Beranda blog Halaman 38

Perjuangan Meraih Beasiswa Kuliah (11)

0

Kisah perjalanan sekolah doktoralku di Boston University tidak semanis seperti yang mungkin banyak orang bayangkan.

Setelah sekitar seminggu tinggal di kampung halaman di Batang, Jawa Tengah, sepulang dari Amerika, saya pamitan kepada kedua orang tua untuk penelitian disertasi di Ambon selama satu tahun.

detik-detik meninggalkan Boston University

Di departemenku, dan juga jurusan antropologi lain di kampus-kampus di Amerika, seorang calon doktor wajib riset disertasi (fieldwork) minimal satu tahun sebagai bahan penulisan disertasi.

 

Karena satu dan lain hal, saya memilih Ambon/Maluku sebagai lokasi riset untuk mempelajari proses-proses perdamaian Kristen-Muslim setelah kerusuhan komunal yang cukup lama sejak 1999.

Selama penelitian di Ambon, saya dibantu oleh teman kuliah di UKSW dulu bernama Pdt. Elifas Tomix Maspaitella (kini Sekum Sinode GPM). Elifas (biasa saya sapa Bung Eli) bukan hanya teman yang baik hati tapi juga “papa piara”, guru, partner diskusi sekaligus “asisten riset” dan “tukang antar”. Bagiku, ia pribadi yang sangat luar biasa.

Selama setahun tinggal di rumahnya, saya banyak belajar tentang banyak hal: sejarah Maluku/Ambon, hubungan Kristen-Muslim, proses rekonsiliasi konflik, dlsb.

Bung Eli adalah sosok yang sangat cerdas, pekerja keras, dermawan, dan sederhana. Ia juga mempunyai jaringan yang sangat luas, mempunyai banyak teman, baik Muslim apalagi Kristen.

Selama riset, dialah yang menjadi penghubung saya dengan banyak tokoh dan nara sumber di Ambon/Maluku untuk keperluan wawancara penelitian: gubernur, wagub, walikota, bupati, politisi, akademisi, pendeta, ulama, tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh pemuda, eks-milisi, aktivis perempuan, praktisi rekonsiliasi konflik, dan masih banyak lagi.

Di tengah-tengah kesibukannya melayani umat dan jemaat, ia sempatkan untuk “melayaniku”. Dengan sepeda motor bututnya yang sering mogok, ia sering mengantarku kesana-kemari ke tempat-tempat penelitian, memperkenalkanku dengan banyak orang, baik komunitas Kristen maupun Muslim. Sering juga kalau sepeda motornya sedang ngadat, kami naik “perahu gethek” menuju kota Ambon. Dengan Bung Eli pula, kami keluyuran ke berbagai pulau di Maluku, menyusuri luasnya laut yang mengelilingi pulau rempah-rempah ini.

Bung Eli jugalah yang menjemputku di Bandara Pattimura, saat pertama kali saya menginjakkan kaki di Ambon Manise. Begitu sampai di rumahnya (pastori) yang berada di samping gereja, ia langsung menunjukkan kamarku. Saya lihat ada sajadah dan peralatan salat lain di kamar itu. “Ini sengaja saya sediakan untuk menyambut saudara Muslim-ku dari Jawa”, kata Bung Eli sambil tersenyum.

“Bung Eli, berapa uang sewa yang harus saya bayar selama saya riset disini?”, tanyaku penasaran.

Bukannya menjawab nominal atau besaran uang sewa, ia malah terkekeh. “Bung, Anda tidak perlu membayar apa-apa. Silakan tidur dan makan seadanya bareng-bareng dengan keluarga kami selama riset disini. Tidak perlu membayar karena Anda sudah saya anggap sebagai saudarku, keluargaku, dan ‘anak piaraku'”, terang Bung Eli.

Menurut Bung Eli, kalau saya membayar “uang sewa”, berarti saya dianggap “orang lain”.

Perjumpaan dan pergumulanku dengan Bung Eli selama riset di Ambon/Maluku sungguh sangat membekas dan berharga. Saya banyak belajar dengannya. Karena itu kelak, di dalam disertasiku saya sebutkan penghargaan khusus spesial untuknya dan istrinya yang baik (Pdt. Desembrina Aipassa-Maspaitella), selain untuk komunitas Kristen dan Muslim Ambon / Maluku tentunya (bersambung).

Jargon Kosong Solidaritas Islam

0

Sebagian kelompok Islam di Indonesia sering mendengung-dengungkan tentang pentingnya membangun “solidaritas Islam”, baik dalam skala nasional maupun global.

Dalam praktiknya apa yang mereka kampanyekan sebagai “solidaritas Islam” itu nyaris tak terwujud. Solidaritas Islam yang mereka gemakan itu hanya terjadi di dunia ide, di ruang maya, di jagat mitos, dan di alam khayalan. Bukan di dunia nyata. Di alam nyata, yang terjadi bukan solidaritas Islam, melainkan justru “permusuhan Islam”. Konsep “ukhuwah Islamiyah” itu nyaris hanya jargon kosong belaka yang sama sekali tidak bunyi di tataran realitas.

Solidaritas Islam atau “ukhuwah Islamiyah” memang kadang-kadang terjadi di dunia nyata tetapi sifatnya ad hoc dan terbatas. Skalanya juga sangat lokal. Bukan sebuah solidaritas atau persaudaraan yang bersifat universal, permanen, dan inter-lokal, apalagi inter-nasional.

Selain itu, tragisnya, sejumlah kelompok umat Islam menggemakan atau mengkampanyekan “solidaritas Islam” hanya karena didorong oleh kepentingan yang sama untuk mendiskreditkan atau bahkan menjungkalkan pihak lawan sesama Muslim. Sungguh ironis.

Kenapa sulit?

Ada banyak faktor yang menyebabkan kenapa solidaritas Islam yang universal, permanen, inter-lokal, dan inter-nasional itu sulit terwujud dewasa ini. Di antara faktor itu karena umat Islam kontemporer telah terpecah-belah menjadi kepingan-kepingan kecil dalam bentuk negara, organisasi, lembaga, ideologi, mazhab, aliran, sekte, partai politik, dan seterusnya.

Semua itu telah membatasi gaya hidup, ruang gerak, ekspresi kebebasan, dan interaksi individual-sosial kaum Muslim.

Alih-alih ingin menegakkan dan memperjuangkan “solidaritas Islam”, umat Islam sendiri justru sibuk memperjuangkan dan membela negara, mazhab, ormas, lembaga, aliran, sekte, atau parpol mereka masing-masing.

Alih-alih ingin menegakkan solidaritas Islam, mereka sendiri malah sibuk berkelahi hanya karena berbeda pandangan keagamaan, pemikiran keislaman, tafsir atas teks-teks dan diskursus keislaman, organisasi kemasyarakatan, atau bahkan pilihan parpol dan paslon (pasangan calon) kepala daerah / kepala negara.
Alih-alih ingin memperjuangkan “ukhuwah Islamiyah”, mereka sendiri justru terperangkap ke dalam perjuangan memperebutkan kepentingan individu dan kelompoknya.

Alih-alih ingin menegakkan solidaritas Islam dan membangun ukhuwah Islamiyah, mereka sendiri malah sibuk saling mengafirkan, menyesatkan, menerakakan, dan memasygulkan.

Bukan masalah baru

Fenomena perpecahan dan perseteruan antar-umat Islam ini sebetulnya bukan hal baru. Sejak detik pertama Islam lahir pun, permusuhan dan perpecahan sudah muncul, dan meruncing sejak wafatnya Nabi Muhammad tahun 632. Tetapi basis atau faktor penyebab perpecahan waktu itu masih sangat sederhana dan terbatas.
Zaman dahulu kala, perseteruan antar-umat Islam biasanya karena klaim atas superioritas dan otoritas suku dan klan (seperti “Dinasti Hasyim” versus “Dinasti Umayyah”). Ada juga perseteruan karena membela tokoh tertentu seperti faksi Ali versus faksi Mua’awiyyah. Faktor perpecahan lain karena mazhab teologi (seperti Mu’tazilah versus Sunni).

Faktor-faktor ini masih ada sampai sekarang bahkan semakin rumit. Perpecahan berbasis suku, klan, dan mazhab masih berlangsung hingga kini. Bahkan skalanya makin lebar. Tetapi basis atau faktor penyebab perpecahan yang membuat umat Islam semakin sulit memperjuangkan “solidaritas Islam” itu dewasa ini semakin banyak dan runcing. Bukan hanya masalah suku, klan dan mazhab saja tetapi juga negara-bangsa, partai politik, ormas keagamaan, sekte keislaman, perkumpulan berdasar kepentingan, klub, jaringan profesi, dan masih banyak lagi.

Sibuk dengan rumah tangga masing-masing

Simak misalnya tentang pendirian negara-bangsa (nation-state) paska kolonialisme. Hampir semua kawasan yang mayoritas berpenghuni Muslim di dunia ini dari Afrika dan Timur Tengah hingga Asia, dulu menjadi daerah jajahan kolonial Eropa: Inggris, Perancis, Belanda, atau Italia. Hanya segelintir area saja (seperti Arab Saudi dan Iran) yang tidak mengalami penjajahan atau kolonialisme Bangsa Eropa.

Setelah pendirian negara-bangsa, kaum Muslim kemudian sibuk mengurusi kedaulatan dan rumah tangga negara-bangsa mereka masing-masing. Akibatnya, mereka kemudian terkotak-kotak hidup dalam sebuah teritori tertentu. Padahal dulu, mereka bebas-merdeka melintas-batas berbagai kawasan tanpa harus repot-repot mengurus paspor dan visa.

Perpecahan umat Islam di zaman pra-negara-bangsa lebih banyak dilakukan oleh elit politik di kerajaan. Tetapi di era negara-bangsa, bukan hanya elit saja yang berseteru tetapi juga umat atau rakyat biasa. Dulu hanya tentara yang dimobilisir untuk melawan musuh. Sekarang massa atau “wong cilik” ikut-ikutan dimobilisir untuk mengganyang lawan-lawan mereka yang ironisnya juga sesama umat Islam.

Sejak pendirian negara-bangsa, kemudian muncul konsep sekaligus jargon baru: patriotisme dan nasionalisme (terhadap negara masing-masing). Negara kemudian menjelma menjadi “entitas suci” yang statusnya kurang lebih sejajar dengan agama. Konstitusi negara kemudian menjadi “kitab suci”. Sedangkan ideologi negara menjadi sepadan dengan ideologi agama. Akibatnya, kritik terhadap rezim pemerintah dianggap sebagai tindakan makar. Kritik terhadap konstitusi dipandang sebagai pelanggaran berat. Kritik terhadap ideologi negara dituduh sebagai tindakan inkonstitusional.

Dengan demikian, pendirian negara telah mengubah atau menambah daftar loyalitas umat Islam yang bukan hanya dituntut taat pada ajaran agama mereka saja tetapi juga pada negara (dan elemen-elemen utamanya). Bahkan dalam banyak hal, loyalitas pada negara harus diutamakan terlebih dahulu ketimbang ketaatan pada agama.

Dengan kata lain, solidaritas terhadap negara harus menjadi prioritas utama daripada solidaritas pada agama. Kepentingan negara harus didahulukan ketimbang kepentingan agama. Akibatnya, permusuhan dan pertempuran antar-negara yang mayoritas berpenduduk Muslim pun tak terhindarkan dan terjadi dimana-mana sejak pendirian negara-bangsa pasca kolonialisme. Peperangan itu meletus bisa karena perebutan batas-batas teritori, faktor geopolitik, persoalan kepentingan ekonomi, atau bahkan karena masalah “gengsi kekuasaan”.

Bahkan bukan hanya perang antarnegara, perang antarfaksi (baik faksi politik, faksi ideologi, maupun faksi etnis) dalam satu negara juga kerap melanda “kawasan Islam” saat ini seperti yang terjadi di Irak, Suriah, Turki, Iran, Libya, Sudan, Aljazair, Libanon, Afganistan, Tunisia, dlsb.

Nyaris tidak ada negara yang mayoritas berpenduduk Muslim dewasa ini yang sepi dari konflik, kekerasan, dan permusuhan dengan sesama umat Islam.
Jadi, masihkah Anda percaya dengan jargon kosong bernama “solidaritas Islam”?

*Artikel ini pernah diterbitkan di dw[dot]com

Wajah Pendidikan Indonesia di Mata Internasional

1

Sebagai akademisi yang sudah puluhan tahun tinggal dan berkarir di luar negeri dan mengajar atau riset di beberapa negara, saya merasa senang di satu sisi, tapi juga prihatin di pihak lain dengan perkembangan dunia akademik, khususnya perguruan tinggi (PT) di Tanah Air.

Senang karena sejak beberapa tahun terakhir, banyak PT di Indonesia yang mendapat limpahan para doktor, baik alumnus dalam negeri maupun luar negeri.
Para doktor didikan universitas-universitas berkualitas di negara-negara Barat, khususnya Amerika Serikat, Australia, dan negara-negara Eropa juga lumayan banyak.

Belum lagi dari kampus-kampus di kawasan Asia terutama Malaysia, Jepang, Singapura atau Republik Rakyat China (RRC).

Pemandangan menggembirakan akhir-akhir ini tentu saja jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, dimana kampus-kampus seperti “paceklik” doktor.

Banyaknya doktor itu tidak lepas dari banyaknya beasiswa yang digelontorkan oleh pemerintah untuk para dosen berkualitas, yang belum sempat mengenyam pendidikan doktoral, baik di dalam maupun luar negeri.

Selain itu, beberapa tahun terakhir ini, negara-negara lain seperti Turki, RRC, Australia, atau Amerika Serikat juga cukup banyak yang menawarkan beasiswa doktoral ke kader-kader terbaik di Indonesia.

Indikator lain, misalnya, semakin menjamurnya jurnal-jurnal akademik.

Terlepas dari masalah kualitas, hampir semua PT di Indonesia kini memiliki “jurnal ilmiah”. Tradisi penulisan dan publikasi yang meningkat ini, tentu saja sangat menggembirakan dan perlu diapresiasi.

***

Tetapi di pihak lain, saya juga merasa sedih dan prihatin. Sedih dan prihatin karena hingga kini, belum ada kampus-kampus di Indonesia yang diperhitungkan di negara lain.

Citra dunia pendidikan Indonesia di luar negeri masih sangat memprihatinkan. Di dunia akademik, Indonesia belum menjadi kawasan yang disegani.

Harus diakui secara jujur, meskipun getir, reputasi dunia pendidikan Indonesia masih 11-12 dengan negara-negara Afrika, Amerika Latin, atau Asia Tengah/Selatan.

Bahkan dengan negara tetangga Malaysia, Indonesia sekarang pun kalah jauh tertinggal di belakang. Padahal dulu, sejak 1980-an, banyak warga Malaysia yang belajar di Indonesia. Kini, justru sebaliknya: warga Indonesia yang berbondong-bondong belajar di Malaysia.

Untuk mengukur masih rendahnya tingkat kepercayaan publik luar negeri terhadap citra dan reputasi dunia pendidikan Indonesia itu mudah sekali. Misalnya, kita bisa mengukur dari prosentase atau jumlah mahasiswa asing yang belajar di Indonesia.

Meskipun tentu saja ada mahasiswa/i asing yang belajar disini, tetapi jumlahnya masih sangat minim sekali.

Atau, seberapa besar penyerapan lembaga-lembaga internasional, khususnya institusi pendidikan, terhadap alumni PT di Tanah Air.

Sependek pengetahuan saya, nyaris tidak ada lembaga-lembaga pendidikan, khususnya perguruan tinggi yang berkualitas di luar negeri, yang bersedia menerima lulusan perguruan tinggi di Indonesia sebagai tenaga pengajar atau peneliti.

Kalaupun ada warga negara Indonesia yang diterima sebagai dosen atau periset, hampir bisa dipastikan mereka adalah yang mendapat gelar master atau doktoral dari kampus berkualitas di negara-negara Barat, atau negara maju di Asia seperti Singapura atau Jepang.

Setiap tahun saya terlibat sebagai tim penyeleksi (search committee) berkas-berkas para kandidat, yang melamar sebagai profesor baru di departemen saya, yang fokus di bidang ilmu-ilmu sosial dan humaniora.

Salah satu yang dijadikan sebagai acuan utama untuk menyeleksi para aplikan adalah kampus tempat kandidat menerima gelar doktor. Jika ia memperoleh gelar doktor dari kampus di negara-negara berkembang, sudah pasti akan masuk kotak alias tidak lolos dalam proses seleksi tahap berikutnya.

Supaya bisa dipertimbangkan oleh komite penyeleksi, para pelamar harus mendapatkan gelar doktor dari kampus-kampus berkualitas, yang setidaknya masuk 100 besar kampus top di dunia (misalnya menurut QS World University Rankings).

Bukan itu saja, meskipun sudah mendapat gelar doktor dari kampus-kampus berkualitas dunia, jika si pelamar kemudian meniti karir pasca-doktoral di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, ia juga dipastikan akan “masuk kotak”.

Ini menunjukkan betapa suramnya citra kualitas kampus di Indonesia.

Namun, penting untuk dicatat, meskipun citra kualitas kampus di Indonesia itu buram, bukan berarti kualitas kampus di Indonesia itu benar-benar buram.

Meskipun realitasnya memang banyak yang buram, tetapi ada sejumlah kampus yang cukup baik dalam menjaga tradisi akademik.

***

Di kawasan Asia, hanya kampus-kampus di Singapura, Jepang, Hong Kong, atau Taiwan yang cukup terkenal reputasi akademiknya.

Belakangan menyusul RRC dan Korea Selatan juga cukup maju dan dipertimbangkan. Sebagian kecil kampus di India, belakangan juga masuk daftar sebagai kampus yang memiliki reputasi akademik cukup baik.

Sementara, negara-negara mayoritas berpenduduk Muslim yang cukup baik reputasi dunia akademiknya adalah Turki dan Iran.

Belakangan negara-negara di kawasan Arab Teluk seperti Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab khususnya, berlomba-lomba meningkatkan mutu dunia pendidikan dengan mengadopsi secara maksimal sistem dan tradisi akademik Barat, khususnya Eropa Barat dan Amerika Utara.

Yang menarik adalah negeri jiran, Malaysia. Meskipun beberapa tahun lalu, negara ini sama sekali tidak dipertimbangkan dalam kancah dunia akademik internasional, bahkan jauh tertinggal dibanding Indonesia, tetapi belakangan ini sukses menarik perhatian masyarakat internasional.

Malaysia kini mampu menampilkan atau mencitrakan diri sebagai “negara maju” di bidang pendidikan perguruan tinggi.

Dalam hal pendidikan, negeri jiran ini cukup sukses menjadi “penengah” antara negara maju (khususnya negara-negara Barat) dan negara berkembang, karena berhasil menyajikan dunia pendidikan yang berkualitas dengan biaya yang terjangkau.

Akibatnya, banyak mahasiswa internasional yang menyerbu Malaysia. Sebab, dipandang bisa menjadi alternatif dan solusi terbaik mengatasi kebuntuan dunia akademik.

Di mata warga Arab dan Timur Tengah khususnya, reputasi akademik kampus-kampus Malaysia juga cukup baik. Buktinya banyak sekali mahasiswa Arab yang belajar di Malaysia.

Malaysia juga menjadi salah satu negara di Asia (selain Singapura, Jepang, China, dan Korea Selatan) yang menjadi target pengiriman mahasiswa Saudi melalui King Abdullah Scholarship Program.

Sejak 2005, program beasiswa ini sudah memberangkatkan ratusan ribu mahasiswa Saudi ke kampus-kampus top di luar negeri, khususnya negara-negara Barat, untuk kuliah di berbagai bidang keilmuan dari S1 sampai S3.

Tidak ada satupun mahasiswa yang dikirim ke Indonesia. Alasannya jelas, karena dunia kampus Indonesia masih dianggap belum bermutu. Para alumni program doktoral di Malaysia juga cukup dipertimbangkan di kampus-kampus di Timur Tengah, termasuk kawasan Arab Teluk.

***

Fenomena ini menjadi cambuk, kritik tajam dan pelajaran berharga bagi pemerintah, elit masyarakat, civitas akademika dan siapa saja yang mendambakan kemajuan pendidikan Indonesia di kemudian hari.

Masih ada banyak PR yang perlu dibenahi untuk meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan kita, yang masih dipandang sebelah mata oleh masyarakat internasional.

Saya percaya, jika melihat banyaknya kader-kader potensial, baik yang tergabung di “Indonesia Diaspora” maupun yang berada di Tanah Air, peluang dan masa depan membangun dunia pendidikan tinggi yang kredibel dan berkualitas internasional, masih sangat terbuka lebar.

Sayangnya, selama ini kader-kader atau putra-putri bangsa yang berkualitas itu belum “dikelola” dan dimanfaatkan secara optimal, baik oleh pemerintah maupun kampus itu sendiri, untuk ikut membantu membenahi wajah pendidikan tinggi di Indonesia.

*Artikel ini pernah di terbitkan oleh liputan6[dot]com dengan judul : “Wajah Dunia Akademik Indonesia di Mata Internasional”

Perjuangan Meraih Beasiswa Kuliah (10)

0

Perjuangan Meraih Beasiswa Kuliah – Karena keterbatasan beasiswa doktroral yang saya peroleh di Boston University waktu itu, saya terpaksa harus merampungkan berbagai mata kuliah wajib sebagai persyaratan meraih gelar doktor (waktu itu ada sekitar 16 mata kuliah), ujian komprehensif yang sangat rumit dan melelahkan, serta ujian proposal disertasi (prospectus) dalam waktu singkat. Saya menyelesaikan semua itu dalam waktu 2,5 tahun, sesuatu yang tergolong “tidak lumrah” di departemenku.

Untung saja, setelah berjuang cukup lama, proposal disertasiku memenangkan sejumlah “research grants” termasuk dari National Science Foundation (Pemerintah Amerika Serikat) dan Graduate Research Abroad Fellowship sehingga bisa membiayai riset disertasi dan “menyambung hidup” setelah beasiswa kuliah habis.

Segera setelah dinyatakan lulus ujian komprehensif dan proposal disertasi, saya pun segera mudik untuk keperluan penelitian disertasi sekaligus menengok kampung halaman di Batang, Jawa Tengah, yang sudah cukup lama saya tinggalkan sejak kuliah di Virginia.

Mendengar kabar saya mau pulang kampung, orang tua dan keluarga di kampung mempersiapkan “upacara penyambutan” dan “selametan / bancaan / kenduren” dengan makan-makan bersama mengundang warga.

Cukup banyak warga yang datang dan menunggu di gubukku yang sederhana. Setiba di rumah, saya pun langsung memeluk bapake-simboke inyong (ayah-ibuku). Tak terasa, air mata pun meleleh deras membasahi pipiku. Ayah-ibuku juga sama: sama-sama menangis mungkin karena haru dan kangen sudah lama tidak bersua dengan anak bungsunya yang waktu kecil hobi main wayang sambil menggembala kambing di hutan.

Sehabis berpelukan ala teletabis, saya pun menyalami kakak-kakak, saudara, tetangga, teman lama dan kemudian warga. Sebagian besar teman-temanku waktu kecil sebagai sesama penggembala kambing masih meneruskan profesi mereka sampai tua. Dulu, mereka yang biasa memanggilku dengan menyebut nama langsung, kini mereka berubah memanggilku dengan sebutan “Pak” atau “Mas”.

Saya pun sering meledek ke mereka, “Pak/Mas gundulmu he he. Panggil aku seperti dulu saja.” Tetapi tetap mereka tidak mau melakukannya.

Saya melihat ayah sudah semakin tua dan sepuh. Penyakitnya bertambah banyak tetapi ia berusaha menutupi di depanku. Ia pura-pura sehat dan tegar. Padahal saya tahu, beliau sedang menderita cukup banyak penyakit, selain penyakit tua. Namun, seperti biasa, beliau tidak ingin anak-anaknya turut sedih, larut dalam kesusahan, dan menanggung beban penderitaannya. Ia ingin menanggung derita seorang diri.

Saya menawarkan berkali-kali untuk berobat ke rumah sakit. Ia tetap menolak. Beliau hanya ingin satu hal: “Kelak kalau saya ada rejeki untuk memperbaiki gubuk supaya lebih kuat serta membantu pendirian rumah dan kebutuhan saudara-saduraku.”

Tanpa pikir panjang, uang riset itu pun saya pakai untuk memperbaiki rumah orang tua di kampung, meskipun ala kadarnya. Setelah rumah tampak berdiri cukup kuat, saya melihat senyumnya mengembang. Suatu malam, ia berkata kepadaku: “Sekarang saya nggak khawatir lagi kalau rumah ini akan roboh sehingga saya bisa hidup dengan tenang.”

Setahun setelah rumah saya perbaiki, beliau wafat menghadap Sang Khalik (Bersambung).

Profesor Itu Apa Sih?

2

Saya perhatikan banyak yang bingung dan belum paham tentang apa itu yang disebut “professor”. Kelompok yang bingung dan belum paham itu khususnya mereka yang tidak mengerti dan familiar dengan “sistem professorship” di Luar Negeri, khususnya di negara-negara Barat. Bagi yang alumni perguruan tinggi di negara-negara Barat, pasti sudah maklum.

Begini, tidak seperti di Indonesia dimana “professor” itu adalah sebuah “gelar resmi” yang diberikan oleh negara/pemerintah pusat, di kampus-kampus di Luar Negeri, “professor” itu memiliki makna beragam. Dan sebutan “professor” itu biasa saja. Bukan sesuatu yang “wow” gitu seperti umumnya di Indonesia yang orang-orangnya “kamigelaren” alias suka banget dengan gelar sampai haji dan gelar S1/S2 saja dicantumin di nama.

Di Amerika Utara (Amerika Serikat & Kanada), “professor” itu sebutan untuk mereka yang mengajar di universitas. Seperti sebutan “dosen” di Indonesia (kata “dosen” ini sepertinya dari Belanda: docent). Biasanya, meski tidak selalu, “si professor” itu sudah mendapatkan gelar doktor. Kalau tidak bergelar doktor, meski tidak selalu, mereka disebut “lecturer”. Sebutan lain untuk pengajar di kampus adalah “instructor”.

Kalau tidak mengajar di universitas, ya Anda tidak disebut “professor”. Meskipun bergelar doktor tetapi kerjaan utama Anda hanya meneliti saja di lembaga-lembaga riset di kampus, maka Anda disebut “peneliti” (researcher) bukan “professor”. Meskipun kerjaan Anda mengajar tetapi tidak di perguruan tinggi, Anda juga tidak disebut profesor.

Selain sebutan untuk “pengajar di kampus”, kata “professor” juga merupakan “kepangkatan akademik”. Yang memberi gelar atau sebutan kepangkatan ini bukan negara tetapi kampus. Di setiap kampus ada “komite akademik” (academic council) khusus yang bertugas untuk ini. Saya kira ini perlu dicontoh di Indonesia. Masak negara kok ngurusi “gelar profesor” di kampus? Kayak kurang kerjaan saja he he.

Di negara-negara Barat, di Amerika Utara khususnya, nama “professorship” ini bermacam-macam: visiting professor, adjunct professor, Assistant Professor, Associate Professor, Full Professor, Distinguished Professor, Emeritus Professor, dlsb. Semua adalah “professor”. Yang membedakan cuma status mengajar (langgeng atau tidak), distribusi dan beban tugas, serta besaran gaji saja.

Perlu dicatat tidak semua negara menggunakan sebutan / kepangkatan “professor” ini. Di Australia, misalnya, sebutan dosen ini bermacam-macam: Associate Lecturer, Lecturer, Senior Lecturer, Associate Professor, Professor. Di Inggris lebih rumit lagi: lecturer, senior lecturer, principal lecturer, reader, associate professor, professor, chair professor, distinguished professor, dlsb. Semua tergantung dari karya akademik, tingkat pengalaman dan senioritas.

Di negara-negara lain sebutan dosen itu tergantung mereka mengikuti “sistem Amerika” atau “sistem Eropa/Australia” atau gabungan Amerika/Eropa/Australia.

Di kawasan Arab Teluk, misalnya, sebutan “professor” itu bagi dosen yang sudah doktor. Tentu saja mereka tidak bilang “professor” tetapi “burufissor”. Tetapi sebutan yang paling umum untuk dosen ini adalah “duktur” karena susah menyebut nama “burufissor”. Kalau dosen-dosen bergelar master, mereka biasanya disebut “lecturer”. Baik “professor” maupun “lecturer” itu ada tingkatan, hierarki atau kastanya, tergantung dari tingkat senioritas dan karya akademik.

Bagiku, saya sama sekali tidak perduli dan menghiraukan, Anda mau memanggilku dengan sebutan apa: professor kek, duktur kek, processor kek, kompresor kek, tekek kek. Saya bukan tipe orang yang gila gelar dan sebutan. Apapun sebutan atau panggilan yang Anda berikan, saya akan tetap menulis sampai tidak mampu menulis lagi.

Sejumlah Kesalah pahaman Tentang Bangsa Arab

0
map saudi arabia

Bangsa Arab mengikuti sistem politik-pemerintahan Islam? Ini salah satu kesalah pahaman yang meluas, termasuk di Indonesia. Apa lagi bentuk kesalah pahaman lainnya mengenai bangsa Arab?

Saya perhatikan ada banyak masyarakat di Indonesia, baik Muslim maupun non-Muslim, yang tidak paham, salah paham atau gagal paham terhadap “Bangsa Arab” yang konon merupakan kelompok “ethnolinguistik” terbesar kedua di dunia setelah Bangsa Tionghoa. Akibatnya, banyak sekali persepsi-persepsi atas “Bangsa Arab” yang tidak akurat sehingga pada gilirannya menimbulkan penilaian yang kurang valid dan sikap atau tindakan yang berlebihan terhadap mereka.

Kesalahpahaman pertama adalah menganggap Bangsa Arab itu sebagai “Bangsa Muslim”. Meskipun mayoritas Bangsa Arab adalah Muslim tetapi faktanya banyak sekali yang bukan Muslim, dalam pengertian tidak memeluk Islam sebagai “agama resmi” mereka. Arab Kristen adalah kelompok non-Muslim Arab yang paling dominan. Pada umumnya mereka mengikuti tradisi Gereja-Gereja Timur (Eastern Churches) seperti Gereja Ortodoks Yunani atau Gereja Katolik Yunani. Mekipun banyak juga dari mereka yang mengikuti gereja-gereja Protestan. Selain itu, Bangsa Arab juga ada yang menjadi pengikut Gereja Maronite (terbesar di Libanon), Gereja Koptik (berpusat di Mesir), dan Gereja Ortodoks Suriah (di Suriah).

Ada juga komunitas Arab yang mengikuti memeluk Judaisme (Yahudi), Druze dan Baha’i. Bahkan dalam perkembangan terakhir, banyak masyarakat Arab yang mengikuti ateisme dan agnotisisme (simak studi Ralph M Coury dalam buku Sceptics of Islam: Revisionist Religion, Agnoticism, and Disbelief in the Modern Arab World).

Bangsa Arab jauh dari kesan tunggal dan monolitik

Sebagai Muslim pun, Bangsa Arab jauh dari kesan tunggal dan monolitik. Selain Arab Sunni yang merupakan populasi dominan, Arab Syiah juga banyak sekali (di Irak, Saudi, Libanon, Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab, dlsb.), kemudian disusul Arab Ibadi yang berpusat di Oman, negara tetangga Saudi. Karena sebagai sesama Bangsa Arab, baik Muslim maupun non-Muslim Arab telah berbagi bahasa, tradisi dan budaya yang sama, meskipun tentu saja ada banyak varian dan keunikan lokal di antara Bangsa Arab itu sendiri, baik karena faktor kesejarahan dan “geo-kultural” yang berlainan maupun akibat persinggungan dengan berbagai tradisi, budaya dan masyarakat non-Arab.

Kesalahan berikutnya memandang Bangsa Arab itu sama dengan Arab Saudi. Dengan kata lain, Arab Saudi dijadikan sebagai baromater atau tolok ukur untuk menilai Bangsa Arab secara umum. Tentu saja persepsi ini sama sekali tidak akurat karena bangsa Arab bukan hanya di Saudi saja tetapi juga tersebar di berbagai negara. Menurut catatan Charter of the Arab League, ada sekitar 22 “Negara Arab” di Timur Tengah yang menggunakan Bahasa Arab sebagai “bahasa resmi/nasional”.

Selain Arab Saudi, negara-negara Arab lain adalah Aljazair, Bahrain, Comoros, Djibouti, Mesir, Irak, Yordania, Kuwait, Libanon, Libya, Mauritania, Maroko, Oman, Palestina, Qatar, Somalia, Sudan, Suriah, Tunisia, Uni Emirat Arab dan Yaman. Dari segi populasi, yang terbesar adalah Mesir kemudian disusul berturut-turut: Sudan, Aljazair, Maroko, dan Irak. Saudi dan Yaman memiliki jumlah penduduk yang kurang lebih sama. Penting juga untuk dicatat tentang “Arab Diaspora” yang tersebar di berbagai negara di dunia ini: dari Eropa dan Amerika Utara sampai Asia Tengah dan Asia Tenggara. Jadi, melihat dunia Arab dari “jendela Saudi” tentu saja tidak valid dan tidak pas.

Selanjutnya, memandang Arab sebagai bangsa monolitik atau homogen yang mempraktekkan tradisi dan budaya yang seragam sebuah kesalahan fatal. Sebagaimana suku-bangsa lain di dunia ini, Bangsa Arab juga bangsa heterogen dalam segala aspek kehidupan bahkan bukan hanya soal adat-istiadat, tradisi dan budaya mereka saja tetapi sampai pada masalah teologi-keagamaan, pandangan kepolitikan, sistem pemerintahan, sistem perekonomian, dlsb.

Semua laki-laki Arab itu bergamis

Oleh karena itu, menganggap semua laki-laki Arab itu bergamis atau berbusana jubah misalnya jelas keliru karena faktanya budaya pakaian casual ala Barat sudah berkembang luas di kawasan Arab. Jubah pun memiliki desain dan corak yang warna-warni. Pula, menganggap semua orang Arab itu berjenggot juga keliru besar karena faktanya banyak sekali yang kelimis. Begitu pula, keliru besar jika memandang perempuan Arab itu selalu mengenakan cadar (seperti niqab, burqa, khimar, dlsb).

Karena faktanya, banyak sekali kaum perempuan Arab yang tidak bercadar. Di antara “negara-negara Arab”, hanya Saudi saja yang cukup ketat dalam hal tata-busana termasuk pemakaian cadar karena negara-kerajaan ini dipengaruhi oleh Mazhab Hanbali yang terkenal tekstualis-konservatif. Meski begitu, di Saudi pun, khususnya di kota-kota besar, karena faktor perkembangan zaman yang begitu pesat, kita akan dengan mudah menjumpai kaum perempuan yang tidak mengenakan cadar.

Kesalahpahaman berikutnya memandang Bangsa Arab mengikuti sistem politik-pemerintahan Islam. Padahal, negara-negara Arab mengikuti sistem politik-pemerintahan yang beraneka ragam. Ada yang mengikuti sistem monarkhi seperti Saudi, Bahrain, Kuwait, Yordania, Maroko, Oman, dlsb. Sebagai negara-kerajaan pun mereka berlainan: ada yang mengikuti sistem kesultanan (seperti Oman), monarkhi konstitusional (seperti Kuwait), keamiran (Qatar), kerajaan federal (seperti Uni Emirat Arab), dan seterusnya. Selain itu, negara-negara Arab juga banyak yang mengikuti sistem Republik seperti Mesir, Yaman, Sudan, Libanon, Aljazair, Suriah, Irak, dlsb. Menariknya, negara-negara Arab menolak sistem politik-pemerintahan model khilafah yang oleh sebagaian umat Islam di Indonesia justru didengung-dengungkan.

Selanjutnya, ada pula yang mengaggap negara-negara Arab itu kaya-raya karena sumber minyak. Padahal banyak sekali yang miskin. Negara-negara Arab yang cukup makmur dan kaya itu hanya kawasan Arab Teluk saja seperti Saudi, Qatar, Kuwait, Uni Emirat Arab, Bahrain dan Oman. Selebihnya, negara-negara Arab itu (seperti saya sebutkan di atas) sangat miskin bahkan jauh lebih miskin dari Indonesia.

Sebuah “entitas etholinguistik”, bukan “entitas keagamaan”

Ada juga yang memandang Arab itu identik dengan suku Baduin yang memiliki pola hidup berpindah-pindah dari satu padang pasir ke padang pasir berikutnya (dalam antropologi disebut nomad atau pastoralis. Padahal, banyak masyarakat Arab kontemporer yang meninggalkan pola-hidup nomadik dan menetap di kota-kota.

Pula, banyak yang memandang Bangsa Arab itu bangsa kolot dan konservatif yang mengikuti gaya hidup yang kuno-ketat-normatif. Persepsi ini jelas keliru besar. Banyak masyarakat Arab yang bergaya hidup dan berpola pikir maju, modern, dan visioner.

Kata “Auliya” Menurut Warga Saudi

Itulah beberapa pandangan yang keliru terhadap Bangsa Arab. Arab adalah sebuah “entitas etholinguistik”, bukan “entitas keagamaan”. Sebagai sebuah entitas entholinguistik, Bangsa Arab, sebagaimana bangsa-bangsa lain di jagat raya ini, juga sangat plural dan kompleks: dari aspek keagamaan dan kebudayaan sampai sistem perekonomian dan politik-pemerintahan. Tidak ada sangkut-pautnya antara “Arab” dan “Islam” misalnya. Sayang, masalah pluralitas dan kompleksitas Bangsa Arab ini kurang ditangkap dan dipahami dengan baik oleh masyarakat Indonesia, khususnya umat Islam, sehingga terjadi distorsi informasi dan aksi disana-sini.

Melihat keragaman dan kerumitan Bangsa Arab ini, maka dengan demikian jelaslah bahwa jika ada sekelompok umat Islam di Indonesia yang seolah-olah meniru gaya “orang Arab” dalam berpenampilan (dengan berjubah, berjenggot atau bercadar, misalnya), sebenarnya yang mereka tiru adalah “Arab imajiner” atau “Bangsa Arab” seperti dalam “alam imajinasi” sekelompok Islam itu, bukan Bangsa Arab di alam nyata. Semoga bermanfaat.

*Artikel ini pernah di terbitkan di DW[dot]com

Islamnya Jokowi versus Islamnya Prabowo

0
Presiden Republik Indonesia

Terasa agak aneh terdengar di telinga terhadap orang-orang yang meragukan keislaman Pak Jokowi tapi pada saat yang bersamaan mengagung-agungkan Pak Prabowo.

Sudah sering saya baca di medsos kalau sejumlah kelompok tertentu dengan gigihnya berkampanye kalau Pak Jokowi itu pengikut “Islam abangan” alias “Islam nominal” alias “Islam KTP” yang “tidak murni” keislamannya sehingga tidak layak memimpin Indonesia. Mereka juga dengan garang melecehkan Pak Jokowi kalau beliau nggak bisa membaca Al-Qur’an dan melafalkan Bahasa Arab.
Sekarang saya tanya:

Emang Pak Prabowo bukan pengikut “Islam abangan”? Emang Pak Prabowo pernah belajar Islam dan menguasai kajian keislaman? Emang Pak Prabowo paham tentang seluk-beluk sejarah Islam, tentang diskursus keislaman, atau tentang tradisi keislaman? Emang Pak Prabowo bisa membaca Al-Qur’an dengan baik, fasih dan tartil sesuai dengan ilmu tajwid? Emang Pak Prabowo bisa membaca teks-teks Bahasa Arab dengan baik? Emang Pak Prabowo bisa naik kuda? Kalau yang terakhir sih sepertinya iya. Cuma nanya doang…

Lagi pula, untuk menjadi presiden atau kepala pemerintahan atau kepala daerah itu tidak perlu persyaratan bahwa ia harus seorang relijius atau bukan, tidak perlu Muslim atau bukan, tidak pelu ia bisa membaca ayat Al-Qur’an atau bukan; tidak perlu ia memiliki wawasan keagamaan atau bukan. Itu sama sekali tidak perlu dan tidak penting!

Yang diperlukan dan sangat penting bagi seorang pemimpin pemerintahan itu adalah bahwa ia memiliki kredibilitas yang baik; mempunyai kemampuan manajerial atau memimpin negara/daerah dengan baik dan bijak; memiliki rekam jejak sebagai orang yang bersih dan tidak korup; memiliki skill tentang mengelola tata-pemerintahan; memiliki visi untuk membangun bangsa/daerah; memiliki komitmen merawat keragaman masyarakat; memiliki jiwa kebangsaan. Begitu seterusnya.

Bahkan, misalnya, jika ada seorang ateis pun tetapi memiliki kemampuan seperti di atas, ia jauh lebih baik memimpin sebuah negara / daerah ketimbang seorang yang berpenampilan relijius tetapi hati dan jiwanya seperti maling dan preman terminal. Pakaian dan penampilan hanyalah “asesoris tubuh” saja yang sama sekali tidak penting.

Perlu juga diingat, tidak ada hubungannya antara “tingkat relijiusitas” dan “kualitas kepemimpinan” karena memang faktanya banyak orang mengaku dan berpenampilan relijius dan “salih-salihah” tetapi hati dan tindakannya busuk dan korup.

Nah, kalau mau jadi imam Masjid Istiqlal, Ketua MUI, ta’mir masjid, pimpinan ormas Islam, atau manajer madrasah misalnya, baru penting syarat-syarat tentang wawasan keislaman dan Al-Qur’an. Gitu lo Mat. Mudeng?

Kenapa Saya Berkarir di Luar Negeri?

0

Banyak yang bertanya-tanya mengapa saya memilih berkarir di Luar Negeri ketimbang di Indonesia. Ada pula yang lebih jauh menghakimi kalau saya “tidak cinta Indonesia” lantaran mengajar di Luar Negeri.

Sebetulnya dulu sesaat setelah ujian disertasi doktoral di Boston University, sambil menunggu wisuda, saya sempat melamar ke sejumlah “kampus besar” di Indonesia. Tapi sayangnya tidak ada satu pun yang serius menindaklanjuti dan merespons dengan positif lamaranku. Bahkan ada yang tidak menggubris sama sekali berkas-berkas lamaranku. Ada pula yang menolak karena khawatir “kerasukan virus liberal”. Ada yang menolak karena saya “orang NU”. Yang lain menolak dengan alasan yang sama sekali “tidak akademis”.

Sependek pengetahuanku, kampus-kampus di Indonesia itu memang “sangat politis”. Aura kepolitikan kampus-kampus di Indonesia itu kental sekali, jauh lebih kental dari sperma onta gurun atau “kadal Mesir” he he.

Dalam banyak hal, proses perekrutan dosen di kampus-kampus Indonesia itu bukan dilihat dari kemampuan akademik dan kualitas individual para pelamar tetapi dilihat dari latar belakang kampus (alumni atau bukan), ormas (NU, Muhamadiyah, atau “Muhammad NU”, HMI, PMII, dlsb), parpol (aktivis Golkar atau “Pilkaes”), pemikiran, pandangan dan praktik keagamaan (liberal atau setengah liberal, konservatif atau moderat, dlsb). Begitu seterusnya.

Maka, jika Anda bukan alumni dari kampus yang Anda lamar, maka sedikit sekali peluang Anda untuk diterima. Ironisnya, kampus-kampus besar di Indonesia masih menerapkan sistem atau model seperti ini. Padahal, kampus-kampus maju di negara-negara Barat, justru berlomba-lomba merekrut para pelamar dosen dari kampus-kampus lain yang berkualitas dan kredibel.

Sebaliknya, alumni justru sangat diharapkan untuk mencari atau berkarir di kampus-kampus lain. Dengan demikian akan terjadi “jaringan akademik” yang masif karena alumni menyebar di berbagai kampus. Kampus akan sangat bangga kalau alumninya bekerja di berbagai universitas dan college di berbagai negara. Di Indonesia sebaliknya, para alumni ngumpul sekampus jadi bolak-balik ketemuanya orang itu lagi, orang itu lagi he he.

Selain faktor alumni, latar belakang ormas juga sering dijadikan sebagai “faktor penentu” perekrutan dosen sehingga, misalnya, kalau “rezim” di kampus itu dikuasai oleh Muhammadiyah atau HMI, maka akan sulit menerima para pelamar yang berlatar belakang NU atau PMII. Begitu pula sebaliknya. Betapa pun hebatnya si pelamar itu.

Karena lamaran dosenku tidak diterima di sejumlah kampus di Indonesia, akhirnya saya waktu itu memilih pergi ke University of Notre Dame di Indiana. Kebetulan waktu itu saya diterima sebagai “Visiting Research Fellow” dan “professor tamu” di kampus tempat Amin Rais dulu kuliah master ini. Setelah beberapa tahun tinggal di University of Notre Dame, saya kemudian melamar di sejumlah kampus di Luar Negeri, dan mendapat tawaran professorship di beberapa tempat, antara lain, Groningen (Belanda), Aberdeen (Inggris / Scotland), Waterloo (Kanada).

Tetapi karena satu dan lain hal saya memilih Saudi. Alasan yang paling utama adalah, saya ingin mencari pengalaman mengajar dan riset di lingkungan baru dengan komunitas baru. Sebagai antropolog yang menekuni kajian masyarakat Islam, maka Arab Saudi adalah sangat menarik dan menantang apalagi di kampusku ini saya bukan hanya mengajar mahasiwa Saudi saja tetapi juga mahasiswa Muslim dari negara-negara Arab lain seperti Yaman, Mesir, Bahrain, Suriah, Palestina, Sudan, dlsb. Dengan demikian, saya bukan hanya mengajar masyarakat Arab Saudi saja tetapi juga belajar tentang pandangan keagamaan dan keanekaragaman budaya masyarakat Arab lainnya langsung dari “Arab Ori” sehingga memperkaya wawasan dan perspektif tentang dunia Arab.

Waktu itu saya ditelpon langsung oleh “petinggi kampus” yang minta saya ikut mengembangkan jurusan ilmu-ilmu sosial dan humaniora yang memang kurang berkembang dengan baik karena kampus ini menekankan di bidang kajian hard sciences, komputer, bisnis dan engineering. Maka, sejak itu, jadilah saya tinggal di Arab Saudi dan mengepalai riset-riset di bidang ilmu-ilmu sosial dan humaniora. Kampus ini ingin meniru MIT yang bukan hanya bagus di bidang hard sciences and engineering saja tetapi juga social sciences and humanities.

Saya belum tahu mau “hijrah” kemana lagi setelah ini. Bisa di Eropa atau Asia Timur. Cepat atau lambat, saya pasti pindah mencari suasana baru lagi. Saya suka dan menikmati hidup sebagai “petualang” atau “akademik nomad” yang berpindah-pindah dari satu kampus ke kampus lain. Setiap liburan musim panas, saya juga melakukan penelitian di Singapura. Hanya Tuhan yang tahu, kemana kakiku melangkah di kemudian hari. Cieee cieee

Perjuangan Meraih Beasiswa Kuliah (9)

0
detik-detik meninggalkan Boston University

Perjuangan Meraih Beasiswa Kuliah – Banyak yang mengira kalau kuliah dengan beasiswa di Luar Negeri apalagi di Amerika itu menyenangkan. Bisa ya, bisa tidak. Kalau beasiswa yang Anda terima itu lumayan, ya lumayan enak. Tapi kalau beasiswanya “mepet tembok” ya lumayan nggak enak alias remuk redam seperti yang saya alami.

Setahuku stipend dari beasiswa yang disediakan oleh Bank Indonesia, Bank Mandiri, atau Department Keuangan untuk studi master / doktoral di Amerika jauh lebih besar ketimbang beasiswa sekolah yang langsung dari Amerika, apalagi untuk program ilmu-ilmu sosial, tergolong super mini. Beasiswa fullbright juga kecil sekali. Namanya saja yang “full”, realitasnya “nggak full” he he.

Problem atau tepatnya tantangan lain kuliah doktoral di Amerika Serikat jauh berbeda dengan negara-negara lain di Barat. Di banyak negara-negara Barat, termasuk Australia atau negara-negara di Eropa pada umumnya kuliah doktoral bisa dilakukan tanpa harus kuliah alias tinggal riset dan menulis disertasi saja. Istilahnya “PhD by research”.

Karena itu para mahasiwa doktoral yang mengambil studi diluar Amerika Utara (Amerika Serikat dan Kanada) jauh lebih rileks. Bahkan sangking rileksnya, banyak mahasiswa yang bukan mencari ilmu tapi malah sibuk mencari uang dan mengumpulkan dollar he he. Ada juga yang sambil membawa istri/suami untuk “dipekerjakan” di berbagai sektor informal biar menambah penghasilan ha ha. Sehingga mereka kelak kalau pulang setelah selesai menulis disertasi bisa beli rumah, mobil, dlsb.

Tetapi kalau di Amerika, kita tidak bisa dan sama sekali tidak sempat mencari uang karena harus jungkir-balik “kuliah beneran” selama minimal dua tahun penuh untuk mempelajari teori-teori dan berbagai mata kuliah “area studies”. Selama dua tahun, saya dulu juga “digojlok” dengan mengambil 16 Mata kuliah (MK). Jadi 4 MK per semester.

Empat MK per semester ini, cukuplah membuat kepala pusing tujuh keliling karena setiap Minggu “dipelonco” mengerjakan tugas-tugas yang berat. Belum termasuk tugas akhir MK yang berupa tulisan ukuran “artikel jurnal” (15-20 halaman).

Belum lagi harus mengatur uang $500 untuk kebutuhan sebulan supaya cukup menghidupi anak-istri. Ya kami makan seadanya (lah, kalau nggak ada masak dimakan sih?). Yang penting perut kenyang dan bisa hidup sehingga bisa kuliah dan mengerjakan tugas. Yang penting anak-istri juga nggak kelaparan.

Selain kuliah-kuliah teori-teori ilmu sosial dan antropologi serta metodologi yang merupakan “wajib ain”, saya juga mengambil berbagai mata kuliah tentang “antropologi masyarakat Islam” di berbagai negara dan kawasan: Arab Timur Tengah, Iran, Turki, Afganistan, Indo-Pakistan, termasuk Indonesia tentu saja. Selama kuliah doktoral itu, Pak Bob Hefner (Professor Robert W. Hefner) yang betul-betul banyak berperan dalam membangun kerangka-kerangka teoretik dan kajian-kajian antropologi.

Selesai menyelesaikan berbagai MK, tugas berat berikutnya siap menghadang: ujian-ujian komprehensif dan ujian proposal disertasi. Kemudian dilanjutkan dengan riset disertasi minimal setahun dan kemudian penulisan disertasi. Kalau saya dulu ditambah perjuangan mencari beasiswa baru karena beasiswa lama sudah habis. Riset dan penulisan disertasi ini juga memakan waktu lama. Beberapa temanku bahkan sampai 10-an tahun kuliah belum juga wisuda sampai ubanan di kampus he he.

Karena beratnya kuliah doktoral di Amerika ini, khususnya di bidang ilmu-ilmu sosial, maka jangan heran kalau ada yang kuliah terus putus di tengah jalan. Saya dengar dari teman-teman, konon penasehat politik Anies, Eep, dulu juga sempat kuliah master di Ohio tapi juga berhenti di tengah jalan (Bersambung).

Perjuangan Meraih Beasiswa Kuliah (8)

0
tim penguji doktor sumanto al qurtuby

Perjuangan Meraih Beasiswa Kuliah – Di antara teman-temanku di Departmen Antropologi, Boston University (BU), saya termasuk salah satu yang tercepat menyelesaikan studi doktornya. Bukan karena saya “mahasiswa super” tapi lebih karena saya “mahasiswa kepepet” karena beasiswa kuliah yang sangat terbatas.

Setelah dua tahun berjibaku dengan perkuliahan dan teori-teori (ada sekitar 16 mata kuliah yang saya ambil waktu itu tentang banyak hal, selain teori-teori antropologi dan ilmu-ilmu sosial, juga studi tentang masyarakat Arab, Turki, Iran, Afganistan, Indo-Pakistan, China, dlsb), saya segera menyelesaikan proposal disertasi dan ujian-ujian komprehensif yang sangat melelahkan.

Di departemenku dulu, ujian komprehensifnya dengan cara menulis 6 artikel (ukuran artikel jurnal sekitar 20 halaman) dengan topik yang berlainnan (umumnya tentang teori-teori antropologi dan tema-tema “area studies”) dan tema itu ditentukan oleh “komite ujian” yang terdiri dari para professor di departemenku. Waktu yang diberikan untuk menulis enam paper tersebut sekitar 10 hari. Jadi, nyaris pagi-siang-malam tiada henti saya “guling-koming” menulis 6 paper itu. Capeknya minta ampun.

Pada waktu yang bersamaan, saya juga harus bolak-balik menulis dan merevisi proposal disertasi agar siap untuk diujikan. Kelak, proposal tesis doktoralku memenangkan sejumlah penghargaan riset, antara lain dari National Science Foundation. Jadi, selama satu semester saya berjibaku mempersiapkan ujian komprehensif dan ujian proposal disertasi, selain mengajar mahasiswa S1. Betul-betul melelahkan.

Setelah riset disertasi selama setahun, saya kembali berjibaku menulis disertasi selama beberapa bulan nyaris tanpa henti. Selesai menulis disertasi bukan berarti urusan jadi beres karena draf disertasi harus bolak-balik dikonsultasikan dengan pembimbing utama disertasi, yaitu Professor Robert Hefner dan Professor Augustus Richard Norton (ahli tentang studi-studi Timur Tengah).

Setelah sekian lama menulis dan merevisi disertasi, akhirnya mereka sepakat juga kalau disertasiku siap diujikan. Foto di bawah ini (yang diambil setelah ujian disertasi) adalah tim penguji disertasiku. Saya diapit oleh Professor Hefner dan Professor Norton.

Kalau mengingat-ingat jerih-payahku yang jungkir-balik sekolah doktoral di Amerika selama bertahun-tahun dengan penuh penderitaan lahir-batin, saya merasa sangat sedih sekali jika melihat kampus-kampus di Indonesia begitu gampangnya mengobral gelar doktor, baik yang “honoris” maupun bukan, kepada orang-orang tertentu hanya karena mereka “punya pangkat” atau “punya uang” (Bersambung).

Meredupnya Budaya Silaturahmi

0

Fenomena ini sebenarnya bukan hanya di Indonesia saja, melainkan juga Saudi tempat saya tinggal saat ini. Bahkan di seluruh kawasan Arab Teluk terjadi gejala dan fenomena serupa. Mungkin juga di kawasan dan masyarakat lain terjadi gejala dan fenomena yang sama.

Kata silaturahmi atau kadang-kadang disebut juga silaturahim yang dipakai di Indonesia, berakar dari bahasa Arab, yaitu shilah. Artinya hubungan atau relasi, dan rahim berarti kerabat atau kasih-sayang.

Jadi, kata silaturahmi atau silaturahim bisa dimaknai sebagai hubungan kekerabatan atas dasar kasih-sayang.

Menariknya, masyarakat Arab sendiri tidak mengenal istilah silaturahmi sebagai sebuah praktik kebudayaan, meskipun mereka mengetahui ada sejumlah doktrin keislaman yang berisi tentang pentingnya menjalin persaudaraan dengan sesama umat Islam.

Tidak bisa dimungkiri, dewasa ini tradisi silaturahmi telah mengalami pengayaan, perubahan, pengikisan, atau pergeseran bentuk.

Meskipun di desa-desa, tradisi silaturahmi ala konvensional-tradisional dengan keluarga dan kerabat masih cukup terpelihara, meskipun dengan kualitas berbeda dengan masa lampau, di kota-kota, khususnya di kota-kota besar metropolitan, tradisi ini cukup lumer dan bergeser.

Perbedaan yang cukup mencolok misalnya dulu silaturahmi itu sangat tulus, hangat, dan penuh emosional, diiringi sujud sungkem anak terhadap orang tua atau berpelukan hangat antarkeluarga yang tidak jarang diiringi tangisan dan permintaan maaf yang sangat ikhlas.

Kini, saya melihat, silaturahmi di sebagian masyarakat tentunya tidak semuanya, menjadi semacam komoditas politik atau medium basa-basi atau gula-gula, yang menurut orang Papua serba-kurang kualitasnya: kurang hangat, kurang dekat, dan kurang tulus.

Penyebab Merosotnya Budaya Silaturahmi

Ada banyak faktor yang turut memberi kontribusi pada lumernya budaya silaturahmi antarangggota keluarga, antarteman, maupun antarumat manusia. Pada umumnya karena modernisasi, industrialisasi, perkembangan teknologi, internet, ormas, parpol, agama, dan sebagainya.

Perkembangan teknologi telekomunikasi misalnya telah menyebabkan intensitas perjumpaan fisik menjadi menurun drastis, beralih menjadi “silaturahmi udara”.

Selanjutnya, teknologi internet dan media sosial kini membuat banyak orang, baik laki-laki maupun perempuan, tua-muda, orang desa atau warga kota, orang kampus atau bukan, semakin intim dengan aneka gadget dan dunia virtual.

Dampak langsung dari perkembangan teknologi ini, perjumpaan fisik untuk membangun dan mempererat tali persaudaraan menjadi semakin terkisis dan berkurang.

Untuk berkomunikasi dengan anggota keluarga, teman atau saudara yang tinggal jauh di sana, masyarakat dunia modern saat ini cukup menelepon dengan ponsel atau Skype atau chatting via Facebook dan WhatsApp, yang dianggap jauh lebih praktis dan ekonomis.

Dengan kata lain, perkembangan internet dan medsos menyebabkan silaturahmi fisik, yang dulu dipraktikkan masyarakat, berubah menjadi silaturahmi virtual.

Faktor lain yang turut memengaruhi terkikisnya budaya silaturahmi adalah politik. Sudah bukan rahasia lagi jika pilihan-pilihan politik yang berbeda bisa mengakibatkan rontoknya jalinan silaturahmi yang sudah dibangun lama.

Lihat saja di Indonesia. Hanya karena berbeda pilihan partai politik atau pilihan kandidat presiden, gubernur, dan wali kota/bupati, banyak teman atau bahkan saudara sekeluarga berubah menjadi lawan.

Politik dengan begitu bisa menyatukan, tetapi pada saat yang sama juga bisa membuat umat manusia cerai berai.

Saya mengamati faktor politik sebagai pembelah masyarakat, yang menyebabkan melorotnya nilai-niai silaturahmi ini, semakin menguat intensitasnya justru di era reformasi pasca rezim Suharto.

Di zaman Pak Harto dulu (bahkan sejak zaman Orde Lama), masyarakat memang sudah terbelah karena perbedaan pilihan politik. Tetapi perpecahan itu sifatnya masih sangat sederhana, tidak serumit dewasa ini.

Sekarang, bukan hanya perbedaan pilihan parpol yang jumlahnya bejibun itu yang menyebabkan turunnya budaya silaturahmi, tetapi juga perbedaan pilihan calon kepala negara atau kepala daerah.

Sejak pilpres 2014 yang mengantarkan Joko Widodo atau Jokowi sebagai Presiden RI, khususnya, fenomena segregasi masyarakat dan merosotnya kohesi sosial semakin tampak nyata.

Kondisi ini semakin meruncing dan memburuk sejak Pilgub Jakarta yang menyebabkan jalinan pertemanan dan ikatan persaudaraan menjadi merosot.

Pilgub DKI 2017 adalah yang terburuk dalam sejarah pilkada di Indonesa, karena sejumlah kelompok politik-bisnis-agama, demi ambisi untuk memenangkan kandidat mereka, bersatu padu menggelorakan kampanye dengan mengeksploitasi simbol-simbol dan isu-isu SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar-golongan) yang memalukan.

Agama juga sama. Ia juga menjadi faktor penyebab mengikisnya budaya silaturahmi ini. Menjamurnya berbagai institusi dan kelompok keagamaan di Indonesia, tidak berbanding lurus dengan pertumbuhan budaya toleransi dan silaturahmi.

Seperti partai politik, institusi dan grup berbasis agama juga berpotensi menciptakan ruang-ruang tertutup, eksklusif dan intoleran yang penuh-sesak dengan semangat fanatisme, etnosentrisme, dan chauvinisme.

Sejumlah kelompok agama Islam konservatif bahkan menyerukan tidak penting menjalin silaturahmi dengan orang tua, keluarga, tetangga, kerabat, apalagi masyarakat umum karena, bagi mereka, yang utama dan paling utama adalah membangun silaturahmi dengan Tuhan, bukan dengan umat manusia.

Alih-alih menjaga silaturahmi, mereka bahkan menuding silaturahmi sebagai bid’ah atau bentuk penyimpangan dari ajaran Islam. Akar Budaya Silaturahmi di Indonesia

Bagi umat manusia, menjalin hubungan keluarga atau kekerabatan atau silaturahmi adalah sesuatu yang bersifat natural (alami) sekaligus cultural (bersifat budaya atau konstruksi sosial sebuah masyarakat). Alami karena setiap insan mempunyai naluri untuk berasosiasi dengan kerabat yang memiliki hubungan darah (blood ties).

Jangankan manusia yang dalam Antropologi disebut sebagai human primates, kelompok non-human primates saja seperti apes, chimps, baboon, atau binatang sosial lain memiliki naluri atau kecenderungan alamiah untuk bersilaturahmi dengan kerabat.

Selain bersifat natural, silaturahmi juga merupakan sebuah budaya yang dikonstruksi atau dibentuk oleh sebuah komunitas atau masyarakat tertentu, baik masyarakat non-industri-tradisional maupun masyarakat industri-modern melalui sebuah proses yang disebut dengan enkulturasi.

Enkultasi yakni pengenalan sebuah tradisi, tindakan, praktik, atau kebiasaan baik dari generasi tua ke generasi muda, yang berlangsung secara turun-temurun dalam sebuah keluarga, komunitas, atau masyarakat.

Itu artinya bahwa silaturahmi sudah menjadi bagian dari tradisi masyarakat setempat di Indonesia (dan dimana saja), bukan sesuatu yang bersifat asing. Bahwa dalam perkembangannya, ada unsur-unsur luar atau asing (seperti tradisi Arab, Barat, Cina, Islam, Kristen, Konghucu, Budha, dsb) yang turut mewarnai dan memperkaya aneka ragam jenis silaturahmi di Indonesia.

Contoh dari budaya atau tradisi lokal silaturahmi di Indonesia, misalnya, pela-gandong di Maluku, yaitu sebuah institusi sosial-budaya masyarakat lokal di Ambon dan Maluku Tengah untuk merekatkan tali-kekerabatan dan relasi persaudaraan. Bahkan bukan hanya dalam keluarga kecil, tetapi juga dalam keluarga besar antardesa atau antarsuku.

Di Jawa juga ada ungkapan ngumpul ke balung pisah, yakni sebuah upaya untuk merekatkan kembali relasi kekerabatan dan kekeluargaan, yang mungkin sudah mulai lumer karena diserbu oleh parpol, ormas, atau agama yang berlainan.

Makna Silaturahmi Bagi Kehidupan Berbangsa

Di tengah mengikisnya budaya silaturahmi ini, perlu ada upaya serius untuk membangkitkan kembali dan merawat tradisi Nusantara yang sangat baik ini. Perlu menanamkan kembali kepada masyarakat, khususnya generasi muda, tentang pentingnya merawat keutuhan anggota keluarga dan nilai-nilai kekeluargaan.

Nilai-nilai keagamaan khususnya tentang pentingnya silaturahmi bisa juga diinjeksikan ke masyarakat. Dalam Islam misalnya, disebutkan dengan jelas kalau silaturahmi adalah salah satu jalan menuju surga.

Dalam sebuah Hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim, Nabi Muhammad juga menegaskan tentang tidak masuk surga bagi siapa saja yang memutus hubungan silaturahmi. Ini menunjukkan betapa pentingnya masalah silaturahmi dalam Islam.

Meski begitu, ajaran-ajaran normatif saja tidak cukup, perlu ada berbagai upaya atau cara kreatif agar tetap bisa menjaga keutuhan keluarga dan memelihara persaudaraan. Misalnya metode retreat, kemah keluarga, makan-makan bersama dalam even-even tertentu. Semua itu sangat bermanfaat untuk terus menjalin silaturahmi.

Spirit silaturahmi bukan hanya penting bagi individu dan keluarga saja, tetapi juga bagi masyarakat atau bangsa secara umum.

Bayangkan jika kita (warga Indonesia) memandang semua warga negara di Tanah Air ini apapun partai, etnis, ormas, agama, dan bahasa mereka— sebagai sebuah keluarga atau kerabat yang harus dibantu dan dikasih-sayangi, maka dampaknya akan sangat dramatis dan revolusioner bagi perubahan sosial masyarakat dan bangsa ini.

Salah satu makna penting silaturahmi misalnya sebagai mekanisme rekonsiliasi yang sangat efektif, bagi upaya penyelesaian berbagai kekhilafan, perselisihan, ketegangan, atau konflik—baik antar anggota keluarga atau masyarakat, yang terjadi di masa silam.

Silaturahmi juga bisa dijadikan sebagai sarana atau medium relasi sosial, untuk memecahkan perbagai kebuntuan dan problem ruwet di dalam keluarga maupun masyarakat secara umum. Semoga bermanfaat.

*artikel ini pernah diterbitkan di liputan6[dot]com

Tradisi Poligami Merosot Tajam di Timur Tengah

0

Anda mungkin mengira kalau tradisi poligini (suami mempunyai sejumlah istri) itu berkembang-biak di Timur Tengah, khususnya kawasan Arab? Perkiraan Anda itu keliru besar. Poligini itu “sistem perkawinan” yang sangat rumit tidak semata-mata persoalan memaksukkan “Mr. Titit” ke lubang “Ms. Wiwik” he he.

Dulu poligini memang populer. Tapi sejak beberapa dekade silam, tradisi ini melorot tajam. Berdasarkan hasil survei dan pembicaraan saya dengan ratusan warga Arab, khususnya Saudi, ada sejumlah faktor mendasar yang menjadi sebab menurunnya praktik poligini ini di kalangan masyarakat Arab kontemporer.

Beberapa faktor itu, antara lain, pertama, semakin meningkatnya kualitas pendidikan kaum perempuan. Negara-negara Arab sekarang berlomba-lomba meningkatkan mutu pendidikan bagi kaum Hawa. Akibatnya kini banyak kalangan perempuan terdidik yang memegang peran penting di berbagai sektor kehidupan.

Kultur “Arab Ori” itu minder dan hormat kalau melihat “orang terdidik”, baik laki-laki maupun perempuan. Karena itu kaum laki-laki Arab akan mikir seribu kali kalau mau meminang perempuan yang memiliki background pendidikan tinggi.

Laki-laki Arab yang berpendidikan rendah umumnya tidak berani (bisa minder, bisa juga segan) melamar perempuan Arab yang berpendidikan lebih tinggi darinya. Laki-laki Arab juga minder kalau mau melamar perempuan yang memiliki pekerjaan lebih tinggi darinya. Perempuan Arab juga sama, tidak mau menikahi laki-laki Arab yang memiliki pekerjaan rendah.

Kedua, para perempuan Arab kontemporer tidak mau dijadikan sebagai istri kedua, apalagi ketiga dan keempat. Mereka maunya menjadi istri pertama dan utama.

Menurut penuturan murid-murid Arabku, sebelum melangsungkan akad pernikahan, sang laki-laki diminta oleh pihak perempuan untuk berjanji terlebih dahulu untuk tidak “memadunya”. Mereka tidak mau dimadu bukan hanya lantaran persoalan “hati” semata tetapi juga karena “jatah material” akan berkurang.

Ketiga, biaya pernikahan yang sangat mahal (mencapai milyaran) yang tidak terjangkau oleh “kalangan biasa” apalagi kaum pengangguran. Pernikahan semakin mahal karena ini sudah menjadi semacam “bisnis keluarga” sekaligus “ajang pertaruhan kehormatan” suku/klan Arab. Para lelaki Arab sering mengatakan: “Jangankan menikahi 2 atau 3 istri, satu istri saja tidak sanggup”.

Keempat, rumitnya aturan pernikahan. Pernikahan di Arab, khususnya di Saudi dan Arab Teluk, bukan semata persoalan cinta tetapi juga pertaruhan harga diri suku atau klan. Laki-laki atau perempuan dari suku atau klan “terhormat” tidak mau menikahi dengan laki-laki/perempuan dari suku/klan “rendahan”.

Jadi, meskipun Islam adalah “agama resmi” mereka, tetapi dalam praktiknya, nilai-nilai dan “tradisi suku” yang dijadikan sebagai “pedoman pernikahan”.

Kelima, poligini dianggap telah banyak membawa perpecahan keluarga. Tingginya tingkat perceraian di Saudi, antara lain, disebabkan oleh banyaknya perempuan yang tidak mau dimadu.

Karena rumitnya aturan sistem pernikahan inilah maka tidak heran kalau persentase laki-laki/perempuan jomblo sangat tinggi di Saudi dan kawasan Arab Teluk. Banyak laki/perempuan yang akhirnya memilih untuk hidup sendiri ketimbang menjalin ikatan pernikahan yang begitu njlimet dan berujung tanpa kejelasan.

Jabal Dhahran, Arabia

Perjuangan Meraih Beasiswa Kuliah (7)

0

Sudah lama sekali saya dituduh “dibiayai” Ngamerika dan “disekolahkan” oleh kapir sehingga menjadi “antek” Salibis-Zionis hanya karena saya garang mengkritik kelompok “Islam sontoloyo” dan juga kebetulan karena saya alumnus Amerika.

Padahal ada cukup banyak alumni Amerika atau yang pernah sekolah di Amerika tapi mereka tidak pernah dituduh ini-itu oleh barisan Mamat-Mimin-Momon. Tahu kenapa? Ya karena mereka berada di satu barisan dengan “Islam sontoloyo” itu. Saya nggak mau sebut nama-nama mereka, nanti ada yang ngamuk dan kebakaran jembut he he.

Bagi yang paham tentang perjuangan, seluk-beluk dan duka-cita kuliah di negara-negara Barat, mereka akan tahu betapa susah dan beratnya kuliah di Barat. Apalagi kuliah dengan beasiswa “pas-pasan” seperti saya.

Uang bulanan (stipend) dari beasiswa doktoralku di Boston waktu itu sekitar USD 2,100 per bulan. Itupun hanya untuk bulan Setember – Mei. Untuk bulan Juni-Agustus tidak ada stipend karena dianggap sebagai “musim liburan”, bukan “bulan-bulan kuliah”. Kalau di kampungku di Batang, Jawa Tengah, uang segitu tentu saja sudah melimpah ruah karena makanan dan tempat tinggal serba-murah.

Tapi di Boston, uang segitu sangat mepet tembok sekali. Apalagi kalau kita tinggal bersama anak-istri. Kalau kita sendirian, uang sebesar itu sudah cukup karena bisa tinggal di asrama mahasiswa di kampus dengan biaya yang terjangkau.

Boston adalah salah satu kawasan yang terkenal cukup mahal (untuk ukuran mahasiswa) dalam hal housing atau sewa-menyewa apartemen. Waktu itu sewa Apt-ku dan remik-remik lain (biaya internet, tv, listrik, dlsb) sekitar $1,500 / bulan. Sekitar $100 dipakai untuk membeli “kartu transportasi” bulanan untuk naik bus & subway. Jadi, sisanya tinggal $500.

Bagaimana memakai uang $500 supaya cukup satu bulan untuk membiayai hidup bersama anak-istri di kota metropolitan seperti Boston? Sementara pada waktu yang sama, karena status “visa pelajar”-ku, saya tidak boleh bekerja mencari uang tambahan (secara legal) diluar kampus. Pernah dulu saya melamar menjadi tukang bersih-bersih salju atau “loper koran” tapi nggak bisa.

Karena nggak bisa kerja sambilan, tidak ada cara lain selain mengencangkan ikat pinggang dan cerdik mencari celah barang-barang murah misalnya belanja di pasar-pasar tradisional di pinggir jalan atau “pasar Asia” atau mencari kupon-kupon diskon makanan. Kemudian juga rajin menjadi “pemulung” mencari barang-barang bekas yang dibuang di pinggir-pinggir jalan atau kompleks apartemen (seperti alat-alat dapur, ruang tamu atau kamar tidur) untuk mengisi apartemen yang kosong-melompong cuma berisi kasur dan bantal bekas doang.

Anakku, Vicky, saya daftarkan di program keluarga miskin dari pemerintah setempat. Lumayan, setiap bulan dapat jatah kupon yang bisa ditukar dengan telur, susu atau cereal di toko-toko tertentu. Meskipun itu jatah untuk anakku tapi ya saya juga yang menikmatinya he he. Sekolah “pre-school” Vicky juga saya daftarkan yang gratisan sehingga tidak perlu membayar $500 per Minggu. La, jatah makan sebulan masak dipakai untuk bayar sekolah TK per Minggu. Kepriben sih?

Karena uang yang sangat mepet inilah, selama hidup di Boston hampir-hampir kami tidak pernah menikmati makan di restoran, tidak pernah melancong atau turisme ke daerah-daerah lain paling-paling muter-muter di Boston doang, tidak pernah meihat pertadingan baseball ataupun football tim Boston kesayangan, tidak pernah mudik selama kuliah karena nggak punya uang untuk beli tiket, dan belum bisa kirim uang ke orang tua di kampung.

Meski uang bulanan terbatas, saya masih bersyukur bisa kuliah doktoral gratis tanpa harus membayar SPP. Bayangkan biaya SPP per tahun waktu itu saja sekitar $50,000. Kalau bukan dengan beasiswa, tentu saja saya tidak sanggup membayarnya.

Saat itu yang ada dibenakku adalah bagaimana saya bisa menyelesaikan kuliah doktoral secepatnya supaya kami bisa segera keluar dari “belenggu dan keterbatasan finansial” ini. Saya memang ngebut kuliah dan bisa selesai dalam waktu singkat dan salah satu yang tercepat merampungkan studi doktoral di departemen antropologi, Boston University (Bersambung).

Perjuangan Meraih Beasiswa Kuliah (6)

2

Setelah “secara resmi” mendapatkan beasiswa doktoral dari BU melalui sebuah perjuangan yang berliku-liku (waktu itu hanya ada dua orang penerima beasiswa doktoral dari Muslim Studies Fellowship. Selain saya, penerima beasiswa lain adalah mahasiswa doktoral dari Amerika yang mengambil studi tentang Iran), saya pun segera menelpon orang tua di kampung di Batang, Jawa Tengah, dengan kartu telpon $10 yang saya beli dari sebuah toko Asia di kawasan Harrisonburg.

Respons orang tua tentang kabar saya mau melanjutkan studi doktoral di BU bukannya senang tapi malah tampak sedih. Waktu itu “bapake enyong” (ayahku, kini sudah almarhum) bilang dalam Bahasa Jawa: “Katanya mau dua tahun saja sekolah di Amerika? Kok sekarang mau sekolah lagi? Sekolah kok lama banget gak selesai-selesai? Sekolah apa toh kamu itu? Mbok pulang saja terus mencari kerjaan, nggak usah sekolah lagi.”

Saya mengerti perasaan beliau sebagai orang tua tentu akan sangat berat ditinggal lama oleh anaknya. Apalagi saya adalah anak terakhir. Sebagai orang kampung dan petani kecil yang tidak pernah “mambu bangku sekolahan” he he, beliau tentu saja tidak mengerti apa itu sekolah doktor, apa itu BU, dlsb.

Bahkan beliau juga tidak tahu Amerika. Tahunya “Ngamirika” he he. Tetapi saya coba yakinkan ke beliau bahwa ini adalah “kesempatan langka” dan saya berjanji akan menyelesaikan kuliah secepatnya supaya bisa mudik ke kampung.”

Mungkin dengan berat hati, akhirnya beliau mengikhlaskan juga saya tinggal lebih lama sedikit di Amerika untuk melanjutkan kuliah doktoral.

Karena mendapat tawaran beasiswa doktoral di BU, studi masterku di Virginia saya kebut secepat kilat. Sehari sebelum saya terbang ke Boston, saya presentasi “riset praktikum” di hadapan para professor dan mahasiswa sebagai penanda berakhirnya kuliah S2-ku di Virginia.

Di bandara Boston, saya dijemput oleh teman Pdt. Dr. Joas Adiprasetya, mantan Ketua STT Jakarta yang dulu masih menjadi mahasiswa doktoral di Fakultas Teologi, BU. Saya pun berjumpa fisik untuk pertama kalinya dengan Professor Robert Hefner, sosok yang berada di balik perjuangan mendapatkan beasiswa di BU, yang selama ini kami hanya berkomunikasi lewat email saja. Begitu melihat “tampang Jawa”, Pak Bob langsung menyapa dengan Bahasa Indonesia: “Ini pasti orang Jawa yang akan kuliah di BU.”

Meskipun saya mendapatkan beasiswa “Muslim Studies Fellowship”. Problem tidak selesai dan langsung “happy ending” seperti film-film Bollywood. Perjuangan masih panjang karena (1) beasiswa yang disediakan oleh Muslim Studies Fellowship ini hanya dua tahun sementara kuliah doktoral di Amerika minimal 5 tahun, (2) beasiswa hanya untuk saya, tidak mencakup kebutuhan keluarga (anak-istri), (3) beasiswa tidak meng-cover biaya selama musim summer sekitar 3-4 bulan antara Juni dan Agustus karena summer dianggap “musim liburan”.

Bagaimana saya mengsiasati beasiswa yang minimalis ini? Bagaimana saya berjuang untuk hidup di Boston bersama anak-istri dengan beasiswa yang terbatas ini? Bagaiamana perjuanganku mendapatkan beasiswa lain untuk melanjutkan kuliah setelah beasiswa Muslim Studies Fellowship ini selesai? Bagaimana saya berjuang jungkir-balik sampai mememenangkan “penghargaan riset disertasi” dari National Science Foundation, Amerika Serikat? Jangan kemana-mana, simak terus romantika perjalanku di Boston yang penuh lika-liku dan “jihad akademis” yang mengharu-biru he he (Bersambung).

Demam Ibadah Individual, Lupa Ibadah Sosial

0

Sumanto Al Qurtuby – Kolom ini saya buat sebagai semacam “in memorian” untuk mengenang almarhum Prof. Dr. KH Ali Musthafa Ya’kub (1952 – 2016), mantan Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, Guru Besar Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta, tokoh Nahdlatul Ulama, dan seorang ulama pakar Hadis dan Ilmu Hadis yang sangat mumpuni dan langka di Indonesia. Ulama kelahiran Desa Kemiri, Kecamatan Subah, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, ini juga seorang penulis produktif khususnya di bidang hukum Islam, tafsir Al-Qur’an, dan tafsir Hadis.

Salah satu gagasan dan pemikirannya yang cemerlang, bernas, dan patut direnungkan secara mendalam oleh umat beragama adalah tentang merosotnya spirit atau etos “ibadah sosial” dan meningkatnya atau maraknya perilaku “ibadah personal” atau “ibadah individual” khususnya di kalangan umat Islam, lebih khusus lagi umat Islam di Indonesia.

Menurut Kiai Ali Musthafa yang alumnus Universitas Islam Imam Muhammad Bin Saud dan Universitas King Saud (Riyadh, Arab Saudi) ini, ada dua kategori ibadah dalam Islam, yaitu (1) ibadah qashirah (ibadah individual) yang pahala dan manfaatnya hanya dirasakan oleh pelaku ibadah saja dan (2) ibadah muta’addiyah (ibadah sosial) dimana pahala dan manfaat ibadahnya tidak hanya dirasakah oleh yang bersangkutan tetapi juga oleh orang lain.

Baca Juga:

Menurut Kiai Ali, contoh dari “ibadah individual” ini adalah haji, umrah, puasa, salat, dlsb. Sementara contoh dari “ibadah sosial” adalah menyantuni anak yatim, membantu fakir-miskin, memberi bantuan beasiswa pendidikan, menolong para korban bencana, menggalakkan penanggulangan kemiskinan dan kebodohan, merawat alam dan lingkungan, berbuat baik dan kasih sayang kepada sesama umat dan mahluk ciptaan Tuhan, menghargai orang lain, menghormati kemajemukan, dan masih banyak lagi. Semua itu merupakan bentuk-bentuk ibadah sosial yang memberi manfaat atau kemaslahatan kepada masyarakat banyak.

***

Islam, menurut Kiai Ali, memberikan prioritas pada “ibadah sosial” ini ketimbang “ibadah individual”. Kiai Ali mengutip sebuah Hadis Qudsi yang diriwayatkan Imam Muslim dimana Nabi Muhammad SAW pernah bersabda: “Tuhan (Allah SWT) itu ada—dan dapat ditemui—di sisi orang sakit, orang kelaparan, orang kehausan, dan orang menderita.”

Itulah sebabnya Nabi Muhammad sepanjang hayatnya lebih banyak didedikasikan untuk membela kaum lemah dan tertindas serta melawan keserakahan dan keangkaramurkaan. Beliau lebih banyak menjalankan aneka bentuk ibadah sosial-kemasyarakatan ketimbang ritual-ritual keagamaan yang bersifat personal. Dalam sebuah kaedah fiqih juga dinyatakan: “al-muta’addiyah afdhal min al-qashirah” (ibadah sosial jauh lebih utama dari pada ibadah individual).

Prioritas Islam terhadap ibadah sosial dari pada ibadah individual ini juga ditegaskan, tersurat, dan tersirat di dalam ribuan ayat-ayat Al-Qur’an yang memberi ruang sangat besar terhadap dimensi-dimensi sosial-kemanusiaan. Aspek-aspek “ritual-ketuhanan” justru mendapat jatah yang sangat sedikit dalam ayat-ayat Al-Qur’an.

Berdasarkan sejumlah fakta dalam Al-Qur’an inilah, ditambah dengan praktek-praktek kenabian, banyak ulama, sarjana, dan pakar Islam yang menyebut Islam sebagai agama pro-kemanusiaan. Pakar kajian Islam dan studi Al-Qur’an seperti mendiang Fazlur Rahman (1919 – 1988), misalnya, dalam sejumlah karyanya seperti Islam, Prophecy in Islam, atau Major Themes of the Qur’an pernah menegaskan bahwa Islam adalah “agama antroposentris” yang memberi penekanan atau prioritas pada masalah-masalah kemanusiaan universal, dan bukan “agama teosentris” yang berpusat atau bertumpu pada hal-ikhwal yang berkaitan dengan ibadah ritual individual-ketuhanan.

***

Meskipun Islam, Al-Qur’an, dan Nabi Muhammad SAW, jelas-jelas memberi ruang yang sangat besar pada masalah-masalah “ritual kemanusiaan” universisal, umat Islam, sayangnya, justru lebih sibuk memikirkan dan mempraktekkan aneka “ritual ketuhanan” partikular. Meskipun Islam menegaskan ibadah sosial jauh lebih utama ketimbang ibadah individual, (sebagian) kaum Muslim malah “terperangkap” ke dalam pernik-pernik “ibadah individual”.

Kaum Muslim begitu hiruk-pikuk dan semangat menggelorakan pentingnya haji, salat, puasa, zikir di masjid, dan semacamnya tetapi melupakan kemiskinan global, kebodohan massal, penderitaan publik, keamburadulan tatanan sosial, kehancuran alam-lingkungan, korupsi akut yang menggerogoti institusi negara dan non-negara, dlsb.

Umat Islam begitu bersemangat naik haji berkali-kali atau umrah bolak-balik dan mondar-mandir ke Makah dan Madinah, tidak mempedulikan besarnya biaya, tetapi mereka pikun dan tutup mata dengan aneka persoalan sosial-kemanusiaan yang menggunung di depan matanya.

Umat Islam sibuk mengejar “kesalehan individual” dengan menghadiri beragam pengajian spiritual tetapi mengabaikan “kesalehan sosial” dan absen menghadiri “pengajian sosial” dengan blusukan ke tempat-tempat kumuh untuk menyambangi umat yang menderita dan kelaparan.

Umat Islam rajin menumpuk pahala akhirat bak “pedagang spiritual” tetapi rabun bin pikun dengan problem sosial-kemasyarakatan yang ada di sekelilingnya. Umat Islam begitu sibuk “memikirkan” Tuhan, padahal Tuhan sendiri—seperti ditunjukkan dalam berbagai Firman-Nya dalam Al-Qur’an dan dalam Hadis Qudsi tadi—begitu “sibuk” memikirkan manusia.

Saya menyebut fenomena di atas sebagai bentuk keberagamaan yang egoistik atau individualistik yang hanya mementingkan diri-sendiri dan demi mengejar kebahagiaan dan keselamatan dirinya sendiri kelak di alam akhirat, sementara cenderung bersikap masa bodoh atau acuh dengan berbagai kebobrokan, penderitaan, ketimpangan, ketidakadilan, dan kesemrawutan yang menimpa umat manusia di alam dunia ini. Umat Islam “pemburu surga” yang egois-individualis dan “salah jalan” inilah yang menjadi sasaran kritik Kiai Ali Musthafa. Semoga beliau damai di alam baka.[]

Sumber: Deutsche Welle