Saya dulu memandang niqab atau burqa sebagai lambang konservatisme agama. Tetapi setelah tinggal beberapa lama di Saudi, saya merasa perlu perempuan di Arab untuk memakai niqab (kain penutup wajah) di publik dengan sejumlah pertimbangan:

Pertama, Arab adalah padang pasir. Udara jauh dari bersih karena debu bertebaran di mana-mana. Bahkan sering terjadi badai pasir yang bikin sesak nafas dan kotor ruangan jika tidak dirawat secara ketat. Dalam konteks geografi Arab yang seperti ini, maka memakai niqab adalah pas dan efisien ketimbang beli masker setiap hari.

Kedua, perempuan Arab itu, subhanallah, cakep-cakep (tentu saja ada pengecualian di sana-sini). Dengan memakai niqab, maka akan mengurangi “kekacauan sosial” di ruang publik karena laki-laki tidak akan melirik mereka (emang apanya yang mau dilirik?). Lagi-lagi, dalam konteks budaya Arab yang sangat patriakhi , maka memaki niqab di publik sangat perlu. Seandainya masyarakat Arab adalah matriarkhi, mungkin kaum lelaki yang memakai niqab.

Meski begitu perlu dicatat pengunaan niqab bukanlah “diciptakan” Islam. Jauh sebelum Islam lahir, sejumlah masyarakat kuno Bizantium, Arab, Mesir, Persia, Yunani, Canaan dan sebagainya sudah mempraktekkan tradisi berniqab ini. Jadi, silakan mau berniqab atau tidak adalah sebuah pilihan hidup yang perlu dihormati. Memaksa perempuan untuk berniqab atau berhijab sama saja dengan memaksa perempuan untuk tidak berniqab atau tidak berhijab: keduanya sama-sama memaksa. [SQ]

Artikel sebelumyaHedonisme Bangsa Arab
Artikel berikutnyaJamuan ala Saudi
Antropolog Budaya di King Fahd University, Direktur Nusantara Institute, Kontributor The Middle East Institute, Kolumnis Deutsche Welle, dan Senior Fellow di National University of Singapore.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.