Beranda blog Halaman 21

Umat Kristen Juga Gagal Paham Soal Timur Tengah

0

Saya amati bukan hanya kaum Muslim saja yang mengalami “gagal paham” tentang dunia Arab & Timur Tengah. Umat Kristen juga sama. Anggapan bahwa kaum Kristen sebagai kelompok paling tertindas di kawasan Arab saya kira kurang tepat. Yang banyak menjadi korban kekerasan justru kelompok-kelompo Islam itu sendiri. Hanya karena berbeda suku, klan, etnis, mazhab, ideologi, sistem pemerintahan, pandangan keagamaan, atau kepentingan ekonomi-politik, berbagai kelompok Islam ini saling bunuh & saling serang satu sama lain shg menelan korban jiwa & harta tak terhingga. Itulah yg terjadi di Suriah, Irak, Yaman, Mesir, Sudan, dan lain sebagainya.

Karena “konflik internal” ini, mereka tidak segan-segan menggalang koalisi dengan–dan memborong alat-alat perang dari—rezim-rezim non-Muslim yg mereka kafirkan itu (AS, Russia, China, Israel, dan lain sebagainya) demi menghancurkan rival-rival mereka.

Hal lain, dunia Arab bukan melulu “milik Muslim”. Menurut data Liga Arab, ada sekitar 20-an juta umat Kristen di kawasan ini. Di sejumlah negara mereka bahkan ikut berkolaborasi dengan Muslim untuk melawan “musuh bersama” mereka.

Sudah bukan rahasia lagi jika kaum Kristen Maronite di Lebanon berjuang bersama-sama umat Islam untuk melawan Israel. Demikian juga di Palestina, umat Kristen berkerja sama dengan kaum Muslim untuk membendung agresi Israel.

Tokoh-tokoh Kristen Palestina terkemuka seperti Abuna Elias Chacour (saya pernah berjumpa dengan tokoh kharismatik ini), Mitri Raheb, Uskup Agung Atallah Hanna dan lain sebagainya telah bertahun-tahun berjuang bersama umat Islam setempat.

Tokoh-tokoh Kristen ini sering bilang: “Jika masjid-masjid kalian dibom tentara Israel, maka sembahyanglah di gereja-gereja kami”. Karena bahasa mereka juga bahasa Arab, maka mereka pun memekikkan “Allahu akbar” ketika berjuang menghadapi tentara Israel.

Konflik di Timteng bukan hanya soal “agama” tetapi juga soal tanah, perbatasan, identitas kesukuan, klaim sejarah, dan lain sebagainya.

Melihat sejumlah fakta ini maka terasa sangat lucu jika sejumlah kelompok Islam di Indonesia berdemo heroik mendukung Palestina tapi pada saat yang sama mengecam umat Kristen. Hal ini sama lucunya dengan sejumlah kelompok Kristen yang membela Israel padahal umat Kristen di Lebanon maupun Palestina justru bersatu melawan Israel.

Seharusnya atau idealnya umat Kristen dan Muslim di Indonesia bersatu tapi bukan untuk membela Israel atau Palestina melainkan untuk membela umat manusia yang ditindas oleh–dan menjadi korban dari–keangkaramurkaan rezim-rezim serakah–apapun agama mereka, apapun suku-bangsa mereka.

Umat Beragama itu Harus Cerdas Berfikir dan Dewasa Bertindak

0

Renungan akhir pekan: Kenapa sebagian orang dan kelompok tertentu di Indonesia tidak suka dengan aneka ragam perbedaan dan gampang marah melihat kemajemukan. Lihat saja: beda etnis konflik, beda agama berantem, beda sekte agama ngamuk, beda tempat ibadah jengkel, beda organisasi ribut, beda mazhab emosi, beda pendapat ngambek, beda pakaian ngomel, beda kelamin tegang he he. Inikah yang disebut “masyarakat puber”? Masalah “pubertas” bukan hanya persoalan remaja tetapi juga orang dewasa. Lihat saja, banyak orang-orang jenggoten yang ngamukan, kan? he he

Bukankah keragaman jauh lebih indah ketimbang keseragaman? Kebayang gak apa jadinya jika misalnya di dunia ini semua orang itu sama: etnisnya, bahasanya, jenis kelaminnya, rupanya, bentuknya dan seterusnya.

 Kebayang juga gak apa jadinya kalau semua hewan dan tumbuh-tumbuhan itu sejenis dan serupa? Coba banyangkan jika semua orang di bumi ini berpakaian sama (berjubah semua, bersarung semua, berjas semua, berjilbab semua, berniqab semua, berkorpri semua ha ha dan lain sebagainya). Membosankan kan?

Ini bumi, bukan mars. Kita ini manusia bukan malaikat atau aliens. Meskipun kalian “semangat 45” untuk menyeragamkan orang, keseragaman itu tidak akan pernah terjadi di dunia ini. Sampai bumi ini runtuh berkeping-keping pun, kemajemukan itu tidak akan sirna karena memang itulah “fitrah” dari alam jagat raya ini. Karena itu kemajemukan harus disyukuri bukan malah diratapi.

Perbedaan harus disikapi dengan kedewasaan bukan kekanak-kanakan. Karena itu saya sering mengatakan orang itu, apalagi umat beragama, harus “cerdas” dan “dewasa”: cerdas berfikir, dewasa bertindak. Jangan grusa-grusu. Malu kan sudah jenggoten kok ngamukan?

Sejarah Hijab Bermula dari Masyarakat Non-Semit (2)

0

Sudah saya jelaskan bahwa tradisi pemakaian hijab bukanlah bermula dari Islam. Pula, bukan dimulai dari “saudara tua” islam, yakni “kakak kesatu” Yahudi maupun “kakak kedua” Kristen. Praktek berhijab ini sudah ada dalam kebudayaan manusia jauh sebelum “agama-agama Semit” ini lahir di dunia.

Sejarah mencatat setidaknya sejak tahun 2,500 SM sudah ditemukan tradisi hijab ini, misalnya saja dalam kebudayaan Mesopotamia kuno atau Assyria dimana sang rezim sudah membuat peraturan atau undang-undang tata-cara berbusana bagi perempuan.

Disitu jelas disebutkan bahwa hijab adalah sebagai mekanisme pembeda antara “perempuan elit” dengan “perempuan rendahan”, antara “perempuan terhormat” dengan “perempuan kurang terhormat”.

Para budak perempuan, pekerja rendahan, dan perempuan tak berkasta dilarang memakai hijab. Bahkan dikenai hukuman berat jika ketahuan memakainya. Hanya perempuan dari “kelas elit” yang boleh mengenakan hijab.

Tradisi Mesopotamia (kini Irak) ini kemudian diteruskan oleh berbagai imperium kuno: Mesir, Yunani, Persia, Byzantium, Romawi yang sama-sama memandang pemakaian hijab itu sebagai “simbol kehormatan”, “prestise”, dan “high status”. Agama-agama Semit (Yahudi, Kristen, dan Islam) di Timur Tengah lahir dalam pengaruh peradaban-peradaban besar ini, dan oleh karena itu tidak mengherankan jika ketiga agama “warisan” Ibrahim atau Abraham ini mengadopsi tradisi hijab.

Berhijab bagi perempuan (seperti disebutkan dalam kitab-kitab suci mereka) adalah lambang kesederhanaan dan kepantasan. Karena itu tidak heran jika kelompok perempuan Yahudi dan Kristen awal (sebagian berlanjut sampai sekarang) mengenakan hijab. Bahkan tidak hanya berhijab, perempuan Yahudi awal juga memakai niqab.

Sejarah juga menunjukkan, tradisi perempuan Arab tidak berhijab apalagi berniqab & berburqa. Emperium Byzantium-lah yang memperkenalkan tradisi hijab ini ke kawasan Arab.

Pada waktu Islam lahir, dunia Arab dan Timur Tengah memang dikepung oleh emperium ini, sehingga masyarakat Kristen dan Yahudi mendominasi kawasan ini. Jadi, sangat “unyu” jika mendapatkan masyarakat Yahudi dan Kristen kontemporer yang anti-hijab sama “unyunya” dengan sejumlah kaum Muslim yang mengklaim hijab sebagai “properti Islam” saja.

Tradisi Hijab Bermula dari Masyarakat Non-Semit (1)

1

Jadi jelas bahwa berdasarkan kajian kesejarahan, “tradisi hijab” bukanlah monopoli umat Islam. Bukan pula monopoli agama-agama Semit lain seperti Kristen dan Yahudi–yang merupakan “saudara tua” Islam. Tradisi berhijab ini sudah dipraktekkan oleh masyarakat–baik “masyarakat agama” maupun “masyarakat non-agama atau sekuler”–jauh sebelum munculnya agama-agama Ibrahim / Abraham ini.

Menariknya, masyarakat Arab pada mulanya tidak mengenal tradisi hijab ini. Kebudayaan Byzantium dan Persi-lah yang memperkenalkan “budaya hijab” ini ke masyarakat Arab.

Mungkin karena dianggap sebagai “tradisi baik”, sejumlah agama kemudian mengadopsi “tradisi hijab” ini menjadi bagian dari norma keagamaan. Memang jika kita mengkaji secara mendalam dengan perangkat keilmuan (bukan dengan keimanan) kita akan mendapatkan sejumlah tradisi atau kebudayaan masyarakat yang kemudian menjadi ajaran-ajaran normatif agama.

Dengan kata lain, ada budaya yang dinormakan atau “diagamakan.” Ada pula agama atau norma yang dibudayakan. Hijab adalah salah satu contoh dari budaya yang “dinormakan/diagamakan” tadi.

Dalam Islam sendiri tidak ada kesepakatan tunggal di kalangan ulama (sarjana Islam) dan fuqaha (ahli hukum Islam) tentang kewajiban berhijab buat perempuan Muslimah ini. Ada yang mengharuskan, ada yang membolehkan, ada pula yang tidak mewajibkan.

Ada yang bilang bahwa ayat tentang penggunaan hijab atau tirai itu hanya ditujukan untuk para istri Nabi Muhammad saja. Kata “hijab” sendiri dalam Bahasa Arab memang berarti “tirai” atau “pembatas” bukan merujuk pada jenis, bentuk, atau desain pakaian tertentu seperti yang kita lihat dewasa ini.

 Meskipun ada yang berpendapat bahwa perintah mengenakan hijab bagi perempuan itu diambil dari sejumlah ayat dalam Al-Qur’an, banyak juga yang berargumen bahwa pakaian hijab itu diderivasi dari Hadis Nabi dan pendapat para ulama & fuqaha.

Meskipun begitu yang jelas berhijab itu dimaksudkan untuk menutup aurat, dan penutupan aurat itu bisa dilakukan dengan jenis pakaian apa saja tidak melulu “jilbab”. Bisa dengan jeans, baju, kemben, dan seterusnya.

Asal menutup aurat, semua itu bisa disebut “busana Muslimah”. Mungkin lantaran tidak adanya “juklak dan juknis” yang jelas mengenai hijab ini, maka berbagai masyatakat Islam mengembangkan dan mempraktekkan kebudayan berhijab dan berpakaian masing-masing: abaya & niqab di Saudi, burqa di Afganistan, paranja atau paranji di Asia Tengah, chador di Iran, Yasmak di Turki, purdah di Asia Selatan, tudong di Malaysia, kerudung di Jawa dan seterusnya.

Teroris, Pelaku Kekerasan Anti-Syiah di Saudi

0

Melanjutkan postingan saya sebelumnya tentang konflik Sunni-Syiah di Arab/Timur Tengah kontemporer. Jika kita perhatikan dg seksama, tidak ada “kekerasan komunal” Sunni-Syiah di kawasan ini. Pelaku kekerasan biasanya dilakukan oleh “kelompok profesional” seperti penembak jitu & “teroris”, bukan oleh massa.

Tidak pernah ada “gerombolan massa” apalagi sambil membawa pentungan & aneka senjata tajam untuk mengepung warga Syiah serta merusak properti mereka seperti halnya terjadi di Indonesia.

Di Saudi dan negara-negara Arab Teluk pada umumnya, jika ada kelompok massa yang menggeruduk warga Syiah atau sebaliknya, pasti sudah ditangkap, dipenjara, atau dieksekusi oleh aparat pemerintah karena dianggap mengganggu stabilitas sosial, politik, dan ekonomi negara.

Aparat keamamanan Saudi juga sudah menangkap & mengeksekusi para pelaku penembakan warga Syiah di Ahsa & pelaku pengeboman sejumlah masjid Syiah di Qatif  dan lain-lain yang dilakukan oleh sindikat ISIS. Warga Syiah yang saya temui juga memaklumi, pelaku kekerasan ini hanyalah “sejumput” kelompok ekstrim.

Sejak era Raja Fahad 1980-an dan puncaknya di era Raja Abdullah  yang dikenal sangat moderat & toleran, sudah banyak sekali upaya perbaikan menyangkut hajat hidup warga Syiah di sektor sosial, keagamaan, ekonomi, pendidikan, dan lain sebagainya.

Mendiang Raja Abdullah  banyak melakukan upaya “pasifikasi” atau “deradikalisasi” sejumlah kelompok “Wahabi ekstrim”  yang antipati terhadap Syiah. Banyak warga Syiah yang bekerja di berbagai sektor industri, jasa, dan kampus-kampus.

Di kampusku juga banyak warga Syiah (baik sebagai murid maupun pengajar, sebagian bahkan memimpin sejumlah departemen) seperti pernah saya tulis di Gatra. Putra Mahkota Muhammad Bin Nayef  yang merangkap Menteri Dalam Negeri & penaggung jawab sektor “keamanan nasional” saat ini juga telah melakukan berbagai terobosan penting seperti melarang khotbah-khotbah provokatif anti-Syiah dan mengganti para “khotib provokator”.

Lalu, dari mana asal-usul gerombolan “Islam pentungan” di Indonesia itu? Dari mana pula “ideologi Islam ngamukan” itu diperoleh? Saya berani jamin, jika kelompok “Islam pentungan” ini ngamuk dan menggeruduk warga Syiah di Saudi, mereka sudah ditangkap, di sel, dan “digunduli” satu per satu…

Tidak Ada Konflik Komunal Sunni-Syiah di Saudi

0

Saya ingin menegaskan sekali lagi bahwa dalam konteks Saudi tidak ada kekerasan Sunni-Syiah. Para tokoh masyarakat, ulama, dan warga Syiah yang saya temui di Qatif, Ahsa, Najran dan lain sebagainya menyatakan tidak ada masalah sedikitpun dengan Sunni. Demikian pula kaum Sunni, biasa-biasa saja dengan Syiah. Warga Syiah itu disini hanya bermasalah dengan kelompok minoritas “Wahabi/Salafi ekstrim” saja. Ingat hanya dengan “Wahabi/Salafi ekstrim” saja karena tidak semua kelompok Wahabi juga berseteru dengan Syiah.

Juga perlu diingat, bukan hanya Syiah yang dikafir-sesatkan oleh kelompok “Wahabi/Salafi ekstrim” ini tapi juga warga Sunni. Bahkan kelompok “Wahabi moderat” juga dituduh “kurang Wahabi”.

Sejumlah ulama Syiah ternama yang saya temui seperti Syeikh Humaidan, Sayyid Hashim, Syeikh Ibrahim dan lain sebagainya menegaskan tentang hubungan baik mereka dengan  warga Sunni.

Mereka bahkan menuturkan dalam berbagai pengajian, banyak warga Sunni yang datang. Setiap ada even-even sosial-kemasyarakatan, warga Sunni-Syiah juga saling membantu. Saya juga “blusukan” ke pasar-pasar tradisional dan menjumpai banyak warga Sunni-Syiah membaur baik sebagai penjual maupun pembeli. Meski mengaku sebagai pengikut Sunni atau Syiah, mereka lebih suka disebut “Muslim” saja.

Para ulama tadi juga menyimpan berpuluh-puluh kitab milik ulama Sunni dari berbagai mazhab fiqih  yang mereka gunakan sebagai referensi dalam ceramah & tulisan. Kalaupun ada konflik Sunni-Syiah di sejumlah “negara-negara Arab” lebih pada persoalan politik bukan problem keagamaan. Itupun “politik elit” bukan “politik massa”. Para elitnya pun, tidak memiliki pandangan seragam dlm hal ini.

Jadi asumsi dan pandangan bahwa telah terjadi “perseteruan” Sunni-Syiah tanpa terkecuali adalah keliru besar. Pandangan ini mengabaikan kompleksitas & pluralitas komunitas agama (Sunni, Syiah, Wahabi-Salafi, dan lain sebagainya) itu sendiri.

Lebih keliru lagi jika ada yg mengatakan bahwa di Saudi, Sunni & Syiah saling bermusuhan. Propaganda murahan seperti ini adalah sebuah “kebohongan publik” dan “pembodohan masyarakat” yang perlu diwaspadai motif & tujuan-tujuan para penyebar kebencian & permusuhan ini…

Teks Itu Elastis Sehingga Berpotensi untuk “Dimanipulasi”

0

Alkisah di sebuah pondok pesantren, seorang santri heran karena beberapa ayam peliharaannya hilang. Maka dimulailah penyelidikan untuk mencari tahu “biang kerok” hilangnya ayam-ayam tadi. Suatu saat si santri memergoki kiai pesantren sedang memotong ayamnya. Terjadilah dialog menarik antara santri dan kiai berikut ini:

Santri: “Maaf kiai, ayam yang dipotong itu ayam milikku.”
Kiai: “Kamu salah, apa yang ada di kolong langit dan bumi ini semua milik Allah, bukan milik manusia. Ingatlah ayat Al-Qur’an: “Wa lillahi ma fi samawati wa al-arld”.

Si santri pun tertegun, manggut-manggu, nyengir, dan ngeloyor pergi setelah mencium tangan kiai. Terinspirasi oleh “wejangan” sang kiai, ia pun berencana (dan dipraktekkan) mencuri kambing peliharaan kiai tadi.

Betapa kagetnya kiai melihat salah satu kambingnya hilang dan lebih kaget lagi ternyata santri tadi yang mencuri dan menyembelihnya. Dalam benak ia berpikir, “Ini santri kok kurang ngajar sekali berani mencuri kambing kiainya.” Ia pun kemudian memanggil si santri dan mengintrogasinya.

Kiai: “Kamu kok berani2nya mencuri dan memotong kambingku?”
Santri: “Maaf kiai, saya melakukan ini karena menuruti nasehat dan wejangan kiai. Bukankah kiai sendiri yang bilang, berdasarkan ayat Al-Qur’an, kalau semua yang ada di bumi ini adalah milik Allah”.

Tidak mau kalah, kiai pun kembali memberi nasehat: “Ayat itu hanya berlaku untuk ayam saja, bukan untuk kambing…”

Ini guyon tidak usah mayah dan tersinggung ya? Ayat atau teks apa saja dalam Al-Qur’an, Injil, Taurat, Tripitaka, Veda, Hadis, dan kitab apa saja memang tidak punya tulang karena itu bisa dibelak-belokkan sesuai dengan “kepentingan” dan “selera” penafsirnya: ulama, ustad, pendeta, pastor, rabbi, biksu atau biku, pandita atau siapa saja.

 Ayatnya mungkin benar, kita yang memahaminya yang mungkin keliru…

Semua Pakaian itu Sekuler, Tidak Ada Yang Religius (1)

0

Semua jenis pakaian–tanpa kecuali–itu sekuler karena produk kebudayaan manusia. Manusialah yang membuatnya “religius”. Manusialah yang membuat pakaian itu “beragama”. Pakaian yang dikenakan kaum perempuan dari agama manapun juga sama: sekuler. Emang Tuhan yang membuat pakaian? Dalam Islam, tradisi berpakaian untuk perempuan, entah itu bernama hijab, niqab, burqa, chador (di Iran), khimar, faranji (di Asia Tengah), dlsb adalah “kebudayaan sekuler”.

Tradisi berbusana menutup aurat bagi perempuan atau katakanlah “tradisi berhijab” sudah dipraktekkan jauh sebelum Islam lahir pada abad ke-7 M. Sejarah berhijab itu misalnya sudah ditemukan pada abad ke-13 SM di sebuah teks hukum di Assyria. Memakai hijab pada waktu itu terbatas untuk perempuan elit (“bangsawati”) sekaligus untuk membedakan dengan “perempuan biasa”.

Kebudayaan Yunani kuno juga mempraktekkan tradisi hijab ini. Lihat saja dengan cermat, patung-patung perempuan di zaman peradaban Helenisme Yunani juga kadang-kadang mengenakan penutup kepala dan bahkan wajah.

Caroline Galt dan Lloyd Llewellyn-Jones, begitu pula Homer, sastrawan kuno kondang dari Yunani, penulis Odyssey, juga mengonfirmasi tentang penggunaan hijab ini di zaman Yunani kuno. Bedanya dengan “Assyria kuno” adalah di Yunani kuno, praktek berhijab bukan hanya untuk “kelas elit” tapi juga untuk perempuan biasa.

Tradisi berhijab ini juga dipraktekkan dalam agama Yahudi dan Kristen. Simak saja ada sejumlah ayat dalam kitab suci Yahudi (Talmud) maupun kitab suci agama Kristen (baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, misalnya saja di Surat Kejadian, Keluaran, Korinthus, dan lain-lain) yang mengisahkan tentang hijab ini.

Itulah sebabnya mengapa sejumlah kelompok Yahudi Ortodoks (seperti kelompok Yahudi Heradi) dan Kristen ortodoks kontemporer (Katolik, Amish, Old Order Mennonites, Gereja Kristen OrtodoksTimur, dlll) masih mengenakan hijab ini. Foto di bawah ini hanyalah sekedar contoh saja dari sejumlah kelompok suster Katolik dan Kristen Amish yang mengenakan hijab.

Dalam sejarahnya, penggunaan hijab ini, baik dalam Yahudi maupun Kristen, adalah simbol kesederhanan dan kepantasan. Perintah penggunaan penutup kepala bagi perempuan itu seperti larangan mengenakan topi bagi laki-laki saat berada di dalam gereja (begitulah pesan Santo Paulus).

Karena itu jika ada umat Kristen dan Yahudi kontemporer yang menolak hijab sebetulnya mereka telah mengingkari dan menolak asal-usul dan warisan sejarah dan tradisi agamanya sendiri. Begitu pula, klaim umat Islam yang mengaggap hijab adalah tradisi dan “properti” mereka saja adalah keliru besar…

Seperti saya tegaskan sebelumnya, semua jenis pakaian–tanpa kecuali–itu sekuler karena produk kebudayaan manusia. Manusialah yang membuatnya “religious”. Manusialah yang membuat pakaian itu “beragama”. Pakaian yang dikenakan kaum perempuan dari agama manapun juga sama: sekuler.

Emang Tuhan yang membuat pakaian? Dalam Islam, tradisi berpakaian untuk perempuan, entah itu bernama hijab, niqab, burqa, chador (di Iran), khimar, faranji (di Asia Tengah), dan lain sebagainya adalah “kebudayaan sekuler”. Tradisi berbusana menutup aurat bagi perempuan atau katakanlah “tradisi berhijab” sudah dipraktekkan jauh sebelum Islam lahir pada abad ke-7 M. Sejarah berhijab itu misalnya sudah ditemukan pada abad ke-13 SM di sebuah teks hukum di Suriah. Memakai hijab pada waktu itu terbatas untuk perempuan elit (“bangsawati”) sekaligus untuk membedakan

Politik di Timur Tengah, Agama di Indonesia

0

Saya heran kenapa setiap konflik dan kekerasan politik di Timur Tengah sering kali disikapi dari perspektif agama di Indonesia. Ini sangat ironis sekaligus lucu. Ambil contoh sederhana tentang kekerasan Palestina-Israel, di Indonesia menjadi kekerasan Muslim-Yahudi. Lebih konyol lagi yang mengaggap Muslim melawan Yahudi dan Kristen.

Padahal, kekerasan itu terjadi antara faksi ektrimis-politik baik di Palestina maupun Israel. Bukanhanya Muslim, kaum Kristen Palestina juga banyak menjadi korban. Bukan cuma tentara Yahudi, tentara Israel yang Arab Muslim juga banyak menjadi aktor kekerasan terhadap Palestina.

Kemudian soal kekerasan Sunni-Syiah juga sering dimanipulasi di Indonesia oleh sejumlah kelompok Islam. Seolah-olah Sunni-Syiah di Timur Tengah selalu berseteru, dan kalau konflik karena faktor keagamaan. Pandangan ini keliru besar.

Pertama, banyak sekali contoh relasi Sunni-Syiah yang damai-sejahtera tanpa mempersoalkan perbedaan pandangan keagamaan. Lihatlah Oman, Kuwait, Uni Emirat Arab, Qatar, Yordania hampir-hampir tidak pernah ada kekerasan Sunni-Syiah. Di Lebanon, Sunni-Syiah malah koalisi dalam berbagai urusan yaang menyangkut kehidupan publik. Di kampusku juga banyak sekali warga Syiah, baik sebagai mahasiswa, dosen, atau staf. Mereka campur-baur dengan Arab Sunni. Di akar rumput dan area publik juga begitu.

Kedua, kalaupun ada kekerasan Sunni-Syiah hampir-hampir dipastikan karena motivasi politik seperti di Bahrain atau Yaman. Itupun tidak semua faksi dan sub-grup dalam Syiah maupun Sunni ikut terlibat konflik dan kekerasan. Di Iraq lebih kompleks lagi karena melibatkan berbagai kelompok bukan melulu Sunni dan Syiah tetapi juga etnik Kurdi atau Yazidi. Di Saudi ada sekitar 10-15% penduduk Syiah yang mayoritas menempati Povinsi Al Syarqiyah (Ahsa, Qatif, Dammam, dan lain sebagainya).

Tetapi kekerasan anti-Syiah disini biasanya dilakukan oleh segelintir kelompok teroris-ekstrimis yang di Saudi sendiri dikecam dan dihabisi, bukan dilakukan oleh “gerombolan massa” seperti di Indonesia.

Sudah ratusan kelompok radikal yang ditangkap, disel, dan dipancung oleh “Densus 88” Saudi di bawah komando Putra Mahkota Muhammad Bin Nayef. Beliau juga menyerukan untuk membersihkan masjid-masjid di seantero Saudi dari para imam dan khotib provokator yang menebar kebencian terhadap Syiah.

Ingat, jangan beranggapan bahwa semua warga Saudi itu setuju dan mendukung dengan gagasan dan tindakan kelompok ektrimis ini. Saya berani jamin, jika di Saudi, kelompok massa “Islam pentungan” yang hobi main keroyokan itu pasti akan dihabisi dan dibuang ke padang pasir karena dianggap menganggu keamanan nasional.

Karena itu, umat Islam di Indonesia jangan mau dikibuli oleh para tokoh agama dan politik yang hobi memecah-belah umat dan suku-bangsa…

#QUOTE 13

0
Quote Sumantoalqurtuby

#QUOTE 12

0
SUMANTO AL QURTUBY

#QUOTE 11

0
SUMANTO AL QURTUBY

#QUOTE 10

0
SUMANTO AL QURTUBY

#QUOTE 9

0

#QUOTE 8

0
SUMANTO AL QURTUBY