Beranda blog Halaman 5

Mengungkap Misteri Arabia Kuno

0

Menarik diperhatikan meskipun jutaan umat Islam di seluruh dunia mengunjungi Arab Saudi untuk menunaikan ibadah haji atau umrah setiap tahunnya tetapi sesungguhnya tidak banyak dari mereka yang mengetahui kesejarahan Arabia Kuno selain info sekilas mengenai kisah lika-liku Nabi Ibrahim dan keluarganya termasuk cerita tentang Ka’bah, air zamzam dlsb. Selebihnya mereka tidak tahu. Hal itu bisa dimaklumi karena Al-Qur’an sendiri juga lebih banyak atau hanya merekam seputar cerita perjalanan para nabi Israel Kuno seperti dinarasikan dalam kitab-kitab Yahudi.

Menariknya lagi bukan hanya umat Islam yang minim wawasan Arabia Kuno, para sejarawan pun seperti mengabaikan atau kurang tertarik membahas kesejarahan masa lampau Arabia Kuno. Akibatnya, Arabia tidak masuk dalam peta sejarah peradaban kuno umat manusia yang diperhitungkan. Setiap membahas peradaban kuno Timur Tengah (Timteng), para sejarawan selalu merujuk Mesir, Iran (Persia), atau Mesopotamia (sebuah “kawasan historis” di Asia Barat yang terletak di antara sungai Tigris dan Eufrat yang kini menjadi bagian dari Irak). Arabia luput dari pengamatan mereka.

Padahal, seperti Mesir, Persia, dan Mesopotamia, di Arabia juga banyak peninggalan kesejarahan dan arkeologis masa lampau yang menarik untuk dijadikan sebagai bahan kajian asal-usul peradaban dan kebudayaan kuno umat manusia di Timteng. Bahkan menurut sejumlah arkeolog, jejak sejarah dan kebudayaan Arabia Kuno bisa dikatakan lebih tua ketimbang Mesir, Persia, maupun Mesopotamia. Kemudian, meskipun Arabia bukan sebagai tempat sejumlah kerajaan legendaris masa lampau seperti Mesir, Assyria, Babilonia, Persia, Romawi, Byzantium, Persia, dlsb. Tetapi bukan berarti Arabia minus kerajaan-kerajaan kuno di era pra-Islam. 

Yang dimaksud dengan Arabia Kuno disini adalah kawasan Jazirah Arab (Arabia) ratusan atau ribuan tahun Sebelum Masehi yang teritorinya membentang dari utara yang kini sebagian masuk wilayah Yordania hingga ujung selatan yang kini sebagian masuk wilayah Yaman. Bagian tengah jazirah ini kini masuk teritori Arab Saudi. Penyebutan Arabia ini untuk membedakan area ini dengan “kawasan Arab” lain di Timteng.   

Sejumlah Temuan Arkeologi yang Menarik

Beberapa bulan belakangan ini saya mengamati berbagai temuan menarik hasil penggalian para arkeolog dan antropolog ragawi, baik dari Saudi maupun mancanegara, yang bisa menambah atau bahkan mengubah kesejarahan peradaban manusia Timteng. Pengamatan ini adalah bagian dari proyek riset turisme arkeologi di Arab Saudi yang saya pimpin bersama Profesor Simeon Magliveras dari Amerika.

Misalnya, sekelompok arkeolog dari Saudi Heritage Authority, King Saud University, dan Max Planck Institute menemukan batu-batu kuno (termasuk Archeulean axes) di Gurun Nafud dan Tabuk (Khal Amishan) yang dibentuk sedemikian rupa untuk dijadikan sebagai alat/senjata “manusia purba”. Bisa dikatakan alat-alat yang terbuat dari batu-batu kuno ini (dalam arkeologi disebut eco-facts) merupakan bagian dari karya seni pahat mula-mula yang diciptakan atau dikembangkan oleh leluhur manusia. Para arkeolog memperkirakan usia batu-batu kuno ini sekitar 400,000 tahun, dan sejauh ini dianggap sebagai penemuan arkeologis tertua di kawasan Arabia.

Para arkeolog juga menemukan alat dari batu-batu kuno lainnya yang usianya relatif lebih muda (antara 50,000 dan 300,000 tahun). Dengan kata lain, para arkeolog bukan hanya menemukan sisa-sisa peninggalan arkeologis di zaman peradaban kuno Archeulea tetapi juga era Paleolitikum Tengah (Middle Paleolithic) yang lebih muda. Selain itu, tim arkeolog juga menemukan fosil sejumlah hewan yang berusia ribuan tahun yang menunjukkan kesuburan kawasan Arabia Kuno. Hasil penemuan ini secara detail diterbitkan di majalah Nature yang sangat masyhur.

Kemudian, tim ilmuwan terdiri atas Iyad Zalmout dari Saudi Geological Survey, Huw Groucutt dari University of Oxford, dan Michael Petraglia dari Max Planck Institute for the Science and Human History menemukan tulang jari tengah manusia dewasa (dari Homo Sapiens) yang diperkirakan sekitar 85,000–90,000 tahun lalu. Ini merupakan fosil pertama hominin (sekelompok manusia purba dan leluhur langsung “manusia modern”) tertua yang ditemukan di Arab Saudi serta fosil manusia tertua yang pernah ditemukan diluar Afrika dan Levant. Hasil temuan mereka diterbitkan di jurnal Nature Ecology & Evolution.   

Tak kalah menarik adalah hasil temuan tim peneliti arkeologi University of Western Australia yang menemukan kompleks pemakaman kuno berusia sekitar 4,500–5,000 SM di kawasan AlUla dan Khaibar (hasil temuan mereka diterbitkan di jurnal Holocene). Temuan ini lagi-lagi menunjukkan Arabia sebagai salah satu tempat hunian manusia purba. Penting untuk dicatat bahwa manusia purba yang menghuni area Arabia Kuno itu tidak serta merta beretnis/bersuku Arab tetapi juga leluhur manusia dari etnis/suku lainnya, misalnya Nabatea yang dulu membangun Petra di Yordania dan Hegra di Arabia. Bahkan etnis/suku Arab bisa dikatakan “pendatang baru” di Arabia.

Kerajaan-Kerajaan Kuno di Arabia

Pula, para ilmuwan (sejarawan dan arkeolog) juga menemukan sisa-sisa kerajaan kuno di Arabia selatan, utara, maupun timur. Salma Hawsawi, ahli sejarah Arabia Kuno dari King Saud University, mengatakan bahwa Arabia selatan pernah menjadi pusat sejumlah kerajaan klasik seperti Ma’in, Awsan, Qataban, Sheba, Himyar, dlsb. Sedangkan Arabia utara menjadi markas sejumlah kerajaan kuno yang sangat penting di masanya seperti Dadan, Lihyan, Nabatea, Palmyrene, Tayma, Qidar, dlsb. Bukan hanya Arabia selatan dan utara saja, Arabia timur juga dalam sejarahnya pernah menjadi rumah sejumlah kerajaan kuno seperti Dilmun, Magan, Gerrha, dan Thaj.

Tentu saja, pendirian sebuah kerajaan dimanapun selalu diiringi dengan lahirnya sebuah peradaban. Bahkan pendirian sebuah kerajaan itu sendiri merupakan cermin atau manifestasi dari majunya peradaban itu, walaupun tidak semua peradaban manusia, baik kuno maupun kontemporer, memilik sebuah kerajaan.

Sependek pengetahuan saya, hanya Arabia bagian tengah saja (Najd, Qassim, Buraidah, dlsb) yang dalam sejarahnya sangat “kering” dari kerajaan dan peradaban besar karena nihilnya perjumpaan dengan berbagai kelompok etnis dan suku-bangsa lain lantaran kondisi geografinya yang sangat ekstrim dipenuhi dengan gunungan padang pasir ganas yang kering-kerontang. Meski begitu, di kawasan ini pun pernah lahir peradaban kuno al-Magar dan Quryat al-Faw, meskipun belum ada bukti-bukti pendirian kerajaan di zaman Arabia Kuno.

Di kawasan Arabia tengah inilah kelak menjadi cikal-bakal munculnya kelompok Wahabi dan dinasti awal Saudi sehingga tidak heran jika mereka pada awalnya merupakan golongan yang sangat keras dan berpola nomadik. Sementara itu, kawasan Arabia lain–barat, utara, timur, dan selatan–merupakan area yang subur atau setidaknya tidak sekering dan setandus Arabia tengah sehingga banyak dihuni oleh umat manusia dari berbagai suku-bangsa dan agama. Di Arabia selatan bahkan ada kawasan pertanian dan perkebunan dimana penduduk setempat dapat menanam padi, kopi, sayur-mayur, dlsb.

Arabia Barat–Jedah dan Makkah

Di Arabia barat–termasuk Jedah dan Makah–memang tidak (atau belum) ditemukan jejak peninggalan arkeologis kerajaan kuno sebagaimana Arabia selatan, utara, dan timur. Tetapi Arabia barat juga menjadi kawasan penting dan strategis karena lokasinya berada di tepi Laut Merah sehingga banyak dihuni oleh umat manusia sejak zaman dulu kala. 

Jedah misalnya sudah sangat lama menjadi pusat perdagangan pesisir dan tempat transit para pedagang dan pelancong dari berbagai belahan dunia, termasuk Afrika, Asia Selatan, dan Asia Tenggara jauh sebelum Islam lahir di abad ketujuh Masehi. Makah pun begitu. Seperti ditulis oleh sejarawan James Wynbrandt dalam bukunya, A Brief History of Saudi Arabia, kelak Makah (berasal dari bahasa Sabaea yang berarti “tempat perlindungan” atau “cagar alam”), terutama sejak pertengahan abad pertama milenia (1 M), juga menjadi pusat niaga dan “melting pot” jalur perdagangan karavan dari selatan (Yaman, Najran) dan utara (Suriah, Yordania, Palestina) serta menjadi titik tolak perjalanan niaga ke arah timur seperti Irak dan sekitarnya.

Perang berkepanjangan antara Kerajaan Byzantium dan Kerajaan Sasani menyebabkan rusaknya jalur utama perdagangan dari Laut Mediterania ke Teluk Persia (atau Teluk Arab) di Arabia timur. Akibatnya, jalur perdagangan alternatif pun dibentuk dengan melewati jalur pantai barat Arabia yang menjadikan Jedah dan Makah menjadi daerah strategis. Oleh karena itu tidak berlebihan jika Makah/Jedah kelak disebut sebagai kota karavan yang kaya (wealthy caravan city).

Sejumlah sejarawan mencatat aktivitas perdagangan di Arabia barat ini sudah berlangsung sangat lama, terutama sejak 3,000 SM. Para pedagang Arabia juga bagian dari jaringan perdagangan internasional yang membentang hingga Afrika, Asia Selatan, dan Mediterania. Mereka turut memainkan peran penting yang menjembatani antara India dan Timur Jauh di satu sisi serta Byzantium dan Mediterania di pihak lain.

Kenapa Arabia Kuno Jadi Kawasan Peradaban Manusia?

Seperti dijelaskan sebelumnya, sejak zaman dahulu kala, Arabia merupakan kawasan yang sangat strategis sehingga tak heran jika daerah ini menjadi pusat perjumpaan beragam umat manusia dari berbagai kelompok etnis, suku, dan agama untuk melakukan transaksi niaga, bertempat tinggal, atau sekedar tempat singgah sementara.

Salah satu faktor yang mendorong manusia purba tinggal di Arabia karena wilayah ini dikelilingi oleh laut/sungai seperti Laut Merah (Sungai Nil), Teluk Persia, Laut Arab, atau Teluk Aden. Dimana ada air disitu ada harapan kehidupan, dan karena itulah ada populasi manusia. Ini sudah menjadi naluri umat manusia sejak zaman dahulu kala, bukan hanya di Temteng saja tetapi juga di Asia Tenggara dan kawasan lainnya. Itulah sebabnya kenapa Mesir, Persia, dan Mesopotamia menjadi salah satu tempat lahirnya peradaban manusia karena disana ada Laut Merah/Sungai Nil (untuk Mesir), Teluk Persi dan Teluk Oman (untuk Persia), dan Sungai Eufrat dan Tigris (untuk Mesopotamia).

Menyadari penting dan strategisnya Arabia sebagai pusat peradaban “manusia purba” sekaligus pusat peninggalan arkeologis kuno yang sangat kaya, pemerintah Saudi sekarang menginvestasikan milayaran dolar guna membangun, mempromosikan, dan “menyulap” Arab Saudi sebagai salah satu pusat arkeologi dunia dan tujuan utama “turisme arkeologis” yang selama ini nyaris tak tersentuh oleh pemerintah sebelumnya.

Keterangan: artikel ini semula diterbitkan di Kompas pada 16 Juli 2022.

Humanisme Islam Buya Syafii

0

Buya Syafii (Ahmad Syafii Maarif) adalah salah satu ulama-aktivis multidimensi yang sangat langka di Indonesia. Semasa hidupnya, buya bukan hanya seorang tokoh agama yang disegani tetapi juga seorang guru besar yang berdedikasi tinggi, cendekiawan brilian, pemikir muslim pluralis-humanis, pejuang moral yang bersih, sejarawan mumpuni, penulis produktif, pembicara ulung, praktisi dialog lintas-iman, aktivis sosial pemberani, dan lebih dari itu, seorang guru bangsa yang diteladani.

Menarik diperhatikan, meski dibesarkan dalam lingkungan Muhammadiyah dan bahkan pernah memimpin salah satu ormas Islam terbesar di Indonesia ini, buya jauh dari watak eksklusif dan sektarian. Meski seorang muslim sejati, buya juga bukan tipe seorang fanatikus buta yang gelap mata dan suka mendahulukan kepentingan umat Islam di atas kepentingan rakyat yang lebih luas dalam menyikapi problem sosial, kemasyarakatan, keagamaan, dan keumatan. Pula, meskipun dilahirkan di daerah terpencil di Sumatra yang notabene bukan pusat kekuasaan, ia bukan termasuk tokoh yang menggebu-gebu yang melulu memperjuangkan daerah kelahirannya sendiri yang tidak jarang sering mengabaikan nasib penderitaan daerah-daerah lain di Indonesia.

Semangatnya yang menggelora untuk mencerahkan dan memajukan bangsa telah mengalahkan mentalitas, perilaku, dan pemikiran sempit atas nama etnis, agama, atau daerah tertentu. Begitu pula idealisme dan kecintaannya yang begitu tulus terhadap NKRI telah turut berkontribusi dalam menciptakan pandangan-pandangan politik-keagamaanya yang bervisi humanis, berwawasan nasionalis serta kontra terhadap pemikiran dan tindakan individu atau kelompok tertentu seperti kaum ekstrimis, Islamis, separatis, dan koruptor yang mengarah atau berpotensi pada terciptanya konflik, kekerasan, disintegrasi, dan kebangkrutan bangsa. 

Tak jarang dalam menyampaikan pemikiran atau gagasan-gagasan keislaman dan kebangsaan yang progresif, berani, dan ceplas-ceplos itu, baik dalam forum-forum diskusi, ceramah, maupun di berbagai tulisan, buya sering mendapat kritik dan celaan dari orang-orang yang tidak menyukainya lantaran merasa kepentingannya terusik. Meski begitu ia tidak gentar dan terus bersuara lantang menyerukan kebenaran yang ia yakini.

Buya Syafii yang oleh mendiang Gus Dur dijuluki “Pendekar dari Chicago” ini selalu berpegang teguh pada sebuah prinsip yang kukuh bahwa berani berjuang harus berani menanggung resiko. Ia membuat sebuah perbandingan: jangankan dirinya sebagai manusia lumrah, nabi dan rasul pun mendapatkan caci-maki dalam menjalankan misi profetiknya.

Gagasan Humanisme Islam

Salah satu dari sekian banyak gagasan dan pemikiran buya yang sangat menonjol adalah tentang humanisme Islam. Bagi buya, Islam adalah “agama humanis”, yakni agama yang mengfokuskan, mendahulukan, dan mementingkan hal-ihwal yang berkaitan dengan urusan atau masalah kemanusiaan universal. Buya berprinsip bahwa Islam hadir untuk turut berkontribusi menyelesaikan problem keumatan, kemasyarakatan, dan kemanusiaan global seperti kemiskinan, kebodohan, intoleransi, kekerasan, dlsb. Gagasan dan pandangannya ini ia uraikan di berbagai buku, kolom media, forum diskusi, ceramah, dlsb.

Seperti Fazlur Rahman (w. 1988), seorang cendekiawan muslim ternama yang menjadi guru dan mentornya di Universitas Chicago, buya juga meyakini sepenuh hati tentang visi Islam humanis ini. Salah satu gagasan penting Rahman adalah tentang “antroposentrisme Islam”. Menurutnya, baik Islam maupun Al-Qur’an bersifat atau berwatak “antroposentris,” yakni sebuah agama dan kitab suci yang menjadikan manusia dan kemanusiaan sebagai pusat, bukan “teosentris” (menjadikan Tuhan sebagai pusat kajian dan gagasan).

Dalam rangka untuk mewujudkan visi dan gagasan humanisme Islam yang ia percayai, buya mengajak kaum muslim untuk mendialogkan doktrin normatif Islam dengan fakta-fakta kesejarahan serta memahami perbedaan antara “Islam ideal” dan “Islam realita”. Hal ini dimaksudkan agar semangat kaum muslim dalam menjalankan ajaran-ajaran agamanya lebih realistis dan kontekstual, tidak berujung pada sebuah utopia atau terjerumus dalam semangat fanatisme berlebihan.

Ide humanisme Islam buya juga tercermin dari pandangan dan sikapnya tentang pentingnya membangun hubungan yang terbuka dan penuh respek antar-pemeluk agama, perlawanan terhadap kelompok garis keras yang hobi melakukan tindakan intoleransi dan kekerasan, ketidaksetujuan terhadap konsep pendirian negara Islam dan formalisasi syariat Islam, kepercayaan terhadap konsep shura (musyawarah mufakat), kritik atas praktek sufisme yang berlebihan, serta keyakinan bahwa Al-Qur’an bukanlah sebuah kitab hukum yang kaku, rigid, dan anti-perubahan, melainkan sebuah pedoman moral atau sumber etik yang dinamis bagi umat Islam agar mereka berada di “jalur yang benar,” yakni menjadi kaum muslim yang bermoral, beretika, bermartabat, berintegritas, berwawasan terbuka, toleran terhadap agama dan kepecayaan lain, menghargai minoritas, serta berjuang demi keadilan, kemakmuran, dan kemanusiaan.

Penting untuk dicatat bahwa buya bukan hanya menulis, berceramah, atau berwacana tentang humanisme Islam tetapi juga mempraktikannya dalam kehidupan sehari-hari. Perilaku dan kehidupan sehari-hari buya yang sangat sederhana, bersahaja, kritis, moderat, toleran, serta tidak kemaruk jabatan dan kekayaan sebetulnya melambangkan prinsip “Islam humanis” yang ia pegangi.   

Etika Universal Al-Qur’an

Selain dipengaruhi Fazlur Rahman, pandangan humanisme Islam-nya buya juga dipengaruhi oleh hasil tafsir dan bacaannya terhadap Al-Qur’an. Buya mempercayai dengan sepenuh hati bahwa Al-Qur’an adalah “kitab humanis” yang menempatkan manusia dan kemanusiaan sebagai subyek yang sangat penting. Karena itu jangan heran jika dalam setiap ceramah dan tulisannya selalu dibumbuhi dengan ayat-ayat Al-Qur’an. Salah satu corak pemikiran yang dikembangkan buya adalah semangatnya untuk mengimplementasikan etika Al-Qur’an dalam konteks kekinian (dan keindonesiaan).

Buya memang seorang penafsir Al-Qur’an handal. Tetapi berbeda dengan para ahli tafsir Al-Qur’an tekemuka Indonesia lainnya seperti HAMKA (Tafsir al-Azhar), Hasbi Ash-Shiddique (Tafsir an-Nur), M. Quraish Shihab (Tafsir al-Misbah), atau KH Bisri Mustafa (Tafsir al-Ibriz) yang menafsirkan Al-Qur’an juz demi juz atau ayat demi ayat, buya lebih suka memilih tema-tema atau ayat-ayat tertentu dalam Al-Qur’an yang relevan dengan kondisi sosial masyarakat modern.

Seperti terlihat di sejumlah karyanya, buya dengan lihainya menggabungkan wawasan etika Al-Qur’an dan pengetahuan sejarah keislaman dengan piranti ilmu sosial modern kemudian menghubungkannya dengan problem keumatan dan kemanusiaan. Karena alasan inilah, antara lain, kenapa tafsir-tafsir tematik Al-Qur’an ala buya sangat populis dan mendapat respon luas di masyarakat tidak hanya dari kalangan muslim atau Muhammadiyah saja.

Secara khusus, buya menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan problem-problem sosial-kemanusiaan kotemporer seperti kemiskinan, keterbelakangan, kebodohan, ketidakadilan, kejumudan, korupsi, tirani, kemunafikan, pentingnya kejujuran para pemimpin, dampak global kebusukan elit politik, otoritarianisme, dlsb.

Buya berkeyakinan bahwa prinsip-prinsip etika universal menjadi tema utama yang mendasari Al-Qur’an, dan karena itu spirit Al-Qur’an bisa menjadi pedoman moral perilaku manusia di abad modern tidak hanya untuk masyarakat Arab abad ketujuh saja tatkala Al-Qur’an diturunkan. Buya juga berkeyakinan bahwa Islam (dan agama manapun) jika dipahami dan diamalkan secara benar, bisa menjadi fondasi moral bagi terciptanya sebuah masyarakat yang adil, maju, damai, harmonis, dan toleran.    

Sebagai penafsir Al-Qur’an, buya selalu menggunakan ideom-ideom dan istilah-istilah dalam Al-Qur’an untuk menjelaskan fenomena-fenomena sosial-kemanusiaan yang tidak jarang ideom dan istilah-istilah dalam Al-Qur’an itu diberi makna baru yang sesuai dengan konteks, situasi, dan kondisi kekinian dan kedisinian sehingga membuat ayat-ayat Al-Qur’an tetap hidup, up to date, dan inspiratif sepanjang masa. Berbeda dengan kalangan literalis yang menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an secara leterlek sehingga mengesankan kitab ini “out of date”, tidak lagi relevan dengan kemodernan, buya telah berjasa menjadikan Al-Qur’an sebagai kitab pedoman moral yang kaya makna dan tak lapuk dimakan zaman dimanapun dan kapanpun.

Seperti kelompok Islamis dan konservatif, buya juga berpendapat bahwa salah satu faktor yang membuat umat Islam mundur karena mereka tidak mematuhi pesan-pesan etik Al-Qur’an. Tetapi berbeda dengan mereka, buya tidak setuju dengan jalan keluar yang serba Islam/islami yang mereka tawarkan. Misalnya, buya menolak pandangan dan anggapan sejumlah ulama dan pemikir muslim bahwa Islam dan Al-Qur’an memberi “endorsement” terhadap pendirian negara Islam melalui konsep al-din wa al-daulah (yakni kesatuan transenden agama dan negara).

Menurut buya, tidak ada satu ayat pun dalam Al-Qur’an yang menyatakan bahwa Islam adalah sebuah “agama dan negara.” Ia bahkan berpendapat bahwa konsep ini tidak ada dalam literatur Islam klasik. Menurutnya (simak bukunya, Mencari Autentisitas dalam Kegalauan), konsep atau gagasan Islam sebagai sebuah ide atau entitas agama dan negara ini baru muncul di abad ke-20 sebagai respon politik sejumlah rezim dan pemikir muslim terhadap konsep negara sekuler Barat. Karena konsep ini tidak ada dalam Al-Qur’an, maka tidak ada kewajiban bagi umat Islam dimanapun, termasuk di Indonesia, untuk mendirikan Negara Islam. Bagi buya, konsep pendirian Negara Indonesia seperti termaktub dalam Pancasila dan UUD 1945 sudah sangat “Islami” jadi tidak perlu “diislamkan” lagi.

Menurut buya, daripada umat Islam sibuk mengurusi gagasan pendirian Negara Islam atau penerapan formalisasi Syari’at Islam, lebih baik mereka “berkaca diri” dan memikirkan kembali bagaimana agar spirit, moral, atau etika Islam dan Al-Qur’an dapat diimplementasikan dalam kompleksitas ranah sosial, politik, dan ekonomi di negeri ini.

Gagasan ini akan terwujud jika umat Islam serius menggali sumber-sumber ajaran Islam atau etika universal yang terkandung dalam Al-Qur’an, kemudian mengaktualisasikan ajaran-ajaran dan spirit itu sesuai dengan semangat dan kebutuhan zaman, bukan malah terperangkap kedalam perdebatan-perdebatan legal-formal keislaman yang menguras energi dan tak ada manfaatnya.

Menuju Islam yang Rahmatan Lil Alamin

Menurut buya, gagasan-gagasan etika universal dalam Al-Qur’an tentang toleransi beragama, kebebasan individu, perlindungan terhadap kaum minoritas, spirit perdamaian antarindividu dan kelompok, keadilan sosial, egalitarianisme dlsb harus diutamakan dan dijadikan sebagai basis untuk menyelesaikan masalah-masalah yang menggelayuti bangsa seperti kekerasan, kemiskinan, korupsi, intoleransi dan seterusnya.

Hanya dalam bingkai pemahaman seperti inilah, pesan Islam sebagai “rahmat bagi alam semesta” (rahmatan lil alamin) bisa tercapai. Bagi buya, kompleksitas persoalan yang dihadapi warga, bangsa, dan negara ini tidak bisa diselesaikan dengan “sim salabim”: menyulap produk-produk politik dan hukum yang ada menjadi produk-produk bermerk Islam.

Gagasan dan wacana keislaman yang dikembangkan oleh buya telah menandai terjadinya proses pergesaran ranah pembaharuan pemikiran Islam di Indonesia dari pembaharuan yang sifatnya teologis-spekulatif yang mengupas otentisitas keberislaman ke isu-isu publik kemanusiaan yang lebih konkret.

Buya Syafii tentu saja bukan satu-satunya aktor pembaharuan Islam model terakhir ini tetapi ide-ide dan diskursus keislaman yang digagasnya memberikan kontribusi positif bagi pembaharuan pemikiran Islam yang menekankan pada relasi kontekstual antara nilai-nilai luhur Islam dan etika universal Al-Qur’an dengan masalah-masalah pelik kemanusiaan, kemasyarakatan, kebangsaan, dan kenegaraan.

Selamat jalan menuju alam keabadian buya. Jasadmu boleh dikebumikan tetapi spirit, semangat, dan pemikiran-pemikiranmu harus lestari dan dibumikan.

Keterangan: artikel ini semula diterbitkan di Kompas pada tanggal 10 Juni 2022

Mitos Dikotomi Budaya Timur dan Barat

0

Sudah menjadi rahasia umum kalau banyak masyarakat Indonesia, baik komunitas akademik maupun non-akademik, baik elit maupun non-elit, yang memberi dikotomi antara budaya Barat dan budaya Timur. Kata “Barat” mengacu pada negara-negara di Amerika Utara (Amerika Serikat dan Kanada), Eropa Barat, atau Australia dan Salandia Baru. Singkatnya, budaya Barat mengacu pada “budaya bule”. Sementara kata “Timur” merujuk pada kawasan Asia, termasuk Asia Timur dan Asia Tenggara (termasuk Indonesia tentunya).

Budaya Barat, oleh mereka, biasanya dicirikan berwatak intelektualis, individualis, selfish, kapitalis, liberalis, sekularis, ateis, berorientasi profit, dlsb. Sementara budaya Timur digambarkan berwatak nyaris berlawanan dengan budaya Barat, yakni spiritualis, teis, agamais, kolektivis, dlsb. Selanjutnya, budaya Barat kerap diberi label atau stigma negatif. Misalnya, tidak mengenal sopan-santun, biadab, gemar berperang dan melakukan tindakan kekerasan, perilaku seks bebas (“kumpul kebo”), minim solidaritas sosial, tak peduli tradisi lokal, dlsb. Sedangkan budaya Timur sering dilabeli dengan hal-hal yang bersifat positif seperti ramah, sopan santun, penuh perdamaian, tidak suka kekerasan, gemar menolong sesama, peduli tradisi lokal, dlsb.

Dikotomi Hanya Mitos Belaka

Pada praktiknya, dikotomi tersebut hanyalah mitos belaka. Sebagai orang Timur yang pernah lama tinggal di Barat, saya menilai segregasi hitam putih budaya Timur-Barat itu hanya ada di alam imajinasi. Tidak ada di dunia nyata atau hanya benar sebagian. Narasi tentang budaya Barat yang serba buruk dan negatif atau budaya Timur yang serba baik dan positif sama sekali tidak valid. Faktanya, baik-buruk atau positif-negatif ada di dunia Barat maupun Timur. Sejumlah karakteristik dan stigma yang selama ini dialamatkan ke budaya Barat juga ada di budaya Timur. Begitu pula sebaliknya. Sejumlah label dan karakteristik yang selama ini disematkan ke budaya Timur juga ada di budaya Barat.

Misalnya, Barat bukan hanya rumah bagi kaum intelektualis tetapi juga kelompok spiritualis. Ada banyak individu dan kelompok spiritual di negara-negara Barat, termasuk ordo-ordo Sufi, komunitas yogi, kaum spiritualis Budhis, pengikut gerakan New Age, masyarakat teosofi, dlsb. Sebaliknya, Timur bukan hanya rumah bagi kelompok spiritualis dan mistikus tetapi juga aneka ragam kelompok intelektual-ilmuwan. Jadi, dikotomi “intelektualitas Barat” versus “spiritualitas Timur” misalnya tidak lagi relevan.

Bahkan kini negara-negara seperti China, Taiwan, Jepang, dan Korsel sedang gencar membangun berbagai pusat pendidikan, teknologi, dan universitas kelas dunia yang akan menjadi kiblat peradaban intelektual dan teknologi di masa depan. Hasilnya kini banyak universitas di Asia yang masuk jajaran kampus top dunia dan berpotensi menggeser dominasi Barat di masa mendatang.  

Sejumlah negara di Timteng, khususnya di kawasan Teluk Arab seperti UEA, Qatar, dan Arab Saudi juga sedang berlomba-lomba membangun universitas berkelas dunia yang bertumpu pada teknologi canggih (seperti Artificial Intelligence), riset ilmiah, dan spirit intelektualisme. Arab Saudi misalnya membangun sebuah kampus prestisius berkelas internasional seperti King Abdullah University of Science and Technology yang kini dipimpin oleh Presiden Tony F. Chan, seorang ilmuwan China-Amerika didikan Stanford dan mantan Presiden Hong Kong University of Science and Technology.

Asumsi bahwa Barat yang diidentikkan dengan sekularisme, liberalisme, atau ateisme dan agnotisisme juga tidak selamanya akurat karena banyak kelompok militan-konservatif berbasis agama di Barat yang sangat anti terhadap doktrin-doktrin sekularisme dan liberalisme serta mengecam berbagai praktik sosial yang mereka anggap tidak religius. Sejak beberapa dekade silam, fenomena public religion, sebuah proses deprivatisasi agama dimana agama memainkan peran sentral di ranah publik, tengah menjangkiti sebagian negara Barat, khususnya Amerika Serikat. Fenomena ini mendorong mendiang Peter L. Berger, sosiolog ternama yang juga salah satu mentor saya di Boston, untuk merevisi tesis klasiknya tentang sekularisasi agama dalam bukunya The Desecularization of the World: Resurgent Religion and World Politics.

Meskipun dunia Timur (khususnya Timur Tengah, India, dan China) tempat lahirnya berbagai agama dunia, sekularisme dan liberalisme juga hadir di kawasan ini yang diperkenalkan oleh berbagai kelompok seperti akademisi, ilmuwan, teknokrat, politisi, pemerintah, pebisnis, dlsb, terutama sejak berakhirnya Perang Dunia II. 

Budaya Individualis versus Budaya Kolektivis

Kemudian karakteristik Barat sebagai “masyarakat individualis” (individualist society) yang diasumsikan secara keliru sebagai masyarakat yang mementingkan diri sendiri dan tidak mempunyai kepekaan, kepedulian, dan solidaritas sosial juga salah besar. Faktanya, kelompok filantrofi dan lembaga karitas untuk misi kemanusiaan global menjamur di Barat. Masyarakat Barat juga sudah terbiasa menggalang dana (fundraising) dengan berbagai cara untuk berbagai program kemanusiaan, pendidikan, beasiswa, dlsb, baik untuk masyarakat yang tinggal di negara-negara Barat maupun di berbagai negara di dunia ini. Lihat saja, misalnya, Mennonite Central Committee yang mempunyai program kemanusiaan global di hampir semua negara di jagat ini.

Sementara itu, Timur yang selama ini dilabeli “masyarakat kolektivis” (collectivist sosiety) yang diandaikan gemar menolong sesama, saling membantu serta meminimalisir watak dan perilaku egoistik dan individualistik, dalam praktiknya tidak selamanya terjadi. Lihat saja misalnya budaya gotong royong atau kerja bakti yang dulu menjadi karakter masyarakat kini sudah luntur. Pula, banyak orang tidak memperdulikan yang lain saat mengantri bantuan, pembagian sembako, atau pada waktu ada acara prasmanan. Dari pengamatan sederhana ini kita bisa tahu karakter budaya kolektivis masyarakat Timur tidak selamanya akurat. Solidaritas sosial, kalaupun terjadi, biasanya hanya pada kelompok kecilnya saja tidak melintas batas agama, etnis, dan kemanusiaan.  

Kebiadaban versus Keberadaban

Karakteristik lain yang tidak akurat adalah memberi stigma Barat sebagai masyarakat yang penuh kekerasan dan Timur sebagai masyarakat yang penuh perdamaian atau Barat diidentikkan dengan kebiadaban dan Timur dengan keberadaban. Barat memang memiliki sejarah kelam yang penuh kekerasan seperti kolonialisme, imperialisme, perang, ethnic cleansing, rasisme, “barbarianisme”, dlsb, baik terhadap penduduk lokal maupun asing. Tetapi Timur juga belepotan dengan kekerasan. Kolonialisme, imperialisme, perang, ethnic cleansing, rasisme, “barbarianisme”, dlsb bukan hanya monopoli dunia Barat. Dunia Timur juga melakukan hal serupa. Kebiadaban bukan hanya terjadi di Barat tetapi juga di Timur.

Jika Barat pernah memiliki Hitler atau Mussolini, Timur pernah mempunyai Pol Pot atau Amangkurat I yang sangat bengis dan biadab membunuh ribuan ulama termasuk adik dan ayah mertuanya sendiri. Peristiwa pembantaian atas jutaan umat manusia tahun 1965/66 juga bagian dari sejarah kelam kekerasan yang dilakukan oleh masyarakat Timur. Aksi-aksi terorisme yang brutal dan barbar juga dilakukan oleh bangsa Timur.

Kini, masyarakat Timur yang dicitrakan penuh cinta, kasih sayang, perdamaian, kerahamahan, dan toleransi itu seolah-olah sirna dari bumi Pertiwi karena berbagai kejadian dan aksi kekerasan yang silih berganti seolah tak ada henti seperti pengeroyokan, pemukulan, persekusi, terorisme, pengusiran, pembunuhan, dlsb. Orang-orang Timur yang konon ramah dan damai itu tiba-tiba berubah menjadi orang-orang kalap, bengis, dan tak berperikemanusiaan sama sekali.

Sementara itu banyak orang bukannya mengecam aksi keji dan tindakan kekerasan itu tetapi malah bertepuk tangan, bersorak sorai, dan tertawa terbahak-bahak melihat berbagai peristiwa biadab yang berlangsung di depan mata mereka. Dimanakah hati nurani mereka? Dimanakah akal sehat mereka? Dimanakah agama mereka yang mengajarkan solidaritas, perdamaian, kerahmatan, dan kasih sayang itu?

Bangsa Besar

Akhirul kalam, bangsa yang besar adalah bangsa yang mau mengambil hal-hal bersih, baik, dan positif darimanapun datangnya (Barat-Timur, Utara-Selatan) serta menyingkirkan hal-hal kotor, buruk, dan negatif darimanapun berasal, baik dari negeri sendiri maupun mancanegara. Indonesia akan menjadi bangsa besar jika mampu melakukan hal ini. Sebaliknya, Indonesia akan tersungkur menjadi bangsa kerdil jika terus-menerus hidup dalam budaya hipokrisi, memupuk dikotomi Timur-Barat yang sebetulnya hanya ada di alam imajiner.    

Keterangan: artikel ini semula diterbitkan di Kompas pada 7 Mei 2022

Budaya Sepak Bola di Timur Tengah

0

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, FIFA menggelar Piala Dunia di Timur Tengah (Timteng). Negara yang dipilih menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022 adalah Qatar, sebuah negara mini dan kaya di kawasan Teluk Arab atau Teluk Persi yang jumlah penghuninya lebih banyak didominasi kaum migran (88 persen) daripada warga Arab Qatar (12 persen).

Piala Dunia tahun ini akan digelar dari 20 November hingga 18 Desember. Ada 32 tim sepak bola dari seluruh penjuru dunia yang akan ikut berkompetisi di Piala Dunia Qatar 2022. Perwakilan negara Arab yang akan bermain di Piala Dunia tahun ini adalah Arab Saudi, Tunisia, Maroko, dan tentu saja Qatar yang mendapat tiket gratis karena sebagai tuan rumah.  

Pro-Kontra Piala Dunia Qatar

Tentu menjadi tanda tanya besar, kenapa Qatar yang terpilih menjadi tuan rumah Piala Dunia. Padahal prestasi sepak bola Qatar tidak terlalu cemerlang meskipun tim nasionalnya pernah bermain di Copa America (2019) dan CONCACAF Gold Cup (2021). Tetapi secara umum prestasi dan rekam jejak Qatar dalam dunia sepak bola kalah telak dengan negara tetangganya, khususnya Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) atau negara Arab lain seperti Aljazair, Mesir, Maroko, dan Tunisia.

Belakangan tercium aroma busuk menyeruak di balik pemilihan Qatar. Terpilihnya Qatar tidak lepas dari isu suap yang menimpa para petinggi FIFA yang bertanggung jawab atas pemilihan negara-negara yang akan menjadi tuan rumah Piala Dunia. Barney Ronay, kolomnis The Guardian, membeberkan sejumlah elit FIFA–dari Sepp Blatter dan Chuck Blazer hingga Issa Hayatou dan Mohammed bin Hamman–yang terlibat konspirasi, korupsi, kolusi, dan suap jutaan dollar atas pemilihan Qatar. Banyak dari mereka yang kemudian dipenjara, dipecat dari FIFA, dan dilarang terlibat di berbagai perhelatan internasional sepak bola. Tapi kasus buruk skandal suap dan korupsi ini bukan pertama kali dan satu-satunya dalam sejarah FIFA.

Bagi Qatar, mengeluarkan uang pelicin jutaan dollar tentu bukan masalah. Yang penting terpilih sehingga bisa mempromosikan, mempopulerkan, dan mengokohkan Qatar di kancah dunia internasional. Sejak terpilih menjadi tuan rumah, Qatar kemudian membangun delapan stadium megah supermodern. Forbes memperkiraan biaya yang dikeluarkan Qatar untuk menghelat Piala Dunia ini sebesar 150 Milyar USD, sepuluh kali lebih banyak ketimbang biaya Piala Dunia di Russia tahun 2018.

Selain isu suap dan korupsi, Piala Dunia Qatar juga diwarnai sejumlah protes dan boikot dari para pengamat, praktisi, dan aktivis dunia bola karena beberapa alasan, misalnya, terkait isu-isu dinamika politik regional, proses dan mekanisme penyelenggaraan acara, kondisi geografi, atau masalah hak azasi manusia di Qatar yang dianggap kurang baik dan belum memenuhi standar internasional.

Yang menarik para tokoh militan Islamis dan teroris di Qatar tidak bersuara sedikitpun dan mengkritik perhelatan Piala Dunia. Sejak beberapa tahun silam, Qatar menjadi “bunker” para pemimpin dan aktivis militan Islamis dan teroris khususnya dari Mesir dan Afganistan yang kemudian memicu ketegangan politik regional khususnya dengan negara-negara tetangga seperti Arab Saudi, UEA, dan Bahrain, yang kemudian membentuk “koalisi kwartet” (plus Mesir) untuk memboikot Qatar.

Meskipun ada sedikit polemik dan kontroversi, tidak sedikit yang menyambut Piala Dunia Qatar dengan antusias dan sukacita, khususnya para “militan” sepak bola, baik warga non-Arab maupun masyarakat Arab Timteng. Banyak muridku yang warga Saudi bahkan minta kuliah diliburkan saat ada pertandingan yang melibatkan tim kesayangannya karena mereka akan pergi dan menonton langsung di Qatar.

Sepak Bola Sebagai “Agama Kedua”

Tak bisa dipungkiri, bagi sebagian masyarakat Timteng, sepak bola telah menjadi “agama kedua.” Tidak ada cabang olahraga di Timteng yang lebih populer dan meriah ketimbang sepak bola. Meskipun kelompok Salafi menganggap panahan sebagai “olahraga Islami” dan “sunah rosul” tetapi hanya segelintir orang yang tertarik.

Sepak bola sendiri memang laksana sebuah “agama.” Disana ada stadium yang berfungsi sebagai “masjid” tempat orang berkumpul, ada pengikut yang setia, ada tokoh-tokoh yang bermain, ada hirarki dan struktur sosial, ada praktik ritual (berdoa sebelum bermain atau agar tim favorinya menang), dlsb. Fenomena “agama sepak bola” ini bukan hanya terjadi di Timteng tetapi juga di kawasan lain.

Bagi warga Timteng dan juga Afrika Utara yang didominasi oleh Arab/Muslim, sepak bola bukanlah hal baru. Sepak bola sudah menjadi bagian dari sejarah, tradisi, dan budaya mereka sejak lama jauh sebelum menjadi negara-bangsa. Oleh karena itu wajar jika sepak bola kemudian menjadi “agama kedua” yang banyak digemari masyarakat. Arab Saudi misalnya, meskipun asosiasi sepak bola nasional dibentuk tahun 1956, tim sepak bola sudah eksis sejak 1927 sebelum deklarasi dan pendirian negara-kerajaan Arab Saudi modern tahun 1932.

Di sejumlah negara Timteng, sepak bola berkembang pesat dan menjelma menjadi sebuah industri olahraga prestisius, berkelas, dan terpopuler sehingga menjadi ajang bisnis yang menggiurkan. Bahkan sejumlah negara yang menjadi basis kelompok ultrakonservatif agama seperti Arab Saudi, Qatar, dan Mesir, sepak bola berkembang biak menjadi sebuah industri dengan total aset yang tidak sedikit. Menurut Nermeen Abbas, jurnalis Forbes Middle East, top 10 klub sepak bola Timteng memiliki nilai aset $395 juta. Dari 10 tim kaya itu, Arab Saudi mendominasi (5) kemudian disusul Qatar dan UEA (masing-masing 2) lalu Mesir (1). 

Para bintang bola Arab seperti Omar Abdulrahman (UEA), Rabah Madjer (Aljazair), Ali Al-Habsi (Oman), atau Mohammed Noor, Majed Abdullah, Yusuf al-Thunayan, Nasser al-Shamrani (Arab Saudi), Mohamed El-Shenawi (Mesir) dan masih banyak lagi menjadi superstar yang digandrungi banyak fan, baik laki maupun perempuan. Kemudian, klub-klub sepak bola populer seperti Al-Hillal, Al-Ittihad, Al-Ahli, Al-Nasser, Al-Syabab, Al-Sadd, Al-Ain, Al-Duhail, dlsb memiliki fans fanatik. Yang menarik para pemain klub-klub sepak bola di Timteng bukan hanya warga Arab lokal (atau non-Arab) tetapi banyak dari Eropa, Amerika Latin, atau Jepang seperti Gonzalo Martinez, Fabio Martins, Romarinho, Soya Nakajima, Igor Jesus, dlsb.     

Multidimensi dan Multifungsi Sepak Bola

Sepak bola bukan hanya sekedar sebuah permainan bola kaki semata. Ia merupakan sebuah fenomena budaya yang kompleks. Ia bisa dilihat dari berbagai dimensi: politik, bisnis, agama. Ada banyak aktor dan pemain yang turut bermain dan memainkan “irama gendang” sepak bola: dari elit politik dan pebisnis hingga tokoh agama dan masyarakat.

Pula, sepak bola bukan hanya ajang hiburan masyarakat. Ia memiliki berbagai fungsi sosial yang beragam. James Dorsey dalam bukunya The Turbulent World of Middle East Soccer membahas bagaimana sejarah dan perkembangan sepak bola di Timteng dan Afrika Utara memiliki dampak politik, sosial, dan agama. Satu sisi sepak bola dijadikan sebagai medium kelompok elit politik tertentu untuk melanggengkan ororitarianisme (misalnya kasus Al Saadi Qaddafi dengan Al Ahli Tripoli-nya) tetapi di pihak lain ia bisa dijadikan sebagai sarana untuk memprovokasi dan memobilisasi massa guna menggulingkan penguasa (misalnya kasus Ultras Ahlawi Mesir).    

Selain syarat dengan politik, sepak bola Timteng juga berkelindan dengan persoalan keagamaan (keislaman). Misalnya, pengikut fanatik Syiah mengharamkan sepak bola karena jenis olahraga ini mengingatkan sejarah kelam yang menimpa imam mereka, Husein, yang dibunuh dengan kejam dengan dipenggal kepalanya lalu ditendang-tendang laksana permainan sepak bola. Sementara kelompok ultrakonservatif Sunni (seperti Sahwa di Arab Saudi) memandang sepak bola sebagai sebuah aktivitas sia-sia, budaya kafir-sekuler Barat, jalan menuju kemaksiatan, atau tantangan bagi supremasi syariat Islam.

Upaya kelompok ultrakonservatif agama yang anti-bola ini sempat berhasil di Iran atau Arab Saudi. Dulu di Arab Saudi, mereka menjadi “stumbling block” yang mengganjal dan menghalangi perkembangan sepak bola, baik untuk laki-laki terlebih sepak bola perempuan. Tetapi menariknya, sekelompok Salafi konservatif, meskipun mereka kontra terhadap aktivitas olahraga bagi perempuan, juga ada yang memakai sepak bola sebagai medium untuk menarik mengikut dan menghimpun massa (remaja dan pemuda) kemudian “mencuci otak” mereka dengan ajaran konservatisme dan militanisme agama. Bukankah Osama bin Laden sendiri juga fan Arsenal FC? 

Tetapi sejak beberapa tahun terakhir peran dan eksistensi kelompok konservatif-militan agama sudah dibekukan oleh Raja Salman dan Putra Mahkota Muhammad bin Salman. Dampaknya, kini Arab Saudi sudah memiliki klub-klub sepak bola perempuan di sejumlah daerah dan bahkan sudah menggelar kompetisi tingkat nasional dan ikut berpartisipasi di ajang internasional. Di negara-negara Arab Timteng lainnya, tim sepak bola perempuan sudah lama terbentuk dan biasa menggelar turnamen antar-klub.

Walaupun kubu ultrakonservatif agama, baik dalam rumpun Sunni maupun Syiah, sering mengharamkan atau tidak mengapresiasi sepak bola karena alasan sosio-kultural dan keagamaan tertentu, dunia sepak bola tetap eksis dan menjadi bagian dari budaya masyarakat Timteng.

Keterangan: artikel ini semula diterbitkan oleh Majalah Tempo pada tanggal 22 November 2022.

Polemics on smoking among Indonesian Muslims and Islamic organizations

0

Abstract

This paper examines various views, ideas, opinions, understandings, and interpretations among Indonesian societies, including Islamic scholars and Muslim social organizations toward tobacco products and smoking practices. It also traces the history and contemporary developments of smoking practice in Indonesia. Historically, as the article shows, smoking for Indonesian societies is not simply inhaling tobacco but also a medium of social interaction and ritual practices. Moreover, this study investigates whether religious pronouncements and fatwas (Islamic edicts) on smoking, issued by some noted Islamic institutions in the country, influence smoking practices and behaviors among Indonesian Muslims. Given the vitality of religion and smoking among Indonesians, it becomes interesting to study the relationship between the two.

Read more:
Full Article

Between Polygyny and Monogamy: Marriage in Saudi Arabia and Beyond

0

Abstract

Saudi Arabia has long been portrayed as a “hub of polygyny,” a practice of marriage in which a man marries several women simultaneously. However, my recent research among Saudi male youths suggest that this practice is waning nowadays. A younger generation in the Kingdom seems to prefer monogamy—a man marrying one wife—to polygamy for several essential reasons, factors and arguments. Based on interviews and conversations with a number of young Saudis as well as outcomes of survey findings, this article tries to debunk the myth of polygyny in the Kingdom and attempts to understand the rationales and logics behind monogamy choice among male (and female) youths of contemporary Saudi Arabia. The article also briefly highlights the practice of polygyny and monogamy in multiple societies outside Saudi Arabia to compare and gain knowledge on various practices of marriage. Seen from another viewpoint, the article is a reflection of a modern-day fruitful socio-cultural development and change in Saudi Arabia that have received enthusiastic and public acclaim across the globe.

Arab Saudi digambarkan sejak lama sebagai ‘pusat poligini’, sebuah praktik pernikahan satu laki-laki dengan sejumlah perempuan secara simultan. Namun dalam penelitian saya terbaru terhadap sejumlah laki-laki muda Arab menyatakan praktik poligini mulai memudar saat ini. Generasi muda di wilayah kerajaan Arab tampaknya mulai memilih monogami, daripada poligami, dengan beberapa alasan, faktor dan argumen yang mendasar. Berdasarkan wawancara dan percakapan dengan sejumlah pemuda Arab yang temuannya menunjukkan, seperti dalam artikel ini adalah menyanggah mitos poligini di kerajaan Saudi dan usaha memahami rasionalitas dan logika monogami pemuda dan pemudi di Arab Saudi dewasa ini. Artikel ini juga sekilas membahas praktik poligini dan monogami di luar Arab Saudi sebagai perbandingan dan pengetahuan mengenai ragam bentuk praktik pernikahan di berbagai masyarakat. Dengan sudut pandang lain, artikel ini mencerminkan kehidupan modern dari aneka perkembangan sosial budaya dan perubahan di Arab Saudi yang menerima semangat dan penerimaan publik lintas dunia.

Full Text:

Download

Tradisi Lebaran Masyarakat Sunni dan Syiah di Arab Saudi

0

Seperti apakah tradisi Lebaran atau Idul Fitri di Arab Saudi? Adakah persamaan dan perbedaan antara Lebaran di Arab Saudi dan Indonesia? Pula, apakah tradisi Lebaran sama atau beda di kalangan kaum Syiah dan Sunnah (sebutan warga Saudi untuk kelompok Sunni) di Arab Saudi?

Tidak seperti yang dibayangkan oleh banyak orang yang menganggap masyarakat Muslim Arab Saudi itu “kering” dalam menjalankan tradisi Lebaran karena adanya asumsi “Salafisme–Wahabisme” yang berwatak puritan dan kurang ramah dengan aneka ragam aspek tradisi dan budaya lokal, ternyata faktanya tidak demikian.

Padahal, warga Saudi tidak melulu pengikut “Wahabi” (saya pakai tanda kutip karena warga Saudi umumnya tidak menyukai sebutan yang bernuansa peyoratif ini. Mereka lebih suka disebut Hanbali atau Salafi). Banyak dari mereka yang mengikuti tradisi Sunni non-Wahabi, non-Hanbali, atau bahkan beberapa aliran Syiah.

***

Perayaan Lebaran di Arab Saudi juga berlangsung sangat meriah dan khidmat penuh dengan taburan budaya dan tradisi lokal yang sudah mereka wariskan dan praktikkan secara turun-temurun selama berabad-abad. Tentu saja, sejak tahun 2020 karena Covid-19, suasana Lebaran jadi lain karena sebagian besar dirayakan secara daring. Jadi, tidak semeriah saat sebelum pandemi. Tetapi tahun ini perayaan lebaran kembali normal.

Menariknya, baik masyarakat Sunni maupun warga Syiah yang berjumlah sekitar 15 persen dari total penduduk Arab Saudi yang mencapai sekitar 34,2 juta jiwa memiliki tradisi perayaan Lebaran yang kurang lebih sama. Yang membedakan di antara keduanya, antara lain, adalah ritual salat Idul Fitri.

Di kalangan masyarakat Syiah Saudi – populasi mereka mayoritas tersebar di Ahsa, Qatif, Saihat dan kawasan lain di Provinsi Ash-Sharqiyah – salat Id diiringi dengan dua khutbah setelah itu dilanjutkan dengan pembacaan teks khusus yang ditujukan untuk Imam Hussein (putra Ali bin Abi Talib) dan kemudian doa untuk Imam Mahdi. Keduanya merupakan figur yang sangat penting bagi masyarakat Syiah. 

***

Berikut ini sejumlah persamaan tradisi Lebaran di kalangan masyarakat Sunni dan Syiah di Arab Saudi seperti dituturkan oleh kolega maupun murid-murid saya yang berasal dari dua komunitas tersebut. Lagi, ini adalah tradisi perayaan Lebaran di masa normal sebelum pandemi.

Diantara persamaannya, antara lain, tradisi mudik. Sejak 1970an dan terutama 1980an ketika era “pembangunanisme” (developmentalisme) dan industrialisasi booming di Arab Saudi akibat meroketnya harga minyak di pasaran dunia, banyak masyarakat yang semula tinggal di daerah pinggiran kemudian pindah ke kota-kota utama seperti Riyadh, Jeddah, Dammam, Jubail, Khobar, Dhahran, dlsb untuk mencari pekerjaan di perusahan-perusahaan atau di tempat lain. Urbanisasi menjadi tak terelakkan karena pemerintah, kalangan industri, dan pelaku usaha membutuhkan banyak tenaga kerja. Karena laki-laki usia produktif terbatas, mereka bahkan mendatangkan para pekerja dari berbagai negara.

Pelan tapi pasti, akhirnya banyak warga Saudi yang tinggal di kota-kota berpisah dengan anggota keluarga utama mereka di desa-desa atau kawasan pinggiran yang tidak terjamah oleh industrialisasi dan pembangunan sektor lainnya. Karena itulah, Idul Fitri (selain Idul Adha) menjadi momen penting untuk mudik ke kampung halaman merayakan bersama anggota keluarga lain atau teman lama. Mereka yang berada di Luar Negeri pun menyempatkan diri untuk mudik. Lebaran kemudian menjadi “ajang reuni” bagi anggota keluarga atau bahkan anggota suku dan klan yang tinggal terpisah di berbagai tempat.   

***

Persamaan berikutnya adalah “tradisi idiyah”, yaitu pemberian sejumlah uang receh ke anak-anak biasanya sekitar 5 atau 10 Riyal (SR 1 = Rp. 4.000). Anak-anak sudah tahu tradisi ini. Karena itu setiap lebaran mereka keliling dari rumah ke rumah untuk minta “idiyah” ini. “Ada bahkan anak-anak yang kadang bisa mengumpulkan uang hingga SR 1.000,” kata temanku Haytham Alhubaithi. Bukan hanya anak-anak, bagi anggota keluarga yang mampu atau yang sudah bekerja, mereka juga memberi uang ke anggota keluarga yang belum bekerja atau kepada nenek mereka. Tentu saja bukan SR 10, melainkan SR 100 atau SR 200 tergantung kemampuan dan kerelaan.

Kemudian, baik masyarakat Sunni maupun Syiah, setelah salat Subuh dan sebelum salat Id, mereka biasanya mandi terlebih dahulu. Tujuannya tentu saja supaya tubuh jadi bersih untuk menyambut “hari kemenangan”. Setelah mandi, sekeluarga kemudian berangkat ke masjid untuk menunaikan salat Id dan mendengarkan khutbah Id.

Tak lupa mereka memakai pakaian tradisional yang baru seperti jubah / gamis (thub) lengkap dengan kain penutup kepala (disebut ghutrah, shimag, kufiyah dlsb) dan tali hitam pengikatnya (iqal). Perempuan juga mengenakan aneka ragam pakaian (abaya) baru lengkap dengan parfum dan pernik-pernik lainnya. Kata temanku, uang yang dikeluarkan untuk membeli pakaian perempuan ini jauh lebih banyak (karena harganya lebih mahal) ketimbang laki. Sering mereka pesan atau “berburu” pakaian jauh hari sebelum Ramadan, baik dari Arab Saudi sendiri maupun dari Luar Negeri.

Perlu diingat, hanya laki-laki yang salat Id di masjid. Sementara perempuan tetap di rumah. Kaum perempuan tidak dilarang salat Id di masjid tetapi menurut tradisi mereka (yang dipengaruhi oleh sejumlah teks Hadis), perempuan melaksanakan salat di rumah.

Saat saya tanya alasan kenapa perempuan salat Id di rumah? Mahdi Almabruk menjelaskan, “Karena perlu ada orang yang tetap menjaga rumah sambil menyiapkan aneka makanan dan minuman untuk menjamu tamu-tamu yang datang saat Lebaran.”

Sebetulnya bukan hanya salat Id, salat-salat yang lain pun, perempuan melakukannya di rumah. Meski demikian, masjid-masjid biasanya juga menyediakan ruang khusus (di atas atau samping) atau, kalau tidak, alat pembatas khusus (biasanya terbuat dari kayu yang dipasang roda sehingga bisa digeser-geser).

Selain mempersiapkan hidangan Lebaran, baik untuk sarapan, makan siang, atau jamuan para tamu, perempuan juga (biasanya nenek atau ibu) membakar dupa, baik yang berbentuk serbuk (bukhur atau bakhur) maupun yang potongan-potongan kecil (oud). Tujuannya bukan untuk “mengundang setan” tetapi agar ruangan menjadi wangi.

***

Setelah menunaikan salat Id, para jamaah kemudian saling berjabat tangan, berpelukan, saling sapa, dan mengucapkan “minal aidin wal faizin”, “id mubarak”, “kullu am wa antum bi khair”, dlsb. Ada masjid yang juga menyediakan makanan ringan untuk jamaah. Ini biasanya diorganisir oleh pihak pengurus atau takmir masjid. Kalau di kampungku, jamaah yang membawa aneka makanan (umumnya kupat, lontong, daging ayam, tempe dlsb) ke masjid.

Lalu, setelah prosesi salat Id selesai, mereka berziarah ke makam (maqbarah) untuk membacakan sejumlah surat pendek dari Al-Qur’an (seperti Alfatihah) pada anggota keluarga yang sudah meninggal dunia. “Meskipun umumnya laki-laki yang berziarah, perempuan juga tidak dilarang melakukannya,” kata muridku, Al-Mabruk.

Dari tempat pemakaman, mereka kemudian pulang ke rumah masing-masing untuk sarapan dengan menu seperti biasanya sebelum bulan Ramadan, yaitu kebdah, ful, adas dlsb. Rumah-rumah mereka biasanya didesain secara terpisah untuk laki, perempuan, dan tamu, semuanya ada dinding pembatas.

Jika menu sarapan itu cukup sederhana, tidak halnya dengan menu makan siang yang cukup besar. Untuk makan siang, mereka biasanya memotong domba yang dagingnya nanti dimakan dengan nasi dan aneka “side dishes” dan minuman (teh, kopi, soft drinks, laban, yogurt, dlsb).

Berapa domba yang dipotong tergantung kemampuan masing-masing serta tergantung jumlah keluarga besar mereka. Kenapa domba dan bukan ayam yang dipotong? Menurut mereka, daging ayam, lantaran harganya murah, dianggap tidak “mengorangkan” atau “menghargai” tamu-tamu yang datang yang biasanya berjumlah cukup banyak, selain menjadi simbol “kepelitan” atau “kekikiran”.

Jadi daging domba adalah lambang “kemurahan” atau “kedermawanan”, selain respek terhadap para tamu. Tradisi “potong domba” ini, seperti ditulis oleh sejumlah antropolog (misalnya, Donald Cole dalam Nomads of the Nomads: The Al Murrah Bedouin of the Empty Quarter) sebetulnya juga merupakan bagian dari kultur lama masyarakat Arab Badui pastoralis-nomad yang dikenal dermawan (Jawa: “loman”) pada tamu atau orang lain sehingga ada ungkapan populer: meskipun seadainya mereka hanya mempunyai seekor domba, maka domba itu akan dipotong untuk disuguhkan pada tamu.

Makan siang denga porsi yang besar itu juga sebagai “persiapan” kalau misalnya tidak sempat makan malam karena kecapean setelah bermalam-malam melek.

***

Meskipun kini sudah berangsur normal seperti era sebelum covid, selama pandemi (2020-2021) mereka tidak bisa merayakan Lebaran seperti biasanya. Tidak lagi bisa ramai-ramai ke masjid karena banyak masjid yang membatasi jamaah. Tidak lagi bisa ramai-ramai mudik. Tidak bisa lagi saling bersalaman dan berpelukan. Yang anak-anak tidak bisa lagi berburu uang receh. Semua dibatasi oleh pemerintah. Hanya perkumpulan dengan jumlah tertentu saja yang dibolehkan. Akhirnya, sebagian besar tradisi atau kebiasaan Lebaran dirayakan secara daring.

Meski demikian, mereka tetap bisa bergembira, saling sapa, dan saling canda untuk merayakan “hari kemenangan” ini, meskipun hanya di dunia maya. Adakah yang sama atau beda dengan tradisi perayaan Lebaran di kampung halamanmu?

__________

Keterangan: tulisan ini awalnya diterbitkan oleh alif.id. Saya edit sejumlah data, kata, dan kalimat untuk keperluan akurasi. Berikut ini untuk link di alif.id: https://alif.id/read/sa/tradisi-lebaran-masyarakat-sunni-dan-syiah-di-arab-saudi-b237828p/

Lebaran Yes, Puasa No

0
Banyak orang di kampungku dulu (mungkin hingga kini) yang berprinsip “lebaran yes, puasa no”. Merayakan lebaran bagi mereka jauh lebih penting ketimbang puasa. Sependek yang saya ingat, tidak banyak orang kampung dulu yang berpuasa. Mungkin hanya dari keluarga kami (orang tuaku) plus sebagian kecil yang lain yang selalu mentradisikan berpuasa. 
Almarhum ayah, yang semasa hidupnya mengabdi sebagai seorang modin, imam masjid/musholla, dan tokoh agama di kampung, adalah sosok penggemar puasa dan hobi tirakat. Bukan hanya di bulan Ramadan saja tapi juga di bulan-bulan lain. Puasa Senin-Kamis, puasa Sura (poso Suro), dan aneka jenis puasa lain sudah biasa ia lakukan. Maklum, ia pengikut “Islam Jawa” totok, dan puasa merupakan ritual yang sangat penting bagi orang Jawa yang mengikuti ajaran Kejawen. Bukan hanya Islam saja. 
Tapi bagi sebagian besar warga kampung, puasa bukan hal penting. Apakah mereka menganut Islam? Ya. Tapi ya itu “Islam KTP” (Islam nominal). Mereka menjadi “Muslim” bukan karena membaca kalimat syahadat tetapi karena di kolong agama di KTP mereka tertulis “Islam”. Saya jamin, mayoritas warga Musim di kampung itu tidak tau kalimat syahadat dan tidak bisa melafalkannya. 
Mereka mengaku Islam dan menuliskan kata “Islam” di kolong KTP mereka karena lebih banyak alasan atau pertimbangan pragmatis saja bukan karena “mendapat hidayah” atau persoalan akidah / keyakinan bahwa Islam sebagai agama yang paling benar. Sama sekali bukan. Misalnya, supaya tidak diledek oleh perangkat desa; kalau mati kelak jasadnya ada yang mengurus dan menguburkan; agar bisa bersosialisasi dengan beragam tradisi dan budaya setempat seperti mantenan, tahlilan, ruwahan, sedekahan, dlsb; supaya bisa membaur dengan warga lain; dlsb. 
Singkatnya, kalau warga kampung memilih Kristen, Hindu, atau Budha dan lainnya nanti mereka akan kerepotan bersosialisasi di masyarakat dan berpartispasi dalam berbagai acara atau aktivitas sosial-keagamaan karena tidak ada tokoh pendeta, pandita, pastor, atau bikhu di kampung. 
Tetapi meskipun mereka memeluk Islam bukan berarti mereka paham dengan seluk-beluk keislaman. Sebagian besar warga kampung (mungkin 99,9%) babar blas tidak paham dengan seluk-beluk keislaman. Mereka tidak bisa membaca Al-Qur’an (apalagi membaca dengan tartil dan tajuwid yang benar), tidak menguasai tata-cara salat dan ibadah lain, tidak tau tentang apa itu “pekih” (fiqih) dan Syariat Islam, dan seterusnya. Ada yang tahu tapi dikit-dikit saja. Dikit sekali. 
Oleh karena itu tidak heran kalau mereka tidak memandang puasa sebagai hal penting dan wajib dilakukan sebagai seorang Muslim/mah. Begitu pula dengan salat, zakat dan rukun Islam lain. Yang menarik adalah warga kampung biasa saja hidup santai. Mereka yang menjalankan puasa tidak membully yang tidak berpuasa. Bahkan saat ngobrol bareng dengan orang yang berpuasa, yang tidak puasa santai saja makan, minum, dan ngebul merokok sambil bercengkerama dan guyon cekikikan.
***
Jika mereka tidak memandang penting puasa tapi mereka menggap penting lebaran. Merayakan lebaran adalah sebuah kewajban bagi mereka. Karena itu mereka berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan dan mengumpulkan uang agar bisa merayakan dan memeriahkan hari lebaran itu. Misalnya, untuk membeli baju baru (termasuk untuk anak-istri), belanja aneka kebutuhan lebaran di pasar (makanan, minuman, atau bahan-bahan masak lain untuk dihidangkan saat lebaran), memotong ayam, dlsb. Pada saat hari lebaran itu bisa dipastikan bau orang masak ayam membahana dimana-mana. 
Mereka juga sempatkan untuk melakukan ritual seperti mandi dini hari (dulu ritual mandi dilakukan di sawah tapi sekarang cukup di kampung atau di rumah sendiri) menjelang salat Id dan tentu saja sembahyang Idul Fitri. Masjid yang biasanya kosong melompong berubah menjadi penuh-sesak oleh warga yang salat Id. Bisa dipastikan mereka salat Id tapi tidak salat Subuh. Saya tau itu karena saya dulu mantan imam salat. 
Padahal, salat Id itu hukumnya sunah. Yang wajib adalah salat Subuh. Tapi bagi warga kampung, sunah-wajib itu tidak penting. Bagi mereka, salat Id adalah bagian dari rangkaian tradisi lebaran (bukan ibadah/syariat Islam) di kampung yang wajib untuk dilakukan. Pada saat salat Id itu nanti mereka saling bersalam-salaman dan bermaaf-maafan yang juga bagian dari tradisi lebaran di kampung. Terakhir, sebagai rangkaian tradisi lebaran, mereka saling mengunjungi saudara dan orang-orang yang dituakan di kampung untuk berhalal bihalal. Kalau lebaran sudah kelewat, mereka “kumat” lagi. LOL.

Terrorism and Counter-terrorism in Saudi Arabia and Indonesia

0

This book is a comparative study of terrorism and counterterrorism in Saudi Arabia and Indonesia. It explores the history and contemporary developments of terrorism, especially Islamist terrorism, in these two Sunni Muslim-majority countries. In doing so, it analyzes the strengths and weaknesses of governments’ policies, strategies, and models of counterterrorism, including terrorist rehabilitation and reintegration programs. In addition, the book also documents the opinions of Saudis and Indonesians to find societal voices on effective ways of combating violent extremism and discusses Saudi-Indonesian cooperation on counterterrorism, defense, and security issues.

The book suggests that although particular Islamic texts, teachings, and discourses might influence radical behaviors and practices of some Muslim individuals and groupings, terrorism is beyond ideological, religious, and doctrinal issues. Therefore, multiple methods and strategies are needed to combat radicalism and create sustainable peace in society. The work will be is beneficial for both academic and non-academic communities, particularly students of conflict, violence, peacebuilding, and religious studies.

Language, Islam, and Muslim Societies: Perspectives from the Asia-Pacific

0

Human language has long been the subject of study, especially among linguists and linguistic anthropologists or specialists of anthropological linguistics, a branch of cultural anthropology that studies the plurality and complexity of language from a variety of approaches and perspectives, including history, structure, function, and its connection to cultural practices and behaviors. Linguistic anthropologists, for instance, study such themes as the use of language in various social settings, the relationship between language and social relations, or the interplay between language and other cultural aspects.

Full Article

DOI: https://doi.org/10.1075/japc.00080.qur

Arab, Israel dan Yahudi

0

Menarik memperhatikan dinamika hubungan negara dan bangsa Arab dengan Israel maupun Yahudi di Timur Tengah (Timteng). Yang saya maksud dengan “Israel” disini mengacu pada negara modern Israel yang mendeklarasikan kemerdekaan sejak 1948. Sedangkan kata “Yahudi” mengacu pada etnis atau suku-bangsa Yahudi (baik yang menganut Yudaisme maupun bukan) yang tersebar di seantero Timteng yang sudah eksis ribuan tahun jauh sebelum pendirian negara modern Israel.

Tidak seperti yang dibayangkan oleh sebagian warga Indonesia yang memandang buruknya relasi Arab-Israel/Yahudi, hubungan mereka di Timteng sesungguhnya sangat dinamis, tidak melulu diwarnai dengan kekerasan dan permusuhan tetapi juga perdamaian dan pertemanan.

Tentu saja konflik Yahudi-Arab di Palestina sejak 1920an yang didukung dan dikompori oleh Inggris dan Zionis kemudian beberapa kali perang antara Israel dengan sejumlah negara Arab sejak 1948 sebagai buntut dari partisi atau pembagian Palestina oleh PBB (baca, Resolusi PBB 181) menjadi “negara Yahudi” (Israel) dan “negara Arab” (Palestina) turut mempengaruhi dan memperkeruh hubungan sebagian bangsa Arab dengan Israel maupun Yahudi.

Meskipun demikian, realitasnya, baik di tingkat negara maupun  masyarakat, relasi mereka tidak selamanya negatif dan destruktif. Bahkan di Israel dan Palestina sendiri, hubungan Arab-Yahudi tidak selalu buruk. Relasi positif dan konstruktif antara Arab dan Muslim dengan Israel dan Yahudi juga terjadi. Pada umumnya, masyarakat Arab membedakan mana “rezim militan Israel” dan mana “umat Yahudi”. Yahudi juga membedakan mana “rezim Palestina militan” (Hamas) dan mana masyarakat Arab Timteng yang tidak ada sangkut pautnya dengan faksi politik miltan Palestina.

Fenomena ini tentu saja sangat kontras dengan persepsi masyarakat Indonesia yang sebagian besar menganggap negara Israel = Yahudi dan Yahudi = Israel. Mereka juga mengasumsikan kalau Palestina = Muslim/Arab. Padahal Israel dan Yahudi atau Palestina dan Muslim/Arab adalah kategori atau entitas yang berbeda.

Sebagai sebuah teritori politik, Israel dihuni oleh warga dari berbagai etnis, suku-bangsa, dan agama termasuk Arab, Druze, Berber, Muslim, Kristen, dlsb. Jadi bukan melulu Yahudi. Tercatat sekitar 20 persen penduduk Israel adalah Arab. Palestina pun begitu. Ada beragam etnis, suku-bangsa, dan agama di kawasan ini, bukan hanya Arab dan Muslim. Yahudi pun banyak disini.  

Masing-masing kelompok etnik-agama ini, baik di Israel maupun Palestina, memiliki pandangan, sikap, dan praktik beragam dalam hal kepolitikan maupun keagamaan. Misalnya, tidak semua kelompok Yahudi itu mendukung aneksasi Israel atas Palestina. Begitu pula tidak semua masyarakat Arab itu pro-Hamas. Jadi sangat variatif dan dinamis.       

Hubungan Arab-Israel

Jamak dimaklumi kalau sejumlah negara Muslim/Arab di Timteng seperti Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, Maroko, dan Sudan belakangan ini menjalin hubungan diplomatik dengan Israel. Menlu Israel Yair Lapid sendiri, seperti dilansir The Times of Israel, secara terang-terangan ingin memperluas hubungan diplomatik dengan negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim dimanapun termasuk Indonesia. Sebelumnya, Mesir, Yordania, dan Turki sudah lama menjalin hubungan diplomatik maupun dagang dengan Israel. Turki bahkan sudah sejak tahun 1949.

Meskipun hingga kini Oman, Qatar, Kuwait, dan Arab Saudi belum menyusul negara-negara tetangga mereka di kawasan Teluk Arab (atau Teluk Persia), hubungan informal dan “bawah tanah” para pejabat tinggi negara dengan Israel sudah berlangsung lama.

Omar Rahman, spesialis kajian Timteng dari Brookings Doha Center, mencatat komunikasi politik, kerjasama bisnis/dagang, atau pertukaran intelijen antara negara-negara Arab, terutama yang tergabung di GCC (Gulf Cooperation Council, yaitu Arab Saudi, UEA, Kuwait, Qatar, Bahrain, dan Oman) di kawasan Teluk Arab yang dikenal makmur, maju, dan kaya minyak, dengan Israel sudah berlangsung lama, khususnya sejak penandatanganan Perjanjian Oslo (Oslo Accords) antara otoritas Palestina (Organisasi Pembebasan Palestina) dan Israel tahun 1993.  

Tercatat, misalnya, sejak 1990an, Israel membuka kantor-kantor niaga di Qatar, Oman, dan lainnya. Arab Saudi belakangan juga intens membangun komunikasi politik-ekonomi tingkat tinggi dengan Israel serta menjajagi kerjasama di bidang bisnis, keamanan, pertahanan, pertanian, dan teknologi modern (seperti Artificial Intelligence). Negara-kerajaan ini juga gencar membangun kawasan AlUla yang sangat kaya dengan peninggalan arkeologi-kesejarahan purba, termasuk jejak Yahudi yang pernah mendiami Jazirah Arabia di masa lampau, antara lain bertujuan untuk  menarik turisme Yahudi-Israel.

Pembukaan hubungan diplomatik antara Israel dan sejumlah negara Arab tersebut membawa sejumlah konsekuensi logis. Misalnya, Israel bisa membuka kantor kedutaan (atau konsulat) di negara-negara tersebut (begitu pula sebaliknya). Pemegang paspor Israel juga boleh leluasa keluar-masuk wilayah negara-negara Arab tersebut (begitu juga sebaliknya). Jadi mereka tidak perlu kucing-kucingan lagi seperti dulu. Apalagi kini penerbangan langsung dari dan ke Israel sudah dibuka.

Sebelumnya, pemegang paspor Israel (baik yang Yahudi maupun bukan) dilarang masuk ke negara-negara Arab Timteng. Berbagai negara Arab juga melarang warganya (baik yang Muslim maupun bukan) masuk teritori Israel. Karena itu biasanya kalau ada warga Arab non-Israel yang ingin masuk teritori Israel, misalnya untuk keperluan turisme atau mengunjungi teman dan kerabat, mereka minta petugas imigrasi untuk tidak mengstempel paspor mereka. Petugas sudah maklum mengenai “kongkalikong” kecil-kecilan ini.

Selain itu, hubungan ekonomi dan bisnis Arab-Israel juga semakin “lancar jaya” dan terang-terangan tidak lagi sembunyi-sembunyi seperti dulu lagi. Berbagai kerja sama investasi dan bisnis di berbagai bidang pun diteken. Di antara negara-negara Arab yang menjalin hubungan diplomatik dengan Israel, UEA sepertinya yang paling gencar bekerja sama di berbagai sektor bukan hanya urusan dagang saja tetapi juga kerjasama di bidang kemiliteran dan teknologi canggih.  

Sejumlah pengamat menilai “normalisasi” hubungan Arab-Isarel ini karena didorong oleh sejumlah hal mendasar seperti untuk menghadapi ancaman dari (1) negara ekspansionis Iran yang sering memakai “kaki tangannya” (seperti Hezbullah, Houti, dlsb) untuk mengganggu urusan “dalam negeri” negara-negara Arab serta (2) gerakan politik kelompok militan Islamis transnasional.

Baik Iran maupun kelompok Islamis militan sama-sama dianggap membahayakan bagi stabilitas keamanan internal serta eksistensi kepolitikan dan pemerintahan negara-negara Arab. Alasan lain adalah faktor perekonomian yang lumayan lesu akibat krisis minyak beberapa tahun terakhir ini ditambah serbuan pandemik covid yang meluluhlantakkan sendi-sendi perekonomian global.        

Hubungan Arab-Yahudi

Sekarang bagaimana dinamika hubungan bangsa Arab, terutama Arab Muslim, dan Yahudi? Seperti relasi Arab-Israel yang dinamis, hubungan Arab-Yahudi juga sama. Sangat dinamis. Tidak monolitik. Tentu saja bagi sejumlah kelompok Islam garis geras seperti Hizbullah, Ikhwanul Muslimin, Houti, ISIS, Jabhah al-Nusra, al-Qaeda al-Arabia, dlsb, Yahudi dianggap umat terkutuk sehingga harus diperangi dan dilenyapkan dari muka bumi.

Tetapi tidak semua bangsa Arab dan umat Islam Timteng memiliki sentimen, spirit, dan antusiasme seperti faksi militan-konservatif tadi. Banyak yang mengabaikan dan mengkritik pandangan dan propaganda mereka. Di tingkat akar rumput, jalinan masyarakat Arab/Muslim dan Yahudi berjalan normal. Bahkan mereka turut melindungi sinagog (tempat ibadah umat Yahudi).

Ada beberapa sinagog diluar Israel yang masih eksis hingga kini di Timteng. Misalnya Eliyahu Hanavi Sephardik di Mesir, Slat Alfassiyine di Maroko, Magen Abraham di Libanon, El Ghriba di Tunisia, Pol-e-Khoubi di Iran, Neve Shalom di Turki, dlsb. Indonesia juga mempunyai sinagog di Surabaya dan Manado. Saya sendiri sempat mengunjungi sinagog di Manado. Sayang sinagog yang di Surabaya sudah dihancurkan dan konon dibangun sebuah hotel di area tersebut.

Perlu diketahui, di Timteng, Yahudi bukan hanya tinggal di Israel. Meskipun di Timteng (termasuk Afrika Utara), sebagian besar populasi Yahudi berada di Israel (sekitar 6,9 juta), mereka tersebar di negara-negara lain termasuk Iran, Maroko, Tunisia, Mesir, Bahrain, Uni Emirat Arab, Yaman, Libanon, Yordania, Palestina, dlsb. Di Palestina, ada sekitar setengah juta umat Yahudi, menurut data dari Jewish Virtual Library dan World Population Review. Negara dengan populasi Yahudi terbanyak adalah Amerika Serikat (sekitar 7,3 juta atau 48% dari total populasi Yahudi yang kini mencapai 15,2 juta). Yang menarik, menurut data ini, ada sekitar 300an umat Yahudi di Indonesia.

Sebagaimana Arab dan umat Islam, umat Yahudi Timteng juga beraneka ragam dalam hal mazhab pemikiran, pandangan keyahudian, dan praktek keagamaan. Dari yang ultrakonservatif sampai yang ultraliberal semua ada. Meskipun mereka tersebar di seantero Timteng, mereka tidak berani mengekspresikan secara terang-terangan aktivitas sosial-keagamaan di ruang publik dengan menggunakan simbol dan identitas keyahudian (selain di Israel tentunya). 

Tetapi belakangan ini, sebagai dampak normalisasi hubungan diplomatik Arab-Israel, umat Yahudi di negara-negara Teluk Arab membentuk sebuah ormas bernama Associaton of Gulf Jewish Communities yang diketuai oleh Rabbi Elie Abadie. Tentu saja ini sebuah sinyal positif dan menggembirakan.

Peluang Hubungan Indonesia-Israel

Seperti sejumlah negara Arab Timteng, tidak ada salahnya jika Indonesia juga melakukan hubungan diplomatik dan dagang dengan Israel. Jika ada kendala konstitusi yang menghambat hubungan diplomatik Indonesia-Israel, ya tinggal diamandemen saja. Zaman sudah berubah pesat jadi perlu terobosan pesat juga, apalagi Menlu Isarel sudah memberi sinyal positif. 

Dibandingkan dengan Palestina, membangun relasi bisnis apalagi diplomatik dengan Israel itu akan sangat strategis dan menguntungkan Indonesia. Kalau dengan Palestina saja Indonesia sudah menjalin hubungan dagang dan diplomatik, harusnya lebih intensif dengan Israel supaya lebih imbang. Jadi, bersahabat dengan Palestina harus tetapi berteman dengan Israel juga penting.


Karena jika dilihat dan diukur dari aspek manapun–ekonomi, bisnis, teknologi, pendidikan, SDM, dlsb–Israel jauh lebih unggul dan lebih maju daripada Palestina. Penduduk Israel juga sekitar dua kali lipat dari penduduk Palestina yang cuma 5 juta jiwa. Produk Domestik Bruto (PDB) Palestina cuma sekitar US$ 16,2 Milyar (bandingkan dengan Israel yang mencapai US$ 394,7 Milyar). Perguruan tinggi di Israel juga banyak yang berkualitas dan berkelas dunia seperti Tel Aviv University, Hebrew University, dlsb. Palestina mana?

Apalagi secara geografi, Indonesia jauh sekali dari Israel sehingga konflik Israel-Palestina tidak akan merugikan dan membawa dampak apapun bagi Indonesia. Kalau sejumlah negara Arab Timteng yang secara teritori lebih dekat dengan Israel saja berani menjalin hubungan diplomatik dan niaga dengan Israel, kenapa Indonesia tidak?

Keterangan: tulisan ini semua diterbitkan di Kompas, 5 Maret, 2022

Selamat Jalan Mas Amir

0

Sedih dan kaget sekali mendengar kabar mendadak pagi ini tentang kematian sahabat karibku, Dr. Amirudin, yang biasa saya sapa Mas Amir. Menurut informasi, ia wafat karena covid. Padahal, beberapa hari lalu kami sempat ngobrol ceria dan berkirim pesan di WA tentang banyak hal termasuk mengagendakan acara diskusi dan bedah buku.

Mas Amir adalah Ketua Departmenen Antropologi Unversitas Diponegoro (Undip), Ketua Asosiasi Antropologi Pengda Jawa Tengah, dan sejumlah posisi lain, baik di lingkungan Undip, Jawa Tengah, maupun tingkat nasional. Mas Amir juga seorang pekerja keras, peneliti dan penulis yang rajin, selain pembicara seminar yang mumpuni.

Karena kepakarannya, ia sering saya libatkan menjadi salah satu tim panelis (dewan juri) untuk menyeleksi naskah-naskah tesis atau disertasi yang dikirim untuk dikompetisikan di ajang Nusantara Academic Award maupun Nusantara Writing Grant yang diselenggarakan oleh lembaga saya, Nusantara Institute.

Pertemuan saya dengan Mas Amir bermula di Lakpesdam NU Jawa Tengah lebih dari 20 tahun yang lalu saat kami sama-sama sebagai pengurus dan peneliti di lembaga itu. Lakpesdam adalah lembaga atau badan otonom NU yang bergerak di bidang riset, kajian, dan pengembangan SDM.

Waktu itu Lakpesdam Jateng diketuai oleh Prof. Mudjahirin Thohir, seorang antropolog senior Undip. Ada lima “tim inti” peneliti Lakpesdam kala itu, yaitu Pak Mudjahirin, Mas Agus (alm. Prof. Agus Maladi, juga dari Undip), Mas Mukhsin (Prof. Mukhsin Djamil, kini warek di UIN Semarang), Mas Amir, dan saya. Kami dulu runtang-runtung bareng riset dan diskusi.

Semasa hidupnya, Mas Amir gigih sekali “merayu” saya agar mau pindah/boyongan ke Undip supaya bisa sama-sama membesarkan Departemen Antropologi. Ia mengaku sudah menghubungi dan melobi sejumlah petinggi Undip yang semuanya, menurutnya, sudah oke. Saya sendiri belum memberikan jawaban apa-apa dan belum kepikiran untuk secara serius pindah mengajar di Indonesia. Ia juga minta saya membantu mencarikan kader-kader antropolog muda yang berkualitas untuk menjadi dosen di Undip.

Kamatian memang sangat misterius. Ia bisa menghampiri siapa saja dan kapan saja. Maka kita harus selalu siap menerima jika ia sewaktu-waktu menghampiri kita, keluarga kita, dan sahabat kita tercinta. Selamat jalan Mas Amir. Saya bersaksi kamu orang yang sangat baik. Damailah di alam baka.

Islam, Muslim and Anthropology

0

Is there a link between Islam and anthropology? Is there a need for anthropological study of Islam and its adherents (Muslim societies)? This article discusses the connection between Islam and anthropology as well as the vitality of anthropology as a significant component of the study of Islam and Muslim societies across the world. Moreover, it tries to examine Muslim society–related issues and themes anthropology should focus on in order to grasp the plurality and complexity of Islam and Muslim societies.

Key words: Islam, Muslim society, Islamic studies, anthropology of religion, anthropology of Islam, anthropology of Muslim society

Page 138-155 | Full Article

Malaysia dan Indonesia di Mata Masyarakat Arab Timur Tengah

1

Setelah sekian lama menekuni karir akademik di sebuah “negara Arab” di Timur Tengah dan riset mengenai seluk-beluk masyarakat dan kebudayaan di kawasan ini, saya mengamati dan merasakan ada perbedaan yang sangat mencolok tentang persepsi masyarakat Arab, khususnya di kawasan Arab Teluk yang merupakan kawasan kaya dan makmur di Timur Tengah, terhadap Malaysia dan Indonesia.

Secara umum saya perhatikan pandangan mereka terhadap Malaysia jauh lebih baik daripada Indonesia. Atau, di mata masyarakat Arab Timur Tengah, citra Malaysia jauh lebih baik ketimbang Indonesia, meskipun banyak kaum Muslim di Indonesia yang mengelu-elukan Arab Timur Tengah.

Jadi, status Indonesia yang menyandang predikat sebagai negara mayoritas berpenduduk Muslim terbesar di dunia serta penyumbang terbanyak jamaah haji tidak mampu “mendongkrak” citra negara-kepulauan ini. Dengan kata lain, “identitas keislaman” tidak cukup untuk mengubah citra Indonesia di mata masyarakat Arab Timur Tengah atau mengubah persepsi masyarakat Timur Tengah atas Indonesia.

Sejumlah Indikator

Ada beberapa indikator untuk melihat dan menilai kenapa Malaysia dianggap lebih baik di mata masyarakat Arab Timur Tengah.

Pertama, banyak masyarakat Arab yang belajar di berbagai perguruan tinggi di Malaysia, baik untuk program S1, S2, maupun S3. Misalnya, hasil survei yang dilakukan oleh R. Hirschamann (2020) menunjukkan ada puluhan ribu mahasiswa dari Timur Tengah yang belajar di perguruan tinggi Malaysia. Mahasiswa/i Indonesia juga banyak yang belajar di Malaysia.

Sebagian besar mahasiswa berasal dari Arab Saudi, Mesir, atau Irak. Sementara nyaris susah mencari (meskipun barang kali ada) dari mereka yang belajar di kampus-kampus Indonesia. Masyarakat Arab ke Indonesia pada umumnya bukan untuk belajar tetapi untuk liburan atau rekreasi, selain berbisnis kecil-kecilan. Lokasi yang populer bagi mereka adalah B2: Bali dan Bogor yang mereka kenal dengan nama “Puncak”.

Saya sendiri beberapa kali menulis surat rekomendasi untuk kolega atau mantan murid yang ingin melanjutkan program doktoral di Malaysia untuk bidang studi-bidang studi ilmu sosial dan lainnya. Di Asia Tenggara, oleh masyarakat Arab Timur Tengah, reputasi pendidikan tinggi Malaysia hanya kalah oleh Singapura yang memang sudah lama membangun basis akademik yang baik dan berkualitas.  

Indikator lain, kedua, Malaysia (selain Singapura) juga menjadi salah satu negara destinasi utama beasiswa King Abdullah Scholarship Program (KASP) untuk kawasan Asia Tenggara. Lagi-lagi, Indonesia tidak masuk sebagai “negara tujuan beasiswa”. KASP adalah program beasiswa besar-besaran dari pemerintah Arab Saudi sejak 2010 untuk putra-putri Saudi yang ingin studi di Luar Negeri di bidang non-Islamic studies, khususnya teknik, bisnis dan lainnya.

Program KASP telah memberangkatkan ratusan ribu mahasiswa/i ke berbagai negara yang dianggap maju di bidang pendidikan. Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Sidiqa AllahMurod dan Sahel Zreik (2020) menunjukkan, mayoritas mereka dikirim ke kampus-kampus di Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Jerman, Perancis, Australia, dlsb. Untuk Asia, China (termasuk Hong Kong dan Taiwan), Jepang, dan Korea Selatan menjadi negara-negara tujuan utama, selain Singapura dan Malaysia.

Negara-negara lain di Timur Tengah (seperti Uni Emirat Arab, Mesir, Maroko, Yordania, Lybia, dlsb) yang memiliki program beasiswa seperti KASP juga menjadikan atau memasukkan Malaysia (bukan Indonesia) menjadi salah satu negara “destinasi pendidikan/beasiswa”.

Diakuinya kualitas pendidikan tinggi di Malaysia, antara lain, bisa dilihat dari animo masyarakat Arab yang cukup tinggi untuk melanjutkan studi di “negeri jiran” tersebut, selain penyerapan pangsa pasar (pekerjaan) bagi masyarakat Arab alumni perguruan tinggi Malaysia.

Ketiga, berbagai universitas di Timur Tengah bisa menerima tenaga pengajar bagi pelamar (warga Arab atau bukan) alumni program doktoral perguruan tinggi di Malaysia. Sementara, sependek yang saya ketahui, tidak ada alumni program doktoral perguruan tinggi Indonesia yang diterima di kampus-kampus Timur Tengah. Kalaupun ada dosen warga Indonesia yang mengajar di perguruan tinggi Timur Tengah (seperti saya) mereka adalah alumni program doktoral di Amerika Utara (Amerika Serikat dan Kanada), negara-negara Eropa Barat (Inggris, Jerman, Perancis, dlsb), Skandinavia (Denmark, Norwegia, Finlandia, dlsb), atau Australia.

Para pelamar yang gelar doktornya diperoleh dari kampus-kampus di China, Jepang, Korsel, dan Singapura juga dipertimbangkan dan diperhitungkan. Hampir setiap tahun saya terlibat di tim perekrutan penerimaan tenaga pengajar baru yang melamar di kampus tempat saya bekerja saat ini. Jadi cukup memahami dinamika internal yang terjadi di dalamnya.

Keempat, sikap masyarakat Arab secara umum (public attitudes) terhadap warga Malaysia dan Indonesia juga berbeda. Misalnya, jika mereka melihat ada “muka Melayu” yang menjadi tenaga pengajar di perguruan tinggi, mereka biasanya pada mulanya akan menganggapnya atau mengiranya sebagai “orang Malaysia.” Mungkin mereka menduga atau menganggap kalau “kelas” orang Indonesia itu bukan sebagai dosen melainkan sebagai pekerja sektor ekonomi informal alias “pekerja kasar” seperti sopir, kuli bangunan, dan semacamnya bagi yang laki-laki atau “pembantu rumah tangga” (babu) bagi perempuan.

Lantas, apa yang menyebabkan persepsi masyarakat Arab Timur Tengah terhadap Malaysia dan Indonesia itu berlainan?

Faktor Mendasar

Saya melihat ada beberapa faktor yang mendasari perbedaan ini. Pertama, Malaysia dipandang sukses membangun sektor pendidikan tinggi yang berkualitas tapi dengan biaya yang relatif terjangkau. Bagi masyarakat Arab Timur Tengah, khususnya bagi mereka yang tidak diterima atau enggan belajar di kampus-kampus Barat karena alasan keagamaan atau kebudayaan tertentu selain mahal (high cost) tentunya atau bagi mereka yang tidak mau studi di kampus-kampus di negara-negara berkembang (dan miskin) karena alasan ijazahnya tidak laku di pasar, pendidikan tinggi di Malaysia bisa menjadi alternatif yang menjanjikan.

Harus diakui, di banding Indonesia, sejumlah perguruan tinggi di Malaysia (sebut saja Universiti Malaya, Universiti Kebangsaan Malaysia, Universiti Putra Malaysia, dlsb) dipandang sukses membangun reputasi akademik yang bermutu di tingkat global-internasional. Indikasinya bisa dilihat dari QS World University Rankings misalnya atau lainnya. Sementara sejumlah perguruan tinggi ternama Indonesia masih “terseok-seok” menunjukkan “taringnya” di tingkat internasional. Di banding Indonesia, Malaysia juga sudah lama menerapkan model belajar-mengajar dengan menggunakan bahasa Inggris yang turut mempengaruhi dan mendongkrak citra dan reputasi pendidikan tinggi di tingkat global.    

Kedua, Malaysia dipandang sebagai “negara Muslim” yang maju di bidang perekonomian, sementara Indonesia masih dianggap “negara belum maju” meskipun berbagai perubahan dan terobosan pembangunan sudah dilakukan. Tentu saja masyarakat Arab Timur Tengah sulit untuk mengirim mahasiswa/i ke negara-negara yang mereka anggap belum maju tingkat perekonominanya.  

Ketiga, Malaysia bukan negara “pengekspor tenaga kerja kasar” ke negara-negara Timur Tengah dan kawasan lainnya karena itu sangat wajar jika citra, reputasi, dan kredibilitas mereka “lebih berwibawa” ketimbang Indonesia. Sedangkan predikat Indonesia masih kuat sebagai negara pemasok tenaga kerja kasar ke negara-negara Arab Timur Tengah, khususnya Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, atau Kuwait, selain ke Hong Kong, Taiwan, Singapura, dan Malaysia sendiri.

Karena sudah berlangsung puluhan tahun (sejak awal 1980an) maka sulit sekali untuk menghapus citra Indonesia di mata masyarakat Arab Timur Tengah sebagai “negara pengekspor kuli dan babu”. Karena faktor ini pula, sulit untuk mengangkat reputasi masyarakat Indonesia di mata publik masyarakat Arab Timur Tengah.

Upaya Serius

Untuk itu saya melihat ke depan perlu dilakukan berbagai upaya serius dan kerja keras pemerintah Indonesia agar “martabat” mereka lebih berwibawa dan dihargai di kalangan masyarakat Timur Tengah maupun global-internasional. Peningkatan sektor ekonomi dan teknologi menjadi sangat penting untuk dilakukan. Negara-negara yang tingkat perekonomian dan teknologinya maju cenderung lebih berwibawa dan dihargai.

Penggarapan sektor pendidikan tinggi yang “berkualitas internasional” juga tidak kalah pentingnya untuk dikerjakan secara serius. Saya melihat pemerintah sudah bekerja keras untuk membangun sektor ekonomi, teknologi, dan pendidikan ini, meskipun hasilnya belum bisa diapresiasi secara luas oleh masyarakat internasional.

Terakhir, hentikan secara bertahap program “mengekspor” tenaga kasar ke Luar Negeri, termasuk Timur Tengah, dan diganti dengan (kalau perlu) “tenaga profesional”. Tentu saja hal ini tidak mudah untuk direalisasikan dalam waktu dekat dan merupakan PR yang sangat sulit dan berat, apalagi kondisi ekonomi Indonesia belum beranjak maju dan lapangan pekerjaan masih terbatas yang menyebabkan lonjakan kaum pengangguran.

Meski demikian, jangan pernah lelah dan berputus asa untuk berusaha menjadi yang terbaik dan terdepan. Jika berusaha keras dan konsisten, tidak ada yang tidak mungkin di bawah kolong rembulan ini. 

Keterangan: artikel ini semula diterbitkan di Kompas, 13 November 2021 Link: https://www.kompas.id/baca/opini/2021/11/13/malaysia-dan-indonesia-di-mata-masyarakat-arab-timur-tengah   

Belajar Ilmu Sekuler di Timteng

1

Bagi sebagian besar warga Indonesia, dunia pendidikan di Timur Tengah, khususnya pendidikan tinggi, dianggap didominasi oleh “pendidikan Islam.” Yang dimaksud dengan “pendidikan Islam” disini adalah pendidikan untuk mempelajari ilmu-ilmu keislaman (Islamic sciences) seperti fiqih, ushuluddin, ilmu tafsir, ilmu hadis, dlsb.

Asumsi itu bisa jadi karena mereka beranggapan kalau Timur Tengah itu adalah “kawasan Islam.” Faktor lain karena peran, pengaruh, dan dominasi alumni Timur Tengah. Sejak beberaa dekade silam, banyak sekali mahasiswa Indonesia yang belajar ilmu-ilmu keislaman di sejumlah perguruan tinggi di Timur Tengah, termasuk cabangnya di Indonesia (seperti LIPIA–Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Bahasa Arab).

Ini belum termasuk mereka yang belajar ilmu-ilmu keislaman di sejumlah institusi pendidikan Islam non-perguruan tinggi (khususnya di Yaman dan juga Arab Saudi). Setelah selesai studi, mereka kemudian mendirikan yayasan, madrasah, pesantren, Islamic center, atau klub pengajian serta menyebarkan corak, ajaran, wawasan, diskursus, paham, atau ideologi keislaman tertentu di Indonesia, baik lewat media daring maupun luring.

Padahal, realitasnya pendidikan di bidang studi ilmu-ilmu sekulerlah yang sebetulnya justru lebih dominan di Timur Tengah. Yang dimaksud dengan bidang studi ilmu-ilmu sekuler disini adalah “non-Islamic sciences” seperti “hard” sciences (fisika, kimia, astronomi, biologi, dlsb), “soft” sciences (ilmu-ilmu sosial dan humaniora) maupun bidang studi lainnya (misalnya ilmu komputer, bisnis, manajemen, ilmu teknik, kedokteran & keperawatan, geoscience, ilmu perminyakan, ilmu pertanian, sistem informasi & teknologi, dlsb).

Kini, berbagai perguruan tinggi ternama di Timur Tengah sedang gencar membuka program studi di bidang “teknologi cerdas” (smart technology) guna menyongsong era Revolusi Industri 4.0 (Revolusi Digital) seperti Artificial Intelligence (AI), Internet of Things (IoT), Robotics, Blockchains, dlsb. Dalam rangka menyambut era Revolusi Digital ini, kampus saya juga membuka lebih dari 30 program studi baru, selain puluhan lembaga riset dan berbagai mata kuliah yang berkaitan dengan “teknologi pintar”.

Tren dan Fenomena Ilmu-Ilmu Sekuler

Hasil studi atau temuan riset saya menunjukkan bahwa tren pendidikan ilmu-ilmu sekuler itu bukan hanya dominan di negara-negara Arab Teluk saja (biasa disebut the Gulf) yang dikenal sebagai “kawasan kaya dan makmur” (seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, Bahrain, dan Oman) tetapi juga negara-negara lain (misalnya Libanon, Mesir, Yordania dlsb).

Di Arab Saudi, misalnya, tercatat hanya tiga perguruan tinggi saja yang awalnya atau dalam sejarahnya didesain khusus untuk mengkaji ilmu-ilmu keislaman, yaitu Universitas Islam (Madinah), Universitas Umm Al Qura (Makah), dan Universitas Islam Imam Muhammad Bin Saud (Riyadh). Selebihnya, kampus-kampus di Arab Saudi fokus utamanya di bidang studi ilmu-ilmu sekuler. Meskipun kampus-kampus tersebut menawarkan Islamic studies tetapi sangat minor dan komplemen saja. Sejak 1970an atau 1980an, para mahasiswa Indonesia pada umumnya belajar ilmu-ilmu keislaman di tiga kampus ini (termasuk LIPIA di Indonesia yang merupakan cabang dari Universitas Islam Imam Muhammad Bin Saud).

Menariknya, tiga universitas tersebut dalam perkembangannya juga membuka fakultas atau progdi (program studi) di bidang ilmu-ilmu sekuler. Misalnya, Universitas Islam Madinah membuka fakultas teknik, komputer, dan ilmu pengetahuan (seperti ilmu-ilmu eksakta). Di Universitas Umm Al Qura, fakultas baru yang dibuka lebih banyak lagi seperti Fakultas Kedokteran, Farmasi, Keperawatan, Teknik, Komputer & Sistem Informasi, Ilmu Terapan, Administrasi Bisnis, Ilmu Sosial, dlsb. Hal yang sama juga dilakukan oleh Universitas Islam Imam Muhammad Bin Saud.

King Abdullah Schlarship Program, sebuah program beasiswa pemerintah untuk putra-putri Saudi yang ingin belajar di kampus-kampus top di Luar Negeri (terutama Amerika Serikat, Kanada, Australia, negara-negara di Eropa Barat dan Skandinavia, atau China, Jepang, Korsel, dan Singapura) juga difokuskan untuk studi ilmu-ilmu sekuler.

Kenapa perguruan tinggi (dan pemerintah) di Arab Saudi (juga negara-negara Arab Timur Tengah lainnya) fokus di bidang studi ilmu-ilmu sekuler dan bahkan tiga universitas yang awalnya “diprogram” khusus untuk studi ilmu-ilmu keislaman juga ikut-ikutan berubah dan “mereformasi” diri?

Tuntutan Pasar dan Pekerjaan

Salah satu faktor utama karena kebutuhan zaman dan tuntutan pasar pekerjaan. Alumni pendidikan ilmu-ilmu keislaman sulit mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan disiplin keilmuan mereka karena keterbatasan pangsa pasar dan lapangan pekerjaan.

Profesi yang biasa diisi oleh para alumni ilmu-ilmu keislaman adalah khatib/takmir masjid, hakim, “polisi syariat”, atau guru studi Islam di sekolah. Semuanya terbatas. Sekolah-sekolah pun banyak mengajarkan ilmu-ilmu sekuler. Mereka juga tidak bisa seenaknya membuat sekolah/madrasah atau lembaga pengajian sendiri karena corak negara yang bersifat “raja centric”. Sementara lembaga “Polisi Syariat” sudah dibubarkan.

Lapangan pekerjaan yang melimpah-ruah adalah sektor industri dan lainnya yang membutuhkan keahlian non-ilmu-ilmu keislaman. Karena faktor inilah maka para almuni SMU di Arab Saudi berlomba-lomba masuk perguruan tinggi umum untuk belajar ilmu-ilmu sekuler. Sejumlah kampus favorit yang menjadi rebutan mahasiswa untuk belajar ilmu-ilmu sekuler adalah King Fahd University of Petroleum & Minerals, King Abdulaziz University, King Saud University, dlsb. Tren dan fenomena ini, sekali lagi, bukan hanya di Arab Saudi saja tetapi juga negara-negara lain di Timur Tengah.

Pendidikan Islam dan Radikalisme

Faktor berikutnya yang tak kalah pentingnya adalah pendidikan ilmu-ilmu keislaman, jika salah asuh dan salah urus, berpotensi memproduksi para alumni yang berkarakter konservatif, militan, rigid, tertutup, dan bahkan radikal-ekstrim yang anti terhadap kemodernan, perubahan zaman, kemajuan teknologi, dan perkembangan sosial-budaya sehingga bisa menghambat upaya pemerintah untuk mewujudkan Arab Saudi menjadi sebuah negara yang maju, modern, inklusif, moderat, serta berbasis teknologi canggih seperti dicanangkan dalam Saudi Vision 2030.

Arab Saudi sudah membuktikan dan mengalami hal tersebut. Pendidikan model Islam radikal-konservatif yang dulu didesain oleh faksi Wahabi garis keras dan kelompok militan Ikhwanul Muslimin dari Mesir dan Suriah yang kabur ke (dan ditampung oleh) Arab Saudi telah melahirkan jenis, genre, atau varian keislaman baru atau “Islam hybrid” yang bercorak militan-ekstrim seperti kelompok Sahwa yang anti terhadap kemodernan dan kebudayaan.  

Mengapa Studi Ilmu-Ilmu Sekuler?

Seperti tren dan fenomena masyarakat Arab Timur Tengah, masyarakat Indonesia jika ingin belajar di perguruan tinggi Timur Tengah, maka akan lebih baik dan bermanfaat jika mengambil bidang studi ilmu-ilmu sekuler seperti studi perminyakan, ekonomi & bisnis, ilmu sosial dan lainnya. Beasiswa pemerintah Indonesia yang dikelola oleh sejumlah kementerian juga sebaiknya diarahkan untuk bidang studi non-Islamic studies ini.

Ada beberapa alasan mendasar. Pertama, banyak kampus bermutu, berstandar, dan berkualitas internasional di Timur Tengah yang memiliki reputasi global dan diakui oleh sejumlah lembaga peranking kampus dunia seperti Quacquarelli Symonds, Times Higher Education dan lainnya. Banyak dari kampus tersebut yang menggunakan Bahasa Inggris sebagai instrumen belajar-mengajar (atau campuran Bahasa Inggris dan Arab). Tenaga pengajarnya pun dari berbagai suku bangsa dan negara, termasuk negara-negara Barat, China dan lainnya.

Sebut saja King Abdullah University of Science and Technology (Arab Saudi), The American University of Beirut (Libanon), The American University in Cairo (Mesir), King Abdulaziz University (Arab Saudi), Qatar University (Qatar), University of Jordan (Yordania), dlsb. Kampus saya juga dalam beberapa tahun terakhir menjadi universitas terbaik di kawasan Arab Timur Tengah dan bahkan program studi Petroleum Engineering-nya menempati peringkat ketujuh dunia.   

Selain itu, cukup banyak kampus-kampus top Barat yang mendirikan cabang di negara-negara di kawasan Arab Teluk. Ini juga bisa menjadi alternatif studi. Misalnya New York University, Georgetown University, Texas A&M University, Northwestern University, Virginia Commonwealth University, Sorbonne University, HEC Paris, dan masih banyak lagi.

Alasan berikutnya, kedua, program studi ilmu-ilmu sekuler itulah yang jauh lebih bermanfaat untuk masyarakat, bangsa, dan negara Indonesia. Para alumninya diharapkan bisa turut berkontribusi memajukan perkembangan ekonomi, sains, teknologi, budaya, dlsb.

Ketiga, Indonesia kini sudah surplus lembaga pendidikan tinggi, baik negeri maupun swasta, yang fokus di bidang Islamic studies. Pada dasarnya belajar Islamic studies dimanapun itu sama saja karena basisnya adalah membaca, mempelajari, dan menelaah teks (buku/kitab). Bahkan sekarang kajian Islamic studies di perguruan tinggi Indonesia tampak jauh lebih maju ketimbang Timur Tengah karena mereka menggunakan model pendekatan riset dan keilmuan yang beragam serta referensi bacaan yang variatif dan lintas-mazhab.

Keempat, untuk mengurangi produksi “Islam militan” dan penyebaran radikalisme agama yang membahayakan tatanan kebudayaan, kebangsaan, dan kenegaraan Indonesia. Saya perhatikan banyak sekali para alumni pendidikan Islam Timur Tengah yang gencar mengafirsesatkan tradisi dan budaya lokal Nusantara, memperkenalkan dan memaksakan praktik keberagamaan “model Islam Arab” yang tidak sesuai dengan konteks, tradisi, dan kultur masyarakat Indonesia (misalnya, pemaksaan pemakaian cadar untuk anak-anak sekolah), atau bahkan memprovokasi publik agar “menggugat” eksistensi dan otoritas sistem pemerintahaan dan fondasi kenegaraan (seperti Konstitusi UUD 1945 dan Dasar Negara Pancasila) yang mereka anggap sebagai “tidak Islami”, “tidak syar’i”, dan “produk kafir”.

Tentu saja tidak semua alumni pendidikan Islam Timur Tengah melakukan hal ini. Pula, bukan hanya alumni pendidikan Islam Timur Tengah saja yang melakukan hal tersebut. Poinnya adalah mempelajari ilmu-ilmu sekuler di perguruan tinggi Timur Tengah itu akan jauh lebih bermanfaat untuk kemaslahatan, kemajuan, dan kemakmuran bangsa dan negara Indonesia di masa mendatang, selain guna menghindari kemungkinan terjadinya dampak buruk yang lebih besar di masyarakat. Oleh karena itu, pemerintah dan elemen masyarakat sangat layak untuk mempertimbangkan hal tersebut.

Keterangan: artikel ini semula diterbitkan di Kompas, 24 Desember 2021 https://www.kompas.id/baca/opini/2021/12/24/belajar-ilmu-sekuler-di-timteng