Having a (free) dinner with my colleagues untuk menandai akhir semester. Sayang tidak semua kolega bisa ikut. Malam itu saya memilih menu Mexican salads dan grilled salmon. Saudi, seperti negara-negara di kawasan Teluk lain (seperti Bahrain, UEA, Kuwait, Qatar) adalah “rumah” bagi aneka restoran Barat.

Tidak hanya itu, negara ini juga menjadi tempat subur berbagai perusahaan asing, khususnya Amerika Serikat. Di mana-mana sangat mudah dijumpai perusahaan, hotel, bank, atau restoran-restoran Barat yang mewah. Kapitalisme, industrialisme dan hedonisme tumbuh subur disini.

Dilihat dari segi doktrin keagamaan, Wahabi ini mirip dengan Protestantisme yang sama-sama menekankan pada semangat purifikasi ajaran. Tetapi tidak seperti etika dan etos kerja Protestan yang turut memberi kontribusi pada spirit kapitalisme (itu pun kalau ajaran Max Weber benar), perkembangan-perkembangan industri dan modernisasi yang pesat di Saudi bukan didorong oleh etika -apalagi etos kerja- Wahabi.

Saya melihat doktrin Wahabi yang sangat ketat dari sisi teologi dan agama menimbulkan “kebosanan” dan “kejenuhan hidup” warga Saudi. Akibatnya mereka mencari sesuatu yang bisa dijadikan sebagai “kanal” untuk melepaskan kebosanan itu. Maka, gaya hidup hedonis dan materialistik menjadi pilihan yang tak terelakkan.

Bahrain, tetangga Saudi, adalah salah satu “kanal” tadi. Di negara kecil ini, Anda akan menjumpai aneka hiburan dari resto-resto yang enak sampai klub-klub malam. Setiap weekend, jalan-jalan Saudi menuju Bahrain selalu macet persis seperti jalan-jalan menuju Puncak Bogor. Di balik pakaian-pakaian gamis, masyarakat Arab sebetulnya adalah penikmat hiburan kelas wahid. Di mana-mana manusia, termasuk saya, apapun agama dan pandangan keagamaan mereka, memang membutuhkan hiburan. [SQ]

Artikel sebelumyaJamuan ala Saudi
Artikel berikutnyaToilet, Perempuan, dan “Pergantian Identitas”
Antropolog Budaya di King Fahd University, Direktur Nusantara Institute, Kontributor The Middle East Institute, Kolumnis Deutsche Welle, dan Senior Fellow di National University of Singapore.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.