Di antara 100-an mahasiswaku semester ini, ada sekitar enam mahasiswa yang keberatan kalau di kelas saya menggunakan medium video/film (dari You Tube/Internet) dalam mengajar karena, menurut mereka, menonton film yang ada konten musik dan perempuan (meski bukan “telanjang bulat”) adalah haram.

Saya katakan, sulit mengajar antropologi budaya tanpa film, khususnya film dokumenter tentang komunitas masyarakat/suku tertentu. Mereka akhirnya saya beri solusi: kalau berminat mengambil mata kuliahku, mereka boleh meninggalkan ruangan pada waktu pemutaran film tapi harus kembali lagi ke kelas kalau film sudah selesai untuk mendiskusikan film tadi, atau link film saya kirim ke mereka sehigga bisa melihat secara privat di kamar. Saya paham konsep haram bagi mereka hanya berlaku di ruang publik, bukan di ruang privat.

Jika tidak menerima solusi yang saya tawarkan, saya sarankan mereka untuk tidak mengambil mata kuliah antropologi. Di luar dugaan, ternyata mereka setuju dan berterima kasih dengan solusi yang saya tawarkan. Memang perlu “strategi jitu” untuk menghadapi para mahasiswa Arab apalagi mengajar sebuah mata kuliah yang bisa menantang fondasi-fondasi keagamaan dan mindset pemikiran yang sudah begitu mapan. Tapi justru disitulah tantangan yang menggairahkan. [SQ]

Artikel sebelumya“Kultum” Mahasiswa Arab
Artikel berikutnyaUniversitas di Saudi dan Murid-Murid Arabku
Antropolog Budaya di King Fahd University, Direktur Nusantara Institute, Kontributor The Middle East Institute, Kolumnis Deutsche Welle, dan Senior Fellow di National University of Singapore.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.