Beranda blog Halaman 17

Kampus Elit-Modern di Saudi

0

Tidak seperti kampus-kampus lain di Arab Saudi, kampus tempat saya mengajar saat ini adalah kampus elit milik kerajaan yang didesain untuk menjadi “motor pembaharuan” dan modernisasi di negara-kerajaan ini. Karena itu mahasiswa yang bisa masuk di sini adalah top 1-3 di sekolah masing-masing. Itupun mereka harus lolos seleksi dulu oleh tim universitas.

Tidak peduli Sunni atau Syiah, Salafi atau non-Salafi. Setelah lolos seleksi, mereka “digembleng” Bahasa Inggris selama 1-2 tahun oleh guru-guru bule sebelum dibolehkan mengikuti perkuliahan. Para pengajarnya juga direkrut dari kampus-kampus di Amerika Utara dan Eropa Barat.

Universitas juga menyediakan dana riset ilmiah yang cukup melimpah. Jika di kampus-kampus lain pada umumnya, profesor susah-payah mencari dana penelitian dari luar, di sini para mereka “diuber-uber” oleh para “research funders” (baik swasta maupun pemerintah/kerajaan) untuk memasukkan proposal riset. Tidak perlu mencari dana riset dari luar karena di kampus sudah melimpah-ruah. Dana riset per proyek bervariasi: dari 200-an juta sampai 1 M-an.

Dalam waktu yang bersamaan, seorang profesor bisa melakukan 3 proyek riset sekaligus (tentu saja kalau disetujui oleh reviewers, komite riset, dan rektor), bukan tanpa seleksi. Saat ini saya sedang menyelesaikan dua riset yang keduanya memenangkan “research grant” dari kampus, yaitu (1) Islam, Travel, and Learning: Indonesian Students in Saudi Arabia (dari Junior Faculty Research Grant) dan (2) Saudi Arabia’s Domestic Terrorism and Counterterrorism (Special Societal Grant).

Kampus ini tidak bertumpu pada jumlah tapi lebih pada kualitas mahasiswa. Jumlah mereka sekitar 10.000 (S1-S3) dan semuanya gratis, bahkan dapat stipend (uang saku) per bulan. Semua mahasiswa juga tinggal di asrama kampus. Jadi, seperti pesantren saja. Para gurunya juga tinggal di kompleks apartemen/perumahan di area kampus. Karena mahasiswa-mahasiswa pilihan jadi cukup mudah sebetulnya untuk “mendidik” mereka.

Meskipun ada beberapa yang “badung” dan itu saya kira wajar dimana-mana tetapi relatif mudah untuk diajak diskusi dan berdialog. Mereka yang berhaluan Salafi-Wahabi juga bukan dari golongan “salafi ekstrim” yang suka ngamuk dan marah-marah (apalagi sambil bawa pentungan seperti hansip atau satpol PP) tapi dari kelompok “salafi /wahabi moderat” yang, kira-kira, “konservatif ke dalam tapi toleran ke luar”. Sungguh, saya banyak belajar dengan mereka.

Banyak sekali informasi (tentang apa saja) yang saya dapatkan dari mereka menyangkut hal-ikhwal “dunia Arab” yang membuat saya semakin percaya bahwa tidak ada masyarakat dan kelompok sosial di dunia ini yang bersifat seragam, tunggal dan monolitik. Juga tidak ada kelompok masyarakat, seekslusif apapun (termasuk Saudi), yang tidak mengalami perubahan sosial.

Perubahan-perubahan positif, yang mungkin masih tampak gelap dan kabur dari mata “dunia lain”, berlangsung pelan tapi pasti di kerajaan ini. Saya berharap kelak, murid-muridku, juga ikut memberi kontribusi dan turut mewarnai proses-proses perubahan positif tadi. [SQ]

Strategi Mengajar Mahasiswa Arab

0

Sebelum mengajar di Saudi, sejumlah teman di Amerika memberi “warning” untuk berhati-hati mengajar di sini karena, menurut mereka, murid-murid Arab itu “badung” dan nakal-nakal. Bukan mundur, saya malah tertantang dan bersemangat untuk membuktikan omongan mereka.

Semester pertama, saya memang agak repot “mengendalikan” mereka yang “liar“. Cara-cara mengajar model Amerika yang bertumpu kepada kebebasan akademik dan “kesadaran diri” ternyata tidak berjalan di sini. Saya kemudian belajar dengan kolega saya warga Arab-Aljazair yang sudah senior sekali. Saran dia adalah: “Kalau mengajar di Arab/Saudi, jangan menggunakan cara-cara Amerika yang demokratis tapi harus cara-cara Arab yang otoriter”. Maksudnya? “Kontrol mereka dengan aturan yang ketat tentang hal-ikhwal yang berkaitan dengan proses belajar-mengajar”. Dia juga menyarankan kalau kita lembek dan mengalah, kita akan dijadikan “budak” oleh mereka. Tapi kalau kita kuat dan berintegritas, mereka akan menganggap kita sebagai “majikan”.

Dan betul, saya terapkan saran-sarannya. Setelah berbagai macam cara dan daya-upaya untuk merayu, menekan, bahkan “menyuap” diriku dan sebagainya gagal total, mereka kini menjelma menjadi anak-anak saleh. Sejak semester dua sampai sekarang, saya bisa “mengendalikan” mereka dengan baik. Anak-anak yang tadinya seperti “kuda liar” sekarang menjelma seperti “kelinci manis”. Tapi, di luar “kebengalan” mereka, sebetulnya mereka adalah anak-anak yang baik dan penuh rasa hormat kepada guru. Mereka hanya “kurang sentuhan” tentang bagaimana menghargai dunia pendidikan dan kebudayaan lain.

Mereka tidak terbiasa mengasah otak mereka dengan diskusi-diskusi akademik yang bebas dan bertanggung jawab dari perspektif ilmu-ilmu sosial. Ketika saya memperkenalkan semua itu kepada mereka, mereka senang sekali dan bersemangat untuk berdiskusi dan berdebat tentang isu-isu sosial-politik-keagamaan khususnya yang menimpa di masyarakat Arab. Dari situ, saya bisa tahu betapa plural dan kompleknya “dunia Arab”.

Foto ini adalah salah satu kelasku dimana mereka sedang saya minta untuk berdiskusi tentang problem “etnosentrisme” yang menimpa sebagian umat manusia. Saya berharap mereka kelak mampu menjadi “agen perubahan sosial” di masyarakat Arab yang berwawasan toleran-pluralis, jauh dari watak-watak etnosentik yang sempit dan tertutup serta mampu menghargai keanekaragaman tradisi, budaya dan agama. [SQ]

Murid Spesialku dari Suku Badui dan Al-Faifi

0

Di antara sekian ratus murid-murid Arabku semester Spring (2016) ini, ada beberapa yang cukup spesial seperti dalam foto ini. Yang satu dari suku Badui, satunya lagi dari suku al-Faifi (atau al-Fifa). Kedua suku ini sangat unik di Saudi. Nama “Badui” (English: Bedouin) berasal dari kata “badawi” dalam Bahasa Arab yang berarti “penduduk padang pasir”. Kata “badawi” sendiri berasal dari akar kata “badiyah” yang berarti “daratan padang pasir”. Sebutan “badui” sebetulnya dari orang lain. Mereka sendiri menyebutnya sebagai “Arab”.

Suku Badui masa kini yang pecah menjadi berbagai suku dan klan (‘asya’ir) merupakan keturunan para nomad yang tinggal dan hidup berpindah-pindah di daerah gurun Arabia dan Suriah. Kini mereka tinggal di berbagai wilayah gurun di Afrika Utara dan Timur Tengah. Dalam sejarahnya, mereka tinggal di tenda-tenda dan selalu pindah tempat tergantung musim dan cuaca. Ciri lain dari kelompok ini adalah penggembala onta dan kambing.

Masyarakat Badui dikenal sangat sederhana, ramah, pemurah, dan sangat menghormati tamu. Seperti ditunjukkan dalam berbagai studi antropologi seperti karya Lila Abu-Lughod, Veiled Sentiments: Honor and Poetry in A Bedouin Society, konon jika ada tamu atau orang asing datang atau mampir, orang-orang Badui akan minta para tamu untuk menginap di tenda-tenda mereka sambil menikmati hidangan ala kadarnya, khususnya “teh Arabia” yang aduhai rasanya. Bukan hanya itu, mereka juga akan memotong kambing atau domba untuk dihidangkan kepada sang tamu tadi, meskipun sebetulnya mereka sangat membutuhkan domba/kambing itu. Bagi mereka, yang penting tamu kenyang meskipun mereka lapar.

Meski cukup banyak dari komunitas Badui yang sudah mengalami “transformasi gaya hidup” dalam hal berpakaian (seperti muridku ini yang mengenakan pakaian formal khas Saudi) dengan tinggal di kota-kota, mereka masih memelihara dan mempraktekkan tradisi dan warisan kebudayaan Baduwi seperti berpuisi/berpantun, musik tradisional, “tarian pedang” dlsb. Mereka juga menggelar aneka “festival Badui” di berbagai daerah.

Selain Suku Badui, Suku Al-Fifi juga unik. Mereka hidup dan tinggal di pegunungan berbatu atau dataran tinggi yang sangat terjal dan sulit dijangkau di wilayah Jizan, Saudi. Karena medan darat yang sangat sulit untuk transportasi, akhirnya mereka mengembangkan “transportasi udara” yang antik (seperti dalam foto ini). Sangking tingginya daerah dimana suku ini tinggal, maka daerah ini sering disebut sebagai “tetangga bulan” atau “surga bumi”.

Suku Faifi ini memiliki kostum/busana, makanan, adat, tradisi dan kebudayaan sendiri. Mereka juga memiliki Bahasa Arab sendiri yang tidak bisa dipahami oleh masyarakat Arab lain. Hanya orang-orang yang bermental baja (seperti muridku ini) yang mau berkelana mencari ilmu dan berani berkompetisi dengan suku-suku lain. Melihat mereka berdua, saya seperti melihat diriku sendiri: orang gunung dan mantan penggembala kambing. [SQ]

Universitas di Saudi dan Murid-Murid Arabku

0

Seperti biasa setiap akhir semester saya selalu menyempatkan berfoto bersama dengan murid-muridku sebagai kenang-kenangan. Dengan foto-foto ini setidaknya mengingatkan saya tentang aneka ragam “perilaku” para mahasiswaku di dalam dan di luar kelas. Jujur saja, saya banyak belajar dengan mereka. Bagiku, mereka bukan hanya murid tetapi juga guru yang mengajarkan banyak hal tentang aneka kebudayaan Arab yang sangat kaya dan warna-warni. Di akhir kelas saya selalu berpesan kepada mereka untuk menghargai agama dan kebudayaan orang dan bangsa lain sebagaimana mereka menghargai agama dan kebudayaannya sendiri.

Semua mahasiswaku adalah laki-laki. Sistem pendidikan di Saudi itu dipisah antara laki-laki dan perempuan. Setiap kampus memiliki “pondok putri” dan “pondok putra”. Kampusku ini, King Fahd University of Petroleum and Minerals (KFUPM), satu-satunya yang hanya menerima laki-laki, meskipun belakangan ada desas-desus untuk membuka pendaftaran untuk mahasiswi.

Ada juga universitas yang hanya terdiri dari kaum perempuan saja yaitu Princess Nora University yang disebut-sebut sebagai “kampus perempuan” terbesar di dunia. Tapi ada juga yang campur (meski hanya untuk mahasiswa paska sarjana), yaitu King Abdullah University of Science and Technology (KAUST).

Beda dengan kampus-kampus lain di Saudi, KFUPM adalah kampus modern yang menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Meski begitu, Bahasa Arab kadang-kadang digunakan di dalam kelas waktu diskusi. Kampus ini mengikuti sistem, kurikulum, dan model pendidikan di Amerika. Di kampus inilah dulu, para petinggi Saudi bercita-cita atau memiliki visi ingin membangun sebuah kerajaan yang maju dan modern berbasis pengetahuan dan teknologi sebagaimana Barat, khususnya Amerika. Hampir semua petinggi kampus dan pengajar di sini memang alumni Amerika atau Eropa Barat. Amerika memang dulu ikut terlibat dalam proses pendesainan kampus ini.

Murid-murid yang masuk di sini juga diseleksi secara ketat, biasanya ranking 1-3 di masing-masing SMU baru bisa seleksi di sini, tidak peduli apakah mereka Sunni atau Syiah. Setelah masuk, mereka ditraining Bahasa Inggris oleh “bule-bule” dari Inggris dan Amerika Utara selama 1-2 tahun sebelum ikut kuliah. Kuliah di kampus ini gratis dan setiap mahasiswa dikasih uang saku setiap bulan serta tinggal di asrama di dalam kampus.

Di kampus ini mahasiswa, staf, dan pengajar campur dari berbagai latar-belakang Islam dan agama: Sunni, Syiah, Kristen, Yahudi, Hindu, agnostik, dan non-Muslim lain. Para dosen bule juga banyak sekali. Karena kualitas pendidikan yang baik inilah, maka para alumni kampus ini ditunggu-tunggu oleh industri-industri besar di Saudi. Semoga murid-muridku mendapatkan prestasi gemilang di kemudian hari, apapun profesi mereka. [SQ]

Solusi untuk “Mahasiswa Salafi”

0

Di antara 100-an mahasiswaku semester ini, ada sekitar enam mahasiswa yang keberatan kalau di kelas saya menggunakan medium video/film (dari You Tube/Internet) dalam mengajar karena, menurut mereka, menonton film yang ada konten musik dan perempuan (meski bukan “telanjang bulat”) adalah haram.

Saya katakan, sulit mengajar antropologi budaya tanpa film, khususnya film dokumenter tentang komunitas masyarakat/suku tertentu. Mereka akhirnya saya beri solusi: kalau berminat mengambil mata kuliahku, mereka boleh meninggalkan ruangan pada waktu pemutaran film tapi harus kembali lagi ke kelas kalau film sudah selesai untuk mendiskusikan film tadi, atau link film saya kirim ke mereka sehigga bisa melihat secara privat di kamar. Saya paham konsep haram bagi mereka hanya berlaku di ruang publik, bukan di ruang privat.

Jika tidak menerima solusi yang saya tawarkan, saya sarankan mereka untuk tidak mengambil mata kuliah antropologi. Di luar dugaan, ternyata mereka setuju dan berterima kasih dengan solusi yang saya tawarkan. Memang perlu “strategi jitu” untuk menghadapi para mahasiswa Arab apalagi mengajar sebuah mata kuliah yang bisa menantang fondasi-fondasi keagamaan dan mindset pemikiran yang sudah begitu mapan. Tapi justru disitulah tantangan yang menggairahkan. [SQ]

“Kultum” Mahasiswa Arab

0

Sejumlah perbedaan antara mahasiswa Amerika dan Arab. Dulu, waktu mengajar di Boston, jika ada mahasiswa/i yang kurang puas dengan nilai yang ia dapat, biasanya ia datang ke kantor untuk menanyakan alasan saya memberikan nilai tersebut. Setelah mendengar penjelasan, ia langsung mafhum.

 Di Saudi lain ceritanya, para mahasiswa (biasanya yang “otaknya pas-pasan” atau “mahasiswa abadi” yang sering berulah) melancarkan berbagai macam taktik, strategi dan “modus” untuk berusaha mendapatkan nilai baik atau selamat dari F.

Ada yang memuji-muji, ada yang menawarkan bantuan ini-itu, ada yang mendoakan, ada yang membuat kisah-kisah tragis dan sedih, ada yang memohon-mohon, ada juga yang memberi ceramah atau kultum lengkap dengan dalil-dalilnya.

Pernah suatu ketika, karena tidak saya luluskan, seorang mahasiswa datang ke kantor dan memberi “kultum”: “Duktur, Allah saja maha pemaaf, masak profesor tidak? Maafkan kesalahku duktur, luluskan saya karena ini semester terakhir buatku,” pinta dia. Sekian menit kemudian saya jawab: “Allah tidak cuma maha pemaaf, tapi juga maha penghukum untuk hamba-hambanya yang melanggar aturan.

Saya maafkan kamu, tapi saya juga menghukummu kerena telah melanggar aturan universitas. Bukan saya tapi kamulah yang tidak meluluskanmu…”. [SQ]

Kejujuran Seorang Mahasiswa Saudi

0

Suatu saat ada seorang murid Saudi tergopoh-gopoh menemuiku dan menyapa:

“Duktur (doktor), saya ingin bicara soal rahasia tapi mohon duktur jangan marah ya?” begitu pintanya.

“Oke, saya tidak akan marah, soal apa itu?” tanyaku.

“Begini duktur, waktu ujian mid-semester kemarin ada satu soal yang secara tidak sengaja saya menyontek dari teman, dan kebetulan jawabannya benar. Jadi mohon nilai saya dikurangi satu poin untuk menebus kesalahan ini karena saya menganggap hal ini perbuatan haram dan tidak pantas. Maaf duktur, sekali lagi, jangan marah ya?”

Saya pun mengiyakan permintaanya, saya kurangi satu poin karena memang satu pertanyaan bobot nilainya satu. Tetapi karena ia telah berbuat jujur, saya pun naikkan lagi nilainya. [e]

Perlunya Menghargai Kebudayaan Lokal

0

Jika tahun lalu saya mengajar sosiologi, tahun ini antropologi. Tahun lalu saya mendapat skor mengajar 9.21 (dari 10). Artinya, mahasiswa suka sekali dengan model belajar-mengajar yang saya terapkan. Saat ini saya sedang merampungkan silabus “socio-cultural anthropology” yang pas untuk mahasiswa Saudi / Arab.

Ada sejumlah tantangan berat dalam hal ini. 1) Bagaimana mahasiswa Saudi / Arab menghormati kebudayaan lain agar tidak memaksakan kebudayaan mereka kepada orang lain; 2) Bagaimana mahasiswa Saudi/Arab tahu bahwa kebudayaan Arab bukan hanya milik Muslim tapi juga Arab non-Muslim; 3) Bagaimana agar mereka tetap menghormati dan melestarikan kebudayaan lokalnya tidak terpengaruh oleh gelombang globalisasi, modernisasi dan westernisasi yang bertiup kencang di Arab dan Timur Tengah.

Sejak beberapa puluh tahun silam, ada arus deras yang sangat kuat yang ingin “membaratkan” kebudayaan Arab dan Timur Tengah sehingga menimbulkan sejumlah ketegangan lokal. Salah satunya adalah tentang penggunaan niqab yang banyak dikritik dan disalahpahami. Meski saya tidak setuju praktik penggunaan “niqab” bagi perempuan di Indonesia, misalnya, tapi saya setuju pemakaian niqab di Saudi karena berbagai pertimbangan sosial, budaya, dan geografi. Banyak orang melihat, mengukur dan menilai kebudayaan orang lain dari kebudayaannya sendiri bukan dari kebudayaan orang lain itu sehingga sering menimbulkan ketegangan, konflik, benturan dan bahkan kekerasan.

Inilah yang saya lihat dan rasakan di Indonesia akibat adanya sejumlah kelompok agama yang bernafsu ingin memboyong kebudayaan asing ke dalam negeri. Kita memang perlu menghargai kebudayaan asing tapi juga sangat perlu menghormati kebudayaannya sendiri. [SQ]

Memahami Masalah dari Perspektif Antropologi

0

Salah satu “proyek kelas” yang saya suka adalah presentasi kelompok. Anggota grup selalu saya campur: Wahabi-Sunni-Syiah, Saudi-non-Saudi dan gabungan dari berbagai suku dan klan: dari “suku terhormat” sampai “suku biasa” supaya mereka bisa “lebih dekat” dan saling mengenali dan memahami. Di Saudi kita bisa mengenali mahasiswa dari golongan dan “trah” mana hanya dengan mengidentifikasi nama belakang mereka.

Aturan yang saya terapkan di kelas adalah: respek terhadap orang lain dan menghargai apapun pendapat orang lain. Topik saya tentukan semua menyangkut masalah sosial-politik-ekonomi masyarakat Arab/Saudi antara lain soal perempuan, imigrasi, kultur Badui, perubahan sosial, pendidikan, perkawinan, perbankan, modernisasi, pluralisme agama dan lain sebagainya.

Menarik sekali, dalam setiap diskusi selalu muncul beraneka ragam pendapat yang jauh dari kesan monolitik dan ekstrim. Banyak dari mereka bahkan yang mengekspresikan rasa senangnya karena saya telah memperkenalkan ilmu-ilmu sosial, khususnya antropologi dan sosiologi, kepada mereka dan bagaimana mendiskusikan, menelaah dan memahami masalah-masalah kemasyarakatan dari sudut pandang ilmu-ilmu sosial bukan dari perspektif teologi-keagamaan yang kadang-kadang, kata orang Jawa, “kaku-regeng” seperti tiang listrik. [SQ]

Murid-Murid Arabku yang Warna-Warni

0

Semester ini saya mengajar sekitar 100 mahasiswa. Di setiap akhir kelas, saya selalu menyempatkan untuk berfoto bersama sebagai kenang-kenangan kelak untuk saya maupun anak cucu saya. Mahasiswa saya dari berbagai negara: Saudi, Yaman, Suriah, Sudan, Mesir, Palestina, Lebanon, India, Pakistan dan lain-lain. Mayoritas tentu saja dari Saudi.

Mereka bukan hanya Sunni tapi juga Syiah. Yang “Salafi-Wahabi” juga ada. Yang para sayyid (keturunan Nabi Muhammad) juga ada. Bukan hanya mengajar, saya juga banyak belajar dari mereka. Bagi saya, para mahasiswa ini bukan hanya “murid” tapi juga “guru” (“informan” atau “konsultan budaya” dalam antropologi) yang mengajarkan aneka ragam suku, budaya dan tradisi Arab.

Di akhir kelas Antropologi Budaya, seperti biasa, saya berpesan kepada para mahasiswa untuk menghargai keanekaragaman budaya dan agama serta menghormati pluralitas pandangan dan pemahaman masyarakat. Saya juga menandaskan untuk menjauhi watak-watak etnosentris (klaim, sikap dan pandangan merasa diri superior terhadap orang dan kelompok lain) dan perlunya mengedepankan watak-watak “relativisme budaya” dalam melihat fenomena pluralitas manusia.

Saya punya rencana, suatu saat nanti, untuk mengajak mereka “tour intelektual” ke Indonesia guna menjelaskan keanekaragaman masyarakat dan budaya Arab supaya masyarakat Indonesia paham bahwa kebudayaan Arab bukanlah “monolitik” dan seragam. [SQ]

Wejangan untuk Mahasiswa Arab

0

Tidak seperti biasanya suasana kelasku kemarin “agak aneh”. Sehabis kuliah, para mahasiswaku dari Saudi, Yaman, Sudan, Bahrain, Palestina, Mesir dan sebagainya bukannya keluar ruangan tapi malah duduk-duduk dan berdiri menggerombol mengelilingi saya. Dengan khusuk mereka mendengarkan lanjutan “ceramah-ceramah” dan nasehatku tentang pentingnya menghargai perbedaan dan keragaman masyarakat, budaya dan agama.

Saya minta kepada mereka untuk tidak “etnosentris” (merasa diri superior dan memandang orang lain dengan inferior) dan pada saat yang sama untuk menerapkan pentingnya “relativisme budaya” (setiap kebudayaan manusia itu relatif dan terbatas) dalam menyikapi pluralitas kemanusiaan dan kebudayaan seperti “diajarkan” oleh antropologi. Saya juga minta mereka untuk menyikapi keanekaragaman itu dengan sikap-sikap yang santun penuh toleransi bukan dengan cara-cara kekerasan dan fanatisme.

Setelah acara “santapan rohani” selesai, mereka mengungkapkan rasa terima kasihnya kepadaku yang telah memperkenalkan ilmu-ilmu sosial kepada mereka sehingga bisa menyikapi kemajemukan dengan sikap “dewasa” bukan “kekanak-kanakkan”. Banyak juga dari mereka yang memohon kepada saya untuk tetap mengajar di sini tidak pindah ke kampus lain supaya semakin banyak mahasiswa yang “tercerahkan”. [SQ]

Hidup Itu Sawang-Sinawang

0

Kita sering berasumsi bahwa pekerjaan orang lain jauh lebih enak dan lebih baik ketimbang pekerjaan kita. Lembaga atau tempat kerja orang lain dipandang lebih aduhai daripada tempat kita bekerja. Padahal sebetulnya tidak begitu-begitu amat. 2-3 minggu ini saya sibuk menyeleksi berkas-berkas pelamar profesor baru di kampusku dan menjumpai sejumlah fakta yang cukup mengagetkan: ada seorang pelamar yang merupakan seorang profesor gaek dengan puluhan buku dan artikel akademik tapi denga gaji “mengenaskan” karena mengajar di sebuah negara yang “kurang menghargai” ilmuwan; ada pula yang sudah malang-melintang mengajar di Australia dan Eropa; ada pula sejumlah profesor senior dari Amerika.

Kenapa banyak para ilmuwan dari “negara-negara salju” ingin pindah ke “kerajaan gurun” ini? Sementara saya sendiri “kangen” salju setelah beberapa tahun meninggalkan Amerika Serikat, selain merindukan sawah-sawah dan pegunungan di kampung halamanku di Jawa Tengah tentunya. Jadi hidup ini memang sawang-sinawang kan? Padahal rumput tetangga belum tentu sehijau rumput kita. Karena itu syukurilah apa yang kita miliki. Cintailah apa yang kita kerjakan, bukan kerjakan apa yang kita cintai.  [SQ]

Jamaah Salat Jum’at di Masjid Dhahran

0

Masjid Dhahran adalah nama sebutan untuk “masjid jami'” di kampusku. Sepertinya ada puluhan masjid di area kampus ini. Itu belum termasuk mushala-mushala kecil yang hampir ada di setiap gedung di kampus. Masjid Jami’ adalah sebutan untuk “masjid raya” tempat untuk berkumpulnya salat-salat tertentu seperti salat Jum’at, salat Idul Fitri dan salat Idul Adha. Tentu saja, masjid jami’ ini juga bisa dipakai untuk salat-salat lainnya. Meskipun banyak masjid, hanya di Masjid Dhahran ini untuk Jumatan.

Karena penduduk kampus dari berbagai suku-bangsa, negara dan mazhab Islam, maka kebayang kan bagaimana warna-warninya para peserta Jumatan: pakaiannya, tata-cara salatnya. Dari segi busana misalnya, ada yang memakai jubah Saudi, jubah Sudan, gamis Pakistan (shalwar kameez), sarong Yaman, jeans, baju, kaos, training, bahkan celana pendek atau kolor yang hanya menutup lutut. Memang sih “aurat” laki-laki cuma sampai lutut jadi secara teori, salat tidak masalah asal lutut tertutup. Penutup kepalanya juga beraneka ragam: ada yang pakai surban (udeng-udeng), “kupluk kaji”, atau tidak pakai penutup sama sekali.

Karena kaum Muslim di kampus berasal dari berbagai mazhab dalam Islam, tata-cara salatnya pun warna-warni: takbirnya, sedakepnya, rukuknya, takhiyatnya, duduknya, gerakan kepalanya, bahkan cara ngacung jari telunjuk juga berlainan: ada yang diam-lurus, ada yang utak-utik (gerak-gerak), ada yang mlungker, dan lain-lain.

Meskipun berbeda-beda, tetapi mereka rukun tidak saling mengklaim kebenaran tafsir dan “kemurnian” pakaian dan tata-cara salat. Masuk masjid sama-sama, keluar masjid pun sama-sama uyel-uyelan. Indahnya sebuah kebersamaan dan saling pengertian, bukan? Kita boleh saja meyakini “tafsir agama” kita setengah mati tetapi jangan paksakan tafsir kita itu kepada orang lain. Banyak orang sebetulnya mempraktekkan dan membela mati-matian sebuah “tafsir agama”, bukan agama itu sendiri, tafsir tentang Tuhan, bukan Tuhan itu sendiri. [SQ]

Islam, Agama, dan Budaya Arabia

0

Akhir semester adalah fase yang sangat menyenangkan bagi para guru seperti saya. Bukan hanya karena sebentar lagi “break” semester tapi lantaran pada setiap minggu-minggu akhir semester selalu saya gunakan untuk “presentasi mahasiswa” tentang aneka-ragam topik dan isu-isu sosial-politik-keagamaan menyangkut masyarakat dan kebudayaan Arab: tentang hak-hak kaum perempuan, sistem pemakaman, aneka tarian (dances), pernikahan, relasi antar-suku, family dan kinship, turisme, budaya Bedouin, kaum migran, “pasar gelap”, etnosentrisme Arab, “polisi Syariat”, militansi, kekerasan, terorisme, dan sebaiganya.

Ada pula mahasiswa yang presentasi tentang ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) karena ada teman dan keluarganya yang bergabung dengan kelompok ekstrim ini di Suriah dan Irak.

Pada awalnya mereka semangat untuk berjihad demi Islam dan melawan keangkaramurkaan, tapi pada akhirnya mereka kecewa dan “tobat” setelah menyaksikan propaganda-propaganda kosong, motivasi ekonomi-politik dan kejahatan-kejahatan anggota ISIS itu sendiri yang jauh dari norma-norma keislaman.

Dari sini saya banyak belajar tentang “jeroan” atau “daleman” masyarakat Arab. Karena mahasiswa saya tidak hanya dari Saudi, tapi juga Yaman, Bahrain, Lebanon, Palestina, Sudan, Mesir, dan lain sebagainya (bukan hanya Sunni tapi juga Syiah), maka informasi dan data yang terhimpun pun semakin kaya dan warna-warni.

Dari sini pula saya belajar tentang pluralitas atau keanekaragaman pandangan dan wawasan masyarakat Arab yang jauh dari kesan monolitik dan seragam bahkan untuk isu-isu menyangkut soal-soal fundamental keislaman dan tradisi-kebudayaan Arab sekalipun, mereka berbeda pendapat. Misalnya tentang pemisahan laki-laki dan perempuan, sebagian bilang ini masalah “agama”, yang lain ngotot bahwa soal ini adalah masalah “budaya Arabia” dan tidak ada sangkut-pautnya dengan Islam.

Saya hanya “memoderatori” saja perdebatan mereka dan sesekali mengajukan pertanyaan: “Jika memang pemisahan laki-laki-perempuan itu masalah agama, apakah warga Saudi yang ke Luar Negeri (di manapun) mereka juga bersikukuh untuk pisah laki dan perempuan?” Mereka serentak jawab “tidak”. “Kalau tidak, berarti bukan masalah agama donk?” tanyaku. Sebagian mengiyakan, sebagian ketawa, sebagian terdiam, sebagian garuk-garuk kepala, sebagian lagi kelihatan seperti mikir.

Menariknya lagi, tidak ada satupun diantara mereka yang menganggap pakaian jubah itu sebagai “pakaian Islami” tetapi “pakaian [budaya] Arab”. Ini tentu saja kontras dengan pandangan dan keyakinan sejumlah kelompok Islam di Indonesia yang memandang jubah sebagai “pakaian Islami”. [SQ]

Musim Haji dan Liburan Ke Eropa

0

Di saat kaum Muslim di seluruh dunia berbondong-bondong ke Makkah untuk berhaji, murid-murid saya yang dari Makkah malah mengaku mau liburan ke Eropa dan Amerika pada waktu musim haji. Menurut mereka, sumpek tinggal di Makkah pada waktu musim haji.

Perlu diketahui juga tidak semua warga Saudi sudah berhaji karena biaya haji yang cukup mahal bagi yang belum kerja. Banyak murid-murid saya yang mengaku belum haji karena belum mampu dan mereka tidak mau dibayarin oleh orang tua mereka untuk haji. Buat mereka, biaya haji harus dari hasil keringat mereka sendiri.

Pemerintah Saudi saat ini menurunkan standar biaya haji bagi semua penduduk yang tinggal di kerajaan ini (termasuk saya tentunya) maksimal SR 12,000 agar warga yang belum berhaji bisa haji.

Sebetulnya kalau mau bersusah payah sedikit, dengan uang SR2,000 atau sekitar Rp. 7 juta) sudah bisa untuk mendaftar haji (dengan fasilitas ala kadarnya. Tapi mungkin murid-murid saya ini gak mau kalau berhaji ala kadarnya).

Pemerintah juga membatasi: bagi yang sudah berhaji tidak boleh haji lagi sebelum lima tahun, sebuah kebijakan yang saya kira sangat penting untuk mengurangi kepadatan jamaah haji dan memberi peluang bagi yang belum berhaji. [SQ]