu saya mengenali suaranya seperti Pak Jokowi.

Maka saya pun mencoba untuk mengonfirmasi:
“Kabar baik, Pak. Maaf njih, apa ini Pak Jokowi?”
“La siapa lagi. Ya saya Jokowi. Yang punya suara antik begini kan cuma saya to di dunia ini he he,” jawabnya setengah “cengengesan.”

Saya pun segera menjawab: “Wah tumben, tidak ada hujan, tiada angin, kok sampean menelpon diriku. Ada apa to Pak? Jadi deg-degan aku.”
“Begini mas. Saya butuh bantuan sampean. Kira-kira bisa nggak menolongku?”
“Ya tergantung, Pak. Kalau saya sanggup ya saya bantu tapi kalau tidak mampu, ya saya bantu juga sebisaku he he,” jawabku cengengesan juga karena begitulah aku sejak dulu.

Tiba-tiba Pak Jokowi mulai agak serius ngomongnya: “Indonesia yang majemuk ini butuh orang-orang seperti sampean Mas: ndableg seperti Wiro Sableng tapi toleran dan nasionalis. Maka saya minta sampean mudik Mas, turun gunung, untuk ikut membenahi kondisi negara yang mulai penuh-sesak dengan ‘umat unyu-unyu’ dan ‘kaum pentungan’ itu.”

“Lo, sampean kok tahu istilah ‘unyu-unyu’ dan ‘kaum pentungan’ segala to, Pak?” Tanyaku penuh selidik.
“Ya tahu wong saya itu ‘follower’ Facebook-mu kok mas,” jawabnya singkat.

“Ah masak sih Pak Jokowi jadi ‘follower’ Facebook-ku. Jadi ge-er aku, ada seorang Presiden RI jadi follower Facebook wong kecil seperti diriku?” timpalku sekenanya.

“Mas, saya bukan Presiden Jokowi, tapi tetangga kampungmu. Masak lupa to sampean?,” tanyanya
“Ooo Mas Jokowi, gimana kabarnya??”