Di antara sekian ratus murid-murid Arabku semester Spring (2016) ini, ada beberapa yang cukup spesial seperti dalam foto ini. Yang satu dari suku Badui, satunya lagi dari suku al-Faifi (atau al-Fifa). Kedua suku ini sangat unik di Saudi. Nama “Badui” (English: Bedouin) berasal dari kata “badawi” dalam Bahasa Arab yang berarti “penduduk padang pasir”. Kata “badawi” sendiri berasal dari akar kata “badiyah” yang berarti “daratan padang pasir”. Sebutan “badui” sebetulnya dari orang lain. Mereka sendiri menyebutnya sebagai “Arab”.

Suku Badui masa kini yang pecah menjadi berbagai suku dan klan (‘asya’ir) merupakan keturunan para nomad yang tinggal dan hidup berpindah-pindah di daerah gurun Arabia dan Suriah. Kini mereka tinggal di berbagai wilayah gurun di Afrika Utara dan Timur Tengah. Dalam sejarahnya, mereka tinggal di tenda-tenda dan selalu pindah tempat tergantung musim dan cuaca. Ciri lain dari kelompok ini adalah penggembala onta dan kambing.

Masyarakat Badui dikenal sangat sederhana, ramah, pemurah, dan sangat menghormati tamu. Seperti ditunjukkan dalam berbagai studi antropologi seperti karya Lila Abu-Lughod, Veiled Sentiments: Honor and Poetry in A Bedouin Society, konon jika ada tamu atau orang asing datang atau mampir, orang-orang Badui akan minta para tamu untuk menginap di tenda-tenda mereka sambil menikmati hidangan ala kadarnya, khususnya “teh Arabia” yang aduhai rasanya. Bukan hanya itu, mereka juga akan memotong kambing atau domba untuk dihidangkan kepada sang tamu tadi, meskipun sebetulnya mereka sangat membutuhkan domba/kambing itu. Bagi mereka, yang penting tamu kenyang meskipun mereka lapar.

Meski cukup banyak dari komunitas Badui yang sudah mengalami “transformasi gaya hidup” dalam hal berpakaian (seperti muridku ini yang mengenakan pakaian formal khas Saudi) dengan tinggal di kota-kota, mereka masih memelihara dan mempraktekkan tradisi dan warisan kebudayaan Baduwi seperti berpuisi/berpantun, musik tradisional, “tarian pedang” dlsb. Mereka juga menggelar aneka “festival Badui” di berbagai daerah.

Selain Suku Badui, Suku Al-Fifi juga unik. Mereka hidup dan tinggal di pegunungan berbatu atau dataran tinggi yang sangat terjal dan sulit dijangkau di wilayah Jizan, Saudi. Karena medan darat yang sangat sulit untuk transportasi, akhirnya mereka mengembangkan “transportasi udara” yang antik (seperti dalam foto ini). Sangking tingginya daerah dimana suku ini tinggal, maka daerah ini sering disebut sebagai “tetangga bulan” atau “surga bumi”.

Suku Faifi ini memiliki kostum/busana, makanan, adat, tradisi dan kebudayaan sendiri. Mereka juga memiliki Bahasa Arab sendiri yang tidak bisa dipahami oleh masyarakat Arab lain. Hanya orang-orang yang bermental baja (seperti muridku ini) yang mau berkelana mencari ilmu dan berani berkompetisi dengan suku-suku lain. Melihat mereka berdua, saya seperti melihat diriku sendiri: orang gunung dan mantan penggembala kambing. [SQ]

Artikel sebelumyaUniversitas di Saudi dan Murid-Murid Arabku
Artikel berikutnyaStrategi Mengajar Mahasiswa Arab
Antropolog Budaya di King Fahd University, Direktur Nusantara Institute, Kontributor The Middle East Institute, Kolumnis Deutsche Welle, dan Senior Fellow di National University of Singapore.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.