Barat Belajar Al-Quran, Muslim Perlu Belajar Injil
Kredit ilustrator : Istimewa

Foto ini (kalu tidak salah diposting oleh Islamic Society of North America, kalau keliru tolong dibetulkan) adalah “typical” strategi perjuangan kaum minoritas Muslim di Barat untuk menunjukkan kepada mereka bahwa Islam bukanlah “agama sangar” dan anti-Kristen seperti yang dianggap oleh sebagian masyarakat Barat. Tentu saja akan lebih bagus lagi jika ada komunitas Kristen atau Yahudi yang membuat poster serupa: “I love Islam and Prophet Muhammad because I am a Christian or a Jew,” misalnya.

Sejak peristiwa “terorisme akbar” 9/11 di Amerika, dunia Islam di Barat, AS khususnya, mendapat musibah dan berkah sekaligus. Musibah karena peristiwa terorisme itu telah mengakibatkan Islam menjadi bulan-bulanan di media, komunitas non-Islam dan bahkan di akademia sebagai “agama teror dan kekerasan”.

Hingga kini, kaum zealot anti-Islam masih berkeliaran di Barat bahkan di sejumlah tempat sempat muncul selebaran Ku Klux Klan yang mempropagandakan Islamophobia. Ku Klux Klan adalah organisasi teror dan rasis yang dulu memburu warga kulit hitam untuk dihabisi.

Tetapi tragedi 9/11 itu juga membawa “berkah” tersendiri buat kaum Muslim. Sejak itu, karena penasaran, warga Amerika berbondong-bondong memborong al-Qur’an untuk dipelajari.

Berbagai diskusi tentang keislaman juga marak dan berbagai kampus juga membuka program-program studi Islam (sampai kini tidak hanya di universitas-universitas besar tetapi juga di kampus-kampus kecil) guna mengetahui “jeroan” agama ini. Terlepas apapun motivasi mereka, tentu ini harus diapresiasi.

Anehnya, ketika rezim Bush yang bengal itu membombardir Afghanistan dan Iraq, tidak ada kaum Muslim yang bergairah membeli dan mempelajari Injil, menggelar diskusi-diskusi tentang kekristenan apalagi membuka program-program/jurusan “Christian studies” misalnya atau “kajian Yahudi” dan sebagainya.

Padahal dengan mempelajari khazanah agama dan kebudayaan lain, akan menambah dan memperkaya cakrawala dan wawasan kita tentang “dunia lain” sehingga menjadikan kita lebih matang dan dewasa dalam bermasyarakat, berbangsa, dan beragama.[SQ]

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.