Beranda blog Halaman 13

Antara Saya dan Nusron Wahid

0

Sekitar sepuluh tahun lalu, waktu saya masih kuliah di Virginia, Amerika Serikat, sebelum melanjutkan studi doktoral di Boston University, telponku berdering. Ternyata senior dan sahabat karibku Mas Ulil Abshar Abdalla yang nelpon dari Boston. Maklum, waktu itu beliau juga masih kuliah di Boston University.

“To, Nusron Wahid sedang di Washington, D.C., ada kunjungan DPR RI, minta ketemuan katanya. Kamu bisa nggak nyusul ke D.C. [sebutan Washington, D.C.]?”, tanya Mas Ulil.

Dibandingkan dengan Boston, Virginia memang lebih dekat dengan Washington, D.C.

“Mas, Nusron suruh telpon saja kapan ada waktu luang, saya akan susul dia ke D.C.” Selang bererapa lama, Nusron telpon minta ketemuan. Maka, berangkatlah saya ke D.C. numpang mobil teman kuliah yang juga seorang diplomat dari sebuah negara di Afrika.

Sesampainya di D.C., maka ketemulah saya dengan Mas Nusron di sebuah hotel. Kami juga tidur sekamar dengan dia (ngirit kali ye he he). Selama di D.C., kami ngobrol ngalur-ngidul tentang banyak hal dari mulai persoalan politik kebangsaan, hubungan antar-agama, sampai masalah dunia pendidikan dan kaderisasi putra-putri bangsa Indonesia.

Seperti biasa, kalau ngomong gaya bicaranya ceplas-ceplos, menggebu-gebu dan meledak-ledak. Matanya “pelolak-pelolok” seperti melotot tapi sebetulnya bukan melotot karena memang begitu kalau dia ngomong he he. Nada bicaraku juga begitu, kalau “otak sedang panas”, jangan salah, saya bisa bersuara menggelegar berkilo-kilo he he. Tidak kalah sama Bung Karno he he. Kalau Mas Nusron cuma melotot, saya bisa melempar kursi he he. Tapi kalau sedang adem ya saya termasuk orang terlucu di dunia. Thukul Arwana lewat lah he he

Meski jarang ketemu karena masalah jarak, kami sering berkomunikasi secara virtual. Saya dan Mas Nusron memiliki latar belakang yang kurang lebih sama: NU, pesantren, PMII. Kami juga sama-sama aktivis mahasiswa dan bekas demonstran “nomer wahid” yang dulu ikut terlibat penggulingan rezim Orde Baru. Soal demonstrasi ini, jangan tanya deh, karena dulu saya adalah “komandan lapangan” setiap aksi demo. Rizieq Shihab lewat deh kalau soal demo ini he he.

Bedanya antara saya dan Mas Nusron adalah saya meniti karir sebagai penulis-akademisi, sedangkan Mas Nusron sebagai politisi dan juga pengusaha. Bedanya lagi, meskipun pendapat kami berdua sering klop tentang pentingnya pluralisme dan kebangsaan tapi “pendapatan” kami jauh berbeda: saya “wong kere,” dia “raja kaya” he he.

Tapi yang jelas Mas Nusron bagiku adalah sosok yang sangat peduli dengan nilai-nilai pluralisme, toleransi, kebangsaan dan nasionalisme. Nusron juga politisi muda yang berani bersikap zig-zag tidak lurus-linier kayak gantar. Di saat dulu banyak orang alergi dengan Golkar, Nusron malah masuk di dalamnya. Di saat Golkar dulu tidak mau dukung Jokowi, Nusron malah bela Jokowi mati-matian. Sekarang, di saat banyak orang anti Ahok, dia juga sama: berani pasang badan untuk membela Ahok. Jujur saja tidak banyak para politisi di negeri ini yang “berkarakter” dan berani mengambil resiko seperti Nusron. Kebanyakan ya “cari jalan selamat”.

Nusron juga tokoh muda-kaya yang sangat dermawan yang telah menolong banyak anak-anak Indonesia yang pintar tapi dari keluarga fakir-miskin untuk kemudian disekolahkan dan dicarikan beasiswa kemana-mana di dalam dan luar negeri. Ia mendirikan sejumlah lembaga untuk mengurusi soal beasiswa ini. Mas Nusron juga mendirikan sekolah kejuruan di kampungnya di Kudus, Jawa Tengah, (namanya SMK Assaidiyah) khusus untuk para pelajar dari keluarga tidak mampu supaya bisa sekolah dan memperoleh masa depan yang cerah kelak.

Ini hanya sekedar berbagi cerita saja. Anda boleh setuju atau tidak setuju. Silakan saja. Yang penting heppiiii.

Makna Ateisme Bagi Umat Beragama

3

Kata “ateisme” sudah lama disalahpahami, wabil khusus oleh umat beragama sebagai “paham/aliran anti Tuhan”. Saya tidak tahu persis sejak kapan penyimpangan makna itu terjadi dan siapa yang menyebarkannya (lebih tepatnya, mempropagandakannya). Tetapi yang jelas, ateisme ini tidak hanya dicaci di dunia Timur tapi juga dimaki di Barat. Hampir setiap agama memandang sinis yang namanya ateisme. Ateisme juga pernah dipakai sebagai propaganda politik untuk menghancurkan komunisme dari muka bumi. Di negeri ini, penghancuran komunisme juga diembel-embeli dengan ateisme.

Komunis adalah ateis! Ini tentu sangat naif, ironi dan konyol. Karena sesungguhnya tidak ada hubungannya antara komunisme dan ateisme sebagai sebuah aliran atau mazhab pemikiran. Di sinilah pentingnya pemikiran kembali (rethinking) atau pembacaan ulang atas “ateisme.” Hal ini bukan sekedar untuk “membersihkan” kata itu dari “oknum” yang tidak bertanggung jawab tetapi lebih pada untuk menempatkan ateisme dalam diskursus yang proporsional dalam bentangan sejarah pemikiran manusia.

Jika kita melacak genealogi ateisme, kata ini sesungguhnya merujuk pada makna semacam perlawanan teologis kaum aktifis-intelektual di Eropa atas rumusan keagamaan (teologi) Gereja yang mapan, elitis dan asosial. Jadi kaum ateis bukanlah kelompok yang menentang atau anti Tuhan—seperti dipersepsikan banyak orang—melainkan kelompok yang melawan rumusan ketuhanan yang dilakukan para teolog dan agamawan. Kenapa mereka melawan? Sebab rumusan ketuhanan yang dilakukan para teolog & agamawan mengandung banyak bias dan distorsi.

Tuhan, oleh para teolog klasik, dirumuskan (tepatnya, diimaginasikan) sebagai “oknum” yang hanya pro laki-laki (dengan begitu anti perempuan), anti-humanistik, manja, pasif, fanatik, gemar pujian sehingga harus diagungkan dan disembah setiap saat. Lebih jauh, nama Tuhan hanya dipakai untuk memberi berkat, pertaubatan spiritual, khotbah-khotbah, pengampunan dosa, doa-doa rohani dan ritus-ritus lain. Tuhan hanya dibayangkan bertempat di Gereja (dalam konteks Islam masjid, sinagog Yahudi dan lain-lain) yang agung yang tidak peduli dengan penderitaan manusia. Dalam konteks inilah, Friedrich Nietszche—salah satu mentor ateisme—memproklamirkan: “Tuhan telah mati!”. Yang dimaksud Nietszche tentu bukan Tuhan yang di langit (itupun kalau Tuhan memang ada disana) tetapi Tuhan yang ada dalam benak para teolog dan agamawan yang tidak lagi bernafas.

Rumusan atau gambaran Tuhan yang demikian tentu saja ditolak oleh kaum aktifis-intelektual. Bagi kelompok terakhir ini, Tuhan (dirumuskan) sebagai “oknum” (zat) yang aktif-progresif, humanis-populis, tidak bias gender dan tentu saja pluralis (baca, tidak memihak pada agama apapun). Tuhan adalah dasar bagi spirit untuk membebaskan manusia dari tirani dan praktek ketidakadilan. Meminjam istilah John Shelby Spong, seorang teolog modern dan mantan Bishop Katolik yang dipecat dari gereja di New Jersey, USA—Tuhan adalah “the ultimate source of life, the ultimate of love and the basis of being”.

Jadi jelaslah bahwa ateisme sesungguhnya bukanlah paham pemikiran yang anti Tuhan (dengan begitu kaum ateis bukanlah kelompok yang anti-Tuhan) melainkan paham atau aliran pemikiran yang anti terhadap teisme. Teisme itu beda dengan Tuhan (kata ini sengaja saya pakai karena relatif lebih netral). Teisme adalah ciptaan manusia sementara Tuhan jauh melampaui batas-batas konsepsi, ide dan definisi. Hakikat Tuhan tidak dapat ditangkap dengan kata-kata (termasuk melalui ungkapan “Firman Tuhan” sekalipun!). Tuhan dalam pengertian ini adalah simbol dari “ke-Segala Maha-an” yang tidak bisa ditangkap oleh kemiskinan bahasa manusia. Sementara teisme adalah rumusan ketuhanan hasil bikinan para teolog. Atau persepsi teolog tentang Tuhan. Karena itu, Fuerbach—yang juga mentor ateisme—mengatakan dengan tegas: theology is anthropology! Dengan demikian, orang yang menolak teisme tidak mesti dia menolak Tuhan!

Seorang ateis bisa saja menolak Allah Tritunggal (Tuhan Kristen), Allah SWT (Tuhan Islam), YHWH (Tuhan Yahudi), Tao (Tuhan Taoisme) dan nama-nama Tuhan lain akan tetapi tidak menolak eksistensi Tuhan sebagai penguasa jagat raya ini. Dengan kata lain, Tuhan yang ditentang oleh pengikut ateisme adalah “tuhan budaya” (kata tuhan sengaja saya pakai t kecil—ini adalah istilah John Cobb, seorang teolog Kristen modern), yakni Tuhan hasil konstruksi pemikiran kebudayaan manusia dalam penggal sejarah tertentu.

Eric Form menyebutnya dengan “tuhan sejarah”. Allah SWT, YHWH, Allah Tritunggal, Tao, Brahman, El, Eloi, Elohim, Sang Hyang Widi Wasa, Puang Matua (dalam tradisi masyarakat Sulawesi Utara) dan seterusnya adalah “tuhan-tuhan sejarah” atau “tuhan-tuhan budaya” hasil konstruksi pemikiran manusia. Lalu siapa Tuhan yang sesungguhnya itu? Cobb menyebutnya “Natural God” atau “Eternal One” menurut istilah John Hick yang tidak bisa dikonstruksikan oleh siapapun (nabi sekalipun!) karena wataknya yang “Maha Misterius”. Karena “Tuhan budaya” jelas tidak bisa dijadikan sebagai basis atau dasar melakukan pemaksaan teologis (misalnya dengan islamisasi atau kristenisasi) kepada orang lain. Konsep atau wacana tentang Tuhan tidak akan pernah selesai. Upaya pencarian Tuhan akan terus terjadi dalam bentangan sejarah manusia. Inilah yang oleh Whitehead disebut “teologi proses”, yakni teologi yang sedang menjadi atau terus berproses sepanjang sejarah manusia—never ending!. 

Berkaitan dengan ilustrasi di atas, menarik memperhatikan pernyataan Ibnul Arabi, seorang tokoh sufi-pluralis muslim kontroversial abad pertengahan. Dalam satu risalahnya, ia menulis: “…barang siapa mengaku ia tahu Allah bergaul dengan dirinya, dan ia tidak mencabut (pengakuan itu), maka itu tanda ia tidak tahu apa-apa. Tidak ada yang tahu Allah kecuali Allah sendiri. Maka, waspadalah sebab yang sadar di antara kamu tentulah tidak seperti yang alpa…”. Apa yang ditulis Ibnul Arabi tadi begitu jelas dan gamblang. Memang tidak ada seorangpun di dunia ini, orang suci sekalipun yang mampu menangkap “Realitas Ilahi”.

Rumusan ketuhanan yang dilakukan para teolog hanyalah meraba-raba tentang “gambar” Tuhan. Para teolog (yang sering mengklaim paling tahu tentang Tuhan itu) hanyalah berusaha menggambar Tuhan. Karena yang digambar adalah Tuhan, zat yang maha misterius dan maha gaib (supernatural being), maka hasilnyapun seperti lukisan abstrak yang penuh coretan dan goresan sana-sini. Tidak utuh. Karena itu tidak pada tempatnya jika hasil lukisan para teolog kemudian diklaim sebagai “Tuhan yang otentik”. Pengklaiman atas “Tuhan Otentik” adalah bagian dari kesombongan antropologis manusia. Dari sinilah perlunya rumusan teologi yang inklusif-pluralistik yang memungkinkan untuk mewadahi atau menampung pemahaman ketuhanan dari kelompok lain, tidak hanya masyarakat modern dan bahkan dari masyarakat suku sekalipun yang sering diledek dengan “primitif”. 

Ingatlah bahwa hasil penelitian antropologi keagamaan menunjukkan tidak ada atau tidak pernah ditemukan adanya “masyarakat primitif” di manapun tanpa sistem kepercayaan teologis. Totemisme Australia, fetisisme Afrika, sistem mana di Papua, demonology Babilonia, gagasan metafisis mengenai jiwa dalam agama lokal India dan lain-lain semuanya memberi kontribusi pada pengetahuan jernih mengenai rasa keberagamaan yang intrinsik. Apakah realitas keberagamaan masyarakat ini harus diabaikan begitu saja? Maka dari itu, sudah saatnya kita menghentikan klaim-klaim teologis yang justru berdampak pada kehancuran peradaban manusia seperti yang kita saksikan selama ini. Sebaliknya, kita harus terus-menerus memupuk dan mengembangkan wawasan teologi yang menghargai pluralitas keberagamaan dan kemajemukan konsep ketuhanan. Rumusan atau wawasan teologi yang melampaui teisme tetapi tidak melampaui Tuhan (beyond theism non beyond God). Atau meminjam istilah Spong, wawasan “Allah non-teistik”.  

Saya rasa ateisme sebagai mazhab pemikiran merupakan awal mula yang sangat baik, setidaknya sebagai “critical discourse” atas konsep dan wawasan teologi umat beragama selama ini yang cenderung eksklusif dan close-minded. Ke depan, saya rasa umat beragama membutuhkan rumusan teologi yang melampaui batas-batas primordialisme agama untuk menciptakan kehidupan keberagamaan yang pluralistik dan transformatif. Disinilah makna kehadiran ateisme.[SQ]

Pahami Konsep Jihad Secara Konstruktif

0

Pengantar:

Umat Islam selalu identik dengan kemunduran, keterbelakangan, dan kemiskinan yang dibentuk oleh “budaya” Islam dan masyarakat Muslim itu sendiri yang anti-kemajuan. Masalah kemiskinan yang melanda kawasan Islam dan kaum Muslim ini bukan semata-mata masalah “kultural”, tetapi juga problem “struktural” (misalnya menyangkut “kebijakan ekonomi”) di masing-masing negara yang berbasis umat Islam. Kalau kita kaitkan dengan jihad, bagaimana kita mesti memaknai jihad yang relevan untuk mengatasi masalah tersebut? Berikut perbincangan Reporter Center for Moderate Muslim Indonesia bersama Sumanto Al Qurtuby.


Selain sebagai penganut agama mayoritas, umat Islam juga mayoritas dilanda kemiskinan, mengapa terjadi demikian?

Kemiskinan merupakan produk atau akumulasi dari banyak faktor tidak bisa dijelaskan dari satu sudut pandang saja. Kemiskinan juga bukan “monopoli” umat Islam saja. Ia terjadi dimana-mana: dari Afrika Utara yang mayoritas Muslim sampai Amerika Selatan yang didominasi Kristen (Katolik). Ia juga menimpa sebagian besar umat manusia di planet bumi ini, baik yang beragama maupun tidak beragama. Penjelasan ini penting karena ada sebagian orang, termasuk para sarjana, baik di Barat maupun Timur, yang berasumsi bahwa kemiskinan merupakan “hak paten” kaum Muslim saja.

Bagi sebagian sarjana Barat yang dipengaruhi teori-teori modernisasi sejak tahun 1950an, umat Islam merupakan identik dengan kemunduran, keterbelakangan, dan kemiskinan yang dibentuk oleh “budaya” Islam dan masyarakat Muslim itu sendiri yang anti-kemajuan. Para sarjana ini sebagian besar dipengaruhi oleh pemikiran sosiolog Max Weber ((1864-1920) yang menempatkan “dunia Timur” (termasuk China yang Konfusius, India yang Hindu, dan juga umat Islam) sebagai dunia yang tidak bisa maju karena “watak kulturalnya” yang “unworldly,” kontras dengan dunia Barat, khususnya negara-negara yang dipengaruhi tradisi Protestan yang sangat “worldly.” Lebih lanjut Weber menjelaskan bahwa kemajuan ekonomi dan kemakmuran negara-negara Eropa Barat ini adalah produk dari “kapitalisme modern,” yang tumbuh karena adanya semacam “capitalist ethos.” Nah “etos kapitalis” ini muncul ke permukaan karena didorong oleh doktrin dan etika agama Protestantism (khususnya Calvinism) yang menekankan pada aspek “worldliness” tadi.

Sementara itu di “dunia Timur,” masih menurut Weber dalam beberapa karyanya seperti The Religion of China atau The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism, kapitalisme modern yang merupakan akar kemajuan ekonomi tidak bisa tumbuh karena di kawasan ini tidak ada agama yang “amenable to capitalist development” karena wataknya yang asketis, hirarkhis, dan unearthly. Karakteristik agama-agama Timur (Buddhism, Hinduism, Taoism, Confucianism, Islam) inilah yang oleh Weber dipandang sebagai penghalang munculnya spirit kapitalisme modern di negara-negara non-Eropa. Oleh karena watak agama, kultural, dan peradaban non-Eropa yang berbeda dengan Eropa inilah, maka “Protestant ethics” dan “capitalist ethos” hanya menjadi pengalaman unik dan eksklusif Eropa (dan negara-negara yang didominasi Protestan seperti Amerika Serikat) yang tidak pernah travel ke masyarakat non-Eropa (dan non-Protestant).

Meskipun pendapat dan prediksi Weber ini tidak 100% keliru tapi banyak yang meleset, dan karena itu sudah banyak ilmuwan sosial di abad ke-20 yang mengkritik teori-teori klasik Weber ini, antara lain yang paling menonjol adalah Robert Bellah (UC Berkeley), Stanley Tambiah (Harvard University), dan Peter Berger (Boston University). Prof. Berger misalnya suatu saat menyindir Weber dengan mengatakan, “I have imagined a number of times that the good German professor (Max Weber) would come back to life today, say on top of a high-rise office building in downtown Taipie, that he would take one look out the window and say, “Well, I was wrong!” (Berger 1988: 7). Taiwan, China, Hong Kong, Korea, Jepang, Singapore, bahkan India saat ini yang ekonominya melambung menjadi “saksi bisu” bahwa tesis Weber di atas melenceng. Spirit “kapitalisme modern” atau “etos kapitalis” ternyata juga tumbuh subur di negara-negara dan komunitas berbasis non-Protestan, termasuk kaum Muslim. Untuk konteks Islam Indonesia, Muhammadiyah adalah salah satu contoh terbaik tentang komunitas Muslim yang mampu mengawinkan “etika dan doktrin agama” (Islam) dengan “etos/spirit kapitalisme” tadi yang oleh anthropolog Stanley Tambiah (1973: 17) didefinisikan sebagai “rational economic activity.”

Karena itu saya cenderung berpendapat bahwa masalah kemiskinan yang melanda kawasan Islam dan kaum Muslim ini bukan semata-mata masalah “kultural” seperti yang diuraikan Weber tetapi juga problem “struktural” (misalnya menyangkut “economic policy”) di masing-masing negara yang berbasis umat Islam. Problem kemiskinan di Libya yang sosialis, misalnya, tentu akan berbeda dengan Afghanistan, Pakistan, Bangladesh, Iran, Iraq, Afrika Utara, dan seterusnya. Kita tidak bisa, orang Jawa bilang, “menggebyah uyah” soal akar-akar kemiskinan kaum Muslim ini.


Bagaimana penilaian Anda terhadap kebijakan pemerintah mengenai pembangunan ekonomi masyarakat?

Maaf saya bukan ekonom jadi tidak bisa menilai baik-buruk atau mengukur sukses-tidaknya kebijakan pemerintah kaitannya dengan pembangunan ekonomi. Tetapi secara umum, terlepas dari masalah masih banyaknya angka kemiskinan dan pengangguran, saya melihat ada perkembangan dan kemajuan cukup signifikan di bidang perekonomian dan kesejahteraan rakyat. Sewaktu Pak Alwi Shihab berkunjung ke AS, kami dari Komunitas NU AS-Kanada mengadakan tele-conference dengan beliau menyangkut, antara lain, masalah perkembangan ekonomi Indonesia. Sebagai Utusan Khusus (special envoy) Pemerintah RI untuk urusan negara-negara Arab dan Timur Tengah khususnya di bidang kerja sama ekonomi (economic cooperations), tugas Pak Alwi antara lain melakukan lobi-lobi kepada sejumlah pemerintah dan pengusaha di Arab dan Timur Tengah untuk melakukan kerja-sama ekonomi dan investasi di Indonesia, dan menurut beliau hasilnya cukup bagus. Menurut beliau respons dan minat pemerintah dan sektor swasta negara-negara di Timur Tengah untuk membangun kerja sama ekonomi dengan Indonesia cukup tinggi. Pak Alwi menjelaskan sudah ada dua bank Timur Tengah yang sudah membuka cabang di Indonesia, dan akan segera menyusul dua bank lagi. Para pengusaha Timur Tengah juga beinvestasi untuk sektor turisme di Lombok, agro industri di Fak Fak Papua, infrastruktur properti di Sulawesi, Kalimantan, dan sebagainya. Sayangnya menurut beliau, para birokrat Indonesia sangat lamban dalam merespons minat berinvestasi para pengusaha Arab dan Timur Tengah ini. Memang tidak ada “resep jitu” untuk membangun ekonomi sebuah negara. Baik sosialisme maupun kapitalisme memiliki nilai plus-minusnya. Karena itu semua membutuhkan proses panjang untuk bisa mencapai kemajuan.

Beberapa kalangan menggagas “ekonomi kerakyatan”, apa bagaimana sebetulnya gagasan itu?

Sekali lagi saya bukan ekonom jadi bukan wilayah saya untuk membahas secara detail dan akademis tentang gagasan “ekonomi kerakyatan” ini. Sebagai orang awam saya hanya bisa bilang bahwa kebijakan ekonomi memang harus bertumpu pada kebutuhan rakyat banyak. Karena profesi rakyat kita beragam mulai petani, nelayan, buruh, pedagang dan lain-lain, maka tugas pemerintahlah untuk mapping kebutuhan-kebutuhan dasar (basic needs) rakyat yang beraneka ragam tadi sehingga diharapkan kebijakan negara/pemerintah bisa “tepat sasaran” dalam pengertian menyentuh kebutuhan “rakyat banyak” tadi, jangan sampai hanya menguntungkan satu kelompok tertentu atau bahkan segelintir orang saja.

Dari sisi ajaran Islam, bagaimana Islam mengatur soal pembangunan ekonomi umat?

Satu hal yang sangat mendasar, sejauh yang saya pahami, Islam tidak mengatur atau merekomendasikan sebuah sistem ekonomi tertentu. Islam hanya memuat “nilai” bukan sistem. Karena itu kita lihat negara-negara yang didominasi umat Islam seperti Iran, Lybia, Turki, Arab Saudi, Mesir, Indonesia, dan seterusnya memiliki “sistem ekonomi” yang beragam. Nilai-nilai yang ditekankan Islam adalah “keadilan” dan “egalitarianisme.” Ini misalnya tersirat dalam Al-Qur’an surat Al-Hasyr ayat tujuh dimana Allah SWT melarang terjadinya akumulasi kapital atau perputaran modal pada segelintir orang saja. Kiai Masdar F. Mas’udi pernah mengulas masalah komitmen Islam pada nilai-nilai keadilan universal dan egalitarianisme tadi dengan sangat baik dan bernas dalam buku klasiknya, Agama Keadilan. Karena itu saya merekomendasikan buku ini untuk dijadikan sebagai “landasan teoretik” bagi siapa saja yang ingin melihat perspektif Islam tentang pembangunan ekonomi khususnya dan masalah-masalah politik secara umum.

Kita tahu di antara missi Nabi Muhammad SAW yang merupakan pewaris Dinasti Quraisy yang didirikan Qushayi bin Kilab pada tahun 480 M adalah untuk menyelamatkan rakyat kecil yang tertindas oleh gempuran sistem sosial-politik-ekonomi yang diskriminatif. Pada waktu itu, sumber-sumber ekonomi hanya dikuasai oleh segelintir kapitalis yang mempunyai modal (capital), sementara rakyat banyak tetap hidup dalam penderitaan. Di tengah kultur Arab yang arogan dan penuh dengan ketidakadilan sosial, penindasan terhadap kaum lemah, pengekangan terhadap aspirasi masyarakat banyak, diskriminasi suku dan gender, pemupukan kapital, pemusatan kekuasaan dan lain-lain yang semuanya mengarah pada struktur sosio-ekonomi bangsa Arab yang menindas kala itu, Nabi Muhammad hadir dengan sejumlah gagasan cemerlang, egaliter, dan reformatif. Kehadiran Muhammad dengan missi Islam-nya adalah untuk membebaskan manusia, istilah Al-Qur’an, dari “kegelapan” (zulumat) menuju “cahaya” (nur): dari sistem sosial-politik-ekonomi yang diskriminatif dan menindas menuju sebuah sistem yang berkeadilan sosial. Inilah, antara lain, yang menjadi missi Islam sebagaimana tersirat dalam QS al-A’raf: 157 dan QS al-Hasyr: 7. Karena itulah jika ada kelompok umat Islam di dunia modern ini hendak membangun “sistem kelas” yang hirarkis atau sistem ekonomi yang tidak adil, maka berlawanan dengan ruh atau spirit ajaran Islam ini.

Jihad yang bagaimana yang sesuai dengan kondisi dan situasi kaum Muslim saat ini?

Menurut saya jihad saat ini harus dipahami secara lebih luas, konstruktif, dan kontekstual untuk mengatasi problem-problem mendasar umat Islam dewasa ini mulai dari kemiskinan, keterbelakangan, kebodohan dan seterusnya. Apa yang dilakukan oleh peraih nobel perdamaian tahun 2006 dari Bangladesh, Muhammad Yunus, yang telah membantu mengatasi masalah kemiskinan dan problem ekonomi jutaan rakyat Bangladesh dan negara-negara lain melalui Grameen Bank-nya adalah salah satu bentuk jihad yang perlu diteladani oleh tokoh dan kaum Muslim lain. Tokoh Muslim yang dijuluki Banker to the Poor ini percaya bahwa pengentaskan kemiskinan adalah salah satu cara efektif untuk menciptakan perdamaian di muka bumi. Demikian juga apa yang dilakukan oleh Abdul Sattar Edhi melalui “Edhi Foundation” di Pakistan yang membantu mengentaskan masalah kemiskinan dan problem keumatan lain baik di Pakistan maupun di negara-negara lain adalah contoh lain dari implementasi jihad yang positif dan membangun.

Apa yang mesti dilakukan oleh partai atau ormas-ormas Islam dalam upaya memberdayakan perekonomian umat?

Sudah semestinya partai atau ormas berbasis Muslim khususnya untuk berkerja sama dalam rangka memperjuangkan umat Islam yang masih tertinggal termasuk di bidang ekonomi, jangan hanya berkelai sendiri-sendiri dengan mengatasnamakan kaum Muslim tertentu, ideologi tertentu, mazhab tertentu, dan seterusnya. Semangat “aliranisasi” harus diminimalisir untuk kemudian fokus pada kepentingan dan kebutuhan rakyat secara luas.

Jika perekonomian umat stabil, apakah itu mendukung berkurangnya tindak kekerasan yang selama ini lebih banyak kaitannya dengan persoalan ekonomi?

Faktor kemiskinan memang ada dalam tindakan konflik dan kekerasan, tapi ini hanya “peripheral issue” saja. Banyak rakyat dan kawasan miskin tapi tidak terjadi tindakan kekerasan. Menganggap kemiskinan sebagai penyebab kekerasan (violence) sama saja dengan mengkambinghitamkan rakyat kecil yang dalam banyak hal justru sering menjadi korban permainan kelompok-kelompok tertentu baik di tingkat nasional, regional, maupun lokal. Kekerasan, seperti kemiskinan itu sendiri, adalah masalah yang sangat kompleks. Kekerasan tidak hanya terjadi di daerah kumuh tapi juga di kawasan elit. Jadi tidak ada jaminan bahwa kestabilan ekonomi akan berdampak pada terciptanya masayarakat yang peaceful dan non-violent. Meski begitu, kesejahteraan rakyat tentu saja akan berdampak positif dan menjadi salah satu “ingredient” bagi social stability. [SQ]

Antara Pluralitas dan Pluralisme

0

Dalam kuliah virtual kali ini, saya ingin mengulas sedikit tentang konsep dan makna pluralitas dan pluralisme yang saya lihat masih banyak disalahpahami oleh komunitas agama, baik Muslim maupun non-Muslim. Gara-gara salah baca, salah paham, atau mungkin kurang akurat dan komprehensif dalam menelaah makna konsep pluralisme ini, dulu MUI pernah mengfatwa haram atas pluralisme. Alasan MUI waktu itu, kira-kira, paham pluralisme telah mencampur-adukan paham keagamaan, penyamarataan doktrin kebenaran yang secara esensial bertentangan dengan Islam sebagai satu-satunya jalan kebenaran. Disini tampak sekali kalau MUI kebingungan membedakan antara pluralisme dengan sinkretisme, relativisme, atau singularisme.

Begini, pluralisme itu adalah semacam filosofi atau pandangan dunia untuk menyikapi fakta-fakta pluralitas atau kemajemukan secara terbuka, open-minded, dan toleran. Pluralitas adalah sesuatu yang bersifat alami, sedangkan pluralisme bersifat kultural. Tidak seperti pluralitas yang merupakan pemberian atau anugerah Tuhan, pluralisme adalah sebuah “prestasi” bersama dari kelompok agama, etnis, dan budaya yang berlainan untuk menciptakan sebuah “masyarakat bersama”. Dengan kata lain, pluralisme adalah sebuah proses pergumulan kreatif-intensif terhadap fakta pluralitas itu yang bertujuan menciptakan sebuah “komunitas bersama” yang saling menghargai keragaman dan keunikan masing-masing agama dan budaya. Pluralitas baru akan menjadi pluralisme, jika masing-masing umat bersedia membuka ruang dialog yang sehat dan pergumulan yang intensif.

Menurut pakar studi pluralisme dari Harvard, Profesor Diana Eck, pluralisme tidak sekedar toleransi, melainkan sebuah proses pencarian pemahaman secara aktif menembus batas-batas perbedaan. Pluralisme juga beda dengan sinkretisme atau paham pencampuradukan ajaran keagamaan seperti New Age misalnya. Pluralisme juga bukan berarti penyamarataan ajaran. Yang terakhir ini namanya “singularisme”, bukan “pluralisme”. Pluralisme juga bukan relativisme karena dalam pluralisme ada semacam “perjumpaan komitmen” yang absen dalam relativisme.

Seorang pluralis bukan berarti seorang yang menanggalkan identitas keagamaan dan komitmennya terhadap agama tertentu karena inti dari pluralisme adalah perjumpaan komitmen untuk membangun hubungan sinergis satu dengan yang lain. Seorang pluralis bukan berarti tidak mengakui eksistensi perbedaan agama sebab perbedaan itu adalah sebuah fakta-fakta sosial yang tidak bisa diabaikan, akan tetapi, bagi seorang pluralis, perbedaan agama itu dijadikan sebagai sumber bagi hubungan agama yang sehat, saling menghormati, serta sebagai kekuatan pemersatu, bukan sebaliknya, melihat perbedaan itu sebagai faktor pemecah yang mengancam identitas keagamaan dan kebudayaan tertentu.

Selanjutnya, pluralisme itu dibangun diatas basis dialog. Bahasa pluralisme adalah bahasa dialog dan perjumpaan, saling menerima dan memberi, serta mau melakukan kritik diri. Dialog berarti berbicara sekaligus bersedia mendengarkan orang dan umat lain. Proses dialog itu harus berusaha menciptakan pemahaman bersama atas fakta-fakta perbedaan dengan sikap hormat dan saling menghargai. Perlu juga dicatat bahwa dialog berbeda dengan debat. Dalam dialog target yang hendak dicapai adalah saling memahami bukan saling mengalahkan seperti dalam debat. Tidak ada kalah-menang dalam dialog.

Inilah makna ketika Al-Qur’an menegaskan “bahwa diciptakannya manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku adalah untuk saling mengenal” (Q. 49:13). Kalimat “berbangsa-bangsa” dan “bersuku-suku” adalah fakta pluralitas sementara “untuk saling mengenal” (ta’aruf) adalah pemahaman tentang pluralisme tadi. Karena itu fakta pluralitas itu baru bisa dipahami jika kita umat beragama memiliki komitmen untuk berdialog yang merupakan ruh dari pluralisme.

Dalam kerangka pemikiran ini, pluralisme setingkat lebih tinggi dari toleransi. Dalam toleransi tidak dibutuhkan pengetahuan (knowledge) dan pemahaman (understanding) atas “yang lain” sementara pluralisme mengsyaratkan keduanya. Meskipun toleransi itu baik dan perlu dalam hubungan antar-agama, tetapi tidak cukup kuat sebagai landasan dialog antar dan intra-agama. Sebab “budaya toleransi” ini masih rawan dan rapuh untuk disusupi dan diprovokasi pihak-pihak tertentu yang memiliki kepentingan agama dan politik.

Demikian penjelasan singkat mengenai pluralisme, semoga bermanfaat. Kalau masih bingung, silakan baca dan renungkan terus-menerus postingan ini sampai tidak bingung lagi he he…

Antara Mudik dan Berkarir di “Lurneg”

0

Beberapa bulan terakhir ini saya bergumul dengan sejumlah persoalan yang cukup pelik: yakni pilihan berkarir di Indonesia atau tetap di “lurneg” (luar negeri) atau mancanegara. Memang sudah lebih dari 12 tahun saya berkelana menggeluti rimba belantara dunia akademik di Amerika Serikat kemudian Arab Saudi.

Ke depan, haruskah saya “mudik” permanen ke Tanah Air atau tetap menjelajah di dunia luar? Saya pernah menolak tawaran dua kampus bagus di Eropa dan tetap memilih berkarir di Saudi karena alasan tertentu yang bagi saya sangat fundamental. Tetapi belakangan muncul berbagai permintaan dan “desakan” sejumlah pihak agar saya “turun gunung” ikut nimbrung memberi “pencerahan” pada berbagai problem intelektual-keagamaan di Indonesia.

Saya sendiri sebetulnya mempunyai keinginan kuat suatu saat nanti (entah kapan, bisa cepat bisa lama) untuk “turun gunung” ikut berkontribusi dan membangun Indonesia sesuai dengan kemampuan dan kapasitas saya tentunya. Sebetulnya saya secara pribadi pernah mengutarakan keinginan untuk mudik ini kepada sejumlah petinggi kampus, tetapi tampaknya mereka sangat berat hati untuk saya tinggalkan, bahkan mereka menaikkan gaji saya secara signifikan. Mereka juga memberiku mandat dan amanat sebagai kepala penelitian di bidang ilmu-ilmu sosial yang cukup berat dan menantang. Mereka minta saya tetap mengabdi di kampus sampai tua ikut mengembangbiakkan ilmu-ilmu sosial dan humanities disini.

Satu sisi memang sangat berat sekali meninggalkan para kolega dan murid-murid Saudiku yang sangat baik dan juga humoris. Masyarakat Saudi, kesanku, adalah masyarakat yang memiliki selera humor tinggi, kontras dengan para “Arab KW” di Indonesia yang sukanya marah-marah. Rating mengajarku selalu tinggi mendekati sempurna yang menandakan kesukaan mahasiswa terhadap sistem belajar-mengajar yang saya terapkan.

Tetapi haruskah saya selamanya di Saudi atau di “lurneg” entah dimana? Haruskah saya terus mengajar untuk “orang-orang dari bangsa lain”? Apalah artinya hidup ini kalau tidak memberi kontribusi kepada masyarakat dan bangsanya sendiri? Apalah artinya hidup ini kalau hanya untuk menyenangkan dan memenuhi kebutuhan diri sendri atau keluarga saja tanpa memperhatikan kepentingan masyarakat banyak?

Saya sadar, banyak tantangan yang luar biasa besar jika saya memutuskan untuk mudik suatu saat nanti. Dibutuhkan semangat perjuangan dan dedikasi yang lumayan serta pengorbanan yang tidak sedikit jika saya harus mudik. Tetapi bagiku, orang hebat itu bukan orang yang meniti karir akademik di luar negeri tetapi orang yang mampu mempengaruhi dan membawa “orang-orang asing” itu untuk datang ke dalam negeri: ke Indonesia dan belajar tentang keindonesiaan. [SQ]

Antara Koh Ahok dan Habib Rizieq

0

Belakangan beredar video Rizieq Shihab di You Tube dimana sang “Habib Petamburan” ini terang-terangan menuduh ada ulama su’ atau “ulama bodong” yang sering menipu umat pakai Al-Qur’an dan Hadis. Silakan cari sendiri videonya, saya agak malas menampilkan di dinding FB-ku. “Ulama su’ dia nipu pake Al-Qur’an. Dia nipu pake Hadis,” kata sang habib.

Saya tidak tahu siapa yang Rizieq maksud sebagai “ulama su'” itu. Yang menarik adalah kenapa tidak ada gelombang protes massa umat Islam terhadap Rizieq yang jelas-jelas menuduh ada “ulama bodong” yang nipu umat pakai Al-Qur’an dan Hadis? Kenapa kaum Muslim tidak marah kemudian menggelar “demo akbar” dengan alasan Habib Rizieq telah menistakan Al-Qur’an, telah melecehkan Hadis, telah menghina Islam, dst?

Kenapa tidak ada yang menggelar “jihad konstitusional” untuk melawan Rizieq Shihab? Kenapa tidak ada yang melaporkan Rizieq ke pihak berwajib dengan tuduhan “penistaan agama”? Kenapa pula tidak ada ustad yang mewek-mewek menangis sambil nampang di TV karena Rizieq telah mencemarkan nama baik ulama?

Sebaliknya, kenapa publik Muslim hanya marah besar kepada Ahok? Padahal si koh ini “cuma” bilang “dibooingin pake itu ayat”. Bandingkan dengan Pak Rizieq yang rombongan bilang “ulama bodong”, Al-Qur’an, dan Hadis.

Anda tahu kenapa? Karena Ahok Kristen (non Muslim) sementara Rizieq seorang Muslim. Dengan kata lain, bukan “apa” tapi “siapa” yang mereka persoalkan. Persoalan utamanya bukan “apa yang dikatakan” tetapi “siapa yang mengatakan”. Jadi “jihad konstitusional” dan demonstrasi akbar yang mereka lakukan itu sebetulnya bukan untuk “membela Islam”. Kalau mereka betul-betul tidak terima “Islam dinistakan”, mereka akan melakukan hal yang sama dengan Rizieq.

Ini persis seperti demonstrasi massa publik Muslim di Indonesia yang begitu heroik atas kekerasan di Palestina, Bosnia, Burma/Myanmar, atau Mindanao dengan alasan “membela Muslim” tetapi pada saat yang sama mereka “pura-pura pikun bin rabun” dengan perang, kekerasan, dan kekejaman yang terjadi di Irak, Afganistan, Suriah, Yaman, Mesir, Sudan, dlsb. Sebabnya jelas. Karena pelaku kekerasan di Palestina, Bosnia, Burma atau Mindanao itu “si kapir” sementara pelaku kekerasan di Irak, Afganistan, Suriah, Yaman, Mesir, Sudan, dlsb itu “si Muslim”.

Nah, sekarang jelas kan? Jadi jangan mau “diboongin” lagi oleh para “makelar politik” dan “pedagang agama” itu. [SQ]

Antara Dukun dan Dokter

0

Apa sih sebetulnya perbedaan mendasar antara dukun dan dokter? Kenapa sejumlah kelompok agama, dalam Islam misalnya, menganggap haram dan musyrik (menyekutukan Tuhan) jika mendatangi dukun sementara oke-oke saja kepada dokter? Jika mempercayai dukun dianggap sebagai “menyekutukan Tuhan”, bukankah semestinya mempercayai dokter juga sama? Kenapa “menggantungkan hidup” kepada dokter dianggap halal, sedangkan “menggantungkan hidup” kepada dukun dianggap haram?

Lebih lanjut, kenapa ziarah ke sejumlah kuburan para wali dan orang-orang yang dianggap sakti guna minta “wasilah” atau sarana penyebuhan sebuah penyakit dipandang sebagai tindakan kafir-musyrik, sementara mendatangi rumah sakit atau klinik kesehatan dipandang normal-normal saja? Jika kuburan dituduh sebagai “sarang kemusyrikan”, rumah sakit mestinya juga sama. Maka, jika kuburan dimusnahkan demi “pemurnian ajaran Islam” dan ketuhanan, maka rumah sakit harusnya juga sama: ikut dilenyapkan karena banyak orang yang “menuhankan” dokter. Tapi kenapa malah kuburan atau makam “dikambinghitamkan” dan dihujat dimana-mana, sementara rumah sakit dan klinik-klinik kesehatan dibangun (dan dikomersialkan) dimana-mana.

Jika orang boleh percaya kepada dokter, kenapa mereka dilarang percaya kepada dukun? Apakah karena dukun dianggap “memuja setan” sementara dokter tidak? Saya kira tidak juga. Banyak para dukun kontemporer yang agamis dan saleh yang metode penyembuhannya memadukan unsur-unsur keagamaan dengan tradisi, kebudayaan, dan kebijaksanaan lokal. Bagaimana hukumnya jika seorang Muslim “menggantungkan hidup” kepada seorang dokter non-Muslim atau mungkin seorang dokter ateis atau agnostik? Atau pasien non-Muslim yang dirawat oleh seorang dokter Muslim?

Selanjutnya, kenapa mantra dan “jampa-jampi” (dalam bahasa lokal) sebagai sarana pengobatan yang dilakukan oleh seorang dukun dianggap sebagai haram, sementara “mantra dan jampa-jampi” dengan menggunakan teks-teks Bahasa Arab yang diambil dari sebuah kitab misalnya dipandang sebagai halal? Kenapa air, dupa, kembang dan aneka medium pengobatan tradisional dianggap haram, sementara sarana “obat-obatan modern” (pil, kapsul, jarum suntik, inpus, dlsb) dipandang oke-oke saja?

Kembali pada pertanyaan saya diatas: apa sejatinya perbedaan antara dukun dan dokter? Bukankah perbedaanya hanya terletak pada nama, cara atau metode pengobatan, dan alat-alat atau sarana penyebuhan saja, bukan pada “substansi pengobatan”?

Horace Miner pernah menulis sebuah artikel klasik (terbit tahun 1956 di “American Anthropologist”) yang masih populer hingga kini dalam studi Antropologi berjudul “Body Ritual Among the Nacirema”. Artikel ini “memparodikan” praktek pengobatan modern (ala Amerika kontemporer) dengan “pengobatan tradisional” kelompok /suku Nacirema di Amerika Utara yang sebetulnya adalah sama saja: sama-sama sebuah “ritual tubuh”. Jadi, saya tegaskan lagi, apa sebetulnya perbedaan substansial antara dukun (atau apapun namanya) dengan dokter (atau apapun namanya)? [SQ]

Antara Bahasa Indonesia dan Bahasa Malaysia

0

Untuk sementara kita lupakan sejenak soal “ontran-ontran” Pilkada Jakarta yang bikin perut mules. Lagi-lagi Ahok, lagi-lagi Ahok. Bikin uhuk-uhuk. Hidup ini harus rileks, tidak perlu tegang terus, meskipun kita lahir di muka bumi ini sebagai “produk ketegangan” orang tua kita masing-masing he..he. Salah satu problem dari kelompok agama konservaif dan “garis keras” itu adalah tidak memiliki selera humor, jadinya marah-marah dan ngamukan melulu.

Untuk sementara mari kita bahas Bahasa Indonesia dan bahasa negara tetangga kita tercinta, “negeri Upin-Ipin” Malaysia. Saya bukan ahli bahasa (linguistik) meskipun dulu waktu sekolah di Boston University, saya pernah mengambil mata kuliah “Linguistic Anthropology” yang diampu oleh Bu Nancy Smith-Hefner yang, seperti suaminya yang menjadi pembimbing akademik dan mentorku Pak Robert (Bob) Hefner, juga spesialis tentang Indonesia.  

Konon Bahasa Indonesia dan Bahasa Malaysia itu akarnya sama: Bahasa Melayu yang pada zaman dahulu kala menjadi bahasa lingua franca di kepulauan Melayu-Indonesia atau Asia Tenggara. Teapi jujur saja, dalam perkembangannya saya sering bingung karena banyak tata-bahasa, istilah dan kosa kata yang beda dan unik antara Bahasa Indonesia dan Bahasa Melayu di Malaysia. Pada waktu ceramah di Pontianak, saya pernah semobil dengan seorang dosen dari Malaysia, dan dia mengajukan pertanyaan yang membuat saya bingung:

“Bapak mengajar di Saudi itu memohon atau dipohon?”

Pikirku waktu itu, “Lo mengajar kok ‘di pohon’, emang saya Tarzan aaauuwoooo?”

Untung saja ada teman yang langsung memberi klarifiasi kalua maksudnya adalah “melamar atau dilamar”.

Ada banyak contoh lain, misalnya:

Rumah sakit bersalin (“hospital korban lelaki”—hah, korban lelaki? Kurang ajar memang laki-laki nih)

Jalan-jalan (“makan angin”—lo, angin kok dimakan? Entar masuk angin terus keluar angin dong he..he.)

Gampang (“banci”—aduh bok, kuliah virtual-nya banci banget he he)

Kementerian Agama (“Kementerian Tak Berdosa”—ah siapa bilang tak berdosa wong banyak korupsi juga disini he he. Untung sekarang Menagnya Pak Lukman Hakim Saifudin yang “wokeh” sekali)

Angatan Darat (“laskar hentak-hentak bumi”—njeblos nanti buminya dihentak-hentak terus)

Pocong (“hantu bungkus”—lontong kali ye dibungkus he he)

Dokter ahli jiwa (“dokter gila”—ha ha ha “no comment”)

Purnawirawan militer (“pasukan tak berguna”—nah ini baru bener, memang tak berguna mereka kalau kerjaannya bikin ribut terus mengacaukan bangsa tapi kalau gak ya gak)

Kementerian Hukum dan HAM (“Kementerian tuduh-menuduh”—menteri kok urusannya tuduh-menuduh sih he he)

Toilet (“bilik merenung”—mari kita merenung di WC kita masing-masing hehe)

Ini hanya contoh, silakan ditambahi sendiri kalau punya stok kata. Buat teman-temanku yang dari Malaysia, tidak ada maksud apa-apa dari postingan ini selain untuk melepas ketegangan tadi biar tidak “sutris” hehe. Saya kira Anda juga merasakan hal yang sama “lucunya” dengan kite-kite disini: misalnya “dokter gila” kok dibilang “dokter ahli jiwa” he he.     [SQ]

Antara “Ajaran Islam” dan “Budaya Arab”

3

Saya perhatikan dengan seksama sepertinya banyak kaum Muslim (juga non-Muslim) yang bingung membedakan antara ajaran Islam dan tradisi atau kebudayaan Arab. Padahal itu gampang sekali segampang mencari “warteg” (Warung Tegal) atau “wardang” (Warung Padang) di Jakarta, atau KFC/McD di Saudi. Tapi baiklah saya beri “clue” sedikit saja, selebihnya silakan Anda belajar sendiri dan membaca sendiri sebanyak-banyaknya buku-buku dan tulisan-tulisan berkualitas biar cakrawala dan wawasan kita semakin mengsamudra, tidak sempit seperti “lubang hidung.” 

Begini, kalau “ajaran Islam” ya berarti eksklusif dipraktekkan umat Islam saja dong seperti salat wajib yang lima kali sehari itu, puasa wajib yang sebulan itu, haji yang wajib setahun sekali itu, tauhid yang meng-Esa-kan Tuhan itu, dlsb. Meskipun sebetulnya, secara substansial apa yang kemudian “ditahbiskan” sebagai “ajaran Islam” itu juga bukan “eksklusif Islam” karena semua itu berasal dari ajaran-ajaran umat agama sebelumnya, khususnya Yahudi dan Kristen tapi juga agama-agama suku Arab.

Ajaran-ajaran atau norma agama pra-Islam itu kemudian ada yang diserap apa adanya (misalnya pengharaman daging babi yang sudah lama diajarkan dalam Kitab Yahudi), tapi ada pula yang “dimodifikasi” (sembahyang, haji, puasa, dll, termasuk dalam kategori ini). Bahkan ajaran paling fundamenal dalam Islam, yaitu “tauhid” atau penegasan tentang ke-Esa-an Tuhan, juga bukan monopoli Islam saja. Ada banyak agama pra-Islam yang menerapkan sistem monoteisme ini, bukan hanya Yahudi dan Kristen saja tapi juga Zoroastrianisme, Mandaeisme, Sabianisme, dlsb.

Lalu, yang tradisi atau kebudayaan Arab seperti apa? Gampang, kalau apa yang oleh umat Islam klaim sebagai “ajaran, norma atau kebudayaan Islam” itu ternyata kok dipraktekkan oleh umat non-Muslim Arab berarti itu tradisi dan kebudayaan Arab. Contohnya hijab, jenggot, jubah, dlsb. Seperti yang sudah sering saya sampaikan, berjubah dan berjenggot juga dipraktekkan oleh masyarakat Arab non-Muslim. Demikian pula dengan tradisi berhijab yang juga dipraktekkan oleh Arab non-Muslimah. Demikian pula “Bahasa Arab” yang juga dipraktekkan oleh masyarakat Arab, apapun agama mereka.

Singkatnya, hijab, jubah dan jenggot ini sudah menjadi “shared cultures” di antara masyarakat Arab, baik Muslim/Muslimah maupun bukan. Bahkan bukan hanya masyarakat Arab saja tetapi juga masyarakat dari etnis lain yang tinggal di kawasan Timur Tengah atau “Middle Eastern”. Tentu saja dalam perkembangannya, karena satu dan lain hal, tidak semua masyarakat Arab / Timur Tengah ini, baik Muslim maupun bukan, berjubah, berhijab, atau berjenggot. Bahwa dalam sejarahnya, ada tradisi dan kebudayaan Arab itu yang kemudian “diislamkan” (menjadi bagian dari norma Islam) memang iya. Memang dalam sejarah perkembangan agama-agama di dunia ini, ada banyak budaya yang diagamakan, adapula banyak norma-norma agama yang dibudayakan.

Umat Islam sah-sah saja mengatakan berjubah dan berjenggot itu dalam rangka “nyunah Nabi” sama sahnya dengan pengikut agama lain yang berjubah, berjenggot, dan berhijab yang juga mengklaim mengikuti sunah para pendahulu agama-agama mereka. Nabi Muhammad SAW kan “orang Arab” jadi ya wajar kalau beliau juga mempraktekkan kebudayaan Arab itu. Coba bayangkan kalau beliau itu orang Jawa, kira-kira pakaian apa yang akan beliau kenakan? Kira-kira busana macam apa yang akan beliau anjurkan untuk dikenakan bagi kaum Muslimah? Selamat berefleksi dan berkontemplasi. [SQ]

Jabal Dhahran, Arabia   

Antara Agama dan Pil Ekstasi

0

Dalam beberapa hal, agama itu mirip pil ekstasi. Keduanya bisa membuat “mabuk” dan “terbang” orang-orang yang menelannya. Sebagaimana ekstasi atau “pil koplo” ini, agama juga mampu membuat para pemeluk fanatiknya kehilangan nalar-pikiran waras. Beragama, jika tidak diiringi dengan akal sehat, memang bisa menyulap para pengikutnya menjadi “kerbau-kerbau bebal” persis seperti orang mabuk yang otaknya kosong-mlompong

.Simaklah apa yang dilakukan oleh anggota FPI (Front Pelecehan Islam) yang menganggap jaket paskibraka merah putih bersilang ini sebagai bagian dari modus untuk memasyarakatkan salib dan mengsalibkan masyarakat (di Banten). Hanya orang “mabuk” yang mempunyai pikiran-pikiran tidak waras seperti ini. Hanya orang “mabuk” pulalah yang mempercayai Hawa (Eva)–yang oleh agama-agama Semit dinarasikan sebagai perempuan pertama di dunia–sudah berjilbab sejak detik pertama “turun” ke bumi.

Banyak contoh orang beragama yang perilakunya bukan seperti manusia tetapi hanya “setengah manusia” saja alias “das man”. Lihatlah bagaimana bengisnya perilaku sejumlah kelompok agama yang seperti orang “teler” alias “mabuk” melakukan berbagai tindakan kriminal dan tidak manusiawi: kekerasan, pengrusakan, pembunuhan, pemerkosaan dan sebagainya. Mereka mengkliam melakukan semua itu demi membela agama dan Tuhan. Agama dan Tuhan dengkulmu.

Beragama seharusnya mampu mengantarkan pemeluknya menjadi “manusia sejati” alias “der Ubermensch” yang ramah-toleran dengan sesama umat manusia dan alam semesta. Agama hadir, saya percaya, untuk membantu umat manusia agar menjadi individu-individu yang sempurna atau “manusia sejati” tadi. Apalah artinya beragama, jika hanya menurunkan derajat dan kualitas Anda dari “manusia penuh” menjadi “menusia setengah”? Beragama kalau begini caranya kan “mubazir”. Mikir dikit kenapa, dikit saja… Jabal Dhahran, Arabia [SQ]

Anis Itu Pengikut Syiah, Eh Bukan

0

Dulu, Anda tentu masih ingat bagaimana orang-orang yang mengerumuni Anis seperti di foto ini begitu heroiknya menuduh Mas Anis sebagai pengikut Syiah, agen liberal, dan antek Yahudi-Amerika. Tapi Anda lihat sekarang, mereka ketawa-ketiwi dan bersuka-ria mendukung pencaguban orang yang mereka “Singah-liberalkan” itu. Mereka pun ramai-ramai mengoreksi status ke-Syi’ah-an Pak Anis. Ibaratnya, kalau dalam Al-Qur’an ada ayat nasih-mansuh, maka status Pak Anis yang dulu “Syiah bin liberal” itu kini sudah “mansuh” (dihapus) dan kembali “normal” seperti sedia kala.

Kira-kira bagaimana perasaan Pak Anis dikelilingi orang-orang ini? Bagaimana pula kira-kira perasaan orang-orang yang mengelillingi Pak Anis ini? Sebagai “Muslim sejati,” saya pantang menjilat ludah sendiri (tapi ya gak apa-apa juga ya menjilat ludah sendiri daripada menjilat ludah orang lain? he he). Sebagai Muslim murni pembela syari’ah, saya juga pantang “memilih akar” meskipun “tak ada rotan.”

Sebagai “Muslim islami”, saya akan terus mendukung tokoh-tokoh Islam yang betul-betul jelas keislamannya, bukan “Islam abal-abal” seperti Pak Anis. Meskipun bumi ini njomplang, langit runtuh, laut meluap memuntahkan air bah, dan petir menyambar-nyambar pun, saya akan tetap mendukung idola-idolaku para tokoh Muslim murni dan sejati sebagai cagub-cawagub Jakarta.

Meskipun para tokoh parpol “sontoloyo” itu ogah mencalonkan para tokoh Muslim murni dan sejati ini, saya akan tetap mendukung dan mengusung Baginda Rizieq Shihab, Ustad “Ucup” Mansur, Bang Haji Rhoma, Ustad Aripin Ilham, atau “Bang Oji” atau Bang Rozi. Bila perlu, mencalonkan mereka dari jalur independen mengumpulkan sejuta KTP warga Jakarte.

Kalau “si tapir” Ahok saja bisa ngumpulin sejuta KTP, masak mereka gak bisa? Jakarta itu milik umat Islam, jadi pasti gampang sekali ngumpulin sejuta KTP. Jangankan sejuta, sejuta satupun pasti gampang bingittss. Itu jauh lebih terhormat daripada “balik kanan” mendukung Anis yang dulu saya kapir-sesatkan. Lagi pula saya masih punya kemaluan, jadi malu dong dukung Pak Anis. Emang gue cowok apaan?

Ayo tunjukkan, siapa yang suka dengan ide pengumpulan sejuta KTP untuk para tokoh Muslim pujaan umat Islam ini, silakan “like” dan “share” status ini biar Jakarta dipimpin oleh tokoh-tokoh yang Islamnya betul-betul Islam sehingga kelak ibukota Indonesia ini menjadi contoh “kota islami” sedunia dan seakhirat. [SQ]

Aneka Ragam Pakaian Tradisional Saudi

0

Sebagaimana negara-negara lain, Saudi juga punya beraneka ragam “pakaian tradisional”. Foto di bawah ini hanya contoh dari pakaian tradisional yang disebut “jubah Hijazi”. Menarik diperhatikan setiap daerah di Saudi (Hijaz, Najran, Ahsa, Qatif, Najd, Afifi, dlsb) memiliki ciri khas pakaian tradisional. Bahkan setiap suku-suku besar juga memiliki “pakaian kebesaran” sendiri-sendiri lengkap dengan jenis pedang dan tutup kepala yang sangat unik.

Sayangnya, pakaian-pakaian tradisional di Saudi ini “hampir punah” diserbu oleh “pakaian modern” ala Barat. Sudah susah mencari pengrajin pakaian tradisional ini. Saya selalu sarankan kepada murid-muridku untuk tidak melupakan pakaian tradisional karena itu bagian dari identitas dan budaya masyarakat setempat. Tetapi kebanyakan mereka malu mengenakannya karena dianggap tidak modern, ketinggalan zaman, tidak modis, dlsb.

Murid-muridku seperti di foto ini mengenakan jubah tradisional Hijazi ini karena saya suruh untuk membawa dan memakai pakaian tradisional ini pada waktu presentasi di kelas. Gejala ini juga mirip di Indonesia dimana sebagian masyarakat sudah mulai melupakan pakaian tradisional mereka (seperti kebaya, dlsb). Bedanya: jika di kawasan Arab, masyarakatnya, khususnya kalangan mudanya, menggandrungi “pakaian ala Barat”, sementara di Indonesia, sebagian masyarakat justru menggandrungi pakaian ala Arab he he. [SQ]

Al-Qur’an Itu Firman Tuhan atau “Firman Naik”?

0

Saya perhatikan jama’ah Naiker (maksudku, cheerleaders Pak Zakir Naik) hiruk-pikuk menyebarkan pendapat dokter bedah dari India yang menjadi buron di negaranya sendiri karena terkait dugaan aksi-aksi intoleransi, radikalisme dan terorisme.

Salah satu pendapatnya yang disebarluaskan adalah tentang kewajiban memilih pemimpin Muslim itu hanya berlaku bagi orang-orang (Muslim) yang mempercayai kebenaran Al-Qur’an. Artinya, kalau ada Muslim yang memilih pemimpin non-Muslim berarti mereka tidak mempercayai kebenaran Al-Qur’an. Begitulah kira-kira kata si kura-kura he he. Sepertinya ini “pesan sponsor” deh dari itu tuh “klub ok oce” he he.

Jika memang benar apa yang dikatakan Pak Naik itu, maka sudah ada berjuta-juta umat Islam dan tak terhitung lagi jumlah kaum Muslim di dunia ini (yang jelas lebih dari 7 juta deh he he) yang tidak mempercayai Al-Qur’an hanya karena memilih “pemimpin” non-Muslim.

Coba saja kalian hitung sendiri berapa jumlah kaum Muslim yang tinggal di negara-negara penduduk non-Muslim: dari negara-negara di Benua Afrika sampai negara-negara Barat (Eropa, Australia, Amerika Utara, dlsb). Mereka tentu saja memilih “pemimpin” politik-pemerintahan non-Muslim.

Tidak usah jauh-jauh ke Afrika atau Barat, sekarang silakan lihat India, yaitu negaranya Pak Naik sendiri. Ada sekitar 172 juta umat Islam disini (dari berbagai kelompok: Sunni, Syiah, Bohra, Nizari, Ahmadiyah, Ismaili, Ahle Sunnat Barelvi, Salafi, dlsb), sekitar 14% dari total penduduk India. Baik Presiden maupun Perdana Menteri India adalah non-Muslim (Hindu), yaitu Pak Narendra Modi (PM) dan Pak Pranab Mukherjee (presiden).

Di kawasan mayoritas berpenduduk Muslim bahkan juga ada yang mempunyai kepala negara atau kepala daerah yang non-Muslim (khususnya Kristen: Protestan, Katolik, Maronite, dlsb) seperti di Senegal, Lebanon, Palestina, dlsb. Bahkan di Indonesia sendiri, banyak sekali kaum Muslim yang memilih kepala daerah (gubernur, bupati atau walikota) non-Muslim karena pertimbangan kredibilitas dan kualitas kandidat.

Apakah mereka semua tidak mempercayai kebenaran Al-Qur’an? Jelas tidak dong cing. Kepriben si rika? Kumaha atuh mang? Meyakini kebenaran Al-Qur’an itu satu hal, memilih kepala negara / kepala daerah itu hal lain. Tidak ada hubungannya.

Apa yang kalian “pedomani” itu pada hakikatnya adalah “tafsir”, “takwil”, pendapat, atau pemahaman ayat Al-Qur’an, belum tentu itu makna dan maksud sebenarnya Al-Qur’an. Tentu saja, kalian boleh dan sah-sah saja mempercayai dan bersikukuh terhadap tafsir, takwil, pendapat, dan pemahaman Anda atas Al-Qur’an tetapi jangan menganggap dan menghakimi tafsir, takwil, pendapat, dan pemahaman orang lain terhadap Al-Qur’an sebagai “sesat dan menyimpang”.

Jika Anda menganggap tafsir, takwil, pendapat, dan pemahaman orang lain atas Al-Qur’an yang kebetulan berbeda dengan Anda sebagai “sesat dan menyimpang”, berarti Anda telah menyejajarkan diri Anda dengan Tuhan sebagai “penulis” dan “pemegang hak cipta” Al-Qur’an. Semua pendapat adalah nisbi dan relatif, tidak ada yang mutlak benar maka jangan sekali-kali memutlakkan sebuah pendapat dan pemikiran. Al-Qur’annya benar, manusia yang memahami dan menafsiri yang berpotensi keliru. Karena itu saling-menghormati pendapat adalah jalan terbaik.

Sebagaimana Anda, saya, dan orang lain, Pak Zakir Naik tentu saja boleh berpendapat atas ayat-ayat dalam Al-Qur’an. Tetapi tetap saja hasilnya adalah sebuah pendapat atas Al-Qur’an, bukan (makna sebenarnya) Al-Qur’an itu. Tentu saja hanya Tuhan yang tahu pasti makna sebenarnya dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Manusia hanya mencoba untuk memahami dan menafsirinya saja. Jadi, kalau Anda ngotot mempertahankan dan mempercayai kebenaran pendapat Pak Zakir Naik, kalian ini sebetulnya meyakini Al-Qur’an sebagai “Firman Tuhan” atau “Firman Naik” [SQ]

Aneka Ragam Jihad

0

Bagi yang mendalami masalah studi-studi keislaman, maka akan segera paham jika kata “jihad” memiliki makna yang beraneka ragam. Implementasi kata “jihad” pun beraneka ragam. Banyak ayat Al-Qur’an dan Hadis Nabi Muhammad yang menjelaskan tentang aneka ragam makna dan implementasi “jihad” ini.

Karena itu jika ada kelompok dan tokoh agama yang menganggap “jihad” semata-mata sebagai “berperang” atau “angkat senjata” adalah keliru besar sekaligus sebagai bentuk kebohongan publik. Kata “perang” dalam Bahasa Arab klasik bisa “al-harb” atau “al-ghazw,” bukan “jihad”.

Dengan kata lain, “jihad” yang makna awalnya adalah sebuah “usaha atau perjuangan keras” tidak memiliki makna tunggal. Jihad bisa berarti berjuangan fisik angkat senjata melawan penjajah dan kaum penindas. Tapi pada saat yang sama, jihad juga bisa bermakna perjuangan spiritual dalam diri kita untuk melawan dan menundukkan perbuatan jahat dan dosa.

Jihad juga bisa bermakna usaha keras lahir-batin untuk menjadi seorang beriman yang baik. Kerja keras menggunakan perangkat intelektual dalam rangka untuk memikirkan makna dan kebesaran ciptaan Tuhan juga bisa dikatakan sebagai bentuk jihad.

Ketika Nabi Muhammad ditanya tentang “jihad”, beliau juga memberi jawaban yang bermacam-macam sesuai dengan konteks dan “sikon” si penanya. Kadang beliau mengatakan haji dan umrah itu sebagai jihad. Lain waktu beliau menjawab berbakti kepada kedua orang tua juga sebuah bentuk jihad yang mulia. Membesarkan dan mendidik anak agar kelak menjadi “orang pintar” juga bagian dari jihad yang sangat agung dalam Islam. Dan masih banyak lagi contoh lain yang disabdakan dan dipraktekkan oleh Nabi Muhammad.

Nabi Muhammad bahkan memandang jihad melawan hawa nafsu sebagai bentuk jihad yang jauh lebih besar ketimbang perang yang ia sebut sebagai “jihad kecil”. Nafsu memang penyakit manusia yang susah untuk dihilangkan dan diperangi: nafsu terhadap kekuasaan, nafsu terhadap kekayaan, nafsu terhadap kemewahan, nafsu terhadap popularitas, dlsb. Nafsu serakah umat manusia inilah yang menurunkan derajat mereka dari semula sebagai “makhluk mulia” menjadi makhluk yang “hina-dina”.

Karena dorongan nafsu inilah, akhirnya banyak manusia yang tenggelam dalam air comberan. Nafsu inilah yang membuat banyak orang saling caci, saling umpat, saling merendahkan, saling berkelai, dan bahkan saling bunuh satu sama lain tidak peduli satu agama, satu iman, satu Tuhan, satu etnis, satu suku-bangsa, satu negara, dan bahkan satu keluarga. Karena itu tidaklah salah jika Nabi Muhammad menganggap jihad melawan hawa nafsu ini sebagai “jihad agung”.

Jadi kalau ingin berjihad, tidak perlu jauh-jauh ke Irak atau Suriah, atau capek-capek di jalan-jalan Jakarta. Cukup memerangi diri kita sendiri. Itu sudah bentuk jihad yang luar biasa besar dan mulianya. [SQ]

Al-Qur’an itu “Kitab Liberal”

0

Jika kata “liberal” atau “liberalisme” diartikan sebagai sebuah pandangan dunia atau filsafat sosial-politik yang dibangun diatas ide-ide tentang kebebasan individu (freedom / liberty) dan kesamaan (equality / egalitarianisme), maka Al-Qur’an sejatinya adalah sebuah “Kitab Liberal”. Sudah lama saya berpandangan bahwa Al-Qur’an adalah sebuah “korpus terbuka” dan “teks dinamis-dialogis” yang penuh dengan ajaran-ajaran tentang toleransi, pluralisme, kebebasan, perdamaian, persamaan, dan seterusnya.

Sayangnya, oleh sejumlah kelompok Muslim “unyu-unyu” yang otaknya masih “orisinal” karena malas berfikir dan menggali “harta karun” kebudayaan, peradaban, intelektualisme, dan misteri-misteri yang tertimbun di dalam samudra Al-Qur’an, kitab agung ini kemudian seolah-olah menjelma menjadi “buku mati” yang anti-dialog, kontra-kemanusiaan, anti-pluralitas dan seterusnya.

Coba perhatikan sejumlah diktum yang sangat revolusioner dalam Al-Qur’an, misalnya tentang larangan pemaksaan dalam beragama serta pemberian kebebasan individu untuk beriman dan tidak beriman. Bukankah ini sangat liberal dan revolusioner? Sekitar 15 abad yang lalu, Al-Qur’an sudah mewacanakan tentang pluralisme agama. Jika 15 abad kemudian, ada sejumlah kelompok umat Islam yang justru anti-pluralisme dan toleransi agama, maka jelas mereka telah melanggar pesan moral, etika, norma, dan mandat Al-Qur’an.

Bukankah dulu Nabi Muhammad pernah meminta tolong kepada Tuhan untuk “mengislamkan” pamannya, Abu Thalib, tapi malah “ditolak” dengan halus oleh-Nya? Karena memang buat apa sih repot-repot (apalagi ngotot-ngotot sambil bawa pentungan) “mengislamkan” orang lain? Umat Tuhan kan banyak sekali dan warna-warni: agamanya, suku-etnisnya. Emang mereka umatnya siapa kalau bukan umat-Nya? Tugas utama Nabi Muhammad juga bukan untuk “mengislamkan dunia” tetapi untuk memperbaiki ahlak manusia yang bejat dan meruwat moral manusia yang tidak manusiawi sehingga mereka betul-betul “menjadi manusia” yang utuh bukan “setengah manusia”.

Al-Qur’an juga menandaskan tentang pentingnya persamaan politik dan egalitarianisme ekonomi. Al-Qur’an mendobrak dan mengobrak-abrik sistem politik-ekonomi berbasis tribalisme di Makah dan Jazirah Arab yang sangat diskriminan, tidak adil, pro-elit, dan anti-kerakyatan. Al-Qur’an dengan tegas mengutuk para elit politik dan penguasa ekonomi yang tidak pro-rakyat serta tidak peduli dengan nasib dan penderitaan “wong cilik” yang menggelepar kelaparan karena kemelaratan. Al-Qur’an mengutuk para kapitalis, orang-orang kaya penimbun harta sementara tetangga mereka menderita busung lapar. Doktrin “tauhid” yang menegaskan tentang “keesaan Tuhan” sejatinya adalah untuk memberantas mentalitas orang-orang yang masih menuhankan harta, suku, jabatan dlsb.

Masih banyak contoh-contoh teks, ajaran, norma, dan wacana Al-Qur’an yang menunjukkan sebagai sebuah “kitab liberal”. Keriting nanti jari saya kalau harus menulis semua di Facebook. Akhirul kalam, jika 15 abad yang lalu saja pesan-pesan moral Al-Qur’an sudah sedemikian liberal dan revolusioner, seharusnya 15 abad kemudian, umat Islam berpikiran lebih maju, intelek, pluralis, dan humanis, bukan malah tersungkur dalam pola-pikir “zaman purba” dan perilaku “zaman batu”. Mikir lagi yuk… [SQ]