Beranda blog Halaman 11

Dirgahayu UKSW!

0

Berdiri pada 1956, UKSW (Universitas Kristen Satya Wacana), yang terletak di “kota suejuk” Salatiga, Jawa Tengah, ini, menyimpan “sejuta kenangan” tersendiri buatku. Di kampus inilah dulu saya untuk pertama kalinya mempelajari dan “membaca” agama dari perspektif ilmu-ilmu sosial di Program Paskasarjana Agama dan Masyarakat (Sosiologi Agama).

Kala itu, alasan kuat untuk belajar di UKSW, antara lain, karena saya “agak bosan” belajar Islam dari sudut pandang “Islamic Studies” yang lebih menekankan pada “otoritas teks”. Atau, katakanlah, melihat dan mengkaji Islam dari perspektif teks-teks keislaman dan “ilmu-ilmu keislaman” saja (fiqih, ushul fiqih, tafsir, aqidah, dlsb) tanpa melibatkan perangkat ilmu-ilmu sosial dan humanities (sosiologi, sejarah, antropologi, dlsb). Selama kurang lebih 7 tahun saya belajar Islam dalam bingkai “Islamic Studies” tadi waktu saya kuliah S-1 di IAIN (kini UIN) Walisongo, Semarang, plus beberapa tahun di pondok pesantren dan madrasah.

Alasan lain, saya ingin mengetahui dan melihat lebih dalam “daleman” kelompok Protestan, yang memang waktu itu masih jarang saya “gauli”. Sebelumnya, saya sudah sangat akrab dengan komunitas Katolik di Semarang, dan lama membangun kerja sama antar-agama dengan mereka. Almarhum Romo Pujo (Pujasumarta), mantan Bapa Uskup Semarang, adalah salah satu sahabat karibku. Tetapi dengan umat Protestan belum banyak kenal. UKSW-lah yang menjadi “pintu masuk”-ku mengenal lebih dekat, lebih dalam, dan lebih jauh dengan warga Kristen Protestan. Hingga kini saya menggalang persahabatan dengan mereka dari Sabang sampai Merauke.

Berbekal “surat rekomendasi” dari (almarhum) Prof. Dr. Ahmad Qodri Azizy (mantan Rektor IAIN Walisongo & Dirjen Kemenag RI), saya nekad melamar program S2 di UKSW dengan modal keuangan ala kadarnya. Maklum, waktu itu saya adalah termasuk golongan “sarjana pengangguran” yang “hidup segan mati tak mau”. Meskipun “kere-njere” (miskin buanget), saya punya tekad baja untuk sekolah. Istilahnya, “biar miskin asal sombong” he he. Pokoknya sekolah, urusan duit belakangan. Setiap sekolah, selama dua tahun, saya naik bus ekonomi bolak-balik dari Ngaliyan, Semarang (tempat saya indekos) ke Salatiga, sampai hafal para pengamen bus yang kadang nyambi jadi tukang copet yang menyebalkan.

Meskipun megap-megap sekolah karena kendala keuangan sampai tiga semester “utang SPP”, saya akhirnya bisa lulus juga. Alhamdulilah ya bos. Makan saja susah apalagi bayar SPP. Terima kasih kepada sejumlah pihak yang telah berbaik hati “menyelamatkan” saya waktu itu dari “lubang kegelapan”, termasuk Pak John Titaley (Rektor UKSW), Pak Mesach Krisetya, dan almarhum KH MA Sahal Mahfudh (Mantan Ketum MUI dan Rais Am PBNU).

Terlepas dari “problem keuangan” yang saya hadapi waktu itu, yang jelas UKSW adalah kampus yang memberi kontribusi luar biasa bagi “karir perkembangan intelektualku”. Melalui UKSW, saya bisa dan menjadi terbiasa menganalisis persoalan sosial-keagamaan dari berbagai sudut pandang. UKSW pula yang “melengkapi” pemahamanku dalam “membaca” dan “mengkaji” Islam dan keislaman, yang tidak melulu dari perspektif “Islamic studies” tadi tapi juga dari kacamata ilmu-ilmu sosial sehingga lebih “terbuka dan komprehensif”. Kelak, saya memperdalam lebih lanjut dasar-dasar ilmu sosial yang saya peroleh di UKSW ini waktu studi program doktor di bidang Antropologi di Boston University, Amerika Serikat.

Selamat ulang tahun ke-60 UKSW. Semoga engkau tetap jaya sepanjang masa mengawal agama, bangsa, dan negara Indonesia tercinta. [SQ]

Mendukung Rizieq Shihab sebagai Gubernur Jakarta

0

Saya kadang heran kenapa banyak tokoh Muslim di Jakarta maupun bukan begitu “bersemangat ‘45” mencari sosok kandidat gubernur Muslim yang dipandang cocok atau ideal untuk DKI Jakarta. Apakah mereka sudah pikun? Apakah mata mereka sudah rabun? Bukankah mereka sudah punya sosok gubernur Muslim idaman yang dulu dilantik oleh Panglima Besar FPI Rizieq Shihab? Bukankah Baginda Rizieq Shihab dulu sudah melantik Haji Fakrurozi (Bang Rozi).

Kalau sudah punya gubernur Muslim idola, kenapa orang-orang yang mengaku sebagai “tokoh Muslim” itu masih sibuk mencari kandidat gubernur Muslim? Emang pergi kemana Bang Rozi? Hilang tidak pulang-pulang menyusul Bang Toyib? Kalau ia hilang, ya dipasang pengumuman dong: “Dicari Gubernur Muslim Jakarta yang Hilang”. Ataukah Bang Rozi dianggap “kurang Islam” atau “kurang Muslim” sehingga perlu dicari calon baru? Masak sudah haji, ustad, kok dianggap “kurang Islami”?  

Kalau Bang Rozi masih dianggap “kurang Islam” atau “kurang Muslim,” kenapa mereka tidak mengusung Yang Mulia Rizieq Shihab saja sebagai kandidat gubernur Muslim Jakarta yang tidak diragukan lagi dan tampak meyakinkan identitas keislamnya, dan habib lagi. Apalagi ia menjadi “Panglima Besar” ormas Islam FPI yang jelas-jelas untuk “membela Islam” (ya minimal, Islam versinya lah).

Daripada berkoar-koar terus dan sibuk kesana-kemari seperti ayam mau bertelur, akan lebih baik saya kira jika Tuan Rizieq Shihab mencalonkan diri sebagai gubernur (Muslim) Jakarta bertarung melawan “si kapir” Koh Ahok. Pertunjukan ini pasti akan menjadi “duel maut” laksana “David versus Goliath of Gath” (silakan bayangin sendiri mana David atau Daud dan mana Goliath-nya) atau Isa melawan Dajjal (silakan tafisiri sendiri mana Isa dan mana Dajjal-nya).

Ini beneran lo. Daripada mengusung “Yu Seril” yang parpolnya hidup segan mati tak mau itu, akan lebih baik jika mereka, para tokoh Muslim itu, bersatu-padu guyup-rukun mendukung dan mengusung Rizieq Shihab, yang meskipun tidak punya parpol tapi kan lumayan punya “industri” FPI yang menjanjikan dari sisi “bisnis agama.” Saya jamin, Ahok versus Rizieq pasti akan menjadi tontonan yang mengasyikkan masyarakat Indonesia (atau mungkin bahan penduduk dunia dan akhirat) serta bakalan mampu menandingi duel Hillary Clinton versus si “mulut besar” berambut nyentrik: Donald “Bebek” Trump.[SQ]

Jabal Dhahran, Arabia

Dialog Sang Anak Dengan Ibunya

0

Saat itu saya masih duduk di kelas 5 SD di sebuah desa di kecamatan tetangga di Kabupaten Batang, Jawa Tengah. SD di kampungu hanya sampai kelas 4. Jadi saya harus melanjutkan “kuliah SD” di desa lain supaya dapat ijazah. Tidak seperti biasanya, hari itu ibuku ngomong dengan nada dan mimik serius kepadaku. Kami ngobrol dengan menggunakan Bahasa Jawa tentunya karena ibuku tidak bisa Bahasa Indonesia (waktu itu) karena pernah sekolah saja nggak. Sekarang mungkin paham kali dikit-dikit he he.

Kira-kira begini dialognya (saya terjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia):

Ibu: “Saya mau jualan bumbu-bumbu masak dan buka warung gorengan di rumah.”

Saya: “Jualan untuk apa to bu?”

Ibu: “Ya supaya kamu dan kita semua sekeluarga bisa makan sedikit enak dan tidak perlu beli ke warung karena susah mencari uang.”

Memang benar sebagai keluarga miskin, uang kami memang pas-pasan. Makan dengan lauk ala kadarnya pakai garam, sambel atau kuah sayuran. Kadang, kalau musim hujan tiba, kami (dan juga warga kampung) berburu ulat jati dan kepompongnya (enthung) untuk dijadikan lauk-pauk. Dulu, saya juga sering mencari kayu bakar di hutan atau daun pisang di kebun untuk saya tukar dengan gorengan tempe, tahu, atau ikan teri di warung. Kadang kami menukar beras atau telur ayam dengan lauk-pauk ala kadarnya. Semacam “sistem barter” lah.

Saya: “Apa ibu punya uang untuk jualan?”

Ibu: “Ada, tapi sedikit”.

Saya: “Saya punya tabungan untuk ibu saja”.

Sejurus kemudian saya masuk ke kamar dan bongkar tabunganku yang saya simpan di kaleng dan saya tanam di bawah ranjang. Gubug kami dulu beralas tanah, jadi uang saku sekolah, uang jajan tontonan, atau pemberian orang-orang yang baik hati, sering saya simpan di kaleng dan saya tanam di bawah ranjang itu supaya tidak ketahuan orang lain. Saya tidak tahu persis berapa jumlah uang recehan Rp. 25, 50 dan 100 itu yang saya kumpulkan waktu itu. Yang jelas semuanya saya berikan ke ibu untuk menambah “modal bisnis” warung gorengan di kampung.

Sejak itulah ibu jualan. Kalau belanja ke pasar di kota harus jalan kaki berkilo-kilo meter. Tapi ibu tetap “semangat 45”. Pulangnya almarhum ayah dulu jemput ibu sambil membawa keranjang dan pikulan untuk membawa belanjaan. Saya jarang jemput karena harus sekolah dan menggembala kambing di hutan. Sampai sekarang ibu masih jualan gorengan. Tidak mau berhenti. Meskipun hidupnya sudah saya jamin. Rumah pun sudah saya buatkan yang permanen, tidak gubuk reot lagi seperti dulu. Katanya badannya pegal-pegal kalau tidak jualan. Semoga beliau tetap sehat. [SQ]

Jabal Dhahran, Arabia   

Demokrasi: Dicaci Tapi “Digauli”

0

Saya perhatikan ada sejumlah kelompok yang hobinya mencaci-maki demokrasi karena dianggap sebagai “sistem liberal-sekuler” atau “produk kebudayaan Barat” yang “kapir-njepir”. Tetapi pada saat yang sama, mereka gemar “menggauli” atau “mengsetubuhi” demokrasi ini. Setidaknya ada tiga kelompok yang “membenci tapi merindu” demokrasi ini. Pertama, kelompok tidak tahu malu. Kedua, kelompok tidak tahu diri. Dan ketiga, kelompok yang tidak tahu sama sekali.

Misalnya, para “cheerleaders” sistem politik-pemerintahan Khilafah yang, seperti Anda tahu, sangat antipati dengan demokrasi, tetapi setiap hari menikmati “buah demokrasi”. Demokrasilah yang membuat orang-orang bisa euforia meluapkan pikiran dan uneg-unegnya yang kadang-kadang sampai kebabalasan. Demokrasilah yang membuat orang bisa bebas membuat ormas, yang lucunya ada yang dipakai untuk menyerang demokrasi. Demokrasi pulalah yang membuat orang bisa berdemo seenak wudelnya sendiri—ada yang sambil foto-foto selfie, ada pula yang sambil kencing di balik pohon he he.

Tanpa sistem demokrasi, semua itu mustahal terjadi. Apa yang “mereka” kini dengan bebas nikmati di Indonesia itu, tidak akan bisa dinikmati di negara manapun di dunia ini yang menggunakan sistem politik-pemerintahan non-demokrasi. Apapun namanya sistem politik-pemerintahan itu (kerajaan, kesultanan, keamiran, republik, dlsb). Apapun sumber sistem politik-pemerintahan itu (Komunisme, Islam, Konfusianisme, dlsb). Jika tidak mengadopsi sistem demokrasi, maka rakyat tidak memiliki ruang gerak leluasa untuk berekspresi baik berdemo maupun berormas.

Maka, saya jamin, ormas-ormas berlabel Islam seperti FPI atau HTI dan saudara-saudaranya yang hobi demo massa, jika di negara-negara yang menerapkan sistem politik non-demokrasi (baik negara-negara Arab maupun bukan), maka mereka sudah “diberangus” sebelum lahir karena demonstrasi massa dipandang bisa mengganggu stabilitas sosial-politik-ekonomi negara.

Hizbut Tahrir (HT) yang mengklaim mengusung “sistem politik” Islam, malah dilarang di negara-negara mayoritas Muslim, Arab maupun non-Arab. Bahkan di negara asalnya tempat HT lahir (yaitu Palestina) juga tidak laku dan mati. Lucunya HT malah tumbuh subur di negara-negara penganut sistem demokrasi (baik liberal maupun illiberal) seperti di Amerika, Inggris, Australia, termasuk Indonesia, yang selalu mereka “kopar-kapirkan” itu. Ajaibnya lagi, bukannya berterima kasih, para pedagang asongan sistem khilafah di Indonesia (baik yang elitnya maupun massanya) malah mencaci-maki negaranya sendiri yang telah menyuburkan mereka.

Menurut Anda, kira-kira para tokoh, massa, maupun ormas yang antipati dengan demokrasi tapi rajin demo itu tergolong umat apa? Umat tidak tahu diri, tdak tahu malu, atau tidak tahu sama sekali? [SQ]

Demam Naik Gak Naik-Naik

0

Sepertinya sebagian umat Islam di Indonesia sedang “demam” Zakir Naik, seorang dokter (bukan doktor) bedah yang menjadi pendakwah dari India. Seperti alm. Ahmed Deedat, seorang pendakwah populer dari India yang oleh Pak Zakir Naik dianggap sebagai guru dan inspiratornya, Dr. Zakir Naik juga seorang evangelis populer yang seperti umumnya kaum evangelis dan pendakwah (baik Islam, Kristen dan lainnya) memiliki kemampuan orasi yang baik dan bertumpu pada kekuatan retorika. Ini tentu saja sangat berbeda dengan ilmuwan misalnya yang lebih menitikberatkan pada teori dan data-data empiris dan ilmiah atau scientific.

Bukan hanya Islam, Kristen juga mempunyai tokoh-tokoh pendakwah dan evangelis populer dan memukau yang memiliki jutaan pengikut / pemirsa setia seperti Joel Osteen, Billy Graham, T.D. Jakes, Ted Haggard, Franklin Graham, Rick Warren, Ian Paisley, dlsb. Ceramah-ceramah para tokoh evangelis Kristen ini juga luar biasa dan mampu “menyihir” beribu-ribu jamaah.

Bagi kaum awam, model-model dakwah ala evangelis ini (Kristen maupun Muslim) jauh lebih mengena dan gampang dicerna karena disampaikan dengan logika-logika sederhana plus retorika yang memukau, ketimbang para ilmuwan atau ulama yang selalu “njlimet” dan “ndakik-ndakik” (detail, teliti, rumit sampai ke akar-akarnya) dalam menyampaikan sebuah persoalan sehingga sering kali susah untuk dicerna dan dipahami oleh masyarakat luas.

Bagiku, yang menarik dari Pak Zakir Naik ini bukan “apa yang disampaikan” tetapi penampilannya dan medium bahasa yang ia gunakan untuk berdakwah. Lihat saja, beliau selalu tampil necis dengan jas dan dasi. Penampilan tata-busana Pak Zakir ini persis seperti para ulama, pendakwah, sarjana, dan kaum Muslim menengah kota di negara-negara Barat.

Menariknya, kaum Muslim di Indonesia tidak ada yang mengkritik dan “mempermasalahkan” tata-busana dan penampilan Pak Zakir yang “kebarat-baratan” ini sebagai “busana kafir” misalnya. Tidak ada yang bilang busana Pak Zakir “tidak syar’i”, “tidak Islami”, “tidak “Ngarab”, atau “tidak nyunah” misalnya. Tidak ada yang bilang: “Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia seperti kaum itu sendiri”. Ini tentu sangat menggembirakan.

Perhatikan juga dengan bahasa yang digunakan Pak Zakir untuk berdakwah: Bahasa Inggris, bukan Bahasa Arab atau bahasa lokal seperti Hindi atau Urdu. Juga, menariknya, tidak ada kaum Muslim yang mempertanyakan otentisitas dan kualitas ceramahnya karena menggunakan Bahasa Inggris “yang kapir”, bukan Bahasa Arab “yang relijius”. Ini juga sangat menggembirakan.

Ajib kan?

Ajibnya lagi, banyak kaum Muslim di Indonesia yang “mendadak” demam dan mengelu-elukan “dai India”. Jamaah “Naiker” ini persis seperti para fans dan pemuja Shah Rukh Khan, Amitabh Bachchan, Salman Khan, atau Kareena Kapoor. Acha acha he he. Padahal, belum lama mereka “keranjingan” dengan para syaikh, ulama, dan pendakwah dari Tanah Arab.

Ajibnya lagi, (sebagian) kaum Muslim di Indonesia memuja-muji Pak Zakir Naik yang seorang dokter bedah dan penceramah itu, sementara para kiai, ulama dan ahli tafsir beneran (baik yang professor doktor maupun bukan, baik yang Arab maupun Indonesia, baik para syaikh dan ulama Mesir maupun para kiai pesantren yang mumpuni, dlsb) malah dicaci-maki, dikafirsesatkan, dibodoh-bodohi, dimunafik-munafikkan, dlsb. Pendapat dan “tafsir” Pak Zakir dijunjung tinggi, pendapat dan “tafsir” para ulama dan mufasir beneran malah direndahkan.

Jadi, masalahnya bukan pemikiran Pak Zakir Naik itu brilian atau tidak. Mereka mengelu-elukan Pak Naik itu lantaran pendapat dan pemikirannya itu sesuai, sejalan, atau seirama dengan hati, pemikiran, pesanan, dan tujuan jamaah Naiker. Pak Naik-nya sih oke, jamaah Naiker-nya yang “oke oce”. Pak Zakir sih memang Naik terus tapi jamaah Naiker-nya yang gak naik-naik alias mentok di bumi datar he he. [SQ]

Debat Bule dengan Mamat

0

Suatu saat ada seorang bule (B) yang sudah lancar berbahasa Indonesia sedang muter-muter menggunakan mobil sederhana mengelilingi kota Jakarta untuk melihat-lihat suasana dan keindahan “Jakarta baru” yang menurutnya karya Koh Ahok (mohon maap buat pendukung paslon Anies-Sandi karena memang “Jakarta baru” adalah “karya” Ahok, bukan Anies apalagi Sandi he he).

Sama seperti Si Bule tadi, Si Mamat (M) kebetulan juga sedang mengelilingi kota Jakarta, juga menggunakan sebuah mobil (entah mobil sendiri atau rental, itu tidak penting he he) yang katanya untuk menyaksikan keindahan kota “Jakarta baru” yang menurutnya hasil “karya” Anies, atau minimal karya “Gubernur” Bang Oji (salah satu ciri khas kaum penghayal tingkat dewa he he).

Saat Si Bule sedang enak-enaknya lihat-lihat pemandangan aduhai, tiba-tiba mobilnya ditabrak mobil Mamat. Bruk. Maka keduanya pun “adu mulut” alias cek cok.

B: Kamu gimana sih kok main tabrak seenaknya? Jadi peyok nih mobilku. Kamu harus tanggung jawab perbaiki mobil dan ganti kerugian!

Bukannya menuruti kemauan Bule, Mamat malah balik menggertak dan bertanya bak intelejen.

M: Kok kamu minta saya tanggung jawab memperbaiki mobil dan mengganti kerugian? Emang salahku apa? Yang salah kan kamu?

B: Lo, kok saya yang disalahkan? Yang menabrak mobilku kan mobilmu. Jadi kamu yang salah dong?

M: Lo, kamu ini bule tapi kok “pekok” ya? Pernah sekolah gak sih? Kamu bilang yang nabrak mobilku, ya kamu salahkan mobilnya dong. Masak salahkan aku?

B: Tapi mobilnya kan kamu yang menyetir jadi kamu yang salah dan ceroboh nyetir sehingga menabrak mobilku.

M: Kamu kok semakin “bego” bin “pekok” ya? Sudah jelas yang salah itu mobilku yang menabrak mobilmu itu mobilku, bukan diriku. Bukan hanya mobilku yang salah, kamu juga salah le (maksudnya “bule”).

B: Lo, kok malah balik saya yang disalahkan? Salahku apa?

M: Salahmu karena ada di Jakarta. Coba kalau kamu tidak di Jakarta, saya kan tidak menabrak kamu?

Sambil garuk-garuk kepala, Si Bule bergumam: “Mungkin inilah orang yang dimaksud dengan Si Mamat, anggota klub pentol korek atau pentil kirik itu.”

Damailah Negeriku

0

Indonesia adalah negara demokrasi. Karena negara demokrasi, maka demonstrasi (massa) adalah hal yang biasa dan lumrah sebagai salah satu medium untuk menyampaikan aspirasi publik. Dengan kata lain, “pesta demonstrasi” ini hal wajar sebagai “buah” dari demokrasi. Demonstrasi adalah bagian dari “ritual demokrasi”.

Mestinya masyarakat Indonesia mengsyukuri karunia ini karena mereka bisa dengan leluasa berekspresi. Bayangkan jika Indonesia bukan mengikuti sistem demokrasi atau berdasar pada sistem politik-pemerintahan otoriter apakah itu “berbasis” Komunisme, Republikanisme, “Islamisme”, dlsb, maka demonstrasi massa ini tidak akan pernah terjadi.

Dalam sistem politik non-demokrasi, maka demonstrasi akan dianggap sebagai aksi yang membahayakan tatanan sosial-politik-ekonomi, dan karena itu massa yang berdemo akan ditindak tegas oleh aparat. Sulit membayangkan demonstrasi massa seperti ini terjadi di Korut, Kuba, Bahrain, Saudi, dlsb.

Hanya saja kadang-kadang yang sangat disayangkan banyak orang yang menyalahgunakan demokrasi melalui “lembaga demokrasi” dengan “cara-cara yang seolah-olah demokratis” sehingga demokrasi yang awalnya sebagai “berkah” dan “nikmat” itu bisa berubah menjadi malapetaka.

Hanya saja kadang-kadang, ada sejumlah tokoh–baik kelompok politik maupun agama–yang karena sudah mengalami semacam penyakit “ereksi kekuasaan” permanen sehingga rela melakukan berbagai daya-upaya untuk “menyelewengkan” missi positif demonstrasi untuk tujuan-tujuan pragmatis tertentu. Sangat disayangkan.

Ada pula sejumlah oknum yang memanfaatkan momen demonstrasi massa untuk “fundraising” atau penggalian dana ini dan itu dengan alasan untuk “mendukung” ini-itu. Apalagi masyarakat Indonesia itu adalah “masyarakat sinetron” yang gampang tersentuh emosinya sehingga gampang dimobilisasi dan digiring oleh opini tertentu, untuk donasi ini itu.

Jadi, demokrasi dan demonstrasi telah memberi berkah dan “rejeki” ke banyak orang.

Sebagaimana harapan banyak pihak, saya juga berharap demonstrasi kolosal hari ini akan berjalan dengan baik, damai, aman, dan sentosa, tidak ada aksi-aksi anarkis yang merugikan dan menderitakan banyak pihak. Damailah negeriku karena kekerasan hanya akan menyengsarakan rakyat, baik yang berdemo maupun bukan, baik “wong elit” maupun “wong cilik”.

Mari kita ikut mendoakan kelancaran serta ikut berpartisipasi mengamankan demonstrasi akbar ini, apapun caranya. Mari kita hormati yang berdemo, mari kita hargai yang tidak berdemo. Salam Damai, Damailah Negeriku!

Jakarta, Indonesia

“Cinta Dunia” = “Syirik Modern”

0

Tiba-tiba saya teringat dua buah Hadis Nabi Muhammad yang sayup-sayup mulai tak terdengar lagi lantaran tertutup oleh ulah (sejumlah) umat Islam yang hiruk-pikuk mengurusi “agama simbol” atau “agama guncu”. Hadis ini juga “nyaris lenyap” karena terhalangi oleh tingkah-polah sebagian kelompok Islam yang begitu heroik dan gegap-gempita menyerbu obyek-obyek mati yang dianggap sebagai “sumber syirik” (penyekutuan Tuhan) yang bisa mengotori kesucian serta menodai kemurnian dan keesaan Tuhan.

Oleh sejumlah kelompok Islam puritan-reformis ekstrim yang “kami tauhiden” (ketauhid-tauhidan atau “ketuhan-tuhanan”), obyek-obyek seperti kuburan, patung (patung orang atau binatang), batu nisan, dunia klenik, obyek-obyek yang dikeramatkan orang (seperti pohon, sungai, keris, binatang, gunung, batu, dlsb), atau bahkan gambar / foto / lukisan orang dan binatang itu semua bisa menyebabkan orang tersungkur ke dalam kekafiran dan kemusyrikan, dan karenanya wajib hukumnya untuk dimusnahkan dari muka bumi.

Karena itu Anda jangan kaget kalau mereka di sejumlah tempat begitu bersemangat untuk merusak patung-patung (tentu saja tidak semua patung mereka obrak-abrik: misalnya patung polisi atau patung-patung di markas TNI ya mereka nggak berani he he). Gambar-gampar atau foto orang atau binatang juga mereka musnahkan (tentu saja tidak semuanya: duit apa saja termasuk “duit Arab” yang ada foto dan gambarnya ya tetap saja mereka simpan he he). Bagi mereka, tidak ada “duit sekuler” atau “uang liberal”. Semua uang bagi mereka adalah “religius” jadi tidak perlu dibakar dan dilenyapkan he he.

Eh sampai lupa belum menyebutkan bunyi Hadisnya. Hadisnya (yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim) kira-kira begini bunyinya: “Dan sesungguhnya demi Allah, saya tidak khawatir kalian akan berbuat syirik sepeninggalku. Akan tetapi saya justru takut kalian akan berebut dunia.” Dalam Hadis lain yang diriwayatkan Imam Muslim, Nabi Muhammad SAW bersabda: “Sesungguhnya, saya tidak takut kalian berbuat syirik. Yang saya khawatirkan atas kalian adalah dunia. Kalian akan saling berlomba-lomba di dunia, dan saling bunuh. Maka kalian akan hancur sebagaimana hancurnya umat sebelum kalian.”

Saya kira dua Hadis ini adalah “tamparan telak” buat sejumlah kaum Muslim yang begitu bergemuruh memburu obyek-obyek yang dianggap atau dituduh sebagai “biang kerok” syirik tetapi pada saat yang bersamaan, mereka justru tanpa sadar telah melakukan atau mempraktekkan tindakan syirik itu sendiri, yaitu “memberhalakan dunia”. Mereka benci setengah mati dengan kuburan tetapi cinta setengah mati dengan mall, hotel, supermarket, dlsb. Mereka hancurkan obyek-obyek spiritual yang dikeramatkan oleh umat tetapi pada saat yang sama mengeramatkan obyek-obyek modern. Mereka takut dengan “dunia klenik tradisional” tetapi mereka gandrung dengan “dunia klenik modern”: teknologi. Mereka mengaku anti-syirik dan pantang “menyekutukan Tuhan” tetapi mereka telah menuhankan obyek-obyek lain: pemimpin, raja, sultan, klerik, jabatan, kekuasaan, uang, harta, kekayaan, dlsb. Inilah yang saya maksud sebagai “syirik modern” sebagai lawan dari “syirik tradisional”. “Cinta dunia” adalah “syirik modern”.

Saya memandang “gerakan anti-syirik” (baca “syirik tradisional”) yang dipropagandakan sejumlah kelompok Islam ekstrim-konservatif itu sebagai tindakan lebay, “genit”, dan hipokrit untuk menutupi borok-borok mereka yang “gandrung” dengan duniawi. Betul kata Nabi diatas bahwa beliau tidak khawatir dengan perbuatan syirik, bahkan Tuhan pun tidak peduli orang mau berbuat syirik kek, kapir kek karena memang Tuhan tidak butuh disembah dan tidak butuh sesembahan. Karena itu jangan dikit-dikit bilang syirik, salah-salah kita sendiri yang justru terjerumus ke dalam kesyirikan. [SQ]

Catatan dari “Kampung Inggris” Pare, Kediri

0

Dalam belajar Bahasa Inggris saya tergolong “terlambat” dibanding dengan sejumlah teman mahasiswa seangkatan dulu. Sewaktu masih mahasiswa di IAIN (kini UIN: Universitas Islam Negeri) Walisongo, Semarang, saya sibuk sekali di Majalah Justisia dan lembaga senat mahasiswa. Aktivitas utamaku dulu waktu menjadi mahasiwa S-1 adalah diskusi, nulis, dan demonstrasi. Sudah tak terhitung berapa kali saya turun demo dan menggalang protes melawan siapa saja yang saya anggap “tidak bener”. Karena itu kuliahku terbengkelai. Hampir 7 tahun, saya menyelesaikan S-1.

Meskipun ada sejumlah teman yang rajin belajar Bahasa Inggris, saya tidak berminat sama sekali. Sampai melanjutkan kuliah S2 di UKSW, Salatiga, saya juga masih aras-arasen belajar Bahasa Inggris. Dulu, setiap ada tugas me-review tulisan-tulisan Bahasa Inggris, saya paling malas. Sering saya kena diare karena stres mikirin tugas-tugas Bahasa Inggris. Setelah lulus S2 dr UKSW, saya baru mikir dan berkeinginan kuat untuk belajar “Bahasa Londo” ini. Maka, saya pun memutuskan untuk “berpetualang” di sebuah kampung antara Jombang dan Kediri yang sudah lama dikenal sebagai “Kampung Bahasa Inggris”. Nama kampung itu adalah Pare. Konon di kampung ini pulalah dulu pada 1950-an, mendiang antropolog Clifford Geertz yang legendaris itu melakukan penelitian yang kemudian terbit menjadi sebuah buku yang sangat populer: The Religion of Java.

Waktu itu saya ditemani seorang sahabat karib, namanya Muhtasit, yang kadang-kadang saya panggil Tahasita, yang sudah duluan tinggal di Pare. Berangkatlah kami dengan naik bus ekonomi jalur: Semarang-Solo-Jombang-Pare. Hujan lebat mengguyur menemani perjalanan kami di bulan Januari itu. Oleh Muhtasit, saya dicarikan tempat kos sederhana dengan biaya sekitar Rp. 30,000 / bulan. Saya masih ingat kasurku dulu banyak sekali dihuni mahluk yang bernama tinggi (kutu busuk) sehingga setiap pagi, badanku bentol-bentol dikeroyok tinggi. Selain saya, yang kos dirumah mungil itu adalah Makmun, adik kelasku, yang konon sekarang jadi Wakil Ketua DPDR di Kendal. Makmun banyak membantu saya waktu itu: terutama bikinkan mie, kadang-kadang mencuci pakaian.

Di Pare, awalnya saya belajar di BEC (Basic English Course) selama 6 bulan. Ada banyak sekali murid-murid di BEC yang rata-rata adalah siswa SMU atau mahasiswa S-1. Waktu itu saya adalah mahasiswa tertua. Bahkan saya juga lebih tua dari guru-guru Bahasa Inggrisku. Kecuali “Mr. Kallend” tentunya, yang punya BEC itu. Seperti murid-murid yang lain, saya juga melakukan hal yang sama: memakai seragam hitam-putih, hafalan, mengerjakan tugas-tugas sekolah, dlsb. Rutinitas itu saya lakukan selama 6 bulan. Semua biaya makan, kos, kursus dari tabunganku yang tidak seberapa. Maklum “sarjana pengangguran” jadinya ya sekedarnya.

Mungkin karena kasihan melihatku yang kurus-kering-dekil-item, beberapa senior yang datang mengunjungi memberi “sesuatu”. Pak John Titaley, guruku dan juga rektor UKSW, misalnya pernah datang bersama istrinya, Bu Ida, sambil membawa bingkisan oleh-oleh kondangan di Malang. Kiai Ubaidallah Sodaqah (sekarang Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah) juga pernah mampir sambil menyelipkan uang waktu salaman mau pulang. Kata Sopo, “Alhamdulilah ya bos…”

Belajar Bahasa Inggris (atau bahasa asing apapun) memang berat sekali apalagi belajar sudah cukup “telat”. Karena itu bisa dimaklumi jika banyak yang mogok di tengah jalan. Waktu itu hanya semangat yang bisa membuatku bertahan. Keinginan kuat untuk sekolah di Barat membuatku “semangat ’45” meski hujan mengguyur, duit tipis, pakai “seragam sekolah” tiap hari, dan “dicumbui” binatang tinggi setiap malamnya. [SQ]

Bila Muslim Turut Merawat Kelenteng

0

Pagi itu, ditemani oleh sahabatku Dr. Zainuddin Prasojo dan para santrinya, saya meluncur menyusuri sungai dan Selat Karimata di sebuah kampung nelayan dengan “perahu kelotok” (sebutan warga setempat untuk perahu motor). Tujuan kami adalah mengunjungi sebuah kelenteng unik yang lokasinya berada di tengah laut di daerah Muara Kakap, Kalimantan Barat, sekitar 25 km dari Pontianak. Konon 80% warga Muara Kakap adalah keturunan Cina khususnya Tiociu (dari Guangdong) dan Khek atau Hakka (dari Fujian). Kelenteng itu bernama Kelenteng Timbul atau Pekong Laut (seperti tampak dalam foto ini. Courtesy: National Geographic). Di beranda kelenteng itu tersemat papan nama beraksara Cina: Xiao Yi Shen Tang atau Kelenteng Dharma Bhakti. Saya sendiri tidak paham betul apakah tempat ibadah ini milik umat Konghucu atau pengikut Taoisme.

Di saat kita sedang dikejutkan oleh tragedi pembakaran sejumlah kelenteng dan wihara di Tanjung Balai, Sumatra Utara, dan amuk massa oleh sejumlah kelompok Muslim yang memilukan dan memalukan, saya melihat pemandangan lain dan menyejukkan di kelenteng ini. Masyarakat Muslim setempat yang umumnya berprofesi sebagai nelayan bukannya merusak kelenteng dan segala pernik-perniknya karena dianggap rumah ibadah orang kafir misalnya. Mereka bahkan justru turut menjaga dan merawatnya. Mereka juga ikut memelihara beragam pernak-pernik sarana ibadah di kelenteng yang konon dibangun pada 1960-an ini, bukan merusak atau membuang pernak-pernik itu ke laut. Meskipun itu gampang sekali mereka lakukan jika mau.

Selain itu, kelenteng ini juga berfungsi sebagai tempat berkumpul para “mancing mania”. Lokasinya yang di tengah laut memang membuat kelenteng ini sangat cocok dan strategis untuk memancing. Bukan hanya untuk memancing, mereka juga istirahat, tidur, makan-minum, dan menunaikan salat di kelenteng itu. Lo, kok bisa? Pak Edi, warga Muslim asli Bandung yang sudah bertahun-tahun menjadi “penjaga kelenteng” dan menetap di daerah Muara Kakap itu menuturkan: “Yang penting niat saya salat adalah untuk menyembah Allah SWT. Jadi dimanapun saya salat, termasuk di kelenteng ini, tidak masalah karena hati dan pikiranku hanya tertuju pada Allah SWT itu.” Saya hanya manggut-manggut saja mendengarkan penuturan Pak Edi yang waktu itu hanya mengenakan celana kolor pendek warna hitam saja tanpa sehelai kaos atau baju.

Pak Edi menuturkan, kelenteng itu dibangun di tengah laut supaya tidak diketahui oleh aparat pemerintah Orde Baru dulu yang memang pernah melarang atau “mengilegalkan” atau mencoret Konghucu dari daftar “agama resmi” negara. Meski lokasinya di tengah laut, banyak warga Cina dari berbagai daerah, termasuk Jakarta, yang beribadah di kelenteng ini. Menurut Pak Edi, di dalam kelenteng sudah dilengkapi dengan dapur dan peralatan memasak serta tempat tidur sehigga warga yang jauh dari luar kota bisa beristirahat dan tinggal nyaman beberapa hari di kelenteng.

Kelenteng, sebagaimana tempat ibadah umat agama lain (masjid, gereja, sinagog, kuil, wihara, atau apapun namanya) hanyalah sebuah “bangunan profan-sekuler”. Manusialah yang membuat bangunan-bangunan itu “suci-religius” dan bahkan “keramat”. Manusialah yang membuat, menjadikan, mengangap, dan mengklaim aneka bangunan itu sebagai “rumah Tuhan.”

Terlepas dari perdebatan mengenai “konsep rumah Tuhan” ini, yang jelas sikap toleran dan terbuka seperti yang dipraktekkan oleh Pak Edi beserta teman-teman dan warga sekitar di Muara Kakap perlu “dikloning” dimana-mana. Apalagi sekarang ini dimana banyak umat beragama sedang mengidap “penyakit hiperfanatisme” yang mudah tersinggung, gampang marah, dan hobi ngamukan meskipun kadang-kadang hanya dipicu persoalan yang sangat sepele yang tidak ada sangkut-pautnya dengan nilai-nilai fundamental sebuah agama (contohnya adalah “toa masjid”). Toa itu jelas “barang sekuler” dan bahkan “bid’ah” karena Nabi Muhammad jelas tidak pernah memakai “mahluk” yang bernama toa. Tanpa toa pun, Tuhan bisa mendengar suara selirih apapun bahkan bisikan hati hamba-hamba-Nya. [SQ]

“Bencong Filipin”

0

Salah satu yang saya amati sejak mendarat di Saudi adalah warga Filipina. Kaum migran dari Filipina ini cukup besar di kawasan Arab Teluk, termasuk Saudi. Sejak negara-negara Arab Teluk “kebanjiran duit” karena lonjakan harga minyak dunia (oil booms) pada 1970-an dan 1980-an, mereka membutuhkan banyak tenaga kerja asing untuk memenuhi kebutuhan pembangunan yang meroket.

Ketika “Perang Teluk” meletus: baik Perang Teluk antara Irak-Iran maupun Irak-Kuwait, banyak kaum migran asing bubar kembali ke negara mereka masing-masing. Tapi setelah perang selesai, mereka kembali didatangkan karena negara-negara Teluk, khususnya Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Saudi, “kehabisan tenaga kerja”.

Kaum migran non-Arab yang banyak didatangkan di Arab Teluk biasanya dari India, Pakistan, Bangladesh, Sri Lanka, dan Filipina. Karena itu tidak heran jika mereka cukup dominan di kawasan ini dan membentuk “sindikat” tersendiri. Arab Teluk memang terkenal sebagai “daerah migran” non-Arab. Negara-negara Arab Teluk sendiri, daripada mendatangkan pekerja migran Arab, lebih aman dan nyaman mendatangkan pekerja migran non-Arab karena dianggap tidak berpotensi menciptakan “revolusi politik” dan “kekacauan sosial”. Karena kaum migran non-Arab ini lebih berorientasi pada ekonomi, maka dianggap tidak membahayakan stabilitas dan keamanan politik regional.

Seperti negara-negara Arab Teluk lain, Saudi juga kebanjiran kaum migran non-Arab dari India, Pakistan, Bangladesh, dan juga Filipina tadi. Mereka tersebar di berbagai kota besar di Saudi. Di kawasan tempat saya tinggal juga banyak warga Filipin. Sangking banyaknya kaum migran dari Filipina ini sampai-sampai ada sebuah kawasan di Al Khobar yang disebut sebagai “Little Manila”. Di kampusku juga cukup banyak warga Filipin, mereka pada umumnya bekerja sebagai staf administrasi, bukan tenaga edukasi, karena memang mereka dikenal sebagai “pekerja rajin” dan administrator yang lumayan. Selain itu, mereka juga bekerja di berbagai toko, sebagai perawat di rumah sakit, atau membuka usaha sendiri seperti salon, restoran, dlsb.

Salah satu hal menarik yang saya perhatikan dengan seksama tentang mereka adalah “perilaku keperempuan-perempuanan”. Meski tentu saja tidak semuanya tetapi cukup banyak saya perhatikan fenomena “bencong Filipin” ini. Cukup banyak dari segi dandanan dan gaya mereka yang “bences” banget bok. Harap dicatat bahwa mayoritas kaum migran (yang bukan “ekspat profesional”) adalah kaum laki-laki. Oleh pemerintah Saudi, mereka tidak dibolehkan membawa istri-istri mereka. Karena itu kaum migran di Arab Teluk didominasi oleh para lelaki.

Mungkin saja “kebencesan” itu akibat “efek samping” dan “efek depan” dari pergaulan dengan sesama lelaki itu. Sudah menjadi “rahasia publik” jika Arab Teluk yang merupakan “kawasan lelaki” adalah “rumah yang nyaman-aman” buat “kaum homo” dan “kaum bencong”. Di Barat, jika ada sesama lelaki (atau sesama perempuan) bergandengan tangan di publik, maka serta merta akan dicap “homo” tapi kalau di Arab jelas tidak ada masalah karena bergandengan tangan adalah simbol persahabatan. Mau chek-in hotel juga bebas bas mereka, karena tidak mungkin petugas hotel menanyakan ID suami-istri he he. Jadi sebetulnya, kawasan Arab ini “surga” buat mereka. Larangan hanya ada di atas kertas tetapi dalam praktekknya sangat susah untuk diterapkan…

Cie Cie Membela Ulama Ni Ye

0

Subhanallah betapa bergetarnya hatiku tatkala menyaksikan “mereka” mengerahkan massa dan berdemo begitu heroiknya, yang menurut mereka, demi membela para ulama yang telah dilecehkan. Sejumlah “pembesar Islam” pidato, ceramah, dan khutbah berapi-api “mengganyang” orang-orang yang menurut mereka telah menghina ulama.

Poster, spanduk, dan baliho di pajang dimana-mana sebagai “peringatan” untuk jangan sekali-kali menghina ulama karena itu adalah tindakan tabu atau pamali. Bahkan tidak sedikit yang mengafir-sesatkan dan menerakakan para penghina ulama ini. Tidak sampai disitu saja, ada juga lo yang sampai mewek-mewek menangis di hadapan para cameraman tipi (tahu kan yang saya maksud siapa? Itu tuh “Si Ucup” he he) gara-gara, katanya, para ulama telah dihina.

Saya bayangkan jika semangat atau “spirit pembelaan terhadap para ulama” ini betul-betul dijalankan dengan fair, imbang, adil, dan konsisten tentu akan luar biasa dampaknya bagi perdamaian bangsa, toleransi Islam, dan persatuan umat beragama. Sayang seribu sayang, mereka hanya heroik, gagah perkasa, dan “membela mati-matian” kepada para ulama tertentu saja yang kebetulan “klop” dengan kepentingan, pemikiran, dan tindakan mereka.

Sementara para ulama lain yang memiliki kepentingan, pemikiran, dan tindakan berseberangan dengan mereka, sama sekali tidak mereka bela. Alih-alih membela para ulama ini, mereka bahkan melakukan “kampanye hitam” dimana-mana untuk mendiskreditkan para ulama ini. Mereka memang mengerahkan massa tapi untuk mendemo dan menggeruduk para ulama ini. Mereka bukannya bicara santun tapi malah menghina dan mengsumpah-serapahi para ulama ini. Mereka bukannya menangis tersedu-sedu, malahan tertawa terbahak-bahak kegirangan. Ceramah dan khutbah rutin dilakukan untuk menghujat para ulama ini. 

Masyarakat Indonesia, baik Muslim maupun bukan, masih ingat dengan terang-benderang betapa “mereka” (baik massa maupun elit-nya) dulu setiap detik menghina, melecehkan, dan mengsumpahserapahi KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dengan sebutan “orang buta” dan sebutan-sebutan tidak pantas lain. Almarhum Gus Dur adalah seorang ulama besar serta anak dan cucu para ulama besar di Tanah Air (KH Achmad Wahid Hasyim dan Syaikh Hasyim Asy’ari) yang sangat dalam keilmuwan dan wawasan keislamannya.

Mereka juga rajin menghina Habib Quraish Shihab, Kiai Said Aqiel Siradj, Kiai Mustafa Bisri (Gus Mus), Alm. Nurchlish Madjid (Cak Nur), Buya Syafii Maarif, dan para ulama besar lain di Indonesia. Bahkan Syaikh Ahmad Muhammad al-Tayep, Mufti dan Imam Besar Al-Azhar, Mesir, mereka lecehkan dimana-mana. Ini belum termasuk penghinaan yang mereka lakukan terhadap para ulama Syiah, Ahmadiyah, dan sekte-sekte Islam lain. Para ulama Syiah, Ahmadiyah dan lainnya menjadi bahan lecehan dan luapan kedengkian mereka. Ini juga belum termasuk penghinaan kaum “Salafi ekstrim” terhadap para ulama tasawuf dan tarekat yang mereka anggap sesat dan kapir.   

Jika kata “ulama” ini diperlebar makna dan cakupannya, maka lebih banyak lagi yang menjadi target atau sasaran pelecehan dan penghinaan oleh “kelompok tengil” ini.  [SQ]

Jabal Dhahran, Arabia

Babi, Ayam, dan Agama Semit (1)

1

Sudah lama saya tergelitik dengan status keharaman daging babi dalam Islam. Jangan salah, bukan hanya Islam yang mengharamkan mengonsumsi daging babi. Agama Yahudi sudah sejak lama mengharamkannya jauh sebelum Islam lahir di Arabia. Dalam hal “perbabian” ini, Islam saya kira “njiplak” doang dari agama Yahudi. Bukan hanya soal babi ini saja, banyak doktrin atau ajaran Islam yang diambil, diserap, atau dimodifikasi dari tradisi Yahudi seperti sunat, hijab, puasa, haji, pokoknya banyak deh.

Dalam Hukum Yahudi (halakha), semua makanan yang dikonsumsi manusia harus sehat dan halal (di Barat disebut kosher). Menurut “undang-undang makanan” agama Yahudi, hewan-hewan kotor dan menjijikkan seperti babi, shellfish, atau serangga, atau makanan campuran daging dan susu, misalnya, semua haram dikonsumsi.

Jadi, sebetulnya agama Yahudi jauh lebih ketat dalam hal “tata boga” karena itu jika kebetulan akhi/ukhti sedang jalan-jalan atau plesiran di negara-negara Barat, kalau Anda khawatir makan makanan haram di “warung sekuler”, maka jangan sungkan-sungkan makan saja di warung-warung milik Yahudi. Dijamin 100% halal tanpa harus mencantumkan label atau “papan halal” dari MUI.

Bagaimana dengan Kristen? Meskipun banyak atau bahkan mayoritas umat Kristen membolehkan mengonsumsi daging babi tetapi ada juga yang mengharamkannya seperti kaum Advent (Seventh-day Adventist Church atau Gereja Advent Hari Ketujuh). Gereja Ortodoks Etiopia juga mengharamkan mengonsumsi daging babi. Sebagian pengikut Gereja Koptik di Aleksandria, Mesir, juga mengharamkannya. Perlu diingat, meskipun Kristen “meng-ok-kan” daging babi, banyak umat Kristen yang tidak mau memakannya dengan alasan lain-lain.

Bukan hanya dalam rumpun agama Semit saja sebetulnya. Konon mengternak dan memakan daging babi juga ditabukan di peradaban kuno Suriah dan beberapa kawasan di Timur Tengah.

Pertanyaannya sekarang? Kenapa babi diharamkan? Apa sih sebetulnya alasan pelarangan babi? Kenapa Islam atau Al-Qur’an hanya secara eksplisit mengharamkan babi? Kenapa hewan-hewan lain yang perilaku dan pola-hidupnya agak mirip-mirip dengan babi (misalnya kuda nil, buaya, atau apa saja silakan cari contoh sendiri), tidak ditegaskan dalam Islam?

Sejumlah teks keagamaan (baik dalam Islam maupun Yahudi) yang sering kita dengar adalah bahwa pengharaman mengonsumsi daging babi itu karena daging babi mengandung banyak penyakit sehingga tidak sehat dan membahayakan. Pertanyaanya, kalau memang tidak sehat dan penuh penyakit, kenapa orang-orang Kristen yang memakan daging babi kok sehat-sehat dan segar-bugar? Kalau memang alasannya karena membahayakan tubuh atau bikin tubuh sakit, kan tinggal masakknya saja diperbaikin. Zaman modern sekarang sudah sangat canggih dalam mengolah makanan supaya sehat wal afiat.

Alasan lain yang muncul dalam teks-teks keislaman dan keyahudian adalah karena babi itu hewan kotor dan menjijikkan? Kalau soal hewan yang “kotor” dan “menjijikkan” kan banyak: kuda nil, buaya, ubur-ubur, monyet dlsb. Tapi kenapa babi yang disebut?

Lalu, alasan teologi-keagamaan lain, karena babi memiliki “telapak kaki dengan kuku terbelah”. Ah, yang ini sih lebih tidak masuk akal lagi sebagai dasar pengharaman.

Menurutku, alasan yang lebih “masuk akal” tentang larangan babi ini dalam konteks Arab dan Timur Tengah lebih pada persoalan ekologi-ekonomi. Dalam kajian arkeologis-kesejarahan, merosotnya perkembangan babi dari Timur Tengah itu (padahal dulu pernah menjadi trend) seiring dengan munculnya ayam sebagai hewan ternak yang efektif, efisien, bergizi, dan ramah lingkungan. Bagaimana penjelasan selanjutnya? Panteng terus di FB ini…[SQ]

Kent Vale, Singapore

Babi, Ayam, dan Agama Semit (2)

0

Kuliah virtual ini masih tentang “Pasal Perbabian”. Pengharaman atau pengtabuan babi (bukan “baby” atau “babe” lo ya?) yang termaktub di dalam sejumlah Kitab Suci, khususnya dalam tradisi Yahudi maupun Islam ini, jarang sekali dibahas secara akademik-ilmiah. Alasan yang paling umum dan sering didengar adalah bahwa dasar pengharaman babi itu karena perintah Tuhan (baik “Tuhan”-nya Muslim maupun “Tuhan”-nya Yahudi). Titik. Jadi, tidak perlu diotak-atik dan tanya macam-macam. Memang sudah dari sononya begitu bahwa “babi itu pamali.”

Seperti saya jelaskan sebelumnya, memang bukan hanya Al-Qur’an yang secara eksplisit mengtabukan babi. Jauh ribuan tahun sebelum Al-Qur’an hadir di Jazirah Arab, Kitab Taurat atau Torah atau Pentateuch-nya Yahudi sudah lebih dahulu mengharamkan si babi ini. Jadi sebetulnya, kaum Muslim ini meniru Yahudi.

Ada beberapa alasan atas pengharaman babi ini seperti disebut dalam sejumlah surat dalam Kitab Suci Yahudi (misalnya dalam Deuteronomy maupun Leviticus) yang sudah saya jelaskan dalam postingan sebelumnya, maupun yang termaktub dalam kitab-kitab klasik keislaman, khususnya tentang Hukum Islam (fiqh).

Yang jelas ada sejumlah teori tentang bahaya mengonsumsi daging babi bagi kesehatan tubuh yang kemudian dijadikan sebagai “legitimasi tambahan” mengenai status pengharaman mengosumsi daging babi. Salah satunya mengenai “teori cacing pita” (trichinosis), yakni bahwa binatang “mamalia omnivora” ini mengandung cacing pita yang sangat membahayakan bagi kesehatan manusia. Ada pula “teori kromosom” (chromosome), yakni bahwa mengonsumsi daging babi berpotensi bagi manusia akan meniru perilaku babi karena manusia dan babi memiliki kromosom yang, katanya, 11-12.

“Manusia modern” boleh saja berteori, tetapi ribuan tahun lalu ketika Bangsa Israel kuno atau disebut “Israel Alkitab” atau Israelite mengharamkan babi ini jelas tidak mengenal “teori cacing pita” maupun “teori kromosom” ataupun “teori DNA.” Kedua teori ini baru lahir belakangan seiring dengan penemuan “teknologi medis” yang kemudian oleh sejumlah kelompok agama tertentu dijadikan sebagai “data tambahan” untuk memperkuat argumen pengharaman babi.

Jika memang seperti disebutkan dalam teks-teks keagamaan bahwa daging babi itu kotor dan tidak higienis bagi kesehatan manusia, lalu kenapa si babi diharamkan? Bukankah seharusnya yang diharamkan itu cara memasak daging babi, bukan babinya? Bukankah logikanya, kalau cara memasaknya oke, mengonsumsi daging babi pun juga oke? Maka, seperti pernah disinggung oleh antropolog Marvin Harris, jika memang pengharaman babi itu merupakan “ordinasi atau peraturan kesehatan yang diinspirasi nilai-nilai ketuhanan”, maka ini kasus “malpraktek medis” tertua yang pernah dicatat dalam sejarah kemanusiaan.

Jika dikaji secara seksama, sebetulnya bukan hanya babi yang membahayakan, jika cara masaknya tidak benar. Semua “hewan domestik” (sapi, kambing, domba, dlsb) adalah berpotensi membahayakan kesehatan manusia jika cara memasaknya tidak benar. Daging sapi, misalnya, jika masaknya tidak beres, juga bisa memunculkan cacing (tapeworm) yang bisa memicu sejumlah penyakit. Sapi, kambing dan domba konon juga bisa menyebarkan “penyakit bakteri” yang dikenal dengan nama “brucellosis”.

Jelasnya, tidak ada hewan yang betul-betul higienis dan bebas-penyakit. Lalu, kenapa si babi yang menjadi korban dan “dibabihitamkan”? Ada apa dengan situasi-kondisi di Timur Tengah waktu itu sehingga sampai-sampai penduduk Israel, Arab Muslim, dan sejumlah “suku nomad” di padang pasir mengharamkan babi?

Padahal pada zaman duhulu kala di Timur Tengah (Mesopotamia maupun Mesir), masyarakat pernah mengternak babi. Para arkeolog menemukan bukti-bukti tentang ini khususnya masyarakat yang tinggal di kawasan pantai Tigris dan Eufrat. Masyarakat daerah Ur, sebuah negara-kota di Sumeria di zaman Mesopotamia kuno juga mengonsumsi daging babi. Sampai kira-kira zaman Raja Hammurabi (sekitar 1900 BC) di Kerajaan Babilonia, masyarakat Timur Tengah masih mengternak babi dan memakan dagingnya.

Lalu, sejak kapan babi ditabukan? Adakah faktor-faktor ekonomi-ekologi yang menyebabkan babi kemudian pelan-pelan tersingkir dari sebagian masyarakat di Timur Tengah? Lalu, bagaimana ceritanya Islam bisa, ujug-ujug, mengharamkan babi? Bagaimana pula kisah sekelompok Muslim Berber di Pegunungan Atlas di Maroko yang mentradisikan mengternak dan memakan babi? Entar aja deh lanjutannya, capek nih tangan ane nulis terus dari tadi sampai gempor. Yang sabar ya bos? [SQ]

Kent Vale, Singapore

Ayam Datang, Babi Hilang (5)

0

Ini lanjutan kuliah virtual tentang “Bab Perbabian” yang sempat tertunda. Untuk sementara lanjutan pembahasan “Bab Perkafiran” saya tunda dulu sebentar. Seperti pernah saya singgung sebelumnya (silakan review postinganku sebelumnya), ada sejumlah teori yang dikemukakan oleh sejumlah pakar (sejarawan, arkeolog, antropolog) tentang fenomena punahnya babi dari mayoritas kawasan Timur Tengah (meski tidak semuanya).

Salah satu teori yang belum sempat saya kemukakan adalah tentang hadirnya ayam sebagai bagian penting dalam “subsistence system” masyarakat Arab dan Timur Tengah. Teori ini dikemukakan oleh Richard Redding, misalnya dalam tulisannya, “The Pig and the Chicken in the Middle East”. Menurutnya, berdasarkan kajian antropologi sejarah dan didukung oleh sejumlah data arkeologis, “kehadiran” ayam menjadi faktor fundamental bagi lenyapnya hewan babi di Arab dan Timur Tengah pada umumnya.

Asal-usul ayam tentu saja bukan dari Timur Tengah tapi dari Asia Tenggara. Hewan khas Timur Tengah waktu itu adalah keledai, onta, domba, termasuk babi yang menjadi primadona masyarakat di kawasan ini. Kaum nomad dan pelayar / pelaut Asia Tenggara (termasuk “Indonesia” tentunya) yang memperkenalkan mahluk bernama ayam ke kawasan Arab/Timur Tengah ini melalui jalur dan jaringan perdagangan dan pelayaran Samudera Hindia.

Kehadiran ayam disambut dengan riang-gembira oleh masyarakat suku Timur Tengah di daerah pedesaan, sub-urban, dan Arab nomad (pastoral nomads atau nomadic pastoralists) yang hidupnya mobile, berpinda-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Ada sejumlah alasan kenapa mereka lebih jatuh hati pada ayam daripada babi.

Pertama, ayam dipandang sebagai sumber protein yang jauh lebih efisien dari sisi ekonomi daripada babi. Tidak seperti babi yang yang boros makanan dan minuman yang juga dibutuhkan oleh manusia, ayam, karena perutnya kecil, hanya perlu sedikit makanan.

Kedua, ayam menghasilkan “sumber sekunder protein”, yaitu telur. Ini tentu jauh lebih efisien. Ibaratnya: sambil menyelam minum air, sambil makan daging ayam, makan pula telurnya. Apalagi bulu ayam juga bisa dipakai untuk “korek kuping” he he.

Ketiga, ukuran ayam jauh lebih kecil ketimbang babi (kecuali “ayam kampus” lo ya yang mungkin ada yang bongsor he he) sehingga efektif dan efisien untuk dikonsumsi oleh keluarga dalam 24 jam kapan saja kalau lapar. Masaknya juga gampang, tidak perlu banyak alat. Kalau menyembelih babi repot karena dagingnya terlalu banyak dan belum ada kulkas untuk menyimpan. Kalau mereka menyembelih babi, sebagian daging harus ditukar dengan barang-barang lain (dalam antropologi istilahnya “reciprocal exchange”) supaya tidak mubazir.

Keempat, ayam gampang diangkut kemana-mana (biasanya ditaruh di belakang punggung keledai atau onta) sesuai dengan kultur masyarakat nomad, sedangkan babi terlalu gembrot dan gak bisa jalan jauh berpindah-pindah. Babi juga tidak bisa dipakai sebagai alat transportasi seperti onta atau keledai. Jadi, fungsi babi seperti ayam, yaitu sebagai sumber protein saja. Oleh karena itu daripada memelihara babi yang boros dan ngrepotin, ya diceraikan saja si babi, lalu pindah ke ayam yang lebih “langsing” dan oke. [SQ]

Sejumlah kajian antropologi juga menunjukkan suku-suku nomads di Arab dan Timur Tengah (seperti Beduin, Bahktiari, Luri, Qashqai, dlsb) memang memelihara ayam di tenda-tenda mereka. Mau percaya atau tidak dengan teori ini, terserah saja, emang gue pikirin? he he (bersambung)