Saya sering mendapat keluhan di inbox atau email tentang minimnya kelompok intelek-moderat Indonesia, khususnya Muslim, yang menyuarakan toleransi, pluralisme, moderatisme, perdamaian dan seterusnya, khususnya melalui “medsostual” (media sosial-virtual) dan dunia maya (dumay).

Sebetulnya mereka banyak. Banyak sekali. Saya tahu banyak kaum cerdik-pandai Muslim yang hebat, berwawasan luas, dan bersikap terbuka & moderat, baik yang tinggal di Indonesia maupun di Luar Negeri, baik yang masih sekolah maupun yang sudah bekerja di universitas dan lembaga-lembaga lain.

Hanya saja masalahnya tidak semua dari mereka bersedia meluangkan sedikit waktu untuk mengekspresikan pendapat & gagasannya di “medsostual” dengan berbagai alasan. Ada yang bilang mubazir kalau menulis di “medsostual”, ada yang bersikap masa bodoh dengan yang lain karena sudah hidup enak, ada yang malas menggerakkan jari-jemari, ada yang bilang sibuk “kagak ada waktu”, ada yang bilang percuma menulis di medsostual karena tidak menambah “kum” atau “kredit poin”, ada pula yang takut dicaci-maki, diteror, atau mungkin “dipentungi” kalau menulis ini-itu yang menabrak pandangan & keyakinan kelompok ekstrim, ada pula yang menertawakan “kelompok ekstrim” tadi tapi tidak menyuarakan apa-apa, dan lain sebagainya.

Giliran memposting “sesuatu”, yang diposting foto-foto dengan orang-orang terkenal, foto-foto di tempat-tempat historik-ikonik, foto-foto di tempat-tempat mewah, foto-foto di acara-acara besar dan lain sebagainya. Tentu saja tidak ada yang salah dengan semua ini. Ibarat rumah, akun FB adalah “rumah maya” yang terserah mau diisi apa oleh penghuninya. Emang lu siape cing ngurusin rumah gue?

Sementara kaum intelek-moderat aras-arasen angkat bicara, “kelompok sebelah” gencar sekali menyuarakan ini-itu tanpa data dan etika sehingga seolah-olah merekalah penguasa dan pemilik “medostual” dan “dumay” ini.

 Saya berpendapat, di dalam “desa global” dan di tengah dunia yang sudah dikepung oleh Internet ini, maka “medsostual” dan “dumay” adalah bagian dari medium yang efektif untuk menyuarakan dan menyebarkan ide-ide yang bermanfaat untuk publik demi menjaga keutuhan umat dan perdamaian antar-manusia.

Kadang-kadang, radikalisme berkembang-biak bukan karena banyaknya kaum radikal tetapi lantaran kaum moderat pada “ngumpet” di balik “lubang-lubang kenikmatan”….

Artikulli paraprakHijab Menurut Orang Saudi
Artikulli tjetërIndonesia, “Pasar Rongsokan” Timur Tengah
Antropolog Budaya di King Fahd University, Direktur Nusantara Institute, Kontributor The Middle East Institute, Kolumnis Deutsche Welle, dan Senior Fellow di National University of Singapore.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini