Beranda Facebook Post “JIL Gundulmu”

“JIL Gundulmu”

625
0

Sudah sejak “dahulu kala”, oleh sejumlah sekte “Islam Pentungan” dan kaum Muslim unyu-unyu, saya selalu dianggap atau dituduh sebagai aktivis, pegiat, atau bahkan “dedengkot” lembaga JIL (Jaringan Islam Liberal) di Jakarta. Saya hanya mesam-mesem saja mendengar atau membaca komentar mereka dan belum pernah menanggapi secara publik.

Nah, sekarang saya jelaskan dan tegaskan bahwa saya bukan aktivis, pegiat, apalagi dedengkot JIL. Bahwa saya berteman dengan sejumlah aktivis, pegiat, dan dedengkot JIL memang ya tapi saya tidak memiliki afiliasi kelembagaan dengan JIL. Mas Ulil Abshar Abdalla misalnya adalah teman baikku dan pernah sama-sama tinggal di Boston dulu. Tapi ya sebatas teman saja, sebagaimana saya berteman dengan para aktivis, pegiat, dan “pentolan” lembaga-lembaga lain diluar JIL.

Bagaimana mungkin saya jadi pengurus JIL wong saya tinggal di Semarang, bukan Jakarta. JIL kan “markasnya” di Jakarta. Sejak 2005 di Amerika terus pindah ke Saudi. Bahkan saya juga terhitung jarang sekali ke Jakarta karena sumpek lihat ibukota Indonesia ini yang macet, tidak ramah, semrawut alias “amburadul”. Kalau diminta datang ke kantor JIL, sudah pasti saya nyasar karena tidak tahu tempatnya dimana. Apalagi orang Jakarta kalau ditanya, jawabnya “Tau” (“tau atau gak tau”??) atau kalau tidak, mereka bilangnya: “Disono kali”. Karena itu kalau ke Jakarta paling hanya beberapa hari doang, kalau ada perlu. Itupun jarang sekali. Pusing dengerin orang-orang Jakarta ngomong lu-lu gue-gue…

Bahwa JIL, sesuai namanya, menganut “paham Islam liberal” memang ya tapi penganut “paham Islam liberal” bukan hanya JIL cing. Ada banyak kaum Muslim di Indonesia–di desa maupun di kota, Jawa maupun non-Jawa–yang mempunyai pandangan, pemikiran, gagasan, praktek, dan tindakan “liberal”.
Jika kata “liberal” yang dimaksud adalah sebuah ide dan tindakan yang bertumpu pada kebebasan individu, egalitarianisme, anti-kekerasan, kesamaan, menghormati sesama, toleransi, tepo seliro (menenggang perasaan orang lain), dlsb, maka orang-orang Muslim di kampung-kampung itu liberal banget.

Falsafah hidup orang-orang Jawa dan berbagai etnis di Indonesia itu kan juga sangat liberal. Para kiai di pesantren-psentren juga banyak yang liberal banget. Para ulama dan tokoh Muslim awal juga banyak sekali yang liberal. Nabi Muhammad dan para nabi terdahulu juga seorang yang sangat liberal, Al-Qur’an juga sangat liberal, dan bahkan Tuhan sendiri kan sangat liberal. Tapi mereka bukan JIL. Paham?