Sumanto Al Qurtuby

Banjir bandang itu susah saya lupakan. Suatu hari di musim hujan pada pertengahan 1980-an, sungai di dekat kampungku, di sebuah lereng gunung di pelosok-pedalaman Batang, Jawa Tengah, terjadi banjir bandang yang mengerikan.

 Banjir itu telah menyebabkan hamparan sawah dan ladang di sekitar desaku ludes porak-poranda. Jembatan bambu yang melintasi sungai itu yang menghubungkan ke kampungku juga lenyap diterjang banjir.

Sepulang sekolah saya berdiri termangu di pinggir sungai itu. Sendirian. Badan bayah kuyup menggigil kedinginan karena hujan yang begitu deras. Petir pun bersautan tanpa henti menambah suasana menjadi menakutkan.

Buku-buku sekolah di tas lusuhku pun ikut-ikutan basah-kuyup. Saya memutar otak, bagaimana caranya menyeberangi sungai yang sedang banjir itu supaya bisa pulang ke kampung. Hanya itu satu-satunya jalan menuju kampungku. Waktu itu saya bertekad harus menyeberangi sungai itu karena kasihan dengan kambing-kambingku di rumah yang pasti kelaparan (seperti diriku) dan sedang menungguku.

Akhirnya, saya pun nekad melempar pakaian, tas, dan sepatu kumalku ke seberang sungai. Sesaat kemudian, saya berenang melawan banjir itu. Meskipun terseret-seret arus, saya bisa sampai ke tepi.

Sesampai di rumah, saya langsung menuju tempat perapian untuk menghangatkan badan dilanjutkan dengan makan ala kadarnya. Setelah selesai makan dan ganti pakaian, saya pun kembali melakukan aktivitas rutin sepulang sekolah: menggembala kambing-kambingku di hutan di pinggir kampungku yang permai itu….

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.