Adanya gerakan anti-konde yang dianggap sebagai “kurang Islami” dan “tidak syar’i” semakin menambah daftar kasus “keunyuan” umat Islam Indonesia dewasa ini. Islam sebetulnya adalah “agama intelek” yang sangat inovatif dan menghargai kreativitas berfikir umatnya.

Tetapi gara-gara tingkah-polah sebagian kaum Muslim yang “unyu-unyu”, Islam kemudian tampak seperti “agama unyu” yang hanya mengurusi masalah remeh-temeh seperti konde,pakaian, rambut, label, klenik, dan lain sebagainya.

Al-Qur’an berisi ajaran dan wacana yang maha luas dengan topik-topik bahasan yang beraneka ragam. Enam ribuan ayat-ayat dalam Al-Qur’an berbicara beragam isu dan tema: sejarah, kebudayaan, pendidikan, pengetahuan, teknologi, pluralitas suku-bangsa, kemajemukan agama, sosial-kemanusiaan, kemiskinan, kebodohan, lingkungan hidup, pelestarian alam, moralitas, kepolitikan, keadilan sosial, dan masih banyak lagi, bukan melulu soal ritual, alam akhirat, siksa kubur, surga-neraka.

Tetapi, lagi-lagi, oleh sejumlah kelompok Islam “tengil” dan unyu-unyu tadi, fakta-fakta dan perspektif Al-Qur’an yang maha luas tadi telah “dibajak” dan “dikorupsi” menjadi “dokumen dunia lain” yang seolah-olah tidak membumi sama sekali. Al-Qur’an yang merupakan “korpus terbuka” dengan aneka ta’wil & tafsir yang fleksibel dan dinamis kemudian menjelma menjadi “korpus tertutup” yang kaku njeku dan anti-perubahan dan kemodernan.

Ruh atau spirit Al-Qur’an yang membebaskan umat manusia dari belenggu ke kemerdekaan berfikir itu kemudian berubah menuju arah sebaliknya: dari manusia merdeka menjadi manusia-manusia yang mandeg deg tanpa kreativitas intelektual dan inovasi spiritual-kebudayaan karena semua itu dianggap sebagai “kapir”, haram, bid’ah, sesat, tidak religius dan klaim-klaim omong-kosong lain.

Pelan tapi pasti, sejumlah umat Islam dewasa ini menjadi tampak “antik” karena hidup di alam modern tetapi pola-pikir dan tingkah-polahnya seperti “makhluk purba” di zaman batu…

Artikulli paraprakKeunikan Bahrain
Artikulli tjetërKonflik Antar-Suku di Arab
Antropolog Budaya di King Fahd University, Direktur Nusantara Institute, Kontributor The Middle East Institute, Kolumnis Deutsche Welle, dan Senior Fellow di National University of Singapore.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini