Beranda blog Halaman 18

Toilet, Perempuan, dan “Pergantian Identitas”

0

Suatu hari saya nongkrong di luar area toilet di bandara Doha, Qatar, sambil menunggu anak-istri yang sedang “ada urusan” di dalam sana. Pada waktu menunggu itu, saya perhatikan banyak perempuan Arab yang berbusana lain sebelum dan sesudah dari toilet.

Sebelum masuk restroom, mereka memakai “busana trendi” ala Barat, tak berjilbab, tanpa kerudung penutup rambut. Ada pula yang mengenakan celana jeans, bahkan tidak sedikit yang cukup “feminin” seperti laiknya “perempuan modern” dewasa ini. Ada juga yang “berbusana minim” yang aduhai. Uniknya, setelah dari toilet, mereka semua berubah “bim salabim” memakai hijab dan abaya atau “jilbab gelombor” dengan warna dominan hitam khas Saudi dan Qatar. Ada pula yang tiba-tiba bercadar dengan niqab.

Rupanya, toilet telah menjadi salah satu tempat favorit “pergantian identitas” seseorang. Manusia itu memang cerdik, “simbolis” dan “politis”. Identitas juga bukan sesuatu yang “solid” dan kaku-njeku tanpa perubahan, melainkan selalu “fluid“, fleksibel alias “lentur-tur” mengikuti kondisi, situasi dan perubahan zaman. Sejumlah muridku juga menuturkan kalau sedang liburan keluarga di luar Saudi (khususnya Dubai, UEA, yang dianggap sebagai “Los Angeles”-nya Arab dan Timur Tengah) apalagi di negara-negara Barat, kaum perempuannya juga banyak yang tidak berhijab.

Sebab itu, keliru besar dan sering tertipu, jika kita menilai seseorang hanya dari -atau berdasar pada- tampilan busana luar. [SQ]

Di Balik Pakaian Gamis, Mereka Penikmat Hiburan Kelas Wahid

0

Having a (free) dinner with my colleagues untuk menandai akhir semester. Sayang tidak semua kolega bisa ikut. Malam itu saya memilih menu Mexican salads dan grilled salmon. Saudi, seperti negara-negara di kawasan Teluk lain (seperti Bahrain, UEA, Kuwait, Qatar) adalah “rumah” bagi aneka restoran Barat.

Tidak hanya itu, negara ini juga menjadi tempat subur berbagai perusahaan asing, khususnya Amerika Serikat. Di mana-mana sangat mudah dijumpai perusahaan, hotel, bank, atau restoran-restoran Barat yang mewah. Kapitalisme, industrialisme dan hedonisme tumbuh subur disini.

Dilihat dari segi doktrin keagamaan, Wahabi ini mirip dengan Protestantisme yang sama-sama menekankan pada semangat purifikasi ajaran. Tetapi tidak seperti etika dan etos kerja Protestan yang turut memberi kontribusi pada spirit kapitalisme (itu pun kalau ajaran Max Weber benar), perkembangan-perkembangan industri dan modernisasi yang pesat di Saudi bukan didorong oleh etika -apalagi etos kerja- Wahabi.

Saya melihat doktrin Wahabi yang sangat ketat dari sisi teologi dan agama menimbulkan “kebosanan” dan “kejenuhan hidup” warga Saudi. Akibatnya mereka mencari sesuatu yang bisa dijadikan sebagai “kanal” untuk melepaskan kebosanan itu. Maka, gaya hidup hedonis dan materialistik menjadi pilihan yang tak terelakkan.

Bahrain, tetangga Saudi, adalah salah satu “kanal” tadi. Di negara kecil ini, Anda akan menjumpai aneka hiburan dari resto-resto yang enak sampai klub-klub malam. Setiap weekend, jalan-jalan Saudi menuju Bahrain selalu macet persis seperti jalan-jalan menuju Puncak Bogor. Di balik pakaian-pakaian gamis, masyarakat Arab sebetulnya adalah penikmat hiburan kelas wahid. Di mana-mana manusia, termasuk saya, apapun agama dan pandangan keagamaan mereka, memang membutuhkan hiburan. [SQ]

Jamuan ala Saudi

0

Ya, salah satu adat lokal Saudi yang diwariskan secara turun-temurun sejak zaman masyarakat Badui adalah menjamu tamu (baca buku Margeret Nydell’s Understanding Arabs). Saya pun pernah dijamu oleh keluarga Muhammad Shalah al-Sa’ad di kebunnya yang rindang yang dipenuhi pohon kurma di daerah Ahsa.

Biasanya warga Saudi yang mampu, mereka mempunyai kebun luas yang juga didesain untuk tempat istirahat dan bersantai bersama keluarga dan handai tolan. Mereka bangun rumah-rumah sederhana di kebun ini sebagai tempat untuk refreshing atau makan-makan / pesta kecil-kecilan bersama kerabat.

Waktu itu kami menikmati hidangan “madi” ala Saudi. Ada sejumlah hidangan makan populer di Saudi. Selain, madi, juga ada nasi kabsah dan biryani. Untuk membuat masakan supaya sedap dan enak, maka cara memasaknya harus “ditanam” di tanah setelah dibungkus terlebih dulu dalam daun tertentu dan dimasukkan ke dalam kuali.

Setelah beberapa saat lamanya, makanan siap dihidangkan: nasi dicampur dengan daging (biasanya daging domba atau ayam) plus rempah-rempah. Memang luar-biasa rasanya. Cara makannya dengan jari sambil duduk bersila persis seperti acara kondangan atau selametan di kampung-kampung jaman dulu. Sayangnya sekarang sudah susah didapat sekarang ini.

Di kebun itu, selain dipenuhi aneka tumbuhan, juga ternak, khususnya sapi dan domba. Bagi warga Saudi, memiliki kebun atau farm yang hijau adalah “sesuatu banget” di tengah cuaca yang super-panas.

 Kebun ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat “rekreasi saja” atau sekedar ngumpul bersama keluarga dan handai-tolan tetapi juga tempat untuk mendiskusikan hal-ihwal yang berkaitan dengan masalah keseharian mereka.

 Di manapun manusia berada, mereka selalu menciptakan ruang-ruang untuk pertemuan, bercengkerama, dan bertukar pikiran tentang segala sesuatu. [SQ]

Pentingnya Niqab Bagi Perempuan Arab

0

Saya dulu memandang niqab atau burqa sebagai lambang konservatisme agama. Tetapi setelah tinggal beberapa lama di Saudi, saya merasa perlu perempuan di Arab untuk memakai niqab (kain penutup wajah) di publik dengan sejumlah pertimbangan:

Pertama, Arab adalah padang pasir. Udara jauh dari bersih karena debu bertebaran di mana-mana. Bahkan sering terjadi badai pasir yang bikin sesak nafas dan kotor ruangan jika tidak dirawat secara ketat. Dalam konteks geografi Arab yang seperti ini, maka memakai niqab adalah pas dan efisien ketimbang beli masker setiap hari.

Kedua, perempuan Arab itu, subhanallah, cakep-cakep (tentu saja ada pengecualian di sana-sini). Dengan memakai niqab, maka akan mengurangi “kekacauan sosial” di ruang publik karena laki-laki tidak akan melirik mereka (emang apanya yang mau dilirik?). Lagi-lagi, dalam konteks budaya Arab yang sangat patriakhi , maka memaki niqab di publik sangat perlu. Seandainya masyarakat Arab adalah matriarkhi, mungkin kaum lelaki yang memakai niqab.

Meski begitu perlu dicatat pengunaan niqab bukanlah “diciptakan” Islam. Jauh sebelum Islam lahir, sejumlah masyarakat kuno Bizantium, Arab, Mesir, Persia, Yunani, Canaan dan sebagainya sudah mempraktekkan tradisi berniqab ini. Jadi, silakan mau berniqab atau tidak adalah sebuah pilihan hidup yang perlu dihormati. Memaksa perempuan untuk berniqab atau berhijab sama saja dengan memaksa perempuan untuk tidak berniqab atau tidak berhijab: keduanya sama-sama memaksa. [SQ]

Hedonisme Bangsa Arab

0

Budaya hedonisme dan kecintaan terhadap material dan hal-ikhwal duniawiyah itu tidak mengenal agama dan aliran: kaum agama dan sekuler, kaum moderat dan konservatif, kaum berjenggot dan berkumis, kaum berjubah dan berjins semua berpotensi menjadi kaum hedonis.

Sebuah survei yang dirilis oleh Arab News beberapa waktu lalu, misalnya, menujukkan bahwa hampir 90 persen warga Arab Teluk, termasuk Saudi, hobi menghambur-hamburkan uang untuk berbelanja barang-barang mewah (mobil, perhiasan), pakaian-pakaian bermerk, gadget-gadget teranyar, plesiran ke luar negeri, pesta-pesta besar dan sebagainya.

Makanya Anda jangan heran kalau melihat mall-mall megah berhamburan di kawasan ini dan para pebisnis (termasuk orang-orang Barat) mendulang banyak untung di sini karena “kultur” mereka yang hobi belanja dan “ngemol”.

Karena uang gaji dirasa tidak cukup untuk berhepi-hepi, mereka pun berlomba-lomba pinjam uang ke bank. Mereka juga dikenal royal tanpa kontrol dalam memakai kartu kredit. Tidak ada bunga bank karena haram jadi enak kalau mau pinjam uang di sini. Namun problemnya adalah mereka tidak mau (atau mungkin tidak tahu?) menggunakan uang pinjaman bank itu “secara bijak” untuk kebutuhan-kebutuhan yang mendasar. Sebaliknya, mereka gunakan uang hasil ngutang bank itu untuk berfoya-foya tadi. Akibatnya banyak warga di sini yang terjerat utang bank.

Hal lain yang ditunjukkan dalam survei tadi adalah: mayoritas warga Arab (sekitar 89 persen) tidak mau berhemat dan menabung untuk masa depan mereka dan anak-cucu mereka. Pemandangan ini kontras dengan warga migran (dari India, Pakistan, Bangladesh, Filipina, dan lain-lain) yang banyak sekali di area ini yang meskipun berpenghasilan kecil tidak seperti majikan-majikan mereka, tapi gemar menabung dan mengirim uang itu ke keluarga di negara-negara mereka baik untuk keperluan sekolah anak-anak, kebutuhan keluarga, nyicil rumah, beli properti ini-itu dan sebagainya.

Jadi, apapun “jenis keislaman” dan pandangan keagamaan warga Arab, seleranya tetap sama: belanja dan plesir. [SQ]

Saudi: Negeri Kaum Lelaki

0

Sebutan Saudi sebagai “negeri kaum lelaki” ada benarnya. Dimana-mana aktivitas banyak didominasi oleh para pria termasuk di pasar tradisional. Belum lama ini saya jalan-jalan ke sebuah pasar tradisional di sebuah kota di Provinsi Asy Sharqiyah. Nama pasar itu adalah “Pasar Rebo” karena konon hanya tiap hari Rabu saja saja pasar tradisional itu ada. Jika bukan hari Rabu, maka tempat itu merupakan hamparan kosong melompong.  Kontras dengan di Indonesia, hampir sebagian besar “penghuni” pasar ini, baik penjual maupun pembeli, semua laki-laki.

Aneka barang dagangan dijajakan di pasar ini: sayuran, buah-buahan, pakaian, burung, ayam, cemilan, minuman dan sebagainya. Saya juga melihat ada yang jualan “indomie” (ah indomie, jangankan di bumi, di planet mars juga ada kali). Ada juga segelintir kaum perempuan yang jualan barang-barang kerajinan rumah tangga tapi ya itu “segelintir”.

Bukan hanya di pasar tradisional saja sebetulnya tetapi juga di pusat-pusat perbelanjaan “supermarket”, banyak laki-laki yang mendorong troli belanjaan. Lantaran sudah terbiasa dengan “jual-beli” di pasar, konon laki-laki lebih hafal harga-harga cabe, sayur-mayur, dan lauk-pauk ketimbang perempuan.

Menurut sejumlah informan, ada beberapa alasan kenapa Laki-laki yang belanja bukan perempuan. Alasan pertama konon supaya lebih ngirit dan efisien. Kalau laki-laki yang belanja, mereka “to the point” seperti apa yang mereka catat di rumah. Kebutuhan-kebutuhan yang mereka catat di rumah sebelum belanja itulah yang mereka beli. Sementara kalau perempuan yang belanja, mereka biasa beli ini-itu atau barang-barang yang tidak dicatat dalam “daftar belanja”. Singkatnya, kalau perempuan yang belanja akan boros. Alasan berikutnya konon untuk “memanjakan” istri supaya tidak capek-capek belanja.

Pekerjaan memang tidak memiliki jenis kelamin, jadi secara teori siapa saja bisa melakukan apa saja. Tetapi dalam perkembangannya, manusialah yang menciptakan “jenis kelamin” pekerjaan itu sehingga ada sejumlah “aktivitas lelaki” dan “aktivitas perempuan”. Penciptaan “division of labor” itu ada yang dilatarbelakangani faktor sosial-politik-ekonomi tetapi ada juga yang dilandasi oleh ajaran-ajaran normatif agama. [SQ]

Budaya Barat dan Budaya Arab Yang Dibenci

0

Suatu saat saya mengadakan “simulasi” mahasiswaku yang 99,99 persen beretnik Arab tentang “kebudayaan Barat” dan “kebudayaan Arab” yang mereka tidak sukai.

“Budaya Barat” yang tidak disenangi oleh para mahasiswa antara lain adalah free sex, kawin sesama jenis, “budaya telanjang” bagi perempuan dan sebagainya -sesuatu yang sebetulnya sudah lumrah kita dengar. Lalu, apa watak dan “budaya Arab” yang mereka benci? Mereka tulis: rasisme, tribalisme, fanatisisme, etnosentrisme, kekerasan, kecerobohan mengemudi, hedonisme dan sebagainya.

Saya kemudian tanya: “Apakah itu sesuai dengan nilai-nilai Islam?” Mereka jawab: “Tidak”. Saya tanya lagi ke mereka: “Lalu apakah umat Islam berhasil menyelesaikan “watak dan budaya Arab” yang Anda tidak sukai ini? Dengan serentak mereka jawab: “Tidakkkk…”

Jawaban mereka itu, bagi saya adalah sebuah cermin bahwa sistem sosial-politik-ekonomi apapun, “sistem Islam” sekalipun, bukan jaminan bahwa persoalan-persoalan sosial akut di masyarakat bisa diselesaikan karena memang semua tergantung pada kualitas manusianya, bukan “relijiusitas” sistem politik-pemerintahannya. [SQ]

Mahar, Poligami, dan Nikah Lintas Sekte

0

Pemerintah Saudi menetapkan ketentuan baru tentang mahar atau “mas kawin” yang “lebih murah” sebesar SR50,000 (sekitar Rp. 190 juta) untuk gadis dan SR30,000 untuk janda. Peraturan baru ini konon untuk menurunkan jumlah, maaf, “perawan tua”. Peraturan ini bersifat imbauan bukan perintah karena “sistem mahar” tidak dipungut lewat pemerintah.

Di Saudi tercatat ada sekitar 4 juta perempuan dewasa yang belum menikah, angka yang sangat besar untuk ukuran negara-kerajaan ini. Penyebab utamanya, antara lain, karena rumitnya masalah perkawinan, mahalnya mahar dan biaya perkawinan termasuk sewa gedung dan pesta yang sangat mahal sekali.

Tidak heran jika banyak kaum muda Saudi yang tidak kawin-kawin (maksudku “nikah-nikah”) sehingga menyebabkan melonjaknya angka pertumbuhan “perawan tua” tadi. Karena itu meskipun poligami secara teori dihalalkan, realitasnya sulit dijalankan. Kaum muda Saudi yang saya tanya tentang poligami selalu menjawab: “Satu saja belum dan susah dapat apalagi empat.”

Secara teori, poligami memang menguntungkan orang kaya / mapan secara ekonomi.

Hal lain yang cukup menarik karena mahalnya biaya pernikahan ini, banyak pula yang memakai “cara budaya”, yakni melakukan kawin-mawin dengan siapa saja yang bersedia menurunkan standar mahar dan ongkos perkawinan.

Dalam hal ini, mahar perempuan Syiah konon lebih murah karena itu jangan heran jika kawin-mawin Sunni-Syiah sudah lumrah di sejumlah daerah. Menurut pengakuan warga Saudi, ada banyak suku, klan, sub-klan atau bahkan keluarga yang terdiri dari dua Sunni dan Syiah. Ternyata perkawinan bisa menyatukan Sunni-Syiah, meskipun kadang sejumlah tokoh agama dan politik berusaha memisahkan mereka.[SQ]

Ada Barat di Dunia Arab

0

Saya melihat hubungan antara Arab (khususnya Arab Teluk), Barat (khususnya Amerika) dan Indonesia (khususnya yang pro-Arab) itu unik, menarik dan lucu. Negara-negara Arab, khususnya Teluk itu “sangat Barat” dan jelas-jelas pro-Amerika (dan Eropa). Hampir semua produk-produk Barat dari yang ecek-ecek (semacam restoran fast foods) sampai yang berkelas dan bermerk untuk kalangan berduit, semua ada di kawasan ini. Mall-mall megah dibangun, antara lain, untuk menampung produk-produk Barat tadi. Warga Arab menjadi konsumen setia karena memang mereka hobi shopping (selain sembahyang dan membangun masjid).

Orang-orang Barat juga mendapat “perlakuan spesial” disini, khususnya yang bekerja di sektor industri (gaji tinggi, fasilitas melimpah). Mayoritas orang-orang Arab juga sangat hormat dan inferior dengan orang-orang Barat. Saya sering jalan bareng bersama “kolega bule”-ku ke tempat pameran dan sebagainya, dan mereka sering, kalau bukan selalu, menganggap saya adalah “jongosnya”.

Bagi orang-orang Arab, non-bule darimanapun asalnya apapun agama mereka (Islam kek, Kristen kek) adalah “kelas buruh” sementara orang bule -sekere dan sebego apapun mereka, beragama atau tidak beragama—semua dianggap “kelas elit”. Mereka baru menaruh rasa hormat, kalau sudah tahu “siapa kita”.

Sejumlah universitas-universitas beken di Amerika juga membuka cabang di Arab Teluk, selain Saudi, (Georgetown University, New York Univ, Texas A & M, Carnegie Melon Univ, dan lain-lain). Di bawah bendera King Abdullah Scholarship, Saudi telah mengirim lebih dari 150 ribu warganya untuk belajar di kampus-kampus Barat, khususnya Amerika, Kanada dan Eropa (juga Australia). Tidak ada satu pun yang disuruh belajar ke Indonesia!! Sementara (sebagian) warga Indonesia memimpikan belajar di Arab.

Lucunya, para fans Arab di Indonesia, mereka mati-matian meng-tuan-kan Arab, sementara Arab sendiri tidak “menggubris” mereka. Para “cheerleaders” Arab ini juga mati-matian anti-Barat padahal orang-orang Arab mati-matian membela Barat. Saya bukan anti-Arab atau anti-Barat karena teman-teman baikku banyak sekali dari “dua dunia” ini. Saya juga bukan pro-Arab atau pro-Barat. Saya adalah saya yang tetap orang kampung Jawa. Daripada “menjadi Arab” atau “menjadi Barat”, akan lebih baik jika kita menjadi “diri kita sendiri” yang tetap menghargai warisan tradisi dan kebudayaan leluhur kita. [SQ]

Bukan Mustahil Arab Jadi Toleran, Indonesia Intoleran

0

Belum lama ini saya mengadakan survei dengan responden para mahasiswaku (sekitar 100 mahasiswa) yang mayoritas beretnik Arab dan warga Saudi. Survei ini bersifat “confidential” (rahasia) dan identitas mahasiswa tidak diketahui.

Salah satu pertanyaan dalam survei adalah: “Agar lebih Islami, apakah masyarakat Muslim non-Arab harus meniru dan mencontoh masyarakat Arab dan menjalankan kebudayaan mereka?” Jawaban mereka, sekitar 60 persen bilang “tidak”, 12 persen bilang “ya”. Selebihnya, “mungkin” dan “tidak tahu”.

Saya tidak tahu secara pasti apakah jawaban mereka itu ada kaitannya dengan “doktrin-doktrin” pentingnya menghargai pluralitas budaya, agama dan masyarakat yang selama ini saya “ajarkan” di kelas atau mungkin karena pengaruh pendidikan yang semakin meningkat atau karena gelombang modernisasi dan “internetisasi” yang mewabah di kawasan Arab.

Apapun faktor-faktornya, yang jelas hasil survei ini sedikit menggembirakan (setidaknya buatku), meskipun masih banyak tantangan cukup besar menghadang di depan mata. Bukan suatu hal yang mustahal jika kelak kaum Muslim Arab dan Saudi khususnya bisa menjadi lebih maju, terbuka dan toleran. Dan bukan suatu hal yang mustahal pula jika kelak kaum Muslim Indonesia justru “nyungsep” menjadi umat yang bebal, tertutup dan intoleran.

Di saat masyarakat Arab mulai lelah dengan konflik dan kekerasan serta mulai menyadari pentingnya keragaman dan hidup bertoleransi, sejumlah kaum Muslim di Indonesia justru menjadi umat intoleran dan anti-kemajemukan. [SQ]

Perempuan Arab dan Mall

0

Sejak pertama kali menginjakkan kaki di Saudi, saya penasaran dimana sebenarnya tempat berkumpulnya kaum perempuan. Selain di rumah tentu saja, tempat ngumpul favorit mereka ternyata di mall. Mall-mall yang didesain dengan mewah ala Barat, selalu dijejali dengan kaum hawa. Di tempat inilah mereka makan, ngrumpi dan belanja tentunya.

Seorang teman Saudi saya bilang, “Di mana-mana perempuan itu sama: suka nge-mall dan shopping. Apapun pakaian yang mereka pakai, apapun agama mereka”. Sambil terkekeh dia bilang, “Kelak di akhirat pun, kaum perempuan lebih suka tinggal di neraka daripada di surga karena di surga sepi dan membosankan sementara di neraka ramai banyak mall.’’

Ia tentu saja sedang bergurau, tetapi yang ia maksud adalah kecenderungan “ngemol” bukan hanya monopoli perempuan non-Arab. Kaum perempuan Arab yang oleh orang luar dianggap “tidak gaul” dan “perempuan rumahan” ternyata keliru karena mereka juga hobi “ngemol”. [SQ]

Gagal Paham Tentang Saudi

0

“Kuliah virtual” singkat kali ini mengenai sejumlah kesalahpahaman masyarakat luar non-Arab tentang Saudi. Banyak orang, baik di Barat maupun di Indonesia, saya lihat “gagal paham” dalam melihat “interior” Arab Saudi.

Misalnya saja banyak yang beranggapan bahwa Saudi itu sama dengan Wahabi. Itu keliru. Perlu dicatat bahwa sekitar 10-15 persen dari penduduk Saudi adalah pengikut Syiah dari berbagai sekte: Itsna Asy’ariyah, Ismailiyah, Zaidiyah, dan lain-lain. Warga Syiah tersebar di berbagai kawasan seperti Madinah, Najran, Qatif, Al Khobar, Ahsa dan sebagainya. Pula, lebih dari 1/3 populasi Saudi adalah kaum migran, baik migran Arab maupun non-Arab. Untuk kaum migran Arab sebagian besar dari Yaman, Mesir, dan Yordania. Sementara untuk migran non-Arab mayoritas dari India, Pakistan, Bangladesh, Sri Lanka, Filipina, Sudan, Somalia, Ethiopia, dan tentu saja Indonesia.  

Pengikut “Wahabi” (sengaja saya pakai tanda kutip karena pengikut “Wahabisme” biasanya tidak mau disebut Wahabi. Mereka lebih suka disebut “Salafi”) sejatinya adalah “minoritas agama penguasa” disini karena menjalin patron dengan rezim politik. Mayoritasnya tentu saja Sunni dari berbagai mazhab (Syafii, Maliki, Hanafi, Hanbali) yang tersebar di berbagai daerah.

Pengikut “Wahabi” kebanyakan terpusat di kawasan Najd (Saudi bagian tengah), khususnya Al-Qassim, Ha’il (juga Riyadh), tempat lahirnya pendiri Wahabi (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab) dan leluhur Dinasti Saud. Perlu juga dicatat: tidak semua keturunan Raja Sa’ud itu otomatis pengikut Wahabi.

Kesalahpahaman berikutnya adalah pandangan yang mengatakan bahwa “Wahabi” itu sama dengan “ekstrimis”. Ini juga keliru besar. Pengikut “Wahabi” itu warna-warni: ada “Wahabi ekstrim” (yang suka ngamuk-ngamuk), ada “Wahabi asesoris” (pakaian dan jenggotnya doang yang mirip-mirip “Wahabi”), ada “Wahabi pragmatis-oportunis” (ini kelompok yang pura-pura jadi Wahabi supaya dapat akses politik dan ekonomi), ada juga “Wahabi moderat” (ke dalam konservatif, ke luar toleran), ada pula “Wahabi liberal” (nah yang ini “Wahabi”-nya kalau di ruang-ruang publik Saudi saja. Kalau di ruang privat apalagi di luar Saudi, lain lagi ceritanya). Kelompok “Wahabi moderat-progresif” ini bisa saja tidak setuju dengan kelompok agama lain dalam banyak hal tentang isu-isu sosial-keagamaan tertentu tetapi bukan berarti lantas marah-marah dan ngamuk-ngamuk menggeruduk seenaknya.

Kemudian, banyak pula saya perhatikan yang berpandangan kalau warga Sunni dan Syiah di Saudi itu saling bermusuhan. Itu juga tidak benar. Bagaimana bisa bermusuhan wong mereka bisa ngopi-ngeteh-ngrokok dan kongko-kongko bareng di berbagai ruang publik. Mereka juga biasa bareng di pasar-pasar tradisional baik sebagai penjual maupun pembeli.

Di berbagai daerah di Ahsa bahkan sudah biasa mereka kawin-mawin selama beratus-ratus tahun. Memang ada “orang yang normal” yang suka melihat kekerasan dan kekacauan? “Semua orang waras” ya lebih memilih hidup rukun bukan daripada bermusuhan? Pelaku kekerasan terhadap Syiah di Saudi itu bukan dilakukan oleh “massa” (layaknya di Indonesia) tapi oleh kelompok snipers (penembak jitu) dan teroris yang di Saudi sendiri juga dimusuhi.

Oleh karena itu saya sarankan sejumlah kelompok Islam di Indonesia jangan suka berbuat kekerasan terhadap kelompok agama lain, apalagi membawa-bawa Saudi sebagai legitimasi. Anda tahu kan kalau dalam Islam, babi itu haram. Nah, babi yang tidak buta saja haram, apalagi membabi buta, kan lebih haram lagi. [SQ]

Masyarakat Arab dan Warisan Konflik Leluhur

0

Jika Anda menganggap Arab adalah bagian dari “masalah” di Indonesia, maka jadikanlah mereka bagian dari “solusi”. Saya melihat sejumlah “ekspat profesional”, ilmuwan dan insinyur Indonesia yang bekerja di Arab Teluk khususnya lebih banyak berorientasi pada aspek “material” semata, bukan ikut memberi kontribusi pada perubahan sosial-kultural-intelektual masyarakat Arab agar menjadi lebih baik di masa mendatang.

Mayoritas dari mereka lebih banyak bersikap pasif, “pragmatis” dan “larut” dengan irama gendang kultur Arab. Yang penting dapat gaji bulanan lumayan, fasilitas oke, kebutuhan keluarga tercukupi dan sejahtera. Selesai hidup. Tidak perlu “neko-neko”. Titik.

Dari dulu, saya bukan tipe orang seperti ini. Saya harus melakukan sesuatu dan berkontribusi secara positif bagi pengembangan akademik kampus, perubahan mindset pemikiran Arab yang cenderung etnosentris serta penambahan wawasan tentang pluralitas sosial-kebudayaan-keagamaan diluar Arab supaya mereka lebih “melek” sedikit dan toleran dengan aneka budaya non-Arab.

Salah satu tantangan besar yang kini sedang saya hadapi adalah memutus mata-rantai dendam sejarah antar-suku. Konflik antar-suku Arab sudah berlangsung berabad-abad jauh sebelum Islam lahir pada abad ke-7 M dan terus berlanjut hingga sekarang. Para mahasiswaku berasal dari aneka suku yang mewarisi konflik dan kekerasan leluhur mereka tadi dan beberapa bahkan mengaku sebagai keturunan para sahabat Nabi Muhammad.

Para mahasiswa yang dulu para leluhurnya menjadi seteru (Bani Hasyim, Bani Ummayah dan sebagainya), cenderung tidak mau berada dalam satu grup. Dalam tugas kuliah, mereka maunya mengelompok kumpul bareng dengan suku-suku yang “seirama”. Kaum sayid keturuan sahabat Ali juga susah digabung dengan mahasiswa dari suku-suku keturunan para musuh Ali dulu. Para suku ini juga saling mengklaim sebagai yang paling unggul dari suku-suku lain. Mahasiswa non-Saudi juga sama, mereka maunya mengelompok dengan mahasiswa sesama negara: Yaman, Palestina, Suriah, Mesir, Tanzania dan lain-lain.

Tapi saya tidak mau mengikuti kemauan mereka. Grup diskusi dan presentasi saya campur dari berbagai suku, sub-suku, klan, Sunni-Syiah dan seterusnya. Untuk mengetahui siapa mereka, dari suku mana mereka, Sunni atau Syiah, cukup kenali “nama belakang” mereka saja. Dan saya bebas melakukan ini karena saya bukan dari suku-suku mereka.

Saya kan “wong Jowo” (Orang Jawa). Alhamdulilah, “eksperimen” saya cukup berhasil. Di akhir kuliah, mereka selalu mengekspresikan kegembiraanya dengan metode “campur-baur” yang saya lakukan demi kebersamaan, toleransi, dan saling memahami satu sama lain. [SQ]

Spirit Perdamaian “Kristen Salafi”

0

Fenomena tentang ke-salafi-an bukan hanya ada di komunitas Islam, tetapi juga di kalangan Kristen. Sewaktu dua tahun tinggal di Virginia, USA, dulu saya berkesempatan menelusuri jejak-jejak “Kristen salafi” ini. Di antara mereka ada yang menamakan diri Amish, Old Order Mennonite dan Hutterites. Semua dari rumpun teologi Anabaptis. Kelompok ini sangat ketat dalam mentaati dan mencontoh aturan, perilaku dan adat-kebiasaan serta menjauhi hal-ikhwal yang tidak pernah dilakukan oleh pendiri agama mereka (Yesus Kristus) dan generasi Kristen awal (“salafus shalih“).

Itulah sebabnya kenapa kaum laki-laki dewasa dari kelompok ini berjenggot lebat karena dianggap sebagai “sunah rasul”, kaum perempuan juga memakai pakaian sederhana plus kerudung dan tanpa make up. Mereka juga tidak mau menggunakan listrik dan aneka teknologi modern. Mereka juga tidak mau memiliki mobil karena memiliki semua itu dianggap “bid’ah” karena Yesus tidak pernah memiliki mobil dan menggunakan teknologi modern. Kendaraan mereka adalah delman.

Mereka tinggal di daerah-daerah terpencil yang jauh dari hingar-bingar perkotaan. Semua keperluan hidup dihasilkan dari bercocok tanam di lahan pertanian yang luas. Meski memasak dengan peralatan ala kadarnya, masakan mereka terkenal lezat. Beberapa kali saya berkunjung ke rumah (baik di Virginia, Indiana, maupun di Pennsylvania) dan menikmati masakan mereka yang “enak gila”.

Yang menarik lagi adalah kelompok “Kristen salafi” ini tidak pernah menyuruh-nyuruh umat Kristen lain untuk melakukan hal yang sama seperti yang mereka lakukan apalagi menganggap umat Kristen lain yang tidak seperti mereka dianggap sesat. Kesalafian yang mereka praktekkan adalah untuk diri mereka sendiri dengan tetap menghormati dan terbuka terhadap jenis-jenis kekristenan lain. Karena itu, saya menyebut kelompok ini sebagai “konservatif-inklusif”.

Dan yang paling fenomenal dari kelompok ini adalah tentang keyakinan teologis dan praktek perdamaian (pacifism) yang mereka lakukan karena berbuat kekerasan bagi mereka adalah menyalahi ajaran-ajaran Yesus. Mereka berpendapat bahwa Yesus tidak pernah mengajarkan dan mempraktekkan kekerasan. Karena militansi mereka dalam hal spirit perdamaian inilah, kelompok ini, bersama Quakers dan Church of the Brethren, disebut sebagai “Historic Peace Churches”.

Lalu, adakah perpedaan antara “Kristen Salafi” dengan “Muslim Salafi”? [SQ]

Hijab Kristen dan Yahudi

0

Kuliah virtual ini khusus untuk teman-teman Muslim dan Muslimah di Indonesia yang hobi mengklaim bahwa tradisi hijab itu “eksklusif Islam.” Karena “gagal paham” menganggap atau bahkan berkeyakinan bahwa hijab adalah “properti” umat Islam belaka, maka tidak jarang mereka sering “sensi”, ngamuk, dan marah-marah kalau melihat non-Muslim memakai jilbab.

Menurut mereka, umat non-Muslim yang memakai hijab itu telah melecehkan dan menghina Islam. Atau, jika tidak, mereka menganggap kaum non-Muslimah yang “ujug-ujug” (tiba-tiba) berjilbab itu berarti sudah mendapat hidayah. Tuduhan dan anggapan ini bermula dari asumsi dan keyakinan yang keliru bahwa hijab itu adalah “properti” umat Islam saja. Sudah sering saya katakan bahwa, dalam konteks sejarah, tradisi hijab itu sudah ada jauh sebelum Islam lahir di Mekah.

Tradisi berhijab ini, misalnya, sudah dipraktekkan oleh masyarakat Assyria kuno ribuan tahun sebelum “bayi Islam” lahir di abad ke-7 M. Di kemudian hari, umat Yahudi dan Kristen (yang juga sama-sama lahir di Timur Tengah) melanjutkan tradisi ini seperti disebutkan dalam berbagai kitab suci mereka.

Belakangan, “si bungsu” Islam juga ikut-ikutan “kakak-kakak” mereka. Dalam sejarahnya, peradaban Byzantium dan Persia-lah yang memperkenalkan tradisi hijab ini ke Jazirah Arab. Jika dewasa ini kita melihat banyak umat Kristen dan Yahudi yang tidak berhijab itu semata-mata lantaran proses sejarah di mana kedua agama ini sudah lama mengalami “proses pembaratan”, sesuatu yang tidak dialami oleh Islam. Berbeda dengan Islam yang “gagal” di Eropa sejak tumbangnya Daulah Andalusiyah di Spanyol pada akhir abad ke-15, Kristen (Katolik Roma maupun Protestan) sukses menancapkan kakinya disana yang kemudian merambah ke Amerika dan Australia.

Karena tradisi hijab ini juga menjadi bagian dari sejarah, tradisi, dan kebudayaan umat Kristen dan Yahudi, maka tidak mengherankan jika ada sejumlah kelompok agama Kristen dan Yahudi masa kini yang masih memelihara dan mempraktekkan tradisi hijab ini seperti komunitas Kristen atau Katolik Ortodoks di berbagai negara, belum termasuk kaum perempuan Arab Kristen di Timur Tengah seperti Lebanon, Suriah, Iraq, Palestina, Mesir, Yordania, dan lain sebagainya. Foto di bawah ini hanyalah sekelumit contoh dari penampilan kaum perempuan Kristen di Irak yang tidak hanya berhijab tetapi juga sepertinya sambil menenteng Kitab Injil berbahasa Arab.

Begitu pula, komunitas Yahudi juga banyak yang berhijab (bahkan berniqab/berburqa seperti kaum Muslimah Saudi atau Qatar) seperti kelompok Sekte Burqa Heradi di Israel misalnya. Mereka menyebutnya “frumka” yang diperkenalkan oleh Bruria Keren, seorang tokoh agama Israel yang mengklaim bahwa tradisi hijab itu aslinya dari Yahudi, dan karena itu ia mengkampanyekan perempuan Yahudi untuk berhijab. Selain komunitas Yahudi Heradi, juga ada sekte Yahudi Lev Tahor di Quebec, Kanada (seperti foto di bawah ini) yang mengajarkan dan mempraktekkan tradisi hijab.

Silakan diperhatikan dengan baik dan seksama tata-busana dari “kakak pertama” Yahudi dan “kakak kedua” Kristen ini. Sama persis kan dengan ukhti/akhwat Muslimah? Nah sekarang, saya tanya: hijab itu properti siapa, hayo? (SQ)