Hasil perbincangan saya dengan sejumlah ulama Syiah Saudi seperti Syeikh Humaidan dan Syeikh Ibrahim al-Bathout ditambah murid-murid Syiah-ku dari berbagai daerah seperti Ahsa, Qatif dan Saihat yang merupakan kantong-kantong Syiah di Arab Saudi menunjukkan fenomena menarik.

Menurut mereka, seandainya terjadi perang antara Saudi dan Iran, maka mereka dan warga Syiah Arab Saudi pada umumnya akan membela Saudi, bukan Iran. Alasannya, menurut mereka, pertama, Saudi adalah negara dan “tanah air” mereka dan kedua, mereka beretnik / bersuku Arab sementara Syiah Iran adalah etnik Persi. Sejumlah warga Syiah Saudi, khsusnya di daerah Najran yang berbatasan dengan Yaman, memang ikut bergabung dalam “koalisi suku-suku Arab” untuk menghalau dampak pemberontakan rezim Syiah Houtis di Yaman.

Ini menunjukkan bahwa kampanye bahaya “Syiah global” (atau “pan-Shi’ism”) seperti yang marak di Indonesia itu sebetulnya hanyalah mitos yang dibesar-bersarkan oleh sejumlah kelompok ekstrim tertentu yang memiliki sejumlah agenda politik-ekonomi-keagamaan tertentu. Ini persis seperti dulu Pak Harto mewanti-wanti “bahaya laten” Syiah bagi NKRI di Indonesia setelah terjadi revolusi Iran 1979 dan terbukti semua itu hanyalah “pepesan kosong” belaka. [SQ]

Artikel sebelumyaSpirit Nasionalisme Arab Kristen
Artikel berikutnyaPeta Konflik Sunni Syiah di Timur Tengah
Antropolog Budaya di King Fahd University, Direktur Nusantara Institute, Kontributor The Middle East Institute, Kolumnis Deutsche Welle, dan Senior Fellow di National University of Singapore.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.