Beranda blog Halaman 40

Hubungan Baik Saudi Arabia dan China

0

Jika di Indonesia, sejumlah “kelompok wudel bodong” antipati dengan China, Arab Saudi justru menjadi “auliya” alias teman baik Tiongkok atau Republik Rakyat China (PRC).

Relasi baik dan produktif Cina Saudi terjadi terutama sejak mendiang Raja Abdullah yang dikenal sangat moderat dan visioner yang memulai membuka jalinan positif dengan Republik Rakyat China dengan mengunjungi “Negeri Panda” itu. Sejak itu, berbagai kunjungan tingkat tinggi antar-kedua negara pun dilakukan.

Saudi memandang China sebagai partner yang sangat baik dan “tidak rewel” merecoki urusan “dalam negeri kerajaan. China pun memiliki pandangan yang sama. “Business is business”, politik dalam negeri urusan masing-masing.

Jadinya lancar. Saudi adalah eksportir minyak terbesar untuk China. Sedangkan China adalah importir minyak terbesar untuk Saudi.

Menurut Dr. Naser Al-Tamimi, pemangat Timur Tengah dan penulis buku “China-Saudi Arabia Relations”, ada sekitar 165 perusahan raksasa China yang beroperasi di Saudi dengan lebih dari 175 proyek besar di berbagai sektor pembangunan: dari konstruksi sampai telekomunikasi.

Kedua negara juga berkolaborasi di sektor keamaan dan pertahanan atau bahkan di dunia pendidikan. Duta Besar China di Saudi, Li Chengwen mengatakan ada ribuan mahasiswa Saudi yang belajar di China, dan ada sekitar 600 mahasiswa China yang belajar di Saudi di bidang perminyakan, teknik, dan hard science.

Sejumlah perusahaan raksasa Saudi seperti Saudi Aramco (di bidang perminyakan) dan Saudi Basic Industries Corp (SABIC) yang bergerak di bidang petrokimia juga membuka cabang di China dan menjalin kerja sama dengan China Petroleum & Chemical Corporation (Sinopec Group) dan Fujian Refining and Petrochemical Company.

Tidak seperti di Indonesia dimana sebagian masyarakat meributkan China dan komunisme, di Saudi adem ayem. Tidak ada sejentil makhluk pun yang mempermasalahkan soal relasi Saudi-China, apalagi soal komunisme.

Mereka justru heppiii dan berterima kasih kepada China karena telah menyediakan berbagai produk dari elektronik sampai pakaian (jubah, abaya, udeng-udeng, dlsb) yang terjangkau oleh masyarakat luas.

Hari gini ngomong komunis bangkit Dul Dul. Yang jelas “bangkit” itu “onderdilnya” Mamat kalau habis minum “ramuan Madura” he he…

Abdullah dan Komunitas Syiah di kawasan Arab

0

Entah kenapa tiba-tiba, mak bedunduk, saya ingin menulis tentang Abdullah. Ia bukan ayah Nabi Muhammad atau almarhum Raja Saudi yang legendaris itu. Tapi seorang staf di departemenku. Ia punya tugas multi fungsi: mengantar surat, bikin teh-kopi-susu, dan kesana-kemari ngurusi urusan departemen. Pokoknya “seksi sibuk”.

Selain itu, ia adalah pengikut Syiah yang taat. Saya perhatikan ia rajin salat (ala mazhab Syiah) di ruangannya. Saat ia menunaikan salat, Muslim yang non-Syiah tau diri tidak masuk ke ruangannya. Ketika ia merayakan hari-hari istimewa Syiah, kami pun mengucapkan selamat kepadanya.

Seperti yang sudah sering saya tulis, ada banyak warga Syiah di kampusku ini, baik sebagai mahasiswa atau staf seperti Abdullah tadi maupun tenaga edukasi (dosen) dan birokrat kampus.

Kampus ini memang sangat warna-warni, beragam etnis dan agama ada tumplek blek, baik Muslim maupun non-Muslim, baik Arab, Afrika, Asia, India, sampai “bule” (bukan “bule tekle” lo ya? he he) banyak sekali. Kami saling menghormati satu sama lain.

Apalagi fakultasku, para bule Inggris dan Amerika banyak sekali karena mereka dibayar untuk mengajar Bahasa Inggris kepada “calon mahasiswa” sampai mereka menguasai Bahasa Inggris dan siap mengikuti kuliah yang memang menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar.

Dosen di departemenku juga warna-warni: ada yang dari Turki, Amerika, Inggris, China, Kanada, Pakistan, Aljazair, Sudan, dan Saudi sendiri tentunya, selain Jawa.

Abdullah adalah seorang warga Syiah Saudi yang sangat loyal dengan negaranya. Saya melihat banyak orang di Indonesia salah paham dengan dinamika Sunni-Syiah di dunia Arab, seolah-olah pengikut Sunni dan Syiah itu selalu berseteru dan bermusuhan abadi. Realitasnya tidak demikian.

Karena baik pengikut Sunni maupun Syiah berasal dari beraneka ragam etnis dan suku, maka identitas kesukuan dan etnisitas juga penting untuk dilihat dalam menyikapi persoalan relasi dua kelompok agama ini. Misalnya, kaum Syiah Arab tidak selalu setuju dengan “Syiah Persi” (Iran) atau sebaliknya: “Sunni Arab” tidak selamanya sependapat dengan “Sunni Persi”.

Itulah sebabnya selalu ada berbagai kubu di kelompok Syiah maupun Sunni. Itu baru dua identitas etnis. Belum lagi yang Kurdi, Berber dan lainnya. Belum lagi suku dan klan yang jumlahnya banyak sekali di kawasan Arab.

Saya justru melihat identitas kesukuan dan klan itu jauh lebih kuat dan kental ketimbang identitas keagamaan. Misalnya, seorang Syiah dan Sunni yang berasal dari suku atau klan yang sama, akan lebih mengutamakan suku/klan mereka ketimbang urusan Sunni-Syiah. Itulah sebabnya, saya melihat ada banyak kawin-mawin antara Sunni-Syiah karena mereka “disatukan” dengan suku/klan, meskipun “dibedakan” dengan identitas Sunni/Syiah.

Jaringan suku dan klan ini digunakan oleh warga Arab (baik Sunni maupun Syiah) untuk mendapatkan akses politik, ekonomi, pekerjaan, pendidikan, dlsb, bahkan sampai dunia perkawinan. Tribalisme dan klantisme dipakai sebagai medium untuk merawat dan melangsungkan aneka ragam kehidupan sosial di antara mereka.

Nah, kompleks sekali kan dunia ini? Dunia ini ternyata tidak sesimpel seperti yang dikhayalkan Mamat-Mimin he he.

Pro Islam atau Anti Non Muslim?

0

Jamaah Mamat Mimin sering mengklaim pro umat Islam tetapi sebetulnya mereka ini bukan pro Islam dan umatnya tetapi karena anti non Islam dan umatnya.

Sekarang mari kita tes dikit saja. Kenapa mereka selalu bengak-bengok soal penderitaan umat Islam di Palestina, Myanmar, atau Mindanao misalnya dan (kadang-kadang) begitu heroik demo massa sekaligus menggalang dana untuk “menolong saudara-saudara umat Islam” yang menjadi korban perang dan kekerasan? Ah masak sih?

Lalu, kalau memang jamaah Mamat-Mimin betul-betul memiliki solidaritas terhadap umat Islam dan ingin menolong kaum Muslim yang menderita, kenapa mereka tidak menggelar demo massa dan menggalang dana untuk saudara-saudara Muslim mereka yang juga menjadi korban perang dan kekerasan di Yaman, Suriah, Irak, Mesir, Aljazair, Sudan, Turki, Tunisia, Libya, Afganistan, Kazahstan, dan seterusnya?

Kenapa mereka hanya bersemangat soal Palestina atau Libanon, Myanmar, atau Mindanao? Jawabannya mudah sekali: karena pelaku kekerasan terhadap umat Islam disini itu diasumsikan non Muslim seperti Yahudi untuk Palestina, Buddha untuk Myanmar atau Kristen untuk Mindanao.

Sementara pelaku kekerasan terhadap umat Islam di Yaman, Suriah, Mesir, Afganistan, Turki, Sudan, dlsb itu adalah sesama kaum Muslim.

Tidak usah jauh-jauh ke manca negara. Sekarang mari kita lihat di Indonesia saja. Kalau pelaku tindak kekerasan terhadap umat Islam (beserta simbol-simbol keislaman) itu diasumsikan sebagai non Muslim (seperti dulu kasus di Ambon atau Poso), maka secepat kilat jamaah Mamat Mimin Momon khotbah dimana-mana pletar-pletor menghujat kekejaman dan kesadisan non Muslim.

Mereka juga sibuk kesana-kemari seperti ayam mau bertelor pletak-pletok, menggalang ini-itu.

Tetapi jika pelaku tindak kekerasan dan kekejaman itu adalah umat Islam itu sendiri (baik terhadap non Muslim maupun Muslim), cangkem atau congor mereka seperti disolasi, tidak keluar sepatah katapun mengutuk pelaku kekerasan dan kekejaman apalagi bersimpati atau memberi empati terhadap para korban, meskipun yang menjadi korban itu adalah sesama umat Islam.

Jadi, masihkah Anda percaya dengan “mitos” solidaritas umat Islam? Jadi, mereka ini sebetulnya bukan “pro-umat Islam” tetapi karena benci dan anti terhadap non-Muslim. Ya kan Ndro? Tau…

Jabal Dhahran, Arabia

Mari Bin Amude Alkatiri

1

Belum lama ini, Mari Alkatiri atau Mari Bin Amude Alkatiri atau Mar’i bin Amudah al-Kathiri kembali diambil sumpah sebagai Perdana Menteri Timor-Leste setelah partainya, Fretilin, menang tipis dalam pemilu Juli lalu. Fretilin mendapat sekitar 30 kursi dari 65 kursi. Dengan begitu, ia butuh menjalin koalisi dengan partai lain untuk membuat pemerintahannya lebih stabil.

Ini untuk kedua kalinya Mari Alkatiri menjabat sebagi PM negeri yang dulu bernama Timor Timur dan menjadi bagian dari wilayah Indonesia itu. Sebelumnya, 2002-2006, ia juga menjabat PM Timor-Leste sebelum kerusuhan sipil.

Fenomena ini cukup menarik mengingat Timor-Leste adalah negara dengan 97% penduduknya memeluk Kristen (Katolik). Sedangkan Mari Alkatiri sendiri adalah seorang politisi Muslim berdarah Arab-Hadramaut.

Mari Alkatiri adalah generasi ketiga dari imigran keluarga “Alkatiri” dari Hadramaut, Yaman Selatan, yang migrasi ke Asia Tenggara sejak abad ke-19. Alkatiri adalah “suku/klan bangsawan” di Hadramaut. Sejak abad ke-14 sampai abad ke-19, ada sebuah kerajaan di Sai’un, Hadramaut, bernama “Kesultanan al-Katiri” (al-Salthanah al-Kathiriyyah) yang didirika oleh Badral-Sahab.

Kesultanan ini berantakan pada abad ke-19 diganyang oleh rivalnya, Dinasti / Kesultanan Qu’aiti (al-Daulah al-Qu’athiyyah al-Hadaramiyyah) yang kemudian menyebabkan migrasi keluarga besar Alkatiri ke berbagai negara, termasuk Asia Tenggara. Mari Alkatiri dan juga almarhum Munir Said Thalib (aktivis HAM di Indonesia) adalah keturunan dari kaum migran Alkatiri ini.

Ada banyak kelompok migran dari Arab-Hadramaut ke Asia Tenggara, termasuk Malaysia, Singapura, Indonesia, dan Timor-Leste. Mereka berasal dari berbagai kelas sosial. Ada yang dari keluarga “keturunan” Nabi Muhammad dari jalur Ahmad bin Isa al-Muhajir, yang kemudian disebut “sadah” (golongan para sayyid” atau “asharaf” (para syarif). Ada pula yang dari keluarga bangsawan seperti Alkatiri tadi.

Ada yang dari golongan “kelas menengah” (golongan elit bukan, rakyat jembel juga bukan). Yang ini sering disebut “Irshadi”. Keluarga “Baswedan” termasuk golongan ini. Ada pula dari kalangan bawah (sering disebut “Qaba’il”) yang migrasi ke Asia Tenggara untuk mencari makan dan penghidupan karena kelaparan dan kemiskinan yang meraja lela di Yaman.

Mereka bermigrasi ke Indonesia dan kawasan lain umumnya dilakukan sejak zaman kolonial Eropa, khususnya Belanda, dan khususnya lagi sejak abad ke-18/19. Sebagian dari mereka kawin-mawin dengan penduduk lokal. Sebagian lagi tidak mau kawin-mawin dengan warga setempat. Sebagian membaur dengan kebudayaan setempat. Sementara yang lain tetap memelihara identitas mereka. Sebagian menjadi tokoh-tokoh besar yang dihormati masyarakat. Sementara yang lain menjadi pecundang dan sampah masyarakat.

Jabal Dhahran, Arabia

Budaya Kafir dalam Islam

0

Jika istilah “kafir” itu dimaknai sebagai “non Islam” (meskipun saya sendiri tidak setuju dengan pemaknaan ini seperti yang sudah sering saya tulis), maka sesungguhnya hampir tidak ada satu pun kebudayaan yang lazim dan jamak dipraktikkan oleh umat Islam dari zaman bahula hingga dewasa ini yang asal-muasalnya seratus persen murni “diciptakan” oleh kaum Muslim.

Hampir semua tradisi dan kebudayaan umat Islam itu diadopsi dan dimodifikasi dari berbagai tradisi dan kebudayaan masyarakat non-Muslim yang jauh sudah ada dan eksis di Arab & Timur Tengah jauh sebelum Islam hadir di kawasan ini di abad ke-7 M. Bahkan doktrin dan ajaran-ajaran Islam fundamental pun diinspirasi dari berbagai doktrin dan ajaran non-Islam.

Kalau kita membaca dengan teliti dan seksama sejarah sosial kultural politik peradaban masyarakat di Timur Tengah, maka kita akan tahu bahwa aneka tradisi & kebudayaan yang belakangan diklaim oleh (sebagian) umat Islam itu sesungguhnya berasal dari “kebudayaan kafir”.

Sebut saja misalnya hijab dan cadar (niqab, burqa, khimar, dlsb) yang sudah lama dipraktekkan oleh masyarakat Assyria pada tahun 5,000 SM yang kemudian turun-temurun diadopsi dan dipraktikkan oleh berbagai masyarakat di zaman imperium-imperium Neo-Assyria di zaman pra-Islam seperti Babilonia, Partha, Roman, Sasania, Media, Persia, dlsb.

Merekalah yang memperkenalkan tradisi dan budaya hijab dan cadar itu ke masyarakat Yahudi, Arab, dan aneka suku di Asia. Yang menarik, jika sebagian umat Islam mengklaim hijab dan cadar itu sebagai “properti Islam”, sejumlah kelompok “Yahudi Garis Lurus” seperti kelompok Heredi Burqa mengklaim hijab dan cadar itu adalah “properti Yahudi”.

Kemudian tradisi sunat (atau memotong sebagian kulit yang “ngklewer” menutupi kepala penis) sudah ada sejak zaman Mesir Kuno dan dipraktikkan oleh berbagai suku di Afrika.

Lebih detailnya, silakan baca buku Vilheml Thomsen, “History of Circumcision” yang menguraikan tentang aneka tradisi sunat atau khitan dengan berbagai motif dan tujuannya.

Nah, ketika Islam hadir di kawasan Semenanjung Arab, sebagian tradisi & kebudayaan non-Islam dan non-Arab yang dipandang baik dan bermanfaat kemudian diserap, diadopsi, dan diberi “makna baru” oleh kaum Muslim sesuai dengan konteks sosio-kultural masyarakat Arab.

Karena umat Islam dan Bangsa Arab tidak tinggal sendirian melainkan membaur dengan masyarakat agama dan suku-bangsa lain, maka sudah wajar jika mereka saling menyerap berbagai tradisi & kebudayaan umat manusia.

Oleh karena itu, jika ada umat Islam dewasa ini yang ngotot menolak “budaya non Islam” yang dianggap bertentangan dengan “budaya Islam”, maka orang-orang jenis ini pada hakikatnya lupa bahwa sesunggunya tidak ada sebuah kebudayaan di dunia ini, termasuk kemudian yang diklaim sebagai “kebudayaan Islam”, yang murni dan eksklusif milik sebuah kelompok agama dan masyarakat.

Tidak ada sama sekali sebuah kebudayaan yang murni dan eksklusif kecuali mungkin kebudayaan yang dikembangkan oleh masyarakat terisolir seperti suku Eskimo di Kanada atau Kalahari di Afrika. Selebihnya, kebudayaan ada dan berkembang karena saling pinjam-meminjam satu sama lain melalui proses interaksi antarindividu dan masyarakat.

Nah, sekarang jangan hobi main klaim lagi ya? Malu atuh sama tentangga sebelah he he

Komunisme dan Partai Komunis di Timur Tengah

0

Dalam sejarahnya, Marxisme, komunisme dan juga Partai Komunis bukan hanya digemari dan berkembang di Soviet, China, Korut, Vietnam, Indonesia, dlsb tetapi juga di kawasan Timur Tengah, baik yang Arab maupun non-Arab.

Anda bisa baca sejumlah buku yang membahas tentang sejarah dan perkembangan komunisme dan Partai Komunis di Timur Tengah ini. Misalnya “The Communist Movement in the Arab World” (karya Tareq Ismael), “Communism in the Arab East” (oleh Suliman Bashear), “The Palestine Communist Party” (karya Musa Budaeri), dlsb.

Sampai sekarang, meskipun terbatas, para pengagum Karl Marx masih ada di Timur Tengah hingga penerbit merespons dengan menerjemahkan karya-karya Marx atau Friedrich Engels ke dalam Bahasa Arab. Buku “Manifesto Komunis” (Bahasa Arab: “al-Bayan al-Syuyu’i”) diterjemahkan oleh Al-Afif al-Akhdar. Sedangkan buku babon “Das Kapital” (Bahasa Arab: “Ra’s al-Mal”), diterjemahkan oleh Falah Abdul Jabbar.

Komunisme masuk ke kawasan Timur Tengah beberapa saat setelah Revolusi Bolshevik tahun 1917 yang menandai tumbangnya Dinasti Tsar dan dimulainya babak baru rezim komunis di Soviet. Bukan hanya bangsa Arab saja yang memperkenalkan komunisme di Timur Tengah. Bangsa Yahudi, Armenia, Turki, Kurdi, Azeri, Yunani, dlsb juga turut mempromosikan komunisme di kawasan ini.

Negara yang paling awal mendirikan Partai Komunis adalah Mesir, Palestina, Lebanon, dan Iran. Kemudian disusul Irak, Suriah, Transjordan, Yaman, Sudan, dlsb, dan bahkan Arab Saudi dulu pernah berkembang partai berlambang palu arit ini. Foto ini adalah contoh bendera Partai Komunis Yordania (“a-Hizb al-Syuyu’i al-Urduni”). Sebagian dari Partai Komunis ini masih eksis sampai sekarang meskipun sangat terbatas pengaruhnya, sebagian lagi bersimbiosis dengan partai-partai lain.

Beberapa tokoh awal penggerak dan pentotan Partai Komunis (atau Partai Sosialis) di Timur Tengah antara lain Husein al-Rahhal (tokoh Marxist pertama Irak), Mahmud Husni al-Urabi (tokoh sosialis-komunis Mesir), Radwan al-Hilu (pentolan Partai Komunis Palestina dan didikan Moscow), Fu’ad Shamali dan Yusuf Yasbak (tokoh Komunis Libenaon dan Suriah), Bulus Farah, Joseph Rosenthal, Anton Marun, dlsb.

Komunisme adalah sebuah filosofi, ideologi dan gerakan sosial-politik-ekonomi yang bertujuan mendirikan “masyarakat komunis” yang egaliter dan tanpa kelas. Kata “komunis” ini diambil dari Bahasa Latin “communis” yang berarti umum, universal. Kata “common” dalam Bahasa Inggris itu diambil dari kata “communis” ini.

Dengan demikian, tidak ada hubungannya antara komunis dengan ateis misalnya. Meskipun tentu saja seorang ateis boleh saja menjadi tokoh dan aktivis komunis, sebagaimana banyak tokoh agama, termasuk Islam, yang menjadi pentolan Partai Komunis, baik di Timur Tengah maupun di Indonesia.
Jabal Dhahran, Arabia

Aa Gym, Ahok dan Fir’aun (2)

2

Berbeda dengan anggapan Aa Gym, Ahok justru mengidolakan sosok Musa (Moses), “tokoh legendaris” Yahudi Israelite (kaum “Yahudi Alkitab” atau suku-suku Israel kuno) yang melawan fir’aun (pharaoh) Mesir. Perlu diskusi khusus dan intens antara ahli studi Bible, Egyptolog (ahli kajian sejarah Mesir kuno), sejarawan, arkeolog, dan paleoantropolog untuk membicarakan tentang siapa sebenarnya nama fir’aun yang dilawan oleh Musa, dan siapa nama fir’aun-fir’aun yang berkuasa di Mesir pada zaman Musa.

Bukan hanya itu saja, bahkan perlu kajian dan diskusi khusus di FB ini tentang sejarah Musa dan kaum Israelite beserta tokoh-tokoh Israelite lain seperti Ya’kub, Yusuf, Bunyamin, dlsb, itu sendiri yang membangun narasi atau diskursus ketertindasan suku-suku Israel kuno dari para fir’aun Mesir. Diskusi ini penting untuk mengungkap historitas dan asal-usul munculnya Yudaisme sebagai sebuah agama atau “sistem teologi”, apalagi informasi tentang ini sangat terbatas, baik dalam Bible maupun Al-Qur’an.

Tetapi yang jelas, ada sejumlah teori tentang siapa fir’aun yang berkuasa di Mesir yang menyebabkan Musa migrasi, siapa nama fir’aun-fir’aun yang hidup di zaman Musa, serta siapa anak perempuan fir’aun yang merawat Musa. Ada yang menyebut Fir’aun Thutmose II (di era Dinasti ke-18) di zaman Kerajaan Baru yang menyebakan Musa dan sejumlah orang eksodus dari Mesir. Pendapat ini dikemukakan oleh ahli Bible Alfred Adersheim dan didukung oleh arkeolog Joel Klenck. Ada pula yang menyebut Amenhotep II, Rameses II, atau Merneptah (putra Rameses II) sebagai “fir’aun bengis” yang berkuasa di Mesir yang menyebabkan Musa hijrah.

Siapapun nama fir’aun yang berkuasa di zaman Musa, yang jelas narasi tentang Musa versus Fir’aun ini ada pada era Kerajaan Baru. Perlu diketahui, sejarah Mesir Kuno dibagi menjadi sejumlah periode atau era yang cukup pelik mengkategorikannya. Sebelum era fir’aun atau zaman dinasti awal (sektar 3,000 SM), peradaban Mesir sudah cukup berkembang, dan termasuk salah satu peradaban tertua di dunia. Para ahli Egyptology dan sejarawan mengkategorikan era ini sebagai “Periode Pra-Dinasti, antara 5,300 – 3,000 SM).

Di zama Pra-Dinasti ini, ada sejumlah peradaban dan kebudayaan yang sangat penting, yaitu peradaban/kebudayaan Neolitik, Badaria, dan Naqada. Menarik untuk dicatat, pada zaman ini masyarakat Mesir Kuno sudah mengenal sistem agrikultura, berternak, berburu, memancing, seni kerajinan (meskipun tentu saja masih sederhana), dlsb sebagai bagian dari sistem penghidupan dan ekonomi mereka. Mereka juga sudah mengenal sistem penguburan mayat dan ritual keagamaan.

Bukan hanya itu, “sistem perjenggotan” juga sudah dikenal oleh masyarakat Naqada di zaman Mesir Kuno. Dulu, jenggot merupakan “tanda keperkasaan” dan “simbol kekuasaan.” Oleh karena itu tidak heran jika para pemburu binatang (hunters) dan “tukang perang” (warriors) di masyarakat Naqada berjenggot panjang dan lebat.

Sistem kefir’aunan (dinasti atau kerajaan) di Mesir baru dimulai sejak 3,000-an SM ketika Narmer sukses menyatukan masyarakat Mesir Atas dan Mesir Bawah. Era Kefiraunan atau Periode Dinasti ini dibagi menjadi beberapa fase: Kerajaan Awal, Kerajaan Tengah, dan Kerajaan Baru. Cerita atau narasi tentang Musa vs Firuan ini baru muncul di zaman / era “Kerajaan Baru” ini (khususnya antara 1,500 – 1,000 SM). Selama ribuan tahun ini, Mesir silih berganti dikuasai oleh sejumlah suku dan kelompok masyarakat, bukan hanya dari Mesir sendiri tetapi juga dari bangsa-bangsa lain seperti Persia dan Romawi. Kelak, Arab, juga ikut menaklukkan dan menguasai Mesir.

Sejak Fir’aun I, Narmer, ada banyak sekali fir’aun di Mesir. Tidak semua fir’aun di Mesir Kuno itu laki-laki, ada beberapa yang perempuan seperti Nitocris, Hatshepsut (yang dikenal dengan sebutan “Ratu Mesir”; ada yang mengatakan dialah sosok yang merawat Musa), Neferneferuaten, dan tentu saja Cleopatra. Pula, sebagaimana umumnya kerajaan di dunia ini dimana ada raja-raja yang jahat tapi juga ada raja-raja yang baik, begitu pula dengan fir’aun: ada fir’aun-fir’aun yang rakus, bengis, dan gemar perang tapi ada pula yang sangat baik hati, dermawan, cinta damai, dan semangat membangun kemajuan masyarakat yang dipimpinnya.

Di antara sekian banyak fir’aun di Mesir, ada sekitar 25 nama fir’aun legendaris di zaman Dinasti Mesir Kuno ini, antara lain, Narmer, Menes, Djoser, Snefru, Khufu, Khafre, Neferefre, Pepi I, Senusret, Ahmose, Amenhotep, Thutmose, Akhenaten, Tutankhamun, Rases, Seti, dlsb (lama-lama pegel nih jari nulis nama-nama dari “planet Mars” he he).

Apakah semua fir’aun ini menganggap diri mereka sebagai “Tuhan” seperti Ramses II? Tentu tidak. Apakah semua fir’aun ini tidak menyembah Tuhan? Tentu saja tidak. Ada banyak fir’aun yang sangat relijius dan hobi membangun tempat ibadah untuk acara-acara ritual keagamaan. Jangan kemana-mana, panteng terus di Pesbuk ini he he (bersambung).

 

Aa Gymn, Ahok dan Fir’aun

2

Pernyataan Aa Gymn yang kurang lebih menyamakan antara Ahok dan Fir’aun ini menggelitik untuk saya tanggapi karena pernyataannya yang “ngeles”, asal-asalan dan tidak ilmiah ini menjadi viral dan diikuti oleh banyak orang dan jama’ah unyu-unyu. Menyamakan Ahok dengan Fir’aun jelas tidak valid seperti “Joko Sembung naik ojek” alias gak nyambung jek.

Sepertinya Aa tidak paham “Fir’aun” itu jenis makhluk apa. Dan sepertinya juga, ia tidak menguasai sejarah Mesir kuno dimana “Fir’aun-Fir’aun” itu berada. Kenapa saya katakan menyamakan Ahok dengan Fir’aun itu tidak nyambung? Karena Ahok itu kan “person” sedangkan Fir’aun itu (atau disebut “Pharaoh”) adalah nama gelar semacam raja di zaman Mesir Kuno. Kalau mau membandingkan ya harus “jengkol to jengkol” dong. Jangan bandingkan jengkol dengan tongkol, misalnya, he he.

Anggapan Aa Gym bahwa “Fir’aun” hancur karena telah menistakan Allah juga ucapan yang ngeles dan tidak akademik. Konsep “Allah” tidak dikenal di zaman Mesir Kuno. Dan tidak semua Fir’aun di zaman Mesir Kuno mengklaim sebagai “Tuhan” atau “setengah Tuhan”. Hanya Fir’aun Ramses II saja yang terang-terangan mendeklarasikan diri sebagai “Tuhan”. Ada pula Fir’aun yang tidak mengaku sebagai Tuhan tetapi dipuja dan disembah layaknya Tuhan, contohnya Fir’aun Amanhotep I. Ada pula Fir’aun yang menyembah Tuhan seperti Amanhotep II yang membangun tempat ibadah khusus untuk beribadah menyebah Tuhan Horemakhet.

Lagi pula, dalam sejarah peradaban manusia di dunia ini, semua raja beserta kerajaan mereka, termasuk raja-raja dan kerajaan Islam (Umayyah, Fatimiyah, Abbasiyah, Andalusiyah, Ayubiyah, Saljuk, Usmaniyah, dan seterusnya) juga hancur-lebur ditelan sejarah. Apakah kehancuran mereka karena “menistakan” Allah?

Untuk memahami dengan baik konsep Fir’aun ini, kita perlu mendalami “Egyptology” yaitu disiplin khusus yang fokus pada kajian-kajian kesejarahan peradadaban Mesir, yang merupakan salah satu peradaban tertua di dunia dalam sejarah umat manusia. Konsep “kefir’aunan” dalam sejarah Mesir Kuno terjadi sekitar 3000an SM ketika Fir’aun Narmer berhasil menyatukan masyarakat Mesir Atas dan Mesir Bawah yang kemudian menandai babak baru sejarah Mesir dan mengakhiri zaman pra-sejarah Mesir.

Zaman kefir’aunan ini membentang selama ribuan tahun sampai kelak hancur di zaman Fir’aun Cleopatra VII sekitar tahun 30 SM dimana Mesir kemudian ditaklukkan oleh Kerajaan Romawi dan menjadi bagian dari kekuasaan Romawi. Mesir Kuno dibagi menjadi tiga bagian: Kerajaan Lama, Kerajaan Tengah, dan Kerajaan Baru. Pada zaman Kerajaan Baru inilah, muncul “tokoh legendaris” Israelite Musa (atau Moses) yang bermusuhan dengan “Fir’aun” yang kisah-kisahnya tidak hanya diceritakan dalam Kitab Keluaran saja tetapi juga dalam Al-Qur’an.

Pertanyaannya adalah: fir’aun siapakah gerangan pada zaman Musa itu? Nah ini yang menjadi perbedaan pendapat. Para sarjana ahli studi dan sejarah Bible berbeda pandangan mengenai hal ini. Ada yang mengatakan Thothmes (seperti Alfred Edersheim dalam Bible’s History), ada pula yang mengatakan Amenhothep dan Merneptah (seperti Henry H. Halley dalam Bible Handbook). Ayo para ahli studi Bible, ikut nimbrung komen dan berpendapat disini memberi pendidikan dan “pencerahan” kepada publik he he.

Sejak zaman Fir’aun Namer pada 3,000-an SM sampai Cleopatra VII itu, ada banyak sekali fir’aun dalam sejarah Mesir Kuno. Dan sebagai mana layaknya raja-raja (atau sultan atau apapun namanya) di dunia ini, ada fir’aun yang jahat dan bengis tapi ada pula fir’aun yang sangat baik dan mampu membawa Mesir ke dalam kemajuan yang luar biasa di berbagai bidang: teknologi, seni-sastra, ilmu pengetahuan, sistem irigasi, metode pengobatan, konstruksi bangunan, dlsb.

Membaca Al-Qur’an saja tidak cukup, perlu diiringi dengan wawasan kesejarahan memadai supaya pendapat-pendapat kita lebih akurat, tidak “asbun”. Al-Qur’an-nya benar, manusia yang membacanya yang kadang tidak akurat seperti Aa yang satu ini (bersambung).

 

Arab Tak Berarti Habib

0

Sebagaimana “mendung tak berarti hujan”, Arab juga tak berarti habib, dan habib tak berarti keturunan Nabi Muhammad karena ada banyak Muslim yang bernama “Habib” meskipun tidak ada “hubungan genealogis” dengan Nabi Muhammad.

Ada juga orang yang mengaku-aku atau mengklaim sebagai “habib” meskipun bukan habib (atau, sebut saja “habib KW”), ada pula “habib beneran” yang tidak mau disebut “habib” atau menyembunyikan identitas kehabibannya karena kerendahan hati beliau. Dalam Bahasa Arab, kata “habib” atau “habiib” berarti “yang tercinta” atau “yang dicintai” (beloved). Jamak kata ini adalah “habayib” yang sering diucapkan “habaaib”.

Di kalangan umat Islam, nama “Habib” ini bermacam-macam: ada yang digunakan sebagai “nama depan” atau “nama pertama” (first name), ada yang “nama keluarga” (family name atau surname), ada pula yang digunakan sebagai “gelar kehormatan” untuk para alim-ulama dari keturunan keluarga Nabi Muhammad SAW.
Nama habib yang digunakan sebagai “nama depan”, misalnya, yang populer, Habib Beye (pemain sepak bola dari Sinegal; nama belakang “Beye” mengingatkan saya kepada seseorang di Indonesia he he), Habib Bourguiba (politisi Tunisia), Habib Koite (musisi dari Mali), Habib Nurmagomedov (atlit seni bela diri dari Rusia), dlsb.

Di Iran, juga banyak nama-nama tokoh beken yang menggunakan nama depan habib seperti Habib Dehghani (pemain bola), Habib Kashani (pebisnis), Habib Mohebian (penyanyi), dlsb. Di Indonesia juga begitu ada banyak nama depan yang pakai nama habib (untuk laki-laki) atau habibah (untuk perempuan).

Adapun yang digunakan sebagai nama keluarga contohnya Phillip Habib (almarhum), seorang mantan diplomat Amerika legendaris. Di Amerika atau Barat pada umumnya, ada banyak Muslim yang menggunakan “nama Kristen” untuk “menyamarkan” identitas keislamannya karena berada di kawasan yang mayoritas non-Muslim. Kemudian Irfan Habib, seorang sejarawan India. Lalu, Ralph Habib (almarhum), seorang mantan sutradara top Perancis keturunan Libanon.

Nama habib yang dipakai sebagai sebuah “gelar kehormatan” untuk seorang alim-ulama keturunan Nabi Muhammad populer di Yaman dan sejumah negara di Asia Tenggara seperti Habib Alwi al-Haddad (mufti Johor), Habib Ali Kwitang, Habib Luthfi bin Yahya, dan masih banyak lagi. Dalam konteks ini maka perlu diingat, tidak semua keturunan Nabi Muhammad itu adalah “habib” jika mereka tidak memiliki kualifikasi keulamaan dan kualitas keilmuan tertentu. Lalu, bagaimana dengan “sosok legendaris” “Habib” Novel Bamukmin? Maap ye, ane kagak paham yang ini he he

Mengenai keturunan Nabi Muhammad, ada yang disebut “sayid” (jamak: “sadah”) bagi laki-laki dan “sayidah” bagi perempuan”. Di Saudi khususnya dan kawasan Arab Teluk lain, mereka disebut “syarif” (jamak: asyraf) untuk laki-laki dan “syarifah” untuk perempuan. Mereka kini bukan hanya pengikut Sunni tapi juga Syiah. Mereka adalah keturunan Nabi Muhammad dari jalur Hasan maupun Husein (yang populer dengan sebutan “Alawiyin”), keduanya putra Ali yang menikahi putri Nabi Muhammad (bernama Fatimah).

Khusus untuk kaum sayid dan sayidah di Indonesia dan Asia Tenggara pada umumnya, kebanyakan (atau mungkin semuanya, perlu studi lebih lanjut), mereka adalah keturunan dari keluarga Ba Alawi, salah satu cucu dari Ahmad bin Isa Al-Muhajir (w. 956), keturunan ke-10 dari Nabi Muhammad, yang lahir di Basrah, Irak, kemudian bermigrasi dan wafat di Hadramaut, Yaman selatan, untuk menghindari kekerasan sektarian di Irak kala itu.

 

Arab Yahudi, Yahudi Arab, dan Suku-Suku Yahudi di Jazirah Arab

0

Topik “kuliah virtual” kali ini cukup rumit dan perlu konsentrasi ekstra untuk mencernanya. Sebelum saya jelaskan tentang topik ini, perlu Anda pahami dulu konsep dan istilah Arab dan Yahudi ini supaya tidak simpang siur dan salah paham yang kemudian berpotensi mengantarkan pada “paham yang salah”.

Arab adalah sebuah “entitas etnik”. Konon, etnik Arab ini terbesar kedua di dunia (sekitar 450 juta) setelah etnik Han di Tiongkok. Mereka tidak hanya tinggal di kawasan Afrika dan Timur Tengah saja tetapi juga di berbagai belahan dunia (“Arab Diaspora“), termasuk Amerika, Eropa, dan Asia.

Sebagai sebuah etnik, Arab terbagi menjadi ribuan suku, sub-suku, dan klan. Mereka juga tinggal di berbagai negara, tidak hanya di 22 negara yang tergabung di Liga Arab saja tetapi juga di negara-negara lain di “bumi yang tidak datar” ini, termasuk di Indonesia.

Perlu diketahui, tidak semua orang Arab yang tinggal di kawasan “Arab diaspora” diluar Timur Tengah itu bisa berbahasa Arab (membaca, menulis, dan “bercakap”) karena sudah ratusan tahun tinggal di daerah baru dan beradaptasi dengan bahasa dan budaya masyarakat setempat.

Sebagai sebuah etnik pula, masyarakat Arab tidak melulu beragama Islam. Banyak pula dari mereka yang beragama Kristen (berbagai denominasi: Koptik, Maronite, Assyria, Melkite, Ortodoks Yunani, Katolik Roma, Protestan, dlsb), Yahudi, atau bahkan tidak beragama.

Dewasa ini komunitas “Arab ateis” berkembang cukup pesat. Bagi yang tertarik tentang masalah ini, silakan baca karya Brian Whitaker, “Arabs Without God” (Arab Tanpa Tuhan). Bisa juga saya jelaskan lain waktu (kalau tidak lupa he he).

Ateisme bukan hal baru di Timur Tengah, sejak zaman Abad Pertengahan Islam, para sarjana sudah memperdebatan ateisme ini (silakan baca karya Fatemeh Azinfar, “Atheism in the Medieval Islamic and European World”).

Adapun istilah “Yahudi” (al-Yahud) mengacu pada pengertian “etnik” dan juga “agama” (Yudaisme). Sebagai sebuah etnik (atau suku), masyarakat Yahudi tidak semua beragama Yahudi. Sebagaimana Arab, masyarakat (etnik) Yahudi juga ada yang beragama Kristen, Islam, atau bahkan mengikuti ateisme dan agnotisisme.

Tergantung masing-masing individu. Jika komunitas “Arab Yahudi” membaca Kitab Taurat/Talmud berbahasa Arab, maka komunitas Yahudi Muslim membaca Al-Qur’an berbahasa Ibrani.

Komunitas Yahudi Muslim kontemporer ini (sebagian menamakan diri “Jews for Allah“) cukup intensif dalam menyebarkan Islam di kalangan etnik Yahudi karena merasa Islam dan Yahudi memiliki akar sejarah, tradisi, budaya, dan spiritualitas yang sama. Dari aspek sejarah, komunitas Yahudi Muslim ini sebetulnya bukanlah hal baru. Sejarah suku-suku Yahudi yang memeluk Islam ini sudah sangat klasik, seklasik Islam itu sendiri.

Sebagaimana populasi Arab, populasi Yahudi juga tersebar di berbagai negara dan kawasan (Yahudi Diaspora): Amerika, Kanada, Eropa, Australia, Timur Tengah, dlsb, tidak melulu di negara Israel kontemporer”. Mereka juga banyak yang tinggal di “kawasan Arab“.

Nah, istilah “Arab Yahudi” (al-Arab al-Yahud) yang dimaksud dalam judul ini adalah orang-orang Arab yang memeluk agama Yahudi (Yudaisme). Ada cukup banyak figur populer “Arab Yahudi” ini seperti Ella Shohat, Sasson Somekh, David Shasha, Ilan Halevi, Andre Azoulay, dsb. Yang terakhir ini adalah penasehat Raja Maroko.

Adapun istilah “Yahudi Arab” disini mengacu pada pengertian “orang-orang Yahudi yang tinggal di kawasan Arab/Timur Tengah”. Mereka belum tentu beragama Yahudi.

Terakhir, istilah “suku-suku Yahudi” di Jazirah Arab mengacu pada pengertian “komunitas atau suku-suku Yahudi” yang mendiami kawasan Jazirah Arab (Arab Saudi dan Yaman) yang sudah ada jauh sebelum Islam lahir di abad ke-7 M.

Suku-suku Yahudi ini bermacam-macam seperti bani Haris, Bani Najjar, Bani Aus, Bani Ghiffar, Bani Qunaiqa, Bani Kinanah, Bani Jusham, Bani Tsa’labah, Bani Quraizha, dlsb.

Beberapa suku Yahudi ini kelak ada yang memusuhi Nabi Muhammad tetapi ada pula yang membela mati-matian Nabi Muhammad di Madinah dan sekitarnya. Salah satu tokoh Yahudi yang populer membela Nabi Muhammad adalah Rabbi Mukhairiq, seorang “ulama” dan pemimpin Yahudi kaya raya dari Suku Tsa’labah yang sangat dihormati dan disegani.

Ia ikut berperang bersama Nabi Muhammad di Perang Uhud dan wafat sebagai martir. Sebelum wafat, ia berpesan / berwasiat untuk mendonasikan semua harta kekayaannya kepada Nabi Muhammad. Harta dari Rabbi Mukhairiq ini kemudian dijadikan sebagai harta wakaf untuk memperjuangkan Islam. Karena itulah tidak heran jika Nabi Muhammad sangat menghormati Rabbi Mukhairiq ini (bersambung).

 

Aturannya Begini, Orangnya Begitu

0

Banyak orang bilang, kalau sebuah negara sudah menerapkan secara legal-formal konstitusi, dasar negara, perundang-undangan dan tetek-bengek aturan lain yang “serba agamis”–serba Kristen, serba Islam, dan serba agama lain–maka penduduk atau warga negara itu, dari atasan sampai bawahan, akan menjadi orang-orang bijak, baik dan saleh karena mereka takut, tunduk dan patuh pada “aturan Tuhan”.

Boleh-boleh saja berpendapat begitu. Tetapi dalam kenyataannya tidak selalu demikian. Anggapan bahwa negara akan menjadi subur makmur, gemah ripah loh jinawi kalau negara itu sudah menerapkan secara formal Syariat Islam atau Syariat Kristen, misalnya, hanya ada di alam dongeng. Karena orang itu pada dasarnya bukan takut kepada “Tuhan Besar” tetapi kepada “Tuan Besar”.

Lihatlah, misalnya, negara-negara yang secara ketat memberlakukan aturan-aturan agama, apakah orangnya dengan sendirinya agamis? Sama sekali tidak. Tidak sama sekali. Di ruang publik, mereka pura-pura agamis, di ruang privat lain lagi. Di negaranya, mereka seperti “kelinci manis”, diluar mereka seperti “komodo liar”. Kenapa itu terjadi? Karena mereka takut kepada “Tuan Besar” tadi bukan kepada “Tuhan Besar”. Jika taat kepada “Tuhan Besar”, maka mereka akan menjadi manusia-manusia bijak, kapanpun dan dimanapun mereka berpijak, tidak memandang ruang dan waktu.

Silakan luangkan waktu sedikit saja untuk membaca berbagai hasil penelitian, kajian dan karya-karya akademik tentang negara-negara yang dikenal ketat memberlakukan “aturan Tuhan”. Apa coba hasilnya? Apakah aturan-aturan itu “berbanding lurus” dengan perilaku masyarakat? Tidak. Hasilnya nol besar. Aturannya begini, orangnya begitu. Coba saja lihat Afganistan di zaman Taliban misalnya? Bobrok-njebrok negara ini di tangan para “bandit agama.”

Aturan dibuat sering kali untuk dilanggar atau untuk dijalankan warga “kelas kere” atau kaum yang tidak memiliki otoritas dan akses terhadap kekuasaan. Aturan (dari manapun dasar dan sumbernya) juga sering kali dibikin oleh “para penggede” atau penguasa (penguasa agama maupun politik) sebagai “mekanisme kontrol” warga negara saja agar begini, tidak begitu.

Karena itu jangan bermimpi lah kalau Indonesia kelak akan menjadi makmur dan sejahtera kalau sudah menerapkan dasar negara Islam, syariat Islam, konstitusi Islam, dlsb. karena yang “berislam” hanya dasar negaranya, syariatnya, konstitusinya, dll, bukan orangnya. Kalau orangnya mah sama saja, meskipun bajunya mungkin beda.

 

Babi, Ayam, dan Agama Semit (1)

0

Sudah lama saya tergelitik dengan status keharaman daging babi dalam Islam. Jangan salah, bukan hanya Islam yang mengharamkan mengonsumsi daging babi. Agama Yahudi sudah sejak lama mengharamkannya jauh sebelum Islam lahir di Arabia. Dalam hal “perbabian” ini, Islam saya kira “njiplak” doang dari agama Yahudi. Bukan hanya soal babi ini saja, banyak doktrin atau ajaran Islam yang diambil, diserap, atau dimodifikasi dari tradisi Yahudi seperti sunat, hijab, puasa, haji, pokoknya banyak deh.

Dalam Hukum Yahudi (halakha), semua makanan yang dikonsumsi manusia harus sehat dan halal (di Barat disebut kosher). Menurut “undang-undang makanan” agama Yahudi, hewan-hewan kotor dan menjijikkan seperti babi, shellfish, atau serangga, atau makanan campuran daging dan susu, misalnya, semua haram dikonsumsi.

Jadi, sebetulnya agama Yahudi jauh lebih ketat dalam hal “tata boga” karena itu jika kebetulan akhi/ukhti sedang jalan-jalan atau plesiran di negara-negara Barat, kalau Anda khawatir makan makanan haram di “warung sekuler”, maka jangan sungkan-sungkan makan saja di warung-warung milik Yahudi. Dijamin 100% halal tanpa harus mencantumkan label atau “papan halal” dari MUI.

Bagaimana dengan Kristen? Meskipun banyak atau bahkan mayoritas umat Kristen membolehkan mengonsumsi daging babi tetapi ada juga yang mengharamkannya seperti kaum Advent (Seventh-day Adventist Church atau Gereja Advent Hari Ketujuh). Gereja Ortodoks Etiopia juga mengharamkan mengonsumsi daging babi. Sebagian pengikut Gereja Koptik di Aleksandria, Mesir, juga mengharamkannya. Perlu diingat, meskipun Kristen “meng-ok-kan” daging babi, banyak umat Kristen yang tidak mau memakannya dengan alasan lain-lain.

Bukan hanya dalam rumpun agama Semit saja sebetulnya. Konon mengternak dan memakan daging babi juga ditabukan di peradaban kuno Suriah dan beberapa kawasan di Timur Tengah.
Pertanyaannya sekarang? Kenapa babi diharamkan? Apa sih sebetulnya alasan pelarangan babi? Kenapa Islam atau Al-Qur’an hanya secara eksplisit mengharamkan babi? Kenapa hewan-hewan lain yang perilaku dan pola-hidupnya agak mirip-mirip dengan babi (misalnya kuda nil, buaya, atau apa saja silakan cari contoh sendiri), tidak ditegaskan dalam Islam?

Sejumlah teks keagamaan (baik dalam Islam maupun Yahudi) yang sering kita dengar adalah bahwa pengharaman mengonsumsi daging babi itu karena daging babi mengandung banyak penyakit sehingga tidak sehat dan membahayakan. Pertanyaanya, kalau memang tidak sehat dan penuh penyakit, kenapa orang-orang Kristen yang memakan daging babi kok sehat-sehat dan segar-bugar? Kalau memang alasannya karena membahayakan tubuh atau bikin tubuh sakit, kan tinggal masakknya saja diperbaikin. Zaman modern sekarang sudah sangat canggih dalam mengolah makanan supaya sehat wal afiat.

Alasan lain yang muncul dalam teks-teks keislaman dan keyahudian adalah karena babi itu hewan kotor dan menjijikkan? Kalau soal hewan yang “kotor” dan “menjijikkan” kan banyak: kuda nil, buaya, ubur-ubur, monyet dlsb. Tapi kenapa babi yang disebut?

Lalu, alasan teologi-keagamaan lain, karena babi memiliki “telapak kaki dengan kuku terbelah”. Ah, yang ini sih lebih tidak masuk akal lagi sebagai dasar pengharaman.

Menurutku, alasan yang lebih “masuk akal” tentang larangan babi ini dalam konteks Arab dan Timur Tengah lebih pada persoalan ekologi-ekonomi. Dalam kajian arkeologis-kesejarahan, merosotnya perkembangan babi dari Timur Tengah itu (padahal dulu pernah menjadi trend) seiring dengan munculnya ayam sebagai hewan ternak yang efektif, efisien, bergizi, dan ramah lingkungan. Bagaimana penjelasan selanjutnya? Panteng terus di FB ini…
Kent Vale, Singapore

 

“Banser Super”

0

Banser memang super! Yang saya maksud dengan “banser” disini bukan “ban serep” (ban cadangan) tapi Barisan Ansor Serbaguna. Dulu, pada pertengahan tahun 1930-an, Banser ini bernama Banoe (Barisan Nahdlatul Oelama) yang merupakan”sayap serbaguna” dari ANO (Ansor [u] Nahdlatul Oelama) yang dibentuk tahun 1934 yang kemudian berubah nama menjadi Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor). Selain ANO, dulu ada omas pemuda bernama Syubbanul Wathan atau “Pemuda Tanah Air” yang didirikan oleh “kiai patriotik” dan salah satu pendiri NU: KH Abdul Wahab Chasbullah (MbahWahab) pada tahun 1924.

Nama “Ansor” diambil dari sebutan para sahabat Nabi Muhammad dulu yang menemani beliau berhijrah atau bermigrasi dari Makah ke Madinah (dulu bernama Yatsrib) karena diancam dan dikejar-kejar para “begundal tengik” kafir Arab Quraisy Makah. Diharapkan dengan menyematkan nama “Ansor” ini, GP Ansor dan Banser ini bisa mengambil hikmah dari para sahabat Ansor di zaman Nabi Muhammad yang gigih membela dan melindungi nabi.

Dalam konteks kekinian, sosok nabi “menjelma” menjadi ulama atau kiai di lingkungan NU. Karena itu jangan heran kalau Banser ini berjibaku dan rela mati demi membela para kiai yang diserang oleh sejumlah pihak yang tidak suka atau benci dengan kiai. Seperti belakangan ini ada beberapa “pemuda-pemudi ingusan” yang menghina KH Mustafa Bisri (Gus Mus) maupun KH Maimun Zubair (Mbah Maimun—kapan-kapan saya mau menulis sosok kiai kharismatik ini) langsung didatangi oleh Banser ke rumah masing-masing dan ditemani menghadap atau sowan Gus Mus di Rembang dan Mbah Maimun di Sarang, Lasem.

Agar bisa melakukan pengawalan para kiai-ulama ini, Banser “dibekali” dengan berbagai ilmu bela diri, ilmu kanuragan dan “kesaktian” serta dasar-dasar kemiliteran (baris-berbaris, penghormatan bendera, dlsb). Selain Banser, ada lagi yang bernama Pagar Nusa. Yang ini adalah kelompok pecak silat + ilmu-ilmu kekebalan dan kesaktian yang juga dalam wadah NU. Selain berjibaku membela ulama, Banser juga dididik untuk berjibaku membela Tanah Air Indonesia tercinta dari ancaman serbuan para kelompok makar dan anti-nasionalisme.

Meskipun Banser ini sekilas seperti sosok-sosok yang “gagah perkasa” tetapi sebetulnya mereka ini adalah orang-orang yang “polos” dan humoris seperti umumnya karakter warga NU yang suka “mbanyol”. Banser ini juga gagah-perkasa kalau mengamankan para mubalig NU yang sedang ceramah di pengajian-pengajian. Cuma sayangnya, mungkin karena “kepolosannya” itu, Banser kadang-kadang tidak bisa membedakan antara penceramah/dai dan panitia. Dulu, waktu sering mengisi pengajian NU, para Banser bukannya mengawalku tetapi malah panitia yang dikawal karena mereka yang kebetulan berpakaian “ala kiai” dan duduk di mobil bagian tengah (sengaja saya minta duduk di tengah). Sementara saya kalau naik mobil, sukanya duduk di depan dan berpakaian ala kadarnya.

Maka, waktu mobil berhenti di area pengajian yang sudah ketat dikawal Banser, maka mereka pun menyusun pagar betis untuk mengawal dan membentengi para panitia yang dikiranya penceramah tadi sementara saya jalan sendirian he he. Banser memang super!

Bedakan Antara “Kafir” dan “Kristen”

0

Saya kadang mesam-mesem membaca banyak “meme” dan pernyataan di medsos atau “dumay” tentang larangan “orang kafir” menjadi pemimpin (maksudnya, “kepala daerah”) atas umat Islam. Tetapi yang “mereka” maksud dengan “orang kafir” itu adalah “Ahok yang Kristen”. Mereka bilang ini amanat Kitab Suci (baca, Al-Qur’an) yang kedudukannya jauh lebih tinggi daripada “Konstitusi”.

Kata “kafir” dan “Kristen” itu dua hal berbeda. Kata “kafir” itu sangat rumit dan kompleks sekali dalam Al-Qur’an. Ada sekitar 421 kali, Al-Qur’an menyebut kata “kafir” atau “kufr” dengan makna beragam dan konteks yang berbeda-beda tetapi muaranya kurang lebih sama, yaitu “menutupi sesuatu”. Itulah sebabnya ada ayat Al-Qur’an yang menyebut petani itu “kafir” karena kerjaannya “menutupi benih di tanah”. Demikian pula di ayat lain menyebut suku-suku di Mekah sebagai kafir karena menutupi kebenaran yang disampaikan Nabi Muhammad. Demikan seterusnya (silakan lihat postinganku sebelumnya).

Sementara “Kristen” itu jelas “kaum beriman” bukan “kafir” meskipun tentu saja ada umat Kristen yang “kafir” sebagaimana ada umat Islam yang “kafir” kalau mereka “menutupi sesuatu”. Seperti umat islam, umat Kristen juga penganut paham monoteisme. Karena itu, banyak para ulama dan sarjana Muslim yang menolak status “kafir” atas non-Muslim.

Jadi, kalau kampanye “anti-Kristen Ahok” dengan alasan ia “kafir” sehingga kaum Muslim haram memilihnya sebagai “kepala daerah” adalah tidak tepat. Seperti “pepatah”: “Joko Sembung Naik Ojek”–Tidak Nyambung Jek. Buktinya, banyak para ulama (termasuk para ulama Mesir) dan tokoh Islam yang mendukung dan membolehkan non-Muslim, termasuk Kristen, menjadi pemimpin politik-pemerintahan di daerah yang mayoritas Muslim. PKS Solo dulu juga mendukung Walikota Kristen: F.X. Hadi Rudyatmo.

Beberapa negara mayoritas Muslim juga memiliki (atau pernah memiliki) kepala daerah non-Muslim, baik walikota, gubernur, sampai presiden. Contohnya di Senegal, Palestina, Turki, Lebanon, dlsb. Di Lebanon, presiden-nya juga Kristen, Pak Michel Sulaiman, yang merupakan seorang Kristen Maronite (lihat postinganku tentang ini di FB). Apakah para ulama, cendekiawan Muslim, dan umat Islam di Turki, Sinegal, Palestina, atau Lebanon itu pada tidak paham Al-Qur’an? Apakah para ulama Mesir itu tidak tahu tafsir Al-Maidah yang bikin heboh itu? Tidak kan? Kannnn

Jadi ini sebetulnya soal tafsir saja. Sah-sah saja mau menafsiri “larangan umat Islam memilih pemimpin non-Muslim” tetapi jangan ngotot, marah-marah dan ngamuk kalau ada ulama, tokoh Muslim dan umat Islam lain yang membolehkan memilih non-Muslim sebagai pemimpin. Kalau ada yang bilang salat atau puasa Ramadhan itu “haram” baru silakan protes. Lagi pula, kalau gak suka Ahok ya tidak usah dipilih dalam pilkada nanti. Gampang kan? Pilih Pak Djarot Saiful Hidayat saja yang jelas Muslim.

Saya ngomong begini bukan karena saya pendukung Ahok tetapi karena ingin “membimbing mereka agar kembali ke jalan yang lurus” he he. Soal Koh Ahok jadi gubernur atau tidak itu urusan orang Jakarte bung, bukan urusan gue he he

 

Beragama Itu dengan “Tafkir” bukan “Takfir”

0

Seandainya umat Islam betul-betul diharamkan melakukan atau menggunakan produk-produk budaya non-Muslim, mungkin mereka akan mirip seperti suku San Kalahari atau Bushmen di pedalaman Afrika selatan, suku Gabra di Kenya, suku Inuit di Kanada, dlsb yang nyaris tidak terjamah globalisasi, industrialisasi, modernisasi dan teknologi modern.

Coba kita perhatikan dengan seksama: produk kebudayaan (baik kebudayaan material maupun immaterial) apa sih yang bukan produk non-Muslim? Coba teliti dan simak baik-baik siapa yang bikin produk pakaian yang kita pakai, kendaraan yang kita naiki, mobil-mobil keren yang kita punyai (maaf saya gak punya mobil), ponsel yang kita gunakan, peralatan mandi yang kita pakai, atau bahkan minuman dan makanan yang kita konsumsi, atau medsos (Facebook, Twitter, dlsb) ini yang sebagian digunakan untuk mencaci-maki orang lain.

Hampir semua produk kebudayaan yang kaum Muslim gunakan dan “gauli” setiap hari itu adalah produk dari kebudayaan non-Muslim (Amerika, Eropa, Cina, Jepang, dlsb) yang dikopar-kapirkan oleh sebagian kelompok agama. Jika tidak mau menggunakan hal-ihwal yang berkaitan dengan kebudayaan non-Muslim ya tidak apa-apa juga silakan saja seperti kelompok Amish, Old Order Mennonite, atau suku Badui misalnya. Tapi harus konsisten, jangan pilah-pilih, jangan plin-plan atau plintat-plintut: yang ini diharamkan, yang itu dihalalkan…

Beragama itu hendaknya dengan “tafkir” atau pengoptimalan akal-pikiran demi kemaslahatan masyarakat seiring dengan kemajuan dan perkembangan zaman, bukan dengan “takfir” atau pengkopar-kapiran orang dan budaya lain yang hanya akan membawa pada perpecahan umat dan “keunyuan” permanen. Bangsa lain sudah bikin teknologi super canggih, (sebagian) umat Islam masih sibuk mengurusi halal-haram pakai terompet. Gak mutu banget. Mikir dikit napa…