Beranda blog Halaman 19

Taqiyah Tidak Hanya Monopoli Kaum Syiah

0

Taqiyah itu “mahluk” apaan sih? Kenapa sejumlah kelompok Muslim yang anti-Syiah, hobi sekali menuduh Syiah sebagai pengamal doktrin taqiyah? Emang non-Syiah tidak melakukan hal serupa? Menurut sejumlah kelompok Muslim anti-Syiah ini, jika ada orang-orang Syiah yang baik, itu karena mereka sedang ber-“taqiyah” atau penyamaran atau penyembunyian identitas diri sebagai upaya penyelamatan.

Maksudnya, kebaikan orang-orang Syiah itu hipokrit atau kamuflase karena pada hakikatnya mereka adalah “orang-orang jahat” yang berbahaya dan berpotensi mengancam stabilitas agama, bangsa dan negara.

Saya tegaskan, “doktrin” taqiyah itu tidak hanya monopoli kaum Syiah. Hampir setiap individu -Syiah-Sunni, Muslim-non-Muslim atau siapa saja- telah mempraktekkan “doktrin” ini karena manusia pada hakekatnya adalah, mengutip Abner Cohen, “a political man“, selain “an economic man“.

Kaum Muslim di Barat dan negara-negara mayoritas non-Muslim lain, kaum non-Muslim di negara-negara mayoritas Muslim, kaum teis di negara-negara ateis, kaum minoritas terhadap kelompok mayoritas, kaum Sunni di Iran, kaum Syiah di Saudi dan seterusnya hampir semua mengamalkan “ajaran” dan “konsep” taqiyah ini.

Di Saudi atau Qatar yang “mazhab negara”-nya berhaluan “Wahabi” atau “Salafi”, bahkan tidak hanya Syiah yang bertaqiyah, kelompok Sunni non-Wahabi juga melakukan taqiyah.

Saya melihat kaum Muslim non-“Wahabi” atau Salafi di sini (baik Arab, Pakistan, India, Bangladesh, Afrika, juga Indonesia) banyak yang “ujug-ujug” menjadi “Salafi” baik dalam hal berpotongan (berjenggot panjang, misalnya) berpakaian (misal, memakai thaub atau “jubah Arab”), maupun berpandangan (yang “khas” pemikiran Salafi) karena adanya dorongan kepentingan politik-ekonomi tadi (selain faktor-faktor lain tentunya).

Jadi sekali lagi, keliru besar, jika konsep taqiyah itu hanya dialamatkan kepada kelompok Syiah. Bisa jadi mereka yang menuduh Syiah bertaqiyah itu sedang melakukan taqiyah juga. Hiduplah yang rukun dan jangan saling membenci karena bumi ini diciptakan untuk semua umat manusia -baik beragama maupun tidak beragama. Janganlah mudah mengkafir-sesatkan orang dan kelompok lain, karena belum tentu klaim-klaim kebenaran praktek keagamaan kita itu benar adanya di hadapan Tuhan. Janganlah gampang mengkafir-sesatkan orang dan kelompok lain, salah-salah justru kalian sendiri yang terjerumus ke dalam lembah kekafiran dan kesesatan. (SQ)

“Jenggot Agamis” dan “Jenggot Sekuler”

0

Postingan ini tentang “Jenggot agamis” dan “jenggot sekuler”. Entah kenapa jenggot selalu ramai diperbincangkan. Padahal cuma “kumpulan rambut” saja, tidak jauh beda dengan “kumpulan rambut” di tempat-tempat lain: di kepala, di ketiak, di atas bibir, di bawah pusar, dan lain-lain. Jenggot menjadi spesial karena agama ikut bicara tentang “gundukan rambut di janggut” ini. Jenggot bukan hanya monopoli Islam atau “kaum salafi” saja.

Sejumlah agama juga memandang penting tentang jenggot ini, bahkan dianggap sebagai bagian dari “dogma”. Karena itulah sejumlah pengikut agama non-Islam seperti Amish, “Yahudi Ortodoks”, Old Order Mennonite, Sikh, Sadhus dan sebagainya juga memelihara jenggot yang menjuntai. Sejumlah tokoh Mormon awal (seperti Brigham Young) juga berjenggot lebat.

Secara khusus, menarik juga untuk diperhatikan (dan diteliti jika berminat), kenapa ketiga kelompok salafi dalam rumpun Agama Semit yang sama-sama lahir di Timur Tengah seperti Yahudi, Kristen, dan “si bungsu” Islam selalu berjenggot. Yang dimaksud dengan kelompok “salafi” disini adalah kelompok agama yang mempraktekkan tradisi keagamaan sebagaimana yang telah dipraktekkan oleh generasi awal penganut agama-agama tadi, termasuk para pendiri agama. Memelihara jenggot bagi ketiga kelompok salafi ini merupakan kewajiban atau minimal “sunah”.

Kaum Yahudi, khususnya kaum Yahudi Heradi, “Yahudi Mesiah”, atau Yahudi Lev Tahor, kemudian umat Kristen Amish, Huterite, Old Order Mennonites, atau Ortodoks Suriah Kerala, lalu umat Islam, khususnya kelompok Salafi dan Wahabi, semua berjenggot ria dengan alasan keagamaan bukan yang lain. Mereka semua berargumen bahwa berjenggot bagi laki-laki telah “diamanatkan” dalam teks-teks keagamaan mereka dan dipraktekkan oleh para leluhur agama mereka, dan karena itu harus ditiru.

Foto berikut ini hanyalah sekedar contoh dari “Jenggot Wahabi”, “Jenggot Amish” dan “Jenggot Yahudi Heradi”. Karena jenggot telah menjadi identitas, norma, budaya, dan bahkan nilai-nilai agama bersama bagi berbagai kelompok agama, maka tidak pada tempatnya jika sejumlah kaum Muslim mengklaim jenggot sebagai “properti” mereka belaka. Bukankah Islam itu justru lahir belakangan? Karena itu bukan hal yang mustahal jika Nabi Muhammad Saw mengadopsi praktek dan “budaya jenggot” yang sudah berkembang di Arabia pada waktu itu untuk menjadi bagian dari nilai-nilai dan kebudayaan umat Islam.

Perlu dicatat, jenggot juga bukan hanya monopoli kaum agama, kaum sekularis (ateis, agnostik dan lain-lain) juga banyak yang hobi memelihara jenggot. Para raja-raja kuno (seperti para Kaisar Tiongkok atau Kaisar Meiji di Jepang) juga berjenggot. Para ilmuwan beken juga berjenggot. Lihat saja Karl Marx, Friedrich Engels, Charles Darwin, Lord Kelvin, James Maxwell, Ernst Mach dan sebagainya.

Singkat cerita: tidak ada hubungannya antara jenggot dan tingkat kecerdasan, jenggot dan tingkat kesalehan, jenggot dan tingkat ketaatan dan seterusnya. Jadi, yang tidak berjenggot jangan meledek yang berjenggot, yang berjenggot jangan menyuruh-nyuruh orang untuk berjenggot dengan disisipi dalil ini-itu karena masalah surga-neraka bukan ditentukan oleh panjang-pendeknya jenggot Anda. [SQ]

Syiah dan Nasionalisme

0

Anggapan bahwa pembelaan terhadap minoritas Syiah di Indonesia sebagai “anti-Arab” (apalagi anti Nabi Muhammad) adalah keliru besar. Hanya orang-orang yang “pikun wawasan” yang menganggap Syiah itu non-Arab. Syiah jelas lintas-etnis. Pemeluk Syiah bukan hanya beretnik Persi tapi juga Arab, Hazara (di Afganistan), Assyria, Pastun Bangash, Khoja, Kurdi dan sebagainya.

Iran bukan hanya satu-satunya rumah buat kaum Syiah. Komunitas Arab-Syiah tersebar di seantero negara-negara Arab: Bahrain, Kuwait, Irak, Lebanon, Suriah, Yaman, Oman dan bahkan Saudi. Populasi Syiah sangat besar di negara-negara ini bahkan sebagian menjadi mayoritas seperti di Irak dan Bahrain. Di Saudi komunitas Arab-Syiah sekitar 10-15 persen, di Lebanon sekitar 35 persen, di Yaman sekitar 40 persen. Bukan hanya negara-negara Arab, komunitas Syiah juga tersebar luas di Turki, Afganistan, Azerbaijan, Pakistan, India, dan sebagainya.

Anggapan bahwa komunitas Syiah itu monolitik dan memiliki agenda seragam juga keliru besar. “Rezim Syiah” Irak pernah berseteru dengan Iran gara-gara terlalu banyak intervensi urusan politik domestik Irak. Komunitas Arab-Syiah tidak serta merta pro-Syiah-Iran (Persia) karena berbeda etnik dan negara. Kesamaan teologis tidak menjamin persatuan politik. Konflik klasik etnik Arab-Persia masih kuat hingga kini.

Waktu rezim Syiah Houti Yaman diserbu Saudi, banyak warga Syiah Saudi yang ikut mendukung pemerintah Saudi karena mereka beranggapan Syiah Yaman berbeda dengan Syiah Saudi. Karena kepentingan politik-ekonomi dan identitas kesukuan, warga Arab-Syiah di Teluk juga banyak yang pro pemerintah yang dikontrol Sunni ketimbang membelot ke Iran. Meskipun tentu saja ada sejumlah “rezim Syiah” di sejumlah negara-negara Arab yang “berselingkuh” dengan Iran.

Sebagaimana Sunni, Syiah juga terpecah menjadi bercamam-macam golongan: Imamiyah, Zaidiyah, Ismailiyah, Ismaili Nizari, Mustaali Dawoodi Bohra, Alawi, Sulaimani Bohra dan lain-lain, yang masing-masing jauh dari kesan tunggal. Tidak semua dari kelompok Syiah ini membenci para sahabat Nabi (di luar “kubu Ali”) seperti kaum Syiah Zaidi di Yaman, meskipun mereka menganggap sahabat Ali sebagai yang paling pantas menggantikan suksesi kepemimpinan paska wafatnya Nabi Muhammad SAW.

Saya bukan pro-Syiah atau anti-Sunni atau sebaliknya. Saya hanya ingin semua pihak harus berhati-hati dalam menyikapi konflik dan perbedaan. Jangan membawa-bawa perseteruan geo-politik di Arab dan Timur Tengah (sejak “klasik” hingga kini) ke Indonesia karena bangsa ini memiliki sejarah politik-kebudayaan-keagamaan serta perjumpaan Syiah-non-Syiah yang berlainan dengan Arab dan Timur Tengah.[SQ]

Syiah, Sunni Ekstrim, dan “Islam Pentungan”

0

Suatu saat saya pernah ngobrol dan berdiskusi berjam-jam dengan seorang ulama dan salah satu tokoh Syiah kharismatik di Saudi yang bernama Syaikh Humaidan. Rumahnya adalah perpustakaannya yang dipenuhi dengan ribuan kitab. Menariknya lagi, buku-buku koleksinya tidak hanya karangan para sarjana Syiah tapi juga ulama Sunni dan non-Syiah lain.

Waktu itu saya memperkenalkan diri sebagai pengikut Sunni, maka beliau pun menunjukkan berbagai kitab yang ditulis oleh para ulama Sunni seperti Imam Syafi’i, Ghazali, Syathibi, Thabari, Ibn Rusyd, Imam Qurtuby, dan masih banyak lagi. Ia mengatakan bahwa kitab-kitab itu ia peroleh dengan cara menyelundupkannya dari Lebanon, Irak, dan lain-lain.

Memang sangat sulit untuk menemukan berbagai kitab di Saudi karena penerbit buku sangat dibatasi. Kalaupun ada penerbit atau percetakan buku, paling-paling cuma mencetak atau menerbitkan Al-Qur’an atau kitab-kitab yang berhaluan Salafi-Wahabi.

Oleh karena itu, bagi akademisi yang berminat untuk memperluas cakrawala pemahaman wacana keislaman dan keagamaan, mereka “berburu” kitab di negara-negara diluar Saudi, baik di kawasan Arab maupun Barat.

Dan menariknya lagi, meskipun sebagai ulama Syiah, Syaikh Humaidan mengakui kalau menggunakan berbagai kitab Sunni itu untuk berdiskusi dan memperdalam wawasan tentang berbagai masalah sosial-keagamaan-keislaman.

Tradisi akademik di Syiah memang sangat mapan. Jaringan internasional intelektual Syiah-Iran juga angat mapan di Barat. Di kampus-kampus Barat, juga sangat mudah dijumpai para akademisi dan sarjana yang berlatar Syiah atau Iran.

Mereka juga menerbitkan jurnal-jurnal akademik yang sangat bagus dan berkualitas. Mereka punya klub-klub studi dan kajian yang sangat mapan. Mereka punya lembaga-lembaga scholarship yang luar biasa dan berjasa dalam memperkenalkan keislamaan di dunia Barat.

Disaat kaum Syiah mengembangkan tradisi kajian akademik-ilmiah yang luar biasa dahsyatnya, sejumlah kelompok “Sunni ekstrim” dan “Islam pentungan” justru sibuk menyesat-kafirkan Syiah.

Sibuk dengan halal-haram, sibuk dengan diskusi tauhid yang diulang-ulang selama ratusan tahun dan hal-hal lain yang sangat tidak produktif dan tidak bermutu sehigga membuat mereka tampak bebal, “lugu” (lucu dan wagu) bin dungu yang hanya bisa memprovokasi massa dan warga awam dengan “pengajian kebencian,” buku-buku picisan, dan spanduk-spanduk murahan anti-Syiah.[SQ]

Respons Masyarakat Papua terhadap Presiden Jokowi

1

Belum lama ini saya mengadakan “lawatan diskusi” ke Papua, tepatnya di kota Abepura dan Jayapura. Diskusi yang diinisiasi oleh STFT I.S. Kijne dan Sinode GKI (Gereja Kristen Injili) di Tanah Papua ini digelar di Universitas Cenderawasih (Uncen) dan kantor Gubernur Papua di Jayapura. Diskusi ini dihadari oleh ribuan akademisi, birokrat, aparat, mahasiswa, dan tokoh agama (Kristen, Muslim dan lainnya) dari berbagai pelosok Papua, baik yang tinggal di pesisir maupun pedalaman.   

Di sela-sela acara diskusi tersebut, saya sempatkan untuk berbincang-bincang dengan berbagai kalangan dan lapisan masyarakat tentang perkembangan Papua, khususnya sejak beberapa tahun terakhir ini serta pandangan mereka terhadap sosok Presiden Joko Widodo (Jokowi). Menariknya, hampir semua tokoh masyarakat dan warga Papua yang saya temui dan ajak ngobrol, menyatakan atau mengekspresikan rasa hormat dan salutnya terhadap Presiden Jokowi.

Menurut mereka, ada dua Presiden Republik Indonesia yang dihormati oleh–dan menjadi “pujaan hati”–rakyat Papua, yaitu Gus Dur alias KH Abdurrahman Wahid (Presiden RI ke-4) dan Jokowi (Presiden RI ke-7). Tokoh-tokoh Kristen Papua lainnya seperti Pdt. Dr. Sientje Latuputty dan Pdt. Dr. Sostenes Sumihe juga mengakui hal yang sama.

Menurut Ketua Sinode GKI Tanah Papua, Pdt. Andrikus Mofu, Gus Dur dihormati karena sikapnya yang toleran-pluralis terhadap aneka ragam agama dan budaya lokal Papua, selain komitmennya terhadap hak-hak azasi manusia juga lantaran kedekatannya dengan berbagai tokoh agama dan adat setempat. Sedangkan Jokowi dinilai sukses menggaet hati rakyat Papua karena sejumlah hal mendasar berikut ini.

***

Pertama, Jokowi dinilai sebagai sosok Presiden RI yang paling sering mengunjungi Papua dan menyapa berbagai lapisan masyarakat disana. Tidak seperti presiden-presiden sebelumnya, Jokowi memang yang paling sering berkunjung ke Tanah Papua, bukan hanya di kota-kota besar saja seperti umumnya para pressiden sebelumnya tetapi juga ke pelosok-pelosok daerah dan pedalaman (pegunungan) yang sulit dijangkau oleh transportasi publik. Menurut sejumlah orang Papua, presiden Indonesia pada umumnya bernyali “pecek” alias penakut. Ini berbeda dengan Jokowi yang dianggap pemberani menembus belantara Tanah Papua.     

Kedua, Jokowi dianggap sebagai sosok yang merakyat, humanis, dan memiliki kepekaan sosial-kemanusiaan tinggi. Mereka menilai Jokowi sebagai tokoh yang “tidak jaim” dengan rakyat kecil dan rela membaur dan menyatu dengan masyarakat suku di pedalaman tanpa rasa was-was dan curiga. Mereka sangat mengapresiasi terhadap sikap humanis dan merakyat Jokowi saat mengunjungi pelosok-pelosok Papua.

Ketiga, Jokowi dianggap sebagai “the real Presiden Indonesia”, bukan “Presiden Jawa” saja seperti sebelum-sebelumnya. Perhatian Jokowi untuk memajukan daerah-daerah terpencil diluar Jawa di seluruh pelosok Indonesia, membuat ia menjelma menjadi Presiden Indonesia sejati. Berbeda dengan Jokowi, presiden-presiden sebelumya dianggap sebagai Presiden RI hanya dalam tataran “de jure” saja. Sementara de facto-nya adalah “Presiden Jawa”, karena kurang memberi perhatian luas dan serius terhadap pembangunan wilayah dan perkembangan masyarakat diluar Jawa.

Keempat, Jokowi dinilai sukses membangun Papua. Menurut mereka banyak sekali bantuan dan pembangunan infrastruktur dan lainnya guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat Papua yang sudah dan sedang dilakukan oleh Jokowi. Di antara mega proyek yang dilakukan oleh Jokowi adalah pembangunan jalan raya “TransPapua” yang menghubungkan berbagai daerah dan kabupaten terpencil di Papua (Manukwari, Nabire, Wamena, Timika, dlsb) yang menembus belantara hutan, bukit dan gunung.

Proyek pembangunan lain yang tak kalah dahsyatnya yang dilakukan oleh Jokowi adalah pembangunan bandara di berbagai daerah pedalaman / pegunungan sehingga memudahkan akses ke berbagai wilayah terpencil. “Bandara Wamena sekarang sudah bagus sekali. Terima kasih Pak Jokowi,” kata seorang pendeta Wamena yang kebetulan mengikuti acara seminarku. Selama ini, wilayah-wilayah pedalaman atau pegunungan di Papua sama sekali tidak terjangkau karena minimnya sarana transportasi publik. Maka, dengan pembangunan jalan raya dan bandara, memudahkan mobilitas penduduk lokal yang tinggal di daerah-daerah terpencil.

Bukan hanya membangun sarana dan prasarana publik di wilayah pegunungan dan pedalaman saja, Jokowi juga membangun fasilitas publik di wilayah pantai dan pesisiran. Pembagunan pelabuhan dan juga jembatan yang menghubungkan dari pulau ke pulau (seperti “Jembatan Merah” atau Jembatan Holtekamp, sebuah jembatan sepanjang 112,50 meter yang menghubungkan Kota Jayapura dan Kabupaten Keerom hingga ke wilayah perbatasan Papua Nugini) menjadi salah satu prioritas yang dilakukan oleh Jokowi. Jembatan Holtekamp ini menjadi salah satu ikon kebanggaan dan destinasi turisme masyarakat Papua. Dari jembatan ini, pengunjung bisa menikmati indahnya Pulau Youtefa.

Pula, Jokowi juga memprioritaskan pembangunan ketenagalistrikan di seluruh kawasan Papua yang dipusatkan di beberapa daerah utama seperti Jayapura, Raja Ampat, Sorong, Manukwari, Biak, Fakfak, Kaimana, Bintuni, Nabire, Serui, Timika, Merauke, dlsb). Hingga  2019, pemerintah merencanakan pembangunan tenaga listrik dengan total kapasitas 514 megawatt, baik di Provinsi Papua maupun Papua Barat, yang sebagian besar sudah terlaksana sejak 2017 lalu. Pembangunan ketenagalistrikan di Papua ini bagian dari slogan “Energi Berkeadilan” yang diusung oleh Kementerian ESDM di bawah Ignasius Jonan. Dengan terpenuhinya pasokan energi listrik diharapkan ekonomi Papua bisa tumbuh dan dengan demikian kesejahteraan bisa terwujud.

Pembangunan pasar (seperti pasar mama-mama Papua di Jayapura yang sangat megah) juga tidak luput dari perhatian Presiden Jokowi mengingat pasar adalah salah satu tempat utama aktivitas ekonomi dan sirkulasi keuangan warga yang strategis.

Masyarakat Papua juga merasakan murahnya harga-harga bahan bakar minyak (BBM) seperti premium (kini 6,450 per liter) dan solar (kini 5,150 per liter) atau bahan bangunan seperti semen yang tidak jauh berbeda dengan kawasan lain di Indonesia. Sebelumnya, harga BBM di Papua konon berkisar antara 40,000 dan 100,000 per liter. Rendahnya harga BBM tersebut, yang kurang lebih sama dengan di Jawa, terjadi terutama sejak Pertamina memperbaiki sistem distribusi BBM tahun 2016.

Yang tidak kalah pentingnya adalah pembangunan di sektor pendidikan yang merupakan salah satu masalah serius di Papua karena Indeks Pembangunan Manusia (IPM) masyarakat setempat yang sangat rendah, di banding dengan kawasan lain di Indonesia. Rendahnya IPM antara lain disebabkan karena keterbatasan kuantitas dan kualitas tenaga pendidik dan kependidikan serta persoalan penduduk yang masih tersebar dalam kelompok-kelompok kecil berbasis suku atau klan.

Sektor pendidikan mendapat jatah sekurang-kurangnya 30% dari total dana otonomi khusus yang dialokasikan ke Papua, yaitu sekitar 67 triliun (tahun 2017). Pemerintah dengan serius mengoptimalkan pemanfaatan dana otonomi khusus ini untuk menggenjot peningkatan kualitas di sektor pendidikan, bukan hanya pembangunan sarana dan prasarana pendidikan saja tetapi juga menyediakan berbagai bentuk beasiswa pendidikan untuk warga Papua.  

***

Sejumlah akademisi Papua menilai, seriusnya Presiden Jokowi dalam membangun Papua berdampak sangat positif, misalnya pelan tapi pasti image masyarakat Papua terhadap Indonesia mulai berubah dari buruk ke baik, dari negatif ke positif, dari pesimis ke optimis, dan seterusnya. Keseriusan pembangunan di Papua juga dinilai mampu mengurangi ruang-gerak dan membatasi pengaruh gerakan Papua merdeka yang masih bergema di berbagai tempat.

Meskipun perhatian Jokowi terhadap Papua sudah cukup maksimal dan pembangunan di Tanah Papua di era kepemimpinannya juga sudah berlangsung sangat baik, tetapi bukan berarti “masalah Papua” sudah selesai. “Pekerjaan Rumah” untuk Papua masih sangat besar dan membentang lebar.

Di antara PR berat pemerintah pusat adalah meningkatkan citra dan reputasi Indonesia di mata Papua serta mengikis pengaruh gerakan Papua merdeka. Tidak bisa dipungkiri, antusiasme masyarakat Papua untuk merdeka dan pisah dari NKRI masih cukup tinggi dan menggebu-gebu, terutama di kalangan elit dan menengah, akibat selama berpuluh-puluh tahun, terutama di era rezim Suharto, Papua hanya dijadikan sebagai “obyek” belaka yang diperas kekayaannya dan ditindas rakyatnya.

Konflik “masyarakat pantai” (pesisir) dan “masyarakat gunung” (pedalaman) juga sangat tinggi. Masyarakat gunung yang tinggal di pedalaman mengklaim sebagai “penduduk asli” Papua, sementara “masyarakat pantai” dinilai kurang asli dan kurang otentik karena memiliki ciri-ciri fisik yang berbeda dengan “orang gunung” (suku-suku yang tinggal di kawasan pedalaman pegunungan).

Demikian pula, konflik dan ketegangan juga cukup tinggi antara “masyarakat lokal” (“pribumi” atau settler) dan pendatang (kaum migran, terutama orang-orang Buton, Bugis dan Makassar tapi juga Jawa). Jika konflik “orang gunung” dan “orang pantai” biasanya terjadi di dunia birokrasi pemerintahan atau sektor pendidikan, maka konflik antara “kaum settler” (baik yang dari pantai maupun gunung) dan “kaum migran” ini terjadi terutama di sektor perekonomian dan perdagangan.   

Konflik-konflik di atas harus diperhatikan dengan serius dan seksama serta ditangani dengan pendekatan yang bijak, cermat, akurat, dan komprehensif agar Papua yang selama ini dikenal sebagai “surga kecil” itu di kemudian hari tidak berubah menjadi “neraka kecil” dan malapetaka bagi masyarakat Papua. Ambon telah menjadi saksi sejarah yang patut direnungkan bersama. Karena kelengahan mengatasi sumber-sumber konflik di masyarakat, “Ambon Manise” itu kemudian berubah menjadi “Ambon Pahite” yang sangat memilukan dalam sejarah hubungan sosial-kemanusiaan di Indonesia.

Saya tentu saja berharap Papua akan terus menjadi “surga kecil” yang indah dengan aneka ragam budaya, adat-istiadat, agama, dan kekayaan biodiversity-nya. Karena itu, pemerintah Indonesia memiliki tanggung jawab dan kewajiban untuk turut serta merawat keindahan dan keharmonisan Tanah Papua. Presiden Jokowi sudah melakukan dan mencontohkan dengan baik yang idealnya dan seharusnya ditiru dan dicontoh oleh para bawahannya, baik yang di Jakarta lebih-lebih yang di Papua. Semoga bermanfaat.     [SQ]

Jokowi itu Pro, Bukan Anti-Ulama

0

Kritik yang sering dilontarkan oleh kelompok “Jokowiphobia” adalah bahwa Presiden Joko Widodo (Jokowi) itu anti-ulama. Alasan utama yang mereka gunakan untuk mengklaim, menyuarakan, mengkampanyekan atau tepatnya mempropagandakan kalau Jokowi itu pemimpin anti-ulama adalah, antara lain, adanya penangkapan atau pemrosesan hukum sejumlah tokoh Muslim yang terlibat atau menjadi “penggerak utama” aksi massal 212, khususnya tentu saja Rizieq Shihab yang kini ngumpet di Arab Saudi (kini sebagian kasus yang menimpa Rizieq di SP3-kan).

Mereka ditangkap atau diproses secara hukum bukan lantaran menjadi otak aksi 212 yang berjilid-jilid itu tetapi lebih karena yang bersangkutan diduga terlibat berbagai isu dan skandal (seks, penipuan, korupsi, manipulasi), makar atau pendongkelan kekuasaan, ujaran kebencian, atau keterkaitan dengan jaringan terorisme internasional. Slogan “kriminalisasi ulama” yang sering mereka lontarkan antara lain ditujukan untuk Jokowi (selain polisi), yang menurut mereka, telah “mengkriminalkan” ulama (maksudnya Rizieq dkk).   

Tentu saja publik yang waras akan menganggap klaim atau propaganda mereka itu omong kosong belaka. Masyarakat yang berakal sehat sudah mengetahui bahwa apa yang mereka lakukan sejatinya hanyalah “bualan” saja. Tidak lebih, tidak kurang. Tetapi bagi “212 mania” (khususnya kelompok “Jokowi hater” dan “Rizieq lover”), mereka percaya kalau Jokowi itu adalah pemimpin anti-ulama yang telah melakukan kriminalisasi atas ulama.

Padahal, sebenarnya tidak demikian. Jokowi adalah sosok pemimpin yang pro-ulama dan sangat menghormati mereka. Sependek yang saya tahu, Jokowi sangat dekat dengan berbagai kelompok ulama dan tokoh agama.

Jokowi bukan sosok seperti Amangkurat I, putra Sultan Agung, dari Kerajaan Mataram, seorang raja diktator yang bengal dan bengis yang pernah membantai dan membolduzer ribuan ulama karena dianggap membangkang terhadap kekuasaan. Ia juga tidak seperti mendiang Suharto yang pernah antipati terhadap kelompok ulama, khususnya dari kalangan NU, yang bersikap kritis terhadap rezim Orde Baru. 

***

Sebelum saya jelaskan lebih lanjut kedekatan Jokowi dengan para ulama dan kenapa klaim “kriminalisasi” ulama yang dilontarkan oleh kelompok anti-Jokowi itu tidak lebih hanya sebagai ungkapan kosong tak bermakna, saya ingin menjelaskan terlebih dahulu secara singkat kata “ulama” dalam perspektif historis-sosiologis dan bagaimana masyarakat Timur Tengah kini memaknai kata “ulama”.

Secara historis-sosiologis, kata “ulama” (tunggal: “alim”) ini sebetulnya merujuk pada “ilmuwan” yang memiliki keahlian (expertise) di bidang ilmu-ilmu tertentu: eksakta, teknik, sosial, dan sebagainya. Sebutan “ulama” itu bukan hanya untuk ilmuwan Muslim saja tetapi juga non-Muslim. Bukan hanya ilmuwan agamis saja tetapi juga ilmuwan sekuler.

Masyarakat Arab Timur Tengah kontemporer, termasuk murid-murid Saudiku, juga memahami dan memaknai kata “ulama” dalam spektrum yang lebih luas, bukan hanya Muslim yang memiliki spesialisasi di bidang keilmuan keislaman (studi Islam) seperti laiknya dipahami di Indonesia.

Dalam konteks ini maka ungkapan “kriminalisasi ulama” itu sebetulnya sangat rancu, lemah secara konseptual, dan karena itu bisa diperdebatkan atau dipertanyakan lebih lanjut.

Pertama, istilah “kriminalisasi” atau “pengkriminalan” itu mengandaikan bahwa yang bersangkutan tidak terlibat dalam tindakan kriminalitas atau kejahatan yang bisa dijerat secara hukum. Padahal, sejumlah nama yang ditangkap atau dilaporkan ke pihak kepolisian itu jelas-jelas diduga telah melakukan sejumlah kejahatan atau pelanggaran hukum yang bisa dikenai sanksi pidana.

Kedua, apakah betul sejumlah nama yang ditangkap atau dijerat hukum, termasuk Rizieq Shihab, itu memenuhi kualifikasi sebagai seorang “ulama” atau ilmuwan menurut standar resmi keulamaan seperti saya jelaskan diatas?

Ketiga, dalam konteks negara hukum seperti di Indonesia, siapapun bisa dijerat oleh hukum, tak terkecuali ulama atau bahkan presiden dan para penegak hukum sekalipun. Di negara ini, tidak ada yang kebal oleh hukum. Ungkapan “kriminalisasi ulama” mengandaikan kalau ulama itu sosok yang tidak boleh terjerat oleh hukum.

***

Jika mengikuti definisi resmi, penjelasan sosiologi-historis, serta alur argumen dan pengertian masyarakat Arab Timur Tengah tentang “ulama” tersebut, maka Jokowi jelas-jelas sosok presiden yang sangat pro, bukan anti-ulama. Ia bukan hanya dekat dengan spesialis studi agama, para ahli dari kalangan non-Muslim, dan ilmuwan sekuler saja tetapi juga para tokoh Muslim, kaum sufi, pengikut tarekat, kiai tradisional, klerik moderat, sarjana agama, akademisi kampus, dan sebagainya. Hal itu tercermin dari team work dan komposisi orang-orang dan para ahli di pemerintahannya yang sangat warna-warni.   

Dilibatkannya para alim-ulama, akademisi-cendekiawan, dan tokoh Muslim senior dalam struktur pemerintahannya (baik dari faksi NU, Muhammadiyah dan lainnya) seperti Ma’ruf Amin, Said Aqiel Sirodj, Ahmad Syafii Ma’arif, Din Syamsuddin, Mahfud MD, dlsb menunjukkan kedekatannya dengan para ulama, cendekiawan, dan tokoh Muslim. Jokowi juga dikenal dekat dan sangat respek dengan para kiai kharismatik NU seperti Kiai Maimun Zubair, Habib Luthfi bin Yahya, Kiai Mustafa Bisri, dan masih banyak lagi yang tidak mungkin saya sebutkan satu per satu di kolom singkat ini. Ia tampak sering sowan atau mengunjungi berbagai kelompok ulama, klerik, dan kiai sepuh di seluruh pelosok Indonesia.  

Bukan hanya ulama dalam negeri saja, Jokowi juga membangun persahabatan dengan berbagai kalangan ulama dari Luar Negeri, khususnya Timur Tengah, seperti Syaikh Ahmad Muhammad al-Tayeb (Imam Besar Al-Azhar, Mesir) dan Syaikh Abdul Rahman bin Abdul Aziz al-Sudais (Imam Besar Masjid al-Haram, Makah). Presiden Jokowi juga beberapa kali mengorganisir pertemuan dengan berbagai kelompok ulama di dalam dan luar negeri dari berbagai ormas Islam, untuk dimintai pertimbangan dan perspektif tentang membangun keislaman moderat (wasathiyah) dan berkarakter Indonesia.

***

Apa yang dipropagandakan oleh pembenci Jokowi bahwa ia adalah seorang presiden yang anti-ulama yang suka “mengkriminalkan” mereka sama sekali tidak benar, tidak valid, dan tidak akurat, jauh dari fakta-fakta yang terjadi di lapangan. Ungkapan “kriminalisasi ulama” itu hanya omong kosong belaka untuk mengelabui dan menipu masyarakat awam yang bertujuan untuk menggiring opini dan sentimen kebencian publik terhadap Presiden Jokowi. Targetnya tentu saja agar publik Muslim kelak tidak memilih Jokowi yang mereka nilai anti atau pembenci ulama. Bau politik di balik kampanye “Jokowi anti-ulama” itu sangat kental dan menyengat.      

Menciptakan citra negatif atas Jokowi adalah bagian dari strategi, taktik, dan kampanye hitam yang mereka lakukan guna mendulang suara dan dukungan sebagian masyarakat, khususnya masyarakat yang kuper, miskin wawasan, Muslim fanatik buta, dan antipati terhadap Jokowi. Cara-cara kotor dan fitnah itu mereka tempuh karena memang mereka tidak memiliki celah untuk mengkritik kepemimpinan Jokowi. Mereka dengan brutal melakukan propaganda hitam itu juga lantaran selama kepemimpinan Jokowi, mereka tidak mendapatkan jatah kue kekuasaan, disamping kekhawatiran hilangnya pengaruh kaum Islamis dan kelompok Islam radikal di masyarakat.

Masyarakat yang cerdas tentu saja tidak akan mudah terpengaruh oleh propaganda murahan seperti ini. Demikian pula, masyarakat yang berpikiran dewasa akan dengan mudah menilai hubungan baik Presiden Jokowi sebagai representasi umaro atau pemimpin politik dengan para “pemimpin agama”, apapun namanya: ulama, kiai, ajengan, tuan guru, dan lainnya.

Hanya orang-orang yang hatinya penuh dengan kedengkian, kebencian, dan keangkaramurkaan saja yang menganggap Presiden Jokowi sebagai sosok pemimpin yang anti terhadap ulama. Dipilihnya Kiai Ma’ruf Amin sebagai cawapres-nya untuk Pilpres 2019 nanti juga menunjukkan bukti untuk kesekian kalinya bahwa Presiden Jokowi bukan sosok yang antipati terhadap ulama. Semoga bermanfaat. [SQ]

Perempuan-Perempuan Perkasa dalam Sejarah Islam

0

Ada banyak pihak yang menganggap (atau bahkan menuduh) Islam itu tidak memuliakan dan menghargai kaum perempuan. Mereka menilai Islam itu sebagai “agama kejam” yang menempatkan kaum perempuan semata-mata sebagai “objek kekerasan”, baik “kekerasan domestik” (rumah tangga) maupun “kekerasan publik”, baik “kekerasan kultural” maupun “kekerasan struktural” (politik-kekuasaan).

Anggapan ini dibangun dan didasarkan pada sejumlah fakta yang memang sangat miris tentang derita kaum Hawa semasa rezim Taliban, Afganistan, misalnya. Parahnya lagi, ada sejumlah tokoh dan kelompok Islam yang memandang perempuan itu tidak lebih sebagai “makhluk pemuas laki-laki” belaka yang sudah “selayaknya” untuk “ditindas” baik di ranjang maupun diluar ranjang. Dunia bagi sejumlah kelompok “misoginis” adalah milik kaum laki-laki karena itu wajar apabila kaum perempuan itu mundur atau dimundurkan, terbelakang atau diterbelakangkan.

Persepsi, penilaian dan tindakan “miring” terhadap kaum perempuan ini justru bertolak belakang dengan fakta-fakta tentang penghargaan Islam yang luar biasa terhadap kaum perempuan. Ini misalnya dibuktikan dengan munculnya cukup banyak nama perempuan-perempuan Muslimah perkasa dalam sejarah kebudayaan Islam klasik dan pertengahan apalagi era modern. Mereka muncul dengan beragam profesi sebagai ahli hadis, penulis, pendidik, dokter, pustakawati, mistikus, saudagar, ahli hukum, intelektual, sejarawan dan masih banyak lagi.

Nama-nama seperti Aisyah, Al-Shifa bint Abdullah, Umm Darda al-Sughra, Hafsa bint Umar, Sayyida Nafisa, Rabia Basri, Fatimah al-Fihri, Ammat al-Wahid, Fahrun Nisa Shuhdah, Fatimah al-Batayahiyah, Lubna, Zainab bint Umar al-Kindi, dan masih banyak lagi hanyalah sekelumit contoh dari para perempuan perkasa yang memberi sumbangan luar biasa besarnya dalam sejarah dan perkembangan peradaban Islam di berbagai bidang: pendidikan, politik-pemerintahan, keilmuan dan kajian keagamaan dan lain-lain. Mereka menjadi bintang-bintang cemerlang yang bersinar terang di saat Eropa sedang gelap gulita, apalagi Amerika yang baru lahir beberapa abad lalu.

Al-Shifa bint Abdullah misalnya dikenal sebagai perempuan pertama yang memiliki kemampuan menulis di Mekah pada zaman Nabi Muhammad sehingga ia mengajari menulis komunitas Muslim awal dalam sejarah awal Islam, termasuk Hafsah, putri Umar. Bukan hanya itu, ia juga dikenal sebagai seorang “dokter tradisional” yang sangat berjasa mendampingi Nabi Muhammad.

Kemudian Fatimah al-Fihri berjasa dalam mendirikan Masjid Qarawiyyin dan madrasah di Fez, Maroko, pada abad ke-9 M. yang kini menjadi University of Qarawiyyin dan diklaim sebagai universitas tertua di dunia, sementara masjidnya menjadi salah satu yang termegah di Afrika Utara.

Sayang seribu sayang peranan, jasa, dan kontribusi luar biasa dari para perempuan Muslimah perkasa ini lambat laun tenggelam dan “ditenggelamkan” oleh sejumlah kaum lelaki yang sok berkuasa, sok jagoan, sok keminter, sok penentu surga, dan sok-sok yang lain.

Karena monopoli kaum lelakilah (baik monopoli wacana keagamaan maupun monopoli dunia kepolitikan dan kebudayaan), nama-nama hebat kaum perempuan Muslimah menjadi tenggelam dalam limbo sejarah.

Celakanya lagi, banyak kaum perempuan Muslimah kini yang rela “dieksploitasi” dan “dikadali” oleh para ustad karbitan yang rajin mengiming-imingi surga (kalau mau dipoligami dan taat kepada suami) dan menakut-nakuti mereka dengan neraka apabila para istri tidak taat kepada suami-suami mereka. [e]

Tuhan Saja “Santai” Kenapa Kalian Sewot?

0

Kenapa sebagian umat beragama begitu sibuk dan bersemangat mengurusi masalah ritual dan ibadah orang lain? Sebagian lagi sibuk menyesatkan kepercayaan orang lain sementara melupakan kesesatannya sendiri. Sebagian yang lain sibuk mengkafirkan keyakinan orang lain sementara melupakan kekafirannya sendiri.

Kafir-sesat-lurus itu subyektif, bahkan politis. Jika kalian mengklaim orang lain sesat, maka orang lain yang kalian sesatkan itu juga menganggap kalian sesat juga. Jadi, lebih baik kalian urus keamburadulan kalian daripada ngurusi orang lain. Politik juga sering campur tangan dalam urusan sesat-menyesatkan dan seperti biasa agama dijadikan sebagai “stempel” kesesatan itu.

Menurutku, kalian -umat beragama- tidak perlu repot-repot mengurusi tatacara ibadah dan kepercayaan orang lain. Toh kalau kelak mereka masuk neraka, mereka tidak akan mengajak kalian. Kalau kelak kalian masuk surga, kalian juga akan menikmati sendirian, tidak akan berbagi kenikmatan dengan mereka.

Jadi, sekali lagi, untuk apa kalian capek-capek sampai ngamuk-ngamuk “meluruskan” ibadah dan kepercayaan orang lain? Kamu kira Tuhan bahagia dengan sikap beringas kalian? Kalaupun semua orang di muka bumi ini tidak ada yang beribadah dan percaya kepada-Nya pun, Tuhan tidak rugi. Tuhan itu kan “ateis” (karena tidak ada Tuhan yang percaya Tuhan), jadi Dia “tidak petheken” (masalah) dengan orang-orang ateis. Tuhan saja “santai” kenapa kalian yang sewot?

Tugas umat beragama itu sebatas mewartakan (bukan memaksakan) kebenaran, selebihnya diserahkan kepada Tuhan -mau diislamkan kek, dikristenkan kek, diyahudikan kek dan seterusnya. Bukankah begitu? [SQ]

Barat Belajar Al-Quran, Muslim Perlu Belajar Injil

0

Foto ini (kalu tidak salah diposting oleh Islamic Society of North America, kalau keliru tolong dibetulkan) adalah “typical” strategi perjuangan kaum minoritas Muslim di Barat untuk menunjukkan kepada mereka bahwa Islam bukanlah “agama sangar” dan anti-Kristen seperti yang dianggap oleh sebagian masyarakat Barat. Tentu saja akan lebih bagus lagi jika ada komunitas Kristen atau Yahudi yang membuat poster serupa: “I love Islam and Prophet Muhammad because I am a Christian or a Jew,” misalnya.

Sejak peristiwa “terorisme akbar” 9/11 di Amerika, dunia Islam di Barat, AS khususnya, mendapat musibah dan berkah sekaligus. Musibah karena peristiwa terorisme itu telah mengakibatkan Islam menjadi bulan-bulanan di media, komunitas non-Islam dan bahkan di akademia sebagai “agama teror dan kekerasan”.

Hingga kini, kaum zealot anti-Islam masih berkeliaran di Barat bahkan di sejumlah tempat sempat muncul selebaran Ku Klux Klan yang mempropagandakan Islamophobia. Ku Klux Klan adalah organisasi teror dan rasis yang dulu memburu warga kulit hitam untuk dihabisi.

Tetapi tragedi 9/11 itu juga membawa “berkah” tersendiri buat kaum Muslim. Sejak itu, karena penasaran, warga Amerika berbondong-bondong memborong al-Qur’an untuk dipelajari.

Berbagai diskusi tentang keislaman juga marak dan berbagai kampus juga membuka program-program studi Islam (sampai kini tidak hanya di universitas-universitas besar tetapi juga di kampus-kampus kecil) guna mengetahui “jeroan” agama ini. Terlepas apapun motivasi mereka, tentu ini harus diapresiasi.

Anehnya, ketika rezim Bush yang bengal itu membombardir Afghanistan dan Iraq, tidak ada kaum Muslim yang bergairah membeli dan mempelajari Injil, menggelar diskusi-diskusi tentang kekristenan apalagi membuka program-program/jurusan “Christian studies” misalnya atau “kajian Yahudi” dan sebagainya.

Padahal dengan mempelajari khazanah agama dan kebudayaan lain, akan menambah dan memperkaya cakrawala dan wawasan kita tentang “dunia lain” sehingga menjadikan kita lebih matang dan dewasa dalam bermasyarakat, berbangsa, dan beragama.[SQ]

 

Lucunya Cara Berpikir Sebagian Muslim Indonesia

0

Saya perhatikan cara berpikir dan bersikap sebagian kaum Muslim di Indonesia itu “unyu-unyu“. Setiap kali ada gagasan dan tindakan yang progresif, terbuka, toleran, pluralis, dan pro-kemanusiaan serta merta dianggap sebagai “agen Barat”.

Padahal banyak orang-orang Barat yang konservatif, tertutup, intoleran, anti-pluralisme dan anti-kemanusiaan alias “rasis”. Setiap gagasan yang anti-poligami juga dianggap pro-Barat dan pro-kebebasan seks. Padahal komunitas Kristen Mormon di Amerika mempraktekkan poligami. Banyak pula warga Barat yang anti praktek kebebasan seks.

Lucunya lagi setiap mengkritik sejumlah kelompok Islam “ekstrimis” dicap sebagai “agen Barat” dan anti-Islam. Padahal banyak kelompok-kelompok radikal Islam yang justru dikader, dididik, ditraining dan dibiayai oleh agen-agen Barat sejak era “Perang Dingin”.

Untuk membendung kekuatan komunisme Soviet, Amerika, misalnya, (dibantu dengan sejumlah negara kaya Arab Teluk) telah menggelontorkan milyaran dollar untuk melatih para milisi dan jihadis untuk berperang di Afganistan melawan “tentara merah” sejak awal 1980-an.

Bersama tentara Amerika, Abdullah Azzam dan Osama Bin Laden dulu bahu-membahu merekrut milisi Arab untuk “berjihad” di negara yang mendapat sebutan “highway of conquest” ini. Meskipun Azzam dan Osama telah meninggal, kerja sama mereka terus berlanjut hingga kini. ISIS bukan lahir di “ruang hampa” tapi merupakan “anak” hasil “perselingkuhan Barat-Arab”.

Lalu, siapa sebetulnya yang jadi “agen Barat?” “Kaum progresif” atau justru kelompok radikal-ekstrimis itu sendiri?

Untuk menjadi toleran, tidak perlu jauh-jauh ke Barat. Ajaran-ajaran keagamaan banyak mengajarkan tentang itu. Tradisi dan budaya lokal di Indonesia juga melimpah-ruah tentang ajaran-ajaran toleransi. Orang-orang bijak di kampung-kampung juga banyak yang memberi inspirasi tentang sikap toleransi.

 Almarhum ayah saya adalah salah satunya. Beliau meskipun seorang modin, “Muslim Jawa” dan pelopor Islam di kampungnya telah bertahun-tahun hidup dan bersabat dengan seorang guru Kristen yang kebetulan dulu tinggal di gubuk ayah yang sederhana selama tugas mengajar di kampung. Selama bertahun-tahun mereka berbagi makanan, cerita dan kebijakan. Tidak pernah mereka saling mengkristenkan atau mengislamkan.

Keduanya saling menghormati keyakinan masing-masing karena memang masalah keimanan adalah urusan masing-masing individu dengan Tuhannya. Almarhum ayah tidak tahu Barat, tidak paham Bahasa Inggris, TV-pun dulu tidak punya, bahkan tidak pernah mengenyam bangku sekolah formal. Apakah orang-orang kampung seperti almarhum ayahku itu “agen Barat” hanya karena bersikap toleran dengan umat agama lain?[SQ]

Label “Sesat” Itu Subyektif dan Politis

0

Adakah “kesesatan teologis” yang bersifat intrinsik, inherent, dan universal? Saya rasa tidak ada. Label “sesat” itu subyektif dan bahkan sering kali bersifat politis. Anda menganggap orang lain, kelompok lain, atau pemeluk agama lain sebagai “sesat”. Pada saat yang sama, mereka juga menganggap Anda sebagai “sesat”.

Sebagian umat Islam menuduh umat Kristen itu “domba-domba yang tersesat”. Sebagian umat Kristen juga menganggap umat Islam sebagai “onta-onta yang tersesat”. Sebagian umat Katolik menyesatkan kaum Protestan. Demikian pula sebaliknya. Sebagian umat Katolik dan Protestan menyesatkan kelompok Kristen Anabaptis. Begitu pula mungkin sebaliknya.

Sebagian umat Islam atau umat Kristen mungkin menganggap pengikut agama-agama suku sebagai “sesat” bin “kafir” karena “menyembah” batu, pohon, gunung, arwah, dan sebagainya. Tetapi pada saat yang sama, mungkin mereka juga menganggap kaum Muslim dan Kristen sebagai “sesat” dan “kafir” (seandainya mereka mempunyai kosa kata “sesat” dan “kafir”).

 Kita mungkin menganggap mereka aneh dalam beragama dan ritual, tetapi mereka juga memandang kita aneh dalam beragama dan ritual. Kita mungkin menertawakan ritus-ritus mereka, tetapi mungkin mereka juga melakukan hal yang sama.

Sejumlah kelompok Sunni atau Wahabi ada yang menganggap pengikut Syiah atau Ahmadiyah sebagai “sesat”. Tetapi sadarkah kita bahwa mereka juga menganggap kelompok Sunni (apalagi Wahabi) sebagai “sesat”.

Kita boleh saja mengklaim label “sesat” itu mendapat dukungan dan “endorsement” dari Tuhan dan teks suci. Tetapi umat agama lain juga mengklaim hal yang sama. Jadi, label “sesat” itu sangat subyektif sekali.

Oleh karena itu, daripada kita menghabiskan energi untuk saling menyesatkan yang tidak berguna, bukankah akan lebih baik jika kita saling memahami keunikan, keragaman, dan kelebihan agama dan sekte lain?

Daripada saling mengkafir-sesatkan satu sama lainnya, bukankah akan lebih mulia dan bermartabat kalau kita menyikapi kemajemukan agama dan aliran keagamaan itu dengan sikap toleran dan saling menghormati?

Daripada saling menyesatkan dan mengorek-orek “kelemahan teologis” umat lain, bukankah akan lebih bijak kalau kita introspeksi dan “mengevaluasi” kelemahan dan kekurangan konsep-konsep teologi kita?

Daripada sibuk mengkafir-sesatkan umat agama/sekte lain, bukankah akan jauh lebih produktif dan bermanfaat jika kita “menggauli” dan menggandeng mereka untuk melakukan kerja-kerja bersama demi kemaslahatan, keadilan, dan kemakmuran bersama? [SQ]

Imajinasi Tentang Surga dan Neraka

0

Seperti apakah dunia pasca kematian? Tidak ada orang yang tahu persis seperti apa wujudnya. Agama hanyalah “meraba-raba” gambaran dunia akhirat. Ilmu pengetahuan juga sama. Kaum teolog hanya “mencandra” keberadaannya. Para agamawan juga sebatas “menerka-nerka”. Sementara para ilmuwan, baik kaum teis maupun ateis, hanya bisa berteori. Ada yang mempercayai “reinkarnasi” dan “kedamaian abadi”. Ada pula yang meyakini “realitas” surga-neraka seperti agama-agama Semit.

Tapi semua konsep “dunia pasca kematian” dari para agamawan maupun kaum sekuler hanyalah “imajinasi pemikiran” dan “tafsir kultural” belaka. Bahkan dalam batas tertentu “bias gender”.

Coba kalian simak baik-baik gambaran surga agama-agama Semit, Islam khususnya, yang mengonsepkan surga seperti taman rindang penuh bidadari dengan aliran sungai yang sejuk. Konsep ini seperti sebuah “imajinasi” para penduduk (laki-laki) gurun padang pasir yang panas, gersang dan kering-kerontang sehigga mendambakan suasana yang adem, sejuk, rindang dan banyak gadis-gadis cantik.

Pernahkah kalian membayangkan bagaimana jika orang-orang Eskimo atau Suku Inuit di kutub utara merumuskun sebuah “surga”? Bagaimana kira-kira gambaran tentang surga bagi Suku Aztec di Benua Amerika atau Suku Kalahari di Afrika?

Apapun “realitas” dunia pasca kematian, tentu saja kalian (sebagaimana saya) boleh meyakini sedalam-dalamnya gambaran surga-neraka di alam akhirat nanti. Tetapi janganlah kita memaksakan (apalagi melalui cara-cara kekerasan) keyakinan kita itu kepada orang lain, agama lain, komunitas lain. Apalagi dibumbui dengan olok-olok terhadap konsep “dunia pasca kematian” kelompok lain.

Tindakan ini hanyalah mengantarkan kita pada “kesombongan teologis” yang tidak ada manfaatnya. Semua konsep ada batasnya. Agama hanyalah perantara. Hanya Tuhan yang tak berbatas dan Maha Tahu dunia-Nya. Jika manusia berbuat kebaikan di dunia ini, saya yakin pasti ada “balasan” di akhirat kelak, tidak penting apa dalam bentuk surga atau lainnya. Begitu pula sebaliknya. [e]

Ikutilah Sunah Nabi Muhammad, Bukan Sunah Abu Jahal

0

Menganggap dunia Arab sebagai “dunia Islam” adalah sama konyolnya dengan menganggap dunia Barat sebagai “dunia Kristen”. Sebagaimana Barat yang multikultural dan multiagama, Arab juga sama.

Dari 22 negara-negara Arab yang dicatat oleh Liga Arab: dari Arab Saudi sampai Djibouti yang kecil-mungil tidak ada satupun yang dihuni hanya oleh “etnik Arab” apalagi “Muslim Arab”. Ada berbagai suku, sub-suku, etnik, klan dan sub-klan: Assyria, Kurdi, Berber, Azeri, Mandaean, Circassia, dan lain-lain. Orang-orang Arab juga memeluk berbagai agama sehingga ada Arab Muslim, Arab Kristen, Arab Yahudi, Arab Druze, Arab Yazidi dan sebagainya.

Murid Saudi-ku, Ahmad Al-Ghahaity, yang mengaku “pensiunan Wahabi” tertawa lebar ketika saya bilang bahwa mayoritas masyarakat Indonesia dan juga Asia Tenggara pada umumnya itu menganggap Arab sama dengan Muslim. Dia juga heran kenapa banyak orang-orang di Malaysia dan Indonesia yang memakai jubah ala Arab atau Saudi. “Pakaian ini kan budaya kami, kenapa mereka ikut-ikutan?”, cetusnya penuh selidik.

Jika hendak meniru Nabi Muhammad, maka tirulah akhlak dan perilakunya, bukan jubahnya, bukan jenggotnya, bukan cara makannya dan hal-ikhwal yang remeh-temeh lainnya. Sebab akhlak dan perilaku itulah yang membedakan antara Nabi Muhammad dan para penjahat Arab seperti Abu Jahal.

Apalah artinya memakai jubah panjang dan berjenggot lebat jika akhlak dan perilakunya seperti Abu Jahal? Alih-alih hendak melakukan Sunah Nabi Muhammad, malah Anda ini terjerumus ke dalam “Sunah Abu Jahal”.[SQ]

Relativisme Diterapkan Pada Budaya Beragam

0

Masalah saling membid’ahkan dan menyesatkan atau saling klaim kebenaran dan keotentikan bukan hanya monopoli Sunni dan Syiah saja, tapi hampir terjadi di semua kelompok masyarakat, baik masyarakat berbasis agama maupun non-agama. Simak saja misalnya perseteruan antara Suku Etoro dan Suku Marind-anim di Papua Nugini. Kedua suku ini plus sekitar 50 suku lain di dataran tinggi negara tersebut adalah “suku-suku homoseksual” (oleh Gilbert Herdt disebut “ritualized homosexuality“) yang menganggap praktek “heteroseksual” sebagai tidak bermoral, aneh dan “biadab”.

Berhubungan seks dengan kaum perempuan dianggap membawa petaka. Perempuan dianggap sebagai mahluk yang kotor dan najis karena itu tidak boleh “digauli” kecuali “sementara saja” untuk kepentingan reproduksi.

Suku-suku ini hanya membolehkan laki-laki berhubungan badan dengan perempuan selama 100 hari saja dalam setiap tahunnya. Karena menganggap perempuan sebagai “berpolusi”, mereka pun tinggal mengelompok sendiri-sendiri: laki-laki dengan laki-laki, perempuan dengan perempuan.

Meski sama-sama homoseksual, Suku Etoro dan Suku Marind-anim berbeda orientasi seksnya. Suku Etoro lebih suka “oral seks” sesama laki-laki (tua-muda), sementara Suku Marind-anim mempraktekkan “seks jalan belakang” (“anal sex”). Menariknya, kedua suku ini saling mengklaim praktek seksual sukunya sebagai yang “paling otentik” dan “paling normal” sementara menuduh dan menyesatkan praktek seksual lawan sukunya sebagai: menjijikkan dan abnormal.

Baik Sunni maupun Syiah, Suku Etoro maupun Suku Marind-anim (dan juga kelompok-kelompok lain di jagat ini termasuk faksi-faksi dalam Kristen: Katolik, Protestan, Anabaptis, Pentakostal dan lain-lain) sama-sama mengidap semacam “penyakit etnosentris”. Yakni, pandangan yang merasa kelompoknyalah yang paling superior, paling oke, paling benar, paling murni dan konsekuen dan sebagainya.

Klaim-klaim itu terjadi karena mereka mengevaluasi, memandang, mengukur dan menilai kelompok lain dari “kacamata” kelompoknya, bukan dari “kacamata” kelompok yang mereka evaluasi, pandang, ukur dan nilai itu. Padahal, kelompok yang kita pandang sesat juga memandang kita sebagai sesat. Kelompok yang kita pandang sebagai “gila” itu juga memandang kita sebagai “gila”.

Inilah perlunya menerapkan “relativisme budaya” (pandangan yang memandang kelompok lain dari konteks kebudayaan orang lain itu) dalam menyikapi keanekaragaman suku-bangsa, agama dan kebudayaan, agar bisa meminimalisir kekerasan yang berakar dari perbedaan. Jangan suka menuduh orang lain sebagai ‘kafir” salah-salah malah kita sendiri yang terperangkap dalam kekafiran. [SQ]

Bila Ilmu Disikapi dengan Iman

0

Dari waktu ke waktu saya perhatikan orang-orang yang hobi memaki-maki dan mengkafir-sesatkan saya karena sejumlah tulisanku di buku, artikel jurnal, kolom media, atau postingan Facebook karena mereka menyikapi keilmuan dengan keimanan. Oleh karena itu sering kali tidak nyambung dan bawaannya marah-marah melulu dan akhirnya menuduh sana-sini, menghakimi ini-itu.

Kritik atas wacana keagamaan dianggap menghina agama. Menyajikan fakta empiris dinilai melecehkan dogma. Mendiskusikan sejarah dan tradisi keagamaan dipandang melawan kehendak Tuhan. Mengkritik pandangan dan tindakan sejumlah kelompok ekstremis Muslim dituduh menghina Islam. Menjelaskan tentang keragaman tafsir teks-teks keislaman dituduh “kesurupan” ideologi sekuler Barat.

Menghadirkan fakta-fakta sejarah harmoni Muslim-non-Muslim dinilai mengada-ada. Ngomong tentang penyerapan Islam terhadap tradisi dan kebudayaan non-Muslim dituduh menghina Nabi Muhammad. Menulis tentang toleransi dan pluralisme agama dianggap “agen remason” (eh salah, freemasonry) dan antek “Wahyudi-Mamarika” (baca, Yahudi-Amerika). Begitu seterusnya.

Itulah dampak dari umat beragama yang “terlalu beriman” tetapi “kurang berilmu”. Padahal dalam Islam, ada segunung ayat, hadis, dan teks-teks keislaman serta praktek kenabian yang menjelaskan tentang pentingnya mengoptimalkan akal-pikiran untuk menyikapi problem kemanusiaan, perkembangan zaman, dan menyingkap aneka misteri atau tabir alam ciptaan Tuhan yang luar biasa ini.

Karena akal dan pengetahuanlah, dulu umat Islam mampu menjadi “kampium dunia” dalam hal keilmuan, peradaban, dan kebudayaan. Jauh sebelum munculnya sarjana-sarjana beken Barat, Islam telah melahirkan para ilmuwan hebat yang karya-karyanya bisa kita saksikan hingga dewasa ini.

Berpikir memang sulit (apalagi berpikir secara kritis dan akademik) karena itu banyak orang lebih suka mengkafirkan, mengfitnah, menuduh, menghakimi, dan menyumpahserapahi orang lain. Jika Anda menemui orang-orang yang hobinya seperti ini, maka bisa dipastikan mereka bukan dari golongan orang-orang yang berfikir.

Yuk, mari kita perbanyak berfikir, jangan cuma “berzikir,” supaya bisa memahami dan menikmati segala ciptaan dan anugerah Tuhan. Sayang kan sudah dikaruniai otak oleh Tuhan kok gak pernah dipakai, mubazir atuh. (SQ)