Beranda blog Halaman 20

Repotnya Jika Beragama dengan Hidung

0

Salah satu faktor atau problem mendasar dari sejumlah kelompok Islam “unyu-unyu” yang hobi mengkafir-sesatkan, suka ngamukan, dan gemar “mayah-mayah” (baca, marah-marah) kepada orang dan kelompok lain itu karena mereka memahami agama dengan hidung bukan dengan otak dan akal-pikiran.

Lo kok bisa? Kalau gak percaya, lihat saja dan perhatikan dengan seksama: setiap yang berbau kritis mereka anggap liberal, setiap yang berbau liberal mereka anggap sesat, setiap yang berbau lokal mereka anggap bid’ah, setiap yang berbau “non-Islam” mereka anggap syirik, setiap yang berbau demokratis mereka anggap Amerika, setiap yang berbau toleran mereka anggap Barat, setiap yang berbau Iran mereka anggap Syiah, setiap yang berbau Israel mereka anggap Yahudi, setiap yang berbau Amerika mereka anggap Kristen, setiap yang berbau Marxisme mereka anggap komunis, setiap yang berbau komunis mereka anggap ateis, dan seterusnya. Betulkan mereka beragama dengan hidung? he he

Kata mentor dan guru intelektual-spiritualku, Gus Dur, “agama kok dibauin” ya gak bakalan nyambung. Melihat kompleksitas agama dan budaya itu harus dengan “otak waras” dan akal-pikiran yang jernih, bukan dengan “hidung”. Emang semur jengkol dibauin?

Jika umat beragama menggunakan akal-pikiran yang sehat dalam memahami realitas pluralitas kemanusiaan, kemajemukan kebudayaan, serta keragaman dan kompleksitas sejarah dan wacana keagamaan, maka mereka tidak akan gampang menuduh ini-itu, mengucap ini-itu, mengkafirkan sana-sini, menyesatkan sana-sini, me-Neraka-kan orang ini dan itu, dan seterusnya.

Bumi ini diciptakan oleh Tuhan untuk semua umat manusia dan mahluk hidup tanpa kecuali, bukan umat Islam saja. Jadi jangan ke-ge-er-an merasa jika Tuhan hanya “mengasihi umat Islam” saja dan planet bumi ini hanya untuk kaum Muslim saja sementara yang lain ngontrak.

Begitu pula, Negara Indonesia ini ada karena telah diperjuangkan dengan susah-payah oleh para leluhur dan putra-putra bangsa dari berbagai suku dan agama karena itu jangan mentang-mentang mayoritas, terus umat Islam bisa berbuat seenaknya dengan kelompok agama lain. Tuhan telah menciptakan dunia ini, termasuk bumi Indonesia, dengan keragaman, tugas manusialah sebagai “khalifah di muka bumi” ini untuk merawat dan menjaga keragaman itu.

Hiper Fanatisme Dalam Beragama

0

Beragama itu seharusnya atau idealnya membuat pemeluknya menjadi lebih melek, cerdas dan toleran, bukan malah tambah picik, bebal dan intoleran. Tetapi, sejumlah pemeluk dan kelompok agama—lantaran memiliki semangat fanatisme yang berlebihan (“hiper-fanatisme”)—terkadang berpikiran dan bertindak layaknya orang-orang dungu dan bebal. Hiper-fanatisme memang 11-12 dengan kebebalan.

Klaim-klaim sejumlah kaum zealot dan fanatik seperti tanah Betawi, Minang, Aceh, Melayu atau Arab sebagai “Tanah Islam” dan dengan begitu orang Betawi, Minang, Aceh, Melayu atau Arab yang bukan Muslim dianggap “menyalahi kodrat Tuhan” dan karenanya, harus “minggat” (diusir) dari daerah-daerah ini hanyalah sekelumit contoh dari kebebalan dan intoleransi itu.

Hal ini sama persis dengan klaim-klaim sejumlah kelompok Kristen fanatik dan “Islamophobis” di Barat, Amerika khususnya, yang menganggap Barat adalah “Tanah Kristen” dan karena itu kaum Muslim harus enyah dari Barat.

Apakah kalian lupa bahwa Betawi, Minang, Melayu, Aceh, Arab atau Barat sudah ada sebelum lahirnya Islam atau Kristen? Bukankah Islam, Kristen atau agama apapun pada hakekatnya adalah “para tamu” di negeri-negeri ini yang seharusnya “menghormati” tuan rumah?

Tugas utama kaum Muslim (atau umat agama manapun) bukanlah untuk mengislamkan atau mengagamakan orang lain. Tugas umat beragama bukanlah untuk menghimpun pengikut sebanyak-banyaknya.

Bukan pula untuk membangun tempat ibadah sebanyak-banyaknya. Saya yakin dan percaya, Tuhan tidak membutuhkan pengikut dan tempat ibadah. Saya juga percaya bukan tempat-tempat ibadah yang megah atau pengikut agama yang membeludak yang membuat Tuhan “bahagia”.

Tugas utama agama, tidak lain dan tidak bukan adalah untuk berpartisipasi dan berkontribusi memperbaiki moralitas manusia yang jahat, korup dan serakah, merestorasi jalan pikiran manusia yang picik dan bebal, mengubah sikap-sakap manusia intoleran menjadi toleran yang sadar dengan keanekaragaman masyarakat dan budaya dan seterusnya.

Singkatnya, kehadiran agama adalah untuk “menyulap” dan menolong umat manusia dari “alam kegelapan” menuju “alam yang terang-benderang” penuh pencerahan dan sikap ramah terhadap umat manusia dan alam sekitarnya. [SQ]

Pindah Agama Tak Semata Hidayah atau Roh Kudus

0

Kenapa ada “burung gereja”, tetapi tidak ada “burung masjid”? Konon, “burung gereja” itu dulunya adalah “burung masjid”. “Burung masjid” ini “pindah agama” jadi “burung gereja” setelah ketakutan menyaksikan kekerasan di masjid-masjid.

Ceritanya bermula dari tradisi sunat atau khitan di kampung-kampung bagi laki-laki yang dilakukan di halaman-halaman masjid, mushalla, atau rumah yang mempunyai hajatan. Ritual khitan ini disaksikan oleh warga kampung: laki-perempuan, tua-muda.

Zaman dulu adanya cuma “dukun sunat”, belum ada dokter sunat. Si anak yang mau disunat didudukin di kursi. Matanya ditutup dengan sarung yang ia pakai sehingga warga bisa dengan jelas menyaksikan potongan kelamin si anak yang biasanya sudah remaja.

Sang dukun biasanya menggunakan pisau tajam mengkilat untuk memotong kulit di ujung kelamin itu. Setelah dipotong, darah mengalir menggiriskan yang membuat sang anak yang disunat meraung-raung kesakitan karena belum ada obat bius.

Ternyata drama menegangkan ini tidak hanya disaksikan oleh warga desa, tapi juga oleh “burung-burung masjid” tadi. Dalam benak, mereka berpikir, “Burung-burung orang saja dipotong, apalagi saya”. Karena ketakutan, akhirnya ia memilih kabur pindah ke gereja-gereja karena aman tidak ada tradisi sunat dalam Kristen.

Alhamdulilah, ya. Jangankan burung, saya saja dulu ketakutan dan memilih menunda ritual sunat sampai menjelang lulus kelas 3 MTs (SMP) he he. Begitulah kisah singkat awal mula “burung gereja” ini.

Jadi, “pindah agama” memang bukan semata-mata soal “hidayah” atau “roh kudus”, tetapi sangat kompleks. Ada banyak faktor duniawiah yang turut memberi kontribusi pada konversi agama seseorang: bisa karena pacar yang beda agama, desakan mertua, kemiskinan, konflik organisasi, politik-ekonomi, atau bahkan lantaran ketakutan dan trauma menyaksikan horor kekerasan para pelaku agama dan kelompok radikal-ekstrimis, dan sebagainya. [SQ]

Kafir Itu Politis Bukan Teologis

0

Label “kafir” itu lebih bernuansa politis ketimbang teologis karena kebebasan beragama ini digaransi dalam Islam. Teks al-Qur’an sangat jelas: “Tidak ada pemaksaan dalam beragama” (la ikraha fi al-din). Non-Muslim itu bukan “kafir”. Mereka hanya beda agama, bukan beda iman. Baik Muslim maupun kelompok teis non-Islam memiliki keimanan yang sama terhadap “Tuhan alam”—Supernatural Being (apapun nama-Nya).

Jika ada sejumlah teks keislaman yang mengkafirkan non-Muslim (baik Kristen, Yahudi, maupun suku-suku di Makkah dan Jazirah Arab.ada umumnya) itu pasti dalam konteks politik. Yakni, kelompok itu menentang dan melawan “misi kenabian” Nabi Muhammad bukan lantaran mereka memeluk agama non-Islam karena buat “Tuhan Islam” (Allah Swt) seperti tersurat dan tersirat dalam al-Quran tidak penting umat manusia mau memeluk Islam atau bukan.

Ingat: misi besar Nabi Muhammad Saw di dunia ini bukan untuk mengislamkan umat manusia tetapi untuk menyempurnakan akhlak orang-orang yang bejat dan korup. Jika non-Muslim itu “kafir” dan dengan begitu “musuh Islam” tentu Nabi Muhammad tidak menjalin hubungan baik dengan tokoh politik dan agama non-Muslim. Tetapi kenyataannya tidak.

Sejarah telah mencatat misalnya, beliau beserta para sahabat pernah berlindung dan dilindungi oleh Ashama Ibn Abjar atau Najashi, Raja Askum (kini Ethiopia) yang Kristen dari kejaran para “begundal Makkah” kala itu pimpinan Abu Jahal (juga Abu Sofyan). Lantaran jasa baik dan pandangan positif beliau dan para pendeta Kristen Ortodoks Ethiopia terhadap Islam, Nabi Muhammad menyerukan untuk terus berbuat baik dan menjalin relasi positif dengan mereka serta melarang memerangi kelompok Kristen ini.

Didorong oleh watak terbuka dan toleran Islam, para ulama juga banyak yang tidak memberi status kekafiran terhadap kaum teis non-Muslim, bukan hanya agama-agama sesama dari “rumpun Semit” seperti Kristen dan Yahudi tetapi juga agama-agama non-Semit seeprti Hindu, Buda, Jainisme dan sebagainya.

Jadi, sekali lagi, status kafir itu sangat politis bukan teologis. Sebab politis, maka sejumlah tokoh Muslim (baik tokoh agama maupun politik) berselisih dalam hal kafir-mengkafirkan ini. Dulu para ulama Saudi-Wahabi mengkafirkan rezim Turki Usmani atau Ottoman (meskipun Muslim) karena dianggap sebagai penjajah Arabia.

Sementara Inggris yang jelas-jelas Kristen malah tidak dikafirkan karena mereka membantu Saudi menghalau tentara Ottoman dari Arabia. Imam Khomeini dan pengikutnya, baik di Iran maupun bukan, mengkafir-kafirkan Amerika atau Israel tetapi tidak pada rezim-rezim Komunis Uni Soviet (atau Russia) atau China.

Kenapa? Anda tahu sendirilah jawabannya. Para tokoh Islam di Ambon dan Maluku dulu mengkafir-kafirkan Belanda tetapi tidak pada Jepang. Sebab, Jepang dinilai membantu pendirian “Laskar Islam” untuk melawan Belanda.

Jadi, jika sekarang kalian melihat ada sejumlah tokoh Muslim di Jakarta dan Indonesia pada umumnya yang mengkafir-kafirkan Ahok, misalnya, diketawain saja. Anggap saja mereka sedang mengigau karena sedang ketakutan melewati kuburan tua yang angker. Mereka panik dan takut kalau Ahok kelak akan “mencekik” mereka. [SQ]

Kenapa Banyak Umat Beragama Menjadi Egois?

0

Ini pertanyaan serius: “Kenapa banyak kaum beragama yang justru menjadi egois atau “selfish?” Karena didorong oleh keinginan kuat dan “nafsu membara” untuk masuk surga. Banyak kaum Muslim yang justru terperangkap ke dalam perilaku egois, selfish yang mementingkan diri sendiri serta kurang peka terhadap masalah sosial-kemanusiaan-kemasyarakatan di sekitarnya.

Lihat saja banyak kaum Muslim di Indonesia misalnya yang sampai berkali-kali “naik haji” (padahal yang diwajibkan cuma sekali seumur hidup) sehingga membuat daftar waiting list pendaftar haji semakin panjang mengular dan bahkan menganakonda. Padahal pemerintah Arab Saudi sendiri telah membatasi warganya yang sudah naik haji tidak boleh berhaji lagi selama 5 tahun.

Apa gerangan yang mereka kejar sampai haji berkali-kali? Apalagi kalau bukan dorongan agar dirinya mendapat pahala melimpah, bayangan surga yang aduhai, rezeki nomplok, jabatan langgeng, usaha lancar dan sebagainya.

Ada keyakinan bahwa berdoa di tempat suci di Ka’bah dan Masjid Haram (atau di Masjid Nabawi di Madinah dan tempat-tempat sakral-historis lain di Haramain) akan terkabul. Ada keyakinan bahwa sekali beribadah di tempat-tempat sakral ini senilai ratusan ribu kali ibadah di tempat-tempat lain diluar Makah dan Madinah.

Untuk menggapai semua impian ini dan guna menumpuk pahala sebanyak-banyaknya sebagai bekal kelak saat ajal menjemput, sebagian umat Islam pun rela mengeluarkan banyak uang dan harta; sebagian mereka bahkan rela mendesak, menyikut, menyeruduk para jamaah haji / umrah lain saat thawaf, sa’i, melempar jumrah dan sebagainya.

Mereka tidak peduli dengan nasib jamaah lain, masa bodoh dengan kebodohan umat lain, persetan dengan kemelaratan orang lain. Pokoknya, yang penting dirinya kelak di alam akhirat bisa “heppiiii” menikmati surga dengan segala isinya. Egois kan? [SQ]

Benar Bagi Kita, Benar Bagi Yang Lain

0

Seharusnya atau idealnya beragama itu membuat orang lebih toleran, terbuka, dan jauh dari watak-watak “etnosentrisme” atau pandangan superior terhadap yang lain, bukan malah menjadi intoleran, tertutup dan etnosentris. Sebab apa yang umat beragama percayai, yakini dan praktekkan juga terjadi pada umat agama lain.

Kita sering tidak sadar dengan menganggap wajar, lumrah, halal atau sah apa yang kita yakini dan amalkan sementara pada saat yang sama menganggap tidak wajar, haram atau ilegal terhadap keyakinan dan praktek agama orang lain.

Simak misalnya, sejumlah kelompok Islam begitu mudahnya mengafir-sesatkan, membid’ahkan atau “menggilakan” kelompok agama tertentu yang hobi ziarah kubur atau mereka yang “menyembah” batu, pohon atau objek tertentu.

Sementara itu pada saat yang sama, mereka tidak mempersoalkan beragam ritual kaum Muslim pada waktu ibadah haji / umrah seperti “muter-muter” bangunan kubus hitam yang sederhana bernama Ka’bah, “jogging” antara bukit Shafa-Marwa, “melempari setan” dengan kerikil (baca: lempar jumrah) dan sebagainya.

Para jamaah haji / umrah juga berebut berdoa, uyel-uyelan, sikut-sikutan bahkan tidak sedikit yang menangis meraung-raung di sebuah batu hitam bernama hajar aswad. Bagi umat Islam, sejumlah praktek ritual ini adalah sesuatu yang lumrah belaka. Kaum Muslim (termasuk saya) juga tidak merasa sebagai orang gila dengan menjalani “ritual aneh” ini.

Jika kita merasa wajar menjalani ritual-ritual seperti ini, kelompok agama lain juga sama terhadap aneka ritual dan simbol-simbol keagamaan yang mereka lakukan dan yakini. Begitu pula, jika kita menganggap “gila” dan “aneh” terhadap praktek-praktek ritual keagamaan kelompok lain, mereka juga menganggap “gila” dan “aneh” terhadap ritual-keagamaan yang kita lakukan.

 Oleh karena itu sikap terbaik tentu saja toleran dan menghormati apa yang dilakukan kelompok agama lain karena masing-masing dari kita memiliki pengalaman teologis, keagamaan, dan spiritualitas yang berlainan, bukan malah “menang-menangan” sok “jagoan” merasa diri sebagai yang paling super, paling lurus, paling benar, dan paling agamis. [SQ]

Bahasa Agama dan “Bahasa Agamis”

0

“Kuliah virtual” kali ini tentang bahasa. Menarik untuk disimak dan diteliti (bagi akademisi) tentang sejumlah fakta bahwa manusia memperlakukan bahasa secara berbeda. Ada “bahasa suci-sakral”, ada pula “bahasa profan-sekuler”. Ada sejumlah kelompok agama yang menganggap “bahasa agama” adalah “bahasa agamis”.

Yang saya maksud disini adalah karena bahasa tertentu digunakan dalam teks-teks suci agama, ritual atau liturgi keagamaan, atau dipakai sebagai komunikasi para pendiri dan “leluhur agama”, maka (sebagian) para pengikut agama ini memperlakukan “bahasa agama” tadi sebagai “bahasa agamis” yang “suci-sakral tak berdebu.” Meskipun ada juga kelompok agama yang sangat fleksibel atau longgar dalam memperlakukan bahasa ini.

Sejumlah bahasa yang masuk kategori “bahasa agama” yang kemudian dianggap sebagai “bahasa agamis” oleh sebagian pengikutnya adalah, misalnya, Pali untuk umat Budha Therevada, Sanskrit bagi pengikut Budha Mahayana, juga umat Budha di Tibet. Umat Hindu menggunakan Sanskrit dan Tamil.

Sebagian kaum Yahudi menganggap Hebrew sebagai “bahasa suci” (leshon ha-kodesh), dan sebagian kelompok Yahudi lain memakai dan menganggap Aram, Yiddish, Kaddish, atau Hebrew Rabbinic sebagai “bahasa agamis”. Umat Kristen lebih kompleks lagi. Ada banyak bahasa yang mereka anggap sebagai “bahasa agama” dan “bahasa agamis”: Bahasa Yunani, Latin, Aram, Koptik, Old Georgian, Classical Armenian, Arab, Slavonic, Romania, dan masih banyak lagi.

Bagaimana dengan umat Islam? Mayoritas menganggap Bahasa Arab sebagai “bahasa agama” dan “bahasa agamis”. Meskipun dulu ada sejumlah kelompok Muslim seperti kaum Nizari menganggap Persi sebagai “bahasa sakral”. Yang mungkin tidak disadari (atau tidak dimengerti) oleh sebagian besar kaum Muslim masa kini adalah Bahasa Arab modern itu tidak sama dengan Bahasa Arab klasik (disebut fushah) yang dipakai dalam penulisan al-Quran, hadis, dan teks-teks keislaman klasik, maupun sebagai bahasa komunikasi (colloquial) generasi Muslim awal (termasuk tentu saja Nabi Muhammad) dan abad pertengahan.

Kini, Bahasa Arab klasik ini hampir punah karena masyarakat Arab modern sendiri sudah jarang mempraktekkan dalam berkomunikasi sehari-hari dan jarang menggunakannya dalam penulisan buku-buku akademik. Dalam berkomunikasi, mereka lebih suka menggunakan “bahasa Arab pasar” atau “Arab gaul” (‘ammiyah), sementara dalam penulisan akademik lebih menggunakan “Bahasa Arab standar” (Modern Arabic Standard). Dengan kata lain, Bahasa Arab klasik ini semakin tampak “antik” oleh warga Arab sendiri.

Celakanya, sebagaian umat Islam di Indonesia, khususnya yang “kearab-araban” menganggap “bahasa Arab” gaul sebagai “bahasa al-Quran” atau, lebih parah lagi, “bahasa surga”. Padahal jelas, Nabi Muhammad, hadis, dan al-Quran tidak menggunakan bahasa Arab jenis ini. Jadi, jangan pernah merasa “lebih Islami”, “lebih saleh” atau “lebih agamis” jika sudah bilang “antum-antum”, “abi-umi”, “akhi-ukhti” dan seterusnya. Kesalehan tidak ditentukan oleh bahasa, melainkan oleh perilaku individual dan sosial kita. [SQ]

Maumu Itu Apa? Islam Yang Bagaimana?

0

Kau bilang semua umat Islam itu bersaudara tapi kenapa kau musuhi saudara-saudara Islam kamu? Kenapa kau hujat dan caci-maki saudara-saudaramu sendiri? Kenapa kau rusak dan jarah properti milik saudaramu? Kenapa kau usir saudaramu? Kenapa bahkan kau dengan suka-rela membunuh dan memerangi saudaramu? Maumu itu apa? Islam yang bagaimana?

Kau bilang umat Islam akan selamat kelak di akhirat tapi kenapa kau sesatkan umat Islam lain? Kenapa kau kafirkan kaum Muslim lain yang berbeda pendapat denganmu? Kenapa kau musyrikkan umat Islam yang berbeda pandangan denganmu? Kenapa kau “luruskan” umat Islam yang tidak semazhab denganmu? Kenapa kau “najiskan” kaum Muslim yang berbeda ormas atau aliran denganmu? Maumu itu apa? Islam yang bagaimana?

Kau bilang kaum Muslim itu umat yang sudah mendapat “hidayah” tapi kenapa kau anggap Muslimah tak berjilbab belum mendapat hidayah? Kenapa kaum Muslim lain yang hanya berbeda pakaian atau tata-busana dengan kalian dianggap belum mendapat hidayah? Kenapa kaum Muslim lain yang hanya berbeda pemahaman dan tafsir keagamaan kau anggap belum mendapat hidayah? Maumu itu apa? Islam yang bagaimana?

Kau bilang umat Islam itu akan masuk surga tapi kenapa kau anggap Muslimah yang belum berjilbab akan masuk neraka? Kaum Muslim yang berpandangan toleran-moderat kau anggap masuk neraka juga? Kaum Muslim yang berbeda aliran dan ormas dengan kalian juga kau neraka-kan mereka? Istri Muslimah yang tidak mau mengikuti kemauan kalap suami, kau tuduh sebagai penghuni neraka. Maumu itu apa? Islam yang bagaimana?

Tidak punya jenggot kau suruh berjenggot. Sudah berjenggot kau bilang kurang panjang. Tidak berjubah, kau suruh berjubah dan setelah berjubah kau bilang kurang cingkrang. Kau suruh Muslimah berjilbab. Sudah berjilbab kau bilang kurang “syar’i”. Maumu itu apa? Islam yang bagaimana? (SQ)

Umat Beragama Memang “Aneh”

0

Setiap kali mengunjungi Makkah, Masjidil Haram, dan Ka’bah, saya selalu memperhatikan perilaku umat Islam yang “unik”, “aneh” atau bahkan mungkin dianggap “gila” oleh kaum tertentu yang tidak familiar dengan tata-cara beribadah atau ritual kaum Muslim.

Di Masjidil Haram misalnya, kita akan menyaksikan aneka-ragam ekspresi ibadah ribuan kaum Muslim. Ada yang berebut uyel-uyelan (dan bahkan sikut-sikutan) untuk memegang Ka’bah dan mencium si batu hitam keramat Hajar Aswad.

Ada yang menangis histeris; ada yang berdoa dengan khusyu’ di tempat-tempat sakral tertentu; ada yang muter-muter thawaf mengelilingi Ka’bah berkali-kali sambil melafalkan berbagai kalimat pujian dan doa.

Ada yang mengantri mengambil “air suci” zam zam yang dipercaya sangat mujarab untuk mengobati penyakit apa saja. Daftar “keanehan” dan keunikan ini bertambah saat musim haji. Misalnya, jutaan umat Islam melempari “setan” dengan batu-batu kecil.

Sebagaimana umumnya umat Islam, saya juga tidak merasa unik, aneh, apalagi gila dengan berbagai ritual-keagamaan ini. Semuanya normal-normal saja. Jika kita memandang lumrah terhadap aneka ritual yang kita lakukan, maka begitulah umat beragama lain terhadap beragam ritual yang mereka lakukan.

Jika kita menganggap ritual pengikut agama lain sebagai aneh dan gila, maka begitulah mereka juga menganggap ritual yang kita kerjakan itu aneh dan gila. Oleh sebab itu, hendaknya umat beragama harus saling menghormati ibadah ritual dan budaya masing-masing, jangan malah saling mengklaim, meledek, menuduh, menghina dan melecehkan tata-cara ritual masing-masing agama. [SQ]

Agama ini Menyatukan atau Memisahkan Sih?

0

Saya sering berpikir, agama ini katanya untuk “menyatukan” umat manusia tetapi dalam prakteknya banyak yang sebaliknya. Contoh ringan saja soal nikah. Betapa ribetnya urusan yang satu ini. Bukan hanya beda agama, dalam satu rumpun agama saja tidak gampang untuk melakukan praktek kawin-mawin.

 Bukan hanya pasangan beda agama, pasangan seagama saja hanya karena beda mazhab, aliran, kongregasi, organisasi dan sebagainya susahnya minta ampun untuk menjalankan pernikahan (“pernikahan formal” lho ya, bukan “perkawinan informal”).

Sudah bukan rahasia lagi jika pengikut Sunni susah menikahi pujaan hatinya hanya karena ia Syiah, Ibadiyah, Ahmadiyah, “Wahabiyah” dan sebagainya. Begitu juga sebaliknya. Warga Syiah pun yang beraliran Itsna Asyariyah sulit menikahi sesama Syiah hanya karena ia pengikut Syiah Zaidiyah atau Ismailiyah misalnya. Sunni juga sama.

Faksi-faksi dalam Sunni juga sulit untuk kawin-mawin jika tidak “sealiran” atau seorganisasi. Dulu, mungkin sampai sekarang, orang tua NU tidak mau menikahkah anaknya dengan Muhammadiyah. Bahkan aktivis PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) juga susah kalau mau berpacaran dengan aktivis HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) atau IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah).

Bukan hanya Islam. Kristen juga sama. Jangankah Protestan dengan Katolik yang seperti serial kartun “Tom and  Jerry”, sesama rumpun Protestan juga kadang sulit menikah hanya karena “beda gereja” dan kongregasi. Kelompok Kristen Anabaptis (Mennonite atau Amish) juga sulit menikah dengan pengikut Kristen non-Anabaptis.

Begitu pula pengikut Mormon, Gereja Ortodoks Timur, Koptik dan sebagainya susah sekali menikah dengan pasangan Kristen yang bukan dari “gereja”-nya. Tuhan itu mempermudah urusan, tetapi kadang atau bahkan sering manusialah yang justru mempersulitnya. Bukan begitu? [SQ]

Apakah Ajaran Agama Hanya Empati Pada Kelompoknya ?

0

Betapa susahnya manusia berbuat adil yang melintas batas kemanusiaan, sebuah keadilan yang melintasi batas-batas etnis, agama, ras, suku dan sebagainya. Beberapa hari ini, saya mengamati pro-kontra ungkapan empati dan bela sungkawa terhadap para korban terorisme dan kejahatan kemanusiaan. Satu kubu begitu mendayu-dayu dan histeris membela para korban terorisme di Perancis sambil mengutuk para teroris.

Kubu lain mengkritik “para simpatisan” korban serangan brutal di Paris karena dianggap “lebai” dan “tidak adil” lantaran mendoakan dan bersimpati kepada “cuma” ratusan korban di Paris sementara mereka mengabaikan atau “pura-pura pikun” terhadap ratusan bahkan jutaan korban perang sipil dan terorisme di Iraq, Suriah, Yaman, Lebanon, Palestina, Mesir, Tanzania, Afganistan, Kashmir dan masih banyak lagi.

Memang harus diakui secara jujur, ada berapa gelintir orang-orang di Barat yang bersimpati dengan para korban kekerasan yang “menggunung” di Timur Tengah?

Ada berapa gelintir warga Barat dan non-Muslim yang bersedia mendoakan dan menyalakan lilin sebagai simbol duka-cita terhadap para jenazah Muslim yang bergelimpangan di mana-mana? Di Amerika Serikat, misalnya, setiap tahun warga Amerika memperingati tragedi serangan teroris 9/11 dengan khidmat sambil mendoakan sekitar 3000 warga sipil yang jadi korban serangan teroris terganas dalam sejarah kemanusiaan itu. Sementara di lain pihak, mereka diam membisu terhadap beribu-ribu korban terorisme dan kejahatan perang yang dikomandoi Amerika Serikat, baik di Irak maupun Afganistan.

Bukan hanya manusia, media juga sama. Simak saja media-media mainstream di Barat. Mereka begitu heroik meliput setiap ada kasus-kasus terorisme di Barat tapi nol besar terhadap aksi-aksi serupa di “negara-negara Muslim”.

Kalaupun mereka meliput, dengan maksud untuk mengutuk kelompok “Islamis teroris” bukan mewartakan para korban terorisme. Kalaupun mereka meliput kaum “Islamis teroris”, mereka sibuk menghubungkan terorisme dan kekerasan dengan ajaran-ajaran Islam dan salafisme sementara melupakan peran sentral rezim-rezim Barat sebagai “pencipta” dan “pengembang biak” kaum teroris ini. Bukankah Barat yang merekrut para “anjing gila” ini? Maka jangan salahkan jika mereka “menggigit” tuannya.

Bukan hanya Barat dan non-Muslim, sejumlah kelompok Islam juga lebay dan tidak adil. Sebagian umat Islam mengkritik Barat dan non-Muslim tidak fair dan berlebihan, sementara mereka sendiri tidak sadar melakukan “ke-lebay-an” dan ketidakadilan yang sama.

Sejumlah umat Islam (termasuk media-media penyokongnya) begitu bergemuruh membela dan berempati dengan para korban Muslim di Rohingya, Palestina, Bosnia, Mindanao dan lain-lain tapi “menyukuri” para korban non-Muslim.

Misalnya, bekas temanku, Tom Fox dan sejumlah aktivis perdamaian Amerika Serikat yang diculik dan dibunuh di Irak, bukan mendapat simpati tapi malah “kutukan” dari sejumlah kelompok Islam.

Sejumlah ormas Islam ini juga pilah-pilih dalam bersimpati: mereka baru heroik membela para korban Muslim jika yang melakukan kejahatan adalah Amerika, Israel, Rusia atau China. Jika pelaku kejahatan dan kekerasan itu adalah rezim-rezim Islam sendiri, mereka juga pura-pura rabun dan berlagak pikun. Apakah agama mengajarkan pada umatnya untuk berempati hanya pada kelompoknya saja? Saya kira tidak. [SQ]

Agama Itu Perlu Bagi yang Memerlukan

0

Klaim yang mengatakan bahwa untuk menjadi baik maka seseorang itu perlu sebuah agama hanyalah “separuh benar”. Agama itu perlu bagi yang memerlukan saja. Kalau tidak perlu, ya tidak apa-apa. Karena untuk menjadi baik, orang tidak memerlukan agama. Agama hanyalah salah satu alat saja untuk menuju kebaikan tadi.

Banyak masyarakat non-agama—apapun istilahnya (sekuler, ateis, agnostik, dan sebagainya)—yang sangat baik, ramah, toleran, dan humanis: suka menolong umat manusia, berkorban demi kemanusiaan, ramah terhadap lingkungan, menyayangi binatang, pejuang perdamaian dan anti perang, dan lain-lain. Meskipun tentu saja ada yang sebaliknya.

Meski demikian, ironisnya justru kita kerap menyaksikan banyak umat beragama—apapun nama agamanya—yang antikemanusiaan, inhuman, arogan, intoleran, kejam terhadap manusia, binatang dan alam, tidak peduli dengan kemelaratan dan kebodohan, dan sebagainya.

Walaupun tentu saja ada yang sebaliknya, yakni banyak komunitas dan tokoh agama yang diinspirasi nilai-nilai universal agama untuk membangun perdamaian dan persodaraan global lintas-agama dan kemanusiaan.

Sejumlah agama (khususnya “rumpun agama Semit”: Islam, Kristen, dan Yahudi) mengklaim bahwa masyarakat non-agama kelak akan terjerumus masuk Neraka di alam akhirat. Saya sendiri tidak begitu menghiraukan dengan klaim-klaim teologis-keagamaan ini. Urusan “dunia lain” urusan nanti. Itu tugas Tuhan dan para malaikat (atau apapun namanya).

Tugas manusia di dunia ini adalah berbuat baik dengan sesama umat dan makhluk-Nya serta menjaga alam semesta ini dari tangan-tangan jahil dan orang-orang serakah, korup dan biadab, tidak penting mereka ini beragama maupun bukan.

Sayangnya banyak umat beragama yang sibuk “mengurusi akhirat” yang bukan wewenangnya dan melupakan urusan dunia yang menjadi tugas dan kewajibannya. [SQ]

Agama Itu Untuk Manusia Bukan Untuk Tuhan

0

Untuk siapakah agama itu “diturunkan”? Jelas untuk manusia, bukan malaikat, binatang, tumbuhan, gendruwo, tuyul gundul, apalagi untuk Tuhan. Watak agama itu “antroposentris” (berpusat pada manusia) bukan “teosentris” (berpusat pada Tuhan).

Dengan kata lain, manusialah, bukan Tuhan, yang menjadi sasaran dan tujuan utama sebuah agama karena jelas Tuhan tidak membutuhkan agama. Tuhan tidak butuh disembah. Tuhan bukanlah sosok “tuan raja feodal” yang butuh sembah dan sesembahan.

Meskipun seluruh umat manusia dan makhluk hidup tidak menyembah-Nya, Dia tidak galau atau tidak “petheken” (tidak masalah) menurut orang Jawa. Karena manusialah, agama itu ada atau diadakan.

Karena banyak manusia-manusia yang berotak dan berperilaku seperti “demit sontoloyo” itulah agama hadir atau dihadirkan di muka bumi.

Simaklah dengan seksama: ada segunung ayat-ayat dalam al-Quran yang bertutur tentang kemanusian bukan ketuhanan, tentang manusia di bumi ini bukan di alam pasca kematian, tentang aksi-aksi sosial bukan rutinitas ritual dan seterusnya.

Kalaupun al-Quran berbicara tentang Tuhan, alam kubur dan ritual, itu pun hanya sebagai “sarana” bukan “tujuan”: medium agar manusia berbuat kebaikan dengan sesama makhluk di muka bumi ini. Ingat: bukankah Nabi Muhammad Saw yang agung itu diutus ke muka bumi ini untuk menyempurnakan akhlak manusia, bukan untuk mengislamankan jagat raya?

Tapi sayang seribu sayang, banyak umat beragama di dunia ini yang justru sibuk memikirkan Tuhan lupa sesama manusia, sibuk “memburu surga” lupa berbuat baik dengan sesama, sibuk mengumpulkan pahala akhirat lupa “pahala dunia”, sibuk dengan ritual-ritual individual lupa aksi-aksi sosial-kemanusiaan dan seterusnya.

Jika dulu agama itu untuk masyarakat non-agama, sekarang saya melihat banyak umat beragama yang justru membutuhkan agama itu sendiri. [SQ]

Islam Hadir Bukan untuk “meng-Arab-kan” Bangsa, Bahasa, dan Budaya

0

Islam ada bukan untuk mengubah ucapan “sampurasun” atau “selamat pagi/siang” atau “good morning” atau “Syalom” dan lain sebagainya menjadi “assalamu’alaikum”. Seperti ucapan selamat yang lain, “assalamu’alaikum” juga sama: baik kaum Muslim maupun non-Muslim yang berbahasa Arab akan mengucapkan “kalimat perdamaian” ini. Para kolegaku yang non-Muslim tiap hari bilang “salamu’alaikam-salamu’alaikum”.

Karena itu jika ada sejumlah kelompok non-Muslim yang “alergi” dengan kalimat “salam damai” ini karena dipandang sebagai “ucapan selamatnya orang Islam” sama lucunya dengan sejumlah kelompok Muslim yang bernafsu ingin mengganti semua ucapan salam dalam bahasa lokal menjadi “assalamu’alikum” karena dipandang “lebih Islami”. Tidak ada hubungannya antara “assalamu’alaikum” dengan “identitas keislaman”.

Islam hadir bukan untuk “meng-Arab-kan” bangsa, bahasa dan budaya lain: mengubah ayah/bunda, bapak/ibu, bapake/simboke dan lain sebagainya menjadi “abi/umi”, mengganti saudara/saudari menjadi ikhwan/akhwat atau akhi/ukhti dan lain sebagainya. Kehadiran Islam tidak lain dan tidak bukan adalah untuk memperbaiki akhlak dan moralitas manusia, agar kaum Muslim menjadi “Muhammad-Muhammad kecil” yang mampu membawa perubahan positif, rahmat dan kedamaian bagi semua umat manusia dan alam raya ini.

Apalah artinya fasih berbahasa Arab, jika kefasihan itu kalian gunakan untuk mencaci-maki bahasa lain dan menebar kebencian terhadap orang dan budaya lain; apalah artinya pandai berdalil jika dalil itu kau gunakan untuk memfitnah dan menyebarkan kekerasan kepada orang lain; apalah artinya berjidat hitam jika otak dan perilaku kalian hitam-legam sehitam jidat kalian;

Apalah artinya berjenggot panjang jika keburukan dan kejahatan kalian sama dengan jenggot kalian yang menjuntai itu; dan apalah artinya berpakaian meniru-niru Nabi Muhammad SAW, jika ternyata pikiran dan tindakan kalian seperti “begundal tengik” Abu Jahal wa ala alihi wa ashhabihi ajma’in.

Wahabi dan Nasionalisme

0

Tentang “Wahabi dan Nasionalisme”. Apakah kaum “Wahabi” (sengaja saya pakai tanda kutip karena banyak ari mereka yang “kurang sreg” dengan kata ini dan lebih suka dengan sebutan “salafi”) itu kaum nasionalis? Jawabannya “ya”. Kaum “Wahabi” itu sangat nasionalis & patriotis. Berkali-kali Grand Mufti Saudi Syeikh Abdulaziz Al Syaikh menyerukan warga Saudi tentang pentingnya patriotisme terhadap negara dan kewajiban membela teritori Saudi dr berbagai ancaman luar-dalam yg berpotensi membahayakan stabilitas sosial-politik-ekonomi-keamanan Kerajaan Arab Saudi.

 Pendiri “Wahabisme”, Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab (dari tokoh inilah nama “Wahabi” itu disematkan) memang sangat “patriotik” dan membela pemimpin politik Muhammad bin Saud guna melawan penjajah Turki Usmani sejak abad ke-18.

Seperti NU dulu (dan sekarang) yang menggalang semangat patriotik dan jihad melawan kaum penjajah & kelompok-kelompok anti-kebangsaan, kaum “Wahabi” juga sama: sangat aktif dan heroik dalam menggalang semangat patriotisme & spirit kebangsaan, baik melalui pendidikan, lagu, tarian, fatwa, ceramah, dan lain sebagainya.

Dalam konteks ini, maka saya melihat agak aneh & lucu kalau ada “fans” dan “cheerleaders” Wahabi/Salafi di Indonesia yang mati-matian anti-nasionalisme & kenegeraan. Seharusnya atau idealnya mereka memiliki semangat nasionalisme & cinta kebangsaan yang menggebu-gebu, bukan malah menggebu-gebu anti-keindonesiaan dengan dalih mementingkan keagamaan.

Jika mereka tidak memiliki “spirit nasionalisme” ini, saya kok ragu jangan-jangan  mereka ini bukan “kaum Wahabi” atau, kemungkinan lain, mereka inilah antara lain yang saya sebut sebagai “Wahabi asesoris” yang cuma bermodal jenggot & celana cingkrang doang atau, jika bukan, mereka ini kemungkinan “Wahabi mualaf” yang baru belajar tentang “kewahabian”…