Beranda blog Halaman 24

Gagal Paham “Arab KW” di Indonesia

0

Tidak berlebihan jika saya mengatakan bahwa para “cheerleaders Arab” atau “Arab KW” di Indonesia itu gagal paham dan gagal total dalam menyikapi fenomena perkembangan masyarakat Arab modern di Timur Tengah.

Yang saya maksud dengan “Arab KW” disini adalah orang-orang non-Arab yang meniru-ninu “dandanan”, “gaya hidup”, sikap, atau “pola pikir” yang mereka imajinasikan sebagai Arab. Meskipun “dalihnya” mereka bilang “nyunah rasul”, prakteknya sebetulnya “nyunah imagined” Arab.

Saya katakan “imagined Arab” atau masyarakat Arab yang diimajinasikan karena apa yang mereka praktekkan dalam banyak hal bertolak-belakangan dengan fakta-fakta perkembangan masyarakat Arab kontemporer.

Simak misalnya dalam hal bahasa yang digunakan dalam pergaulan sehari-hari, kenapa harus serba Arab: abi-umi, akhi-ukhti, ikhwan-ikhwat, ane-ente (oh yang terakhir ini “Arab Betawi” he he). Bukan hanya soal ngomongnya tetapi juga soal “fanatisme Bahasa Arab”-nya.

Lebih konyol lagi anggapan penggunaan Bahasa Arab dalam berbagai sapaan salam, ucapan selamat, ulang tahun, dan perayaan lainnya dipandang lebih Islami serta menganggap penggunaaan bahasa non-Arab, apalagi Bahasa Inggris dan bahasa-bahasa daerah di Indonesia, dianggap “bahasa kafir” yang tidak islami.

Padahal masyarakat Arab modern adalah masyarakat yang sangat adaptif dengan aneka bahasa asing. Bahkan Bahasa Inggris dan Perancis telah menjelma menjadi “bahasa kedua” di sejumlah negara Arab baik karena tuntutan zaman yang berkembang pesat atau karena ikatan dengan sejarah kolonialisme.

Dalam hal berpakaian juga begitu. Berbeda dengan para “Arab KW” yang “unyu-unyu” dan “fanatik berjubah”, masyarakat Arab modern sangat fleksibel, modis, dan adaptif dalam hal berpakaian. Pakaian non-jubah dalam kehidupan sehari-hari sudah sangat biasa buat mereka.

Yang masih ketat dalam pemakaian jubah biasanya adalah orang-orang tua atau mereka yang tinggal di kawasan pedalaman. Gamis buat masyarakat Arab modern hanyalah sebuah tradisi dan kebudayaan Arab, hanya “selembar kain” buatan manusia dan tidak ada sangkut-pautnya dengan kualitas keimanan-keislaman.

Pula, tidak seperti para “Arab KW” yang anti kebudayaan Barat, masyarakat Arab modern adalah “sangat Barat”: “sangat Amerika”, dan “sangat Eropa”. Mereka menganggap Barat, khususnya Amerika Utara dan Eropa Barat, adalah simbol kemajuan di dunia pendidikan, peradaban, dan teknologi khususnya karena itu mereka berlomba-lomba menyekolahkan anak-anak mereka ke kampus-kampus beken di Barat.

Melalui beasiswa King Abdullah Scholarship Program saja sudah lebih dari 150,000 anak-anak muda Saudi dikirim ke kampus-kampus top di Barat (catat ya: tidak ada satupun yang dikirim ke Indonesia!) untuk belajar dari S1-S3. Saya juga membimbing sejumlah mahasiswa Saudi yang mau melanjutkan studi di Amerika.

Masih banyak lagi contoh lainnya, capek kalau ditulis semua disini. Jadi, lu pade para “Arab KW”, paham kagak ente?

Figur-Figur yang Layak Memimpin Jakarta

0

Setelah melalui perenungan dan seleksi mendalam sepertinya ada empat figur yang layak memimpin Jakarta. Empat figur itu adalah Basuki, Tjahaja, Purnama, dan Ahok. Dari keempat figur ini sepertinya Ahok yang paling mumpuni karena dalam dirinya berkumpul tiga potensi, kualitas, dan kekuatan sekaligus yang dimiliki oleh Pak Basuki, Pak Tjahaja, dan Pak Purnama. Jakarta perlu tokoh prima seperti Ahok untuk membongkar para “tikus got” dan untuk mengungkap para preman hipokrit yang bersembunyi di balik baju-baju kesalehan.

Saya tidak mengenal Ahok. Saya tidak pernah bertemu beliau, apalagi selfie bareng. Saya juga bukan tim sukses Ahok. Kalau saya memberi “dukungan moral” ke Ahok, bukan karena ia seorang Kristen. Bukan pula karena ia seorang China. Saya mendukung Ahok karena kualitasnya, performanya, kinerjanya, dedikasinya, komitmennya, kecerdasannya, ketegasannya, “kebersihannya”, kejujurannya, keberaniannya dan nya-nya yang lain.

Jakarta butuh sosok pemimpin yang bersih, tegas, dan berani membongkar jaringan koruptor dan “preman politik” yang bergentayangan di setiap gang, bukan orang-orang korup bermental kerdil bin picik.

Jakarta butuh sosok seperti singa yang gagah perkasa mengawal padang savana atau rajawali yang bercakrawala luas, bukan “tikus empang” yang kotor dan rakus menggerogoti makanan atau kodok yang ngumpet dalam tempurung.

 Jakarta butuh figur pemimpin seperti burung hantu yang jeli, tajam, dan mampu melihat dalam kegelapan guna membongkar rombongan “serigala berbulu domba” dan membersihkan “setan gendruwo bertampang malaikat”.

Jakarta butuh sosok seperti Ahok bukan figur-figur pecundang yang hobi menggalang sentimen agama dan etnis untuk kepentingan perutnya sendiri dan kelompoknya. Jika ada tokoh Muslim yang lebih hebat dari Ahok, tunjukkan ke saya, saya dengan senang hati akan mendukungnya. Bukan karena Islamnya tapi karena kualitasnya…

Eksekusi Syaikh Nimr Bukan Soal Anti-Syiah (Bag. 1)

0

“Kuliah virtual” singkat kali ini tentang eksekusi massal hukuman mati terhadap 47 tersangka gerakan terorisme, separatisme, sektarianisme & ekstremisme yang sedang “heboh”. Dari 47 itu, dua nama sangat pupuler: Shaikh Nimr Baqir al-Nimr (tokoh “sayap radikal” Syiah) dan Faris Al-Shuwail (gembong Al-Qaeda di Saudi).

Sebagian besar mereka dihukum karena kasus “terorisme domestik” yang menimpa Arab Saudi sejak beberapa tahun silam. Hukuman terhadap “kelompok teroris” ini semakin gencar sejak Kementerian Dalam Negeri dipimpin oleh Putra Mahkota Muhammad bin Nayef yang “digadang-gadang” oleh Amerika & warga Saudi sebagai pemimpin masa depan.

Penting untuk dicatat disini: pertama, Kerajaan Saudi tidak pernah kompromi terhadap aneka gerakan dan aksi-aksi terorisme & ekstremisme siapapun pelakunya (Wahabi, Syiah, Sunni, Ikhwan, Al-Qaedah, ISIS, dan lain sebagainya) karena akan mengganggu & mengancam stabilitas sosial-politik, ekonomi, dan keamanan negara & masyarakat.

Banyak para tokoh “Wahabi/Ikhwan radikal” yang dipenjara & dieksekusi karena terlibat berbagai kasus kekerasan domestik seperti yang  menimpa Juhayman al-Utaibi yang pernah “mengkudeta” Mekah.

Kedua, eksekusi terhadap Shaikh Nimr al-Nimr bukan karena kapasitasnya sebagai “tokoh agama Syiah” tapi karena keterlibtannya dalam berbagai upaya makar (separatisme & sektarianisme) thd Pemerintah Saudi. Sejak Revolusi Iran 1979 (dan diperkuat sejak tumbangnya “rezim Sunni” Saddam Hussein Irak), para tokoh Syiah Saudi terbelah: ada yg “pro-Iran”, ada yg pro-Saudi. Syaikh Nimr adalah salah satu klerik yang dianggap sebagai “perpanjangan tangan politik Iran” yang paling gencar dalam melakukan aksi-aksi  resistensi terhadap Dinasti Saud.

Apakah semua tokoh-tokoh Syiah Saudi pro Nimr al-Nimr? Jelas tidak. Ada banyak tokoh Syiah Saudi (seperti Shaikh Hassan Al-Saffar, Shaikh Jafar Al Shayeb, Sayyid Hasyim al-Salman, dan lain sebagainya) yang menentang tindakan-tindakan  Syaikh Nimr krn dianggap tdk “strategis” dan merugikan warga Syiah Saudi. Banyak para tokoh Syiah Saudi yang lebih  memilih “jalan damai” dan bergabung di “Dialog Nasional” yang diprakarsai oleh mendiang Raja Abdullah yang dikenal sangat moderat & toleran terhadap kaum Syiah.

Akhirul kalam, teman-teman  di Indonesia tidak usah “overdosis” dalam menanggapi kasus eksekusi terhadap Nimr al-Nimr ini. Saya lihat  “kubu liberal” mengkritik keras eksekusi terhadap tokoh ini sambil mewacanakan tentang diskriminasi HAM Syiah tanpa melihat posisi & aksi-aksi kubu Syiah yang moderat & pro-Saudi.

Sementara “kubu radikal” melihat fenomena ini sebagai momentum untuk “mengganyang” Syiah di Indonesia tanpa melihat alasan-alasan  eksekusi & peta geo-politik di Saudi & Timur Tengah. Mereka tidak melihat bahwa eksekusi itu bukan lantaran Nimr al-Nimr itu pengikut Syiah yang sesat tapi karena keterlibatannya sebagai “spion” dan “pion” Iran di Saudi. Kedua kubu sama-sama melakukan “korupsi fakta” untuk kepentingan masing-masing.

Jadi teman-teman, sekali lagi saya tegaskan, masyarakat Indonesia jangan sampai terbawa arus konflik dan kekerasan geo-politik di Arab & Timur Tengah. Indonesia adalah Indonesia yang memiliki sejarah sendiri & kebudayaan sendiri yang harus dijaga bersama-sama, jangan sampai menjadi porak-poranda karena mengikuti dan “membeo” perseteruan negara-negara lain yang tidak  memiliki sangkut-paut dengan kepentingan bangsa, negara & Tanah Air tercinta. Demikian khutbah singkat ini. Selamat berhari Minggu…

Eksekusi Syaikh Nimr Bukan Soal Anti-Syiah (Bag. 2)

0

Surat terbuka untuk masyarakat & pemerintah Indonesia: saya perlu menulis & menegaskan lagi tentang konflik Timur Tengah karena saya lihat banyak pihak di Indonesia “tidak nyambung” dalam menanggapi masalah ini.

Seperti yang saya tegaskan dipostingan FB-ku sebelumnnya: eksekusi terhadap Nimr al-Nimr tidak ada hubungannya dengan “kebencian terhadap Syiah”. Ini murni persoalan “politik” tidak ada sangkut pautnya dengan masalah “keagamaan”. Harus dibedakan antara Saudi atau Iran sebagai “entitas politik” dengan Sunni/Syiah sebagai “entitas agama”.

Ingat bukan hanya al-Nimr saja yang  dieksekusi tapi juga puluhan gembong “Wahabi radikal” juga dihukum. Ingat juga, jika ini perseteruan anti-Syiah, maka tokoh (komunitas) Syiah lain di Saudi juga turut dihabisi. Kenyataannya tidak. Jika memang ini anti-Syiah, kenapa tidak  semua tokoh-tokoh Syiah di Saudi mendukung al-Namr?

Seperti saya jelaskan sebelumnya, al-Nimr (dan jg Hamzah al-Hassan) adalah salah satu “sayap radikal” Syiah, tokoh “rejeksionis” dan pelopor gerakan oposisi (meski bukan dengan  “angkat senjata”) terhadap Dinasti Saud yang sudah  sejak lama membangun link dengan Iran untuk melawan Kerajaan Saudi sambil menegaskan bahwa kedaulatan itu ada di “tangan Tuhan”.

Seperti yang jelaskan sebelumnya, banyak tokoh Syiah di Saudi (seperti Hassan Al Saffar, Ibrahim al-Bathouth, Syeikh Humaidan dan lain sebagainya) yang memilh sikap “akomodasionis” ketimbang melakukan perlawanan politik terhadap kekuasaan karena dipandang berdampak lebih buruk bagi warga Syiah di Saudi.

Perlu juga diingat bahwa jika kaum Syiah di Saudi memiliki “masalah keagamaan”, maka “masalah keagamaan” mereka itu hanya dengan “sayap ekstrim” Wahabi yang suka “mengafir-sesatkan” & bahkan melakukan tindakan kekerasan (terorisme, penembakan & pengeboman) terhadap warga Syiah, bukan dengan Sunni.

Sudah saya tegaskan berkali-kali, warga Syiah disini (baik yg Imamiyah, Isma’iliyah, Zaidiyah) tidak ada masalah dengan warga Sunni! Dan perlu kalian catat juga, kelompok “Wahabi radikal” ini bukan hanya ditentang oleh umat Syiah saja tapi juga oleh warga Sunni dan Wahabi itu sendiri.

Jadi menurut saya, sejumlah kelompok dan tokoh Muslim di Indonesia– baik kubu yang anti-Saudi dan pro-Iran maupun yang pro-Saudi dan anti-Iran—sama-sama “gagal paham” dalam memahami situasi disini.

Berpikirlah secara jernih dan renungkanlah secara mendalam sebelum bersuara supaya tidak  menimbulkan kebingungan, kesalahpahaman, dan kekacauan umat. Masyarakat Indonesia juga jangan mau ditarik-tarik & “dikadali” oleh sejumlah “tokoh agama” radikal-konservatif yang sering gembar-gembor menggalang kebencian terhadap warga Syiah & minoritas agama lain di Indonesia dengan memanipulasi isu-isu politik sektarian di Timur Tengah.

Mereka ini tidak lebih dari para makelar & tengkulak ideologi ekstremisme-intoleran yang dimana-mana menjadi sampah masyarakat. Kepada Pemerintah Indonesia juga jangan  sampai turut mendukung “politik sektarian” & jangan mau mengikuti bisikan & desakan sejumlah kelompok primordial tertentu yang justru akan menjadi bumerang & merugikan masyarakat di kemudin hari. Hidup di dunia cuma sekali, gunakanlah sebaik-baiknya untuk mewujudkan perdamaian & menggalang persahabatan, bukan malah tersungkur dalam lingkaran kekerasan & permusuhan…

Dunia Paska Kematian

0

Seperti apakah dunia paska kematian? Tidak ada orang yang tahu persis seperti apa wujudnya. Agama hanyalah “meraba-raba” gambaran dunia akhirat. Ilmu pengetahuan juga sama. Kaum teolog hanya “mencandra” keberadaanya.

Para agamawan juga sebatas “menerka-nerka”. Sementara para ilmuwan, baik kaum teis maupun ateis, hanya bisa berteori. Ada yg mempercayai “reinkarnasi” dan “kedamaian abadi”. Ada pula yg meyakini “realitas” surga-neraka seperti agama-agama Semit.

Tapi semua konsep “dunia paska kematian” dr para agamawan maupun kaum sekuler hanyalah “imajinasi pemikiran” dan “tafsir kultural” belaka. Bahkan dalam batas tertentu “bias gender”. Coba kalian simak baik-baik gambaran surga agama-agama Semit, Islam khususnya, yg mengonsepkan surga seperti taman rindang penuh bidadari dengan aliran sungai yang sejuk.

Konsep ini seperti sebuah “imajinasi” para penduduk (laki-laki) gurun padang pasir yang panas, gersang, dan kering-kerontang sehingga mendambakan suasana yang adem, sejuk, rindang, dan banyak gadis-gadis cantik. Pernahkah kalian membayangkan bagaimana jika orang-orang Eskimo atau Suku Inuit di kutub utara merumuskun sebuah “surga”?

Apapun “realitas” dunia paska kematian, tentu saja kalian (sebagaimana saya) boleh meyakini sedalam-dalamnya. Tetapi janganlah kalian memaksakan (apalagi melalui cara-cara kekerasan) keyakinan kalian itu kpd orang lain, agama lain, komunitas lain. Apalagi dibumbui dengan olok-olok terhadap konsep “dunia paska kematian” kelompok lain.

Tindakan ini hanyalah mengantarkan kita pada “kesombongan teologis” yang tidak  ada manfaatnya. Semua konsep ada batasnya. Agama hanyalah perantara. Hanya Tuhan yang tak berbatas dan Maha Tahu dunia-Nya. Jika manusia berbuat kebaikan di dunia ini, saya yakin pasti ada “balasan” di akherat kelak, tidak penting apa dalam bentuk surga atau lainnya. Begitu pula sebaliknya…

Dari Bu Mega sampai Koh Ahok

0

Dulu, “mereka” ramai-ramai menolak Megawati Soekarnoputri sebagai Presiden RI karena menurut mereka, dalam Islam, seorang perempuan “haram” menjadi pemimpin politik apalagi memimpin sebuah negara. Berbagai dalil mereka kumpulkan untuk mendukung pendapat-pendapat mereka.

Berbagai fatwa pun mereka himpun untuk menyokong argumen-argumenya. Meskipun Bu Mega jelas beragama Islam, mereka tidak peduli. Bahkan mereka menuding Bu Mega itu “Islam Hindu” hanya karena sang ayah memiliki hubungan sejarah dengan Bali.

Dulu pula, “mereka” ramai-ramai menentang, menolak, dan menjegal KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur sebagai Presiden RI. Kali ini alasan pengharaman mereka karena Gus Dur buta. Menurut mereka, dalam Islam, seorang pemimpin negara tidak boleh memiliki “cacat fisik”. Lagi-lagi mereka menghimpun berbagai teks, dalil, dan fatwa untuk mendukung, memeperkuat, dan melegitimasi pendapat dan sikapnya.

Padahal Gus Dur seorang tokoh Muslim terkenal di seantero jagat, pemimpin ormas Islam terbesar di Tanah Air, Nahdlatul Ulama (NU), kiai yang sangat mumpuni wawasan keislamannya, berpuluh-puluh tahun belajar Islam di pesantren, Mesir, dan Irak, ahli Bahasa Arab dan kitab-kitab keislaman, putra seorang mantan Menteri Agama dan pejuang bangsa (KH A. Wahid Hasyim), cucu seorang ulama besar, pahlawanan nasional, dan pendiri NU (Syeikh Hasyim Asy’ari). Kurang apa coba “Islam”-nya Gus Dur? Kenapa mereka tolak juga?

Dulu pula, meski tidak terlalu dulu, mereka juga ramai-ramai menentang dan menolak Pak Jokowi. Kali ini alasannya karena beliau seorang “Islam abangan” lah, “Islam KTP” lah, “Islam Kejawen” lah, tidak bisa mengucapkan kalimat “as-salamu alaikum warahmatullah wa barakatuh” dengan fasih, apalagi ngomong Bahasa Arab.

 Jika Bu Mega dituduh dekat dengan Hindu, Pak Jokowi dituduh dekat dengan Kristen. Dekat dengan Kristen saja dipersoalkan apalagi Kristen beneran. Lagi-lagi, seperti biasa, mereka mengumpulkan sejumlah dalil untuk menyokong pendapat dan argumentasinya.

Sekarang, mereka ramai-ramai lagi gerudag-geruduk kesana-kemari. Kali ini targetnya Koh Ahok. Lebih brutal lagi serangan mereka ke Ahok karena si Koh ini sudah Cina, Kristen pula.

Karena berstatus “minoritas ganda”, Koh Ahok lebih mudah jadi target empuk kampanye hitam oleh para pecundang agama dan politik ini. Berbagai dalil tumpah-ruah dikutip untuk mendukung pendapat, argumen, sikap, dan tindakan gelap-mata dan membabi buta mereka. Para mafia agama dan politik inipun rajin konsolidasi dan kusak-kusuk untuk menjegal Ahok.

Uniknya atau lucunya, kenapa “mereka” tidak mempersoalkan Pak SBY atau Pak Prabowo Subiyanto? Keduanya memang Muslim, tetapi keduanya, seperti Bu Mega dan Pak Jokowi, bukankah sama-sama sebagai “Muslim abangan”?? Masihkah anda percaya, kalau apa yang “mereka” lakukan itu “atas nama Islam”?

Civil Pluralism Yes, Violence No

0

Mau berjubah silakan, mau bercelana cingkrang silakan, mau berhijab silakan, mau berjenggot menjuntai juga silakan. Saya bukan anti jubah, anti hijab, anti celana cingkrang, anti jenggot dan lain sebagainya.

Kalau anti kolesterol emang ya. Bahkan mau merasa diri paling relijius, paling islami, paling nyunah, paling benar, paling lurus dlsb juga silakan saja. Merasa diri paling berhak sebagai penghuni surga kelak di alam akhirat & pemilik para bidadari yang aduhai juga tidak apa-apa, silakan saja.

Kemudian beranggapan atau berkeyakinan bahwa semua orang yang berbeda agama, beda paham dan aliran serta beda praktek keagamaan dengan anda akan nyasar nyemplung ke neraka juga sah-sah saja.

Kenapa boleh-boleh saja ? Karena semua itu adalah bagian dari “pluralisme sipil” yang harus dirawat dan dijaga pluralitas atau kemajemukannya. Orang yang melarang orang lain untuk berjenggot, berjubah, berhijab atau bercelana cingkrang itu misalnya sama derajatnya dengan orang yang melarang orang lain untuk berkebaya, berjeans, berkonde, berblankon, bersarung, dan seterusnya.

Teks-teks keagamaan itu tidak cukup hanya dibaca secara “leterlek” atau “harfiyah” saja. Perlu memahami sejarah & ilmu-ulmu lain agar tidak kehilangan konteks dan “pesan moral” dari teks-teks itu. Tanpa perangkat ini, maka umat beragama akan menjadi seperti robot yang kaku-regeng, bukan seperti manusia yang lentur dengan aneka ragam budaya dan perubahan zaman.

Yang saya kritik adalah tindakan pemaksaan dan kekerasan terhadap orang lain, kelompok lain, agama lain dan seterusnya hanya karena mereka beda agama, beda aliran, beda pakaian, beda ukuran celana, beda jenggot dan seterusnya. Jadi “pluralisme sipil” ok tapi kekerasan tidak boleh mendapatkan tempat di bumi pertiwi…

Beragam Motif Anggota ISIS

0

Muridku, seorang warga Saudi-Bahrain, pernah berkisah tentang “jeroan / daleman” ISIS. Ia bukan anggota ISIS. Ia bahkan ikut kampanye penggebosan ISIS lewat media sosial dan lainnya. Penuturannya berdasarkan obrolan & wawancara dengan sejumlah orang yang anak atau saudaranya bergabung dengan ISIS (baik di Irak maupun Suriah).

Ada beberapa informasi yang ia tuturkan kepada saya. Pertama, para warga Arab yang direkrut menjadi “foot soldiers” ISIS rata-rata memiliki ciri-ciri berikut ini: (1) berusia muda-belia, mulai 17-an tahun yg gampang diprovokasi, (2) memiliki wawasan keagamaan yg sempit & konservatif, dan (3) jobless alias pengangguran.

Menurutnya ada dua hal yg menjadi motivasi utama mereka bergabung dengan ISIS: (1) jihad supaya kelak masuk surga dan (2) mendapatkan gaji rutin yang lumayan. Ia menuturkan ISIS itu seperti “perusahaan” yang merekrut karyawan dari mana saja. “Karyawan” yang mereka rekrut ada yang “karyawan biasa”, ada pula “karyawan profesional” alias “tenaga ahli” seperti ahli perminyakan.

Uang yg dipakai untuk menggaji mereka bersumber dari lahan-lahan minyak di Irak yang sudah mereka kuasai. Mereka jual minyak itu di “pasar gelap”. Ada beberapa negara (seperti Turki) yang bersedia menjadi penadah “underground market” ini.

Ia juga menuturkan ada sejumlah orang yang kecewa dengan ISIS. Pasalnya, waktu mereka bergabung dengan ISIS Suriah & berniat berperang melawan rezim Bashar Assad, anggota ISIS malah berperang sendiri dengan kelompok-kelompok “milisi pribumi” Suriah.

 Di Suriah memang ada sejumlah kelompok milisi yg berbeda agenda, motivasi, dan tujuan gerakan. Menurutnya, pada awalnya cukup banyak yang berminat menjadi “karyawan ISIS” tapi lama-lama  banyak yang  frustasi karena melihat propaganda-propaganda kosong-melompong para pimpinan ISIS.

Karena kecewa, akhirnya banyak yang mudik dan bikin onar di negara masing-masing untuk melampiaskan kekecewaannya. Mungkin saja sejumlah pengeboman di Lebanon, Perancis, Turki, Indonesia, Saudi, Kamerun dan lain sebagainya ada kaitannya dengan ini.

Meski begitu ia berpesan untuk tidak mudah percaya dengan klaim-klaim para “pembesar” ISIS “di Irak & Suriah atas sejumlah pengeboman di berbagai negara. Klaim-klaim  itu, katanya, hanya strategi saja untuk menunjukkan bahwa ISIS itu besar & berpengaruh.

Padahal kenyataanya tidak. Justru aksi-aksi terorisme di sejumlah negara itu, jika memang dilakukan oleh “jaringan ISIS”, menunjukkan bahwa ISIS saat ini tidak lagi  solid alias kacau-balau. Dengan kata lain, aksi-aksi terorisme itu bukan dilakukan oleh anggota ISIS tetapi oleh “bekas” atau “pembangkang” ISIS…

Bahasa Arab Bukan Monopoli Umat Islam

1

Mbok umat Islam Indonesia itu tidak usah “gumunan” dan “bingungan” nanti malah kelihatan lucu, wagu, “udik”, dan malu-maluin. Masak hanya karena Mbak Agnes pakai tulisan Bahasa Arab saja marah? Dianggap menodai Islam lah, melecehkan Al-Qur’an lah.

Datang ke Arab sini, kalian akan tahu kalau tulisan-tulisan Bahasa Arab ada dimana-mana: di WC, celana dalam, klub-klub malam, dan lain sebagainya. Saya yakin orang-orang Arab akan tertawa cekikikan jika melihat tingkah-polah kalian yang “unyu-unyu” ini.

Masak Bahasa Arab kok dianggap sebagai “bahasa relijius” dan kaum Muslim ? Datanglah ke negara-negara Arab & perhatikan dg seksama, nanti kalian akan tahu kalau bahasa Arab telah menjadi “bahasa lingua franca” yang lintas-etnis dan agama: Muslim, Kristen, Yahudi, Arab & non-Arab semua berbahasa Arab ria. Umat Kristen di Lebanon, Suriah, Yordania, Palestina, Mesir, atau Bahrain jauh lebih fasih Bahasa Arab-nya ketimbang kaum Muslim di Indonesia, apalagi kaum Muslim kota yg suka “berantum-antum” dan “berumi-abi”.

Jadilah umat beragama yang cerdas dan dewasa: cerdas berfikir, dewasa bertindak. Kalau mau meniru Nabi Muhammad SAW seperti yang kalian klaim selama ini, maka tirulah cara beliau berpikir dan bertindak itu. Jangan dikit-dikit marah, dikit-dikit ngamuk. Malu kan dilhat orang dan umat agama lain ?

Asal-Usul Hijab Bukan dari Islam

1

Karena “tradisi hijab” sudah menjadi bagian dari kebudayaan “masyarakat agama” dan “masyarakat sekuler” sejak peradaban Mesopotamia, yang kemudian dilanjutkan oleh Yahudi, Kristen, dan “si bungsu” Islam (lihat postingan-postinganku sebelumnya), maka salah kaprah jika ada kaum Muslim & Muslimah yang mengklaim bahwa hijab itu “properti Islam” semata. Asal-usul hijab ini kan bukan dari Islam, bagaimana ceritanya kok tiba-tiba sejumlah umat Islam mengklaim sebagai “pemilik hijab yang sah”.

Dengan begitu, jika ada non-Muslimah (umat Kristen & Yahudi khususnya) yang mengenakan jilbab & hijab, misalnya, bukanlah sebuah pelecehan atau penodaan terhadap Islam karena pemakaian hijab itu juga diamanatkan dalam kitab-kitab suci mereka. Ingat, bukan hanya Al-Qur’an yang memuat pesan hijab ini tapi juga dalam kitab-kitab Yahudi dan Kristen.

Jangan lupa, sebagaimana Islam, agama Yahudi dan Kristen juga lahir di Timur Tengah, bukan Eropa, apalagi Amerika. Oleh karena itu sangat wajar jika ketiga agama serumpun ini memiliki sejumlah kesamaan ajaran, norma, dan tradisi keagamaan, termasuk tradisi hijab ini.

Jika memang tradisi hijab hanya “milik Islam” saja, tentunya semua umat Kristen dan Yahudi menolak memakai hijab. Kenyataanya tidak. Kaum perempuan kontemporer dari sejumlah komunitas ortodoks Yahudi dan Kristen memakai hijab (bahkan niqab atau penutup wajah).

Kaum perempuan Kristen di kawasan Arab seperti Palestina, Bahrain, Suriah, Mesir, Lebanon, Oman, Kuwait dlsb juga berhijab. Meskipun tentu saja ada yang tidak memakainya karena itu pilihan masing-masing individu. Kaum perempuan Kristen yang tinggal di Saudi (biasanya kaum migran dari Suriah, Bahrain, Palestina, Mmesir, atau Lebanon) juga memakai abaya (jilbab ala Saudi), meskipun tanpa niqab.

Saya menulis begini nanti dikira melecehkan islam dan Al-Qur’an. Wong “ditunjukin jalan yang benar” kok malah ngeyel & marah-marah. Ini kan seperti ada orang buta yang mau “nyemplung” got, kemudian ada orang yang mau menolong dan menuntunnya ke “jalan yang benar”, eh malah si penolong tadi dimaki-maki…

Arab Menjadi Barat, Indonesia Menjadi Arab (4)

0

Orang-orang modern Arab secara umum sangat “terbuai” dengan kebudayaan material Barat. Meskipun sebagian dari mereka mengkritik sejumlah “kebudayaan imaterial” Barat tetapi mereka pada umumnya menganggap Barat sebagai simbol kemajuan dan kemodernan.

Itulah sebabnya mereka menyukai produk2 teknologi Barat. Berbagai industri Barat–dari segala bidang: perhotelan, restauran, pakaian, otomotif, telekomunikasi, perbankkan, kecantikan, dan lain sebagainya–berkembang pesat disini.

Datanglah ke negara-negara di kawasan Arab Teluk, anda mungkin akan bertanya-tanya: “Mana Arabnya?”. Image Arab sebagai area terbelakang musnah. Bayangan Arab sebagai “gurun pasir” hilang. Padang pasir telah disulap menjadi area industri dan perkantoran, teluk & pantai disulap menjadi tempat wisata atau turisme yang aduhai, onta-onta digantikan dengan mobil-mobil mewah produksi Amerika & Eropa.

Bahrain menjelma bak Hawaii, Dubai Emirat Arab menjadi Los Angeles, Riyadh sudah seperti New York, Doha Qatar ibarat London. Lebanon? Ah sudahlah, “tidak ada Arabnya” sama sekali di negara ini karena sudah menjadi “Eropa mini”.

Berbagai universitas di Eropa dan Amerika juga berkembang-biak di kawasan ini: Georgetown, Carnegie Mellon, Virginia Commonwealth University, Texas A&M, Weill Cornell Medical College, New York University, American University, dan lain sebagainya. Saya dengar almamaterku, Boston University, juga membuka cabang di Uni Emirat Arab.

Banyak universitas di kawasan ini, termasuk kampusku sekarang, yang menggunakan Bahasa Inggris sebagai pengantar dalam mengajar dan riset. Bukan hanya universitas, sekolah-sekolah dasar dari SD-SMU yang berbahasa Inggris juga membludak bak cendawan di musim hujan dengan biaya yg cukup fantastis.

Singkat cerita, di saat sebagian kaum Muslim di Indonesia sedang gencar menggalakkan Bahasa Arab, masyarakat Arab modern saat ini sedang gandrung dengan Bahasa Inggris sebagai “bahasa elit” karena dianggap sebagai bahasa “orang-orang elit”: bule.

Arab Menjadi Barat, Indonesia Menjadi Arab (3)

0

Selain masyarakat Arab kontemporer lebih suka menggunakan Bahasa Arab gaul atau “bahasa / dialek colloquial”, faktor lain yang menyebabkan merosotnya Bahasa Arab standar dan Bahasa Arab klasik (fushah) adalah berkembangnya Bahasa Inggris sebagai “bahasa elit dan bisnis” di kawasan Arab Teluk.

Di sejumlah “negara Arab” seperti Lebanon atau Maroko bahkan Bahasa Perancis masuk daftar “bahasa elit”. Sejak beberapa dekade silam, Bahasa Inggris memang telah menjelma menjadi bahasa lingua franca kedua di “dunia Arab” khususnya Arab Teluk.

Ada beberapa faktor yang turut memberi kontribusi terhadap pesatnya penggunaan dan perkembangan “Bahasa Londo” ini. Pertama adalah berjibunnya kaum non-Arab migran, khususnya dari India, Pakistan, Bangladesh, Sri Lanka, Filipina, Thailand, sejumlah negara di Eropa dan Afrika, juga Indonesia.

Sangking banyaknya bahkan kaum migran ini menjadi mayoritas dan dominan di sejumlah negara seperti Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain, atau Oman. Di Saudi, 30% penduduknya juga migran.

Sudah bukan asing lagi jika kita “keluyuran” ke kawasan Arab Teluk, wabil khusus negara-negara yang tergabung dalam Gulf Cooperation Council, kita akan dengan mudah mendapatkan Bahasa Inggris berdampingan dengan Bahasa Arab: di toko-toko, mall, kantor, sekolah, jalan, rumah sakit / klinik, tempat ibadah, papan iklan, dan lain sebagainya. Pelayanan publik atau transaksi jual-beli juga sudah biasa menggunakan salah satu dari dua bahasa ini.

Dalam batas tertentu, kedudukan Bahasa Inggris bahkan “lebih terhormat” dan “lebih elit” sebagai simbol “kelas menengah-terdidik” atau “ekspat profesional” bukan “pekerja kasar” (buruh, sopir, pembantu, dan lain sebagainya).

 Karena Bahasa Inggris adalah “bahasa bule” dan “warga bule” disini adalah simbol kelas terdidik, kaum profesional, wong gede, orang maju dan berperadaban dan seterusnya (kontras dengan warga non-bule), maka status Bahasa Inggris pun ikut-ikutan naik dan “terhormat.”

Ada asumsi bahwa “pekerja kasar” kaum migran tidak bisa berbahasa Inggris. Mereka hanya menggunakan “Bahasa Arab pasaran” dalam berkomunikasi dan bertransaksi–sesuatu yang “sudah lumrah dan jamak” bukan “spesial”.

Karena Bahasa Inggris menduduki “tempat atau maqam mulia”, ada semacam “tips”, khususnya bagi perempuan, jika mereka menggunakan Bahasa Inggris dalam berkomunikasi dan bertransaksi jual-beli di tempat2 publik seperti pasar atau mall, maka kaum lelaki, khususnya yang “berhidung belang” baik Arab maupun bukan akan lebih respek dan tidak berani menggodanya…

Arab Menjadi Barat, Indonesia Menjadi Arab (2)

0

Sebuah simposium akbar tentang pentingnya menjaga dan merawat Bahasa Arab digelar di Qatar, tetangga Saudi. Simposium ini diselenggarakan oleh “Forum Kebangkitan Bahasa Arab” dan disponsori oleh World Organization for Renaissance of Arabic Language (WORAL) dan Qatar Foundation. Forum ini melibatkan lebih dari 300 peneliti dan tokoh dari berbagai kalangan dan latar belakang keilmuan: pendidik, jurnalis, birokrat, pengusaha, dan lain sebagainya.

Ketua Dewan Penasehat WORAL Abdul Aziz bin Abdullah Al-Subaie menekankan tentang pentingnya pendidikan Bahasa Arab bagi anak-anak. Sementara Syaikha Moza Binti Nasser, Kepala Qatar Foundation for Education, Science and Community Development meminta semua pihak untuk bersatu menggalakkan, mengembangkan, dan memasyarakatkan Bahasa Arab standar agar tidak punah di kemudian hari. Syaikha Moza juga menegaskan bahwa punahnya bahasa berarti lenyapnya identitas sebuah bangsa.

Dunia Arab dewasa ini memang sedang dihadapkan pada persoalan pelik dan ancaman punahnya Bahasa Arab standar dan Bahasa Arab klasik. Ada beberapa faktor yang menyebabkan “terpuruknya” Bahasa Arab standar ini.

Pertama, masyarakat Arab kontemporer lebih menyukai “Bahasa Arab gaul” atau bahasa/dialek colloquial (ammiyah), yakni Bahasa Arab informal yang dipakai dalam pergaulan sehari-hari, ketimbang Bahasa Arab standar yang baku.

Penggunaan “Bahasa Arab gaul” ini tidak hanya dalam komunikasi sehari-hari tetapi juga di media, sekolah2, televisi dlsb. Maraknya penggunaan Bahasa Arab gaul ini menyebabkan Bahasa Arab standar dan baku yang sesuai dengan kaedah tata-bahasa (nahwu-sharaf) menjadi terasing dan termarjilankan.

Jika Bahasa Arab standar modern saja tergerus dari masyarakat apalagi Bahasa Arab klasik atau fushah yang digunakan dalam Al-Qur’an, teks-teks / kitab klasik keislaman, berbagai ibadah atau ritual keagamaan, syi’ir dan lain sebagainya.

Bahasa Arab fushah ini semakin langka dan “antik” dan nyaris tidak pernah dipakai dalam literatur keilmuan apalagi dalam kehidupan sehari-hari sehingga macet dan terancam tenggelam terkubur dalam limbo sejarah, dan penguburnya adalah masyarakat Arab sendiri.

“Murid senior” saya dari Madinah, Ali Muhammad Al-Harbi bahkan mengatakan masyarakat Arab modern (selain “komunitas literati” dan “kaum agamawan” tentunya)–apalagi anak-anak, remaja, dan pemuda–bahkan banyak yang tidak paham dengan Bahasa Arab fushah ini. Sambil berkelakar ia mengatakan, “Bahasa Arab fushah ini seperti ‘bahasa mahluk alien’ saja sekarang ini yang semakin hari semakin asing, klasik, dan antik…”

Arab Menjadi Barat, Indonesia Menjadi Arab (1)

0

Salah satu gejala, fenomena, dan pemandangan menarik, unik, sekaligus lucu dewasa ini adalah tentang perkembangan “Islam Arab” dan maraknya kaum Muslim “fans Arab” di Indonesia yang dibungkus dengan istilah atau slogan “nyunah Nabi” sementara masyarakat Arab sendiri bergerak “menuju Barat”.

Saya mengamati fenomena perkembangan perubahan ekonomi-sosial-budaya ini tidak hanya di kawasan Arab Teluk seperti Saudi, Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Oman tetapi juga Yordania dan Lebanon.

 Globalisasi, modernisasi, teknologisasi, dan industrialisasi yang menyerbu kawasan ini sejak beberapa dekade lalu telah menimbulkan perubahan dramatis pada perilaku masyarakat dan perubahan sosial tadi.

Ada sejumlah indikator dan fakta yang bisa dipakai untuk mengukur ini. Misalnya tentang menjamurnya industri restoran makanan cepat saji ala Amrik (Pizza, McD dan sebagainya) yang mengeruk keuntungan trilyunan rupiah setiap tahunnya seperti pernah saya sebutkan sebelumnya.

“McDonaldisasi” telah mewabah di kawasan Arab dan masyarakat menyambutnya dengan riang-gembira. Tidak ada yang kampanye “boikot produk Barat” karena milik “orang-orang kapir” Kristen-Yahudi misalnya.

 Hanya segelintir ekstrimis sakit jiwa saja yang kadang melakukannya. Selebihnya, masyarakat Arab–tua-muda-anak, laki-laki-perempuan, bujang atau sudah berkeluarga–ramai-ramai rela mengantri “uyel-uyelan” di warung-warung fast foods ini.

Bukan hanya industri retoran fast foods saja yang mewabah, “industri kecantikan”, “industri pakaian”, “industri otomotif”, “industri telekomonikasi” dan industri-industri ala Barat lainnya juga ikut menjamur.

Saya sering bilang, dalam hal berpakaian misalnya, generasi muda lebih memilih “busana ala Barat” yang lebih simpel & kasual. Kaum perempuannya juga sama. Meskipun luarnya memakai abaya, di balik abaya itu mereka mengenakan jeans, kaos, training dlsb. Bagi masyarakat Arab, abaya hanya semacam “jaket” atau “bungkus luar” saja.

Hal lain yang menarik adalah perkembangan pesat Bahasa Inggris yang pelan-pelan menggerus eksistensi Bahasa Arab yang dianggap kurang mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi.

Bahasa Inggris juga menjadi “bahasa elit” karena banyaknya industri2 besar dan trans-nasional selain sekolah-sekolah/kampus-kampus yang meniru model Barat. Bukan hanya itu, anak-anak & remaja juga menggemari Bahasa Inggris karena banyaknya game-game yang menggunakan “bahasa Londo” ini.

Kekhawatiran tentang “teknologi membunuh Bahasa Arab” ini direspons oleh Syaikha Moza, Kepala Qatar Foundation for Education, Science, and Community Development, dengan menggalang pembentukan “Forum Renaisans Bahasa Arab”…

Arab Kristen dan Injil Bahasa Arab

1

Sejumlah kaum Muslim yang “lugu” di Indonesia sering berasumsi atau bahkan berkeyakinan bahwa Bahasa Arab itu “bahasa Islam”, “bahasa suci” atau bahkan menurut “Ustad Ucup”, “bahasa Surga”. Tetapi pada saat yang sama, lucunya, mereka mengafirkan dan “me-neraka-kan” Kristen dan Yahudi (atau non-Muslim secara umum).

Pertanyaanya: bagaimana dengan umat Arab Kristen dan Yahudi, yang seperti kaum Muslim Arab, juga menggunakan Bahasa Arab dalam kehidupan sehari-hari dan dalam berkomunikasi.

Tidak hanya itu, tata-cara beribadah (misalnya kebaktian Minggu untuk Kristen atau sabat untuk Yahudi), nama-nama tempat-tempat ibadah (Sinagog dan Gereja), dan kitab suci mereka juga menggunakan Bahasa Arab. Foto di bawah ini hanyalah sekedar contoh Kitab Perjanjian Baru umat Arab Kristen dan Kitab Talmud umat Arab Yahudi yang ditulis dengan Bahasa Arab.

Seperti saya jelaskan dalam berbagai postingan sebelumnya, dunia Arab bukan melulu “Dunia Muslim”. Di kawasan ini, ada berjuta-juta masyarakat non-Muslim: Kristen, Yahudi, Yazidi, Baha’i, Zarastutra, atau bahkan agnostik dan ateis.

Data dari Liga Arab misalnya menyebutkan ada sekitar 20 juta warga Arab yang memeluk Kristen. Mereka tersebar di Lebanon, Palestina, Suriah, Mesir, Irak, dan lain sebagianya. Masyarakat Arab Yahudi, meskipun tidak sebanyak umat Arab Kristen, juga ada disini seperti di Bahrain, Oman, Yaman dan lain-lain.

Karena Arab adalah bahasa mereka, maka umat Arab Kristen dan Yahudi ini juga bertutur-sapa dan berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari juga menggunakan Bahasa Arab. Seperti kaum Muslim, mereka juga bilang “Allahu Akbar, insha Allah, masha Allah, assalamu ‘alaikum, bismillah, alhamdulilah, shafaka Allah…”.

La iya dong pakai bahasa Arab, masak mereka bilang: sampurasun, sugeng enjing, selamat pagi dan lain sebagainya. Sudah tentu Bahasa Arab mereka jauh lebih fasih ketimbang para “Arab KW” yang “genit” suka berantum-antum dan berakhi-ukhti itu.

Jadilah umat Islam yang cerdas dan dewasa dalam berpikir dan bertindak. Perbanyaklah “turisme intelektual” supaya wawasan keagamaan dan keislaman kita semakin “bergizi” sehingga diharapkan semakin toleran dalam bersikap dan bertindak di masyarakat yang majemuk ini. Jangan cuma “wisata rohani” dan foto-foto di tempat-tempat suci melulu yang dibesar-besarkan…