Beranda blog Halaman 16

Syiah, Arab, dan Israel

0

Mestinya (atau “normalnya”) para “cheerleaders Arab” dan anti-Israel di Indonesia yang hobi demo mendukung Palestina itu jangan memusuhi Syiah. Sebab, rezim Iran-lah yang paling gencar melawan propaganda dan agresi Israel. Iran-lah yang menjadi backer Hizbullah, kelompok milisi Syiah di Lebanon yang menjadi tulang punggung dan “watchdog” masyarakat setempat (baik Syiah, Sunni, maupun Kristen Maronite) saat terjadi penyerbuan Israel.

Iran juga menjadi salah satu penyokong utama (militer dan finansial) kelompok milisi Sunni Hamas di Palestina yang anti-Israel. Jadi, kalau di Indonesia ada sejumlah ormas Islam yang begitu bergemuruh mendukung Hamas, pro-Palestina dan anti-Israel (seperti yang biasa dilakukan secara istiqamah oleh PKS, HTI, dan teman-temannya) sebetulnya sama saja dengan mendukung rezim Iran yang Syiah.

Sejak Perang Sipil di Suriah, pemimpin Hamas “ngambek” ke Iran karena jatah bantuannya dikurangi lantaran Iran fokus membela dan mendanai rezim Bashar Assad. Sementara itu, rezim Arab Teluk malah “berselingkuh” dengan Israel untuk menghadang laju invasi Iran yang juga berambisi ingin menjadi “satpam” di Timur Tengah. Dalilnya: musuh dari musuh saya adalah teman.

Lagi, saya ingatkan, kaum Muslim di Indonesia jangan mau dipecundangi oleh sejumlah pemimpin agama-politik yang pikun bin rabun yang ingin membawa-bawa pertikaian geo-politik di Timur Tengah ke dalam panggung politik-budaya Indonesia. [SQ]

Dimensi Politik-Ekonomi Konflik Sunni-Syiah Di Timur Tengah

0

Sejumlah ormas Islam dan ulama Sunni di Indonesia, termasuk MUI, menganggap milisi Houthis di Yaman sebagai Syiah dan karena itu “halal” diperangi. Menariknya, kontras dengan klaim sejumlah tokoh Muslim dan ormas Islam di Indonesia, sejumlah tokoh Syiah di Saudi seperti Syeikh Humaidan, Sheikh Ibrahim al-Bathouth dan lain-lain yang saya temui justru menganggap “Houthis” itu Sunni.

Seperti di Sunni, dalam Syiah juga terjadi friksi-friksi yang tajam antara Syiah Imamiyah, Isma’iliyah, Zaidiyah dan berbagai sekte sempalan lain. Mereka juga berkonflik satu sama lain. Kelompok Houthis adalah Syiah Zaidiyah yang berbeda secara “teologi” dan konsep keagamaan dengan Syiah Itsna Asy’ariyah atau Imamiyah. Kelompok Syiah Zaidiyah ini juga ada di Saudi meski kecil terutama di bagian selatan yang berbatasan dengan Yaman. Sementara mayoritas Syiah di Saudi adalah Imamiyah (seperti Syiah-nya Iran) yang mendiami kawasan timur Saudi (Asy-Syarqiyah, khususnya Ahsa dan Qatif).

Arab Saudi dan Iran memang sama-sama berambisi menjadi “regional power” di Timur Tengah, meski banyak pengamat meramalkan strategi Iran di Yaman akan gagal, tidak semulus seperti apa yang mereka lakukan di Lebanon. Yaman dan Lebanon memang berbeda dari segi apapun: karakter Syiah, struktur masyarakat, budaya, komposisi politik, wilayah dan sebagainya. Jadi, ini murni persoalan perebutan kekuatan dominasi politik-ekonomi Timur Tengah yang tidak ada kaitannya dengan akidah dan agama.

Sebab itu, sangat lucu jika sejumlah ulama dan ormas Islam Sunni di Indonesia begitu heroik menggalang gerakan anti-Syiah dengan alasan mereka berpotensi membuat revolusi politik seperti di Timur Tengah: alasan yang sangat mengada-ada seperti dulu ketika Pak Harto ketakutan akan bahaya “Revolusi Islam Iran 1979” di Indonesia, sebuah “mimpi buruk” yang berlebihan, dan terbukti memang hanya “mimpi”. [SQ]

Salafi-Wahabi Moderat

0

Banyak orang salah paham atau kurang cermat dalam melihat fenomena Salafisme dan Wahabisme. Bagi banyak orang, “kaum Wahabi” dan Salafi selalu diidentikkan dengan intoleransi dan kekerasan. Saya rasa pandangan ini tidak tepat. Tidak semua kaum “sawah” (Salafi-Wahabi) itu bersikap intoleran, anti-pluralisme, dan pro-kekerasan. Dengan kata lain, selain kelompok “Sawah ekstrim” yang gemar melakukan pemaksaan dan kekerasan terhadap orang dan kelompok lain itu, juga ada kaum “Sawah moderat” yang meskipun memiliki pandangan keagamaan konservatif (seperti kaum “Sawah ekstrim”) tetapi tidak memaksakan pandangan dan keyakinannya itu kepada orang atau kelompok lain.

Kesimpulan ini saya dapatkan setelah beberapa tahun bergumul dengan kelompok “Sawah” ini. Para kolega dan murid-muridku banyak sekali yang dari kelompok Sawah ini tetapi mereka tidak “fanatik buta” ataupun “membabi buta”. Pandangan dan sikap keislamannya memang konservatif (misalnya mengharamkan musik dan menonton film, berjenggot lebat, dan lain sebagainya) tetapi pada waktu yang bersamaan juga fleksibel misalnya (biasa mengenakan celana pendek, jeans, kaos, dlsb).

Mereka juga tidak ngotot mengharuskan apalagi memaksa orang/kelompok lain mengikuti sikap, pandangan, dan keyakinannya. Bagi mereka, konservatisme itu sifatnya internal (untuk diri sendiri) bukan eksternal (dipaksakan kepada orang lain). Dengan kata lain, ke dalam konservatif, ke luar toleran. Selain itu, mereka juga senang sekali mengeksplorasi kebudayaan masyarakat non-Muslim. Bukannya mengafir-sesatkan, mereka malah tertarik menyelidiki sejarah dan asal-asul kebudayaan kelompok lain itu yang kebetulan sama dengan tradisi dan kebudayaan mereka.

Hipotesis saya, meskipun tentu saja ada sejumlah pengaruh dari Timur Tengah (finansial maupun ideologi), kaum “Sawah ekstrim” yang hobi melakukan pemaksaan dan kekerasan komunal di Indonesia itu merupakan “genuine” fenomena lokal dan bersifat lokal. Kalaupun mereka mencatut Saudi atau Timur Tengah itu sebatas untuk mencari “legitimasi keislaman” saja karena ada anggapan Arab, khususnya Saudi, sebagai “sacred geography” (“teritori suci”) bagi umat Islam. Seolah-olah kalau sudah ada “stempel Arab”, apa yang mereka lakukan itu menjadi “religius” atau “Islami”. Padahal tidak. Itu hanya bungkus saja untuk menutupi watak dan sikap arogansi kaum Sawah ekstrim ini. [SQ]

Arab Kristen, Arab Yahudi, dan Injil-Talmud Bahasa Arab

1

Sejumlah kaum Muslim yang “lugu” dan “orisinal” di Indonesia sering berasumsi atau bahkan berkeyakinan bahwa Bahasa Arab itu “bahasa Islam”, “bahasa suci” atau bahkan menurut “Ustad Ucup”, “bahasa Surga”. Tetapi pada saat yang sama, lucunya, mereka mengkafirkan dan “me-neraka-kan” Kristen dan Yahudi (atau non-Muslim secara umum).

Pertanyaanya: bagaimana dengan umat Arab Kristen dan Yahudi yang juga menggunakan Bahasa Arab dalam kehidupan sehari-hari dan dalam berkomunikasi sebagaimana Arab Muslim? Bukan hanya untuk komunikasi sehari-hari, tata-cara beribadah (misalnya kebaktian Minggu untuk Kristen atau sabat untuk Yahudi), nama-nama tempat-tempat ibadah (Sinagog dan Gereja), dan kitab suci mereka juga menggunakan Bahasa Arab. Foto di bawah ini hanyalah sekedar contoh Kitab Perjanjian Baru umat Arab Kristen dan Kitab Talmud umat Arab Yahudi yang ditulis dengan Bahasa Arab.

Seperti saya jelaskan dalam berbagai postingan di Facebook, dunia Arab bukan melulu “Dunia Muslim”. Di kawasan ini, ada berjuta-juta masyarakat non-Muslim: Kristen, Yahudi, Yazidi, Baha’i, Zarastutra, atau bahkan agnostik dan ateis. Data dari Liga Arab misalnya menyebutkan ada sekitar 20 juta warga Arab yang memeluk Kristen. Mereka tersebar di Lebanon, Palestina, Suriah, Mesir, Irak, dlsb. Masyarakat Arab Yahudi, meskipun tidak sebanyak umat Arab Kristen, juga ada disini seperti di Bahrain, Oman, Yaman dan lain-lain.

Karena Bahasa Arab adalah bahasa mereka, maka umat Arab Kristen dan Arab Yahudi pun bertutur-sapa dan berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari juga menggunakan Bahasa Arab. Seperti kaum Muslim, mereka juga bilang “Allahu Akbar, insyaallah, masyaallah, assalamu ‘alaikum, bismillah, alhamdulilah, syafakallah…”. La iya donk pakai bahasa Arab, masak mereka bilang: sampurasun, sugeng enjing, selamat pagi dan sebagainya. Dan sudah tentu Bahasa Arab mereka jauh lebih fasih ketimbang para “Arab KW” yang “genit” suka berantum-antum dan berakhi-ukhti itu.

Jadilah umat Islam yang cerdas dan dewasa dalam berpikir dan bertindak. Perbanyaklah “turisme intelektual” supaya wawasan keagamaan dan keislaman kita semakin “bergizi” sehingga diharapkan semakin toleran dalam bersikap dan bertindak di masyarakat yang majemuk ini. Jangan cuma “wisata rohani” dan foto-foto di tempat-tempat suci melulu yang dibesar-besarkan. [SQ]

ISIS, Bom Bunuh Diri, dan Ketidaksetujuan Mahasiswa Arab

0

Dalam kelas sosiologiku kami mendiskusikan buku klasik sosiolog Perancis Emile Durkheim, “Suicide“, yang mendiskusikan tentang kasus-kasus bunuh diri di kalangan Protestan dan Katolik. Supaya menarik, saya pancing dengan peristiwa-peristiwa “bom bunuh diri” yang dilakukan oleh sejumlah jihadis di berbagai negara, termasuk di Timur Tengah.

Suasana kelas tiba-tiba jadi ramai dan menariknya tidak ada satupun para mahasiswa Arab-ku (baik Saudi maupun bukan) yang setuju dengan praktek-praktek “jihad kekerasan” yang membunuh anak-anak dan warga sipil yang terjadi di Kenya oleh kelompok teroris Al-Shabbab yang menewaskan ratusan mahasiswa Garissa University College maupun serangan ISIS ke tempat-tempat pengungsi Palestina dan lain-lain.

Mereka juga menolak bergabung dengan kelompok jihadis garis keras dan lebih memilih untuk melanjutkan sekolah di negara-negara Barat. Lho gimana to ini, wong sebagian kelompok Islam di Indonesia ramai-ramai mendukung ISIS karena dianggap memperjuangkan Islam dan umat Islam, la kok malah warga Arab/Saudi sendiri emoh.[SQ]

Umat Kristen dan Non-Muslim di Uni Emirat Arab

0

Uni Emirat Arab (UEA) adalah sebuah negara federasi gabungan dari tujuh “kerajaan federal” yang terletak di Jazirah Arab. Negara-kerajaan industri ini salah satu yang terkaya dan termaju di kawasan Arab Teluk sejak merdeka tahun 1966. Seperti negara-negara Arab Teluk pada umumnya, UEA juga penuh sesak dengan kaum migran yang membanjiri kawasan ini terutama sejak booming minyak tahun 1970-an, 1980-an, dan sejak usai Perang Teluk Irak-Kuwait.

Tercatat dari sekitar 10 juta penduduk UEA, hanya 15% saja yang “penduduk lokal” atau “pribumi” Emirat Arab, sisanya warga migran (ekspat) baik Arab non-Emirat maupun non-Arab, khususnya dari India, Bangladesh, Pakistan, Srilangka, Filipina, Thailand, dlsb. Banyaknya kaum migran di daerah ini berdampak pada terciptanya kemajemukan budaya dan agama.

Tidak bisa dipungkiri, masing-masing warga migran ini kemudian membentuk “sub-kultur” yang mereka bawa dari negara mereka masing-masing sehingga menyebabkan UEA menjadi kawasan sangat kaya dan warna-warni: budayanya, agamanya, tradisinya, tata-busananya, bahasanya, makanannya, aktivitas ekonominya, dan sebagainya.

Berbeda dengan Saudi atau Qatar misalnya yang cukup ketat dalam mengatur dan mengontrol perkembangan budaya dan agama yang dibawa oleh kaum ekspat, UEA sangat longgar dan terbuka dengan aneka ragam ekspresi budaya dan agama. Akibatnya, agama-agama non-Islam tumbuh pesat di negara ini. Tercatat ada sekitar 25% umat non-Muslim (Kristen 9%, sisanya Hindu, Budha, Baha’i, dan minoritas agama lain) di UEA.

Pemimpin politik UEA juga sangat fleksibel dengan aneka perkembangan budaya dan agama warga migran ini bahkan mereka, sejak almarhum Presiden Zayed Bin Sulthan al-Nahyan hingga kini yang dipimpin oleh putranya, Khalifa Bin Zayed Al-Nahyan, mengfasilitasi aneka tempat ibadah kaum migran.

Foto di bawah ini hanyalah contoh kecil di mana Syaikh Mubarak Al-Nahyan (Menteri Kebudayaan dan Pengembangan Komunitas) didampingi oleh Kardinal Pietro Parolin (dari Vatikan) dan Uskup Paul Hinder (Vicar Apostolic of Southern Arabia) sedang menghadiri acara inagurasi pendirian Gereja Katolik Santo Paul di Dubai yang diharapkan mampu melayani sekitar 70-an ribu umat Katolik di kota ini. Di kawasan yang sering disebut “New York-nya Timur Tengah” ini juga berdiri megah Gereja Katedral St. Joseph.

Dalam sambutannya, Syaikh Mubarak Al-Nahyan mengatakan bahwa “UEA sangat menghormati dan menghargai perkembangan dan perbedaan agama. Pembangunan gereja ini adalah sebagai bukti komitmen, penghargaan, dan penghormatan kami terhadap warga non-Muslim di UEA.” [SQ]

Hubungan Muslim-Kristen di Bahrain

0

Suatu saat saya dan kolegaku, Simeon Magliveras, seorang Kristen ber-KTP Yunani-Amerika mengunjungi sebuah masjid raya nan megah di Manama, Bahrain, negara-kepulauan mini tetangga Arab Saudi. Sesampai di halaman masjid yang rindang dan indah itu, temanku agak ragu antara mau masuk masjid dan tidak untuk melihat-lihat arsitektur interior masjid. Ia merasa sebagai orang Kristen yang mungkin dilarang masuk masjid.

Saya pun mencoba meyakinkan dia: “Ayo, coba masuk saja. Kalau nanti mereka menolak ya gak usah masuk. Kalau mereka hanya membolehkan saya yang masuk masjid, saya akan tolak.” Pokoknya, prinsipku waktu itu, kalau boleh masuk ya sama-sama. Kalau tidak sama-sama, ya lebih baik tidak usah sekalian.

Setelah mendengar penuturanku, ia pun setuju. Maka masuklah kami berdua ke pintu gerbang masjid. Di sana sudah ada sejumlah perempuan (bercadar dan tidak) yang duduk-duduk di kursi. Ternyata mereka sedang “bertugas” untuk memperkenalkan masyarakat dan budaya Bahrain. Ada juga seorang lelaki paruh-baya yang ternyata guide untuk masjid itu.

Saya jelaskan ke mereka kalau temanku itu seorang Kristen, apakah boleh melihat-lihat interior masjid? Dengan ramahnya perempuan bercadar itu mempersilakan kami untuk masuk dan melihat-lihat jeroan masjid. Ia bilang, penduduk Bahrain bukan hanya Muslim. Banyak masyarakat Kristen di sini. Banyak gereja di sini.

Masjid ini untuk siapa saja, bukan hanya untuk umat Islam. Mendengar penjelasannya, temanku tadi “mlengeh” dan sumringah, mukanya berseri-seri. Kami pun kemudian melihat-lihat daleman masjid dengan ditemani sang guide tadi yang bernama Ahmad, seorang warga Mesir yang sudah di Bahrain selama 25 tahun. [e]

Gereja dan Sinagog Bertuliskan Arab

0

Adakah gereja-gereja yang bertuliskan huruf Arab? Ya jelas ada dong. Selain Kitab Injil (Kristen) dan Kitab Talmud (Yahudi) berbahasa Arab, gereja-gereja untuk umat Kristen Arab (juga sinagog untuk umat Yahudi Arab) juga menggunakan Bahasa Arab. Ya jelas donk memakai Bahasa Arab wong itu bahasa mereka, masak memakai Bahasa Jawa?

Foto ini hanyalah contoh kecil dari sebuah gereja di Mesir (Gereja Koptik) dan Suriah (Gereja Kristen Ortodoks) yang bertuliskan Arab (diambil dari Kitab Injil surat Yohanes: “Setiap orang yang minum air biasa maka akan cepat haus, tetapi jika minum air dariku [Yesus], tidak akan kehausan selamanya”). Selain Bahasa Arab, Bahasa Aram juga digunakan sejumlah umat Kristen di kawasan Arab.

Seperti saya singgung sebelumnya, ada berjuta-juta umat Kristen Arab yang tersebar di dua puluan negara-negara yang tergabung di Liga Arab. Mereka tersebar di Lebanon, Suriah, Irak, Mesir, Palestina, Jordan, Bahrain, dan masih banyak lagi. Beberapa kelompok Arab Kristen yang populer adalah Koptik, Maronites, Assyrians, Chaldeans, Arameans, Gereja Ortodoks Suriah, dan lain sebagainya.

Umat Arab Kristen (al-‘Arab al-Masihiyyin) kontemporer ini dalam sejarahnya merupakan keturunan dari kelompok-kelompok suku dan klan Arab zaman dulu yang menolak konversi ke Islam dan tetap memilih iman Kristen seperti suku Qahtani, Kahlani, Bani Judham, Ghassasin, dlsb.

Berdasarkan kajian-kajian kesejarahan, suku Arab yang pertama kali memeluk Kristen adalah dari kaum al-Anbath (atau Nabateans) yang mendiami kawasan Jazirah Arab Utara (kini wilayah Saudi) dan Syam (kini Suriah) serta Suku Ghassasinah (Ghassanids) di Jazirah Arab selatan yang kini masuk wilayah Yaman. Ada juga yang merupakan keturunan dari umat Kristen Romawi (Rum) dan Byzantium (Melkites) yang kemudian “di-Arab-kan” oleh sejumlah rezim Islam ketika terjadi penaklukkan kekuasaan.

Jelasnya, Bahasa Arab adalah bahasa komunikasi orang-orang Arab apakah itu Arab Muslim (Sunni, Syiah, Ibadi, dan lain-lain), Kristen, Yahudi, Baha’i, agnostik, dan sebagainya, yang tidak ada sangkut-pautnya dengan Islam. Karena itu kaum Muslim di Indonesia tidak perlu sensi, “emongsiong“, dan marah-marah kalau melihat non-Muslim menulis dan mengucapkan sesuatu dengan Bahasa Arab seperti assalamu alaikum, alhamdulilah, subhanallah, dan lain-lain.

Bahasa Arab bukanlah monopoli dan properti umat Islam tetapi telah menjadi “bahasa lingua franca” berbagai macam pengikut agama. Ingat ya, Arab itu sudah ada sebelum Islam lahir. Begitu pula, umat Arab Kristen dan Arab Yahudi itu sudah lahir duluan ke muka bumi ini jauh sebelum “bayi Muslim” lahir di abad ke-/7 M karena baik Yahudi, Kristen, maupun Islam sebagai rumpun “Agama Semit” sama-sama lahir di Timur Tengah, bukan Eropa apalagi Amerika. Mafhum ente? [SQ]

Penampilan Bukan Cermin Perilaku

2

Jangan mudah tertipu dengan penampilan dan pakaian seseorang. Banyak orang salah menilai seseorang karena hanya melihatnya dari potongan penampilan dan gaya berpakaian. Tidak ada hubungannya antara jubah dan jenggot dengan konservatisme, antara cadar dan kekolotan berpikir, antara sarung dan anti-modernisme.

Banyak orang bersarung, berjubah, berjenggot dan bercadar yang bertindak dan berpikiran maju, modern, progresif dan pluralis-toleran (meskipun tentu saja ada yang sebaliknya). Banyak pula orang-orang yang berpotongan dan berpenampilan klimis, necis dan trendi tetapi jalan pikirannya kuno, otaknya bebal, tindakannya rasis dan intoleran seperti Donald Trump dan kawan-kawan (meskipun tentu saja ada yang sebaliknya).

Banyak pula perempuan yang berjilbab gelombor dan berhijab tetapi hanya sebatas untuk menutupi tubuh di ruang publik belaka atau bahkan karena takut dengan aturan ini-itu. Sementara di ruang-ruang privat, mereka tidak mencerminkan ahlak atau moralitas seorang beragama.

Meskipun, lagi-lagi, ada yang sangat “bermoral”, baik di ruang publik maupun di ruang privat. Pula, banyak orang-orang (laki-laki maupun perempuan) yang suka berpakaian mini tetapi jalan pikiran dan perilakunya semini pakaiannya (walaupun tentu saja ada yang sebaliknya).

Lihat dan nilailah orang dari cara berpikir, berperilaku dan bertutur kata. Di dunia yang penuh “kegilaan” ini, banyak orang berdandan seperti Nabi Muhammad tetapi jalan pikiran, tindakan dan tutur katanya seperti penjahat Abu Jahal atau Abu Lahab, dua tokoh utama yang bengis dan selalu memusuhi Nabi Muhammad di awal-awal sejarah keislaman.

Banyak orang yang mengaku sebagai ulama, ustad dan juru dakwah tetapi jalan pikiran dan tindakannya seperti “begundal tengik” dan provokator penebar kebencian dan intoleransi.

Banyak orang lihai berdalil dan fasih berbahasa Arab tetapi mereka gunakan dalil-dalil dan kefasihan itu untuk mendukung jalan pikiran dan kelompoknya serta menyerang dan memojokkan orang dan kelompok lain, bukan digunakan untuk menebar kebaikan, kedamaian, cinta dan kasih sayang sesama umat manusia. [SQ]

Netanyahu dan Perdamaian Israel-Palestina

0

Salah satu faktor yang membuat macet proses perdamaian Israel-Palestina adalah Benjamin “Bibi” Netanyahu. Dalam sebuah pidato di hadapan AIPAC (American Israel Public Affairs Committee) belum lama ini ia berkata: “In a dark, and savage, and desperate Middle East, Israel is a beacon of humanity, of light and of hope”. Pidato yang bombastis dan membual ini mengisyaratkan dua hal: keburukan Arab dan kebaikan Israel. Padahal, salah satu faktor penting yang membuat proses perdamaian di Palestina menjadi deadlock adalah Benjamin sendiri.   

Netanyahu adalah sosok pemimpin keras kepala yang mau menang sendiri, merasa paling bersih, padahal belepotan dengan darah. Sikap arogan dan angkuhnya itu yang membuat ia dimusuhi banyak pihak, tidak cuma kaum Muslim tapi juga kelompok pro-perdamaian Kristen dan Yahudi.

Sikap bengalnya itu pula yang membuat upaya perdamaian Israel-Palestina yang pernah digagas oleh Shimon Peres atau Jimmy Carter berantakan. Sementara di sisi lain, ironisnya, para anggota Congress di AS betul-betul seperti “kumpulan circus” yang bertepuk-tangan dengan gemuruh saat menyaksikan pidato si Netanyahu yang penuh bualan itu seolah ia adalah pahlawan perdamaian. Di sini kadang saya merasa sedih sekali dengan para elit Amerika yang mengklaim sebagai pejuang demokrasi dan perdamaian global. [SQ]

Arab dan Yahudi di Israel

0

Bagi banyak orang di Indonesia dan juga masyarakat di negara-negara lain pada umumnya, mengira bahwa penduduk Israel semua bersuku Yahudi dan pemeluk agama Yahudi (Judaism). Kenyataanya tidak. Sekitar 20 persen penduduk Israel adalah Arab dan mayoritas Muslim. Sebagaimana etnik Yahudi, warga Arab Israel juga berkerja dan menduduki berbagai posisi di birokrasi pemerintahan, bisnis dan juga kemiliteran serta kepolisian. Sebagai warga Israel, komunitas Arab ini juga akan membela teritorinya.

Warga Arab yang kebetulan bekerja atau bertugas sebagai tentara dan polisi Israel akan melakukan berbagai perintah atasan untuk melawan Palestina, tidak peduli sesama Arab dan Muslim, mereka bekerja “profesional” sebagai aparat pemerintah Israel. Jadi, kekerasan Israel terhadap warga Palestina ini tidak melulu dilakukan oleh tentara/polisi Yahudi, tapi juga Arab itu sendiri.

Sementara itu warga Yahudi di Israel juga bermacam-macam aliran dan sektenya: ada Yahudi Haredi (kelompok ultra-ortodoks, sekitar 9 persen), Yahudi Dati (kaum religious, sekitar 13 persen), Yahudi Masorti (kelompok tradisional, sekitar 29 persen), dan Yahudi Hiloni (kelompok sekuler, sekitar 49 persen). Masing-masing dari mereka memiliki pandangan dan praktek keagamaan serta sikap politik yang berlainan satu dengan lainnya yang jauh dari kesan tunggal dan monolitik.

Yahudi itu adalah nama yang sangat unik. Kata Yahudi dalam konteks kontemporer merujuk pada nama etnik sekaligus agama. Ada pula yang menyebut Yahudi sebagai sebuah “suku”. Banyak orang menganggap setiap orang Yahudi adalah pemeluk agama Yahudi (Judaisme). Anggapan ini keliru besar. Ada banyak orang Yahudi yang tidak beragama Yahudi.

Ada banyak Yahudi sekuler-ateis, agnostik atau memeluk agama lain termasuk Islam. Ada sebuah kelompok bernama “Jews for Allah“, misalnya, yang merupakan kumpulan orang-orang Yahudi Muslim. Dalam sejarah Islam, juga ada tokoh bernama Hussain Ibn Sailam dari Yatsrib (kini Madinah) yang dikenal sebagai rabbi (“Kiai Yahudi”) pertama yang memeluk Islam dan menjadi sahabat setia Nabi Muhammad.

Dari segi populasi, kaum Yahudi yang berjumlah sekitar 14 juta jiwa, tidak hanya ada di Israel tetapi juga di negara-negara lain. Penduduk Yahudi di Amerika bahkan konon lebih banyak dari penduduk Yahudi di Israel yang berjumlah sekitar 6 juta. Masyarakat Yahudi juga banyak yang tinggal di negara-negara Arab yang dikenal dengan sebutan al-Yahud al-‘Arab atau “Yahudi Mizrahi” sebagai lawan dari Yahudi Sephardi di Eropa. Di Israel sendiri seperti saya sebutkan diatas, ada banyak jenis Yahudi yang masing-masing memiliki sikap, pandangan, dan pemahaman politik serta praktek keagamamaan yang berlainan.

Tidak semua kelompok-kelompok Yahudi yang saya sebutkan diatas itu mendukung “negara modern” Israel. Banyak juga dari mereka yang menentang Zionisme. Singkatnya: Yahudi itu, sebagaimana etnik-etnik lain di muka bumi ini, sangat warna-warni dari aspek budaya, agama, politik dan sebagainya.

Foto di bawah ini adalah contoh dari perempuan “ultra-ortodoks” Yahudi Haredi (kalau kurang foto, silakan cari di Google image ada seabrek) yang sering disebut sebagai “Yahudi Taliban” karena mengenakan pakaian “jilbab syar’i” ketat plus burqa dan niqab. Jadi, kalau ada perempuan Muslimah yang ketat memakai “jilbab, hijab, penutup muka itu sangat “Islami” atau sangat “Yahudi” ya?[SQ]

Arab Berlomba-Lomba Sekolah di Amerika dan Barat

0

Salah satu trend masyarakat Arab modern di kawasan Teluk sejak 2-3 dekade terakhir ini adalah berlomba-lomba menyekolahkan kader-kader mudanya yang bagus ke lembaga-lembaga pendidikan bergengsi di Barat, khususnya Amerika.

Aramco, misalnya, sebagai perusahaan minyak terbesar di dunia yang lokasinya di samping kampusku, setiap tahun setidaknya menawarkan beasiswa penuh kepada ribuan anak-anak muda Saudi potensial, baik Sunni maupun Syiah, untuk menimba ilmu di Negeri Paman Sam ini. Mereka yang lolos seleksi ditraining bahasa dan budaya Amerika di komplek Aramco yang luasnya seperti kota tersendiri oleh para “bule asli”.

Perusahaan-perusahaan besar lain di Saudi juga berlomba-lomba menawarkan beasiswa untuk belajar di Amerika dan negara-negara Barat lain khususnya di bidang studi-studi non-Islam (sciences, engineering, kedokteran, perbankan, keuangan, teknologi, dan lain sebagainya). Hal yang sama juga dilakukan oleh pemerintah Saudi yang gencar menyekolahkan kader-kader mudanya ke Amerika, Kanada, atau Eropa Barat.

Saya juga menjadi “penasehat” sejumlah sarjana Saudi yang menjadi Graduate Assistants di departement kami yang akan menempuh studi lanjut di bidang ilmu-ilmu sosial di kampus-kampus Amerika, antara lain Boston University (almamaterku), University of Pennsylvania, Georgetown University, dan Indiana University.

Dari King Abdullah Scholarship Program saja, Arab Saudi sudah memberangkatkan lebih dari 150.000 mahasiswa di negara-negara Barat, khususnya Amerika, Eropa, Kanada, dan Australia, juga China dan Jepang, untuk belajar di berbagai bidang keilmuan. Catat baik-baik ya: negara-negara Barat. Tidak ada satupun yang dikirim ke kampus-kampus Indonesia. Ini tentu sebuah ironi disaat sejumlah kaum salafi di Indonesia melarang sekolah di Barat (bahkan memaki-maki sebagai “kampus kafir”), Saudi sendiri mengerahkan warganya untuk belajar di kampus-kampus Barat!

Menariknya, Saudi menawarkan sejumlah beasiswa ke Indonesia dan negara-negara Muslim berkembang lain untuk belajar ke Arab Saudi (khususnya untuk belajar Islamic studies maupun disiplin lain), sementara mereka sendiri mengirim anak-anak didiknya ke negara-negara Barat. Antik kan? Anda tahu apa arti semua ini? [SQ]

Memperkenalkan Kebudayaan Arab dan non-Arab

0

Setiap akhir semester di kelas Antropologi Budaya, saya selalu mendesain kelas menjadi grup kecil (pair) terdiri dari dua mahasiswa untuk “presentasi etnografi” tentang budaya sebuah masyarakat, baik Arab maupun non-Arab. Setiap semester saya mengajar sekitar 100-an mahasiswa Arab yang dibagi menjadi tiga kelas.

Ada yang presentasi tentang aneka ragam kebudayaan masyarakat Arab di Timur Tengah dari soal musik, sya’ir, tarian, pernikahan, khitan, bercocok-tanam, tata-busana, pengobatan tradisional, kuliner, dan masih banyak lagi. Karena murid-muridku dari berbagai negara Arab, mereka pun memperkenalkan kemajemukan budaya dari negara mereka masing-masing: Saudi, Palestina, Suriah, Yaman, Mesir, Tanzania, Bahrain, dlsb. Ada pula yang menampilkan keunikan tradisi dan budaya masing-masing suku dan klan Arab yang berjumlah ribuan.

Dari sini saya belajar banyak tentang pluralitas budaya, tradisi, dan pendapat dari suku dan masyarakat Arab. Dari mereka saya menjadi tahu bahwa Arab: masyarakatnya, tradisinya, budayanya, dialek bahasanya, adat berpakaiannya dan sebagainya bukanlah “masyarakat tunggal” yang seragam dan monolitik. Mereka sesungguhnya adalah komunitas yang sangat warna-warni karena itu keliru besar jika kita menganggap mereka sebagai komunitas tunggal dan seragam.

Bukan hanya kebudayaan Arab, ada pula mahasiswa yang saya minta untuk presentasi tentang kebudayaan masyarakat non-Arab. Semester ini ada yang presentasi tentang komunitas Yahudi Heradi, Amish, Mormon, Hui, Pasthun, Quaker, Maori, Gypsy, Kurdi, Berber, Semai, dan masih banyak lagi. Ada pula yang saya minta untuk presentasi beberapa kelompok etnik di Indonesia.

Tujuan semua ini tentu saja untuk memperkenalkan para mahasiswa Arab tentang kemajemukan tradisi, budaya, dan agama masyarakat non-Arab. Saya lihat para mahasiswa sangat antusias dan senang sekali dengan model presentasi etnografi ini.

Saya selalu menekankan kepada mahasiswa tentang pentingnya menghormati dan menghargai perbedaan dan keragaman budaya. Masalah “sesat dan tidak-sesat” bukan urusan manusia dan antropolog. Tugas kita sebagai manusia dan sebagai “mahasiswa antropologi” adalah mempelajari, mendalami, dan mengambil hikmah (wisdom) dan pelajaran dari keanekaragaman budaya suku-bangsa tadi. [SQ]

Pendidikan dan Kesejahteraan Ekonomi

0

Pendidikan dan kesejahteraan ekonomi memang dua hal yang berlainan. Orang yang berpendidikan tinggi, bergelar “mentereng” profesor-doktor dari kampus-kampus beken di jagat ini tidak secara otomatis menjamin bahwa ia berpenghasilan baik dan mendapat pekerjaan oke. Sebaliknya, orang-orang yang berpendidikan biasa saja atau bahkan tidak pernah mencium bangku sekolah sama sekali bisa jauh lebih “makmur” dan tajir secara finansial dan ekonomi.

Saya sering sekali mendapat email dari “kaum terdidik” dari Kanada, Amerika, India, Pakistan dan sebagainya yang minta saya membantu mereka mencarikan pekerjaan di kampus tempat saya mengajar saat ini. Ini bukan penipuan “mama minta pulsa” atau “papa minta saham” tetapi betul-betul para akademisi yang bernasib kurang beruntung mendapatkan pekerjaan dengan gaji super-mini atau melakukan aktivitas di luar bidangnya.

Sudah bukan rahasia lagi jika banyak para doktor di Barat kesulitan mencari pekerjaan yang sesuai dengan disiplinnya karena keterbatasan “pasar kerja”. Sehingga, terpaksa melakukan pekerjaan apa saja (termasuk “pekerjaan kasar”) untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sebagian dari mereka “kabur” mengadu nasib ke negara-negara non-Barat dan cukup sukses karena kampus-kampus di negara-negara non-Barat (termasuk Arab) sangat “kebarat-baratan” yan menganggap intelektual bule lebih hebat daripada akademisi non-bule.

Berkas-berkas lamaran para profesor baru yang saya seleksi juga banyak dari para pelamar bule, meskipun yang non-bule juga banyak, khususnya dari Arab, India dan Pakistan yang mendapat gelar PhD dari kampus-kampus mentereng di Barat, sebagian bahkan para profesor senior dengan karya akademik lumayan. Dalam menyeleksi berkas-berkas lamaran, saya tidak melihat bule-non-bule tetapi kualitas akademik, riset, publikasi, dan dedikasi.

Banyak dari mereka menyatakan alasan utama berkarir di sini karena ingin mendapatkan gaji tinggi dan fasilitas-fasilitas lain, bukan mencari pengalaman baru di dunia akademik dan riset. Siapapun mereka, jika alasan utamanya karena hal-hal yang bersifat “material”, pasti saya coret dari daftar. Kalau mau cari uang banyak jangan jadi akademisi tapi jadi pengusaha, “artis”, atau koruptor! [SQ]

Meneliti Tanpa “Menghakimi” Masyarakat Arab

0

Mendapat tugas baru dari kampus sebagai kepala komite penelitian di bidang ilmu-ilmu sosial yang beranggotakan sejumlah profesor dari berbagai negara termasuk Arab Saudi, Mesir, Pakistan, Sudan, China, dan sebagainya.

Salah satu tantangan terberat yang saya hadapi adalah bagaimana mengembangkan program-program riset sosial-akademik khususnya tentang Arab/Middle East studies yang imbang dan “obyektif” sehingga mampu menjadi “penengah” antara dua kubu ekstrim yang saling berlawanan: kubu “friendly” dan “pro” terhadap Arab/Timteng/Islam dan kubu “unfriendly” dan bahkan “antipati” terhadap hal-ikhwal yang berbau Arab/Timteng/Islam.

Dua kubu ini tidak hanya eksis di dunia akademik non-Barat, bahkan di negara-negara Barat pun yang konon menjaga “etika akademik”, masih bisa kita rasakan “pertarungan sengit” dua kubu ini.

 Jika kita perhatikan dengan seksama dalam tempo yang cukup lama, kampus-kampus dan para ilmuwan di Barat mempunyai “jenis kelamin” dan “kecenderungan politik-akademik” yang berlainan mengenai studi-studi/kajian tentang Arab, Middle Eastern, maupun kaum Muslim secara umum.

Ada yang betul-betul tulus ingin mengkaji tentang dunia Islam/Muslim, ada pula yang bertujuan untuk mengetahui kelemahan-kelemahan “the enemies“. Meskipun kontra, cara-cara mereka jelas jauh lebih beradab dalam mengekspresikan kekontraannya, ketimbang mereka yang hobi mencaci-maki umat lain serta merusak properti agama-agama lain hanya karena berbeda pandangan keagamaan. Semoga tugas dan amanat baru ini bisa saya jalankan dengan baik tanpa ada halangan berarti. [SQ]