Beranda blog Halaman 23

Mahasiswa yang Lugu, Khilafah yang Khilaf

0

Kira-kira apa yang ada di dalam pikiran para mahasiswa “unyu-unyu” ini? Mereka demo memperjuangkan sistem “Khilafah” sementara pada saat yang bersamaan menolak sistem demokrasi.

Sepertinya mereka ini adalah para cheerleaders Hizbut Tahrir, sebuah organisasi politik transnational pan-Islam berhaluan Sunni yang didirikan tahun 1953 di Palestina oleh Taqiuddin al-Nabhani yang memimpikan pendirian kembali sistem politik-pemerintahan khilafah Islam.

Tidak ada salahnya demonstrasi model beginian yang sebetulnya sudah sangat sering di Indonesia. Tetapi menjadi sangat lucu jika pada saat yang bersamaan para cheerleaders ini menolak dan bahkan memaki-maki sistem demokrasi.

Para elit HTI ini pura-pura berlagak pilon kalau demokrasi-lah sebetulnya yang membuat mereka bebas berkeliaran dan mengekspresikan pendapatnya. Karena itulah “orpol” ini bisa eksis dan unjug gigi di Indonesia, Amerika, Australia, Inggris, atau Kanada. Di belahan dunia lain, organisasi ini dilarang atau dibekukan.

Menurut catatan “Islam Watch”, organisasi ini dilarang di mayoritas negara-negara Arab dan Timur Tengah, termasuk Saudi, Tunisia, Mesir, Libia, Qatar, dan lain sebagainya. Mereka juga dilarang beroperasi di negara-negara bekas Uni Soviet yang berbasis Muslim di Asia Tengah seperti Kazakhstan, Kirghistan, Uzbekistan dan tan-tan yang lain. Sejak 2003, Hizbut Tahrir juga dilarang di Rusia dan sejumlah negara lain seperti Jerman, Belanda, Bangladesh, Singapore, dan lain sebagainya.

Pada masa Pak Harto, mereka bersembunyi atau “ngumpet” karena kalau menampakkan batang hidungnya pasti sudah “didor” atau disel. Maka sangat naif jika setelah Pak Harto melengserkan diri dan demokrasi pelan-pelan menyapa kembali Indonesia, para cheerleaders ini bukannya berterima kasih malah memaki-maki demokrasi, Pancasila, NKRI, dlsb sebagai “kafir” lah, “lampir” lah.

Bukannya insaf dan menyadari kekhilafannya, mereka malah seenak-perutnya sendiri berkoar-koar mau menegakkan sistem politik “zaman batu” yang sudah porak-poranda…

Lulung Yang Islam, Ahok Yang Kristen

0

Sering saya melihat tulisan yang beredar luas di dunia maya (dumay) tentang sosok Koh Ahok dan Haji Lulung yang kira-kira begini bunyinya: “Seburuk-buruk Lulung dia itu Muslim dan sebaik-baik Ahok dia itu kafir. Muslim walaupun buruk masih bisa masuk surga, kafir walau baik tetap kekal di neraka.”

 Inilah salah satu contoh orang yang “gagal–njegal” membaca teks-teks keagamaan. Kalau memang semua Muslim itu masuk surga, kenapa kalian bersemangat mengafir-sesatkan saudara-saudara Muslim sendiri? Kenapa pula kalian dengan suka-rela dan kejinya mengumpat, mengutuk, dan mengfitnah saudara-saudara Muslim sendiri?

Kenapa pula kalian begitu heroiknya mengusir saudara-saudara Muslim sendiri? Kenapa pula kalian dengan beringasnya ngamuk-ngamuk dan merusak properti milik saudara-saudara Muslim sendiri? Kenapa pula bahkan kalian rela berbuat kekerasan dan membunuh sesama Muslim?

Lalu, Islam seperti apakah yang kalian maksud? Muslim seperti apakah yang akan masuk surga?

Betapa murah dan “murahannya” surga itu, jika hanya dengan “tiket” Islam bisa memasukinya.

Bagi saya, bukan islam, melainkan kualitas keislaman yang membuat orang masuk surga itu. Bukan agama, melainkan kualitas keagamaan, yang mengantarkan orang ke surga. Saya percaya, surga itu (jika memang ada) bukan disediakan untuk agama ini-itu, untuk etnis ini-itu, untuk suku-bangsa ini-itu. Tetapi surga disediakan untuk umat manusia yang memiliki “kualitas kemanusiaan” apapun agama dan etnis mereka.

Apalah artinya kalian mengaku-aku sebagai umat beragama jika perilaku kalian seperti orang-orang tak beragama. Lebih baik umat non-agama tetapi hati dan perilakunya seperti “malaikat” ketimbang umat beragama tetapi hati dan perilakunya laksana setan gentayangan.

Alih-alih menuduh Ahok tak bakal masuk surga, bisa-bisa justru kalian sendiri yang akan nyemplung ke neraka.

Lika-Liku Masa Kecilku

0

Banjir bandang itu susah saya lupakan. Suatu hari di musim hujan pada pertengahan 1980-an, sungai di dekat kampungku, di sebuah lereng gunung di pelosok-pedalaman Batang, Jawa Tengah, terjadi banjir bandang yang mengerikan.

 Banjir itu telah menyebabkan hamparan sawah dan ladang di sekitar desaku ludes porak-poranda. Jembatan bambu yang melintasi sungai itu yang menghubungkan ke kampungku juga lenyap diterjang banjir.

Sepulang sekolah saya berdiri termangu di pinggir sungai itu. Sendirian. Badan bayah kuyup menggigil kedinginan karena hujan yang begitu deras. Petir pun bersautan tanpa henti menambah suasana menjadi menakutkan.

Buku-buku sekolah di tas lusuhku pun ikut-ikutan basah-kuyup. Saya memutar otak, bagaimana caranya menyeberangi sungai yang sedang banjir itu supaya bisa pulang ke kampung. Hanya itu satu-satunya jalan menuju kampungku. Waktu itu saya bertekad harus menyeberangi sungai itu karena kasihan dengan kambing-kambingku di rumah yang pasti kelaparan (seperti diriku) dan sedang menungguku.

Akhirnya, saya pun nekad melempar pakaian, tas, dan sepatu kumalku ke seberang sungai. Sesaat kemudian, saya berenang melawan banjir itu. Meskipun terseret-seret arus, saya bisa sampai ke tepi.

Sesampai di rumah, saya langsung menuju tempat perapian untuk menghangatkan badan dilanjutkan dengan makan ala kadarnya. Setelah selesai makan dan ganti pakaian, saya pun kembali melakukan aktivitas rutin sepulang sekolah: menggembala kambing-kambingku di hutan di pinggir kampungku yang permai itu….

Religous Women For Peace and Reconciliation in Contemporary Indonesia

0

This article examines the role of interfaith women in “religious peacebuilding” and post-peace accord reconciliation in the Moluccas (Maluku) in eastern Indonesia, particularly in Ambon city. For more than three years, beginning in 1999, violent conflicts between Christians and Muslims broke out in this region resulting in tens of thousands of deaths and injuries. In a response to this violence, women from both religious groups worked together to bridge gaps, air tensions, build trust, and reconcile conflicting parties.

Despite threats from religious militant groups, their peacebuilding work continues. In 2002, the Peace Accord was signed in part due to their efforts. Since creating peace needs more than a negotiated peace agreement, this article focuses on their peacemaking work before and after the signing of the treaty

For full text. Click this link

Kristen Konservatif di Amerika, Muslim Konservatif di Indonesia

0

Kelompok agama konservatif dimana-mana sama saja cara berpikir dan tindakannya. Mereka merasa nilai-nilai dan norma-norma keagamaan harus menguasai semua wilayah non-agama, termasuk politik.

Padahal nilai dan norma agama itu hanyalah salah satu saja dari sekian banyak nilai dan norma yang ada di masyarakat. Tetapi kelompok konservatif agama selalu ingin menangnya sendiri, arogan, dan intoleran, tidak mau berdialog dan berbagi dengan nilai-nilai dan norma-norma diluar agama karena mereka selalu merasa dirinya paling benar, paling suci, dan ujung-ujungnya merasa diri paling berhak menguasai alam-semesta dan segala isinya.

Padahal kebenaran, kesucian, atau kesakralan sejatinya hanyalah sebuah klaim manusia dan tafsir subyektif semata karena diluar Tuhan, semuanya adalah “profan” dan “sekuler”. Politik adalah salah satu ranah “profan” dan “sekuler” itu. Tetapi oleh kelompok agama konservatif tadi, politik yang profan dan sekuler itu harus “disakralkan” dan “diagamakan”.

Ini tentu sebuah cara-berpikir yang kacau-balau, meskipun barangkali maksud mereka itu baik (misalnya, supaya pemerintah itu lebih “bermoral” ho ho ho) tetapi bisa menghasilkan produk pemikiran dan tindakan yang kontraproduktif dan berlawanan dengan norma & nilai keagamaan itu sendiri.

Lebih parah lagi, karena terlalu “terbuai” dengan agama, mereka kadang-kadang berpikir dan bertindak yang mengabaikan akal-sehat dan fakta-fakta empiris kemajemukan dan kemajuan.

Tindakan kelompok Kristen konservatif di Amerika yang menolak Barack Obama karena “dianggap” Muslim, sama unyunya dengan kelompok Muslim konservatif di Jakarta yang menolak Ahok karena dianggap kafir. Padahal Obama itu Kristen dan Ahok itu jelas bukan kafir. Dan dunia politik, harus diingat, tidak ada urusannya dengan dunia Islam-Kristen…

Konflik Antar-Suku di Arab

0

Jika ingin lebih akurat melihat “problem sosial” di “Tanah Arab”, khususnya “Arab Teluk”, harus dilihat dan dianalisis dari perspektif relasi antar-suku & klan, bukan dalam konteks dikotomi Sunni-Syiah. Ini yang sering dilupakan oleh para “pengamat asing” dan komentator karbitan yang “gagal paham” dalam melihat problem sosial-kemasyarakatan di kawasan ini.

Sejak zaman baheula, sebelum Nabi Muhammad SAW lahir, masalah kesukuan ini sangat “lengket” melekat dalam “identitas bangsa Arab” selengket lem yang susah untuk dilumerkan. Fanatisme antar-suku & klan ini jauh lebih kental ketimbang fanatisme terhadap Sunni/Syiah.

Tidak jarang pengikut Sunni dan Syiah itu dari suku/klan yang sama seperti Alsyaikh, Al-Bahrani, Al-Otaibi, Al-Qahtani dan lain sebagainya sehingga tidak mudah untuk membenturkan Sunni-Syiah lantaran kuatnya jalinan kesukuan dan jaringan antar-suku ini.

Itulah sebabnya, saya kira, kenapa berbagai upaya kelompok “Wahabi-Salafi konservatif-radikal” yang ingin “mengobok-obok” Syiah dengan membenturkan dengan non-Syiah tidak berjalan dengan mulus alias “gagal maning gagal maning”. Ingat jangan kau anggap bahwa semua warga Saudi itu supporter kelompok konservatif-ektremis ini. Anda keliru besar…

Ada ratusan suku dan klan di kawasan ini yang membentuk semacam “jaringan laba-laba”, dan jaringan suku itu dipakai sebagai jalan untuk mengakses ekonomi, politik, pendidikan, bisnis, lapangan kerja, perjodohan dan lain sebagainya. Bagi suku/klan elit, berpengaruh, dan mayoritas akan mudah untuk mendapatkan akses itu.

Tetapi bagi suku-suku kecil, minor, dan lemah akan kesulitan untuk mendapatkan akses itu. Tidak peduli Sunni kek, Syiah kek, Susyi kek…Dulu pada zaman Kanjeng Nabi, Suku Quraisy yang dominan. Sekarang mereka tidak lagi berpengaruh terisolasi di kawasan Hijaz. Kini suku-suku yang berpengaruh & berkuasa adalah Al Saud, Al Syaikh, Al-Tuwaijiry, Bani Tamim, dan lain-lain.

 Diluar suku-suku ini (lagi tidak peduli Sunni, Syiah, Susyi…) akan kerepotan mendapatkan keistimewaan politik-ekonomi jika tidak memiliki akses alias “ngupil” dengan suku/klan dominan tadi.

Jadi, jangan dikit-dikit konflik Sunni-Syiah, dikit-dikit konflik Sunni-Syiah. Konflik Sunni-Syiah kok dikit-dikit. Paham?

Konde dan Tingkah-Polah Kaum Muslim “Unyu-Unyu”

0

Adanya gerakan anti-konde yang dianggap sebagai “kurang Islami” dan “tidak syar’i” semakin menambah daftar kasus “keunyuan” umat Islam Indonesia dewasa ini. Islam sebetulnya adalah “agama intelek” yang sangat inovatif dan menghargai kreativitas berfikir umatnya.

Tetapi gara-gara tingkah-polah sebagian kaum Muslim yang “unyu-unyu”, Islam kemudian tampak seperti “agama unyu” yang hanya mengurusi masalah remeh-temeh seperti konde,pakaian, rambut, label, klenik, dan lain sebagainya.

Al-Qur’an berisi ajaran dan wacana yang maha luas dengan topik-topik bahasan yang beraneka ragam. Enam ribuan ayat-ayat dalam Al-Qur’an berbicara beragam isu dan tema: sejarah, kebudayaan, pendidikan, pengetahuan, teknologi, pluralitas suku-bangsa, kemajemukan agama, sosial-kemanusiaan, kemiskinan, kebodohan, lingkungan hidup, pelestarian alam, moralitas, kepolitikan, keadilan sosial, dan masih banyak lagi, bukan melulu soal ritual, alam akhirat, siksa kubur, surga-neraka.

Tetapi, lagi-lagi, oleh sejumlah kelompok Islam “tengil” dan unyu-unyu tadi, fakta-fakta dan perspektif Al-Qur’an yang maha luas tadi telah “dibajak” dan “dikorupsi” menjadi “dokumen dunia lain” yang seolah-olah tidak membumi sama sekali. Al-Qur’an yang merupakan “korpus terbuka” dengan aneka ta’wil & tafsir yang fleksibel dan dinamis kemudian menjelma menjadi “korpus tertutup” yang kaku njeku dan anti-perubahan dan kemodernan.

Ruh atau spirit Al-Qur’an yang membebaskan umat manusia dari belenggu ke kemerdekaan berfikir itu kemudian berubah menuju arah sebaliknya: dari manusia merdeka menjadi manusia-manusia yang mandeg deg tanpa kreativitas intelektual dan inovasi spiritual-kebudayaan karena semua itu dianggap sebagai “kapir”, haram, bid’ah, sesat, tidak religius dan klaim-klaim omong-kosong lain.

Pelan tapi pasti, sejumlah umat Islam dewasa ini menjadi tampak “antik” karena hidup di alam modern tetapi pola-pikir dan tingkah-polahnya seperti “makhluk purba” di zaman batu…

Keunikan Bahrain

0

Bahrain adalah negar ayang sangat unik di kawasan Arab Teluk, khususnya jika dilihat dari tiga hal berikut ini.

Pertama, pluralitas agama & etnis. Tidak seperti umumnya negara-negara di Arab Teluk, negara-kepulauan mini tetangga Arab Saudi ini sangat menarik dilihat dari struktur etnis dan aspek keragaman agama.

Negara-kerajaan yang dipimpin rezim Al-Khalifa ini, terdapat cukup banyak populasi non-Muslim, khususnya Kristen dan Hindu, tapi juga Yahudi. Ada sekitar 10% warga Kristen Bahrain, baik native maupun bukan (khususnya dari Suriah, Lebanon, dan Palestina).

Sehingga tidak heran kalau di Bahrain berdiri megah sejumlah gereja (Anglican, Katolik, Ortodoks). Sinagog Yahudi juga ada. Konon sudah ratusan tahun, masyarakat Arab Kristen & Yahudi ini mendiami Bahrain, jauh sebelum Ahmad bin Muhammad al-Khalifa menaklukkan negeri ini di akhir abad ke-18. Populasi Kristen & non-Muslim bertambah banyak setelah datangnya gelombang imigran dr Filipina, India, dan Sri Lanka.

Kedua, meskipun Syiah adalah mayoritas disini (sekitar 65-70%), pemerintah & politik dikontrol oleh Sunni, sama seperti Irak zaman Saddam Husein dulu. Meski begitu, baik Sunni maupun Syiah berasal dari berbagai etnik.

Untuk Syiah, ada Syiah-Arab Baharna, Syiah Hasawi, Syiah Persi, dan lain-lain. Untuk Sunni, ada Sunni Arab, Sunni Huwala, Suni Baloch, Sunni Persi, dan lain sebagainya. Dengan struktur sosial-masyarakat yang demikian, relasi Sunni-Syiah menjadi sangat kompleks, tidak sesimpel seperti yang dibayangkan orang.

Ketiga, Bahrain adalah tempat “industri malam” yang menggairahkan bagi para turis, baik Arab, Barat, atau siapa saja. Di negara ini, bisa dengan mudah dijumpai klub malam dengan aneka hiburan yang aduhai layaknya Las Vegas.

Semua yang “diharamkan” di Saudi “dihalalkan” di Bahrain (bioskop, alkohol, prostitusi, karoke, tarian-tarian perut, dan lain sebagainya). Konon menurut muridku yang dari Bahrain, semua itu “halal” untuk semua warga non-Bahrain. Bahrain dengan begitu telah menjelma menjadi “industri turisme” yang mengasyikkan bagi para pelancong & penggemar “dunia hiburan”.

Karena itu anda jangan kaget, jika setiap weekend, jalan raya Saudi-Bahrain menjadi padat merayap penuh sesak dengan antrean mobil bak jalan Jakarta-Puncak. Kira-kira mau apa mereka di Bahrain? Ayo tebak mau apa? he he

Kebaya Indonesia = Abaya Arab

0

Kenapa sejak dulu di Indonesia, para ulama dan kiai besar yang sangat alim dan mumpuni keilmuannya tidak pernah meributkan soal jilbab atau hijab atau “busana syar’i” dan lain sebagainya ? Jawabannya sepele: karena beliau-beliau menganggap masalah ini bukan masalah fundamental dan substantial dalam Islam.

Mereka berargumen sepanjang busana yang dikenakan itu menutup aurat dan sesuai dengan ukuran kepantasan dan norma yang berlaku di masyarakat setempat, maka itu sudah sangat Islami dan sangat Qur’ani.

Karena itu dulu para istri, putri kiai-kiai besar, dan santriwati cukup mengenakan pakaian jarik dan kerudung. Bahkan sebelum “teknologi kerudung” diperkenalkan ke masyarakat, mereka cukup memakai kemben.

Setelah “teknologi” celana panjang dan aneka jenis baju diperkenalkan, gaya berbusana para putri kiai pun mengikuti dan menyesuaikan perkembangan zaman. Jadi, kaum Muslimah di Indonesia, tidak perlu repot-repot mencontoh gaya berbusana masyarakat Arab dengan abaya gelombor, misalnya. Busana “kebaya Indonesia” itu sama derajat “islaminya” dengan model “abaya Arab”.

Hanya belakangan saja orang-orang pada ramai hiruk-pikuk membahas soal “hijab syar’i” lah, “jilbab islami” lah. Saya amati hal ini terjadi setelah munculnya berbagai “ustad karbitan” yang “unyu-unyu”–para ustad yang hanya bermodal cekak satu-dua dalil dari Al-Qur’an atau Hadis tapi miskin wawasan kesejarahan, nol besar dalam pengetahuan pluralitas kebudayaan manusia, dan tidak paham dengan aneka metode akademik dan perangkat ilmu-ilmu sosial guna membahas sebuah wawasan keagamaan.

Para ustad yang hanya bisa menghafal sejumlah ayat, Hadis, dan “aqwal” (perkataan para ulama klasik) tetapi tidak menguasai metodologi keilmuan. Akibatnya, mereka hanya bisa mengartikan ayat, hadis, dan “aqwal” tentang “hijab” tadi secara leterlek dan tekstual sehingga kehilangan konteks, sejarah, spirit atau ruh tentang tradisi hijab tadi dalam sejarah keislaman, keagamaan, dan masyarakat Arab dan Timur Tengah pada umumnya–baik masyarakat agama maupun masyarakat non-agama.

Teks apapun kalau dibaca secara “leterlek” menjadi kaku: harus begini, tidak boleh begitu. Jadi bukan teksnya yang keliru karena setiap teks selalu memiliki konteks kesejarahan tertentu. Yang keliru dan perlu dibenahi adalah wawasan dan pemahaman umat beragama terhadap teks-teks itu.

Kafir Itu Politis Bukan Teologis

0

Label “kafir” itu lebih bernuansa politis ketimbang teologis karena kebebasan agama itu digaransi dalam Islam. Non-Muslim itu bukan “kafir”. Mereka hanya beda agama, bukan beda iman. Baik Muslim maupun kelompok teis non-Islam memiliki keimanan yang sama terhadap “Tuhan alam”–Supernatural Being (apapun nama-Nya).

Jika ada sejumlah teks keislaman yang mengafirkan non-Muslim (baik Kristen, Yahudi, maupun suku-suku di Makah dan Jazirah Arab pada umumnya) itu pasti dalam konteks politik, yakni kelompok itu menentang dan melawan “misi kenabian” Nabi Muhammad bukan lantaran mereka memeluk agama non-Islam karena buat “Tuhan Islam” (Allah SWT) seperti tersurat dan tersirat dalam Al-Qur’an tidak penting umat manusia mau memeluk Islam atau bukan.

 Ingat: misi besar Nabi Muhammad di dunia ini bukan untuk mengislamkan umat manusia tetapi untuk menyempurnakan ahlak orang-orang yang bejat dan korup.

Jika non-Muslim itu “kafir” dan dengan begitu “musuh Islam” tentu Nabi Muhammad tidak menjalin hubungan baik dengan tokoh politik dan agama non-Muslim. Tetapi kenyataannya tidak. Sejarah mencatat misalnya, beliau beserta para sahabat pernah berlindung dan dilindungi oleh Ashama Ibn Abjar atau Najashi, Raja Askum (kini Ethiopia) yang Kristen dari kejaran para “begundal Mekah” kala itu pimpinan Abu Jahal (juga Abu Sofyan).

Lantaran jasa baik dan pandangan positif beliau dan para pendeta Kristen Ortodoks Ethiopia terhadap Islam, Nabi Muhammad menyerukan untuk terus berbuat baik dan menjalin relasi positif dengan mereka serta melarang memerangi kelompok Kristen ini.

Didorong oleh watak terbuka dan toleran Islam, para ulama juga banyak yang tidak memberi status kekafiran terhadap kaum teis non-Muslim. Jadi, sekali lagi, status kafir itu sangat politis bukan teologis. Karena politis, maka sejumlah tokoh Muslim (baik tokoh agama maupun politik) berselisih dalam hal kafir-mengafirkan ini.

Dulu para ulama Saudi-Wahabi mengafirkan rezim Turki Usmani atau Ottoman (meskipun Muslim) karena dianggap sebagai penjajah Arabia. Sementara Inggris yang jelas-jelas Kristen malah tidak dikafirkan karena mereka membantu Saudi menghalau tentara Ottoman dari Arabia. Imam Khomeini dan pengikutnya, baik di Iran maupun bukan, mengafir-ngafirkan Amerika atau Israel tetapi tidak pada rezim-rezim Komunis Uni Soviet (atau Russia) atau China.

Kenapa? Anda tahu sendirilah jawabannya. Para tokoh Islam di Ambon dan Maluku dulu mengafir-ngafirkan Belanda tetapi tidak pada Jepang karena Jepang membantu pendirian “Laskar Islam” untuk melawan Belanda.

Jadi, jika sekarang kalian melihat ada sejumlah tokoh Muslim di Jakarta dan Indonesia pada umumnya yang mengafir-ngafirkan Ahok misalnya diketawain saja. Anggap saja mereka sedang mengigau karena sedang ketakutan melewati kuburan tua yang angker. Mereka panik dan takut kalau Ahok kelak akan “mencekik” mereka…

Indonesia, “Pasar Rongsokan” Timur Tengah

0

Indonesia itu saya perhatikan seperti “pasar rongsokan” negara-negara lain, termasuk negara-negara di kawasan Timur Tengah. Negara ini bukan hanya menjadi “pasar rongsokan” berbagai produk material negara-negara maju di Barat maupun Asia tetapi juga produk-produk kebudayaan immaterial dari Timur Tengah.

Berbagai jenis ideologi, pemikiran, dan aliran keagamaan ekstrim dan intoleran yang mulai kehilangan pengaruh dan pengikut di Timur Tengah justru ngetren di Indonesia.

Sejak dibombardir dengan berbagai isu dan tuduhan ekstremisme dan terorisme paska serangan teroris di Amerika pada 11/9, 2001, banyak negara-negara di Timur Tengah, khususnya Arab Teluk, yang gencar “membersihkan diri” dari gerombolan “kaum bigot” radikal-intoleran. Berbagai undang-undang dan kebijakan politik dibuat oleh pemerintah untuk menjerat kelompok ekstrim ini.

Di Saudi misalnya, sejak Raja Abdullah hingga sekarang di era Raja Salman gencar dilakukan berbagai upaya untuk memberangus kelompok radikal dan mencegah penyebaran virus ideologi radikalisme.

Saat ini saya memimpin proyek riset yang beranggotakan sejumlah ilmuwan sosial Arab untuk membantu mengidentifikasi kelompok-kelompok ekstrimis sekaligus mengurangi dampak trans-regional ekstremisme di kawasan Arab Teluk.

Saya tegaskan sekali lagi keliru besar jika menganggap semua masyarakat Arab, Saudi khususnya, itu sebagai penyokong aneka gerakan ekstremisme dan intoleransi. Saya justru melihat (misalnya melalui berbagai survei yang saya dan “tim riset” kembangkan), banyak masyarakat Arab saat ini yang sangat bosan dengan aneka konflik dan kekerasan serta muak dengan ulah para ekstrimis-intoleran ini karena dipandang mengganggu stabilitas ekonomi, kenyamanan hidup, harmoni sosial, dan keamanan nasional.

Oleh karena itu, kalau ada sejumlah kelompok “Islam ekstrim” di Indonesia yang membawa-bawa label Timur Tengah, bisa jadi mereka ini dalam rangka untuk mencari “legitimasi keagamaan” karena Timur Tengah dianggap sebagai “geografi sakral” umat Islam, atau jika tidak, mereka ini sebetulnya “kelompok pelarian” atau “kaum rongsokan” yang sudah tidak laku di Arab dan Timur Tengah.

Kaum Intelek-Moderat, Bersuaralah!

0

Saya sering mendapat keluhan di inbox atau email tentang minimnya kelompok intelek-moderat Indonesia, khususnya Muslim, yang menyuarakan toleransi, pluralisme, moderatisme, perdamaian dan seterusnya, khususnya melalui “medsostual” (media sosial-virtual) dan dunia maya (dumay).

Sebetulnya mereka banyak. Banyak sekali. Saya tahu banyak kaum cerdik-pandai Muslim yang hebat, berwawasan luas, dan bersikap terbuka & moderat, baik yang tinggal di Indonesia maupun di Luar Negeri, baik yang masih sekolah maupun yang sudah bekerja di universitas dan lembaga-lembaga lain.

Hanya saja masalahnya tidak semua dari mereka bersedia meluangkan sedikit waktu untuk mengekspresikan pendapat & gagasannya di “medsostual” dengan berbagai alasan. Ada yang bilang mubazir kalau menulis di “medsostual”, ada yang bersikap masa bodoh dengan yang lain karena sudah hidup enak, ada yang malas menggerakkan jari-jemari, ada yang bilang sibuk “kagak ada waktu”, ada yang bilang percuma menulis di medsostual karena tidak menambah “kum” atau “kredit poin”, ada pula yang takut dicaci-maki, diteror, atau mungkin “dipentungi” kalau menulis ini-itu yang menabrak pandangan & keyakinan kelompok ekstrim, ada pula yang menertawakan “kelompok ekstrim” tadi tapi tidak menyuarakan apa-apa, dan lain sebagainya.

Giliran memposting “sesuatu”, yang diposting foto-foto dengan orang-orang terkenal, foto-foto di tempat-tempat historik-ikonik, foto-foto di tempat-tempat mewah, foto-foto di acara-acara besar dan lain sebagainya. Tentu saja tidak ada yang salah dengan semua ini. Ibarat rumah, akun FB adalah “rumah maya” yang terserah mau diisi apa oleh penghuninya. Emang lu siape cing ngurusin rumah gue?

Sementara kaum intelek-moderat aras-arasen angkat bicara, “kelompok sebelah” gencar sekali menyuarakan ini-itu tanpa data dan etika sehingga seolah-olah merekalah penguasa dan pemilik “medostual” dan “dumay” ini.

 Saya berpendapat, di dalam “desa global” dan di tengah dunia yang sudah dikepung oleh Internet ini, maka “medsostual” dan “dumay” adalah bagian dari medium yang efektif untuk menyuarakan dan menyebarkan ide-ide yang bermanfaat untuk publik demi menjaga keutuhan umat dan perdamaian antar-manusia.

Kadang-kadang, radikalisme berkembang-biak bukan karena banyaknya kaum radikal tetapi lantaran kaum moderat pada “ngumpet” di balik “lubang-lubang kenikmatan”….

Hijab Menurut Orang Saudi

0

Muridku dari Jeddah bernama Sayyid Muhammad Zainy yang masih keluarga habib (sayyid) karena keturunan Nabi Muhammad dari jalur Ali Zainal Abidin bin Hussain mengisahkan kepadaku pengalaman keluarganya dan masyarakat Saudi pada umumnya tentang hal-ikhwal bertata-busana.

Ia dan keluarganya mengaku sebagai Sunni bermazhab Syafii yang merupakan mayoritas mazhab di kawasan Hijaz (Jedah, Madinah, dan Mekkah) di ujung barat Arab Saudi.

Menurutnya di Saudi hanya pengikut mazhab Hanbali saja yang ketat dalam masalah berpakaian, khususnya buat perempuan. Mazhab-mazhab fiqih lain sangat fleksibel. Apalagi mazhab Hanafi yang sangat rasional dalam merumuskan kaidah, teori, dan produk-produk hukum Islam.

 Dalam hal berpakaian buat perempuan ini hanya Imam Hanbali (yang kemudian diikuti oleh sejumlah pengikutnya termasuk Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab, pendiri “Wahabisme”) yang mengharuskan perempuan Muslimah harus “brukut” dalam berpakaian, bukan hanya badannya tapi mukanya juga harus ditutup.

Menurut Imam Syafii, katanya, tidak perlu menutup muka dan tangan, cukup berjilbab. Sementara Imam Hanafi tidak mewajibkan berjilbab meski tidak melarangnya. Itu menurutnya, saya antropolog bukan ahli fiqih atau spesialis Islamic studies jadi bukan tugasku untuk mengecek pernyataan para imam itu.

Karena Hanbali menjadi “mazhab negara” di Saudi, maka tidak heran jika banyak perempuan Saudi yang menutup muka dengan niqab, burqa, dan lain sebagainya, khususnya di daerah-daerah basis pengikut Imam Hanbali. Sementara kawasan-kawasan non-Hanbali seperti Hijaz, banyak perempuan yang tidak berniqab.

Dia menambahkan kalau pemerintah Saudi hanya mewajibkan perempuan memakai jilbab, bukan niqab atau burqa. Yang terakhir ini dianggap sebagai “adat Arabia” bukan “norma keagamaan”.

Keluarganya sendiri katanya juga tidak pernah memakai niqab. Bahkan kalau sedang bepergian liburan keluarga besarnya di Dubai (Uni Emirat Arab) dan tempat-tempat lain banyak yang melepas jilbab dan abaya diganti dengan jins, kaos, dan lain sebagainya.

 Kalau mau mudik ke Saudi, mereka baru ganti lagi pakaiannya dengan abaya dan jilbab. Menurutnya, bukan hanya keluarganya saja yang melakukan praktek “pindah mazhab pakaian” seperti ini, yang lain-lain juga begitu…

Hijab Kristen dan Yahudi

0

Postingan ini khusus untuk teman-teman Muslim dan Muslimah di Indonesia yang hobi mengklaim bahwa tradisi hijab itu “eksklusif Islam.” Karena “gagal paham” menganggap atau bahkan berkeyakinan bahwa hijab adalah “properti” umat Islam belaka, maka tidak jarang mereka sering “sensi”, ngamuk, dan “marah-marah” kalau melihat non-Muslim memakai jilbab seraya menuduh mereka telah melecehkan dan menghina Islam. Atau, jika tidak, mereka menganggap kaum non-Muslimah yang “ujug-ujug” (tiba-tiba) berjilbab “sudah mendapat hidayah”.

Sudah sering saya bilang bahwa, dalam konteks sejarah, tradisi hijab itu sudah ada jauh sebelum Islam lahir di Mekah. Tradisi berhijab ini, misalnya, sudah dipraktekkan oleh masyarakat Assyria kuno ribuan tahun sebelum “bayi Islam” lahir di abad ke-6/7 M. Di kemudian hari, umat Yahudi dan Kristen (yang sama-sama lahir di Timur Tengah) melanjutkan tradisi ini seperti disebutkan dalam berbagai kitab suci mereka.

Belakangan, “si bungsu” Islam juga ikut-ikutan “kakak-kakak” mereka. Dalam sejarahnya, peradaban Byzantium dan Persia-lah yang memperkenalkan tradisi hijab ini ke komunitas Arab.

Jika kini kita melihat banyak umat Kristen dan Yahudi yang tidak berhijab itu semata-mata lantaran proses sejarah dimana kedua agama ini sudah lama mengalami “proses pembaratan”, sesuatu yang tidak dialami oleh Islam.

Karena tradisi hijab ini juga menjadi bagian dari sejarah, tradisi, dan kebudayaan umat Kristen dan Yahudi, maka tidak mengherankan jika ada sejumlah kelompok agama Kristen dan Yahudi masa kini yang masih memelihara dan mempraktekkan tradisi hijab ini seperti komunitas Kristen / Katolik Ortodoks di berbagai negara, belum termasuk kaum perempuan Arab Kristen di Timur Tengah seperti Lebanon, Suriah, Iraq, Palestina, Mesir, Yordania, dan lain sebagainya. Foto di bawah ini hanyalah sekelumit contoh dari penampilan kaum perempuan Kristen di Irak yang tidak hanya berhijab tetapi juga sepertinya sambil menenteng Kitab Injil berbahasa Arab.

Begitu pula, komunitas Yahudi juga banyak yang berhijab (bahkan berniqab / berburqa seperti kaum Muslimah Saudi atau Qatar) seperti kelompok Sekte Burqa Heradi di Israel misalnya. Mereka menyebutnya “frumka” yang diperkenalkan oleh Bruria Keren, seorang tokoh agama Israel yang mengklaim bahwa tradisi hijab itu aslinya dari Yahudi, dan karena itu ia mengkampanyekan perempuan Yahudi untuk berhijab.

Selain komunitas Yahudi Heradi, juga ada sekte Yahudi Lev Tahor di Quebec, Kanada (seperti foto di bawah ini) yang mengajarkan dan mempraktekkan tradisi hijab. Silakan diperhatikan dengan baik dan seksama tata-busana dari “kakak pertama” Yahudi dan “kakak kedua” Kristen ini. Sama persis kan dengan ukhti/ikhwat Muslimah?

Nah sekarang, saya tanya: hijab itu properti siapa, hayo?

Hargailah Tata-Cara Berbusana Orang Lain

0

Salah satu poin penting yang ingin saya sampaikan dalam berbagai “kuliah virtual”-ku tentang tata-busana ini adalah penghormatan terhadap keputusan masing-masing individu dalam hal berpakaian: saling menghormati dan toleran terhadap tata-busana masing-masing individu (seperti ditunjukan dalam sketsa atau ilustrasi di bawah ini). Jangan sampai ada pemaksaan berpakaian satu sama lainnya.

Jangankan urusan pakaian yang sangat sepele, masalah yang paling fundamental saja seperti pilihan beriman dan beragama, Al-Qur’an secara tegas melarang melakukan “pemaksaan teologis” terhadap orang lain. Islam membebaskan keputusan masing-masing individu mau beriman atau tidak karena memang Tuhan tidak akan rugi seandainya pun semua umat manusia di jagat ini mengingkari-Nya. Kalau dalam hal keimanan saja Tuhan santai bingit, kenapa sejumlah umat Islam malah “sewot” hanya dalam hal sehelai kain.

Pula. jangan ada pandangan sinisme terhadap yang lain. Bagi yang tidak berjilbab atau bergamis, jangan menuduh perempuan berjilbab atau laki-laki bergamis sebagai “sok islami” atau “sok moralis”. Karena memang banyak Muslimah yang berhijab atau Muslim yang bergamis dengan niatan tulus ingin mengikuti Sunah Rasul.

 Begitu pula sebaliknya, perempuan yang berhijab atau laki-laki yang bergamis, jangan berprasangka buruk dan menuduh perempuan Muslimah yang tidak berhijab atau lelaki Muslim yang tidak bergamis sebagai “tidak islami”, “tidak bermoral”, “penghuni neraka” dan lain sebagianya.

Jangan pernah merasa diri kita “lebih” dari yang lain: lebih islami, lebih moralis, lebih taat, lebih saleh, lebih berilmu, lebih nyunah, dan seterusnya. Bukankah Iblis itu diusir dari surga karena kesombongannya dan merasa dirinya lebih super dari mahluk lain?

Jangan pernah merasa diri sebagai “yang paling berhak” untuk menghuni surga karena memang surga-neraka tidak ditentukan oleh jenis, corak, dan merek pakaian apa yang kita kenakan. Daripada sibuk mengurusi pakaian orang lain, alangkah lebih baik dan bijaknya jika kita menata diri kita sendiri: mendandani hati, bukan mendandani tubuh.