Catatan: tulisan ini saya tulis sebagai
penghargaan terhadap mantan teman kelasku, Leymah Gbowee, penerima “Nobel
Perdamaian 2011” dari Liberia. Leymah adalah sosok “perempuan biasa yang
luar biasa”. Selamat menikmati kisah-kisah heroiknya dalam memperjuangkan
perdamaian di negaranya yang mengantarkannya menjadi penerima Nobel Perdamaian.
Nama
lengkapnya Leymah Roberta Gbowee. Oleh teman-teman dan koleganya, termasuk
saya, ia biasa dipanggil Leymah. Ia adalah mantan teman sekolahku sewaktu saya
mengambil gelar master di bidang Conflict and Peace Studies di Center for
Justice and Peacebuilding, Eastern Mennonite University di Harrisonburg,
Virginia, Amerika Serikat dari tahun 2005 sampai 2007. Banyak juga yang
memanggilnya “Mama” Leymah karena memang bentuk fisiknya yang bongsor dan
karakter orangnya yang keras dan kuat bak “Kanjeng Mami”.
Sepintas
orangnya tampak menakutkan karena badannya yang besar dan kekar (plus kulitnya
yang hitam) laksana “Nyonya Meneer.” Tapi kesan itu segera sirna begitu kita
mengenalnya lebih dekat. Memang bentuk fisik badan tidak menjadi ukuran untuk
menilai baik-buruk seseorang. Orang yang bertubuh kecil-mungil tidak menjadi
jaminan bahwa orangnya berkarakter baik. Lihat saja, misalnya, Adolf Hitler,
konselir Jerman kelahiran Austria pembantai jutaan warga Yahudi ini. Orangnya
kecil. Kumisnya juga sedikit. Tetapi dunia tahu, betapa ganasnya bekas bos
Partai Nazi ini.
Demikian
juga dengan orang yang bertubuh besar-kekar, bukan berarti mereka lantas
berhati jahat. Orang-orang Ambon misalnya yang (rata-rata) berbadan kekar,
tegap, tinggi, kasar, dan agak hitam—kontras dengan orang Jawa misalnya yang
bertubuh mungil dan lemah-gemulai—sering dipersepsikan oleh sejumlah pihak berkarakter
buruk. Tetapi jika kita menyelami kehidupan mereka dari dekat, kesan itu hilang
sama sekali seperti yang saya alami selama setahun tinggal bersama mereka
sewaktu penelitian doktoral. Orang Ambon sering memetaforkan fisik mereka
seperti pohon sagu yang bentuknya besar-kekar-kasar tetapi dalamnya putih.
Jelasnya, baik-buruk seseorang tidak diukur dari bentuk fisik mereka.
Begitu
pula dengan Leymah. Kontras dengan bentuk fisiknya besar-tegar, ia ternyata
perempuan yang sangat ramah dan humoris sehingga banyak disukai teman-temannya.
Saya juga suka sama Leymah karena orangnya lucu dan periang seperti tidak ada
beban dalam hidupnya, meskipun belakangan saya tahu itu keliru. Pada 2006, saat
ia merayakan ultah, saya memberikan hadiah buku kumpulan humor. Kalau tidak
keliru buku itu berjudul Laughter the Best Medicine. Saat membuka
hadiah itu, Leymah tertawa ngakak sampai tubuhnya yang bongsor itu
bergoyang-goyang. Ia tunjukkan hadiah itu kepada para profesor dan teman-teman
lain yang kemudian ikut tertawa membahana, atau istilah orang Amerika, “laugh
out loud” (biasa disingkat lol).
Leymah
juga hobi dansa. Dansa yang ia kuasai bukan dansa ala salsa dari Amerika Latin
yang lembut dan erotik itu. Melainkan dansa model Afrika yang keras dan energik.
Berbeda dengan tarian salsa yang mengandalkan gerakan gemulai semua anggota
tubuh, tarian Afrika ini hanya bertumpu pada goyangan pantat yang kencang dan
bertubi-tubi. Supaya sukses berdansa ala Afrika ini dibutuhkan bentuk bokong
yang besar dan padat. Mereka, laki-laki atau perempuan, yang berbokong tepos
tidak bisa berdansa model ini.
Selain
dansa, Leymah juga gemar mengadakan pesta dengan mengundang teman-temannya,
termasuk saya tentunya, ke apartemennya yang sederhana. Di Amerika, ada sebuah
tradisi namanya “potluck” dimana setiap orang yang diundang untuk
pesta (party) biasanya membawa makanan atau minuman khas daerahnya
masing-masing untuk di-share dengan orang lain yang hadir di
acara pesta. Jangan bayangkan kalau yang namanya “pesta” ini serba wah. Pesta
di Amerika bisa bermacam-macam bentuknya: dari yang super sederhana seperti “tea
party” alias “pesta minum teh” (biasanya hanya sejumlah orang saja,
kecuali “Boston Tea Party” yang merupakan pesta tahunan warga Boston di
Massachussetts untuk merayakan kebebasan dari penjajah Inggris) sampai yang
super mewah seperti pesta-pesta glamor para silibritis Hollywood.
Dalam
setiap pesta potluck ini, saya biasanya membawa nasi goreng
atau makanan cemilan khas Jawa (atau China) seperti onde-onde, nogosari,
lumpia, atau apa saja yang bisa dibikin oleh istriku (maklum saya tdak pandai
memasak). Ada juga yang membawa minuman: wine, sprite, coca-cola, beer dan
seterusnya. Tetapi biasanya yang dibawa adalah makanan khas negara
masing-masing (kecuali bagi yang malas masak tentunya!). Potluck bukan
hanya medium untuk berbagi makanan tetapi juga berbagi cerita, informasi,
perkenalan, dan diskusi dari masalah yang remeh-temeh hingga masalah besar
seperti politik kenegaraan. Jadi tradisi potluck di Amerika ini
tidak sekedar tempat “kongko-kongko” atau ajang ngrumpi ala ibu-ibu
arisan, tetapi bisa difungsikan sebagai public sphere ala
Jurgen Habermas, tempat dimana orang saling bertukar ide.
***
Pada
tahun 2011 lalu, betapa kagetnya saya mendengar nama Leymah disebut sebagai
salah satu pemenang “Nobel Perdamaian” yang sangat bergengsi itu. Semula saya
ragu apakah benar dia adalah Leymah yang saya kenal. Setelah saya cek berita
dan foto penerima Nobel, ternyata benar, Leymah menjadi salah satu pemenang Nobel
Perdamaian bersama Ellen Johnson Sirleaf (Presiden Liberia) dan Tawakkul Karman
(jurnalis dan aktivis muda dari Yaman).
Perempuan
kelahiran Liberia, Afrika Barat, pada tahun 1972 silam ini, “diganjar” hadiah
Nobel Perdamaian karena dianggap sukses memimpin “gerakan protes” yang
mengakhiri Perang Sipil di negaranya pada tahun 2003. Gerakan protes damai yang
dimpimpin Leymah ini berhasil memaksa rezim diktator pimpinan Charles Taylor
untuk menandatangani perjanjian damai dan membuka kran bagi pemilu demokratis
pada 2005. Selain itu, Leymah dianggap layak menerima penghargaan Nobel
Perdamaian itu karena, seperti ditulis para juri penilai hadiah Nobel,
ia—bersama Ellen Johnson Sirleaf dan Tawakkul Karman—dinilai berjasa dalam
memperjuangkan hak-hak kaum perempuan untuk berpartisipasi penuh dalam politik
dan kerja-kerja perdamaian global serta perjuangan damai untuk membela kaum
perempuan dari tindakan kekerasan penguasa dan militer.
Liberia
yang berpenduduk sekitar empat juta jiwa ini adalah satu-satunya negara di
Afrika yang merupakan bekas jajahan Amerika. Kebanyakan negara-negara di Afrika
dijajah oleh Perancis, Inggris, atau Italia. Sebagian lagi dijajah Belanda.
Kisah tentang negara yang kemudian dikenal dengan Liberia ini dimulai tahun 1820.
Pada saat itu para budak di Amerika yang berasal Afrika yang telah dibebaskan
dikirim ke kawasan ini. Atas bantuan American Colonization Society—ACS (nama
lengkapnya the Society for the Colonization of Free People of Color of
America), kaum imigran budak Afrika-Amerika ini kemudian mendirikan sebuah
negara baru bernama Republik Liberia pada tahun 1847 dengan ibukota negaranya
bernama Monrovia, yang diambil dari nama James Monroe, presiden kelima Amerika
dan pendukung utama kolonisasi di Liberia.
Didirikan
pada tahun 1817 oleh Robert Finley dari New Jersey, Amerika Serikat, ACS adalah
organisasi swasta yang bertujuan untuk memberi suaka otonom bagi para budak
(dan keturunannya) yang berasal dari Afrika yang diperbudakkan di Amerika sejak
koloni Inggris pada abad ke-16. ACS ini agak mirip dengan gerakan Zionisme yang
dibentuk Theodor Herzl pada tahun 1887 yang juga bertujuan untuk mencari “suaka
otonom” kaum Yahudi yang kini disebut Israel. Para tokoh ACS berpendapat,
Afrika adalah tempat yang cocok untuk suaka para budak Afrika-Amerika dan
keturunannya ini. Mereka pun kemudian menemukan daerah yang kini dikenal
Liberia itu sebagai “rumah baru” para budak Afrika-Amerika ini.
Karena
didukung oleh ACS, sistem politik-pemerintahan di Liberia pun meniru model
Amerika, dimana ada sistem eksekutif , legislatif, dan yudikatif. Maka sejak
proklamasi pendirian negara ini, Liberia selama 130 tahun—di semua sektor:
sosial, politik, ekonomi, dan budaya—dipimpin dan dikuasai oleh kelompok
minoritas (sebagai dominant minority) keturunan para budak
Afrika-Amerika ini yang kemudian dikenal dengan sebutan Americo-Liberians.
Meski berdiri sejak 1847, proses modernisasi masyarakat dan liberalisasi
ekonomi di Liberia baru dimulai pada 1940-an dibawah kepemimpinan Presiden William
Tubman.
Tahun
1940-an memang era Perang Dunia II dimana Amerika berambisi untuk “memodernkan”
negara-negara di Afrika, Timur Tengah, Asia, dan Amerika Latin guna membendung
pengaruh komunisme Soviet. Asumsinya adalah, jika negara-negara pasca kolonial
Eropa ini maju secara ekonomi, maka mereka tidak bisa dipengaruhi oleh
virus-virus komunisme. Pada waktu itu Amerika tidak hanya berambisi memodernkan
sistem politik dan ekonomi negara-negara “Dunia Ketiga” saja supaya menjadi
pendukung trio “kapitalisme, liberalisme, dan demokrasi,” melainkan juga
mendanai proyek-proyek riset ilmiah dengan menunjuk sejumlah ilmuwan sosial
terkemuka Amerika—seperti Daniel Lerner, Talcott Parsons, Edward Shils,
dlsb—untuk memimpin proyek riset ambisus itu. Hasil-hasil riset mereka inilah
kemudian melahirkan sejumlah teori modernisasi dan sekularisasi.
Bencana
ekonomi dan politik di Liberia mulai terjadi pada tahun 1980, ketika kudeta
militer yang dipimpin Samuel Doe menggulingkan kekuasaan Americo-Liberian
pimpinan William Tolbert. Sejak itu Liberia menjadi saksi dua kali Perang Sipil
yang memilukan yang mengakibatkan kematian ratusan ribu jiwa dan ratusan ribu
pengungsi serta menghancurkan sendi-sendi politik dan ekonomi negeri itu.
Perang Sipil pertama terjadi antara 1989-1996. Dipimpin oleh Charles Taylor,
kelompok pemberontak National Patriotic Front of Liberia berhasil menguasai
pemerintahan Samuel Doe. Ia sendiri tewas dibunuh pemberontak pada 1990.
Terbunuhnya
Samuel Doe tidak lantas membuat Liberia aman karena faksi pemberontak terbelah
dan saling memerangi. Sampai akhirnya pada 1995, dimana terjadi perjanjian
damai antar kelompok pemberontak. Pemilu 1997 digelar yang berhasil
mengantarkan Charles Taylor sebagai presiden baru. Sayang, bukannya membawa
Liberia ke dalam kedamaian dan kemakmuran, Taylor justru melakukan
praktek-praktek pemerintahan yang korup dan kejam. Maka pada 1999, Liberia
kembali terlibat Perang Sipil melawan pemerintahan. Kali ini pemberontakan
dipimpin oleh Liberians United for Reconciliation and Demoracy. Pada 2003,
kelompok kedua pemberontak muncul di bawah bendera Movement for Democracy in
Liberia yang membuat suasana politik bertambah kacau.
***
Pada
saat Liberia dilanda Perang Sipil kedua inilah, Leymah Gbowee yang juga
pemimpin gereja Lutheran ini muncul sebagai sosok “pemberontak damai.” Di bawah
bendera Women of Liberia Mass Action for Peace, Leymah memimpin ribuan kaum
perempuan selama berbulan-bulan untuk melakukan aksi damai yang kemudian
berhasil memaksa Presiden Charles Taylor dan kaum pemberontak untuk
menandatangi perjanjian damai di Ghana pada tahun 2003.
Aksi
protes yang dilakukan Leymah dan kelompoknya pun tergolong unik. Mereka berdoa
dan menyanyikan lagu-lagu perdamaian selama berbulan-bulan di sebuah pasar
ikan. Ribuan kaum hawa ini—Kristen dan Muslim—mengenakan pakaian dan kaus serba
putih sebagai perlambang perdamaian. Mereka juga membawa poster-poster berisi
pesan-pesan perdamaian dan nasehat kepada para pemberontak dan pemerintah untuk
melakukan rekonsiliasi demi kemajuan Liberia. Tidak hanya itu, mereka juga
melakukan aksi protes dalam bentuk “perlawanan seksual” (biasa disebut “sex
strike” atau “sex boycott” dalam literatur social
movements, yakni aksi protes dengan menggunakan atau mengekspresikan
simbol-simbol seksualitas seperti telanjang) serta “ancaman karma/kutukan” (curse).
Leymah
dan kelompoknya berhasil memaksa Presiden Charles Taylor untuk melakukan
perundingan dengan kedua kelompok pemberontak—Liberians United for
Reconciliation and Democracy dan Movement for Democracy in Liberia—di istana
kepresidenan Ghana. Selama berlangsung perundingan antara kaum pemberontak dan
pemerintah itu, Leymah dan kaum perempuan yang dipimpinnya mengepung istana.
Mereka tidak membolehkan baik kelompok pemerintah maupun kaum pemberontak untuk
keluar ruangan sebelum perjanjian damai diteken. Jika mereka menolak, Leymah
dan kaum perempuan akan mengancam melakukan aksi telanjang di publik.
Menurut
kepercayaan tradisional warga Liberia, perempuan, terlebih ibu-ibu, yang
telanjang di area publik bisa mendatangkan bencana dan kutukan bagi kaum pria.
Karena takut terhadap karma atau kutukan jika kaum ibu-ibu nekad telanjang,
maka mereka pun akhirnya menyepakati perjanjian damai. Di antara klausul
perjanjian damai itu, Liberia menggelar pemilu bebas-demokratis pada 2005. Tim
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) kemudian mengawal proses perjanjian damai itu
sampai dibentuknya pemerintahan baru hasil pemilu itu.
Dalam
sebuah artikel khusus tentang Leymah Gbowee, Majalah O, The Oprah
Magazine, menulis proses transisi politik dramatik itu sebagai berikut:
The
Liberian civil war, which lasted from 1989 to 2003 with only brief
interruptions, was the result of economic inequality, a struggle to control
natural resources, and deep-rooted rivalries among various ethnic groups,
including the descendants of the freed American slaves who founded the country
in 1847. The war involved the cynical use of child soldiers, armed with
lightweight Kalashnikovs, against the country’s civilian population. At the
center of it all was Charles Taylor, the ruthless warlord who initiated the first
fighting and would eventually serve as Liberian president until he was forced
into exile in 2003.
Pada
pemilu baru yang digelar tahun 2005 ini dimenangkan oleh tokoh politik
perempuan bernama Ellen Johnson Sirleaf yang merupakan mantan Menteri Keuangan
Liberia era Presiden William Tolbert yang digulingkan dalam kudeta Samuel Doe
tahun 1980 itu. Perempuan kelahiran 1938 ini tercatat sebagai perempuan pertama
yang menjadi presiden dalam sejarah politik Afrika. Begitu memimpin Liberia,
Sirleaf langsung melakukan sejumlah reformasi penting di bidang politik dan
ekonomi termasuk memberikan hak-hak penuh kepada kaum perempuan di negaranya
untuk melakukan partisipasi politik dan aktivitas publik lain sebagaimana kaum
laki-laki. Karena jasanya inilah ia pun ikut dihadiahi Nobel Perdamaian bersama
Leymah.
Tentu
saja Leymah tidak sendirian dalam memimpin aksi heroik kaum hawa itu. Selain
Leymah ada Asatu Bah Kenneth, presiden Liberia Female Law Enforcement
Association yang juga pendiri Liberian Muslim Women’s Organization. Leymah dan
Kenneth merupakan simbol koalisi damai Kristen-Muslim Liberia yang membawa
pengaruh penting bagi hubungan antar agama di negeri itu.
***
Dalam
memoir-nya, Mighty Be Our Powers (2011), Leymah berkisah
bahwa suatu malam di tahun 2002, saat tertidur di kantornya, Women in
Peacebuilding Network (WIPNET), sehabis melakukan pelatihan trauma
healing untuk para korban Perang Sipil di negaranya, ia bermimpi
mendengar suara gaib, “Kumpulkan kaum perempuan dan berdoalah untuk perdamaian!.”
Sejak mimpi itu ia selalu terngiang-ngiang, merasa mendapatkan “wangsit” dan
“mandat Tuhan” untuk mengorganisir kaum perempuan dalam aksi damai untuk
menghentikan perang dan kekacauan di negaranya sejak meletusnya Perang Sipil
tahun 1989.
Bersama
tokoh perempuan Muslim, Asatu Bah Kenneth, Leymah kemudian membentuk Women of
Liberia Mass Action for Peace yang menjadi medium penggerak aksi protes damai
yang mengakhiri kepemimpinan Presiden Charles Taylor itu. Setiap Jum’at, mereka
berdua dan kelompok perempuan yang tergabung di lembaga ini pergi ke masjid,
setaip Sabtu ke pasar, dan setiap Minggu ke gereja untuk melakukan aksi-aksi
damai sekaligus guna menggugah hati-nurani warga lain untuk bergabung dengan
mereka bersama-sama menyuarakan perdamaian. Dalam setiap aksinya mereka selalu
membawa spanduk atau poster bertuliskan: “We are tired! We are tired
of our children being killed! We are tired of being raped! Women, wake up! You
have a voice in the peace process!” Selain itu mereka juga membawa
gambar-gambar yang mengekspresikan gerakan damai supaya dimengerti oleh mereka
yang tidak bisa membaca.
Maka
sejak 2002, nama Leymah sudah dikenal luas di negaranya sebagai penggerak kaum
hawa untuk melakukan aksi-aksi damai dengan berbagai cara, strategi, dak taktik.
Berbulan-bulan bersama ribuan kaum perempuan Kristen dan Muslim, Leymah menjadi
pemimpin gerakan perdamaian yang dipusatkan di ibukota Liberia, Monrovia,
tempat ia dilahirkan. Ia bergerak melampaui batas-batas etnik dan agama demi
terwujudnya perdamaian di negara yang ia cintai. Puncaknya pada tahun 2003
ketika ia dan kelompok perempuan yang dipimpinnya sukses memaksa Presiden
Charles Taylor dan kubu pemberontak untuk meneken perjanjian damai di Ghana.
Sejak
ia sukses mengantarkan perdamaian bagi negaranya, namanya pun langsung
mendunia. Sudah puluhan penghargaan tingkat internasional berhasil ia kantongi
seperti John F Kennedy Profile in Courage Award, Gruber Prize for Women’s
Rights, John Jay Medal for Justice, Bernard College Medal of Distinction, The
New York Women’s Foundation Century Award, hingga Nobel Peace Prize. Oleh
Leymah, uang hadiah Nobel Perdamaian ini antara lain digunakan untuk mendirikan
lembaga yang ia beri nama Gbowee Peace Foundation of Africa. Eastern Mennonite
University, sebagai almamater Leymah juga tidak ketinggalan ikut menghadiahinya
sebagai “Alumna of the Year” pada tahun 2011. Prestasi gemilangnya itu pula
turut mengantarkannya menjadi “selebritis dunia” menjadi pembicara di berbagai
forum internasional serta nara sumber di berbagai media cetak dan elektronik,
termasuk acara talk show Oprah Winfrey yang sangat populer
di Amerika. Tidak hanya itu, Leymah juga ditawari berbagai kampus terkemuka di
Amerika untuk menjadi research scholar, visiting fellow, dan
sebagainya, meskipun ia tidak memiliki gelar doktor. Gelar akademik
tertingginya adalah master (MA) di bidang Conflict and Peace Studies dari
Eastern Mennonite University itu.
***
Prestasi
gemilang dan berbagai penghargaan internasional yang diterima oleh ibu lima
anak (satu hasil adopsi) ini bukan datang secara tiba-tiba. Sebelum namanya
mendunia seperti sekarang, Leymah menjalani masa-masa kehidupan yang penuh
penderitaan selama bertahun-tahun. Ia menjadi korban kekerasan suaminya yang
kasar yang dinikahinya sewaktu masih remaja. Karena tidak tahan dengan
kekerasan dalam rumah tangganya, ia pun memilih cerai. Ketika Perang Sipil
pertama meletus, ia dan dua anaknya harus melarikan diri ke Ghana dan
terlunta-lunta hidup di pengungsian dengan bekal seadanya. “Waktu itu saya
tidak membawa uang sepeser pun,” kenangnya.
Aktivitasnya
di bidang perdamaian dan resolusi konflik di mulai tahun 1998, ketika ia
menjadi relawan sosial di Gereja Lutheran St. Peter di Monrovia, Liberia.
Setelah setahun menjadi relawan, oleh mentornya, BB Colley, ia diperkenalkan
kepada Sam Doe, Direktur Eksekutif West Africa Network for Peacebuilding
(WANEP), lembaga perdamaian pertama di Afrika Barat yang berpusat di Ghana.
WANEP ini adalah lembaga yang sangat aktif menggalang kaum perempuan, khususnya
di negara-negara di Afrika Barat, melalui berbagai konferensi, training, dan
workshop tentang peacebuilding, trauma healing, atau restorative
justice, agar menjadi aktor-aktor perdamaian dan resolusi konflik di
negara mereka masing-masing. Leymah pun direkrut oleh WANEP untuk menjadi
peserta workshop di Ghana. Workshop yang diprakarsai WANEP itu mempertemuakan
Leymah dengan Thelma Ekiyor, pengacara dan spesialis resolusi konflik dari
Nigeria. Atas prakarsa Ekiyor ini, dengan bantuan dana dari WANEP, mereka
kemudian membentuk Women in Peacebuilding Network (WIPNET) dan menggelar
pertemuan pertama para aktivis perempuan se-Afrika Barat di Ghana.
Dalam
memoir-nya, Mighty Be Our Powers, yang diterbitkan oleh
Beast Book, New York, Leymah (2011: 112) menulis:
How
to describe the excitement of that first meeting…? There were women from
Sierra Leone, Guinea, Nigeria, Senegal, Burkina, Faso, Togo—almost all the
sixteen West African nations. In her quietly brilliant way, Thelma had
handwritten an organizer’s training manual with exercises that would draw women
out, engage them, teach them about conflict and conflict resolution, and even
help them understand why they should be involved in addressing these issues at
all.
Dalam
pertemuan para aktivis perempuan ini, Leymah berkesempatan untuk pertama
kalinya mengekspresikan penderitaan warga dan kaum perempuan Liberia, termasuk
dirinya yang pernah tidur di lantai rumah sakit berhari-hari saat melahirkan
anaknya karena tidak mampu membayar biaya perawatan. Thelma Ekiyor pulalah yang
kemudian menunjuk Leymah menjadi koordinator WIPNET untuk Liberia. Singkatnya,
filosofi perdamaian Leymah pertama kalinya dibentuk oleh dan dipengaruhi oleh
para mentor-nya seperti B.B. Colley, Sam Doe, dan Thelma Ekiyor, yang semuanya
adalah alumni Eastern Mennonite University (EMU). Saya sendiri juga pernah
bertemu dengan Sam Doe saat diundang di kelas untuk berbagi pengalaman
kerja-kerja peacebuilding-nya di Afrika.
Melalui
“jaringan EMU” ini pula, Leymah kemudian melanjutkan studi master di
bidang conflict and peace sudies itu untuk memperdalam
kerangka teoretik tentang kekerasan, resolusi konflik, restorative
justice, trauma healing, dan pembangunan perdamaian. Di EMU, Leymah,
sebagaimana saya, belajar dengan para ahli di bidang ini seperti Lisa Schirch,
John Paul Lederach, Hezkiaz Asefa, Howard Zehr, dan masih banyak lagi. Selain
itu, visi perdamaian Leymah juga dipengaruhi oleh para “legenda perdamaian”
seperti teolog John Howard Yoder, Martin Luther King, Jr., dan Mahatma Ghandi.
Akhirul
kalam, kisah Leymah ini memberi pelajaran
berharga bahwa semua pencapaian prestasi tertinggi di bidang apapun, selalu
diawali dengan kisah perjuangan panjang penuh duka-lara. Perjuangan panjang
yang Leymah lakukan selama ini bukan demi “uang proyek,” atau untuk
“menghabiskan anggaran,” atau untuk menaikkan citra seperti umumnya dilakukan
para politisi dan artis, tetapi betul-betul berangkat dari hati-nurani dan
“panggilan dari dalam” untuk menyelesaikan persoalan kelabu dan kemelut
politik-ekonomi yang menimpa bangsa dan negaranya.
Jauh
sebelum namanya mendunia dan menjadi “selebritis perdamaian” seperti saat ini,
Leymah berjuang tanpa kenal-lelah dan tanpa mengharapkan imbalan sepeserpun
meski hidupnya penuh kesusahan. Ia juga berjuang tanpa pamrih, tanpa mengharap
pujian dari siapapun, apalagi berharap untuk mendapatkan penghargaan ini-itu.
Semangatnya untuk menciptakan perdamaian dan kemakmuran negaranya selalu
berkobar-kobar. Baginya uang bukanlah segala-galanya untuk pembangunan sebuah
perdamaian global. Kemauan keras dan semangat yang membaralah yang menjadi
kunci aktivitas-aktivitasnya.
Kisah
Leymah juga memberi inspirasi tersendiri bahwa sebuah prestasi tertinggi selalu
dimulai dari lika-liku perjalanan panjang, yang tidak jarang penuh dengan
penderitaan hidup yang memilukan. Maka barang siapa yang mampu bertahan
menjalani berbagai “ritual kepahitan hidup”, maka merekalah yang akan sukses
memetik buahnya kelak di kemudian hari. Sebaliknya, mereka yang putus asa di
tengah jalan karena tidak tahan menjalani pahitnya “ritual kehidupan” ini, maka
ia tidak akan pernah mencapai prestasi tertinggi dalam hidupnya. Akibatnya,
ritme hidupnya hanya berputar dari situ kesitu saja. Tidak lebih tidak kurang.
Tidak ada jalan pintas di dunia ini.
Saya sungguh beruntung bisa menjadi teman sekelas Leymah, perempuan perkasa dari Liberia, yang banyak memberi pelajaran berharga tentang hidup yang penuh suka-duka, tentang perjuangan perdamaian yang panjang dan melelahkan, tentang penghargaan terhadap kelompok yang tidak diuntungkan dan seterusnya. Namanya akan terus dikenang dan menjadi sumber inspirasi sepanjang masa tidak hanya oleh saya atau oleh bangsa Liberia saja, tetapi juga oleh siapapun di dunia ini yang peduli dengan perdamaian dan keadilan di lingkungan sekitarnya. [SQ]